19. She's Gone

Pagi ini Ten telah berdandan rapi, wanita itu nampak tengah bersiap-siap karena harus segera pergi dan tak bisa lagi mengulur waktunya. Ten menitipkan Hendery pada Min-ah karena bayi kecil itu masih tertidur lelap, setelahnya ia mengendarai mobilnya menuju rumah besar yang sudah amat ia kenal. Setelah turun dari mobilnya, Ten nampak menghela nafas panjang. Ia menatap bangunan kokoh rumah itu sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke dalam sana.

"Ten…. Kenapa datang kemari? Kau sudah sehat?" Kedatangan Ten disambut oleh ibu mertuanya seraya tersenyum cerah. Wanita tua itu terlihat khawatir kala mendapati menantunya yang tiba-tiba saja datang mengunjunginya.

"Hum…. sudah benar-benar sehat eomma." Jawab Ten seraya sedikit terkekeh.

"Apa abeoji ada di rumah?" Tanya Ten tiba-tiba. Nyonya Seo menatapnya heran, pasalnya jarang sekali Ten menanyakan tentang keberadaan ayah mertuanya itu.

"Iya, abeoji ada di ruang kerjanya. Apa kau ingin bertemu dengan abeoji, sayang?" Tanya nyonya Seo penuh kelembutan. Ten mengangguk ragu dan setelahnya ia kembali berucap.

"Boleh kita bicara eomma, bersama abeoji juga." Ucap Ten. Wanita paruh baya di hadapannya nampak mengangguk, setelahnya ia mengajak Ten ke lantai atas untuk menemui suaminya yang berada di ruang kerjanya.

Ten tengah duduk di sofa besar yang berada di ruang kerja mertuanya, wanita itu hanya terdiam dan sibuk memandangi secangkir Ten yang baru saja dihidangkan. Entahlah kemana perginya semua keyakinannya, tiba-tiba saja ia hanya mampu diam membisu seolah tak tahu akan memulai semuanya dari mana.

"Apa Johnny sudah lebih baik? Kuharap anak itu tak lagi bertingkah kekanak-kanakan." Tuan Seo membuka pembicaraan setelah menikmati secangkir teh miliknya, Ten nampak mendongak ia tak tahu harus membalas perkataan mertuanya itu dengan reaksi seperti apa.

"Abeoji…." Ten mulai membuka mulutnya dan kembali menghela nafas panjang.

"Ada apa Ten? Apa yang ingin kau katakan?" Tanya tuan Seo.

"Aku ingin bercerai dengan Johnny." Ucap Ten dalam satu tarikan nafas. Pria paruh baya yang ada di hadapannya itu nampak terkejut, bahkan ia hampir saja tersedak teh miliknya. Berbeda dengan nyonya Seo, wanita itu tampak tersenyum sekilas seolah sudah tahu jika hal yang seperti itu memang akan terucap dari mulut menantu kesayangannya.

"Apa karena masalah itu? Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik?" Tanya tuan Seo, bagaimanapun juga pria paruh baya itu amat menjaga martabat keluarganya dan ia amat membenci perceraian.

"Ani…. Johnny punya wanita lain, mereka sudah memiliki anak yang bahkan lebih tua dari Hendery." Ten menghentikan ucapannya dan menarik nafas dalam, entah kenapa hatinya begitu sakit saat harus menjelaskan apa yang Johnny perbuat padanya.

"Dan- saat aku melahirkan Hendery, Johnny tidur bersama wanita itu. Pria itu bahkan tak mempedulikan sebanyak apa panggilan yang kubuat dengan sisa tenaga yang kupunya." Lirih Ten, pertahanannya runtuh juga hari itu. Nyonya Seo lantas memeluk erat menantunya dan membiarkan Ten menangis disana. Tuan Seo masih terdiam dan berusaha mencerna apa yang baru saja menantunya katakan, jadi selama ini sebejat itukah anaknya tanpa ada seorang pun yang memberi tahunya dan berakhir membuat putri cantik dari keluarga lain terluka.

"Kenapa baru sekarang? Kenapa kau menahan semua rasa sakit yang Johnny berikan Ten?" Tanya tuan Seo.

"Aku baru mengetahui perselingkuhannya saat tengah mengandung Hendery abeoji, aku benar-benar frustasi saat itu. Tapi Johnny kembali datang seolah memberikan harapan indah padaku, bagaimanapun juga aku sangat mencintainya dan aku tak mau Hendery lahir tanpa ayah. Tapi nyatanya Johnny kembali mengkhianati kesempatan yang kuberikan." Lirih Ten dalam tangisnya.

Tuan Seo mulai memijat pelan pangkal hidungnya, kepalanya tiba-tiba saja begitu berdenyut saat mendengar penuturan menantunya. Ia benar-benar tak menyangka jika Johnny bisa memperlakukan istrinya begitu buruk jika mengingat kembali betapa manisnya mereka saat masih berkencan dulu.

"Jadi sekarang bagaimana? apa kau sudah yakin dengan keputusan yang akan kau buat?" Tanya tuan Seo pada menantunya. Ten hanya mengangguk dan masih sibuk dengan tangisannya, bagaimanapun juga ia tak akan mengubah keputusannya. Ia hanya ingin kembali melanjutkan hidupnya tanpa ada seorang pun yang merusak kebahagiaannya.

"Lakukan apapun yang kau mau Ten, tinggalkan Johnny. Anak itu bahkan tak pantas mendapatkan sedikit saja belas kasihanmu." Ucap tuan Seo tegas, setelahnya pria paruh baya itu bangkit dan meninggalkan dua wanita beda usia itu di ruang kerjanya. Tuan Seo meminta sekretarisnya menghubungi pengacaranya hari itu juga, ia akan melakukan hal lain yang membuat Johnny menyesal atas semua tindakan bodohnya.

"Eomma…. Ini…. Aku ingin mengembalikan ini." Ten yang telah berhenti menangis nampak menaruh tote bag yang sejak tadi ia bawa ke atas meja, tak lupa wanita itu juga menyerahkan kunci mobil yang memang pemberian dari mertuanya beberapa bulan silam.

"Kenapa dikembalikan, ambil saja. Ini untukmu." Ucap nyonya Seo dengan suara paraunya bagaimanapun juga ia merasakan kesedihan yang mendalam saat harus melepaskan Ten dari keluarganya.

"Ani eomma, sebentar lagi aku bukanlah istri Johnny. Aku tak pantas menerima semua kebaikanmu hiks…." Ten kembali menangis saat menatap wajah cantik wanita paruh baya di hadapannya itu, bagaimanapun juga ibu mertuanya itu amat baik padanya, bahkan nyonya Seo seolah melengkapi kekosongan di hati Ten saat ia tengah merindukan orang tuanya yang berada jauh disana.

"Eomma memberikan ini bukan karena kau menikahi anakku, tapi eomma benar-benar menyayangimu. Kau sudah seperti putri kecil untuk eomma." Lirih wanita paruh baya itu, jemari tuanya nampak menghapus jejak air mata yang membasahi pipi menantunya pagi itu.

"Ambil saja ya, eomma akan sangat sedih jika kau menolaknya." Sambung nyonya Seo, Ten hanya mengangguk dalam tangisnya, mulutnya benar-benar tak sanggup lagi untuk berkata-kata.

"Jadi setelah ini kalian akan kemana?" Tanya nyonya Seo, ia mengajak Ten keluar dari ruang kerja suaminya dan melanjutkan obrolan mereka di taman belakang rumah keluarga Seo yang berukuran cukup luas.

"Mungkin aku akan menyewa apartemen untuk ditempati bersama Hendery nantinya. Tapi eomma…. Apa boleh aku pinjam Min-ah sebentar lagi." Ucap Ten sedikit memelas.

"Ani…. Bawalah Min-ah bersamamu, dia bisa membantumu merawat Hendery nantinya." Jelas nyonya Seo menanggapi ucapan menantu cantiknya.

"Terima kasih eomma." Ucap Ten seraya memeluk erat tubuh ibu mertuanya.

"Hum…. mungkin aku akan kembali ke Thailand saat Hendery sudah sedikit lebih besar, tapi eomma jangan khawatir aku akan tetap memberikan kabar tentang Hendery pada eomma." Jelas Ten.

"Dengar…. Hendery memang hakmu, dia anakmu. Bawalah dia pergi bersamamu, eomma yakin kau bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Hendery pasti sangat bangga memiliki ibu sepertimu." Ucap wanita paruh baya itu.

"Eomma…. Terima kasih banyak, hiks…." Ten mengeratkan pelukannya pada tubuh wanita paruh baya yang ada di hadapannya, entah akan jadi seperti apa ia jika tak ada mertuanya.

"Pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar jika kau ingin kemari, Ten bisa menemui eomma jika membutuhkan tempat bersandar. Eomma akan tetap berada disini dan tak akan kemana-mana." Ucapnya seraya mengelus lembut surai hitam Ten.

"Hum…. aku akan mengajak Hendery kemari nanti, bagaimanapun juga ia perlu tau jika memiliki halmeoni dan harabeoji yang luar biasa." Balas Ten seraya tersenyum cerah dan menunjukan deretan gigi putihnya yang rapi.

Keesokan harinya Ten masih menjalani hari-harinya seperti biasa, tentu saja ia kembali melanjutkan kegiatannya mengemasi semua barang-barangnya. Saat tengah asyik di ruang kerjanya tiba-tiba Min-ah menghampirinya dan mengatakan jika ada tamu yang datang. Ten turun ke bawah dan cukup terkejut mendapati kedatangan ibu mertuanya yang telah berada disana dengan asisten pribadinya. Wanita paruh baya itu beralasan ingin menemui cucunya, Ten mengajaknya masuk ke kamar Hendery dan kebetulan sekali bayi kecil itu tengah membuka matanya. Nyonya Seo memekik gemas saat bayi kecil yang belum genap berusia satu bulan itu memandangnya dengan mata kecilnya. Bayi kecil itu benar-benar menggemaskan, seharusnya ia bisa merasakan kehangatan keluarganya namun karena kebodohan yang ayahnya perbuat ia malah merasakan hal yang sebaliknya.

"Ini apa eomma?" Ten nampak terkesiap saat asisten sang ibu mertua meletakkan amplop coklat dengan ukuran besar di hadapannya.

"Untukmu dan Hendery, tidak perlu cari apartemen lagi eomma sudah siapkan untuk kalian." Jelas nyonya Seo di tengah aktivitasnya menimang cucu laki-lakinya.

"Eomma tapi ini berlebih-"

"Terima saja ya sayang…. Anggap saja itu hadiah atas kelahiran Hendery." Ucap wanita paruh baya itu. Ten rasanya ingin memukul wajahnya dan membuktikan apakah ia tengah bermimpi atau tidak, pasalnya ia ingat dengan jelas jika nama apartemen yang baru saja ia baca bukanlah apartemen biasa, malah termasuk unit yang cukup mahal di pusat kota Seoul.

"Ini nyonya…. Anda dan tuan muda Hendery bisa menempati apartemennya kapan saja dan semua barang-barang disana telah kami lengkapi." Ucap pria bersetelan rapi yang sejak tadi berdiri di belakang mereka, ia menyodorkan kartu akses pada Ten yang membuat wanita itu semakin ternganga. Ten sama sekali tidak percaya dengan apa itu reinkarnasi tapi jika hal semacam itu benar-benar bisa terjadi mungkin saja ia adalah seorang putri raja di masa sebelumnya atau mungkin seorang pahlawan. Pasalnya di kehidupan yang sekarang ia begitu mendapatkan banyak keberkahan di tengah badai besar yang tengah coba ia hadang.

"Cucuku harus tinggal di tempat terbaik, ambil saja anggap saja itu milik Hendery." Jelas wanita paruh baya itu.

Hari ini Ten bersiap pindah ke apartemen barunya, beberapa petugas jasa pengangkutan terlihat telah selesai mengangkut semua barang-barang milik Ten. Selanjutnya Ten nampak mulai melajukan mobilnya, disana ada Min-ah dan Hendery yang tengah digendong oleh wanita muda itu. Ten tersenyum sekilas saat meninggalkan rumahnya, bagaimanapun juga telah banyak kenangan indah yang terukir disana sekalipun ada sedikit luka di dalamnya. Ten pergi tanpa berpamitan pada Johnny, lagipula pria itu tak lagi menampakkan batang hidungnya setelah berdebat dan berusaha menghentikan Ten yang tengah berkemas. Entahlah mungkin Johnny sedang bersembunyi di tempat lain, Ten pun tak mau peduli akan hal itu.

Johnny baru saja memasuki rumahnya, rumah itu terlihat sangat sepi bagai tak berpenghuni. Johnny nampak memijat pelipisnya kala rasa pusing menyerang. Sejak insiden beberapa hari lalu pria itu benar-benar pergi untuk menenangkan pikirannya, Johnny menghabiskan malamnya dengan berbotol-botol wine yang berhasil membuatnya sakit kepala. Pria itu bahkan memutuskan untuk menempati salah satu hotel dan benar-benar tak menyentuh ponselnya. Ia hanya termenung seolah tengah meratapi semua kesalahannya, bahkan Heejin yang kembali menghubunginya sama sekali tak dihiraukan. Bagaimanapun juga wanita itu turut andil dalam perceraiannya dengan istrinya.

Pria tinggi itu memutuskan untuk masuk ke kamarnya, ia membuka lemari pakaian dan tersenyum miring saat tak mendapati sehelaipun pakaian Ten disana. Ia juga nampak tersenyum kecil kala melihat benda yang ada di atas meja rias istrinya, sebuah black card Hyundai yang sempat Johnny berikan pada Ten di awal pernikahan mereka juga cincin berlian nampak tergeletak disana. Ten benar-benar telah melepaskan cincin pernikahan mereka, wanita itu juga meninggalkan cincin berlian yang Johnny berikan di hari ulang tahunnya.

Surat Gugatan Perceraian

Tulisan di amplop coklat yang berada disana benar-benar mengganggu netra tajam Johnny, bukankah dengan adanya surat itu sudah cukup menjelaskan sepelik apa hubungan mereka. Ten benar-benar pergi, wanita itu memegang teguh kata-katanya dan tak akan pernah kembali untuk sekedar membiarkan Johnny menebus semua rasa bersalahnya.