11. One Man and Two Women
Saat siang hari Chanyeol baru saja keluar dari ruang rawat Ten, pria itu mengatakan jika pasiennya sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah lebih baik. Ten nampak duduk di ranjang pasiennya, ia tengah menunggu seorang perawat melepas infus yang menancap di tangannya, sesekali wanita itu meringis kesakitan saat merasakan sensasi nyeri yang menjalar dari punggung tangannya.
Jungwoo baru saja selesai merapikan barang-barang Ten, saat ini dua wanita itu tengah menunggu Doyoung datang menjemput mereka. Setelah menemani Ten ke dokter kandungan pagi tadi Doyoung memutuskan untuk kembali ke rumahnya karena mendapatkan panggilan telepon dari sang ibu, dan wanita bergigi kelinci itu berjanji akan menjemput mereka saat pulang nanti.
"Kau sedang apa?" Tanya Jungwoo kala melihat Ten yang tengah memainkan ponselnya sejak tadi.
"Mencoba menghubungi Johnny, tapi sepertinya ponselnya masih mati." Lirih Ten.
Jungwoo hanya tersenyum canggung, walaupun ia dan Doyoung hanya memiliki spekulasi aneh tentang tingkah Johnny di belakang Ten tetap saja akan terlalu jahat jika ia harus mengatakannya begitu saja. Terlebih beberapa jam yang lalu Irene berpesan pada Ten untuk tidak terlalu stress di kehamilannya yang masih berada di trimester pertama.
Ten yang tengah termenung mengalihkan pandangannya pada ponsel yang ada di tangannya. Ponsel berwarna putih itu bergetar sejak tadi, saat Ten cek ia mendapati ada panggilan masuk dari ibu mertuanya.
"Yeoboseyo…. Ten, eomma akan datang ke rumah kalian, apa kalian berada di rumah?" Ucap nyonya Seo.
"Ah ani eomma, aku sedang tidak di rumah." Ucap Ten, ia sedikit ragu jika harus mengatakan tengah berada di rumah sakit. Ia tak mau ibu mertuanya itu khawatir.
"Lalu dimana? Biar eomma datang menemuimu."
"Di- Aku di rumah sakit eomma." Balas Ten sedikit ragu.
"Astaga kenapa tidak mengabari sejak tadi, coba kirimkan alamat dan ruangannya. Eomma akan segera kesana." Kepanikan jelas terdengar dari nada suara wanita paruh baya itu, setelahnya ia memutus panggilan telepon dengan Ten dan meminta sopirnya untuk melaju lebih cepat setelah menerima alamat yang Ten kirimkan.
Jungwoo terlihat menunduk sekilas kala mendapati ibu mertua Ten yang baru saja datang. Wanita paruh baya itu balas tersenyum dan berucap terima kasih pada Jungwoo karena telah merawat menantu cantiknya itu.
"Ada apa sayang? Kau sakit apa hum?" Tanya nyonya Seo, ia menangkup wajah menantunya dan dapat melihat dengan jelas rona pucat yang masih menyambangi wajah Ten.
"Ten kelelahan nyonya, ia tidak tahu jika sedang mengandung. Jadi Ten terlalu lelah bekerja." Bukan Ten yang menjawab melainkan Jungwoo. Nyonya Seo nampak terkejut mendengar perkataan wanita tinggi yang diketahui sebagai teman menantunya itu. Seulas senyuman nampak menghiasi wajahnya, wanita paruh baya itu jelas sangat bahagia mendapatkan kabar baik dari menantunya.
"Benarkan? Jadi sebentar lagi Jaehee akan mendapatkan adik? Selamat ya sayang…." Nyonya Seo memeluk erat tubuh ramping menantunya hari itu, wanita itu jelas amat bahagia saat tahu akan menambah satu anggota baru dalam keluarganya.
"Jadi sudah berapa bulan usianya?" Tanya wanita paruh baya itu seraya mengelus perut Ten yang masih rata.
"Baru empat minggu eomma." Ucap Ten.
"Astaga benar-benar tidak sabar…. Tumbuh dengan baik ya sayang." Monolog wanita itu di hadapan perut Ten.
"Ayo kita pulang, lebih baik beristirahat di rumahmu."
"Tapi bagaimana dengan-"
"Tidak masalah kau pulang duluan saja, nanti aku bisa pergi bersama Doyoung." Ucap Jungwoo memotong pembicaraan Ten.
Akhirnya hari itu Ten pulang ke rumahnya bersama dengan sang ibu mertua. Bahkan ibu Johnny itu terlihat begitu antusias, lihat saja bagaimana sekarang ia tengah mengisi kulkas di rumah Ten dengan berbagai bahan makanan.
"Eomma tidakkah itu berlebihan, kurasa itu terlalu banyak." Ucap Ten, ia baru saja tiba di dapur dan melihat mertuanya tengah sibuk mengisi kulkas miliknya dibantu oleh dua orang maid yang dipanggil nyonya Seo dari rumah besarnya.
"Tidak, semua ini kau butuhkan untuk kehamilanmu. Jangan sampai melewatkan makan, mengerti?" Ucap nyonya Seo, Ten hanya mengangguk dan memilih untuk duduk di kursi meja makan seraya melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya.
"Apa Johnny sudah tahu?" Tanya sang ibu mertua. Ten hanya menggeleng, entahlah ia hanya tak mau membahas soal Johnny lebih jauh.
"Ada apa sayang? Semalam Johnny menemanimu kan?" Tanya nyonya Seo setelah melihat raut kesedihan yang terpancar di wajah cantik menantunya. Ten hanya menggeleng sebagai jawaban, lagipula memang benar Johnny tak menemaninya sama sekali sejak kemarin. Bahkan ponsel pria itu sangat sulit dihubungi. Nyonya Seo membulatkan matanya, ia seolah tak percaya dengan respon yang baru saja Ten berikan. Wanita tua itu lantas meraih ponselnya dan berusaha menghubungi sang anak, namun sama sekali tidak mendapatkan jawaban.
"Hiks…." Nyonya Seo menoleh kala mendengar menantu cantiknya tengah menangis sambil menundukkan kepalanya.
"Sayang…." Wanita tua itu menghampiri Ten dan mengelus lembut pundak menantunya.
"Eomma…. Aku rindu Johnny. Dia kemana? Bahkan saat Doyoung dan Jungwoo mencoba menghubunginya kemarin tak pernah ia angkat. Pesanku juga tidak dibalas." Lirih Ten dalam tangisnya. Nyonya Seo makin iba pada menantunya, ia memeluk Ten erat dan membisikkan kata-kata penenang untuk menantunya. Dalam hati wanita itu sudah mengutuk Johnny yang bahkan tak peduli dengan istrinya.
Nyonya Seo mengecup lembut kening Ten, wanita itu nampak terlelap di kamarnya setelah cukup lelah menangis sampai hidungnya memerah. Nyonya Seo kembali ke ruang keluarga yang berada di rumah anak dan menantunya, ia duduk disana seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Seolah kebetulan, tiba-tiba saja Johnny terlihat baru datang ke rumahnya dengan wajah lelah yang membuat wanita tua itu bertanya-tanya.
"Darimana?" Ucap nyonya Seo dingin. Johnny menoleh, ia tak melihat keberadaan ibunya sejak tadi. Namun tiba-tiba saja wanita yang berstatus sebagai ibunya itu muncul di hadapannya.
"Eomma tanya padamu kau pergi kemana semalaman sampai tak tahu jika istrimu masuk rumah sakit." Ucap wanita tua itu, Johnny membelalakkan matanya kala mendengar perkataan yang terlontar dari mulut sang ibu sore itu.
"Tapi Ten tidak menghubungiku eomma." Jelas Johnny.
"Teman-teman Ten menghubungimu berpuluh-puluh kali saat istrimu itu pingsan, kau malah tak menjawabnya. Lalu kau matikan ponselmu, kau ini suami macam apa Youngho-ya." Lirih nyonya Seo, ia merasa telah gagal membesarkan putra bungsunya itu setelah melihat bagaimana cara Johnny memperlakukan Ten selama ini.
"Temui istrimu, dia menangis sejak tadi. Ten terus mencarimu." Sambung nyonya Seo.
"Kau masih berhubungan dengan parasit itu?" Johnny menghentikan langkah kakinya yang tengah menaiki anak tangga menuju kamarnya, ia hanya terdiam dan tak berani menjawab pertanyaan yang ibunya lontarkan.
"Kalau kau tak bisa membereskannya biar eomma yang membereskannya dengan tangan eomma sendiri." Wanita tua itu berucap dan setelahnya melenggang pergi meninggalkan kediaman megah yang dihuni oleh anak dan menantunya.
Johnny membuka pintu kamar mereka, disana Ten tengah tertidur lelap dengan wajah yang cukup pucat. Pria tinggi itu duduk di tepi kasur mereka dan mengelus lembut surai hitam istrinya. Netra tajam Johnny teralihkan kala mendapati sebuah amplop berwarna coklat dengan logo rumah sakit yang jelas sangat ia kenal, rumah sakit itu tempat dimana Heejin rutin memeriksakan kandungannya sekaligus melahirkan beberapa hari lalu. Johnny meraih amplop tersebut, ia berniat melihat apa yang ada di di dalamnya. Pria tinggi itu terdiam, di sana ia mendapati sonogram didominasi warna hitam dengan titik putih di tengahnya, itu adalah hasil USG yang baru saja Ten lakukan pagi tadi.
"Berikan padaku." Johnny yang sejak tadi fokus pada sonogram di tangannya tak sadar jika Ten telah terbangun dari tidurnya dan telah mengubah posisinya menjadi duduk. Ia berusaha merampas hasil sonogram yang berada di tangan Johnny siang itu.
"Kenapa tidak bilang?" Tanya Johnny, ia berucap lembut dan mengelus pundak istrinya.
"Apa yang bisa aku katakan saat tak bisa menghubungimu?" Tanya Ten lirih.
"Aku menghubungimu berkali-kali John, kau kemana? Kau tak tahu kan semalam aku menginap di rumah sakit?" Ucap Ten tajam, bahkan wanita itu mulai kembali menangis deras sore itu.
"Aku tak menerima apapun, sungguh? Aku justru menghubungi ponselmu tapi kau tak menjawabnya." Ucap Johnny berusaha membela diri. Ten semakin geram, ia meraih ponselnya yang berada di meja nakas dan menunjukkan pada Johnny daftar panggilannya. Disana jelas sekali jika ponsel Ten melakukan panggilan pada nomor suaminya sebanyak puluhan kali lengkap dengan puluhan pesan yang sama sekali tak Johnny hiraukan.
Johnny mengernyitkan dahinya. Ia sudah mengecek ponselnya berkali-kali semalam dan tak menemukan satupun panggilan dari Ten untuknya bahkan ia juga tak menemukan pesan yang dikirimkan istrinya itu.
"Kau kenapa sebenarnya? Apa yang kau lakukan diluar sana hiks…." Ucap Ten dengan tangisannya yang masih belum mereda. Johnny membawa wanita itu dalam pelukannya dan mengelus lembut punggung Ten dengan sayang, pria itu juga berkali-kali bergumam kata maaf di telinga Ten.
Beberapa jam lalu di rumah sakit Heejin nampak menangis dan memeluk Johnny erat-erat. Wanita itu begitu terkejut kala mendapati San dengan bola mata yang menguning. Dokter bilang bayi kecil mereka memiliki kadar bilirubin yang tinggi sehingga perlu dilakukan fototerapi.
"San akan baik-baik saja kan?" Lirih Heejin dalam tangisnya, ia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Johnny berusaha menenangkan Heejin, sejujurnya ia tak tahu apa yang akan terjadi pada bayi kecil mereka, ia juga sama paniknya dengan Heejin namun Johnny sadar jika wanita itu lebih terguncang dan lebih butuh untuk ditenangkan.
"San akan melakukan fototerapi hari ini. Untuk ibu jangan lupa tetap memberikan ASI yang rutin untuk San, supaya bilirubinnya bisa dikeluarkan saat buang air besar." Jelas dokter laki-laki ber name tag Kim Minseok itu.
"Terima kasih banyak seonsaengnim…." Ucap Johnny, ia sedikit menundukkan tubuhnya melepas kepergian dokter anak yang baru saja menangani San.
Heejin baru saja melepaskan pelukannya dari tubuh Johnny, ia duduk di tepi ranjangnya dan memandangi San yang sedang disinari dengan sinar biru lengkap dengan kacamata yang menutupi netra bayi kecil itu. Hati Heejin benar-benar teriris, ia tak menyangka hal yang seperti ini akan terjadi pada bayi kecilnya. Johnny duduk di sebelah Heejin ia mengelus lembut pundak wanita itu, berusaha menyalurkan energi tambahan dan meyakinkan pada Heejin bahwa San akan baik-baik saja dan bisa tetap bersama mereka.
