8. Complicated

Siang ini Ten dan Johnny terlihat tengah berbelanja kebutuhan bulanan untuk rumah mereka. Johnny nampak mendorong troli belanja yang hampir terisi setengahnya sedangkan Ten berjalan di depannya dan sesekali menambahkan beban di troli yang tengah didorong oleh suaminya. Ten mengambil alih troli dari tangan Johnny, ia menyuruh pria itu mengambil beberapa buah-buahan. Bukan tanpa alasan Ten termasuk salah salah satu orang yang membenci buah, bahkan sampai saat ini ia tak tahu apa alasannya, pasalnya seingatnya saat masih kecil dulu ia begitu menyukai makanan berserat tersebut.

Setelah selesai dengan semua kebutuhan mereka Johnny bergegas membawa troli yang sudah hampir penuh itu ke kasir. Sebenarnya apa yang mereka beli termasuk banyak jika hanya untuk dua orang yang tinggal bersama, entahlah Johnny juga bingung apa yang sebenarnya Ten lakukan.

"Kau punya kartu member disini?" Tanya Ten saat Johnny baru saja menyodorkan kartu berwarna biru dengan logo supermarket yang tengah mereka datangi.

"Ah- iya aku sempat membuatnya beberapa bulan lalu." Ucap Johnny sedikit terbata.

"Untuk apa? Bahkan akhir-akhir ini kau jarang sekali menemaniku belanja." Ucap Ten.

Johnny hanya terdiam, ia berpura-pura sibuk memperhatikan kegiatan yang tengah dilakukan oleh petugas kasir. Jelas saja ia tak berani menjawab perkataan yang Ten berikan, pasalnya kartu itu sudah digunakan beberapa kali saat harus mengisi kebutuhan bulanannya di apartemen yang ia tempati bersama Heejin.

Sepasang suami istri itu telah sampai ke kediaman mereka, Ten telah masuk terlebih dahulu membawa satu kantong belanjaan mereka sedangkan Johnny menyusul di belakangnya dengan dua kantong belanjaan yang berukuran cukup besar. Langkah Johnny terhenti saat merasakan ponsel yang berada di saku celananya bergetar beberapa kali. Pria itu menghentikan langkahnya dan meletakkan salah satu kantong belanjaan di lantai rumah mereka. Johnny menyipitkan matanya saat melihat siapa orang yang mengirimkan pesan.

From: Heejin-ssi

Bisa kau datang kemari? Ada yang harus aku bicarakan soal anak kita. Apa kau tidak membaca surat yang dititipkan pada sekretarismu beberapa hari lalu?

Johnny menghela nafas panjang, sejak kejadian Johnny memberikan sebuah mobil pada wanita itu memang ia mulai mengurangi waktunya untuk menemui Heejin. Johnny sadar jika ia yang meminta mengakhiri hubungan mereka beberapa bulan lalu adalah sebuah kesalahan besar mengingat wanita itu tengah berbadan dua dengan kondisi kesehatannya yang juga tidak terlalu baik.

Tiga bulan lalu

"Kau bicara apa?" Ucap Heejin begitu mendengar perkataan yang terlontar dari pria yang ada di hadapannya itu.

"Kita sudahi semuanya, aku akan tetap membiayai semua kebutuhan anak kita. Tapi biarkan aku pergi dari hidupmu." Ucap Johnny. Heejin semakin membulatkan netra indahnya yang berwarna kecoklatan, wanita itu benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dengan telinganya.

Plak!

Satu tamparan berhasil Heejin lontarkan pada pria yang ada di hadapannya. Wanita itu benar-benar dikuasai oleh emosinya. Air mata mulai mengalir dan membasahi pipinya yang terlihat chubby. Wanita itu berusaha menetralkan nafasnya yang terdengar tersengal sebelum mengucap rentetan perkataan pada pria yang ada di hadapannya.

"Jika kau pikir bisa menyogokku dengan barang seperti ini, kau salah." Heejin menarik sebelah tangan Johnny dan mengembalikan kunci mobil yang sempat ia agung-agungkan beberapa menit yang lalu.

"Aku tidak butuh semua hartamu, aku hanya membutuhkanmu. Kau satu-satunya pria yang membuatku merasa seperti wanita yang paling sempurna. Kau pikir dengan begini hubungan kita akan benar-benar selesai begitu? Kau pikir karir mu tidak akan hancur jika aku memberitahukan semuanya pada tuan Seo?" Ucap Heejin panjang lebar, kemudian ia melangkahkan kakinya kembali menuju ke apartemennya. Bagaimanapun juga hatinya terasa dihujani oleh puluhan belati tajam. Bukankah itu artinya Johnny akan membuangnya setelah semua kebersamaan yang mereka lakukan berdua.

Johnny memijat pelipisnya seraya menghembuskan nafas panjang. Ia mengikuti langkah kaki Heejin dan kembali menuju ke apartemennya. Johnny membuka pintu apartemen mereka, ia melihat Heejin yang tengah menangis disana. Tangisannya terdengar begitu memilukan hari itu, pria tinggi itu bergegas menghampiri Heejin dan berlutut di hadapannya. Perlahan Johnny mulai menghapus lelehan air mata yang membasahi pipi wanita yang telah menemaninya tidur bersama sejak beberapa bulan silam. Heejin mendongak, ia menatap Johnny dengan netra indahnya yang masih memerah.

"Hanya kau yang aku punya di dunia ini, aku hanya menginginkanmu hiks…." Lirih Heejin dalam tangisnya.

"Aku masih bisa bertahan seperti ini John, aku mohon jangan tinggalkan aku." Sambung Heejin.

Johnny hanya terdiam saat Heejin mulai memeluk erat tubuhnya hingga air mata wanita itu berhasil membasahi pakaian bagian pundaknya. Perlahan Johnny mulai membawa tangan besarnya untuk mengelus lembut punggung Heejin yang masih bergetar karena tangisnya. Setelah tangis Heejin mereda Johnny lantas mendaratkan kecupan mesra di dahi wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya. Nyatanya keputusan Johnny untuk mengakhiri semuanya tak semudah yang ia kira, dan ia tak tahu sampai kapan sandiwara mereka akan terbongkar.

Dan sejak itu pertemuan mereka tetap berlanjut, Johnny hanya mengurangi intensitas pertemuan mereka. Tidak sesering dulu yang hampir membuat banyak orang curiga. Heejin sama sekali tak masalah yang penting Johnny tetap peduli padanya, dan tetap akan menemaninya memeriksakan kandungannya seperti yang rutin mereka lakukan.

Present

"John…. Kau lama sekali." Ucap Ten saat melihat Johnny baru sampai ke dapur mereka.

"Ah tadi ada telepon dari seseorang." Balas Johnny.

"Siapa?" Ten yang terlihat mulai penasaran nampak memutar tubuhnya dan menatap ke arah Johnny.

"Rekan kerja- apa ada yang bisa aku lakukan?" Johnny cepat-cepat mengalihkan pembicaraan dan menghampiri Ten yang tengah sibuk menata beberapa bahan makanan ke kulkas, ia mengambil beberapa buah-buahan dan bergegas membersihkannya.

"Jadi aku akan pergi ke rumah sakit mulai besok dan mendongeng di bangsal anak-anak, kasihan sekali mereka, bahkan diantara mereka ada yang terkena penyakit mematikan…." Lirih Ten malam itu, saat ini ia dan Johnny tengah duduk di ruang keluarga setelah menyelesaikan makan malam mereka.

"John- kau tak mendengarkanku?" Ucap Ten, pasalnya suaminya hanya terdiam dengan pandangan lurus kedepan sejak tadi.

"Ah iya bagaimana? Jadi apa yang akan kau lakukan besok?" Tanya Johnny. Ten mencebikkan bibirnya, jadi setelah ia berbicara panjang lebar beberapa menit lalu suaminya itu sama sekali tak mendengarkannya.

"Benar ternyata kau tidak mendengarkanku." Ucap Ten.

"Aku mau tidur saja." Ten bangkit dari duduknya dan meninggalkan Johnny di ruang keluarga. Johnny mengacak rambutnya, isi kepalanya benar-benar berisik sejak tadi. Terlebih ia mulai memikirkan mengenai amplop yang sempat Dokyeom berikan beberapa hari lalu.

Johnny mengintip ke kamar mereka, disana Ten telah tertidur lelap dengan selimut yang membungkus tubuh rampingnya. Pria tinggi itu menyambar kunci mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan rumah mereka. Johnny mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke kantornya. Setelah sampai disana Johnny lantas bergegas menuju ke ruangannya. Malam itu tak ada satu orang pun di dalam kantor hanya terdapat beberapa penjaga keamanan yang bertugas di depan seperti yang biasa mereka lakukan.

Johnny membawa amplop berwarna coklat di tangannya, ia duduk di kursi miliknya dan mulai membaca apa yang ada di dalamnya. Surat itu adalah hasil pemeriksaan kesehatan yang Heejin lakukan beberapa minggu lalu. Disana dijelaskan jika kondisi kehamilan Heejin tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Selain karena Heejin yang memiliki riwayat penyakit asma bawaan ternyata bobot bayi yang dikandungnya termasuk rendah, hingga sangat beresiko terjadi kelahiran prematur pada bayi mereka. Johnny kembali memasukkan surat tersebut ke amplop dan menghela nafas panjang. Ia merogoh ponsel yang ada di saku celananya dan mulai mendial nomor seseorang disana, namun pria itu tak kunjung mendapatkan jawaban. Johnny lantas bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ke apartemen yang telah ditempati Heejin sejak lama.

Johnny masuk ke kamar mereka, disana ia menemukan Heejin yang terlihat tidak nyaman dalam tidurnya. Tentu saja usia kandungannya yang telah memasuki bulan keenam cukup banyak mempengaruhi pola tidurnya akhir-akhir ini. Johnny mengelus lembut wajah wanita itu dan menyingkirkan beberapa anak rambut yang menghalangi wajah wanita itu. Heejin yang merasa ada seseorang yang mengganggu tidurnya nampak membuka matanya perlahan. Ia tersenyum saat mendapati siapa yang ada di hadapannya, itu Johnny pria yang ia tunggu-tunggu kedatangannya selama ini.

"Kau datang, apa akan menginap malam ini?" Tanya Heejin antusias. Johnny tak banyak berucap, ia hanya mengangguk menanggapi perkataan wanita yang ada di hadapannya.

Malam itu berakhir dengan Johnny yang bermalam bersama Heejin meninggalkan Ten yang tertidur dengan hati yang kesal atas perlakuan yang Johnny berikan padanya malam tadi. Johnny memeluki Heejin yang telah tertidur dan mulai mengecup perut buncit wanita itu, sesekali pria itu juga mendaratkan kecupan disana dan direspon dengan gerakan lemah dari bayi kecil mereka.

Johnny melepaskan pelukannya, ia merubah posisinya menjadi berbaring dengan tangannya yang ia gunakan sebagai bantalan. Pria itu menatap lurus ke arah atap, bahkan jika diberikan pilihan untuk memilih salah satu diantara keduanya Johnny masih tak tahu akan berakhir dengan siapa akhirnya.