12. One Mistake

Empat bulan telah berlalu sejak kelahiran San, bayi kecil itu tumbuh menjadi bayi yang lincah dan sangat pandai merespon semua hal yang Heejin lakukan padanya. Namun San dilahirkan dengan penyakit bawaan, ia mengidap asma sama seperti ibunya. Namun sejauh ini kondisi kesehatan San terbilang cukup baik dan sehat, hingga Heejin tidak terlalu khawatir dengan bayi kecilnya itu. Johnny juga kerap kali mengunjungi mereka berdua, namun pria itu sedikit merubah jadwalnya. Ia akan mengunjungi San setelah pulang kerja atau menghabiskan satu hari penuh dengannya. Johnny tak pernah lagi menemui mereka tiap akhir pekan, alasannya hanya satu, Ten, wanita yang tengah mengandung lima bulan itu semakin sensitif sejak di masa kehamilannya. Ten juga melalui kehamilannya dengan banyak rintangan, bisa dibilang kehamilan Ten lebih merepotkan dibanding Heejin dulu, istrinya itu mengalami morning sickness parah sampai harus beberapa kali dilarikan ke rumah sakit saat kandungannya masih berada di trimester pertama. Di trimester kedua semuanya jauh lebih baik, ia terlihat lebih sehat sekalipun masih begitu sensitif tentang banyak hal.

Siang ini Johnny tengah berjalan menuju ke apartemen Heejin, tangan kekarnya terlihat membawa beberapa bahan makanan yang sempat ia beli saat perjalanan menuju kemari. Saat pintu apartemen terbuka ada Heejin yang tengah menyambutnya dengan San yang berada dalam gendongannya. Bayi kecil itu nampak berceloteh riang saat mendapati kedatangan sang ayah. Johnny balas tersenyum lembut dan mengambil alih San dalam gendongan Heejin. Bayi menggemaskan itu terlihat amat senang, ia terlihat bermanja dan bergerak-gerak lucu dalam gendongan sang ayah. Heejin mengambil alih kantong belanjaan dari tangan Johnny, ia terlihat tersenyum kemudian berlalu pergi ke dapur untuk merapikan belanjaan yang baru saja Johnny bawakan.

Siang ini Johnny mengajak keluarga kecilnya jalan-jalan di luar. Mereka pergi ke sebuah mall dan menikmati indahnya hari bersama. San juga terlihat begitu girang, bayi kecil itu sibuk berceloteh sejak tadi dalam gendongan sang ayah. Tiba-tiba saja Heejin menarik tangan Johnny hingga membuat pria itu cukup terkejut. Wanita itu membawa Johnny menuju ke foto box yang ada di salah satu penjuru mall.

"Bagaimana jika kita melakukan ini? Kita belum memiliki foto bersama San." Ucap Heejin antusias. Johnny tersenyum sekilas, setelahnya ia mengangguk dan mengikuti langkah Heejin memasuki area foto box dengan San yang berada dalam gendongan mereka. Mereka terlihat bagaikan keluarga kecil yang bahagia, dua orang dewasa dan bayi kecil itu berfoto dengan banyak gaya. San juga terlihat begitu bahagia hari itu.

"Kau saja yang simpan, kurasa nanti bisa memasangnya di apartemen." Ucap Johnny, Heejin tersenyum sekilas. Ia berjalan di belakang Johnny dan dengan sengaja menyelipkan satu lembar foto mereka di saku jas pria itu tanpa Johnny tahu. Setelahnya wanita itu nampak tersenyum lebar, mungkin kah sebentar lagi semua impiannya akan menjadi kenyataan.

Johnny tiba di rumahnya tepat di sore hari, di sana sudah ada Ten yang baru saja tiba. Wanita itu tidak lagi bergantung pada Johnny karena beberapa bulan lalu ia telah berhasil mendapatkan lisensi mengemudi di Korea dan bisa mengemudikan mobilnya kemanapun dengan bebas. Ten tengah bersandar di sofa ruang keluarga, ia terlihat kelelahan dan sesekali mengelus kakinya yang terasa pegal. Semenjak kehamilannya memasuki trimester kedua Ten mulai mengurangi pekerjaannya, ia tidak pernah lagi lembur seperti dulu demi menjaga kesehatannya dan bayi yang tengah dikandungnya.

"Baru sampai?" Itu suara Johnny, pria itu berjalan ke arah Ten dan mengecup pipi chubby istrinya.

"Hum, beberapa menit lalu." Ucap.

"Apa anak kita berulah hari ini?" Tanya Johnny seraya mengecup lembut perut besar istrinya.

"Tidak, dia jadi anak baik seharian ini." Kekeh Ten.

Hari ini adalah akhir pekan, waktunya Ten mencuci pakaian, wanita itu memilah pakaian seraya bersenandung riang mengikuti alunan music yang diputar di ruang laundry. Saat tengah mengecek jas Johnny, Ten merasa ada benda serupa kertas yang tebal berada dalam kantong jas suaminya. Ten lantas mulai merogoh saku jas Johnny dan melihat apa yang ada di dalam sana. Ten terdiam, ia menatap dengan saksama apa yang ada di tangannya. Sebuah kertas foto yang menggambarkan potret keluarga yang amat bahagia dengan bayi kecil mereka. Ten jelas tahu siapa yang ada dalam foto itu, pria itu jelas Johnny suaminya dan wanita yang nampak tertawa saat menatap bayi kecil dalam foto tersebut adalah Heejin, Choi Heejin mantan sekretaris suaminya.

Ten duduk di salah satu kursi yang berada di dekat mesin cuci mereka, ia menangis disana. Wanita itu menangis dalam diamnya. Apa itu artinya setelah semua kepercayaan yang Ten berikan pada Johnny pria itu malah mengkhianatinya. Bermain di belakangnya bahkan hingga memiliki seorang anak yang berusia lebih tua dari anak yang tengah dikandungnya. Ten berusaha menormalkan nafasnya, hatinya terasa sakit bagaikan dihujam oleh belati tajam. Wanita itu lantas bangkit dari duduknya, ia berjalan dengan tatapan kosong menuju kamar mereka. Disana ada Johnny, pria itu tengah duduk di tepi kasur dengan ponsel yang berada di tangannya. Ten berdiri tepat di hadapan Johnny, ia masih menangis disana hingga membuat Johnny bertanya-tanya.

"Hei…. Ada apa? Kenapa menangis?" Tanya Johnny.

"Bagaimana kau menjelaskan ini padaku Youngho-ssi." Ten menyodorkan foto tersebut dengan tangisan yang masih sama derasnya seperti sebelumnya. Johnny terkejut melihat apa yang baru saja ia terima dari tangan Ten. Itu foto yang baru saja ia ambil bersama Heejin dan San kemarin, bagaimana bisa foto itu berakhir di saku jasnya saat Johnny meminta Heejin membawanya pulang, pikir pria itu.

"Ten kau salah paham." Ucap Johnny, ia berusaha meyakinkan istrinya dengan menyentuh kedua pundak Ten.

"Salah paham di bagian mana hiks…. Tentangmu yang bilang padaku jika Heejin sudah berhenti bekerja atau tentangmu yang bahkan telah memiliki anak bersama mantan sekretarismu sendiri? Jawab John…. Jawab aku." Ten benar-benar menangis histeris pagi itu, ia memukul-mukul dada bidang Johnny dengan sisa tenaganya seolah meminta penjelasan dari apa yang baru saja ia lihat.

"Maaf…." Hanya satu kata yang meluncur dari mulut Johnny pagi itu, ia memeluk erat tubuh Ten dengan wanita itu yang sibuk memberontak.

"Kau jahat, kau mengkhianati semua kepercayaanku hiks…. Apa ini yang menjadi alasanmu selalu sibuk di akhir pekan, selalu pulang malam, susah untuk dihubungi, atau pergi ke luar kota dengan alasan pekerjaan?"

"Aku memang bodoh…. Seharusnya sejak awal aku sadar dengan tingkah lakumu yang berbeda, seharusnya aku lebih peka saat menemukan noda asing di kemejamu atau tak sengaja menghirup aroma parfum wanita darisana."

"Aku memang bodoh John…. Sangat bodoh, aku begitu mencintai orang yang sudah mengkhianati cintaku. Kau tahu bagaimana rasanya?"

"Sakit John…. Disini rasanya sakit sekali." Ten berucap dengan nafas tersengal seraya memukul-mukul dadanya dengan kepalan tangannya. Penampilannya sudah amat kacau, matanya memerah dengan lelehan air mata bahkan hidung wanita itu juga ikut memerah buah dari tangisannya.

"Aku minta maaf Ten." Johnny kembali berucap setelah sekian lama terdiam, ia menahan tangan Ten dan mencegah wanita itu melakukan hal lain yang akan membahayakan kehamilannya.

"Kau telah menghancurkan dongeng yang kubuat, kau mengundang orang lain ke istana yang kita impikan. Aku membencimu…." Ten melepas paksa genggaman tangan Johnny padanya ia berlalu dengan tangis yang masih sama memilukannya. Namun baru beberapa langkah ia tempuh Ten nampak terdiam, wanita itu mengerjapkan matanya berkali-kali seraya memegangi kepalanya. Beberapa detik kemudian Ten jatuh pingsan, Johnny berlari dan menangkap tubuh wanita itu jatuh menumbuk lantai marmer kediaman mereka.

Johnny membawa tubuh Ten ke kasur mereka. Pria itu terlihat begitu panik dan beberapa kali memukul kecil pipi chubby istrinya namun tak ada respon yang ia dapatkan. Dengan cepat Johnny menyambar ponselnya dan menghubungi dokter pribadi keluarga mereka. Hatinya mulai tak tenang, ia khawatir akan ada hal buruk yang terjadi pada Ten dan anak yang tengah dikandungnya. Tak butuh waktu lama dokter Min datang ke kediaman mereka dan mulai memeriksa kondisi Ten, wanita itu masih tertidur tenang, ia belum berniat membuka matanya sekalipun Johnny amat mengkhawatirkannya.

Plak!

Tamparan dari tangan tua nyonya Seo ia lontarkan ke wajah sang anak. Wanita itu telah mendengar semua hal yang terjadi di rumah anaknya hari ini. Ia telah mendengar apa yang membuat menantunya menangis histeris sampai tak sadarkan diri pagi ini. Wanita tua itu memijat pelipisnya, ia tersenyum remeh saat foto kecil sumber masalah ada di atas meja ruang keluarga. Ia menyambar foto tersebut dan merobeknya menjadi serpihan kecil. Nyonya Seo melemparkan semua serpihan itu ke wajah Johnny yang hasil sibuk menatap dengan pandangan lurus kedepan sejak tadi.

"Sejak awal eomma sudah memperingatkanmu untuk mengakhiri semuanya. Tapi kau masih belum jera ternyata."

"Wanita itu…."

"Dia punya nama." Lirih Johnny.

"Eomma tidak peduli, bahkan sama sekali tak mau mengenalnya. Kau terjebak dengan wanita yang salah Youngho-ya. Wanita itu bahkan belum jera sekalipun eomma memperingatkannya sejak lama."

"Eomma mendatangi mereka?" Ucap Johnny seolah tak percaya dengan perkataan yang terlontar dari mulut ibunya.

"Sekarang seribu kebaikan yang telah kau berikan pada Ten tak akan ada artinya, karena kau telah melakukan satu kesalahan yang amat membekas di hatinya." Wanita tua itu berucap dan berlalu dari hadapan anaknya. Ia bergegas ke lantai dua untuk mengecek kondisi menantu kesayangannya yang masih belum berniat membuka matanya.

Ten masih belum berniat membuka matanya. Ia masih terbaring lemah dengan wajah yang pucat dan hidung yang tampak memerah. Nyonya Seo menatap lekat wajah cantik menantunya, ia mengelus lembut perut buncit Ten dan menyapa calon cucunya. Wanita itu juga nampak menyingkirkan beberapa anak rambut Ten yang menghalangi wajah cantik menantunya itu. Pagi itu wanita tua itu ikut menangis disana, ia tak akan menyangka semua kebodohan yang anaknya perbuat masih terus berlanjut hingga sekarang bahkan akan membuat menantu cantiknya semakin menderita. Seharusnya sejak awal ia bertindak tegas dan menyingkirkan Johnny dari Heejin mantan sekretaris anaknya yang serupa dengan ular.

"Eugh…." Ten nampak bergumam, ia baru saja terbangun dan membawa tangannya pada kepalanya yang terasa amat pusing dan berat hari itu.

"Ten…." Ucap nyonya Seo. Yang dipanggil membuka matanya perlahan dan netra indahnya kembali berkaca-kaca saat bertemu dengan netra tua milik mertuanya. Ten kembali menangis dengan tangisan yang masih sama menyedihkannya. Nyonya Seo bangkit dari duduknya dan memeluk Ten erat-erat, ia membiarkan menantunya itu membenamkan wajah cantiknya ke perut nyonya Seo hingga pakaian yang ia kenakan menjadi basah.

"Johnny jahat eomma…." Lirih Ten dalam tangisnya.

"Aku benci Johnny, aku tidak mau melihatnya lagi…. Ten mau pulang…. Hiks…." Tangis wanita itu.

"Pulang kemana sayang? Ten sudah di rumah." Nyonya Seo ikut menangis kala menenangkan menantunya siang itu. Ten hanya diam, ia masih sibuk dengan tangisannya. Nyonya Seo mengelus lembut pundak menantunya dan memandangnya dengan tatapan iba.

"Kita pergi ya, kita ke rumah eomma. Ten bisa tinggal disana sampai semuanya jadi lebih baik." Bisik nyonya Seo. Ten hanya mengangguk singkat, ia benar-benar tak bisa lagi hidup bersama Johnny. Pria itu hanya akan menorehkan luka baru untuknya jika ia semakin lama berada disini.

Hari ini Johnny menghancurkan semua khayalan indah Ten tentang rumah tangganya. Pria yang Ten pikir akan membawa kebahagiaan untuknya nyatanya adalah pria yang sama yang merusak semua kebahagiaannya.