14. Light in the Darkness
"Seonsaengnim ROSC!"
Seorang perawat yang berada tak jauh dari tempat Ten terbaring berteriak kencang sampai terdengar ke seluruh penjuru ruang IGD. Junmyeon mengambil langkah besar dan mendekat ke arah monitor yang memantau detak jantung Ten, mulai terlihat pergerakan kecil dari sana Ten juga terlihat sedikit membuka mulutnya untuk menggapai udara.
"Hubungi dokter kandungan!" Teriak Junmyeon, ia lantas memasang masker oksigen pada Ten untuk membantu wanita itu bernafas. Seorang perawat pria terlihat menarik Johnny yang kebingungan, pria tinggi itu jelas tak mengerti apa yang sedang terjadi pada istrinya. Namun Johnny sedikit tersenyum saat merasa secercah harapan menghampiri dirinya, bukankah itu tandanya Tuhan masih memberikan kesempatan pada Johnny untuk meminta maaf dengan benar pada istrinya.
Ten telah dipindahkan ke ruang perawatan, Johnny terlihat duduk di samping ranjang rawat istrinya itu. Ten masih terlihat pucat, masker oksigen juga masih membantunya untuk bernafas malam itu. Johnny melirik sekilas ke arah pergelangan tangan kiri istrinya yang dihiasi oleh perban, dokter bilang sayatan yang berhasil Ten buat cukup dalam dan menyebabkan terjadinya pendarahan hebat beberapa menit lalu. Johnny hanya terdiam, pria tinggi itu tersadar sebesar apa goresan luka yang telah ia berikan pada istrinya. Netra tajamnya mulai berkaca-kaca saat kembali mengingat betapa brengseknya ia sebagai seorang pria.
Selama perjalanan panjang percintaan mereka, Johnny mengerti banyak hal tentang istri cantiknya. Ten bukanlah wanita yang mudah menyerah, ia begitu tangguh sekalipun badai besar sempat menerpanya beberapa tahun silam, dan hari ini wanita itu bukan seperti Ten yang ia kenal. Ten benar-benar melemah, bukankah sampai disini seharusnya Johnny sadar sebesar apa luka yang telah ia torehkan. Minah sempat datang beberapa menit yang lalu, wanita itu telah mengganti pakaiannya dan diperintahkan oleh sang majikan untuk mengantarkan makanan untuk Johnny yang masih tak mau beranjak dari ruang rawat Ten sejak beberapa menit yang lalu.
"Nyonya Ten benar-benar tak keluar kamar selama tiga hari ke belakang, ia hanya makan beberapa sendok makanannya, dan sempat mengeluh sakit perut kemarin. Dokter bilang itu karena nyonya Ten terlalu banyak pikiran hingga berpengaruh pada bayi yang tengah dikandungnya." Jelas Minah malam itu, ia menatap sendu ke arah majikannya yang masih betah memejamkan mata lengkap dengan rona pucat yang masih menghiasi wajahnya.
"Taeyong-ah…."
"Iya oppa ada apa, tumben kau menghubungiku malam-malam begini." Taeyong berucap dari seberang sana, ia merasa heran dengan kakak sepupu suaminya yang menghubunginya saat hampir tengah malam, benar-benar tak seperti Junmyeon yang ia kenal, pikirnya.
"Aku sudah bertemu dengan istri Johnny." Ucap Junmyeon.
"Hah? Istri yang mana? Wanita yang menurutmu istrinya atau istri yang sebenarnya?" Tanya Taeyong.
"Ten. Aku bertemu dengan Ten, dia melakukan percobaan bunuh diri beberapa jam yang lalu." Jelas Junmyeon.
"Oppa…. Apa maksudmu?"
"Ten ada disini, dia baru saja melewati masa kritisnya." Panggilan telepon antara pria dan wanita itu berakhir begitu saja, Junmyeon tersenyum sekilas. Ia kembali melanjutkan perjalanannya untuk mendapatkan segelas kopi yang ia inginkan. Pikirannya kembali menerawang jauh ke belakang, Ten datang dengan tangan yang tersayat, bukankah itu sudah bisa menjelaskan serumit apa rumah tangga Johnny dan wanita itu.
Keesokan harinya Taeyong datang ke rumah sakit bersama Jaehyun setelah menitipkan Mark pada ibunya. Wanita itu hampir menangis setelah melihat keadaan sahabatnya terlebih dengan pergelangan tangan kirinya yang diperban dan wajahnya yang terlihat pucat, Taeyong benar-benar tak menyangka hal semacam ini bisa menimpa sahabatnya.
"Jadi sejak kapan?" Jaehyun berucap setelah beberapa menit lalu hanya terdiam, ia mengajak Johnny untuk menepi sejenak ke taman rumah sakit. Pria tinggi itu butuh menatap hal lain selain tubuh istrinya yang masih terbaring lemah.
"Kakak sepupuku dokter di rumah sakit ini jika kau lupa." Ucap Jaehyun saat melihat Johnny menatapnya dengan pandangan yang penuh tanda tanya.
"Sudah lebih dari setahun." Jawab Johnny, Jaehyun menghembuskan nafasnya kasar, ia benar-benar tak menyangka apa yang kakak sepupunya katakan beberapa hari lalu bukanlah bualan semata.
"Apa yang kau pikirkan hari itu?" Tanya Jaehyun. Johnny hanya terdiam, lidahnya bahkan terlalu kelu hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan teman kuliahnya itu.
"Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana kau minta Ten menunda memiliki anak karena karirmu tengah berada di puncak saat awal pernikahan kalian, aku juga masih ingat bagaimana kau mengatakan pada Ten ingin menikmati masa-masa indah berdua. Ten menghargai keputusanmu saat itu, padahal aku dan Taeyong sangat tahu jika ia begitu menyukai anak-anak. Ten mengalah saat itu, ia dengan sukarela mengkonsumsi birth control demi menghargai keputusanmu. Tapi kau…. Apa yang kau lakukan sekarang? Anakmu dengan wanita lain bahkan berusia lebih tua dari Mark anakku." Ucap Jaehyun panjang lebar.
"Aku tahu…. Aku memang terlalu brengsek." Lirih Johnny.
"Junmyeon hyung telah bercerita padaku semalam…. Tuhan masih memberimu kesempatan John, lakukan apapun yang kau bisa untuk menebus semua kesalahanmu. Walaupun aku tak tahu kepercayaan Ten akan kembali padamu atau tidak." Ucap pria berlesung pipi itu.
Setelahnya tak ada yang bicara, kedua pria itu sama-sama terdiam dan hanya menikmati Americano dingin yang ada di tangan mereka.
Sudah lima hari Ten menghabiskan waktunya di rumah sakit dan wanita itu masih betah memejamkan matanya. Setiap hari dokter kandungan akan mengunjungi Ten untuk memantau keadaan bayi kecil mereka yang sempat memburuk keadaannya beberapa hari lalu. Johnny benar-benar tak beranjak dari tempatnya sejak malam itu, ia benar-benar menjaga dan merawat istrinya dengan sebaik mungkin, bahkan pria itu sudah tak peduli lagi dimana letak ponsel miliknya, ia hanya peduli dengan istri cantiknya dan Johnny sangat berharap jika ia adalah orang pertama yang akan Ten lihat saat wanita cantik itu membuka matanya.
Johnny tengah menggenggam erat jemari Ten, ia menumpu kepalanya ke tepi ranjang istrinya dan memandangi jemari itu lekat-lekat. Tiba-tiba saja jemari lentik Ten bergerak, Johnny yang terkejut lantas beranjak dari posisinya dan menekan tombol emergency berharap tim dokter akan segera menemui mereka. Junmyeon datang dan bergegas memeriksa keadaan pasiennya, Ten mulai membuka matanya perlahan. Wanita itu sesekali mengerjap untuk menyesuaikan diri dengan cahaya terang benderang dari atap ruang rawatnya.
Ten yang telah tersadar dari tidur panjangnya disambut bahagia oleh banyak orang, bahkan hari ini nyonya Seo datang untuk menjenguk menantu kesayangannya itu. Wanita paruh baya itu jelas amat bahagia, beberapa hari lalu ia benar-benar takut jika Ten akan meninggalkannya, terlebih semua itu terjadi karena perbuatan bodoh yang dilakukan oleh anaknya sendiri.
"Sayang…." Nyonya Seo mengelus lembut pipi Ten, wanita cantik itu terlihat termenung sejak menghabiskan makanannya beberapa menit lalu.
"I-iya eomma." Ucap Ten sedikit terkejut.
"Jangan melakukan hal seperti kemarin." Ucap wanita paruh baya itu, Ten hanya terdiam ia terlihat menundukkan kepalanya dan sibuk memandang jemarinya sejak tadi.
"Ten masih punya eomma…. Ten tidak sendirian disini." Ucapnya lagi.
"Hiks…." Ten hanya mampu menangis menanggapi ucapan mertuanya, Ten merasa menyesal telah memilih mengambil keputusan bodoh seperti beberapa hari yang lalu, terlebih dengan adanya bayi yang tengah dikandungnya. Bukankah itu sama saja ia membunuh calon anaknya dengan tangannya sendiri.
Nyonya Seo bangkit dan memeluk erat menantunya, wanita paruh baya itu sepenuhnya sadar jika hati kecil Ten terluka karena ulah anaknya. Luka itu muncul hanya karena kebodohan seorang pria yang mengkhianati kepercayaan wanitanya.
Ten memilih untuk berjalan-jalan sebentar sore ini, ia keluar menggunakan slipper miliknya dan menyeret tiang infus dengan perlahan. Sekalipun kondisinya masih cukup lemah namun Ten sangat ingin menghirup udara bebas, lagipula hari ini tak ada yang menjaganya. Nyonya Seo baru saja pulang siang tadi dan Johnny memilih pergi saat sang ibu menjenguk Ten beberapa menit lalu.
Ten duduk di salah satu bangku panjang yang ada di taman rumah sakit, rambutnya yang panjang sebahu ia biarkan tergerai hingga diterpa angin yang begitu menyejukkan sore itu. Ia memandang sekeliling dan sesekali menghembuskan nafas pelan. Rumah sakit itu memiliki taman yang indah dengan bunga-bunga yang bermekaran.
"Di perut imo ada adiknya ya?" Ten terkesiap saat tiba-tiba saja seorang anak kecil dengan boneka beruang di tangannya berdiri di hadapannya.
"Eh… hello siapa namamu anak manis?" Tanya Ten, ia berusaha bersikap senormal mungkin supaya anak kecil di hadapannya tidak ketakutan.
"Aku Jia, Moon Jia." Ucap anak kecil itu dengan senyuman yang begitu indah.
"Nama yang bagus…. Jia sedang apa disini?" Tanya Ten, pasalnya Jia hanya mengenakan pakaian biasa lengkap dengan sepatunya bukan pakaian pasien seperti yang tengah ia kenakan.
"Jia temani eomma, tapi eomma sedang menangis. Lalu appa bilang Jia boleh bermain di taman sampai appa datang menjemput." Ucap anak kecil itu polos. Ten lantas menatap wajah manis Jia dengan ekspresi yang bertanya-tanya, ia benar-benar tak mengerti dengan perkataan anak kecil yang ada di hadapannya itu.
"Memangnya eomma nya Jia kenapa?" Tanya Ten, ia menarik pelan Jia dan meminta anak kecil itu untuk duduk di sebelahnya.
"Adik bayi sudah jadi tinkerbell, appa bilang Tuhan lebih sayang sama adik bayinya Jia makannya dijadikan tinkerbell." Ucap anak kecil itu polos. Ten nampak tertegun mendengar perkataan anak kecil itu ia benar-benar tak menyangka kata-kata semacam itu terucap dari mulut Jia.
"Eomma sudah siapkan pakaian dan mainan banyak sekali untuk adik bayi. Makannya eomma sedih saat adik bayi pergi." Sambung Jia.
"Jia mau pegang perut imo boleh?" Tanya anak kecil itu dan menatap penuh harap ke arah perut Ten yang membuncit.
"Hum…. tentu saja boleh." Ten membawa tangan kecil Jia ke permukaan perutnya, ia dapat melihat dengan jelas netra indah Jia yang nampak berbinar sore itu.
"Adik bayi bergerak imo." Ujar Jia.
"Iya, adik bayi bisa berenang di dalam sana." Balas Ten.
"Semoga adik bayinya imo tidak jadi tinkerbell ya, Jia tidak mau imo menangis seperti eomma. Imo pasti nanti sedih kalau adik bayi berubah jadi tinkerbell." Ucap Jia.
Ten benar-benar tertegun, ia tak menyangka perkataan yang begitu manis bisa terucap dari mulut Jia. Ten seolah disadarkan oleh anak kecil di hadapannya. Disaat banyak orang diluar sana mengharapkan kehadiran bayi kecil mereka, Ten malah mengajak anaknya pergi bersamanya beberapa hari lalu. Dan hari ini Ten benar-benar mengutuk perbuatan buruk yang telah ia lakukan, ia yang hanya memikirkan luka di hatinya bahkan sampai tak sadar jika ada nyawa lain di dalam tubuhnya.
