16. The Same Mistake

Ten tengah berada di ruangan yang ia dan Johnny persiapkan untuk kamar anak mereka. Ten tengah duduk di lantai beralaskan karpet bulu lembut yang memang Johnny bentangkan disana sejak tadi, ia tengah membuka beberapa benda yang sempat ia beli beberapa hari lalu, wanita itu bahkan nampak tersenyum gemas kala melihat beberapa pakaian dan sepatu kecil untuk calon anak mereka. Sedangkan Johnny, pria tinggi itu tengah mengangkut beberapa barang untuk dipindahkan ke ruangan tersebut. Sejak tadi ia sibuk kesana kemari, beruntungnya tidak banyak pekerjaan kantor yang harus ia kerjakan jadi ia lebih leluasa untuk menghabiskan waktu di rumah.

"Padahal Taeyong eonni bilang jika kelahiran anak pertama jangan terlalu membeli banyak barang, katanya semua orang akan memberikan banyak hadiah. Tapi aku sudah mengisi hampir setengah ruangan baby." Monolog Ten saat Johnny baru datang dengan kardus besar di tangannya.

"Tapi tak ada yang bisa menahanmu untuk membeli semua ini." Kekeh Johnny, ia jelas masih ingat bagaimana Ten yang terus-menerus membeli barang yang menurutnya lucu dan menarik untuk bayi kecil mereka. Setiap Johnny menasehatinya wanita itu malah akan berteriak padanya atau menganggap Johnny tak sayang lagi padanya, tingkah Ten benar-benar membuat suaminya kerepotan.

"Wah jadinya seperti ini ya…. Bagus sekali…." Monolog Ten saat Johnny baru saja selesai merangkai baby box berwarna putih yang ditaruh di sudut ruangan. Johnny nampak tertawa melihat tingkah istrinya itu pasalnya Ten terus menerus bergerak kesana-kemari sejak tadi hanya untuk melihat barang-barang yang berada di penjuru ruangan kamar bayi mereka.

Kehamilan Ten telah memasuki penghujung bulan kesembilan dan menurut dokter kandungan yang mendampinginya, ia akan melahirkan sekitar minggu depan. Tentu saja Ten benar-benar tak sabar untuk menemui bayi kecilnya. Sore itu Ten terlihat tengah memasukan beberapa barang yang akan dibawa ke rumah sakit ke dalam tas yang berukuran cukup besar, hanya untuk sekedar berjaga-jaga jika tiba-tiba saja ia mengalami kontraksi nantinya.

Ten dan Johnny baru saja menyelesaikan makan malam mereka, tentu saja Johnny yang memasak hari ini. Pria tinggi itu mengambil alih dapur sejak kehamilan Ten memasuki bulan ke delapan, bahkan Johnny menjadi begitu protective dan membatasi segala pergerakan istrinya. Walaupun Ten merasa sedikit keberatan dengan perlakuan suaminya itu tak dipungkiri ia merasa senang mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.

Johnny yang baru saja selesai mencuci piring berniat menyusul Ten yang telah berada di kamar mereka. Perhatian pria itu teralihkan saat merasakan ponselnya bergetar. Dengan segera Johnny merogoh saku celananya dan melihat siapa yang menghubunginya malam-malam begini. Sebuah nomor tidak dikenal, pria tinggi itu nampak mengernyit heran namun setelahnya ia tetap mengangkat panggilan tersebut dan mulai berbicara dengan seseorang diseberang sana.

"Yeoboseyo…. Apa benar dengan tuan Johnny?"

"Iya benar." Balas Johnny.

"Ini dari kantor kepolisian Gangnam, istrimu mabuk dan membuat kekacauan di bar, dia terus meracau sejak tadi dan meminta kami menghubungimu. Bisa kau jemput dia?"

Johnny yang semulanya berniat menaiki anak tangga menuju ke kamar mereka lantas memutar arah dan memilih untuk duduk di sofa yang berada di ruang keluarga. Ia cukup terkejut mendengar perkataan petugas polisi beberapa menit yang lalu, apa mungkin Heejin masih berada di Korea, pikirnya.

"Johnny Seo itu suamiku! Tapi dia malah memilih wanita itu, jelas-jelas aku lebih menarik daripada dia." Samar-samar Johnny mendengar teriakan Heejin di seberang sana, kemana saja wanita itu selama ini, pikir Johnny.

"Kami tunggu kedatanganmu tuan, istrimu juga mulai membuat kekacauan disini." Panggilan telepon itu terputus begitu saja sebelum Johnny sempat berucap, setelahnya ia terlihat memijat pelan pelipisnya karena pusing yang tiba-tiba saja menyerang. Mungkinkah akan kembali terjadi kekacauan setelah ia bersusah payah memperbaiki hubungannya dengan Ten istrinya.

Johnny kembali ke kamarnya, disana ia melihat Ten yang telah tertidur lelap dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Setelah memastikan Ten benar-benar tertidur, Johnny menyambar kunci mobilnya, ia berniat menyelesaikan segala permasalahannya dengan Heejin malam itu juga.

Johnny baru saja tiba di tempat parkir kantor kepolisian, ia bergegas berlari dan mencari keberadaan Heejin. Wanita itu benar-benar sudah kacau, ia benar-benar mabuk berat dan sepertinya sudah tidak sadarkan diri. Setelah berterima kasih dengan petugas polisi yang ada disana Johnny bergegas menggendong Heejin ke punggungnya, setelah menyamankan posisi duduk wanita itu Johnny bergegas mengemudikan mobilnya ke apartemen lama mereka.

"Eugh…." Heejin terlihat telah tersadar dan menyentuh kepalanya yang terasa amat berdenyut malam itu. Wanita itu mulai mengerjapkan matanya berkali-kali dan cukup terkejut saat mendapati siapa orang yang berada di sebelahnya.

"Johnny…. kau benar Johnny?" Heejin terlihat seolah baru saja menemukan oase di tengah gurun pasir.

"Heejin- tanganmu, lepaskan…. aku sedang menyetir." Johnny menyingkirkan tangan Heejin yang berusaha memeluk nya malam itu. Setelahnya Heejin kembali meracau tak jelas sampai mereka tiba di apartemen.

"Apa password nya?" Tanya Johnny pada Heejin yang ia gendong di punggungnya.

"Ulang tahun San." Jawabnya dengan suara parau. Johnny menurunkan tubuh Heejin di kasur yang berada di kamar mereka. Pria tinggi itu hendak beranjak dari sana saat tiba-tiba saja tangan Heejin nampak menahannya, wanita itu menatap Johnny dengan pandangan sendu dan wajah memerah khas orang mabuk.

"Mau kemana? Ayo temani aku." Ucap wanita itu.

"Choi Heejin…. Lepas…." Johnny berusaha melepaskan cengkraman wanita itu pada tangannya dan berniat meninggalkan apartemen itu dengan segera.

"Johnny…. kau sudah melupakanku? Kau sudah melupakan semua permainan kita?" Ucap Heejin, entah sejak kapan wanita itu mengikuti langkah kaki Johnny yang terlihat baru saja sampai di ruang tamu apartemen mereka.

"Kau tahu? Aku sangat kacau saat kau meninggalkanku? Aku begitu kacau saat ibumu menyuruhku menyingkir." Rancau Heejin malam itu. Johnny menghembuskan napas pelan dan berusaha melepaskan pelukan wanita itu pada tubuhnya dan menghempaskannya ke sofa. Johnny berniat membuat minuman hangat ke dapur, mungkin dengan segelas minuman bisa membuat wanita itu segera tersadar dari mabuknya.

Netra tajam Johnny membelalak saat ia membuka kulkas, hampir setengah dari kulkas itu diisi dengan minuman beralkohol. Mulai dari soju hingga wine dengan berbagai merek berada disana. Johnny juga terkesiap saat jemari kakinya tanpa sengaja menyenggol deretan botol wine yang telah kosong isinya. Apa begini cara Heejin menjalani hidupnya beberapa bulan kebelakang? Apa wanita itu tak ingat jika ia masih harus merawat San, pikir Johnny.

"Choi Heejin! Dimana San?" Johnny yang mulanya berniat baik untuk membuatkan segelas minuman hangat malah berubah pikiran dan berteriak pada wanita yang masih setengah sadar di sofa.

"Kau masih peduli padanya rupanya…." Rancau Heejin. Johnny hampir saja dikuasai oleh emosinya, ia menarik kerah pakaian Heejin hingga membuat wanita itu berdiri dengan paksa.

"Choi Heejin!" Teriak Johnny tepat di hadapan wajah wanita itu.

"Aku membunuhnya…. Kau pikir aku bisa mengurus San seorang diri?" Balas Heejin seraya tertawa. Johnny menghempaskan tubuh wanita itu begitu saja, ia melangkahkan kaki jenjangnya ke salah satu ruangan yang sejak dulu dipersiapkan untuk dijadikan kamar anak mereka. Ruangan itu masih dipenuhi dengan barang-barang San dan tak ada sedikitpun yang berubah.

Johnny kembali melanjutkan langkahnya dan berniat pergi meninggalkan apartemen itu dengan segera namun lagi-lagi Heejin nampak menahannya. Wanita itu memeluknya dari belakang dan membenamkan wajahnya di pundak Johnny.

"Jangan pergi…. Jangan tinggalkan aku." Lirih wanita itu.

Tring….

Bunyi pintu yang terbuka membuat Johnny tersadar, ia menoleh dan mendapati Sora, sahabat Heejin yang tengah melangkah masuk ke apartemen mereka dengan San yang berada dalam gendongannya.

"Johnny-ssi kukira kau tak akan kembali…. Astaga apa itu Heejin? Apa dia mabuk lagi?" Tanya Sora. Ia memasang tatapan malas kala lagi-lagi harus melihat Heejin yang kembali ke rumah dalam keadaan mabuk.

"Sora-ssi apa San baik-baik saja?" Tanya Johnny ia bergegas mendekati Sora setelah melepaskan pelukan Heejin dari tubuhnya.

"Hum…. San baik-baik saja, hanya saja ia sedikit rewel beberapa menit yang lalu jadi aku mengajaknya berkeliling ke bawah." Jelas Sora, setelahnya ia undur diri dari hadapan Johnny dan masuk ke kamar San untuk menidurkan bayi kecil itu.

"Aku pergi, jaga San dengan baik. Berhentilah mabuk-mabukan!" Ucap Johnny tajam.

"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja…." Lirih Heejin. Wanita mabuk itu mulai menanggalkan pakaiannya hingga hanya menyisakan bra yang ia kenakan. Johnny terlihat panik kala melihat Heejin yang mulai berusaha menanggalkan celana jeans miliknya. Pria tinggi itu lantas menyeret paksa tubuh Heejin dan membawanya ke kamar mereka.

"Uhmm…." Heejin memeluk erat tubuh Johnny dan melumat bibir pria tinggi tersebut, Johnny mendorong tubuh wanita itu hingga Heejin terpental ke kasur dan kembali melangkah menuju ambang pintu. Namun Heejin masih belum menyerah, ia mulai menanggalkan seluruh pakaiannya hingga wanita itu berakhir dengan keadaan polos tanpa sehelai benangpun yang membalut tubuhnya. Ia memeluk tubuh Johnny erat-erat, Heejin juga kembali melumat pelan bibir pria itu. Ia sedikit berjinjit demi menyamakan tinggi tubuh mereka.

Johnny hanya terdiam menerima semua perlakuan yang Heejin berikan. Heejin yang sadar jika Johnny mulai terjebak dalam permainannya lantas menanggalkan coat yang membalut tubuh tegap pria itu. Johnny benar-benar telah terbuai dengan kemolekan tubuh Heejin yang ada di hadapannya, ia lantas menggendong tubuh wanita itu dan mulai melanjutkan permainan mereka. Heejin tersenyum samar malam itu, bukankah itu artinya Johnny benar-benar akan kembali padanya.

Ten terbangun dari tidurnya saat tengah malam karena merasakan rasa nyeri yang menjalar di perutnya. Ia duduk bersandar dan mengelus lembut perut besarnya seraya menormalkan nafas, Ten sadar ada sesuatu yang salah, perut bagian bawahnya terasa mengencang dan memberikan sensasi yang amat menyakitkan.

"Akhh…." Lirihan kesakitan mulai meluncur dari bibir tipis Ten malam itu. Ten mengumpulkan seluruh tenaganya dan berusaha bangkit, ia benar-benar ketakutan saat tak mendapati keberadaan Johnny di sekitarnya.

"Johnn- akhh…. Huuh…. Huuh…." Wanita itu berjalan tertatih seraya memegangi perut besarnya, ia terus meneriakkan nama Johnny namun tak kunjung mendapatkan jawaban.

"Huuh…. Huuh…. Huuh…." Ten kembali menormalkan nafasnya saat rasa sakit kembali menjalar di perutnya, Johnny juga tak berada di ruang kerjanya. Ten kembali melanjutkan langkahnya, ia meniti anak tangga dengan perlahan. Tiap pijakan yang ia buat berhasil memberikan sensasi nyeri di perutnya.

"Akhh…. Sakit…. hiks…." Ten mulai menangis malam itu, ia bersandar di sofa ruang keluarga dan berusaha keras menghubungi ponsel Johnny dengan sisa tenaga yang ia punya. Puluhan panggilan berhasil Ten buat namun tak ada jawaban apapun yang ia terima.

Ten menundukkan kepalanya saat mendapati sesuatu yang hangat melewati pahanya, air ketubannya sudah pecah dan itu membuat Ten semakin menangis keras. Ia benar-benar membutuhkan Johnny malam ini namun pria itu sama sekali tak menunjukan keberadaannya. Dengan sisa tenaganya Ten mendial nomor lain yang amat dikenalnya, dalam hati ia berharap mendapatkan jawaban. Setidaknya akan ada satu orang yang bisa menyelamatkan bayinya nanti.

"Yeoboseyo Ten…. Tumben sekali malam-" Suara lembut Taeyong mengalun indah malam itu, wanita itu terdengar masih begitu sedar sekalipun Ten menghubunginya tengah malam.

"Eonni…. Tolo- akhh…." Ten berucap lirih pada lawan bicaranya di seberang sana.

"Ten kau baik-baik saja?" Mulai terdengar kepanikan dari nada suara Taeyong malam itu.

"Tolong…. Akhh…. Sakit…. hiks…." Air mata kembali terjatuh dari manik indahnya malam itu, demi Tuhan Ten merasa ia tak dapat lagi menahan rasa nyeri yang terasa amat menyakitkan.

"Kau dimana? Kau di rumahmu kan? Jangan kemana-mana, aku akan kesana." Ucap Taeyong panik. Ten hanya mengangguk sekalipun ia tahu Taeyong tak dapat melihat balasannya. Ten menjatuhkan ponselnya, ia benar-benar tak memiliki tenaga malam itu. Ten kembali merintih kesakitan, bahkan wanita itu terdengar mulai berteriak seolah menggambarkan sesakit apa rasa nyeri yang tengah ia rasakan. Dan malam itu tanpa sepengetahuannya darah segar mulai meluncur dari pangkal pahanya dan mencuri kesempatan untuk menyatu dengan karpet bulu yang ada di ruang keluarga.

"Johnny…. I need you…."