24. One Sad Day

Heejin diam-diam memantau semua hal yang dilakukan Johnny, pria yang amat dicintainya. Akhir-akhir ini Heejin selalu mendapati Johnny sibuk dengan ponselnya kala pria itu mendatangi apartemennya untuk menemui San. Hari ini kebetulan pria tinggi itu datang kembali untuk menemui San karena kebetulan bocah laki-laki itu tengah sakit sejak dua hari yang lalu. San yang mendapati kedatangan ayahnya nampak begitu senang, ia bahkan seolah lupa dengan rasa sakit di kepalanya dan memilih untuk bermain dengan sang ayah. San mulai menguap lebar karena rasa kantuk mulai menyerangnya, anak kecil itu mulai bersandar manja pada sang ayah dan dengan sigap Johnny menggendong tubuh San untuk segera berbaring di kasurnya. Heejin yang sejak tadi memantau kegiatan ayah dan anak itu nampak tersenyum kala melihat Johnny meninggalkan ponsel miliknya di sofa. Dengan cepat wanita itu meraih ponsel Johnny dan berusaha mencari tahu apa yang membuat mood pria tinggi itu seolah begitu baik akhir-akhir ini.

Heejin nampak berdecak sebal saat mendapati apa yang ada di ponsel pria itu, Johnny menjadikan potret dirinya dan Hendery sebagai wallpaper ponselnya. Dan sejak hari itu Heejin tahu jika Johnny kembali berkontak dengan mantan istrinya. Tiba-tiba saja ada pesan masuk ke ponsel Johnny, itu dari Ten. Wanita itu mengingatkan Johnny untuk tak melupakan janjinya bermain dengan Hendery akhir pekan ini. Heejin tersenyum sekilas, sepertinya ia harus melakukan sesuatu akhir pekan ini demi mencegah terjadinya pertemuan antara ayah dan anak itu.

Heejin benar-benar berhasil melakukan apa yang sudah ia rencanakan sejak beberapa hari lalu, hari ini Johnny datang ke apartemen mereka dan tak menemui Hendery dan Ten yang mungkin saja telah menunggunya. Dan hari itu San yang sedang rewel meminta pergi ke Lotte World bersama kedua orang tuanya, jelas saja Johnny mengiyakan keinginan anaknya. Lagi pula sudah cukup lama ia tak pergi bersama San.

Di Lotte World Heejin menganggap semuanya berjalan sesuai rencananya. Acara jalan-jalan mereka terlihat begitu sempurna. Namun semua ketenangan yang Heejin rasakan nyatanya tak berlangsung lama. Di toilet yang berada di salah satu restoran ia malah bersua dengan Ten mantan istri pria yang amat dicintainya. Heejin mengenal Ten sejak lama, dan yang ia ingat wanita itu memiliki kepribadian baik dengan tutur katanya yang amat sopan. Namun hari ini seolah wanita itu benar-benar berubah, Ten menghujam belati ke hati Heejin hanya dengan kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Untuk pertama kalinya Heejin merasa amat direndahkan dan sejak hari itu ia telah bersumpah untuk tidak membiarkan Ten dan Hendery hidup tenang.

Saengil chukha hamnida….

Saengil chukha hamnida….

Saranghaneun uri Hendery….

Saengil chukha hamnida….

Nyanyian selamat ulang tahun menggema di sebuah apartemen besar yang berada di pusat kota Seoul. Hari ini adalah perayaan ulang tahun Hendery yang keempat, dan untuk pertama kalinya Hendery merayakan ulang tahunnya dengan kehadiran sang ayah yang sudah amat ia nantikan. Hendery tersenyum cerah saat menyuapkan potongan kue pada kedua orang tuanya, bahkan senyumannya semakin mengembang kala Johnny memberikan hadiah untuknya. Johnny menghadiahi anaknya sebuah sepeda, tentu saja hal itu membuat Hendery sangat bahagia.

"Dery suka hadiahnya?" Tanya Johnny pada anak kecil itu.

"Hum…. suka sekali, terima kasih daddy." Hendery memeluk erat tubuh besar sang ayah dan mengecupi seluruh penjuru wajahnya. Hari itu Johnny hanya tertawa karena perlakuan yang ia terima dari anaknya berhasil membuatnya kegelian.

Awalnya Ten menolak untuk merayakan ulang tahun Hendery bersama dengan Johnny namun anaknya itu telah merengek sejak semalam dan bersikeras untuk menyertakan ayahnya dalam perayaan ulang tahunnya yang keempat. Dan berakhirlah Johnny disini, di apartemen berukuran cukup besar yang ditempati oleh Ten dan Hendery. Setelah selesai dengan acara potong kue Ten nampak menyodorkan makanan di hadapan Johnny, hari ini sesuai permintaan Hendery Ten memasakkan bulgogi di perayaan ulang tahunnya. Johnny mulai menyantap apa yang Ten sajikan untuknya, senyuman nampak mengembang di sudut bibirnya kala kembali merasakan hidangan buatan mantan istrinya, bahkan rasanya masih sama. Bulgogi buatan Ten adalah yang terbaik menurutnya.

Heejin tengah berada di apartemennya, sejak tadi wanita itu sibuk bermain dengan ponselnya sampai lupa pada San yang sejak tadi merengek padanya. Untunglah ada Sora di apartemen mereka, wanita muda sekaligus sahabat Heejin itu bisa dibilang sebagai pengasuh San, pasalnya anak kecil itu lebih lengket pada Sora dibanding ibu kandungnya sendiri.

"Hum…. aku akan kirimkan bayarannya sesegera mungkin, lakukan saja tugas kalian dengan baik."

Sora yang tengah berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air mineral tak sengaja mendengar pembicaraan Heejin dengan seseorang melalui ponselnya. Pembicaraan itu terdengar begitu mencurigakan namun Sora tak mau berpikir panjang, ia kembali melanjutkan perjalanannya ke dapur dengan segelas air mineral dingin yang diidam-idamkan sejak tadi.

"Sora-ya…. Jaga San untukku, aku harus keluar sebentar." Ucap Heejin pada wanita muda yang berdiri tak jauh darinya.

"Biasanya juga kau menitipkan San padaku seharian bahkan sampai tengah malam." Balas Sora hampir tak terdengar. Setelah itu Heejin benar-benar menghilang di balik pintu utama apartemennya. Sora sama sekali tak masalah dengan kepergian wanita itu, bahkan biasanya Heejin kerap kali pergi saat siang hari dan baru kembali ke apartemen tiap tengah malam dalam keadaan yang mabuk berat.

Siang ini Ten mengajak Hendery dan Min-ah untuk keluar sebentar. Rencananya Ten akan mengajak dua orang itu untuk berburu buah, berhubung Ten memiliki sedikit ketakutan pada makanan berserat itu maka ia mengajak Min-ah supaya wanita muda itu bisa menggantikan perannya mengambil buah-buahan. Saat ini tiga orang itu terlihat tengah berada di toko buah dan sayuran yang ada di persimpangan jalan. Ten membiarkan Hendery pergi bersama Min-ah untuk mencari buah-buahan segar, sedangkan ia akan melihat berbagai macam sayuran. Di toko itu semua sayur dan buah terlihat begitu segar, itulah mengapa Ten kerap kali berkunjung kesana.

Saat Ten tengah berjalan dan berniat menyusul Hendery dan Min-ah tiba-tiba saja seorang pria bertubuh tinggi yang mengenakan topi menabrak tubuhnya hingga keranjang Ten yang telah terisi berbagai macam sayuran terjatuh begitu saja. Pria itu hanya bergumam maaf dan sedikit menunduk di hadapan Ten tanpa mau membantu Ten memunguti semua sayurannya yang telah terjatuh ke lantai. Ten mendengus sebal seraya sibuk mengambil satu-persatu sayurannya yang berceceran. Padahal beberapa menit lalu mood nya dalam keadaan yang amat baik sampai pria itu menabraknya dan berhasil membuat semuanya menjadi suram.

Setelah selesai berbelanja tiga orang berbeda usia itu memutuskan untuk menepi sejenak ke sebuah restoran kalguksu yang berada tak jauh dari sana. Entah mengapa tiba-tiba saja Ten sangat ingin menyantap makanan itu rasanya sudah lama sekali ia tak mampir ke sana. Dengan telaten wanita itu memotong kalguksu yang ada di mangkuk anaknya untuk memudahkan Hendery saat menyantap makanan nya. Setelah itu mereka bertiga benar-benar menikmati makanan dengan lahap seolah belum mengisi perut mereka beberapa hari lamanya.

Ten tengah menunggu lampu merah supaya mereka bisa menyebrangi jalan besar yang terlihat cukup ramai siang itu. Hendery berada dalam gendongannya karena sejak keluar dari restoran kalguksu anak kecil itu mengeluh jika perutnya berat dan tak sanggup lagi untuk berjalan. Di sebelah Ten ada Min-ah yang membawa barang belanjaan mereka yang ditempatkan di tote bag dengan ukuran cukup besar.

"Mama…. Dery mau turun, mau angkat tangan saat menyeberang." Ucap Hendery semangat.

"Dery bisa tetap angkat tangan walaupun mama gendong, tadi katanya perut Dery berat." Ledek Ten seraya menciumi pipi bulat anaknya. Hendery menggeleng dan meminta Ten untuk segera menurunkannya. Anak kecil itu telah berada sedikit di depan Ten, ia bersiap-siap mengangkat tangannya seperti yang selalu Ten ajarkan saat mereka hendak menyebrang jalan.

Lampu yang semula hijau telah berganti menjadi warna merah dan beberapa pejalan kaki mulai menyeberang, karena suasana yang cukup ramai Ten menahan sementara tubuh kecil Hendery karena khawatir anaknya itu akan terbawa keramaian. Setelah jalanan cukup sepi Ten mulai menyeberang jalan, Hendery yang berada cukup jauh di depannya nampak begitu bersemangat seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Sebuah mobil berkecepatan tinggi terlihat melaju dari kejauhan, entah apa yang dipikirkan oleh pengendaranya namun ia seolah tak menghiraukan banyak orang yang tengah menyebrang jalan siang itu.

Brak!

"Hendery!"

"Hendery!"

Mobil berwarna hitam itu terus melaju kencang dan melukai beberapa pejalan kaki yang tengah menyebrang. Tubuh kecil Hendery benar-benar tertabrak di depan mata sang mama, tubuh anak kecil itu terpental sejauh berapa meter dan berakhir tergeletak di jalanan dengan kepalanya yang bersimbah darah. Beberapa pejalan kaki juga nampak terluka, namun kebanyakan dari mereka hanya mengalami luka lecet yang tak terlalu parah. Hanya Hendery satu-satunya korban yang terbaring tak berdaya di jalanan siang itu.

Ten mulai menangis, ia berlari untuk menggapai tubuh anaknya yang sudah terkulai lemas dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Ten benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan rasanya kejadian itu terjadi amat cepat di depan matanya. Ten menjadikan pahanya sebagai bantalan untuk kepala Hendery yang terus mengeluarkan darah, Ten hanya bisa menangis siang itu. Ia terus meneriakkan nama anaknya dan mengguncang pelan tubuh Hendery sampai tangannya dipenuhi oleh darah sang anak.

"Hubungi layanan darurat hiks…. Kumohon…."

"Selamatkan anakku." Seorang pria dewasa yang berdiri tak jauh dari tempat Ten menangis nampak menganggukan kepalanya dan mulai bermain dengan ponselnya saat itu juga, ia menghubungi layanan darurat disana dan berharap pertolongan segera datang untuk mengobati anak kecil yang terkulai lemas di hadapannya.

Heejin sejak tadi masih berdiri terpaku di tengah jalan besar yang semula berniat ia sebrangi. Ia benar-benar melihat dengan jelas bagaimana tubuh kecil Hendery terpental beberapa meter jauhnya di depan matanya sendiri. Wanita itu masih belum mampu mencerna apa yang baru saja terjadi sampai akhirnya suara tangisan Ten berhasil menyadarkannya, ia bergegas berlari menghampiri Ten setelah menjatuhkan tote bag di tangannya. Apel-apel yang sempat Hendery pilih beberapa jam lalu nampak menggelinding begitu saja di tengah luasnya jalan raya, Minah tak peduli lagi dengan makanan berserat itu. Ia hanya ingin mengetahui keadaan majikan kecilnya.

"Nyonya…. Aku seorang dokter, izinkan aku memeriksa anakmu sebentar." Ucap seorang pria tinggi seraya menunjukan name tag yang menggantung di lehernya. Ten hanya mengangguk dalam tangisnya, ia benar-benar tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Pria itu mulai meraba leher Hendery dan berusaha mencari refleks arteri karotis anak kecil itu.

"Dia masih bernafas, tapi refleks arteri karotisnya lemah."

"Bagaimana dengan ambulance?" Tanya pria itu pada beberapa kerumunan orang disana.

"Kurasa sebentar lagi datang, mereka telah berjalan sejak tadi." Balas seorang pria dewasa yang beberapa menit lalu menghubungi layanan darurat.

Sesuai dengan perkataannya beberapa detik kemudian suara sirine ambulance berhasil memecah keramaian siang itu, para petugas bergegas membawa tubuh kecil Hendery ke dalam ambulance diikuti oleh Ten yang ikut masuk ke dalam sana.

"Eonni dengarkan aku…. Aku akan segera menyusulmu setelah menghubungi tuan dan nyonya Seo, kita perlu tahu siapa yang mencelakai Dery." Ucap Min-ah ia memegang kedua pundak Ten dan berusaha menguatkan wanita itu sebelum ikut masuk ke dalam ambulance. Ten hanya mengangguk lemah dengan wajah yang berderai air mata, setelahnya wanita itu benar-benar menghilang bersama ambulance.

Min-ah menghentikan taksi yang melaju di dekatnya, ia bergegas masuk ke dalam untuk segera pergi ke rumah besar keluarga Seo untuk mengabari apa yang baru saja terjadi pada cucu mereka. Nyatanya tak jauh dari tempat Min-ah menghentikan taksi ada seseorang yang tengah tersenyum puas di balik topi yang hampir menutupi separuh wajahnya. Orang itu bahkan benar-benar menyeringai di tengah tangisan dua orang wanita yang begitu jelas serta jerit kesakitan seorang anak laki-laki yang baru saja terluka.

"Bye bye Hendery…."