23. On One Hot Day

Hubungan Ten dan Johnny terlihat lebih baik dari sebelumnya, mereka kerap kali berkirim pesan hanya untuk membahas tumbuh kembang anak mereka yang makin luar biasa. Setiap malam juga Hendery rutin melakukan panggilan video dengan ayahnya sampai ia tertidur lelap. Namun kali ini Hendery harus menelan kekecewaan karena Johnny tak bisa datang menemuinya di akhir pekan. Ada satu urusan yang harus pria tinggi itu selesaikan dan tidak bisa lagi ditunda. Ten berusaha memaklumi, lagi pula ia mengerti jika suaminya itu memiliki kesibukan sendiri terlebih juga harus mengurus anak lain yang bahkan Ten tak tahu namanya hingga saat ini.

Hari ini Ten mengajak anaknya untuk kembali berkunjung ke rumah Taeyong dan Jaehyun. Hal tersebut rutin mereka lakukan terlebih Hendery selalu merengek untuk bermain dengan Mark, anak dari pasangan Jung itu. Ten telah duduk di ruang tamu yang ada di rumah besar Taeyong dan Jaehyun, ia tengah berbincang dengan Taeyong. Dari tempat mereka duduk saat ini kedua wanita itu dapat memantau dengan jelas anak-anak mereka yang tengah bermain bersama. Bahkan Ten terlihat tertawa saat Hendery hanya menurut sekalipun diperintah oleh Mark untuk melakukan ini dan itu.

"Jadi bagaimana?" Tanya Taeyong di tengah kegiatannya menyantap cemilan.

"Apanya?" Ten seolah tak mengerti perkataan sahabatnya itu.

"Hubunganmu dan Johnny, Mark bilang beberapa hari lalu Dery bercerita padanya jika ia baru bertemu dengan daddy nya." Jelas Taeyong.

"Ya…. Akhirnya kami kembali berkomunikasi karena Dery." Jelas Ten.

"Tapi bagaimana bisa? Maksudku dulu kau begitu bersikeras untuk menjauhkan Dery dari mantan suamimu itu." Tanya Taeyong yang nampak penasaran.

"Lalu apa saat Dery bertanya soal ayahnya aku harus menjawab jika ayahnya telah meninggal. Anak itu pasti hanya akan menangis." Ucap Ten.

"Ah begitu rupanya. Kau sudah dengar jika Johnny sekarang hanya pengacara biasa di Suh & Park?" Tanya Taeyong.

"Aku hanya dengar sekilas dari kakak iparku tapi tak tahu apa yang terjadi." Jelas Ten.

Taeyong hanya mengangguk hari itu, ia juga tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mantan suami sahabatnya itu.

"Ne, sudah ya. Ini sudah malam Dery harus tidur. Besok kan kita akan bertemu di taman kota."

"Hum…. annyeong daddy, sampai jumpa…." Hendery mengakhiri panggilan video itu dan bergegas menyerahkan benda persegi panjang tersebut pada Ten yang tengah duduk di kasur mereka.

"Sudah selesai?" Tanya Ten.

"Sudah, daddy bilang besok Deyi boleh beltemu daddy di taman kota, ma." Jelas anak kecil itu dengan senyuman cerahnya.

Pagi ini Hendery terbangun lebih dulu dari sang mama. Anak kecil itu menarik-narik hidung bangir Ten berusaha membangunkan sang mama yang masih terlelap. Hendery benar-benar ingin menemui Johnny. Setelah dimandikan oleh sang mama anak kecil itu memilih sendiri baju apa yang akan ia kenakan, Ten bahkan sampai pusing melihat tingkah sang anak hari itu.

Setelah selesai bersiap dan menyantap sarapan mereka, Ten bergegas membawa Hendery ke taman kota untuk bertemu dengan ayahnya sesuai yang telah pria tinggi itu janjikan. Hendery terus berdiri di dekat bangku panjang yang tengah Ten duduki, anak kecil itu menoleh kesana-kemari menunggu kedatangan ayahnya. Ten yang merasa ia dan Hendery telah menunggu Johnny terlalu lama akhirnya berinisiatif menghubungi mantan suaminya. Setidaknya hanya untuk sekedar bertanya kenapa belum juga tiba di taman kota. Ten nampak mengernyit heran kala mendapati ponsel Johnny tak aktif hari itu, wanita cantik itu bahkan terlihat mulai panik. Ia hanya khawatir pangeran kecilnya akan kecewa.

Ten bangkit dari duduknya dan bergegas menemui Hendery, bahkan wajah anak kecil itu tampak memerah karena terkena panasnya matahari jangan lupakan juga rambutnya yang terlihat lepek karena keringat.

"Dery…. Kita pulang ya? Sudah siang disini panas, nanti Dery bisa sakit." Ucap Ten seraya menyeka keringat Hendery dengan sapu tangan yang ia bawa.

"Tapi Deyi mau daddy…." Lirih anak kecil itu, bibirnya mulai menekuk ke bawah dan sepertinya tangisnya sudah siap meledak.

"Tapi daddy tidak bisa datang hari ini, pulang ya? Nanti kita hubungi daddy lagi." Jelas Ten. Hendery hanya menggeleng sebagai jawaban, detik berikutnya ia mulai menangis dan berjongkok di tengah taman kota yang dilalui oleh banyak orang. Hendery terlihat begitu kecewa hari itu ia membenamkan wajahnya di antara lutut kecilnya dan terus menangis disana. Ten yang cukup panik mendengar tangisan Hendery lantas membawa anak kecil itu dalam dekapannya dan ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju mobil mereka.

Di sepanjang perjalanan pulang Hendery masih tetap menangis, berbagai cara telah Ten lakukan untuk membujuk pangeran kecilnya itu namun sepertinya anak kecil itu belum berniat menghentikan tangisannya.

"Hiks…. Daddy jahat…." Lirih Hendery dalam tangisnya, penampilan anak kecil itu benar-benar kacau dengan netra indahnya yang meredup dan hidung yang memerah. Ten jadi kasihan melihat anaknya, dan hari itu kekesalan Ten pada mantan suaminya kembali muncul, kenapa pria itu harus menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ia tepati pada anaknya sendiri.

Ten menggendong Hendery memasuki apartemen mereka lirihan tangis Hendery jelas masih terdengar di telinganya. Ten menepuk pelan punggung anaknya dan bergumam kata-kata menenangkan pada anak kecil itu.

Min-ah yang kebetulan datang ke apartemen Ten hari itu nampak terkejut melihat Hendery yang menangis keras. Ia lantas bertanya pada majikannya apa yang baru saja terjadi pada Hendery dan ikut berusaha menenangkan anak kecil itu.

"Sepertinya dia kecewa karena tak jadi bermain dengan daddy nya." Jelas Ten pada Min-ah, wanita muda itu nampak ber oh ria dan kembali berusaha menenangkan majikan kecilnya.

"Dery mau apa? Coba bilang pada mama?" Ucap Ten, Hendery telah berhenti menangis sejak beberapa menit yang lalu netra indahnya nampak memerah dan terlihat sembab buah dari tangisan panjangnya.

"Malk hyung kemalin pelgi ke taman belmain belsama Jae samchon. Deyi juga mau kesana belsama daddy ma…." Ucap anak kecil itu dengan lemas. Ten memainkan surai hitam Hendery yang dibasahi keringat, wanita itu nampak tersenyum teduh dan menatap anaknya dengan pandangan hangat.

"Pergi dengan mama saja bagimana? Kita ajak Min-ah noona juga." Ucap Ten berusaha meyakinkan anaknya.

Hendery menatap netra indah Ten penuh harap, ia mengangguk semangat sampai surai hitamnya bergerak lucu ke atas dan ke bawah.

"Mau…. Nanti boleh naik kuda yang sepelti Malk hyung naiki kan ma?" Tanya Hendery antusias.

"Tentu saja boleh, nanti naik dengan mama ya?" Ucap Ten semangat.

"Yeay…. Gomawo mama. Deyi sayang mama." Ucap Hendery semangat, ia menghujani wajah sang mama dengan kecupan sampai membuat Ten terkekeh karena gemas.

Ten membiarkan Hendery bermain dengan Min-ah sementara ia pergi ke dapur untuk menuntaskan dahaganya, berdiri di tengah terik matahari seharian cukup membuat Ten dehidrasi. Saat tengah meneguk segelas air mineral, Ten merasakan jika ponselnya bergetar dengan cepat wanita itu merogoh sakunya dan mengecek siapa yang baru saja menghubunginya. Ten nampak tersenyum simpul setelah membaca pesan yang baru saja mantan suaminya kirimkan, entahlah ia harus bersikap seperti apa pada mantan suaminya itu.

From: Johnny Seo

Ten, maaf San sedang sakit Heejin bilang dia rewel seharian. Apa aku bisa bermain dengan Hendery di hari lain?

Ten nampak tersentak saat merasa seseorang menarik pakaiannya, itu Hendery, bocah kecil itu sudah terlihat lebih baik setelah Min-ah mengajaknya membersihkan wajahnya. Anak kecil itu nampak bersemangat dan mengajak sang mama untuk segera melesat ke tempat tujuan mereka.

Pintu masuk Lotte World nampak dipenuhi dengan pengunjung, maklum saja ini adalah akhir pekan dan waktu yang paling indah bagi keluarga kecil untuk sekedar berlibur. Hendery yang menggenggam erat jemari Min-ah nampak melonjak senang, ia sungguh tidak sabar untuk melakukan apa yang Mark lakukan dengan Jaehyun ayahnya. Min-ah memakaikan Hendery topi karena cuaca cukup terik siang itu.

Hendery benar-benar menikmati kunjungan singkat bersama ibu dan pengasuhnya ke Lotte World. Ia telah menaiki berbagai wahana permainan namun ia masih bisa melonjak dan berlari kesana kemari menyisakan Ten dan Min-ah yang mulai kewalahan. Saat sore Ten berinisiatif mencari tempat makan karena Hendery sudah merengek karena kelaparan. Posisi Hendery berada di tengah-tengah kedua orang dewasa tersebut, ia menggenggam tangan Ten dengan tangan kanannya dan tangan Min-ah dengan tangan kirinya.

"Eonni…. Lihat ke arah jam Sembilan." Ucap Min-ah dengan suara yang hampir terdengar seperti berbisik. Ten lantas menoleh sesuai dengan instruksi Min-ah, netra indahnya membola sempurna kala melihat pemandangan yang tersaji tak jauh dari mereka.

"Itu tuan Johnny?" Tanya Min-ah ragu-ragu.

"Hush…." Ten memposisikan jari telunjuknya di depan bibirnya, meminta Min-ah berhenti berucap karena khawatir Hendery akan mencuri dengar pembicaraan mereka. Bagaimanapun juga Ten tak mau pangeran kecilnya kecewa setelah melihat pemandangan apa yang ada di dekatnya.

Ketiga orang itu kembali melanjutkan perjalanan mereka, dalam hati Ten sedikit mencibir Johnny yang lagi-lagi berbohong padanya. Bahkan di pesan yang ia terima, Johnny bilang jika anaknya dan Heejin tengah sakit tapi malah berakhir pergi ke Lotte World dan bertingkah seolah mereka adalah keluarga yang bahagia, benar-benar memuakkan, pikir Ten.

Ten tak peduli lagi dengan apa yang suaminya lakukan, ia hanya fokus mencari restoran karena Hendery terus merengek sejak tadi. Pilihan ia jatuhkan pada salah satu restoran cepat saji yang ada di arena outdoor Lotte World, Min-ah menyarankan restoran itu karena sedang populer di social media akhir-akhir ini. Mereka bertiga melangkahkan kaki ke dalam restoran dan disambut dengan lonceng kecil yang berbunyi nyaring di dalam sana. Hendery menyantap makanannya dengan semangat, sepertinya energinya sudah mulai terkuras setelah beraktivitas seharian.

Ten menitipkan Hendery sementara pada Min-ah karena ia harus pergi ke toilet untuk buang air kecil. Setelah selesai menggunakan toilet Ten memutuskan untuk mencuci tangan di wastafel dan memperbaiki penampilannya. Ekor matanya menangkap sosok yang tak asing di sebelahnya, Ten menoleh sekilas. Itu jelas wanita yang Ten kenal, entah takdir bermain seperti apa padanya tapi saat ini tepat di sebelahnya Heejin ada disana. Ten memutuskan untuk menyapanya, sekedar ingin tahu reaksi seperti apa yang akan diberikan oleh wanita yang juga memberikan seorang anak untuk mantan suaminya itu.

"Annyeong Heejin-ssi." Ucap Ten singkat. Heejin menoleh dan terkejut melihat siapa yang ada di sebelahnya.

"An-nyeong Ten-ssi." Balas Heejin sedikit terbata.

"Ah sekarang bukan lagi nyonya tapi Ten-ssi. Mantan suamiku mengajarimu dengan baik rupanya." Ucap Ten dengan senyuman remeh yang tersungging di bibir tipisnya.

"Ngomong-ngomong kau jadi lebih cantik, kurasa uang Johnny kau pergunakan dengan baik."

"Ah iya jaga dirimu baik-baik, kau ingat kan secantik apa aku saat Johnny memilih untuk berselingkuh denganmu." Ucap Ten setelah selesai mengeringkan tangannya, ia melenggang keluar dari toilet meninggalkan Heejin yang mematung dengan lelehan air mata yang meluncur dari maniknya yang kecoklatan. Ten menghentikan langkahnya dan kembali berucap pada wanita yang ada di hadapannya, dari tempatnya berdiri saat ini Ten jelas melihat bagaimana netra indah wanita itu yang nampak berkaca-kaca.

"Pernah dengar ungkapan yang seperti ini, di dunia ini mungkin ada pria yang tak pernah berselingkuh tapi tak ada pria yang selingkuh hanya sekali."

"Jadi kusarankan kau jangan terlalu terkejut saat tiba-tiba mendapat kabar jika Johnny memiliki anak dengan wanita lain. Pria itu memang luar biasa, spermanya ada dimana-mana. Bukan begitu Heejin-ssi?" Ten berucap seraya tersenyum dan sibuk merapikan pakaian bagian pundak Heejin, si lawan bicara masih terdiam ia seolah kehabisan kata untuk membalas ucapan mantan istri Johnny itu.

Ini pertemuan pertama antara Heejin dan Ten setelah sekian lama mereka tak bersua, dan sore itu semua kata-kata yang meluncur dari mulut Ten bagai belati tajam yang menusuk langsung ke hati Heejin, tiba-tiba saja ia merasa sesak dan ingin menangis keras.

"Berani-beraninya kau main-main denganku…."