17. The Truth Untold

Jaehyun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, mobil BMW berwarna hitam itu membelah jalanan malam kota Seoul yang begitu sepi dan menenangkan. Beberapa menit lalu pria tinggi berlesung pipi itu masih berada di rumahnya, ia yang setengah sadar ditarik paksa oleh Taeyong istrinya ke kamar mandi dan memaksanya mencuci wajahnya. Jaehyun hanya menuruti apa yang istrinya katakan, ia sama sekali tak bertanya sampai kemudian Taeyong menariknya kembali dan membawanya menuju mobil mereka. Pria berlesung pipi itu bahkan lebih bingung saat Taeyong berpesan pada ibunya untuk menjaga Mark yang baru saja tertidur lelap.

"Jae…. Demi Tuhan kau masih sempat-sempatnya terdiam, cepat jalankan mobilnya." Ucap Taeyong sedikit berteriak.

"Tapi kita akan kemana? Dan apa yang terjadi sampai kau membangunkanku." Tanya Jaehyun.

"Ke rumah Ten dan Johnny, cepat jangan banyak bertanya. Kau akan mengerti saat disana." Jelas Taeyong.

Dan Jaehyun baru mengerti apa yang terjadi saat istrinya berlari kencang dan menerobos pintu utama rumah besar Johnny, Taeyong terus berteriak mencari keberadaan Ten. Jaehyun pun melakukan hal yang sama, meskipun ia masih tak mengerti apa yang tengah istrinya lakukan. Dan sepasang suami istri itu nampak terkesiap saat mendapati pemandangan yang tersaji di hadapan mereka. Ten tengah merintih kesakitan di ruang keluarga dengan wajahnya yang terlihat amat pucat malam itu.

"Astaga…. Ten! Jangan tidur!" Ucap Taeyong saat mendapati Ten hampir memejamkan matanya.

"Jung Jaehyun! Mau sampai kapan kau berdiri disana, cepat bawa Ten ke mobil." Teriakan Taeyong berhasil membangunkan Jaehyun dari lamunan panjangnya, setelahnya pipi itu bergegas melakukan apa yang istrinya perintahkan.

Jaehyun membawa Ten ke kursi belakang mobilnya, disusul dengan Taeyong yang berlari setelah sebelumnya membawa tas yang telah Ten persiapkan. Ten berbaring di kursi belakang dengan menjadikan paha Taeyong sebagai bantalan, wanita itu terus merintih kesakitan dan terlihat hampir memejamkan matanya.

"Ten…. Jangan tidur, kumohon…." Lirih Taeyong, ia sejak tadi sibuk menepuk pelan pipi sahabatnya dan berharap Ten tetap terjaga sampai mereka tiba di rumah sakit.

"Sa- kit…. Eonni…. Arghhh….."

Saat mobil Jaehyun menepi di depan IGD rumah sakit beberapa perawat nampak menghampiri mereka, Ten dibaringkan di brankar dan dibawa masuk untuk mendapat perawatan. Di sepanjang perjalanan Taeyong menggenggam erat tangan Ten seolah berusaha meringankan rasa sakit yang tengah Ten rasakan. Bagaimanapun juga Taeyong pernah berada di posisi Ten beberapa bulan yang lalu, sehingga sedikit banyak ia paham tentang apa yang tengah Ten rasakan.

Taeyong jatuh terduduk di depan pintu ruang IGD saat para perawat melarang mereka berdua untuk masuk ke dalam. Jaehyun bergegas merengkuh pundak istrinya dan mengajaknya duduk di kursi yang berada tak jauh dari mereka berdua. Taeyong mulai menangis di pelukan suaminya, rasanya kejadian yang baru saja mereka alami berlangsung begitu cepat dan ia amat takut akan terjadi hal buruk pada sahabatnya setelah mengingat seberapa banyak darah yang mereka lihat saat berada di rumah Ten beberapa menit yang lalu.

Di sisi lain sebelah tangan Jaehyun yang bebas terus bermain dengan ponselnya, pria tinggi itu terus-menerus menghubungi nomor Johnny sekalipun sama sekali tak mendapat jawaban sejak tadi. Jaehyun mulai berdecak sebal, ia benar-benar tak habis pikir apa yang tengah dilakukan oleh sahabatnya itu sampai meninggalkan istrinya seorang diri di rumah.

Di ruang bersalin dokter dan perawat terlihat mengerubungi tubuh Ten yang terbaring tak berdaya di ranjang pesakitan. Seorang perawat nampak membantu Ten melebarkan kakinya, sedangkan Irene telah bersiap dengan sarung tangan sterilnya di hadapan wanita hamil itu. Irene mengecek pembukaan persalinan Ten dan ia nampak bernafas lega saat tahu jika pembukaannya telah lengkap dan artinya pasiennya itu benar-benar telah siap untuk melahirkan.

"Ten-ssi…. Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan dari hidung perlahan." Ucap Irene memberi aba-aba. Ten nampak mengangguk sekilas dan mengikuti instruksi yang Irene berikan padanya.

"Pembukaannya sudah lengkap, kau bisa mengejan jika merasakan kontraksi datang." Jelas Irene.

"Akhh…. Eugh…." Ten mulai mengejan setelah merasakan sensasi nyeri yang kembali menjalar di perutnya.

"Eugh…." Wanita itu terus mengerahkan sisa tenaganya, wajahnya benar-benar terlihat tak berdaya dengan bulir keringat yang terlihat membasahi keningnya.

"Tahan sebentar tunggu bayinya crowning dengan sempurna." Ucap Irene saat mendapati kepala bayi kecil itu yang sudah terlihat.

Ten benar-benar menahan hasratnya untuk mengejan, giginya terlihat bergemeletuk seolah menggambarkan seberapa besar rasa sakit yang tengah ia rasakan. Ten merasa ada yang aneh pada tubuhnya, ia bisa melihat sekelebat bayangan hitam di tengah sibuknya menahan rasa sakit yang menjalari tubuhnya, tak lama kemudian nafas wanita itu terdengar tersengal-sengal dan Ten benar-benar memejamkan matanya malam itu, tubuhnya seolah ditelan lubang hitam dan tak tahu bagaimana caranya menemukan jalan untuk pulang.

"Hwanjabun…. Hwanjabun…." Seorang perawat yang berada di dekat Ten sibuk memukul lembut pipi wanita itu dan berharap Ten akan segera sadar.

"Siapkan masker oksigen." Perintah Irene yang langsung dihadiahi anggukan kepala dari perawat yang ada disana, perawat itu bergegas memasangkannya pada wajah Ten untuk membantu wanita itu bernafas.

"Vakum ekstraktor!" Irene sedikit berteriak malam itu, ia khawatir bayi kecil yang belum melihat dunia akan kehabisan oksigen di dalam sana karena ibunya yang belum mau membuka mata.

Irene telah bersiap dengan vakum ekstraktor di tangannya, ia telah menyesuaikan daya penyedot akar tidak membahayakan bayi kecil yang tengah berusaha ia selamatkan. Irene berhasil menarik bayi itu keluar, namun si bayi kecil sama sekali tidak menangis bahkan tubuhnya terlihat membiru di tengah cahaya terang-benderang yang menghiasi ruang bersalin malam itu. Dokter wanita itu bergegas memotong tali pusar sang bayi dan menyerahkan bayi kecil itu pada seorang perawat untuk diberikan pertolongan pertama sebelum terlambat sementara Irene kembali berurusan dengan pendarahan Ten yang belum mereda.

"Tekanan darah pasien menurun seonsaengnim…." Teriak seorang perawat.

Ruang bersalin begitu ribut malam itu, di sisi lain ruangan seorang perawat tengah melakukan CPR pada bayi kecil yang belum juga mau membuka matanya ataupun menangis keras. Raut kepanikan terlihat jelas dari wajah perawat wanita itu, ia benar-benar berharap masih ada keajaiban yang akan menyambangi bayi kecil itu.

"Jebal…. Jebal…. Ayo sayang, ayo menangis yang keras. Eomma mu akan terbangun jika mendengar tangisanmu." Lirih perawat tersebut. Kata-katanya beberapa menit lalu, seolah serupa mantra bagi bayi kecil itu, tubuhnya yang semula membiru mulai terlihat memerah dengan lirihan tangis kecil yang keluar dari mulutnya. Sang perawat bernafas lega, terlebih saat mendengar tangisan si bayi kecil yang makin memenuhi ruang bersalin malam itu.

Oek…. Oekk…. Oek….

Tubuh kecil bayi itu telah dibersihkan dan terlihat telah dilengkapi dengan selimut berwarna merah muda yang membalut tubuhnya. Ia diletakkan di baby box yang ada disana dan bersiap untuk dipindahkan ke ruangan yang berisi bayi-bayi kecil lainnya.

"Keluarga pasien Ten…." Ucap seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang bersalin.

"Kami…. Kami keluarganya." Taeyong bangkit dari duduknya dan mendekati perawat wanita tersebut.

"Bayinya telah lahir dengan selamat dan akan kami pindahkan keruangan bayi. Tapi nyonya Ten mengalami pendarahan yang cukup berat, perlu dilakukan transfusi darah dengan segera. Kami membutuhkan persetujuan dari keluarganya untuk segera melakukan tindakan." Jelas perawat tersebut, lagi-lagi Taeyong jatuh terduduk. Ia benar-benar tak menyangka akan ada hal lain yang menimpa sahabatnya itu.

"Kami keluarganya…. Silahkan lakukan apapun asal Ten selamat." Ucap Jaehyun.

"Kalau begitu silahkan ikut dengan kami, ada beberapa surat persetujuan yang perlu Anda tanda tangani." Ucap perawat tersebut. Jaehyun menganggukan kepalanya dan mengikuti kemana langkah kaki perawat tersebut akan membawanya. Tentu saja setelah sebelumnya menuntun Taeyong untuk kembali duduk di kursi yang sempat mereka tempati.

Taeyong telah berada di ruang rawat Ten, wanita itu telah dipindahkan beberapa menit lalu setelah sebelumnya melakukan transfusi darah seperti yang perawat katakan. Dokter bilang kondisi Ten sudah stabil, hanya saja ia masih kelelahan sehingga belum mau membuka matanya. Taeyong melihat ponselnya, ia sedikit menghela nafas saat melihat jam yang telah menunjukan pukul tiga dini hari, wanita satu anak itu membuka log panggilannya, bahkan Johnny belum juga menghubunginya setelah sebanyak apa panggilan yang ia dan Jaehyun buat. Untuk Jaehyun, pria tinggi itu tengah berada di cafeteria sejak beberapa menit lalu. Katanya ingin membeli makanan ataupun cemilan lain yang bisa digunakan untuk mengganjal perutnya.

"Kau sudah lihat anaknya?" Taeyong berucap saat mendapati Jaehyun membuka pintu ruang rawat Ten dengan dua gelas susu hangat dan beberapa cemilan yang ada di tangannya.

"Belum…. Aku lupa menengoknya padahal tadi melewati ruangan bayi saat akan kemari." Jawab Jaehyun, setelah menyerahkan segelas susu pada istrinya pria tinggi itu lantas duduk di sofa dan mulai mengisi perutnya yang telah berteriak sejak tadi.

"Aku takut Johnny sedang bersama-"

"Jangan berpikir yang tidak-tidak, bukankah kita sudah dengar sendiri dari Seo ahjumma jika Johnny sudah tak berhubungan dengan wanita itu." Ucap Jaehyun.

"Tapi itu sangat aneh Jae, sekalipun Seo ahjumma memberikan uang dalam jumlah banyak pada wanita itu tetap saja ia memiliki anak dari Johnny. Sudah pasti ia tetap menginginkan Johnny berada disisinya." Jelas Taeyong.

"Ah benar juga…. Kenapa kita tidak terfikir untuk menghubungi Seo ahjumma sejak tadi." Sambung Taeyong.

"Kau sadar jam berapa sekarang ini Taeyong-ssi, sudah pasti ahjumma dan ahjussi sedang tidur." Balas Jaehyun. Taeyong nampak mencebikkan bibirnya mendengar perkataan yang terlontar dari mulut suaminya itu. Setelahnya ia beranjak ke sofa dan bersandar pada bahu kokoh Jaehyun untuk sekedar memejamkan mata selama beberapa jam kedepan.

Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, Taeyong terlihat bangun terlebih dahulu dan menyesuaikan netra indahnya dengan cahaya yang menerobos masuk dari celah jendela yang berada di ruang rawat Ten. Taeyong melirik sekilas ke arah Ten, ia pikir saat ia membuka mata Ten akan melakukan hal yang sama nyatanya sahabatnya itu masih memilih untuk memejamkan netra indahnya. Taeyong bergegas pergi ke kamar mandi untuk sekedar membasuh muka meninggalkan Jaehyun yang masih terpejam, setelahnya wanita itu memilih untuk berjalan keluar dan berniat menjenguk bayi kecil Ten dan Johnny, ia benar-benar belum melihat wajah bayi kecil itu sejak kemarin.

Taeyong menyentuh kaca jendela yang menampilkan wajah menawah bayi sahabatnya, wanita itu tersenyum sekilas kala melihat bayi kecil itu nampak menggeliat dalam tidurnya. Taeyong tidak bisa mendeskripsikan detailnya, tapi menurutnya wajah bayi itu merupakan perpaduan sempurna antara Ten dan Johnny. Sayangnya kedua orang tua si bayi kecil malah tengah terlibat dalam konflik besar yang Taeyong tak tahu bisa diselesaikan atau tidak.

Setelah cukup lama berdiam di sana Taeyong memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Ten, Jaehyun ternyata sudah membuka matanya sejak tadi dan pria itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang terlihat basah.

"Cepat hubungi Seo ahjumma, aku tak peduli lagi pada Johnny." Ucap Taeyong. Jaehyun hanya mengangguk, ia kemudian meraih ponselnya dan mulai berusaha menghubungi kedua orang tua sahabatnya itu.

"Eugh…." Taeyong menoleh saat mendengar lenguhan kecil yang keluar dari bibir Ten. Setelahnya ia nampak tersenyum cerah kala mendapati wanita itu telah membuka matanya.

"A- ir…." Lirih Ten hampir tak terdengar. Taeyong menatap wajah Ten kebingungan, ia tak mengerti apa yang baru saja wanita itu ucapkan. Taeyong pun mendekatkan telinganya dan kembali meminta Ten mengulang perkataannya.

"Ah air…. Kau butuh air, tunggu sebentar." Ucap Taeyong, ia bergegas mengambil sebotol air mineral yang semalam sempat Jaehyun beli dan menambahkan sedotan untuk memudahkan Ten membasahi tenggorokannya.

Jaehyun yang baru saja selesai menghubungi orang tua Johnny lantas kembali masuk ke ruang rawat Ten, ia sedikit tersenyum saat mendapati Ten telah terbangun, setidaknya dengan begini beban pikiran istrinya akan sedikit berkurang.

"Bayinya dimana?" Tanya Ten lemah.

"Ah…. Masih ada di ruangan bayi, kau mau lihat anakmu sekarang?" Tawar Taeyong, Ten hanya mengangguk, ia benar-benar ingin melihat seperti apa wajah bayi kecil yang baru saja ia lahirkan. Taeyong memberi kode pada suaminya untuk pergi ke ruangan bayi secepatnya, Jaehyun hanya bisa pasrah pagi itu padahal niatnya ingin kembali berbaring di sofa panjang yang ada di ruang rawat Ten namun istrinya sudah menyuruhnya pergi.

Jaehyun kembali datang bersama seorang perawat yang tengah mendorong box bayi, Ten tersenyum dan meminta Taeyong membantunya untuk duduk bersandar supaya ia bisa melihat dengan jelas wajah bayi kecilnya.

"Dia sedang tidur karena baru saja meminum susu. Anak Anda sangat sehat, bahkan tangisannya berhasil membangunkan bayi-bayi lainnya." Jelas perawat tersebut sebelum akhirnya pamit undur diri dari ruangan Ten. Dengan bantuan Taeyong, Ten berhasil menggendong anaknya, sekarang bayi mungil itu berada dalam dekapannya. Netra indah Ten tampak berkaca-kaca, ia tak menyangka bisa melihat langsung bayi kecilnya. Bahkan Ten hampir saja kehilangan harapan semalam, ia pikir mereka berdua tidak akan bisa selamat dan berakhir dengan meninggalkan dunia yang fana ini bersama-sama.

Taeyong dan Jaehyun memilih untuk tetap menemani Ten sampai mertuanya datang, lagipula jam juga masih menunjukkan pukul enam pagi dan sepertinya Mark anaknya belum menangis ataupun mencarinya. Taeyong yang tengah berbincang dengan Ten nampak menoleh kala mendapati pintu ruang rawat Ten terbuka, tak lama masuklah sepasang pria dan wanita paruh baya dengan wajah bahagia mereka, itu kedua orang tua Johnny. Taeyong bangkit dari duduknya dan membungkuk sekilas, setelahnya ia mendekat ke sofa dan berusaha membangunkan Jaehyun yang masih terlelap disana. Pasangan itu pun pamit undur diri, seolah mereka tahu jika mungkin akan ada peperangan setelah ini.

"Aigoo…. Lucunya cucu halmeoni." Nyonya Seo tersenyum lembut saat mendapati bayi kecil itu menggeliat dalam gendongannya.

Berbeda dengan sang istri yang nampak sibuk dengan cucu mereka, tuan Seo mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Pria tua itu terlihat seperti tengah mencari seseorang.

"Kemana Johnny pergi?" Tanya tuan Seo. Ten tak berani menjawab, ia hanya menunduk dan sibuk menatap jari-jarinya yang terasa mendingin pagi itu.

"Jawab aku Ten, dimana suamimu itu?" Ucap pria paruh baya itu.

"Johnny- Johnny tidak datang abeoji…. Dia tidak disini, pria itu tak menemaniku semalam." Lirih Ten. Seketika netra tua itu membola kala mendengar jawaban yang menantunya lontarkan, ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran anaknya.

Nyonya Seo yang sibuk menimang cucunya hanya terdiam, ia terlihat sudah pasrah dan tengah bersiap menonton semua kemungkinan terburuk yang akan putra bungsunya itu terima.

Tiba-tiba saja pintu ruang rawat Ten terbuka dengan cukup keras, Johnny terlihat berdiri disana dengan penampilan yang cukup berantakan lengkap dengan wajah paniknya. Tuan Seo yang semula berdiri disamping ranjang rawat menantunya lantas berjalan ke arah sang anak. Pagi itu pria paruh baya itu tak berniat memberikan anaknya pelukan hangat, ia melontarkan tamparan yang cukup kencang ke wajah anaknya hingga Johnny tersungkur dengan sudut bibir yang berdarah.

"Abeoji…. Ada apa?" Johnny benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja sang ayah lakukan padanya.

"Dimana kau menghabiskan malammu? Kau tidak tahu jika istrimu hampir mati semalam?" Tanya pria tua itu.

Tuan Seo kembali memukul anaknya di ruang rawat Ten, baik Ten ataupun ibu mertuanya sama sekali tak berniat menghentikan keributan tersebut. Ten hanya memandang lurus ke arah jendela dengan netra indahnya yang berkaca-kaca, ia tengah memikirkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin akan Johnny terima jika ayahnya mengetahui hubungan gelapnya dengan Heejin yang telah berlangsung lama.

"Chogiyo…. Abeoji…." Semua orang yang ada disana menoleh ke arah Ten yang masih sibuk menatap ke arah jendela pagi itu.

"Anakku sedang tidur, bisakah abeoji menghabisi pria itu di luar." Ucap Ten, wanita itu berucap begitu lirih dan tanpa sadar lelehan air mata mulai menghiasi pipinya. Ia benar-benar tak peduli lagi dengan Johnny, bahkan jika pria itu berakhir tinggal nama di tangan ayahnya sendiri Ten benar-benar tak mau peduli. Ia hanya ingin memulai kehidupan baru bersama anaknya, bersama Hendery nya dan memulai lembaran baru yang indah berdua.