15. Second Chance
Johnny sedikit berlari di sepanjang lorong rumah sakit, pria tinggi itu bahkan terlihat panik dan beberapa kali menanyakan keberadaan Ten pada perawat yang ia lewati. Johnny terkejut saat mendapati kamar rawat istrinya telah kosong, tak ada tanda-tanda keberadaan Ten disana. Kaki jenjang pria itu membawanya ke arah taman rumah sakit yang cukup ramai sore itu, langkahnya terhenti saat dari kejauhan melihat Ten tengah mengobrol seraya tertawa dengan anak kecil yang memeluk erat boneka beruangnya. Tak lama Ten terlihat bangkit dan sedikit membungkuk pada pria tinggi yang kemudian membawa anak kecil itu pergi. Dengan ragu Johnny mencoba menghampiri Ten, ia jelas masih mengingat bagaimana Ten tak ingin berbicara dengannya setelah terbangun dari tidur panjangnya. Wanita itu hanya mendiamkan Johnny sejak ia terbangun.
"Ehmmm…." Johnny berdehem dan duduk di sebelah istrinya. Ten sama sekali tak menoleh, lagi pula mendengarnya saja sudah membuat Ten mengenal siapa pemilik suara berat itu.
Sepasang suami istri itu masih terdiam, Ten sesekali terlihat memejamkan matanya saat merasakan hembusan angin sore yang menerpa wajahnya. Wanita itu lantas bangkit dan berniat kembali ke kamar rawatnya, namun sebuah tangan besar nampak menahan lengannya.
"Akh…." Ten sedikit merintih saat tanpa sengaja Johnny menahan tangan kiri Ten yang masih terluka.
"Ten…. Dengarkan aku sebentar, jangan begini." Ucap Johnny pada istrinya. Ten hanya menatap remeh ke arah pria itu, bahkan setelah semua hal yang telah ia lakukan di belakangnya nyatanya Johnny masih memiliki muka untuk muncul di hadapannya, pikir Ten.
"Aku minta maaf…." Pria itu berujar lirih di hadapan istrinya.
"Untuk apa? Maaf untuk kesalahanmu yang mana?" Balas Ten tajam.
"Semuanya." Balas Johnny.
"Aku begitu mencintaimu John, aku hanya memilikimu disini. Aku sangat bergantung padamu, dan kau- kau malah mengkhianati kepercayaanku begitu saja. Aku sangat ingin membencimu- ingin sekali. Tapi rasa cintaku padamu jauh lebih besar, aku bingung John…. Aku merasa terombang-ambing sekarang…. Hiks…." Ucap Ten, tangis wanita itu pecah setelah susah payah ia tahan sejak tadi.
Johnny merengkuh pundak istrinya dan memeluknya erat-erat. Pria tinggi itu bahkan mengecup pucuk kepala istrinya berkali-kali seraya bergumam kata maaf, seolah menggambarkan sedalam apa rasa penyesalan yang ia rasakan atas semua kebodohan yang telah ia lakukan.
"Aku mencintaimu hiks…. Tapi kau malah mengkhianati cintaku." Lirih Ten dalam tangisnya.
"Aku minta maaf." Tak ada yang bisa Johnny ucapkan selain kata maaf sekalipun ia tahu semua maafnya tak akan bisa menghapus luka di hati istrinya.
"Maafkan aku Ten…. Izinkan aku menebus semua kesalahanku." Ucap Johnny seraya mengecup kening istrinya. Ten hanya diam hari itu, entah sadar atau tidak wanita itu menganggukan kepalanya dalam pelukan hangat sang suami. Bagaimanapun juga Ten benar-benar tak rela jika hubungannya dengan Johnny yang sudah terjalin begitu lama harus rusak hanya karena adanya orang ketiga.
Dan hari itu Ten memutuskan untuk kembali memberikan kesempatan pada Johnny, membiarkan pria itu menebus semua kesalahannya sekalipun ia tak tahu akan berjalan seperti apa hubungan mereka nantinya. Setidaknya ia harus tetap bertahan sampai anak mereka benar-benar lahir ke dunia.
Seorang wanita paruh baya nampak berjalan di lobby apartemen mewah, ia tak sendiri di belakangnya nampak pria dengan setelah hitam yang membawa tas berukuran besar di tangan kanannya.
"Ini apartemennya nyonya, unit 751 di lantai 75. Tuan muda rutin berkunjung kemari sejak dua minggu terakhir. Sepertinya apartemen ini dibeli tuan muda sejak lama, sekitar satu tahun yang lalu dan nama yang terdaftar untuk pembeliannya bukan atas nama tuan muda, nyonya." Jelas pria itu. Setelahnya ia nampak menekan bel dan menunggu si penghuni apartemen membukakan pintu untuk mereka.
"Chogiyo…. Anda mencari seseorang?" Tanya seorang wanita yang baru saja membuka pintu unit apartemennya, itu Heejin. Ia terlihat cukup terkejut hari itu saat mendapati seorang wanita paruh baya berada di depan unit apartemennya.
"Kau tidak mengingatku?" Ucap nyonya Seo seraya membuka kacamata hitamnya. Heejin sedikit terkejut, ia tak pernah menyangka jika orang tua Johnny kembali datang untuk menemuinya seperti beberapa bulan silam.
Heejin menyajikan dua gelas jus jeruk untuk tamu-tamunya. Pria yang sejak tadi mengikuti nyonya Seo nampak meletakkan tas yang sejak tadi ia bawa di atas meja, setelahnya pria itu memilih mundur dan berdiri di belakang sofa yang tengah diduduki oleh majikannya tersebut.
"Itu anakmu?" Tanya nyonya Seo saat melihat San yang tengah tertidur di baby bouncer nya.
"Ne…. itu cucu Anda." Ucap Heejin sedikit ragu.
"Benarkah? Apa masih bisa disebut cucu jika kalian bahkan tidak menikah." Balas wanita paruh baya itu. Heejin hanya menunduk dalam, sejak awal memang wanita yang berstatus sebagai ibu Johnny itu sudah sangat tidak menyukainya, bahkan sejak pertemuan pertama mereka di café beberapa bulan silam. Wanita itu bersikeras memisahkan Heejin dari anaknya.
"Tinggalkan Johnny." Ucap nyonya Seo tiba-tiba. Heejin yang sejak tadi menunduk lantas mendongak, walaupun kalimat seperti itu sudah pernah keluar dari mulut wanita tua di hadapannya tetap saja Heejin merasa terkejut karena nyatanya orang tua Johnny masih berusaha keras memisahkan mereka berdua.
"Tidak nyonya, kami bahkan telah memiliki anak." Ucap Heejin bersikeras.
"Apa orang tuamu tahu jika kau hanyalah simpanan dari seorang pria beristri?" Tanya nyonya Seo. Heejin yang sejak tadi berbicara lantas terdiam, kedua orang tuanya telah bercerai sejak lama dan Heejin memilih untuk tidak tinggal bersama mereka, wanita itu memilih untuk mencari kesibukannya sendiri. Heejin yang terlahir dari keluarga broken home jelas menyimpan banyak trauma terlebih saat Heejin kecil terpaksa melihat sang ayah yang tengah memukuli ibunya. Semuanya meninggalkan luka terdalam di hati Heejin bahkan hingga saat ini, dan Johnny adalah satu-satunya orang yang membuatnya merasa aman. Johnny jelas benar-benar memperlakukannya sebagai seorang wanita. Semua hal yang Johnny lakukan untuknya membuat Heejin berhasil terlepas dari belenggu kelam masa lalunya hingga tanpa sadar ada satu bagian dalam diri Heejin yang ingin memiliki Johnny seutuhnya, menjadikan pria itu menjadi miliknya dan membina rumah tangga yang bahagia nantinya.
"Aku tidak tahu apa yang kau inginkan? Semoga saja ini cukup untuk membuatmu mengerti jika kau hanya parasit yang harus disingkirkan." Ucap nyonya Seo, ia menunjuk ke arah tas yang telah diletakkan oleh asistennya beberapa menit lalu. Dari tas itu jelas terlihat berapa banyak uang yang telah dikeluarkan oleh wanita paruh baya itu untuk menyingkirkan Heejin dari hidup anaknya.
"Soal anakmu…. Aku akan tetap membiayainya sampai dia besar, sekalipun aku tak yakin dia cucuku atau bukan. Kau bahkan bisa menggoda anakku yang berstatus sebagai suami orang, apa itu bisa menjamin kau tidak menggoda pria lain saat berhubungan dengan Johnny?"
"Jangan pernah usik hidup Johnny lagi, ia dan Ten tengah menanti kelahiran anak mereka." Ucap wanita itu final, ia beranjak dari duduknya dan bersiap meninggalkan apartemen mewah yang tengah ia datangi hari itu.
"Nyonya!... akan kupastikan kau menyesal telah membuangku begitu saja." Ucap Heejin tiba-tiba, ia bahkan mulai menyeringai di belakang wanita paruh baya itu.
"Coba saja kalau kau bisa." Ucap nyonya Seo sebelum benar-benar menghilang dari ambang pintu apartemen yang dibeli oleh anaknya.
Ten tengah bersiap untuk kembali ke rumahnya setelah menghabiskan waktunya di rumah sakit, selama disana Johnny terlihat selalu menemaninya. Bahkan sepertinya pria itu sudah melupakan tentang wanita simpanannya, lagipula wanita itu juga tak pernah lagi menghubunginya seolah tiba-tiba hilang entah kemana.
Johnny tengah menggandeng tangan Ten dan mereka tengah dalam perjalanan pulang ke rumah. Saat Ten duduk di kursi penumpangnya, Johnny dengan sigap memakaikan safety belt dan membuat wanita itu nyaman dengan perut buncitnya.
"Kau berlebihan, aku bisa pakai sendiri." Kekeh Ten. Johnny hanya tersenyum dan bergegas duduk di kursi pengemudi. Ten terlihat bingung saat Johnny tak menjalankan mobilnya dan tiba-tiba saja ia terkejut saat Johnny menarik pelan pergelangan tangan kirinya.
"Maaf…." Ucap Johnny, ia mengecup sekilas luka Ten yang masih terbalut perban dan berhasil membuat wanita itu tertawa.
"Sudah kesepuluh kalinya hari ini." Ucap Ten seraya terkekeh. Johnny pun ikut tertawa mendengar ucapan istrinya itu, benar juga jika diingat sejak tadi ia terus bergumam kata maaf pada istrinya itu.
Dua bulan telah berlalu sejak insiden memilukan yang Ten alami, rumah tangga kedua insan itu mulai terlihat membaik, bahkan Johnny terlihat lebih protektif pada istrinya itu. Hari ini adalah akhir pekan dan Johnny memilih untuk menghabiskan waktunya di rumah, ia tengah berada di ruang kerjanya sejak tadi. Pria itu menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya di kursi miliknya, tangannya mulai menggapai ponselnya dan membuka beberapa file yang ada disana. Johnny tersenyum sekilas saat menatap foto San, bayi kecilnya dan Heejin. Seharusnya San telah berusia enam bulan hari ini, pasti bayi kecil itu mulai bisa melakukan banyak hal. Johnny amat merindukan San, mau bagaimanapun juga bayi kecil itu adalah anak kandungnya.
Sejak dua bulan lalu Heejin benar-benar menghilang dari hidup Johnny, wanita itu tak pernah lagi menghubunginya. Pernah suatu hari Johnny menyuruh beberapa orang suruhannya untuk datang ke apartemen yang ia belikan untuk Heejin berbekal password door lock yang telah Johnny berikan. Orang-orang itu mengatakan jika password nya telah berubah, bukan lagi angka yang sama yang selalu Johnny ingat. Wanita itu benar-benar menghilang tanpa berpamitan, bahkan Heejin seolah tak membiarkan Johnny berkontak dengan San setelah melihat bagaimana cara wanita itu mengganti nomor ponselnya.
"Apa yang kau lakukan?" Johnny berucap saat mendapati Ten tengah menendang kardus besar dengan kakinya yang mulai terlihat membengkak.
"Kenapa tak bilang padaku jika ada barang yang perlu dipindahkan?" Johnny mendekati istrinya dan membantu Ten memindahkan beberapa barang ke ruang kerjanya.
Wanita itu sudah mulai mengambil cutinya sejak beberapa hari yang lalu, lebih tepatnya sejak kandungannya memasuki akhir bulan ke tujuh. Dan hari ini Ten terlihat mengisi ruang kerjanya dengan berbagai buku yang masih harus diperiksa beberapa hari kedepan.
"Apa tidak mau memperbesar ruangan ini? Kurasa kau bisa pakai ruangan kosong di lantai satu." Ucap Johnny, ia menatap sekeliling ruang kerja Ten. Ruangan itu memang tak sebesar ruangan miliknya, sebenarnya barang yang berada di sana tidak terlalu banyak hanya saja terdapat beberapa lukisan besar yang memang sengaja Ten simpan disana.
"Di bawah untuk kamar baby…." Ucap Ten seraya tersenyum cerah.
Setelah selesai membantu Ten merapikan ruang kerjanya, Johnny mengajak istrinya itu untuk menepi sejenak ke ruang keluarga. Pria tinggi itu terlihat baru saja kembali dari arah dapur dengan segelas jus jeruk di tangannya, pasalnya sejak tadi Ten terus merengek dan bilang jika ia kehausan.
"Pelan-pelan, tak ada yang akan ambil." Ucap Johnny saat melihat Ten meminum jusnya dengan begitu cepat.
"Jadi sudah terpikir nama untuk anak kita?" Tanya Johnny pada istrinya yang tengah bersandar manja sejak tadi.
"Sudah." Balas Ten semangat. Memang sejak sebulan yang lalu Ten bersikeras ingin menamai anak mereka, Johnny sama sekali tak masalah lagipula apapun pilihan istrinya sudah pasti itu yang terbaik.
"Kau tidak penasaran?" Tanya Ten, ia sedikit heran karena Johnny sama sekali tak bertanya nama seperti apa yang telah ia persiapkan.
"Tidak. Pilihanmu pasti yang terbaik." Ucap Johnny. Johnny memandang geli ke arah suaminya, ia seolah tak menyangka jika kata-kata semacam itu bisa keluar dari mulut Johnny.
"Johnny…. lepaskan, kau membuat pipiku melar." Ucap Ten, jadi Johnny yang tak terima dengan tatapan yang Ten berikan padanya malah menarik pipi chubby wanita itu, Johnny bilang memasuki trimester ketiga kehamilan Ten istrinya itu mulai berubah seperti squishy terutama bagian pipinya jadi jangan salahkan Johnny jika ia senang sekali menarik pipi wanita itu.
Ten sedikit tertawa menerima perlakuan Johnny, sekalipun ia kesal karena pipinya dijadikan bahan mainan namun ia amat bahagia. Ten benar-benar menjalani masa kehamilannya dengan bahagia sejak kejadian memilukan yang ia alami dua bulan lalu. Walaupun di hati kecilnya tetap ada ketakutan tentang sikap Johnny yang akan kembali berubah, namun Ten mengubur dalam-dalam semua pemikiran anehnya. Wanita itu tak mau lagi menerka-nerka tentang apa yang akan suaminya lakukan kelak, karena ia telah sepenuhnya percaya jika Johnny bisa menjaga hati kecilnya yang sempat terluka beberapa bulan silam.
