22. A Little Boy

Hendery telah berusia tiga setengah tahun, anak kecil itu tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan dengan kulit putih dan rambut hitam legamnya, jangan lupakan juga mata bulatnya yang selalu berbinar cerah dan selalu berhasil menarik perhatian banyak orang. Hendery tumbuh menjadi anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi, ia kerap bertanya banyak hal pada ibunya dan terkadang hal itu berhasil membuat Ten pusing kepala.

Hari ini adalah akhir pekan dan Hendery bisa menghabiskan waktu berdua bersama sang mama. Anak kecil itu terlihat berjalan riang di apartemennya dengan mobil-mobil berwarna merah menyala yang ada di pelukannya. Mobil itu baru saja didapatkan dari kakeknya kemarin dan Hendery amat menyukainya. Bahkan Hendery tidur bersamanya dan melupakan boneka unicorn yang selama ini selalu menemaninya.

"Mama…. Lets play…." Hendery memasuki ruangan Ten dan mendudukan pantat bulatnya di paha sang mama. Wanita itu terlihat tertawa saat mendapati anaknya begitu menempel padanya, bahkan Hendery mulai menggerak-gerakkan mobil-mobilan miliknya.

"Mau main apa?" Tanya Ten dengan lembut. Jemari lentiknya mulai sibuk menyisir rambut lebat Hendery yang terlihat berantakan.

"Lukis…. Hari ini gambal mobilboleh?" Tanya Hendery dengan matanya yang membulat lucu. Anak kecil itu memang suka sekali menggambar, bahkan ruang kerja Ten telah dipenuhi dengan tempelan gambar-gambar aneh hasil karya anaknya. Sekalipun itu hanya coretan yang tak terlalu bermakna tetap saja Ten merasa terlalu sayang jika harus membuangnya begitu saja.

"Tentu saja boleh, Dery gambar sendiri dulu ya. Mama harus merapikan ini." Ucap Ten menunjuk buku-buku yang ada di hadapannya. Hendery mengangguk lucu dan mulai turun dari pangkuan sang mama. Setelahnya bocah kecil itu berbaring di karpet bulu yang ada disana dan mulai menggambar menggunakan krayon kecilnya.

Siang itu Hendery menghabiskan waktunya di ruang kerja Ten, anak kecil itu masih sibuk menggores krayon miliknya seraya menahan kantuknya. Dari tempatnya duduk saat ini Ten dapat melihat dengan jelas jika anaknya itu tengah mewarnai dengan mata yang setengah terpejam. Ten nampak tertawa, setelahnya ia bangkit dari duduknya dan mulai membawa Hendery dalam gendongannya. Tak butuh waktu lama kepala anak kecil itu mulai terkulai lemah di leher sang mama. Ten masih sibuk mengelus punggung sempit anaknya, Hendery tidak bisa langsung dipindahkan ke kasurnya, akan kecil itu akan sangat nyaman berada dalam dekapan sang mama selama beberapa menit kedepan baru kemudian Ten akan memindahannya ke kasur mereka.

Setelah makan malam Hendery mulai merengek karena anak kecil itu terlihat mulai mengantuk. Ten membawa anaknya ke kamar mereka, dan setibanya mereka di sana Hendery menyodorkan buku cerita pada sang mama. Hal tersebut memang kebiasaan yang sering dilakukan sepasang ibu dan anak itu. Ten selalu menyempatkan waktunya hanya untuk sekedar membacakan cerita pengantar tidur sampai anak kecil itu terlelap, dan sejauh ini kegiatan malam itu memang hal yang paling Hendery sukai.

Ten baru saja menutup buku ceritanya namun Hendery belum mau memejamkan matanya, anak kecil itu masih sibuk memeluk tubuh Ten erat-erat dan hanya terdiam sejak tadi.

"Dery…. Katanya tadi sudah mengantuk?" Tanya Ten seraya mengelus lembut surai hitam anaknya. Hendery nampak mendongak dan menatap lekat wajah cantik sang mama dengan bibirnya yang menekuk ke bawah malam itu.

"Kenapa? Kenapa jadi cemberut seperti ini prince Hendery nya mama?" Ucap Ten.

"Mama…."

"Deyi tidak punya appa ya?" Ten nampak terkejut mendengarkan pertanyaan semacam itu keluar dari mulut kecil anaknya.

"Deyi tidak punya appa sepelti punyanya Malk hyung ya ma?" Tanya anak kecil itu lagi.

"Dery…. Kenapa tanya seperti itu, kan ada mama disini. Mama selalu bersama Dery." Jelas Ten, ia mulai membawa anaknya untuk duduk di hadapannya hingga netra indah keduanya saling bertemu pandang.

"Hiks…. Deyi mau punya appa sepelti Jae samchon ma, hiks…." Entahlah Ten begitu bingung bagaimana cara menggambarkan perasaannya saat ini, rasanya seolah ada retakan kecil di hatinya saat mendengar Hendery berucap demikian bahkan anak kecil itu sampai menangis di hadapannya.

"Dery tidak suka tinggal dengan mama?" Tanya Ten yang berbicara setenang mungkin pada anaknya.

"Deyi suka…. Deyi sayang mama. Tapi Deyi mau appa, hiks…." Balas anak kecil itu dalam tangisnya, bahkan hidung mancung Hendery mulai memerah karena tangisan yang ia buat.

"Dery tidak punya appa." Jawab Ten dalam sekali tarikan nafas.

"Hiks…. Huaaa…." Hendery malah semakin histeris mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Ten, rasanya anak kecil itu sudah benar-benar kehilangan harapan untuk memiliki seorang ayah.

"Dery dengarkan mama dulu…. Sudah ya jangan menangis lagi." Ten membawa anak kecil itu dalam dekapannya dan mulai mengelus punggung sempit Hendery yang masih sibuk dengan tangisannya.

"Dery coba lihat mama." Ten mendudukkan Hendery di hadapannya dan mengelus lembut pundak anaknya, Hendery sontak mengikuti perkataan Ten dan menatap wanita itu dengan wajah yang memerah buah dari tangisannya beberapa menit lalu.

"Dery tidak punya appa, tapi Dery punya daddy." Jelas Ten dengan senyuman tipis yang terukir di wajahnya.

"Daddy itu apa?" Tanya Hendery, pasalnya semua teman bermainnya tak ada yang menyebut ayah mereka dengan panggilan daddy.

"Daddy itu artinya sama seperti appa." Jelas Ten. Mata bulat Hendery tampak berbinar, ia terlihat begitu antusias mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sang mama. Anak kecil itu bahkan bangkit dari duduknya dan kembali berpindah untuk duduk di pangkuan Ten yang terlihat tersenyum teduh malam itu.

"Daddy nya Deyi sepelti apa ma? Apa tampan sepelti Jae samchon?" Tanya anak kecil itu penasaran. Ten nampak terdiam dan menghela nafas sejenak, mungkin ini adalah waktunya Hendery mengenal ayahnya, lagipula Ten sadar sejak lama jika pertanyaan semacam itu akan keluar dari mulut anaknya kapan saja, dan Ten tak pernah menyangka pertanyaan semacam itu harus keluar lebih cepat dari mulut pangeran kecilnya.

Ten meraih ponselnya yang ada di meja nakas dan mulai mencari foto Johnny untuk ia tunjukan pada Hendery. Wanita itu nampak membuka laman penelusuran dan mengetik nama firma hukum milik mertuanya, seingatnya disana terpampang foto para pengacara yang bernaung di dalamnya. Ten benar-benar tak lagi menyimpan foto Johnny di ponselnya, semua kenangan indahnya dengan pria itu sudah benar-benar hilang dan saat ini galeri ponsel Ten hanya dipenuhi berbagai potret Hendery ataupun dirinya saat mereka berdua tengah bersama.

"Ini…. Coba lihat, wajah daddy nya Dery seperti ini." Ucap Ten, ia menunjukan gambar yang ada di ponselnya pada Hendery dan disambut anak kecil itu dengan begitu antusias.

"Wah…. Daddy tampan sepelti Deyi." Ucap anak kecil itu, ia bahkan mulai mengecup potret menawan Johnny yang ada di ponsel mamanya.

"Daddy dimana? Deyi mau beltemu daddy." Ucap anak kecil itu.

"Daddy tidak tinggal disini sekarang, daddy tinggal di rumahnya." Jelas Ten. Bibir Hendery mulai menekuk ke bawah dan terlihat bergetar tanda tangisnya yang siap meledak.

"Kenapa? Hiks…. Mama tidak sayang daddy ya?" Tanya anak kecil itu dengan suara paraunya.

"Dery dengarkan mama ya…." Ten menangkup wajah Hendery hingga pipi bulat memerah anak kecil itu menyembul lucu karena tekanan yang ia terima dari tangan sang mama.

"Mama sangat menyayangi daddy, begitupun daddy kami saling menyayangi. Tapi ada banyak hal yang terjadi lalu daddy dan mama jadi sering sekali bertengkar. Dery tahu kan bertengkar itu seperti apa?"

"Malah…. Scyeaming, sepelti Malk hyung beltengkal dengan Jae samchon." Balas Hendery. Ten nampak mengangguk dan tersenyum lembut malam itu.

"Benar sekali, jadi mama dan daddy memutuskan untuk tinggal di rumah yang berbeda supaya tidak bertengkar lagi. Dery tahu kan kalau kita sering bertengkar apa yang akan terjadi?"

"Ibu peli benci, nanti mama dan daddy tidak disayang ibu peli." Lirih Hendery.

"Hum…. supaya daddy dan mama tetap disayangi ibu peri maka kami harus tinggal terpisah." Jelas Ten. Hendery hanya mengangguk dan membulatkan mulutnya, entahlah Ten tak tahu apa penjelasannya itu bisa dimengerti oleh anaknya atau tidak. Namun setidaknya sudah ada satu penjelasan yang ia berikan pada Hendery.

"Tapi ma, hum…. Deyi boleh beltemu daddy kan?" Tanya Hendery penasaran.

"Dery mau bertemu Daddy?" Tanya Ten pada anaknya.

"Mau…. Deyi mau belitahu Malk hyung kalau Deyi punya daddy." Balas anak kecil itu dengan penuh semangat.

"Baiklah nanti mama hubungi daddy supaya bisa bertemu dengan Dery." Jelas Ten. Hendery mengangguk semangat dan memeluk sang mama erat-erat, bahkan anak kecil itu mulai mengecupi seluruh penjuru sajah sang mama hingga berhasil membuat Ten tertawa.

Sekeras apapun usaha yang Ten lakukan untuk menjauhkan Hendery dari ayahnya, nyatanya ada satu hal yang lupa ia ingat. Ikatan darah lebih kental daripada air, jadi sekeras apapun Ten mencoba menyembunyikan semuanya dari sang anak, nyatanya Hendery akan tetap penasaran siapa ayahnya.

Malam itu Ten telah melapangkan hatinya, ia memutuskan untuk kembali membuka hubungan dengan Johnny mantan suaminya. Semuanya ia lakukan demi Hendery anak kesayangannya, bagaimanapun juga Hendery patut tahu siapa ayahnya.

Untuk pertama kalinya setelah perceraian mereka Ten kembali menghubungi Johnny, ia menceritakan kepada pria itu apa saja yang baru terjadi semalam. Tak dipungkiri Johnny merasa amat bahagia dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut mantan istrinya. dan akhirnya setelah sekian lama mereka akan kembali berjumpa, bedanya kali ini ada Hendery di tengah-tengah mereka.

"Mama…. Ayo pelgi nanti daddy menunggu lama." Ucap Hendery, ia menarik tangan Ten seolah mengajaknya segera meninggalkan apartemen mereka.

"Dery…. Ini baru jam tujuh pagi sayang…. Kan daddy janji akan bertemu jam Sembilan." Jelas Ten pada anaknya.

"Tapi Deyi mau sekalang." Lirih anak kecil itu.

"Kita sarapan dulu ya, nanti setelah sarapan kita pergi menemui daddy, bagaimana?" Bujuk Ten pada anaknya. Hendery nampak memasang pose berpikir dengan menempelkan jari telunjuk kecilnya ke dagunya setelahnya ia mengangguk semangat dan berlari menuju ruang makan mereka meninggalkan Ten yang masih terpaku dan nampak tersenyum teduh pagi itu.

Ten dan Johnny telah berjanji untuk bertemu di salah satu taman kota yang berada tak jauh dari apartemen tempat Ten tinggal. Hendery yang menggenggam tangan Ten erat-erat tampak bersemangat. Anak kecil itu melompat sejak tadi seolah menyalurkan semua energinya.

"Dery senang?" Tanya Ten pada anaknya.

"Hum…. senang sekali mama." Balas anak kecil itu, ia nampak tersenyum dan menunjukan deretan gigi putihnya.

Dari kejauhan tampak seorang pria tinggi mengenakan kaos berwarna putih yang dipadukan dengan celana jeansnya tengah berjalan mendekati Ten dan Hendery. Hendery yang tahu siapa pria tersebut lantas melonjak kegirangan, ia terus menerus menatap wajah Ten dengan senyuman manisnya yang menggemaskan. Ten hanya mengangguk hari itu seolah menegaskan jika yang anaknya lihat benar-benar ayahnya.

Saat Johnny hanya berjarak beberapa langkah dari mereka, Hendery lantas melepas genggaman tangannya dari tangan sang mama dan berlari menerjang tubuh tinggi pria dewasa yang berada tak jauh dari mereka. Johnny menyambut baik pelukan Hendery pada kaki jenjangnya, ia membawa Hendery dalam gendongannya dan beberapa kali mengecup pucuk kepala anaknya. Dari tempatnya berdiri saat ini Ten dapat melihat dengan jelas bagaimana netra tajam pria itu nampak berkaca-kaca. Jika Ten boleh menebak pasti Johnny amat bahagia karena akhirnya bisa berjumpa dengan sang anak.

Tiga orang berbeda usia itu menghabiskan waktu yang panjang di taman kota, mereka melakukan banyak hal hari itu. Ten dan Johnny juga berusaha bersikap senormal mungkin demi kebahagiaan anak mereka. Sejak tadi Hendery terus menempel pada ayahnya, anak kecil itu terus mengoceh tentang banyak hal. Mungkin jika Hendery seekor burung ia akan sangat mahal seandainya Ten berniat menjualnya. Hendery menceritakan pada Johnny bagaimana Mark menghabiskan waktu bersama ayahnya, dan Hendery meminta Johnny untuk melakukan hal yang sama. Johnny hanya mengangguk hari itu, bagaimanapun juga ia hanya akan menyerahkan semua keputusan pada mantan istrinya karena Hendery sepenuhnya menjadi hak wanita itu.

"Mama…. Daddy pulang sama-sama ya? Menginap dengan Deyi." Ucap anak kecil itu, Hendery mulai merajuk saat Johnny berpamitan untuk pulang. Ia bahkan menahan tangan besar Johnny dan menggenggam tangannya erat-erat.

"Dery…. Jangan begitu, ingat kan apa yang mama katakan semalam. Apa yang akan terjadi kalau daddy dan mama tinggal bersama?" Tanya Ten, ia tampak berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Hendery dan mengelus pelan kepalanya.

"Malah-malah, ibu peli benci." Ucap anak kecil itu.

"Pintar…. Dery jangan sedih, hari ini biarkan daddy pulang ya?" Ucap Ten.

"Tapi Deyi masih lindu daddy." Balas anak kecil itu dengan bibir yang mengerucut.

"Dery boleh menghubungi daddy kapanpun Dery mau. Lalu setelah Dery melewati tujuh kali tidur malam, Dery pasti akan bertemu dengan daddy lagi." Balas Ten seraya tersenyum teduh.

Johnny nampak tertegun mendengar ucapan wanita yang berstatus sebagai mantan istrinya itu. Ten benar-benar berbaik hati padanya, bahkan wanita itu secara tak langsung telah menjanjikan pertemuan keduanya bersama dengan Hendery.

Akhirnya Hendery mengangguk menanggapi perkataan sang mama, anak kecil itu melepas genggaman tangannya dari tangan besar sang ayah dan melepas kepergian pria dewasa itu. Dan hari itu adalah hari yang membahagiakan untuk Hendery karena ia berhasil menuntaskan keinginannya untuk bermain dengan sang ayah. Hendery jadi tidak sabar apa yang akan mereka lakukan di pertemuan selanjutnya.

Ten berjalan di belakang anaknya, ia tersenyum teduh siang itu. Hendery jelas amat bahagia setelah berhasil menemui ayahnya dan Ten tak akan pernah mengingkari fakta yang ada. Bagaimanapun juga Hendery adalah anak mereka dan Ten tak akan membiarkan Hendery ikut terluka karena perceraian kedua orang tuanya. Karena sejatinya Hendery juga berhak merasakan kebahagiaannya.