18. New Part of Life
Johnny mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang menerobos masuk melalui celah jendela. Pria itu terlihat melakukan sedikit peregangan, Johnny mengedarkan pandangannya, setelahnya pria tinggi itu nampak tersentak saat tahu jika Heejin tengah memeluknya erat. Terlebih mereka berdua sama sekali tak mengenakan pakaian, tubuh dua insan itu benar-benar polos dengan selimut yang membalut tubuh mereka berdua. Johnny mengubah posisinya menjadi duduk, ia mengacak rambutnya setelah sadar dengan apa yang baru saja ia dan Heejin lakukan semalam, bahkan Johnny benar-benar meninggalkan Ten seorang diri di rumah tanpa tahu apa yang tengah terjadi pada istrinya.
Johnny bangkit dari kasur dan mengenakan semua pakaiannya, ia terlihat sedikit terburu-buru hingga pakaian yang ia kenakan sedikit berantakan. Heejin masih belum beranjak dari tidurnya, wanita itu masih sibuk memejamkan mata dengan penampilan yang tak jauh beda dengan Johnny sebelumnya. Johnny menyambar coat nya yang tergeletak di lantai pria tinggi itu bergegas mengecek ponselnya yang tersimpan disana dan netra tajamnya nampak membelalak ketika melihat berapa banyak notifikasi yang terpampang di sana. Banyak sekali panggilan tak terjawab, puluhan panggilan dari Ten istrinya juga panggilan lain dari Jaehyun dan Taeyong yang tak kalah banyak jumlahnya. Johnny sadar ada yang salah, pria itu lantas sedikit berlari menuju mobilnya dan mengemudi dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Ten…. Ten!" Johnny sedikit berteriak di dalam rumahnya, ia bergegas menuju kamar mereka dan cukup panik kala tak mendapati keberadaan istrinya disana. Johnny kembali lagi ke lantai dasar, tangannya mulai sibuk memainkan ponselnya berniat menghubungi istrinya hanya untuk sekedar menanyakan keadaannya. Johnny menolehkan kepalanya saat mendengar nada dering yang tak asing di telinga, ia mengikuti suara tersebut sampai akhirnya kaki jenjangnya membawanya melangkah ke ruang keluarga. Johnny memutus panggilannya kala melihat ponsel Ten yang tergeletak di dekat sofa dan tak jauh dari sana terdapat jejak darah dengan jumlah yang cukup banyak. Johnny jatuh terduduk ia benar-benar tak menyangka telah meninggalkan Ten seorang diri semalam, istrinya itu pasti sudah sangat kesakitan saat berusaha menghubunginya.
"Yak! Bodoh kau kemana saja…." Suara Jaehyun yang sarat akan kemarahan menyapa pendengaran Johnny setelah pria itu memutuskan untuk menghubungi sahabatnya.
"Kau tahu istrimu hampir mati semalam, jika aku dan Taeyong tak datang mungkin kau sudah menghadiri pemakamannya pagi ini."
"Dimana Ten?" Tanya Johnny dengan suara lirihnya.
"Di rumah sakit xxxx, bersiaplah orang tuamua sudah datang saat aku kembali tadi."
Johnny memutus panggilan teleponnya dengan Jaehyun dan bergegas menuju ke rumah sakit yang baru saja pria berlesung pipi itu katakan. Sesampainya disana Johnny sedikit berlari untuk menuju ke ruang rawat istrinya, tanpa sadar pria tinggi itu membuka pintu dengan amat kencang hingga membuat semua orang yang berada di dalam sana menoleh ke arahnya. Disana Johnny bisa melihat dengan jelas Ten yang tengah duduk dan menatap jendela serta ibunya yang tengah menimang bayi kecil mereka.
Plak!
Bukan pelukan hangat yang Johnny dapatkan pagi itu, ia mendapatkan tamparan menyakitkan dari sang ayah yang berhasil membuatnya jatuh tersungkur dengan sudut bibir yang berdarah. Tak ada yang peduli disana, Ten tetap pada posisinya begitupun dengan ibunya. Johnny benar-benar dihabisi oleh ayahnya pagi itu, tak ada yang bisa pria itu lakukan. Bagaimanapun juga satu-satunya orang yang ia takuti adalah ayahnya, mengingat bagaimana pria paruh baya itu mendidiknya dan ketiga kakaknya dengan amat keras bahkan sejak mereka masih kanak-kanak.
Semua orang yang ada disana menoleh kala mendengar Ten berucap, wanita itu berucap amat lirih dengan suara yang bergetar. Ten meminta ayah mertuanya membawa Johnny keluar, menyebut pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu tanpa memanggil namanya seolah Johnny adalah pria asing yang tak lagi dikenalnya.
Ten benar-benar tak mengizinkan Johnny datang menemuinya ataupun anak mereka, pikir Ten biarlah Johnny menikmati semua buah dari kesalahannya beberapa hari yang lalu. Hari ini Ten tengah bersiap untuk pulang ke rumah, disana ada Min-ah dan ibu Jaehee yang kebetulan baru saja tiba dari Jeju kemarin, kedua wanita itu nampak tengah membantu Ten berkemas sejak tadi. Wanita tinggi itu mulanya bertanya-tanya kenapa tak ada Johnny di ruang rawat adik iparnya itu, namun setelahnya ia hanya terdiam kala ibu mertuanya mencubit lengannya seolah menandakan jika ada hal yang tengah tidak baik-baik saja antara sepasang orang tua baru itu.
Ten baru saja tiba di rumahnya, mulanya sang ibu mertua meminta Ten dan Hendery tinggal untuk sementara di rumahnya namun Ten menolak. Lagipula sebentar lagi ia akan menyelesaikan semua permasalahannya jadi tak akan ada gunanya untuk menghindar. Jaehee dan ibunya telah kembali ke rumah keluarga Seo sejak beberapa menit yang lalu, di rumah itu sekarang hanya menyisakan Ten dan Min-ah serta Hendery yang masih tertidur lelap. Min-ah diperintahkan oleh majikannya untuk membantu Ten merawat Hendery sementara waktu. Min-ah sama sekali tidak menolak lagi pula ia pernah berpengalaman mengurus bayi kecil sebelumnya, setidaknya akan ada ilmu yang bisa dibagi dengan Ten nantinya.
Ten menitipkan Hendery sementara pada Minah, ia bergegas pergi ke ruang keluarga, ruangan itu masih sama kotornya dengan noda darah yang belum dibersihkan. Wanita itu sedikit berlutut dan membersihkan kekacauan yang ia buat beberapa hari lalu, netra indahnya sedikit berkaca-kaca kala kembali mengingat peristiwa malam itu, semuanya terasa amat menyakitkan, entah rasa sakit di perutnya atau rasa sakit dihatinya. Semuanya benar-benar sama, dan Ten amat benci jika harus mengulang keduanya. Setelah selesai wanita itu meraih ponselnya yang sudah mati, jelas saja daya baterainya tak akan bisa bertahan selama itu. Ten memasuki ruang kerjanya dan mengisi daya ponselnya disana setelahnya ia menyiapkan makan siang untuk dinikmati bersama Min-ah nanti, entahlah setelah Hendery lahir Ten rasa nafsu makannya benar-benar meningkat.
Minah nampak ragu saat Ten mengajaknya menikmati makanan di meja makan yang sama dengannya, hal itu jelas belum pernah wanita muda itu lakukan, biasanya Min-ah akan makan bersama para maid yang lain dan tak pernah sekalipun bergabung di meja makan luas milik keluarga Seo.
"Duduklah Min-ah-ssi sebelum makananmu dingin." Ucap Ten, Min-ah mengangguk kaku dan mulai menikmati makanannya. Dari tempatnya duduk saat ini Min-ah dapat melihat dengan jelas wajah cantik Ten yang berada di hadapannya, wanita yang baru saja menjadi seorang ibu itu sesekali melirik ke arah Hendery yang masih terlihat damai di baby bouncer nya. Min-ah tersenyum sekilas, jika dilihat dengan cermat sama sekali tak ada celah pada wanita di hadapannya itu, Min-ah sampai tak habis pikir apa yang membuat tuan mudanya berselingkuh terlebih sampai memiliki anak dengan selingkuhannya dan disaat istrinya memberikan kesempatan kedua pria itu malah menyia-nyiakannya.
"Minah-ssi, ada apa? Kau melihatku terus sejak tadi?" Tanya Ten, ia sadar jika wanita muda di hadapannya itu terus memandang ke arahnya.
"Ah ani nyonya tidak ada apa-apa." Ucap Min-ah sedikit gugup.
"Aku benci panggilan seperti itu, panggil saja aku eonni. Sepertinya kau lebih muda dariku, benar kan?" Tanya Ten.
"Ne nyo- ah maksudku eonni." Balas Minah. Ten terlihat tersenyum mendengar jawaban dari wanita itu, setidaknya akan lebih menyenangkan jika tak ada jarak antara mereka berdua karena mungkin saja Min-ah yang akan membantunya mengurus Hendery selama beberapa bulan kedepan.
Minah berinisiatif untuk membersihkan piring setelah makan siang, Ten menurut saja lagi pula ia harus menenangkan Hendery yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya setelah Ten menyelesaikan makan siangnya. Ten menimang Hendery dengan lembut dan membawa bayi kecil itu ke ruang kerjanya, wanita itu berniat mengecek ponselnya dan melihat apa yang terjadi setelah ia tak menyentuh ponsel itu selama tiga hari lamanya. Ten membaca semua pesan yang masuk ke ponselnya, sesekali ia nampak tersenyum kala membaca beberapa ucapan selamat dari rekan kerjanya atau kerabatnya. Namun Ten sedikit menekuk bibirnya saat membaca pesan dari ibunya, wanita itu belum bisa datang kemari karena tiba-tiba saja ayahnya jatuh sakit. Ten berusaha membalas pesan itu senormal mungkin, sekalipun ia bersedih tetap saja kesehatan kedua orang tuanya yang paling utama. Mungkin Ten yang akan menyusul mereka kesana beberapa bulan lagi.
Ten nampak mengernyit kala mendapati nomor tidak dikenal mengirimkan pesan padanya. Mulanya ia tak mempedulikan pesan tersebut, namun ia semakin penasaran kala mendapati beberapa gambar yang terus masuk ke ponselnya. Dengan ragu Ten membuka pesan tersebut, setelahnya ia hanya terdiam dengan netra indahnya yang berkaca-kaca. Orang di foto itu adalah suaminya dan Ten lebih terkejut saat mendapati tanggal yang berada di pojok kanan bawah foto tersebut. Foto itu diambil tepat saat Ten melahirkan Hendery, jadi itulah mengapa Johnny amat sulit dihubungi malam itu. Ten duduk bersandar di pintu ruang kerjanya dan mulai menangis dalam diam, ia khawatir suara tangisannya akan membangunkan Hendery yang baru saja memejamkan matanya.
Ten benar-benar membulatkan keputusannya hari itu, ia benar-benar akan membawa Hendery pergi bersamanya tanpa peduli lagi dengan Johnny yang benar-benar telah menyakiti hatinya. Nyatanya setelah Ten memberikan kesempatan kedua pada suaminya, pria itu tetap tak memanfaatkannya dengan baik. Pria itu malah kembali menorehkan luka yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. Dari depan pintu ruang kerja majikannya Min-ah hanya berdiri mematung, ia jelas mendengar suara tangisan majikannya yang terdengar lirih siang itu, lirihan menyakitkan yang seolah menggambarkan sesakit apa luka yang tengah ia rasakan.
Seminggu sudah Min-ah tinggal di kediaman Ten dan Johnny, dan selama itu pula Johnny belum menunjukkan batang hidungnya. Min-ah tengah merapikan kamar majikan kecilnya seraya mengawasi bayi laki-laki itu yang tengah tertidur lelap. Ten tengah berada di kamarnya, kamar yang sebelumnya ia tempati dengan suaminya. Wanita itu terlihat menyeret dua koper berukuran besar dan membawanya masuk ke kamarnya. Ten memindahkan semua pakaiannya, mengosongkan lemarinya tanpa menyisakan satu barang pun disana. Ia beralih ke sisi lain yang ada di kamarnya, mengambil paspor dan visa serta beberapa buku tabungan miliknya. Ten sedikit tersenyum kala membuka buku tabungan tersebut, jemari lentiknya menunjuk seberapa banyak angka nol yang berderet disana. Setidaknya uang itu akan cukup untuk menyewa apartemen nantinya, atau mungkin membawa Hendery pulang ke kampung halamannya setelah bayi kecil itu cukup usia.
Ten juga membuka laci yang menyimpan beberapa perhiasannya, sebagian kecil barang tersebut ia beli menggunakan uangnya sendiri. Sisanya adalah pemberian Johnny atau ibu mertuanya, Ten merapikan kotak tersebut dan memasukkannya ke dalam tote bag berukuran sedang yang ada disana, mungkin Ten akan mengembalikannya sesegera mungkin sebelum ia pergi nanti. Setelah mengambil semua barang-barangnya yang ada disana Ten dengan susah payah menyeret koper besar itu dengan seluruh tenaganya, bagaimanapun juga tenaganya tak sebesar yang orang kira terlebih ia baru melahirkan anaknya seminggu yang lalu. Sebuah tangan besar nampak menghentikan kegiatan yang tengah Ten lakukan, wanita itu mendongak dan sedikit mencibir saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Itu Johnny, pria itu akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya setelah Ten menolak kunjungannya di rumah sakit beberapa hari lalu.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Johnny, ia cukup terkejut melihat Ten yang tengah menyeret koper besar dengan kedua tangannya.
"Tentu saja pergi dari sini, kau pikir apa lagi yang bisa aku lakukan?" Tanya Ten dengan suara yang begitu menusuk telinga Johnny.
"Jangan halangi jalanku, aku akan pergi dan membawa Hendery ikut bersamaku." Sambung Ten, ia sedikit mendorong tubuh tinggi Johnny yang masih berdiri di hadapannya.
"Kau gila? Kau mau memisahkan aku dari Hendery?" Ucap Johnny.
"Lebih gila mana denganmu yang memilih tidur bersama Heejin saat aku tengah bertaruh nyawa. Kau pikir Hendery tidak akan malu jika saat besar nanti ia mendengar semua tingkah gila ayahnya?" Balas Ten tajam. Johnny hanya terdiam, tak ada lagi yang bisa ia katakana hari itu.
"Aku mencintaimu Ten…. Kau tak bisa pergi begitu saja." Ucap Johnny setelah cukup lama terdiam, ia bahkan sudah menggenggam tangan Ten dengan erat. Ten menghempaskan tangan Johnny dengan seluruh tenaganya, ia menghembuskan nafas panjang sebelum mengucap rentetan kalimat panjang di hadapan suaminya.
"Cinta? Kau bilang cinta? Kau bahkan bukan lagi Johnny yang ku kenal, aku benar-benar tak tahu siapa kau sekarang. Disini…. Di hati ini bukan lagi hanya ada namaku, kau telah membaginya dan memberikan kesempatan untuk orang lain bertahta disana." Ten berucap dan semakin mendekat ke arah Johnny, jari telunjuknya menunjuk bagian dada Johnny yang berhasil membuat pria itu terdiam.
"Masih ingat dongeng yang pernah aku bacakan untukmu? Jangan terlalu sering membual. Orang-orang benar-benar tak akan percaya sekalipun mulutmu berucap kebenaran." Sambung Ten, ia kembali menuruni anak tangga dan memasuki kamar Hendery, masih banyak barang yang harus ia rapikan sebelum meninggalkan istananya yang semula ia kira surga nyatanya itu hanyalah neraka.
Ten meniti anak tangga dengan manik indahnya yang nampak berkaca-kaca. Sekuat apapun ia mencoba menahan nyatanya pertahanannya runtuh juga. Ten benar-benar terluka atas semua perbuatan yang Johnny lakukan padanya. Ten menangis diam-diam di kamar anaknya, tangisan itu benar-benar menggambarkan kepedihan yang tengah ia rasakan karena sejatinya tak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah pengkhianatan untuk mereka yang mengagungkan sebuah kesetiaan.
