9. Suspicious

Waktu berlalu begitu cepat, Ten semakin terlarut dengan kesibukannya begitupun Johnny. Siang ini pria itu nampak tengah berada di ruang operasi yang berada di salah satu rumah sakit, hari ini Heejin melahirkan anak mereka. Karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk menjalani persalinan normal maka dokter kandungan yang mendampingi Heejin menyarankan untuk menjalankan prosedur operasi Caesar sejak lama. Saat ini Heejin tengah berbaring dengan tangan yang direntangkan di kedua sisinya. Tangan kanannya sibuk menggenggam tangan Johnny sejak tadi. Johnny juga telah mengganti pakaiannya dengan pakaian berwarna hijau khas ruang operasi.

Tim dokter baru saja memulai operasinya beberapa menit lalu, saat ini dokter wanita yang nampak cantik sekali pun mengenakan masker itu terlihat tengah membuat sayatan di perut besar pasiennya.

"Bayinya akan dikeluarkan, mungkin kau akan merasakan seperti ada tarikan dalam perutmu." Ucap dokter wanita tersebut.

Heejin terlihat mengangguk dan semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Johnny. Sedangkan pria itu nampak tengah mengecup lembut kening Heejin sejak tadi.

"Setelah ini kita akan hidup bahagia kan?" Tanya Heejin sedikit berbisik. Sebenarnya sejak tadi mereka berdua telah berbincang tentang banyak hal dan tiba-tiba saja wanita itu melontarkan pertanyaan yang cukup membuat Johnny terkesiap.

"Tentu." Balas Johnny singkat.

Oek…. Oek…

Tangisan bayi yang lemah terdengar di telinga mereka berdua. Heejin terlihat mengeluarkan air matanya, ia begitu bahagia hari ini, setelah berbulan-bulan merawat bayi dalam perutnya semampu yang ia bisa akhirnya bayi itu bisa menemuinya hari ini.

"Kami bersihkan dulu ya bayinya…." Ucap seorang perawat, ia membawa bayi mungil yang ada di tangannya dan mulai membersihkannya. Bayi itu masih menangis, namun tangisannya kali ini terdengar lebih nyaring daripada sebelumnya. Heejin memandang Johnny dan tersenyum kepada pria itu seolah menjelaskan betapa bahagianya ia hari ini.

Setelah dibersihkan perawat menyerahkan bayi kecil itu ke dekapan Heejin sementara tim dokter menutup kembali sayatan pada rahim dan menjahit kembali perut wanita itu. Heejin tersenyum teduh, ia mendekatkan jari kelingkingnya pada sang bayi dan dibalas genggaman lemah dari bayi kecilnya.

"Selamat datang San, Choi San anak eomma…." Bisik Heejin pada bayi kecilnya. San nampak nyaman dalam dekapan sang ibu, tangisnya mulai mereda dan bayi kecil itu mulai menikmati ASI nya.

Setelah sekitar lima puluh menit berada di ruang operasi akhirnya Heejin dipindahkan ke ruang perawatan. Johnny dan Heejin nampak sibuk dengan bayi kecil mereka. Dengan ragu Johnny membawa bayi kecil mereka dalam gendongannya, gerakannya terlihat begitu ragu seolah bayi kecil mereka akan terluka jika tersentuh tangan besarnya.

"Jangan kaku begitu, kau bisa lebih santai." Ucap Heejin yang tengah terbaring di ranjang pasiennya.

"Aku belum pernah menggendong bayi sebelumnya. Bahkan keponakanku baru berani kusentuh saat mereka sudah cukup besar." Balas Johnny, pria itu baru saja mendudukkan dirinya di sofa dan membawa bayi kecil itu dalam dekapannya.

"Aish…. Johnny kemana sih? Kenapa saat diperlukan sangat sulit dihubungi." Ucap Doyoung, wanita itu nampak kesal kala mendial nomor suami sahabatnya sejak tadi namun tak kunjung mendapatkan jawaban.

"Eonni…. Bagaimana? Sudah bisa hubungi suami Ten?" Tanya Jungwoo, wanita tinggi itu baru nampak menyembulkan separuh badannya dari balik pintu ruang rawat Ten.

Beberapa jam lalu Ten jatuh pingsan saat baru saja selesai mendongeng di bangsal anak-anak. Beruntungnya saat itu mereka tengah berada di rumah sakit dan ada Doyoung juga Jungwoo yang menemaninya, jika tidak mungkin gak ada yang tahu nasib Ten akan berakhir seperti apa.

"Kau tidak punya kontak temannya atau orang lain yang bisa dihubungi? Dokter hanya mau bicara dengan keluarga Ten." Ucap Jungwoo.

"Lebih baik kau tutup mulutmu, aku sedang berusaha." Kesal Doyoung seolah lelah mendengar semua ocehan Jungwoo sejak tadi.

"Aku tunggu di dalam." Ucap Jungwoo.

Di dalam kamar rawat yang baru saja dimasuki Jungwoo nampak Ten yang tengah terbaring lemah dengan infus yang menancap di tangannya. Jungwoo duduk di sofa yang ada disana dan mulai memainkan ponselnya, ia berniat menghubungi adik sepupunya karena seingatnya hari ini juga Minhee berada di rumah sakit yang sama untuk memeriksakan cederanya.

"Yeoboseyo eonni…."

"Minhee-ya…. Masih di rumah sakit?" Tanya Jungwoo.

"Masih, tapi aku baru saja keluar dari ruangan dokter Lee. Sekarang tengah berjalan ke cafeteria, tiba-tiba saja aku lapar." Ucap wanita muda itu.

"Kebetulan sekali, belikan aku makanan. Nanti ku ganti uangmu." Ucap Jungwoo.

Minhee nampak mengernyit heran, seharusnya saat sore seperti ini kakak sepupunya itu berada di kantor, mengapa tiba-tiba saja minta dibelikan makanan dari cafeteria rumah sakit.

"Eonni dimana?" Tanya Minhee.

"Aku di rumah sakit yang sama denganmu, temanku tiba-tiba saja jatuh pingsan saat sedang mendongeng di bangsal anak." Jelas Jungwoo.

"Ah begitu rupanya, kau mau kubelikan apa?"

"Akan ku kirim sebentar lagi. Sudah ya, kututup dulu." Jungwoo mengakhiri panggilan telepon mereka dan mulai mengetik deretan makanan di ruang obrolannya dan Minhee.

Minhee tengah mengantri di cafeteria, tangannya yang beberapa bulan lalu sempat di gips sekarang sudah bisa bergerak dengan bebas, hanya saja tetap perlu dilakukan kontrol ke rumah sakit untuk meminimalisir efek yang tidak diinginkan. Wanita muda itu terlihat telah mendapatkan apa yang ia inginkan, Minhee bergegas memasukkan ponsel miliknya ke saku celananya dan mulai membawa makanan miliknya dan Jungwoo dengan kedua tangannya.

Minhee terlihat sibuk dengan makanan yang ada di tangannya hingga ia tak sadar jika baru saja menabrak seseorang bertubuh tinggi yang ada di hadapannya. Keduanya sama-sama terkejut saat bertabrakan, yang Minhee lihat pria yang baru saja menabraknya mengenakan setelah jas yang tidak terlalu formal dan saat mereka bertabrakan pria itu tengah mencari sesuatu dalam dompetnya.

"Joesonghamnida…. Maaf aku tidak melihat jalan dengan baik." Ucap Minhee sedikit membungkuk pada pria yang ada di hadapannya.

"Ah bukan masalah. Kau baik-baik saja kan? Atau ada yang terluka." Tanya pria tinggi itu.

"Ah aniyo…. aku baik-baik saja." Ucap Minhee. Pria itu terlihat mengangguk dan berpamitan pada Minhee sebelum akhirnya melenggang pergi begitu saja.

"Tunggu…. Kartu namamu terjatuh. Ahjussi!" Minhee sedikit berteriak di lobby rumah sakit namun pria itu sama sekali tak menoleh. Karena Minhee terlalu malas menyusul pria itu akhirnya ia mengambil kartu nama yang terjatuh di dekat kakinya.

"Johnny Seo…. Ah jadi dia pengacara di Suh & Park pantas saja terlihat tampan dan berwibawa." Gumam Minhee, ia menyimpan kartu nama tersebut ke saku kemejanya dan kembali melanjutkan perjalanan ke ruangan yang telah Jungwoo beritahukan sebelumnya.

Minhee membuka pintu ruang rawat Ten dan memamerkan senyumannya pada dua orang wanita yang tengah duduk disana. Minhee melirik sekilas, di ranjang pasien tengah terbaring wanita lain dengan wajah yang pucat dan cukup membuat ia iba saat melihatnya. Wanita muda itu menaruh makanan yang ia bawa di atas meja. Baik Jungwoo ataupun Doyoung langsung melahap apa yang ada di hadapan mereka. Pasalnya perut mereka sudah berteriak minta diisi sejak beberapa jam yang lalu.

Minhee mengeluarkan kartu nama itu dan berniat menanyakan bagaimana cara mengembalikannya. Maklum saja ia hanya gadis SMA, ia datang ke Seoul beberapa bulan yang lalu untuk mengobati tangannya yang cedera dan terpaksa menetap di apartemen Jungwoo untuk sementara.

"Eonni apa menurutmu kartu nama yang seperti ini akan dicari oleh pemiliknya?" Tanya Minhee. Doyoung yang duduk disebelah Minhee meraih kartu nama tersebut dan berniat melihat siapa pemiliknya.

Uhuk…

Doyoung tersedak minumannya hingga membuat Minhee dan Jungwoo sedikit terkejut sore itu..

"Minhee-ya…. Kau menemukannya dimana?" Tanya Doyoung setelah berhenti ber batuk.

"Tadi aku menabrak seseorang di lobby saat baru saja kembali dari cafeteria." Jelas Minhee.

"Lalu sekarang orangnya kemana?" Tanya Doyoung lagi.

"Tadi pria itu berjalan keluar dari lobby, sepertinya sedikit terburu-buru." Ucap Minhee.

"Ada apa sih, memang itu kartu nama siapa?" Tanya Jungwoo, ia merampas benda kecil tersebut dari tangan Doyoung dan membulatkan matanya kala melihat nama siapa yang tertera disana.

"Omona…. Sesange…." Gumam Jungwoo, nyatanya reaksi yang ia berikan tak jauh berbeda dengan reaksi Doyoung beberapa menit lalu.

"Tapi bisa saja kan mungkin orang yang Minhee tabrak adalah klien Johnny yang memang menyimpan kartu nama pengacaranya." Ucap Doyoung, wanita bergigi kelinci itu masih berusaha berfikir positif dan menyingkirkan semua pemikiran aneh yang mulai bermunculan di otaknya. Jungwoo menggeleng tak terima, ia lantas meraih ponsel Ten yang berada di hadapan Doyoung dan mulai menjelajah file yang ada disana.

"Minhee-ya, tadi kau bertabrakan dengan orang ini?" Tanya Jungwoo seraya menunjukkan foto Johnny yang tengah memeluk Ten erat-erat.

"Maja…. Kau mengenalnya, kalau begitu bisa tolong kembalikan pada pemiliknya." Ucap Minhee seraya menikmati susu pisang miliknya.

"Sudah kubilang ada yang mencurigakan sejak awal." Gumam Jungwoo, ia bangkit berdiri dan mengajak Doyoung untuk keluar dari ruang rawat Ten setelah sebelumnya menitipkan sahabatnya itu pada Minhee. Minhee yang tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi hanya mengangguk dan berpindah duduk di sebelah ranjang rawat Ten seraya mengelus lembut punggung tangan Ten yang tertancap infus.

"Jadi begini, aku hanya sekali menemani Minhee kontrol ke rumah sakit dan itu sekitar enam bulan yang lalu. Yang aku ceritakan padamu eonni. Apa mungkin?" Ucap Jungwoo, ia terlihat menggebu-gebu sore itu.

"Kau belum berhasil menghubungi Johnny kan?" Tanya Jungwoo, Doyoung hanya menggeleng karena ia masih sulit mencerna apa yang tengah terjadi.

"Eonni pikir apa yang Johnny lakukan disini sekarang, pasti dia menemui wanita itu. Atau mungkin wanita itu sudah melahirkan anaknya, jika ku ingat dulu aku menemui mereka di depan ruangan dokter kandungan." Ucap Jungwoo panjang lebar.

"Woo, berhenti membual." Bentak Doyoung, lama-lama ia pusing juga mendengar semua ocehan yang keluar dari mulut Jungwoo.

"Kita hubungi Johnny sekali lagi, kita buktikan dimana pria itu berada." Ucap Doyoung, Jungwoo menganggukkan kepalanya. Ia memandang penuh harap pada Doyoung yang mulai memainkan ponsel Ten dan mendial nomor Johnny yang berada disana.

Di sisi lain di salah satu ruang perawatan VIP, Heejin nampak tengah menikmati sup rumput laut yang baru saja diantarkan oleh seorang perawat ke kamarnya. Ia terlihat tersenyum cerah saat memandangi San yang tertidur lelap di dalam box bayinya. Tiba-tiba saja perhatian Heejin teralihkan saat mendengar suara ponsel yang berdering, wanita itu terlihat sedikit bingung pasalnya itu bukan bunyi ponsel miliknya. Matanya menangkap ponsel Johnny yang berada di meja nakas dekat dengan ranjangnya tengah bergetar. Beberapa menit lalu Johnny baru saja pergi menjemput sahabat Heejin yang baru tiba di apartemen mereka dan sepertinya pria itu lupa membawa ponselnya.

Senyuman remeh terukir di wajah Heejin saat tak sengaja melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut "Ten Seo ❤️". Bahkan Johnny hanya menyimpan kontaknya dengan nama "Heejin-ssi", pikir wanita itu. Perlahan ia meraih ponsel Johnny dan mematikan panggilan tersebut. Setelahnya ia membuka ponsel Johnny dengan kata sandi yang ia lihat diam-diam beberapa hari yang lalu. Wanita itu jelas melihat jika banyak panggilan masuk dari nomor istri mantan atasannya itu dan juga beberapa nomor lain yang tak dikenal. Heejin memainkan jemarinya di layar ponsel Johnny dan mulai menghapus semua log panggilan dari Ten dan nomor-nomor tersebut hingga tak bersisa. Setelahnya wanita itu mematikan ponsel Johnny dan menyimpannya kembali ke meja nakas.

"Ada yang menolak panggilannya." Gumam Doyoung, netra indahnya tampak membulat seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dengan telinganya sendiri. Jungwoo merampas ponsel Ten dari tangan Doyoung dan kembali mencoba mendial nomor Johnny sekali lagi.

"Bahkan sekarang ponselnya dimatikan." Ucap Jungwoo.

"Pasti ada sesuatu yang Johnny lakukan, kita harus memberitahu Ten saat ia terbangun nanti." Ucap Doyoung, ia yang semula berusaha berfikir positif malah begitu semangat mengabarkan apa yang baru saja terjadi pada sahabatnya itu.

"Eonni! Temanmu sudah bangun!" Minhee menyembulkan separuh badannya dari pintu ruang rawat Ten dan sedikit berteriak. Dua wanita itu bergegas memasuki ruang rawat Ten setelah mendengar panggilan Minhee. Ten harus tahu yang sebenarnya, pikir mereka berdua.