7. Happy Day
"Nanti sore aku akan menjemputmu. Jangan kemana-mana, tunggu sampai aku datang." Johnny sedikit berteriak dari dalam mobilnya kala melepas Ten yang hendak memasuki kantornya.
Terhitung tiga bulan telah berlalu sejak ulang tahun Ten, hubungan sepasang suami istri itu juga terlihat kian membaik, bahkan sebulan yang lalu mereka baru saja kembali setelah berlibur selama dua minggu lamanya di Pattaya, sekaligus sebagai ajang bagi Ten melepas rindu dengan keluarganya. Johnny selalu mengantar Ten pergi ke kantornya persis seperti yang biasa ia lakukan sejak lama bahkan ia juga rutin menjemput istri cantiknya itu dan yang lebih membahagiakan sepasang suami istri itu kembali rutin melakukan makan siang bersama di tengah kesibukan mereka.
Johnny telah sampai di kantornya sejak beberapa menit yang lalu, saat ia baru saja tiba di ambang pintu tiba-tiba saja Dokyeom sang sekretaris menghentikan langkahnya. Pria berkacamata itu nampak menyerahkan amplop berwarna coklat kepada atasannya, pria itu bilang beberapa menit yang lalu ada petugas pengiriman yang mengantarkan surat tersebut untuknya. Johnny lantas mengangguk, ia meraih amplop yang berada di tangan Dokyeom dan melenggang pergi menuju ruangannya.
Pria tinggi itu tak terlalu menghiraukan amplop berwarna coklat yang baru saja Dokyeom berikan, ia terlihat menyimpannya di laci meja kerjanya dan mulai menyalakan monitor yang ada di ruangannya. Hari ini banyak sekali yang haru ia kerjakan, beberapa hari lalu Johnny baru saja mengumpulkan beberapa pengacara lain untuk membuat sebuah tim demi menyelesaikan masalah yang tengah dialami kliennya. Jonny memandang jendela kantornya, hari masih siang dengan panas yang begitu terik, pria tinggi itu menanggalkan kacamatanya dan memijat pelipisnya. Rasanya ia sudah cukup muak berhadapan dengan berbagai macam dokumen padahal jika diingat pria itu baru sampai di kantor beberapa jam yang lalu.
Johnny menoleh saat merasa seseorang baru saja mengetuk pintu ruangannya, tak butuh waktu lama Ten nampak menyembulkan kepalanya seraya tersenyum cerah. Wanita itu juga terlihat mengguncang kotak bekal yang ada di tangannya. Johnny melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah waktunya makan siang. Ternyata termenung sejak tadi sampai membuatnya lupa waktu.
"Kau datang dengan siapa?" Tanya Johnny seraya menghampiri istrinya.
"Dengan Doyoung, dia pergi ke toko buku yang kebetulan searah dengan kantormu." Jelas Ten. Dengan telaten wanita itu menghangatkan makanan yang ia bawa dengan microwave yang ada di ruangan Johnny, sedangkan Johnny pria itu hanya duduk di sofa dan memandangi seluruh kegiatan yang tengah dilakukan istrinya sejak tadi.
"Kau sakit?" Tanya Ten, ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Johnny yang berada di hadapannya. Pria tinggi itu hanya menggeleng dan tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya.
"Kalau merasa tubuhmu tidak baik-baik saja kau bisa mengatakannya, kau juga harus istirahat." Ucap Ten seraya menata makanan yang baru saja ia keluarkan dari microwave.
Sepasang suami istri itu mulai menikmati makan siang mereka, sesekali mereka terlihat berbincang tentang banyak hal. Namun di sela-sela kegiatan makan siangnya Johnny tak pernah melepas pandangannya dari istri cantiknya. Siang itu Ten datang dengan riasan tipis yang melukis wajah cantiknya, surai hitamnya yang panjang sebahu ia ikat sementara untuk memudahkan aktivitasnya, lagipula cuaca hari ini cukup terik, akan lebih merepotkan jika rambut indah itu terkena keringat.
"Ten…. Ayo kita pergi berlibur." Ucap Johnny tiba-tiba.
Ten hampir saja tersedak makanannya, ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran suaminya. Sejak tadi hanya terdiam, namun saat berucap berhasil menggemparkan dunia.
"Tidak bisa, kau kan sibuk sekali akhir-akhir ini. Akupun begitu." Ucap Ten sedikit sendu, jika diingat kembali perkataan wanita itu memang ada benarnya, bahkan sejak beberapa minggu yang lalu Johnny terus mengeluh soal pekerjaannya yang cukup menumpuk.
"Lain kali saja ya, kita bisa pergi saat waktunya tepat. Atau akan lebih baik jika mengunjungi rumah Jaehee di Jeju pasti akan sangat menyenangkan." Ucap Ten, rasanya ia sudah sangat merindukan keponakan kecilnya itu.
"Disana malah Jaehee yang akan bermain denganmu, bukan aku." Ucap Johnny. Ten sedikit tertawa, apa saat ini suaminya itu tengah cemburu pada keponakannya sendiri, pikirnya.
Ten tengah bersiap untuk kembali ke kantornya, di depan sudah ada Doyoung yang menunggunya. Kebetulan wanita bergigi kelinci itu juga baru kembali dari toko buku.
"Kau kenapa? Sudah lepaskan… aku harus kembali lagi ke kantor." Ucap Ten, ia melepaskan tangan Johnny yang melingkar di pinggangnya. Bahkan sejak tadi pria itu sudah membenamkan wajahnya di ceruk leher Ten.
"Maaf…." Lirih Johnny hampir terdengar seperti berbisik.
"Kau bicara sesuatu?" Tanya Ten. Johnny hanya menggeleng dan melepaskan pelukannya pada pinggang ramping Ten. Ia mengecup sekilas bibir tipis istrinya dan melepas kepergian Ten kembali ke kantornya.
Ten baru saja selesai bekerja, ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul lima sore, itu artinya mungkin Johnny telah berada di depan kantornya sejak beberapa menit yang lalu. Ten tersenyum kala mendapati mobil berwarna hitam yang ia kenali milik siapa, ia membuka pintu mobil tersebut dan duduk di sebelah Johnny yang terlihat tersenyum ke arahnya.
Di sepanjang perjalanan Ten nampak tersenyum cerah, netra indahnya bahkan ikut berbinar sampai berhasil membuat Johnny bergidik melihat tingkah aneh istrinya.
"Ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Johnny.
"Tidak, aku hanya senang." Kekeh Ten.
Johnny nampak tertawa, setidaknya seseorang memiliki alasan yang membuatnya tertawa. Tapi istrinya malah memberikan jawaban yang tak masuk akal.
Ten masuk ke kamar mereka, ia baru saja kembali dari ruang kerjanya. Di kasur Ten melihat Johnny yang tengah sibuk dengan laptop yang berada di pangkuannya. Ten melompat ke kasur mereka sampai membuat Johnny terkejut malam itu. Ten terlihat tersenyum cerah, di balik tubuhnya wanita itu terlihat menyembunyikan sesuatu yang ia pegang dengan tangannya.
"Sini sebentar…." Ucap Ten, ia menarik Johnny untuk duduk di tengah-tengah kasur mereka. Johnny melepaskan kacamatanya dan menutup laptopnya, pria itu duduk bersila di hadapan Ten yang memandangnya dengan wajah berbinar cerah
"Tadaaaa…. Buku ceritaku sudah terbit." Ucap Ten semangat, ia menunjukkan dua buku cerita yang sejak tadi ia sembunyikan di balik tubuhnya. Johnny nampak tertawa, jadi ini yang membuat Ten terus tersenyum saat perjalanan pulang tadi, pikirnya.
"Aku sudah siapkan untuk Jaehee, Minhwan, Hyunjun, Kanghoon, Jun, dan Soyul." Ucap Ten semangat, ia mengabsen satu-persatu nama keponakan Johnny malam itu.
"Ah iya aku juga sudah kirimkan versi terjemahannya ke Thailand." Rasanya wanita itu tak sabar menunggu reaksi ibunya setelah membaca bukunya nanti.
"Coba bacakan untukku." Ucap Johnny tiba-tiba.
"Tapi kau bukan anak-anak." Balas Ten.
"Dulu aku juga anak-anak, aku mau dengar juga." Ucap Johnny, ia mulai berbaring di paha Ten dan meminta wanita itu membacakan buku cerita hasil karyanya.
Ten nampak tersenyum teduh, ia mulai membacakan cerita yang ada di dua buku miliknya. Ten dapat melihat suaminya itu mulai memejamkan mata, entah ia tertidur atau hanya pura-pura.
"Jadi dari buku Midas and Golden Touch anak-anak bisa belajar untuk tidak serakah, jangan sampai berakhir seperti Raja Midas, karena ia terlalu serakah malah membuatnya kehilangan putrinya yang berubah menjadi patung emas." Ucap Ten setelah selesai membaca buku pertamanya.
Johnny tersenyum simpul, entah mengapa cerita Raja Midas malah mengingatkannya akan dirinya sendiri. Mungkinkah masih ada waktu baginya untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum semuanya terlambat dan membuatnya kehilangan segala hal indah yang telah didapatkan dalam hidupnya.
"Di buku The Boy Who Cried Wolf anak-anak diajarkan untuk tidak berbohong, karena saat kita terlalu sering membual tak akan ada lagi yang percaya jika suatu saat kita membawa berita kebenaran. Selesai…." Ten menutup sesi dongeng malamnya seraya tersenyum cerah.
"Kau benar-benar tidur?" Tanya Ten, ia memukul pelan pipi Johnny dan mendekatkan sedikit wajahnya.
Cup…
Tepat saat wajah Ten berhadapan dengan wajah Jonny pria itu malah mengecup lembut bibir Ten hingga berhasil membuat wanita itu tertawa.
"Cepat bangun, kepalamu berat tahu." Ucap Ten, Johnny lantas bangkit dan memperbaiki posisi berbaringnya, di sebelahnya ada Ten yang juga mulai masuk ke dalam selimut mereka.
"Jika kita memiliki anak nanti pasti dia akan jadi anak yang paling bahagia di dunia ini." Ucap Johnny tiba-tiba. Ia berucap seraya menatap lekat wajah cantik Ten yang ada di hadapannya.
"Tiba-tiba bicara soal anak." Ucap Ten dengan kekehan kecil yang keluar dari mulutnya.
"Kau bisa bayangkan betapa bahagianya dia saat pergi tidur dengan dongeng yang dibuat sendiri oleh ibunya, bukankah itu sesuatu yang luar biasa." Puji Johnny pada wanita yang ada di hadapannya. Ten telah tersipu, rona merah nampak menghiasi kedua pipinya malam itu.
"Ah jangan begitu, aku malu." Teriak Ten, ia menyembunyikan wajahnya di balik selimut dan berhasil membuat Johnny tertawa.
Johnny menarik selimut yang sejak digunakan oleh Ten untuk menutupi wajahnya, pria itu lantas memeluk istrinya erat-erat. Ten tentu saja menikmati setiap sentuhan yang Johnny berikan untuknya.
"Apa sudah waktunya kita membicarakan soal anak?" Tanya Ten tiba-tiba.
"Sebenarnya akhir-akhir ini aku tak mengonsumsi pil itu." Sambung Ten.
"Kenapa baru bilang malam ini." Kesal Johnny.
"Kau kan selalu sibuk. Kupikir kau akan terlalu lelah untuk melakukan hal seperti itu." Ucap Ten dengan bibir yang menekuk ke bawah.
Johnny nampak tersenyum tipis, ia mulai mendekati wajah Ten dan melumat pelan bibir tipis wanita itu. Ten membalas lumatan yang Johnny berikan pada bibirnya. Lama-kelamaan dua insan itu mulai terlarut dalam permainan mereka, bahkan Johnny telah menanggalkan pakaian Ten entah sejak kapan. Pria itu juga baru saja membuka piyamanya hingga tato yang berada di pundak kirinya terlihat dengan jelas di tengah cahaya kamar mereka yang meremang.
