20. As Time Goes By

Hari ini genap empat bulan sudah Ten menempati apartemennya, wanita itu juga belum kembali ke kantornya karena masih memiliki sisa cuti sekitar satu bulan kedepan. Selama di rumah Ten selalu menghabiskan waktu dengan Hendery, bayi kecil yang genap berusia empat bulan itu mulai bisa berceloteh riang dan akan senang sekali jika diajak bicara. Hendery juga sudah mulai belajar untuk duduk, dan bayi kecil itu akan sangat suka jika duduk di pangkuan sang mama. Hari ini Ten hanya berdua bersama anaknya kebetulan hari ini adalah hari sabtu jadi Ten bisa melalui harinya dengan bebas tanpa tumpukan buku yang harus ia revisi seperti hari-hari sebelumnya. Untuk Min-ah, wanita muda itu tidak tinggal bersama Ten dan Hendery ia meminta untuk tinggal dengan sepupunya di sebuah apartemen studio yang berjarak tak jauh dari apartemen Ten. Ten sama sekali tidak masalah, lagipula selama ini Min-ah selalu melakukan pekerjaannya dengan baik.

Proses perceraian Ten dan Johnny masih berlangsung dan mungkin akan dilakukan sidang putusan di bulan depan. Tentu saja Ten sangat menunggu hari itu, lagipula selama ini ia tak pernah menghadiri sesi mediasi yang diadakan oleh pengadilan. Bukankah itu sudah membuktikan sebesar apa tekadnya untuk bercerai. Sekalipun mereka hanya tinggal berdua, Ten sama sekali tak merasa kesepian. Ia kerap kali mendapatkan kunjungan dari teman-temannya bahkan beberapa hari lalu mertuanya baru saja datang untuk menjenguk Hendery. Pasangan pria dan wanita paruh baya itu memang kerap kali berkunjung ke kediaman Ten, mereka benar-benar tak ingin melewatkan tumbuh kembang cucu kecil mereka.

Ten berjalan ke arah pintu apartemennya, ia tersenyum saat mendapati sosok wanita yang tengah ia kenal muncul dari layar intercom. Itu Jungwoo dan Doyoung, dua wanita itu memang kerap berkunjung kemari terlebih setelah tahu sebesar apa apartemen Ten.

"Aigoo…. Dery…. Sudah rindu dengan imo ya?" Jungwoo terlihat begitu antusias saat melihat Hendery yang tengah berada dalam gendongan Ten, bayi kecil itu juga ikut tersenyum saat mendengar ucapan Jungwoo seolah mengerti apa yang tengah wanita itu katakan.

"Jangan sentuh…. Cuci tangan dulu sana, kenapa sih kau selalu menggendong Dery begitu tiba disini." Kesal Ten, pasalnya ini bukan pertama kalinya Jungwoo berniat menggendong anaknya saat baru datang berkunjung. Entahlah setelah kelahiran Hendery sepertinya Jungwoo menemukan mainan barunya.

Jungwoo berlari menuju ke kamar mandi terdekat yang ada di apartemen sahabatnya itu dan bergegas mencuci tangannya. Ia juga terlihat sibuk mengelap tangan basahnya menggunakan tisu. Setelah kering Jungwoo nampak menyambar tubuh kecil Hendery dari ibunya, Hendery sama sekali tak menangis ia malah terlihat mulai tertawa seperti baru saja menemukan harta karunnya.

"Apa sajangnim sudah bilang padamu jika cerita yang kau kirim sebulan lalu lolos lagi untuk naik cetak?" Ucap Doyoung yang terlihat tengah mengeluarkan makanan yang baru saja ia beli.

"Jinjja? Sajangnim belum menghubungiku." Ucap Ten.

"Mungkin sebentar lagi dia akan menghubungimu." Balas Jungwoo.

"Orang tua itu selalu saja membuatku sibuk." Keluh Ten.

"Tapi bukankah namamu makin dikenal akhir-akhir ini, kau tak ingat secepat apa bukumu habis terjual. Ah rasanya aku tak sabar menunggu Dery bisa membaca." Monolog Doyoung.

"Pikiranmu terlalu jauh, bahkan Dery belum genap satu tahun." Kekeh Ten.

Memang sejak beberapa bulan lalu nama Ten mulai dikenal di kalangan pecinta buku anak-anak. Bahkan buku karangannya selalu berhasil terjual dalam waktu yang singkat, beberapa hari lalu ibu Jaehee sempat menghubungi Ten dan mengatakan jika buku cerita hasil karangannya terjual dengan cepat di salah satu toko buku yang ada di Jeju. Ibu Jaehee juga menceritakan pada Ten bagaimana Jaehee berkelakar pada teman-teman kelasnya jika penulis buku tersebut adalah imo kesayangannya. Tentu saja Ten sangat senang mendapatkan kabar semacam itu, setidaknya itu bisa menutupi sedikit luka hatinya.

Ten, Jungwoo, dan Doyoung menghabiskan waktu mereka dengan bahagia para wanita itu juga sesekali tertawa saat melihat tingkah Hendery yang amat menggemaskan. Hari itu mereka bertiga bercerita tentang banyak hal, entah itu masalah pekerjaan atau bagaimana sulitnya menjalani kehidupan. Jungwoo juga bercerita jika ibunya selalu menelepon dan memintanya untuk pulang ke rumah. Bicara soal orang tua Ten jadi teringat dengan kedua orang tuanya, bahkan Ten belum mengabarkan pada kedua orang tuanya perihal perceraiannya dan Johnny yang tengah ia lakukan. Ten hanya tak mau menambah beban pikiran bagi keluarganya yang berada jauh disana, mungkin Ten akan memberitahu mereka di waktu yang tepat yang Ten sendiri tak tahu kapan.

Hari ini Ten tengah bersiap untuk datang ke pengadilan karena sidang putusan perceraiannya akan diadakan hari ini. Min-ah sudah datang sejak beberapa jam yang lalu sehingga wanita muda itu bisa menggantikan Ten untuk menjaga Hendery. Setelah selesai dengan segala persiapannya, wanita itu lantas bergegas pergi setelah sebelumnya mengecup bayi kecilnya yang tengah tertidur lelap.

"Eonni apa perlu kita buat pesta malam ini?" Tanya Min-ah penuh semangat.

"Kau bahkan terlihat lebih senang daripada aku." Kekeh Ten.

"Tentu saja aku senang, bukankah artinya setelah ini eonni bisa menjalani hidup dengan bebas. Sepertinya Dery juga sudah sangat siap memiliki ayah baru." Ledek wanita muda itu.

"Sudah ah, bicaramu semakin aneh saja, aku pergi dulu ya. Titip Dery sebentar. Annyeong…." Pamit Ten pada wanita muda itu.

Palu diketuk tanda berakhirnya persidangan, hari ini Ten resmi melepas marga Seo dari belakang namanya. Rona kelegaan terpancar jelas dari wajah wanita itu, Ten bangkit dari duduknya dan bersiap meninggalkan pengadilan. Ia melirik sekilas, diseberangnya nampak Johnny yang masih terduduk seraya menundukan kepalanya. Ten tersenyum dan menghampiri pria itu, ia menyodorkan tangannya di hadapan Johnny dan berhasil membuat pria itu mendongak seketika. Dengan ragu Johnny bangkit dari duduknya dan menjabat tangan mantan istrinya hari itu, entahlah mungkin itu adalah jabat tangan terakhir mereka.

"Terima kasih sudah sempat menjadi tempat bersandar ku saat di Korea. Hiduplah dengan baik, kau bahkan terlihat lebih kurus setelah empat bulan kutinggal pergi." Ucap Ten, Johnny tersenyum sekilas bahkan wanita itu masih sama, ia masih suka memperhatikan semua detail yang ada dalam dirinya.

"Aku akan merawat Dery dengan baik, tidak perlu repot-repot mencari kami. Aku permisi dulu." Wanita itu melepas jabat tangan mereka berdua dan kembali melangkah untuk meninggalkan gedung pengadilan. Wanita cantik itu terlihat menghembuskan napas lega saat baru saja keluar dari pintu pengadilan, ia bergegas merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang disana.

"Yak! Lee Min-ah, lebih enak ayam goreng atau pizza?" Ucap Ten seraya terkekeh, rasanya akan sangat menyenangkan jika mengajak wanita muda itu berpesta setibanya dia di rumah nanti.

"Eonni jangan macam-macam, kau masih menyusui Dery."

"Aku mengerti…. Tapi aku sangat senang sekarang, kau tunggu disana ya aku akan pastikan kita berpesta malam ini. Jika perlu ajak sepupu mu juga." Ucap Ten.

"Ne, hati-hati di jalan eonni."

Ten meniti anak tangga dengan perasaan riang, bahkan hembusan angin yang menerpa wajahnya di depan gedung pengadilan semakin membuat suasana hatinya menjadi lebih indah. Entahlah Ten hanya merasa beban beratnya terangkat begitu saja dan setelah ini ia hanya perlu berfokus pada pangeran kecilnya juga pada karirnya. Sepertinya Ten masih memiliki kesempatan beberapa tahun ke depan untuk mengumpulkan pundi-pundi di Korea.

Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa bulan depan Hendery akan berusia satu tahun. Bayi kecil itu begitu aktif dan cukup membuat Ten kerepotan, Hendery sudah bisa mengelilingi apartemen mereka dengan kaki kecilnya. Anak kecil itu juga kerap-kali memasuki ruangan sang mama hanya untuk melihat tumpukan buku cerita. Biasanya Hendery akan membuka buku tersebut dan bertingkah seolah tengah membacanya, hal itu tentu saja selalu berhasil membuat Ten gemas dibuatnya. Siang ini Ten tengah menemani Hendery bermain di salah satu ruangan kecil yang memang ia sulap menjadi play room untuk anak kecil itu.

Hendery terlihat begitu ceria, ia sesekali terkekeh saat melihat Ten meledeknya dengan menggunakan topeng hewan yang ada disana. Ten juga mulai memperkenalkan Hendery pada beberapa mainan yang bisa menstimulus perkembangannya. Lihat saja siang itu, bahkan Hendery begitu semangat saat menumpuk balok kayu yang entah akan disulap jadi apa.

"Kenapa pintar sekali sih…. Kiss mama…." Ucap Ten, Hendery dengan semangat bangkit dari duduknya dan mengecup lembut bibir sama mama hingga membuat wanita itu tertawa.

Ten nampak terkejut kala mendengar bel apartemennya berbunyi, ia bergegas mengajak Hendery keluar dari play room nya dan membiarkan anak kecil itu berjalan mengikutinya untuk melihat siapa yang baru saja datang ke apartemen mereka. Ten tersenyum saat mendapati siluet ibu mertuanya terlihat jelas di intercom, dengan cepat wanita itu membuka pintu dan mengajak wanita paruh baya itu masuk ke apartemennya, senyuman di wajah wanita cantik itu makin melebar kala mendapati Jaehee dan ibunya yang juga ikut berkunjung kesana.

"Aku bawakan abalone, ini sangat baik untuk anak kecil." Ucap ibu Jaehee, Ten mengangguk semangat dan menyeret wanita itu untuk masuk ke dalam.

"Oni…. Oni…." (halmeoni halmeoni) Hendery berucap kala mendapati wanita paruh baya yang ia kenal sebagai neneknya, batita itu nampak bersemangat dan mendekati nyonya Seo seolah meminta wanita paruh baya itu untuk menggendongnya.

"Aigoo…. Sudah rindu halmeoni ya…." Ucap wanita paruh baya itu pada cucunya, Hendery mengangguk semangat hingga membuat rambutnya bergerak lucu. Hal itu membuat Jaehee bangkit dari duduknya dan mencubit gemas pipi batita itu.

"Jaehee…. Jangan begitu, nanti Dery kesakitan." Ucap ibu Jaehee berusaha mencegah tindakan anaknya.

"Dery gemas sekali eomma ayo bawa pulang ke Jeju." Ucap anak perempuan itu yang sontak berhasil mengundang gelak tawa dari para wanita dewasa disana.

"Kalau Dery ke Jeju lalu imo dengan siapa di Seoul?" Balas Ten sedikit memelas.

"Imo ikut juga, nanti imo bisa tinggal di rumah Jaehee, lalu setiap hari Jaehee bisa memamerkan imo pada teman-teman." Ucap anak perempuan itu semangat. Ten hanya terkekeh mendengar ucapan keponakannya itu, bagaimanapun juga Jaehee hanyalah anak SD yang masih begitu polos.

"Bulan depan Dery berusia satu tahun kan?" Tanya ibu Jaehee.

"Hum…. Sebentar lagi umurnya dihitung dengan tahun, bukan lagi dengan bulan. Rasanya cepat sekali." Monolog Ten dengan ekspresi sedihnya.

"Sudah persiapkan doljanchi untuk Dery?" Sambung ibu Jaehee.

"Ah…. Apa harus eonni?" Tanya Ten ragu-ragu.

"Tentu saja kau harus melakukannya, itu sudah bagian dari tradisi keluarga. Dery senang kan akan ulang tahun bulan depan?" Bukan ibu Jaehee yang menjawab, melainkan mertua Ten. Wanita paruh baya itu terlihat begitu bersemangat dan mulai bermonolog pada cucu laki-lakinya.

"Hum…." Hendery seolah setuju dengan perkataan neneknya, batita itu terlihat mengangguk dan mengepalkan tangannya, tentu saja siapapun yang berada di sana akan dibuat gemas melihatnya.

Ten sedikit ragu perihal masalah doljanchi yang baru saja disinggung oleh mertuanya, pasalnya itu memang tradisi yang rutin dilakukan oleh keluarga Seo. Bahkan sejak Ten dan Johnny masih berkencan wanita itu sudah banyak menghadiri acara doljanchi yang diadakan untuk keponakan mantan suaminya itu. Sebenarnya Ten sama sekali tak berniat melakukannya, lagi pula ulang tahun anaknya cukup ia rayakan berdua dengan anak kecil itu. Tapi mau bagaimana lagi Ten sendiri benar-benar tak bisa menolak keinginan mertuanya, terlebih jika mengingat sebaik apa wanita paruh baya itu padanya selama ini.

"Papay…. Muach…." Hendery memberikan flying kiss pada tamu-tamu yang baru saja berpamitan dari apartemen mereka. Anak kecil itu awalnya begitu murung saat harus turun dari pangkuan neneknya namun dengan segala tipu daya yang Ten buat akhirnya Hendery kembali ceria dan bisa melepas kepulangan nenek, bibi, serta sepupunya.

"Doyoung-ah, apa doljanchi itu perlu dilakukan?" Tanya Ten pada Doyoung saat mereka berdua tengah menikmati makan siang di cafeteria.

"Ah benar, sebentar lagi Dery berusia satu tahun kan?" Ucap Doyoung penuh semangat. Ten hanya mengangguk seraya menikmati makanannya.

"Sebenarnya itu tradisi lama, aku juga tidak tahu pasti hal seperti itu harus dilakukan atau tidak. Tapi setahuku masih banyak orang yang melakukannya sampai saat ini tapi tentu saja dengan beberapa modifikasi karena menyesuaikan dengan zaman modern." Jelas Doyoung. Ten membulatkan mulutnya hari itu, ia memang cukup sering menghadiri doljanchi para keponakannya tapi belum tahu pasti apa makna dibalik itu semua.

"Apa kau berniat mengadakan doljanchi untuk Dery?" Tanya Doyoung.

"Sebenarnya aku tidak terfikir untuk melakukan itu, tapi mertuaku menginginkannya. Di keluarga Johnny memang seperti itu, bahkan aku sudah datang ke banyak doljanchi para keponakannya saat kami masih berkencan." Ucap Ten.

"Ah begitu rupanya, terserah kau saja, selama itu masih membuatmu nyaman kurasa tak apa jika kau melakukannya." Jelas Doyoung, bagaimanapun juga ia akan membiarkan sahabatnya itu memikirkan semuanya matang-matang, tentu saja pastinya banyak pertimbangan yang harus Ten pikirkan sebelum mengadakan doljanchi untuk Hendery.

Hari ini adalah hari diadakannya doljanchi untuk Hendery, salah satu sudut apartemen Ten telah disulap sebagain rupa dengan berbagai macam properti, jangan lupakan juga meja kecil dengan kumpulan tteok yang ada disana. Jadi setelah berkutat dengan pikirannya sendiri selama beberapa hari lalu, akhirnya Ten memutuskan untuk mengadakan doljanchi untuk anaknya, lagipula akan sangat indah jika itu menjadi kenangan dan tentunya kenangan itu akan bisa dinikmati oleh kakek dan neneknya jika suatu saat Ten dan Hendery benar-benar meninggalkan Korea.

Hendery terlihat begitu menggemaskan dengan hanbok yang membalut tubuh kecilnya. Hanbok yang anak kecil itu gunakan terlihat begitu indah dengan sokgui dan baji berwarna putih serta dilengkapi dengan jeogori yang berwarna hijau muda. Rambut Hendery yang mulai panjang juga diikat ke atas oleh sang mama hingga menambah kesan imut pada anak kecil itu. Saat ini Hendery tengah berada dalam gendongan kakeknya, anak kecil itu terlihat begitu senang saat tuan Seo mengangkatnya tinggi-tinggi dan berhasil membuatnya tertawa keras. Hari itu acara doljanchi tidak mengundang banyak orang, acara itu hanya dihadiri oleh kedua mertua Ten, ayah dan ibu Jaehee serta Jaehee dan beberapa teman Ten seperti Doyoung dan Jungwoo serta pasangan Taeyong dan Jaehyun. Ten tidak menghubungi Johnny hari itu, entahlah apa yang ia lakukan salah atau tidak tapi Johnny juga sama sekali tak menghubunginya sejak berakhirnya persidangan mereka. Mungkin pria itu tengah sibuk dengan dunianya, yang Ten dengar dari ayah Jaehee beberapa hari lalu katanya Johnny tengah dihukum oleh ayah mereka. Ten juga tak tahu hukuman semacam apa yang akan diberikan oleh ayah mertuanya itu.

Setelah serangkaian prosesi panjang doljanchi akhirnya sampailah pada saat yang ditunggu-tunggu. Hendery akan melakukan doljabi, anak kecil itu terlihat memeluk erat kaki Ten saat banyak orang bertepuk tangan untuknya. Mungkin Hendery sedikit gugup hari itu.

"Ayo Dery…. Coba lihat, ada mainan. Ayo pilih satu." Ten mengubah posisinya menjadi jongkok dan berucap kecil pada anaknya. Hendery malah semakin bersembunyi seraya menggelengkan kepalanya dan itu berhasil mengundang gelak tawa dari banyak orang.

Ten mengedarkan pandangannya untuk melihat apa saja yang ada disana, terlihat ada selembar uang, emas batangan, stetoskop, buku tulis, mainan pedang, benang, kue, dan yang terakhir serta yang paling menyita perhatian adalah sebuah gavel berwarna coklat. Seingat Ten itu adalah milik ayah mertuanya, sejak lama memang pria paruh baya itu selalu menambahkan gavel miliknya di setiap acara doljabi cucunya, entahlah mungkin pria itu berharap akan ada cucunya yang kelak meneruskan perjuangannya. Bagaimanapun juga hanya Johnny satu-satunya anggota keluarga Seo yang mengikuti jejak ayahnya di bidang hukum, sisanya tak ada lagi.

"Dery…." Ten membelalakkan matanya saat Hendery menarik gavel dengan tangan kecilnya. Semua orang nampak bersorak bahkan tuan Seo dan ayah Jaehee sampai bertepuk tangan saking girangnya.

"Akhirnya abeoji menemukan cucu yang akan jadi penerusnya." Canda ayah Jaehee. Ten tersenyum sekilas, ia ingat betul jika diantara para cucu di keluarga Seo belum pernah ada yang mengambil gavel di acara doljabi mereka dan mungkin hari ini Hendery jadi yang pertama bahkan sampai membuat kakenya bertepuk tangan saking senangnya.

"Dery senang hum? suka bermain dengan gavel?" Tanya tuan Seo yang tengah menggendong cucunya. Hendery mengangguk girang dan tersenyum cerah, bahkan sesekali anak kecil itu mencoba untuk menggigit gavel yang ada di tangan kakeknya.

"Jangan sedih…. Masa depan masih bisa berubah." Bisik ibu Jaehee di telinga Ten. Pasalnya ia jelas melihat raut kekecewaan dari wajah Ten sejak Hendery sibuk bermain dengan gavel coklat milik kakeknya. Entahlah seharusnya Ten senang tapi entah mengapa ada sedikit perasaan menolak di hatinya terlebih saat harus membiarkan anaknya kelak memiliki profesi yang sama dengan ayahnya. Ten hanya takut ia akan kembali mengingat semua lukanya setelah semua perjuangan panjang yang ia lakukan untuk menyembuhkan hatinya.

"Lagipula itu masih begitu lama eonni." Kekeh Ten seraya menunjukan deretan gigi putihnya dan kembali melanjutkan kegiatannya untuk mengobrol dengan ibu Jaehee.