13. One Regret

Ten telah berada di rumah besar keluarga Seo setelah tragedi pertengkarannya dengan Johnny. Awalnya pria itu bersikeras melarang Ten pergi kemanapun demi menyelesaikan permasalah mereka namun nyonya Seo tak tega membiarkan Ten yang terus menangis seharian, akhirnya ia membawa menantu cantiknya itu untuk tinggal bersama di rumahnya. Lagipula rumah itu terlalu besar untuk ia tempati seorang diri, tuan Seo tengah berada di Jerman sejak dua bulan lalu. Pria paruh baya itu tengah menjalani pengobatannya sekaligus mengurus bisnisnya yang berada di negara panser tersebut. Kedua kakak Johnny tinggal di luar negeri, hanya Johnny dan ayah Jaehee yang menetap di Korea, namun Jaehee dan keluarganya menetap di Jeju dan memerlukan cukup banyak waktu untuk tiba di Seoul.

Ten hanya terdiam sejak tadi, bahkan makanan yang sempat diantarkan oleh maid di rumah keluarganya belum disentuh sama sekali. Wanita itu hanya duduk termenung seraya menghadap ke jendela, ia menatap keluar dengan pandangan kosong dan mata yang memerah. Kilas balik masa lalu antara ia dan Johnny kembali berputar di otaknya, Ten merasa tak terima dia yang telah menemani Johnny bertahun-tahun lamanya pada akhirnya dikalahkan dengan seorang wanita yang hanya hadir selama dua tahun dalam hidup pria itu. Lagi-lagi air mata kembali menetes dari manik indahnya. Ten kembali mengingat bagaimana pertemuannya dan Johnny saat masih di universitas, bagaimana pria tinggi itu menyatakan cinta padanya, atau bagaimana Johnny menjadikannya sebagai istrinya. Semuanya masih bisa Ten ingat dengan jelas, namun kini goresan luka dalam yang Johnny buat di hatinya ikut ia ingat. Semuanya terjadi begitu saja, amat cepat dan berhasil membuat Ten tak berdaya.

"Nyonya…. Waktunya makan." Seorang wanita muda dengan seragam maidnya nampak membuka pintu kamar Ten dengan nampan di tangannya. Wanita itu memandang iba ke arah majikannya dan beralih ke makanan yang sama sekali belum tersentuh sejak siang tadi. Bahkan matahari telah kembali ke peraduannya dan Ten masih sibuk menangisi kepedihan hatinya.

"Nyonya harus makan untuk bayinya, dia pasti sudah kelaparan." Ucap wanita muda bernama Minah tersebut. Ia menata makanan yang dibawanya ke atas meja dekat dengan tempat Ten duduk saat ini, wanita itu masih sibuk memandang lurus kedepan tanpa peduli dengan apa yang tengah Minah lakukan.

"Minah-ssi…." Ucap Ten, ia memanggil nama wanita muda itu namun tak menatap ke arahnya.

"Iya nyonya, Anda butuh sesuatu?" Tanya Minah.

"Tidak ada yang mencintaiku lagi di dunia ini…."

"Nyonya jangan bicara begitu, banyak orang yang mencintaimu." Gumam Minah.

"Aku akan pergi dengan bayiku. Aku tidak suka disini." Ten masih terus bicara dengan tatapan kosong yang mengarah ke depan.

"Nyonya…." Minah mendekati Ten dan mengelus pundaknya, ia belum lama bekerja di rumah besar keluarga Seo. Dan hari ini tiba-tiba saja seluruh pekerja disana dikejutkan dengan kedatangan menantu keluarga Seo dengan mata yang sembab. Bahkan kondisi nyonya besar mereka tak jauh berbeda, wanita paruh baya itu terlihat sama kacaunya dengan menantunya.

Hari ini Junmyeon datang ke rumah Jaehyun sepupunya, pria berlesung pipi itu baru saja dikaruniai anak pertamanya dan Joonmyeon memutuskan untuk menjenguk keponakannya. Di rumah besar Jaehyun sudah ada pasangan Winwin dan Yuta yang telah berada disana entah sejak kapan. Winwin nampak gemas dengan bayi kecil Taeyong yang tengah berada di baby box nya itu.

"Wah berarti Mark berusia empat bulan lebih muda dari anak Johnny." ucap Junmyeon tiba-tiba. Dua pasang suami istri yang ada disana saling bertatapan, mereka tak mengerti dengan apa yang baru saja Junmyeon katakan.

"Hyung kau bicara apa sih? Bahkan istri Johnny baru mengandung lima bulan." Jelas Jaehyun. Junmyeon memasang wajah bingung, ia seolah tak mengerti dengan perkataan adik sepupunya itu.

"Kalian tidak tahu istri Johnny baru melahirkan empat bulan yang lalu?" Tanya Junmyeon. Yuta dan Jaehyun saling berpandangan, mereka benar-benar tak mengerti dengan perkataan pria yang terkenal dengan senyuman indahnya itu.

"Hyung yang benar saja bahkan Ten masih mengandung anak mereka." Kekeh Yuta.

"Apa? Ten? Istrinya itu kan Heejin, Choi Heejin." Ucap Junmyeon tak mau kalah.

"Oppa kau bicara omong kosong." Ucap Taeyong, lama-lama ia kesal juga melayani tingkah sepupu Jaehyun itu.

"Demi Tuhan aku tidak sedang bercanda. Temanku sendiri yang membantu istri Johnny melahirkan." Ucap Junmyeon.

"Aku akan menghubunginya jika kalian tidak percaya." Junmyeon mulai memainkan jarinya di layar ponselnya dan mendial nomor ponsel Irene yang merupakan salah satu dokter kandungan yang ada di rumah sakit tempatnya bekerja.

"Yeoboseyo Junmyeon-ssi…."

"Joohyun-ah kau dimana?" Tanya Junmyeon pada rekan kerjanya itu, ia bahkan sengaja menyalakan loudspeaker ponselnya agar semua orang yang berada di sana dapat mendengar pembicaraan mereka.

"Aku sedang di rumah, ada apa?"

"Temanmu yang bernama Joy kan yang kemarin membantu istri Johnny melahirkan?" Tanya Junmyeon.

"Iya benar, ada apa?"

"Siapa nama istrinya?" Tanya Junmyeon, ia memandang ke arah Yuta dan Jaehyun saat tengah berbicara dengan Irene melalui ponselnya.

"Choi Heejin."

"Chogiyo…. Johnny yang kau maksud Johnny Seo kan? Pengacara Suh & Park itu?" Tanya Yuta.

"Iya benar, nyonya Heejin selalu bilang pada Joy jika suaminya seorang pengacara terkenal." Winwin dan Taeyong saling berpandangan, kedua wanita itu benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

"Ah iya aku ingat sesuatu, Joy bilang nama anak mereka tidak mengambil nama keluarga Johnny, tapi menggunakan nama keluarga ibunya." Jelas Irene.

"Baiklah terima kasih Joohyun-ssi." Ucap Junmyeon menutup panggilan telepon mereka. Yuta menggelengkan kepalanya ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi. Pria asal Jepang itu seolah tak percaya jika Johnny yang ia kenal mampu berbuat demikian pada istrinya.

"Johnny tak mengangkat panggilanku." Ucap Jaehyun.

"Ten juga." Sambung Winwin.

"Kalian kenapa?" Junmyeon menjadi lebih bingung saat melihat tingkah para suami istri di hadapannya itu.

"Hyung…. Johnny itu sudah menikah tiga tahun lalu dengan Ten bukan Heejin, aku bahkan tak mengenal siapa wanita itu." Jelas Jaehyun.

"Jadi maksudmu Heejin itu?" Gumam Junmyeon seolah tak percaya. Pasalnya ia masih ingat dengan jelas pertemuan mereka yang tak disengaja di rumah sakit. Saat itu Junmyeon melihat dengan jelas jika Heejin bergelayut manja di lengan Johnny saat mereka tengah berjalan berdua.

"Perasaanku tidak enak, aku khawatir terjadi sesuatu pada Ten." Ucap Taeyong.

Ten telah berada di rumah mertuanya sejak tiga hari yang lalu. Nafsu makannya telah mulai membaik walaupun hanya bisa menelan sedikit makanan. Berterima kasihlah pada nyonya Seo, wanita paruh baya itu selalu menyuapi Ten makanan dan memastikan ada nutrisi yang masuk untuk kebutuhan gizi menantu dan calon cucunya.

"Sudah kenyang eomma…." Lirih Ten, ia tengah berbaring di kasur dengan bantal yang ditinggikan, sedangkan nyonya Seo sibuk menyuapinya makanan sejak tadi.

"Ini…. Minum dulu pelan-pelan." Ucap wanita paruh baya itu, ia membantu Ten membasahi tenggorokannya dengan air mineral setelah puas menyantap makanannya.

"Sudah ya…. Setelah ini istirahat, ingat kan apa yang dokter Min bilang? Ten harus banyak istirahat dan makan makanan sehat supaya perutnya tidak kram lagi seperti kemarin." Ucap nyonya Seo, pasalnya kemarin Ten sempat mengeluh perutnya terasa kram di usia kandungannya yang baru masuk minggu ke dua puluh tiga, tentu saja peristiwa kemarin sempat membuat panik banyak orang.

Ten hanya mengangguk menanggapi perkataan ibu mertuanya itu. Setelahnya nyonya Seo kembali ke kamarnya dan melanjutkan beberapa kegiatannya yang sempat tertunda.

Saat sore hari Ten keluar dari kamarnya, wanita itu terlihat tengah menuruni tangga dengan pandangan kosong dan menatap lurus ke depan. Langkah kakinya membawa ia ke dapur besar rumah keluarga Seo, tak ada satupun orang disana bahkan rumah besar itu terlihat begitu sepi bagai tak berpenghuni. Ten membuka salah satu laci yang ada di dapur, ia sudah sangat hafal letak semua barang disana. Darisana Ten mengambil sebuah pisau berukuran kecil yang terlihat amat tajam. Ten kembali berjalan ke kamarnya, ia berdiri di depan jendela besar yang ada disana dengan tatapan kosong yang masih sama seperti sebelumnya. Di tangan kanannya telah ada pisau yang ia ambil beberapa menit lalu. Perlahan wanita itu mendekatkan pisau yang ia pegang ke pergelangan tangan kirinya dan membuat sayatan disana. Ten benar-benar diam, bahkan ia sama sekali tidak menangis saat tajamnya pisau menyayat kulitnya. Perlahan terlihat tetesan darah segar yang mulai mencuri kesempatan untuk menyatu dengan lantai marmer yang ada di kamar Ten. Wanita itu nampak jatuh terduduk dengan pisau yang telah terlepas dari tangannya.

"Nyonya…. Waktunya makan malam." Minah mengetuk pelan pintu kayu bercat putih yang ada di hadapannya namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban dari dalam kamar sang majikan. Dengan ragu wanita itu menyentuh gagang pintu dan terlihat tersenyum saat mendapati pintu yang tidak terkunci. Ia masuk ke dalam sana dengan nampan yang berada di tangannya seperti biasa.

"Nyonya!" Minah berteriak cukup kencang kala mendapati Ten yang telah terbaring tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangan kirinya. Minah menghela nafas saat menemukan pisau dengan noda darah di dekat majikannya terbaring. Wanita muda itu memukul pelan pipi Ten dan memeriksa denyut nadi di tangan wanita hamil itu. Denyutnya benar-benar lemah bahkan hampir menghilang dan berhasil membuat Minah panik bukan main.

Minah berlari keluar dari kamar Ten dan meminta tolong pada maid lainnya untuk menghubungi petugas layanan darurat. Wanita muda itu kembali masuk ke dalam kamar majikannya, ia menyobek sedikit bagian pakaiannya dan mengikat pergelangan tangan Ten yang masih mengeluarkan darah. Kepanikan jelas terpancar dari wajah Minah, ia berharap tak akan ada hal buruk yang terjadi pada majikannya.

Tak butuh waktu lama petugas layanan darurat telah datang ke rumah besar keluarga Seo. Tubuh lemah Ten dibawa oleh para petugas dengan Minah yang menyusul di belakangnya. Maid perempuan lain yang ada disana tengah berusaha keras menghubungi nyonya Seo pasalnya majikannya itu ternyata tidak berada di rumah sore itu.

Minah tengah menangis di dalam ambulance, sebagian pakaiannya telah berganti warna menjadi merah terkena darah yang menetes dari tangan Ten beberapa menit lalu. Para petugas layanan darurat tengah menangani Ten sejak tadi, mereka terlihat begitu sibuk di tengah ambulance yang bergerak semakin cepat.

Minah terpaksa berpisah dengan Ten yang dibawa masuk ke ruang IGD untuk ditangani. Seorang dokter pria bergegas menghampiri Ten yang baru saja datang bersama petugas layanan darurat. Ia memeriksa respon pupil pasien wanita itu dan memanggil beberapa perawat untuk membantunya.

"Kasus percobaan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangan, ditemukan sekitar sepuluh menit yang lalu. Pasien tengah hamil dua puluh tiga minggu, mengalami henti nafas dan respon arteri karotis lemah." Jelas petugas layanan darurat yang mendorong brankar Ten beberapa menit lalu.

Dokter pria itu terlihat mengangguk setelah mendengar perkataan petugas layanan darurat. Ia mulai memberikan tindakan pada Ten sore itu. Dokter pria dengan name tag Kim Junmyeon itu terlihat mulai melakukan PCR pada dada Ten setelah sebelumnya memiringkan tubuh Ten sedikit ke kiri untuk memberikan sirkulasi udara pada bayi yang tengah dikandungnya. Seorang perawat terlihat memasang ambu bag ke wajah Ten dan menekannya sesuai dengan instruksi yang Junmyeon berikan demi mengembalikan nafas pasiennya. Junmnyeon menggeleng setelah mendapati respon arteri karotisnya masih melemah, ia kembali melanjutkan PCR nya dan kembali meminta perawat melakukan hal yang sama dengan ambu bag nya.

Minah terduduk di kursi yang berada tepat di depan ruang IGD, ia bangkit berdiri kala mendapati majikannya dan seorang pria tinggi di sebelahnya tengah berlari ke arahnya.

"Minah-ssi apa yang terjadi?" Tanya nyonya Seo, ia terlihat begitu panik dengan netra tuanya yang terlihat berkaca-kaca.

"Nyonya Ten menyayat pergelangan tangannya nyonya, maafkan aku seharusnya aku memantaunya lebih sering tadi." Minah mulai menangis dan berlutut di hadapan nyonya Seo, wanita paruh baya itu membantu Minah bangkit berdiri, bagaimanapun juga ini bukan salah wanita muda itu, malah seharusnya ia berterima kasih pada Minah. Entah apa yang akan terjadi jika wanita muda itu tak menemukan Ten dengan cepat.

"Kau lihat hasil dari perbuatanmu." Nyonya Seo berucap dengan pandangan lurus yang mengarah ke pintu ruang IGD yang masih tertutup rapat. Disebelahnya Johnny hanya terdiam dengan netra tajamnya yang mulai berkaca-kaca.

Junmyeon baru saja memerintahkan kepada perawat yang ada disana untuk memasang tensimeter di tangan Ten, di punggung tangan wanita itu juga telah terpasang infus, dan di dadanya telah ditempeli beberapa elektroda yang terhubung langsung dengan monitor yang ada di dekat Junmyeon.

"Detak jantungnya melemah dokter, respon arteri karotisnya juga hampir tak terasa." Ucap seorang perawat.

"Teruskan PCR!" Junmyeon bertukar posisi dengan perawat lain, ia mengambil alih ambu bag dan terus memompanya setelah seorang perawat menghentikan PCR nya pada dada Ten.

Titttt….

Bunyi flatline yang memekakkan telinga mulai terdengar di penjuru ruang IGD, seorang perawat yang sejak tadi melakukan PCR pada dada Ten belum menghentikan kegiatannya, ia masih berharap akan ada keajaiban yang terjadi untuk wanita itu dan bayi yang ada dalam kandungannya.

Junmyeon menahan tangan perawat wanita itu, ia menggelengkan kepalanya seolah memberikan kode tak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Dokter tampan itu berjalan menuju pintu ruang IGD ditemani dengan satu orang perawatnya, mereka berniat memberikan kabar pada wali pasien tentang apa yang baru saja terjadi pada keluarganya.

Saat nama Ten dipanggil nampak Johnny dan nyonya Seo mendekat pada Junmyeon yang terlihat menundukan kepalanya, Minah ikut menyusul majikannya ia ingin tahu apa yang terjadi pada Ten dan bayinya.

"Maaf, pasien kehilangan terlalu banyak darah dan tidak memberikan respon yang baik setelah dilakukan pemberian BHD, kami turut berduka cita." Junmyeon dan perawat itu nampak membungkuk pada keluarga pasien yang ada di hadapannya.

Nyonya Seo jatuh pingsan saat itu juga, untung saja saat itu Minah berada di belakangnya hingga mampu menahan tubuh majikannya. Ia dibantu oleh seorang perawat membawa nyonya Seo yang tak sadarkan diri untuk mendapatkan perawatan. Johnny terdiam, ia melangkahkan kakinya perlahan mendekati Ten yang telah tertidur damai di ranjang pasien. Netra indah itu sudah benar-benar menutup dengan sempurna. Johnny berlutut di sebelah ranjang Ten, ia menggenggam erat tangan istrinya itu dan mulai menangis deras. Bahkan Ten pergi sebelum Johnny sempat meminta maaf dengan benar padanya, Ten pergi dengan membawa segala luka yang telah Johnny torehkan padanya. Johnny benar-benar menyesali perbuatan bodoh yang telah ia lakukan pada istrinya.

"Ten…." Lirih Johnny dalam tangisnya.

Di sudut ruangan Junmyeon nampak menyeka air matanya, dokter pria itu baru tersadar wanita yang beberapa menit lalu coba ia selamatkan adalah Ten, istri Johnny yang sempat ia bicarakan. Hari ini Johnny benar-benar tenggelam dalam penyesalannya. Sama seperti Raja Midas yang menyesal dan menangisi putrinya yang berubah menjadi patung emas.