10. Expecting

"Iya anaknya sudah lahir beberapa jam yang lalu, tapi bukan aku yang membantu kelahirannya. Kalau tidak salah Joy yang tangani." Seorang wanita bersnelli putih dengan name tag yang bertuliskan Irene Bae nampak tengah berbincang dengan seseorang melalui ponselnya.

"Ah begitu rupanya, nanti akan kukabari sepupuku mungkin Jaehyun belum tahu jika Johnny sudah jadi seorang ayah."

"Tapi Junmyeon-ssi, Johnny itu temanmu?" Tanya Irene pada Jumyeon sahabatnya sekaligus dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit tempat mereka bekerja.

"Ah sebenarnya hanya junior semasa kuliah, tapi dia berteman dengan adik sepupuku. Mereka berdua satu SMA dulu." Jelas Junmyeon. Irene hanya ber oh ria dan tengah sibuk merogoh mesin minuman yang baru saja mengeluarkan kopi kaleng miliknya.

"Kau mau aku mengirim hadiah untuk mereka sementara kau berada di luar kota?" Tawar Irene.

"Ah kurasa tidak perlu, nanti aku akan menemuinya setelah kembali dari sana."

"Baiklah kalau begitu, selamat bekerja Junmyeon-ssi."

"Ne, terima kasih Joohyun-ah."

Panggilan telepon antara dua dokter muda itu terputus begitu saja. Beberapa menit lalu Irene berniat menghubungi Junmyeon untuk mengabarkan pada sahabatnya itu bahwa anak temannya sudah lahir. Kebetulan sekali istri teman Junmyeon itu ditangani langsung oleh Joy, salah satu teman Irene di poli kandungan, jadi Junmyeon kerap kali menanyakan kabar pasien wanita tersebut.

Irene melangkah ke ruang istirahat yang disediakan untuk para dokter. Tubuhnya terasa cukup lelah setelah melakukan banyak operasi hampir seharian. Lagipula malam ini hanya ada sedikit pasien di poli kandungan yang perlu dipantau keadaannya. Saat Irene baru saja terduduk di kursinya tiba-tiba saja Joy datang dengan wajah yang masam, wanita itu pasti merasakan lelah seperti yang tengah ia rasakan, pikir Irene.

"Bagaimana keadaan ibu dan bayinya?" Tanya Irene buka suara. Joy yang baru saja menenggelamkan kepalanya dalam tumpukan tangannya lantas menoleh. Iya memasang pose berpikir seolah tak mengerti dengan pertanyaan yang baru saja temannya lontarkan.

"Ah bayi yang katanya anak temannya Junmyeon seonsaeng itu? Bayinya sehat, ya sekalipun bobotnya tidak terlalu besar tapi sangat sehat." Jelas Joy.

"Tapi…." Joy memotong ucapannya hingga membuat Irene menatapnya penuh keheranan.

"Tapi apa?" Tanya Irene.

"Katamu nama temannya Junmyeon seosaeng Johnny Seo kan?" Tanya Joy. Irene menganggukan kepalanya karena memang benar apa yang baru saja diucapkan sahabatnya itu.

"Tapi nama anak mereka Choi San, bukan Seo San. Jadi mereka mengambil marga ibunya." Jelas Joy. Irene sedikit terkejut, pasalnya ia baru pertama kali mendapati masalah seperti ini.

"Atau mungkin yang namanya Johnny itu bukan suami nyonya Heejin?" Tanya Joy.

"Kurasa tidak mungkin. Saat sesi pemeriksaan kan kau lihat sendiri mereka selalu terlihat mesra. Nyonya Heejin juga sering kali bermanja pada suaminya. Lalu Junmyeon bilang temannya yang bernama Johnny itu memang sudah menikah sejak dua tahun lalu." Jelas Irene panjang lebar.

"Ah aku tidak tahu, memikirkannya saja membuat kepalaku pusing." Ucap Joy, ia kembali menenggelamkan wajahnya dan berniat untuk istirahat sejenak.

Jungwoo dan Doyoung bergegas memasuki ruang rawat Ten, disana ia mendapati rekan kerja mereka yang tengah memijat pelan pelipisnya. Netra indah Ten juga masih nampak setengah terpejam, sepertinya wanita itu masih merasakan nyeri pada kepalanya.

"Ten apa yang kau rasakan?" Tanya Doyoung.

"Kepalaku pusing sekali, tapi kenapa aku disini? Memangnya aku kenapa?" Tanya Ten dengan wajah polosnya, seingatnya beberapa jam lalu ia tengah mendongeng untuk anak-anak.

"Kau pingsan saat baru saja selesai mendongeng, lalu kami membawamu kemari. Kau tertidur cukup lama, kami sampai khawatir." Jelas Jungwoo.

Doyoung yang berdiri di dekat ranjang rawat Ten lantas menekan tombol emergency untuk memanggil dokter yang beberapa jam lalu sempat memeriksa Ten. Tak butuh waktu lama dokter laki-laki bertubuh tinggi dan berkacamata itu nampak datang ke ruang rawat Ten. Ia terlihat tersenyum ketika melihat pasiennya telah membuka mata.

"Jadi apa yang kau rasakan?" Tanya dokter umum ber name tag Park Chanyeol itu.

"Pusing dan sedikit mual." Lirih Ten, ia jelas merasakan sejak tadi rasa mual mulai menyerbu area mulutnya.

"Kapan terakhir kali datang bulan?" Tanya Chanyeol. Ten terdiam, ia bahkan baru ingat jika belum datang bulan di bulan ini karena terlalu asyik dengan pekerjaannya. Jungwoo dan Doyoung saling bertatapan, bukankah jika Johnny benar-benar berselingkuh dan Ten tengah berbadan dua akan lebih menyakitkan untuk wanita itu menerima kenyataan yang ada.

"Kurasa siklusku telat tiga minggu." Ucap Ten. Chanyeol mengangguk seraya tersenyum teduh.

"Setelah ini kau bisa bertemu dengan dokter kandungan. Kurasa kau akan tahu jawabannya saat disana." Jelas Chanyeol, Ten hanya mengangguk lemah. Bagaimanapun juga kepalanya masih cukup pusing malam itu.

"Apa harus segera pergi kesana?" Tanya Doyoung, ia buka suara untuk mewakili Ten yang sibuk memijat pelipisnya.

"Hum karena poli kandungan sudah tutup sejak tadi, kalian bisa berkunjung kesana besok pagi. Aku akan buatkan janji agar tidak perlu mengantri." Jelas Chanyeol. Doyoung dan Jungwoo yang mendengar perkataan dokter tampan itu nampak mengangguk mengerti. Selanjutnya dokter itu pamit undur diri dari ruangan pasiennya.

"Bisa tolong ambilkan ponselku, kurasa aku harus menghubungi Johnny." Ucap Ten dengan suara lirihnya.

"Ponselmu mati, baterainya habis. Kami juga baru sadar saat mengeceknya beberapa menit lalu." Bohong Doyoung.

"Begitukah? Seingatku aku membawanya kemari dalam keadaan penuh." Ucap Ten.

"Itukan tadi pagi Ten, sekarang sudah malam. Lihat langitnya sudah gelap, kau benar-benar membuat kami khawatir karena tidur terlalu lama." Timpal Jungwoo berusaha meyakinkan sahabatnya.

"Ah begitu ya rupanya. Terima kasih banyak kalian sudah menemaniku. Sepertinya kalian bisa pulang sekarang, aku akan menghubungi Johnny untuk datang nanti." Ucap Ten.

"Kami bisa menginap disini malam ini, lagipula sofanya cukup luas. Iya kan Woo?" Ucap Doyoung, Jungwoo nampak terkejut namun setelahnya ia mengangguk seraya memasang sebuah senyuman di wajahnya. Ten mengangguk, ia kembali berbaring dan memejamkan matanya, rasanya kepalanya seperti ditimpa oleh beban berat sejak tadi belum lagi perutnya yang terasa dikocok-kocok.

"Minhee-ya, kau pulang saja. Ini…. Kau berani pulang sendiri kan?" Tanya Jungwoo pada sepupunya, ia terlihat menyodorkan beberapa lembar uang untuk adik sepupunya itu membayar ongkos taksi.

"Hum…. kalau begitu aku pergi dulu eonni. Semoga temanmu cepat sehat." Ucap Minhee, ia berlalu pergi meninggalkan Jungwoo yang kembali masuk ke ruang rawat Ten.

Saat dalam perjalanan pulang, Minhee melewati ruangan bayi. Ruangan itu dihiasi dengan jendela kaca besar untuk memudahkan para orang tua baru menengok anak mereka. Dari kejauhan Minhee melihat siluet seorang pria yang terlihat familiar, netra indah wanita muda itu nampak membulat sempurna kala mengingat dimana ia pernah menemui pria itu sebelumnya. Dengan ragu Minhee mendekati sepasang suami istri itu, Minhee menyentuh bahu pria tinggi yang tengah mendorong kursi roda istrinya dan membuat pria itu menoleh seketika.

"Annyeonghaseyo…. Aku Minhee, tadi kita sempat bertabrakan di lobby kalau kau lupa. Ini…. Kau menjatuhkan ini dari dompetmu beberapa jam yang lalu." ucap Minhee, ia menyodorkan kartu nama milik Johnny dan mengembalikannya pada pemiliknya. Heejin yang duduk di kursi roda nampak menatap kebingungan kearah Minhee yang ada di hadapannya.

"Ah iya, terima kasih banyak. Padahal tidak masalah jika kau tidak mengembalikannya." Ucap Johnny.

"Itu bukan milikku, tentu saja aku tak bisa mengambil sembarangan barang milik orang lain. Ah iya sepertinya anak kalian baru lahir, selamat ya semoga tumbuh menjadi anak yang sehat." Ucap Minhee, ia pamit undur diri dari pasangan suami istri itu dan benar-benar menghilang di penghujung lorong rumah sakit.

Johnny terlihat tersenyum menanggapi perkataan Minhee, berbeda dengan Heejin yang nampak terganggu dengan ocehan wanita muda itu. Entahlah mungkin ia sedikit tersinggung tentang ucapan mengambil barang orang lain yang baru saja Minhee lontarkan.

Johnny membawa kembali Heejin ke ruang rawatnya. Disana sudah ada Sora, sahabat Heejin yang menunggu kedatangan mereka. Johnny kira dengan adanya Sora, Heejin akan mengizinkannya kembali ke rumah. Nyatanya tidak, wanita itu benar-benar tidak mau ditinggal pergi dan itu berhasil membuat Sora yang ada disana keheranan, kalau begitu apa gunanya ia berada disini, pikir Sora.

Johnny mengecek sekilas dan mendapati Heejin telah tertidur di ranjang pasiennya begitupun dengan Sora, wanita berambut pendek itu telah memejamkan matanya di extra bed yang ada di ruang rawat Heejin. Johnny berbaring di sofa panjang yang berada di sana, ia mulai memainkan ponselnya. Pria itu tampak mengernyit heran, pasalnya tak ada satupun panggilan atau pesan masuk dari Ten, istrinya. Biasanya wanita itu akan menghubunginya jika Johnny telat pulang ke rumah sebentar saja.

Johnny menghubungi ponsel Ten namun tak ada jawaban dari sana karena sepertinya ponselnya mati. Pria itu melirik ke arah jam tangannya, sudah pukul sebelas malam. Mungkin Ten sudah tidur dan mematikan ponselnya, pikir Johnny.

Di pagi hari Ten terbangun lebih dulu karena rasa mual yang tiba-tiba saja menyerangnya. Ten mengguncang lengan Doyoung yang ada di tepi kasurnya. Wanita itu nampak tertidur dengan menenggelamkan wajahnya di tepi ranjang rawat yang Ten gunakan.

"Eugh…." Doyoung bergumam saat merasa seseorang mengganggu tidurnya, wanita itu menyipitkan matanya dan menatap ke arah Ten yang tengah menutup mulutnya dengan sebelah tangannya yang tidak terpasang infus. Doyoung seketika membulatkan matanya, seolah paham akan apa yang terjadi ia bergegas bangkit dan mencari wadah apapun yang bisa Ten gunakan untuk menampung muntahannya. Doyoung menemukan wadah aluminium berukuran cukup besar di meja nakas Ten, ia bergegas memberikan itu pada sahabatnya dan membiarkan Ten memuntahkan apapun yang ia bisa keluarkan dari perutnya.

Hoek…. Hoek…. Hoek….

Ten memuntahkan cairan bening dari mulutnya, Doyoung nampak bangkit dari duduknya dan memijat pelan tengkuk sahabatnya. Suara berisik yang Ten hasilkan berhasil membangunkan Jungwoo dari tidurnya. Wanita bertubuh tinggi itu nampak mengucek matanya berkali-kali dan tengah berusaha mengumpulkan nyawanya.

Hoek…. Hoek…. Hoek….

Ten masih sibuk dengan muntahannya, ia belum berhenti sejak tadi. Doyoung yang ada di belakangnya yang terlihat sedikit panik pasalnya ia belum pernah menjumpai hal semacam ini seumur hidupnya.

"Woo…. Muntahan Ten berubah jadi warna kuning." Ucap Doyoung dengan kepanikan yang jelas terdengar dari nada suaranya.

"Tidak apa-apa." Gumam Jungwoo, ia berjalan ke arah Ten dan mengelus lembut pundak sahabatnya itu.

"Kau santai sekali." Ucap Doyoung, ia memang tahu Jungwoo adalah wanita yang santai namun Doyoung seolah tak percaya jika sahabatnya itu masih tetap santai di kondisi seperti sekarang ini.

"Perut Ten dalam keadaan kosong, yang ia keluarkan sekarang adalah cairan asam lambungnya, warnanya memang kuning seperti itu." Jelas Jungwoo. Doyoung nampak takjub ia seolah tak menyangka jika mulut Jungwoo mampu mengeluarkan penjelasan ilmiah yang bahkan bisa ia pahami dengan mudah.

"Kau pernah kuliah kedokteran?" Tanya Doyoung penasaran.

"Kau pikir untuk apa aku harus berkutat dengan kertas-kertas sialan itu jika aku pernah kuliah kedokteran hah? Aku punya kakak perempuan, anaknya baru lahir beberapa bulan yang lalu. Jadi bisa dibilang aku sedikit mengerti soal kehamilan." Ucap Jungwoo bangga, Doyoung hanya mengangguk dan kembali sibuk memijat tengkuk Ten yang nampak melemas.

"Lebih baik kita bawa Ten ke dokter kandungan sekarang, kurasa lebih baik sekarang sebelum semakin ramai." Usul Jungwoo. Ten terlihat menggelengkan kepalanya menanggapi perkataan Jungwoo pagi itu.

"Kenapa Ten? Benar apa yang Jungwoo katakan lebih baik kita pergi sekarang." Ucap Doyoung.

"Aku mau pergi dengan Johnny." Lirih Ten yang berhasil membuat Doyoung dan Jungwoo saling berpandangan. Ten yang merasa sedikit lebih baik mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya yang diletakan di meja nakas. Ten berniat menghubungi Johnny, ia membuka log panggilan dan cukup terkejut saat melihat panggilan keluar untuk Johnny yang berjumlah puluhan.

"Kalian menghubungi Johnny kemarin?" Tanya Ten pagi itu. Doyoung dan Jungwoo mengangguk ragu, mereka benar-benar tak enak hati jika harus mengatakan yang sejujurnya pada Ten.

"Tidak diangkat ya, ah kalian juga mengirimkannya pesan rupanya." Ucap Ten tersenyum simpul.

Ten mencoba mendial nomor Johnny pagi itu, setelah menunggu cukup lama namun tak ada juga jawaban yang pria itu berikan. Wanita cantik itu menarik nafas panjang, netra indahnya yang mulai berkaca-kaca terlihat menatap lekat ke arah dua sahabatnya.

"Bisa temani aku ke dokter kandungan?" Tanya Ten. Doyoung dan Jungwoo mengangguk semangat, mereka membantu Ten berdiri dan membantu Ten membawa tiang infusnya.

Sesuai dengan perkataan Chanyeol kemarin, Ten tidak perlu mengantri untuk memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Saat ini Ten telah berada di ruangan seorang dokter wanita yang dari pintu bercat putih Ten tahu bernama Irene Bae. Dokter wanita itu meminta Ten berbaring di ranjang pasien yang berada di ruangannya, seorang perawat nampak membantu Ten berbaring dan perawat lainnya terlihat mendorong peralatan yang serupa dengan alat USG yang ada di hadapan Irene.

"Karena ini untuk memastikan kau tengah mengandung atau tidak aku akan memeriksamu menggunakan transduser yang sedikit berbeda, bisa buka pakaian dalammu?" Ucap Irene. Ten hanya mengangguk sekalipun ia merasa sedikit malu karena dilihat oleh Doyoung, Jungwoo, juga dua orang perawat wanita yang ada disana.

Ten merasakan sensasi aneh saat sebuah transduser panjang dimasukkan ke vaginanya. Irene nampak memperhatikan layar monitornya dan tersenyum sekilas. Setelah mengeluarkan alat tersebut dari vagina Ten, Irene meminta perawat membantu Ten memperbaiki celananya. Setelah penampilannya jauh lebih rapi, Jungwoo membantu Ten berjalan dan membiarkan wanita itu duduk di sebelah Doyoung yang berhadapan langsung dengan Irene.

"Kau tengah mengandung, usianya baru empat minggu." Ucap Irene, ia juga menunjukkan gambar yang ada di monitornya. Walaupun hanya didominasi warna hitam namun Ten bisa melihat titik kecil yang berada disana.

"Apa kau merasakan hal yang aneh pada tubuhmu?" Tanya Irene.

"Hanya mual, pusing, dan sempat muntah saat tadi pagi." Jelas Ten. Irene nampak mengangguk mengerti, ia terlihat mengetikan sesuatu dengan keyboardnya dan beberapa menit berlalu wanita itu nampak menyerahkan dua lembar hasil sonogram pada Ten yang disambut wanita itu dengan wajah berbinar cerah.

"Aku akan meresepkan beberapa vitamin dan obat-obatan yang juga direkomendasikan dokter Park. Setelah ini kau harus banyak istirahat, jangan terlalu lelah bekerja atau banyak pikiran, sebisa mungkin kurangi stress selama trimester pertama kehamilan." Jelas Irene.

"Ah iya setelah ini dokter Park akan mengunjungimu, jika menurutnya kondisimu sudah lebih baik kau boleh pulang hari ini." Sambung dokter wanita itu.

"Jangan lupa istirahat ya…. Sampai ketemu di sesi pemeriksaan berikutnya." Ucap Irene yang mengantarkan tiga wanita itu ke ambang pintu ruangannya. Ten nampak membungkuk sekilas sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Irene.

"Eonni…. Kau lihat Minseok seonsaeng?" Irene yang hendak kembali ke ruangannya nampak menoleh dan mendapati Joy yang berjalan ke arahnya.

"Tidak, aku belum melihatnya hari ini. Ada apa? Kau terlihat panik." Ucap Irene.

"Bayi nyonya Heejin bola matanya menguning sepertinya kadar bilirubinnya tinggi. Aku butuh Minseok seonsaeng untuk melakukan fototerapi." Jelas Joy.

"Ah begitu, kau sudah cek ke bangsal anak? Biasanya Minseok seonsaeng sering melakukan visit di pagi hari." Jelas Irene.

"Ah iya benar juga, terima kasih eonni." Joy melenggang pergi meninggalkan Irene yang kembali masuk ke ruangannya dan menunggu pasien Selanjutnya.

Ten, Jungwoo, dan Doyoung yang ternyata sejak tadi masih berada di dekat ruangan Irene nampak kasihan pada bayi kecil yang baru saja dibicarakan oleh dua dokter wanita itu. Terlebih Ten, ia yang tengah berjalan dengan memegang dua lembar sonogram di tangannya semakin mengiba pada bayi kecil yang baru saja mereka bicarakan.

"Kasihan sekali bayi kecil itu." Lirih Ten saat di tengah perjalanannya menuju ruang rawatnya.

"Biasanya bayi kecil itu akan melakukan fototerapi 1x24 jam, lalu ibunya harus memberikan ASI yang cukup. Kita doakan saja semoga ibu bayi kecil itu ASI nya melimpah." Jelas Jungwoo.

"Kenapa harus ASI?" Tanya Doyoung penasaran.

"Saat fototerapi bilirubin yang berada dalam tubuh bayi akan masuk ke organ hati, empedu, dan usus halus. Lalu yang terakhir akan dikeluarkan saat buang air besar. Dengan mengonsumsi ASI bayi akan buang air besar nantinya." Jelas Jungwoo.

"Woo…. Kau luar biasa, cepatlah menikah." Ucap Doyoung penuh kekaguman. Ten yang berada di tengah-tengah mereka nampak tertawa mendengar ocehan dua sahabatnya itu.

Sebenarnya sejak tadi Ten tidak terlalu fokus mendengarkan ocehan Jungwoo, ia masih sibuk memandangi sonogram yang ada di tangannya seraya tersenyum cerah. Pasti Johnny akan sangat senang mendengar kabar baik yang ia dapat hari ini, Ten benar-benar ingin segera pulang ke rumah mereka. Ia ingin mengabarkan pada Johnny jika akan ada tangisan bayi di tengah-tengah mereka berdua sebentar lagi, tentu saja itu akan melengkapi kehidupan rumah tangga mereka. Membayangkannya saja Ten sudah tersenyum cerah sampai membuat Doyoung bergidik ngeri dibuatnya.