21. The Chaos After You

Setelah bercerai dengan Ten, Johnny kembali melalui hari-harinya seperti biasa. Pria itu masih disibukkan dengan pekerjaannya dan sesekali menemui San yang mulai bertumbuh menjadi anak yang pintar dan menggemaskan. Heejin yang tahu jika Johnny baru saja bercerai dengan istrinya semakin sering menggoda pria tinggi itu, bahkan beberapa hari lalu Heejin meminta Johnny untuk menikahinya. Wanita itu juga dengan berani masuk ke rumah lama Ten dan Johnny yang masih pria itu tempati sampai saat ini.

"Lepaskan tanganmu Choi Heejin…." Johnny sedikit berteriak saat melihat Heejin yang berniat menurunkan foto pernikahan Johnny dan Ten yang masih terpajang dengan indah di ruang keluarga. Johnny benar-benar tak tahu sejak kapan wanita itu datang ke kediamannya dan mulai bertindak seenaknya.

"Kenapa? Bukankah akan lebih indah jika disana dipasangi foto pernikahan kita nantinya." Ucap Heejin seraya bergelayut manja di lengan kekar Johnny. Johnny menghempaskan tangan wanita itu dan bergerak menjauh darinya. Heejin hanya mendengus sebal dan memilih untuk duduk di sofa seraya kembali memainkan ponselnya.

"Kau punya banyak waktu untuk datang kemari tapi selalu tidak mau ngurus San." Ucap Johnny, pasalnya ia ingat betul jika San lebih banyak di rawat oleh Sora padahal Heejin tak memiliki kegiatan apapun untuk dilakukan.

"Aku lelah, San selalu menangis, tangisannya membuatku pusing." Keluh Heejin. Johnny benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu bahkan jika Sora tak mengajarkan banyak hal pada anaknya mungkin San memiliki tumbuh kembang yang lambat.

"Apa yang bisa kau harapkan dari seorang anak kecil yang bahkan belum genap dua tahun Heejin-ssi.

"Apa? Kau memanggilku apa? Heejin-ssi?" Wanita itu seolah tak terima, ia bangkit dari duduknya dan berniat mengejar Johnny yang tengah menaiki anak tangga.

"Jangan menggangguku, cukup diam jika kau tidak ingin kuusir dari sini." Heejin lantas beringsut pergi dan kembali duduk di sofa, bagaimanapun juga ia tak ingin Johnny melepaskannya bahkan sebentar lagi mungkin ia akan mencapai kemenangannya.

Johnny memasuki ruang kerjanya dengan segelas kopi yang baru saja ia buat, pria itu terlihat menyandarkan kepalanya ke kursi kerjanya dan menatap lurus ke arah lukisan besar yang terpajang di hadapannya. Itu adalah lukisan pohon besar yang belum sempat Ten selesaikan dan wanita itu memilih untuk meninggalkannya di rumah lama mereka. Bahkan jika Johnny berniat menyelesaikannya hasilnya tak akan sesempurna yang Ten lakukan. Johnny tersenyum miring dan melirik ke arah drawing pad milik Ten yang ada di mejanya. Itu adalah benda yang Johnny berikan di ulang tahun wanita itu dan Ten benar-benar meninggalkannya di sana seolah tak mau membawa kenangan tentang Johnny bersamanya.

Setelah puas memandangi lukisan yang ada di ruang kerjanya Johnny kembali berkutat dengan tumpukan dokumen yang ada di meja kerjanya. Baru beberapa menit ia membaca berkas persidangan tiba-tiba saja kepalanya begitu berdenyut seolah ingin pecah. Entahlah akhir-akhir ini fokusnya begitu mudah terpecah, lebih tepatnya setelah Ten memutuskan untuk bercerai darinya.

Jika karir Ten makin melesat setelah lepas dari mantan suaminya, hal demikian tak berlaku untuk Johnny. Berbagai permasalahan mulai mendatangi kantor firma hukumnya, bahkan Johnny sudah begitu kenyang menikmati omelan para klien kelas kakap karena beberapa kali kalah dalam persidangan.

"Tuan…. Tunggu…. Kalian tidak bisa masuk sembarangan." Johnny yang tengah memijat pelipisnya di ruangannya lantas menoleh kala mendengar suara nyaring Dokyeom yang tengah menghadang beberapa orang yang berniat masuk ke ruangannya.

"Dengan tuan Johnny Seo?" Johnny lantas bangkit dari duduknya dan menganggukan kepala menanggapi perkataan pria di hadapannya. Dari tempatnya berdiri saat ini Johnny dapat melihat dengan jelas jika ada sekitar empat orang bersetelan rapi dengan kotak berwarna biru di masing-masing tangan mereka.

"Kami dari kantor kejaksaan, Anda dicurigai terlibat dalam kasus penyuapan."

"Mulai kumpulkan semua barang bukti!" Ucap pria itu pada anak buahnya. Seketika ruangan Johnny jadi begitu ramai siang itu, bahkan Dokyeom masih berusaha menghentikan kegiatan orang-orang yang tengah mengacak ruangan atasannya itu. Johnny kembali duduk di sofa dan memijat pelan pelipisnya, bahkan rasa pening yang menyerangnya terasa lebih berat daripada sebelumnya.

Tuan Seo begitu murka setelah mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut asistennya. Pria muda itu mengatakan jika Johnny telah dibawa ke kantor kejaksaan untuk menjalani pemeriksaan terkait kasus penyuapan di salah satu persidangannya. Bahkan setelah perceraiannya putra bungsunya itu kembali berulah dan berhasil membuatnya pusing kepala. Johnny benar-benar telah mencoreng namanya, bagaimanapun juga tuan Seo adalah salah satu jaksa senior di kantor kejaksaan Seoul yang begitu diperhitungkan kredibilitasnya. Bagaimana mungkin seorang jaksa yang hebat malah berakhir dengan anaknya yang terlibat kasus penyuapan, benar-benar memalukan, pikir pria itu.

Johnny tengah berada di ruangan berukuran cukup kecil dengan seorang pria di hadapannya. Pria tinggi itu telah menghabiskan waktu selama delapan jam untuk menjawab semua pertanyaan yang terlontar disana. Tubuhnya benar-benar tak karuan dengan pening di kepalanya yang semakin menyiksa. Johnny baru bisa menghirup nafas lega setelah lima belas jam menghabiskan waktunya untuk diinterogasi orang-orang disana. Nyatanya semua tuduhan yang terlontar padanya benar-benar tak mendasar, ia hanya dijebak oleh rekannya yang tidak menyukai segala hal yang ia punya.

Johnny berjalan dengan penampilan yang tampak berantakan pagi itu, kemeja putihnya terlihat telah keluar dari celananya dengan dasi yang entah telah pergi kemana, jasnya yang berwarna abu-abu ia sampirkan di bahunya. Pria itu mulai menyulut rokoknya, setidaknya dengan merokok akan sedikit meringankan beban yang tengah ia rasakan. Dulu saat Ten masih bersamanya, wanita itu akan selalu berteriak saat Johnny menyulut rokoknya. Ten selalu bilang padanya jika rokok tak baik untuk kesehatan dan akan berakhir dengan ia yang mengajak Johnny melakukan hal lain untuk meredakan stressnya. Nyatanya sekarang tak ada lagi orang yang seperti itu, bahkah Johnny benar-benar lupa bagaimana caranya hidup dengan baik setelah Ten pergi meninggalkannya.

Johnny memasuki rumahnya, ia menoleh kala merasakan aroma tak asing yang menyambangi hidung bangirnya. Pria itu lantas pergi ke ruang keluarga dan nampak terkejut kala melihat Heejin yang tengah terbaring di sofa dengan berbagai botol minuman beralkohol yang tergeletak di atas meja. Pasti wanita itu mabuk semalaman dan berakhir tidur di sofa. Padahal jika diingat kembali ia telah berkali-kali meminta Heejin kembali ke apartemennya setidaknya ada San disana yang harus dirawat.

Dulu saat Ten masih bersamanya wanita itu akan menarik paksa botol wine dari tangan Johnny jika mendapati prianya itu tengah menenggak minuman berwarna keunguan itu, Johnny adalah penggila wine dan diberikan berkah oleh tuhan dengan kadar toleransi alkohol yang cukup tinggi. Dan jika kebetulan pikirannya perlu ketenangan maka wine adalah pilihan satu-satunya, Johnny selalu melakukan hal yang demikian sekalipun ia tahu jika Ten akan berucap panjang lebar nantinya. Setidaknya begitulah cara wanita itu memberikan perhatian padanya. Johnny tersenyum miris, bahkan sekarang tak akan ada lagi yang menghentikan kegiatan mabuknya, yang ada hanya Heejin yang akan ikut mabuk bersama Johnny karena ternyata wanita itu juga penggila alkohol dengan kebiasaan mabuk yang amat merepotkan.

Hari ini Johnny diminta sang ayah untuk menemuinya di rumah besar mereka. Saat Johnny datang, pria paruh baya itu nampak tengah berdiri menghadap ke arah jendela yang ada di ruang kerjanya. Ia mempersilahkan anaknya untuk duduk dan setelahnya melempar sebuah map di hadapannya. Dengan ragu Johnny meraih map tersebut dan melihat apa yang ada di dalamnya.

"Abeoji…. Bagaimana bisa? Bukankah sejak awal abeoji telah berjanji akan menyerahkan Suh & Park padaku?" Ucap Johnny tak percaya, pasalnya di surat itu tertulis dengan jelas jika Johnny bukan lagi calon pemilik Suh & Park. Bahkan jika tuan Seo meninggal nantinya firma hukum itu akan jatuh ke tangan anak dari tuan Park yang juga kebetulan seorang pengacara yang bernaung di sana.

"Apa yang bisa aku harapkan jika kinerjamu begitu berantakan akhir-akhir ini?"

"Kau pikir aku tidak tahu berapa banyak kau menelan omelan dalam beberapa bulan terakhir?" Tanya tuan Seo dengan nada suara yang sarat akan emosi.

"Abeoji bahkan anak tuan Park bukanlah pengacara atau jaksa, dia seorang dokter abeoji." Kesal Johnny.

"Kau tak ingat Park Sooyoung anak perempuannya, dia juga pengacara yang hebat sekalipun namanya tak sebesar namamu. Tapi Sooyoung tak pernah menimbulkan masalah sepertimu." Jelas tuan Seo.

Johnny nampak menunduk dan mengacak rambutnya, ia benar-benar merasa tak terima telah dikhianati oleh ayahnya sendiri.

"Mulai besok jangan datang lagi ke Suh & Park." Ucap pria paruh baya itu. Johnny mendongak dan membelalakkan matanya, entahlah kejutan seperti apa lagi yang akan ia terima dari ayahnya.

"Abeoji…." Johnny mulai merengek pada ayahnya, apakah keputusan untuk tidak membiarkan Suh & Park jatuh ke tangannya itu belum cukup untuk ayahnya.

"Namamu telah terdaftar di firma hukum yang ada di pinggiran kota, bekerjalah disana mulai besok. Aku akan tetap memantau semua kinerjamu dari sini, jadi jangan macam-macam." Jelas tuan Seo.

"Ani…. Aku akan tetap pergi ke Suh & Park." Ucap Johnny penuh keyakinan.

"Silahkan saja jika kau mau namamu dicoret dari daftar warisanku, kurasa akan lebih baik jika memberikan semuanya pada Hendery." Balas tuan Seo dengan seringaian liciknya. Johnny menghela nafas panjang, ia bangkit dari duduknya setelah sebelumnya mengambil paksa sekotak kartu nama baru miliknya yang baru saja diserahkan oleh ayahnya. Bagaimanapun juga Johnny tahu ayahnya bukanlah orang yang suka bermain-main, dan Johnny tak mau ambil resiko jika namanya dihapus dari daftar pewaris keluarga Seo.

Setelah pulang dari rumah kedua orang tuanya Johnny tak langsung kembali ke rumahnya, pria itu memilih untuk mengemudikan mobilnya sampai malam hari dan berakhir dengan berbotol-botol soju dilengkapi pemandangan malam sungai Han yang tersaji di hadapannya. Johnny menenggak soju miliknya yang entah botol ke berapa, biasanya ia akan datang bersama Ten ke sungai Han setelah mereka berdua lelah dengan segala rutinitas penat yang baru saja mereka lakukan. Biasanya satu sama lain akan bercerita tentang keluh kesah mereka, sekalipun lawan bicaranya tak bisa memberikan solusi setidaknya akan membuat hati terasa lebih tenang seolah beban berat yang sebelumnya ditanggung terangkat begitu saja karena telah diceritakan pada orang lain. Dan dulu Johnny amat menyukai aktifitas itu, biasanya ia akan menyeret Ten ke sungai Han dan berakhir dengan cerita panjang serta menikmati ramyeon berdua. Rasanya masa-masa itu begitu indah dan tak mungkin lagi untuk terulang.

Dulu jika Johnny diterpa masalah seperti sekarang akan ada Ten yang menenangkannya atau memberikan berbagai macam solusi aneh yang bersarang di otaknya dan itu selalu berhasil membuat Johnny tertawa. Sekarang tak ada lagi wanita yang seperti itu, Ten nya yang baik hati telah pergi dan sama sekali memiliki niat untuk kembali. Bahkan kata-kata perpisahan yang Ten ucapkan di kantor pengadilan masih terngiang-ngiang di kepalanya. Johnny tersenyum miring, ia jadi teringat Hendery, putra kecilnya yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya. Sekalipun belum pernah melihat wajah putra kecilnya itu namun Johnny berani menjamin jika Hendery memiliki paras yang rupawan. Johnny tak akan berharap banyak pada putra kecilnya itu, tapi jika suatu hari Hendery bertemu dengannya dan mengingatnya sebagai ayahnya mungkin ia akan sangat bahagia.

"Ten…." Lirih Johnny dalam tangisnya, ya pria itu mulai menangis seraya menenggak soju yang ada di tangannya. Bahkan beberapa pasang mata mulai memandang aneh ke arahnya, terlebih dengan penampilan Johnny yang terlihat amat kacau malam itu. Dan malam itu Johnny mulai menyadari jika semua kekacauan dalam hidupnya bermula sejak Ten meninggalkannya. Bahkan sekarang tak ada lagi yang bisa pria itu lakukan, semuanya telah terlambat. Bahkan ia tak bisa lagi menyalahkan masa lalunya karena tak ada lagi yang bisa diubah dari sana.

Satu tahun berlalu sejak Ten membawa pergi Hendery dari rumah mereka. Hari ini Johnny tengah berada di playground yang ada di bawah unit apartemen Heejin. Ia tengah menemani San bermain, anak kecil berusia satu setengah tahun itu terlihat begitu antusias saat sanga ayah bermain bersamanya akhir pekan ini. Johnny nampak terkejut saat merasakan ponselnya bergetar, pria itu merogoh sakunya dengan sebelah tangannya yang bebas dan mulai melihat siapa yang telah mengirimkannya pesan.

Itu kakaknya, ayah Jaehee itu mengirimkan sebuah foto anaknya, dan hari ini adalah hari pertama Johnny melihat wajah Hendery setelah selama ini hanya bisa membayangkannya. Johnny tersenyum kala melihat hanbok kecil yang membalut tubuh anaknya, rupanya hari ini Ten mengadakan doljanchi untuk anak mereka. Di foto itu terlihat Hendery yang tengah berada dalam gendongan kakeknya, anak kecil itu terlihat begitu tertarik dengan gavel yang ada di tangan kakeknya, bahkan mulutnya terlihat terbuka dan berusaha menggigit gavel berwarna coklat tersebut. netra tajam Johnny nampak berkaca-kaca, entahlah ia hanya merasa begitu emosional setelah berhasil melihat wajah anaknya untuk pertama kalinya. Johnny sadar itu adalah hukuman yang setimpal dan pantas diterima olehnya mengingat sebesar apa luka yang telah ia torehkan pada Ten beberapa tahun silam.

"Nugu…." San yang sejak tadi berada dalam gendongan Johnny nampak tertarik saat melihat gambar anak kecil yang terpampang di ponsel ayahnya.

"Beka?" (boneka?) Sambung San dengan bicaranya yang belum begitu lancar, ia mengira anak kecil yang tengah berada dalam gendongan pria tua di ponsel ayahnya itu adalah sebuah boneka. Johnny terkekeh mendengar perkataan San dan mengelus lembut surai hitam anaknya.

"Bukan, ini bukan boneka. Ini dongsaeng, namanya Hendery." Jelas Johnny.

"Endeyi?" Tanya San dengan kepala yang ia miringkan sedikit ke kiri. Johnny mengangguk dan tersenyum pada San sebagai jawaban.

"Ippeo. Endeyi ippeo." Ucap San penuh semangat, seketika Johnny tertawa mendengar perkataan anak kecil itu.

Disisi lain tak jauh dari tempat Johnny dan San berdiri nampak seorang wanita yang tengah meremas ponselnya seolah tengah menyalurkan emosinya. Tak lama seringaian licik mulai muncul di wajah cantiknya.

"Jika anak itu pergi bukankah San akan mendapatkan semua hal milik Johnny." Ucap wanita itu hampir berbisik.

Setelahnya ia kembali menormalkan wajahnya dan berlari kecil ke arah anaknya, seolah sudah amat merindukan buah hati kecilnya itu.

"San-ah, eomma disini…."