25. Tears are Falling

Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Ten terus menangis seraya menggenggam tangan kecil Hendery yang terasa mendingin. Wanita itu benar-benar ketakutan, kepalanya mulai terisi berbagai kemungkinan terburuk yang mungkin saja akan menghampirinya. Dalam hati Ten hanya mampu terus berdoa demi keselamatan anaknya, bagaimanapun juga ia paling benci jika harus melihat anaknya berbaring tak berdaya.

Min-ah bergegas turun dari taksi setelah menyerahkan beberapa lembar uang pada sang pengemudi, wanita muda itu berlari ke dalam rumah besar majikannya, ia tak peduli lagi dengan tatapan keheranan dari beberapa petugas keamanan yang memandang aneh ke arah pakaiannya yang terdapat bercak darah. Entah kebetulan macam apa yang telah terjadi tapi siang itu Johnny tengah berada di rumah kedua orang tuanya, mereka bertiga nampak tengah berbincang di ruang keluarga seraya menikmati secangkir teh hangat yang tersaji disana.

"Min-ah…. Kau kenapa? Pakaianmu kotor sekali." Nyonya Seo yang menyadari kehadiran wanita muda itu lantas menyapanya dan berhasil membuat perhatian tuan Seo dan Johnny ikut teralihkan.

"Tuan muda- tuan muda Hendery tertabrak mobil." Ucap Min-ah dengan suara yang bergetar. Johnny hampir saja tersedak teh miliknya siang itu, pria tinggi itu lantas menghampiri Min-ah dan menanyakan apa yang sebenarnya tengah terjadi.

"Aku- aku tidak tahu, beberapa menit lalu Dery dibawa oleh petugas layanan darurat dan nyonya Ten menemaninya." Jelas Min-ah di tengah tangisannya.

Johnny bergegas melangkahkan kakinya keluar dari kediaman kedua orang tuanya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata dan mulai menghubungi layanan darurat, menanyakan dimana rumah sakit yang menampung anak kecil korban kecelakaan beberapa menit yang lalu. Tak butuh waktu lama pria tinggi itu telah sampai di salah satu rumah sakit besar yang ada di pusat kota, setelah menanyakan dimana keberadaan Hendery pada seorang perawat Johnny kembali melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan. Pria tinggi itu terpaku di tempatnya kala mendapati mantan istrinya tengah terduduk dan menundukan kepalanya. Johnny juga melihat dengan jelas bagaimana pakaian bagian bawah yang Ten kenakan telah berubah warna menjadi merah karena darah dari kepala Hendery beberapa menit lalu.

Johnny duduk di sebelah Ten dan menggenggam erat tangan mantan istrinya itu. Ten mendongak untuk melihat siapa yang baru saja menyentuh tangannya. Seketika tangisan wanita itu kembali pecah saat mendapati Johnny yang tengah duduk di sampingnya. Ten limbung di pelukan mantan suaminya, ia terus menangis sampai membuat pakaian yang tengah Johnny kenakan dibasahi air matanya siang itu.

"Dery…. Bagaimana dengan Dery hiks…." Ten kembali menangis dan terus bergumam nama anaknya.

"Dery akan baik-baik saja, dia anak yang kuat." Sesungguhnya Johnny merasakan kepanikan yang sama seperti mantan istrinya itu, namun ia berusaha menyembunyikannya dan memilih untuk menenangkan Ten yang terlihat amat kacau siang itu.

Beberapa menit kemudian seorang dokter dan perawat wanita nampak menghampiri Ten dan Johnny. Pria dan wanita itu lantas berdiri dan segera menanyakan kabar tentang kondisi anak mereka.

"Hendery kehilangan banyak darah, dan rumah sakit ini kehabisan stok darah yang sama dengan anak kalian." Ucap dokter pria tersebut.

"John…. Golongan darah Dery sama sepertimu…."

"Jebal…." Ten memohon pada Johnny dan menggenggam erat kedua tangan pria itu, seharusnya Ten tak perlu melakukan itu bahkan tanpa diminta Johnny akan dengan sukarela membagi darahnya untuk sang anak.

Johnny mengikuti langkah perawat yang membawanya ke sebuah ruangan, meninggalkan Ten yang kembali terduduk di sebuah kursi panjang dan menundukan kepalanya. Wanita itu mulai merapalkan doa dalam hatinya demi keselamatan anaknya, Ten benar-benar tak sanggup jika harus menghadapi segala kemungkinan buruk nantinya.

Johnny kembali lagi menemui Ten dengan perban kecil yang menempel di tangan kirinya. Pria itu baru saja menyelesaikan serangkaian prosedur yang harus ia lakukan. Ten masih terduduk lemas di tempat yang sama, Johnny merangkul pundak wanita itu dan membawanya dalam pelukannya. Ten sama sekali tak menolak, tubuhnya terasa benar-benar lemas dan tak bertenaga setelah menangisi anaknya.

Tak lama kemudian dari arah berlawanan nampak datang kedua orang tua Johnny bersama dengan Min-ah yang membawa pakaian ganti untuk Ten. Min-ah bergegas mendekati Ten dan duduk di sebelah wanita itu, mengajaknya untuk sekedar berganti baju atau membasuh wajahnya yang benar-benar layu siang itu.

"Eonni ganti pakaianmu dulu, Dery masih ditangani di dalam." Lirih Min-ah, rasanya ia benar-benar ingin menangis melihat kondisi Ten saat ini. Ten hanya menggeleng lemah sebagai jawaban, ia telah bertekad untuk tak meninggalkan anaknya sebelum mendapatkan kepastian dari dokter yang menanganinya.

Tuan Seo telah mengerahkan beberapa anak buahnya untuk melacak keberadaan mobil yang menabrak Hendery beberapa jam yang lalu. Bagaimanapun juga ia akan membuat orang tersebut menyesal karena telah menyentuh keluarganya.

Dokter nampak keluar dari ruangan perawatan, pria tinggi itu terlihat menghembuskan nafas sejenak sebelum akhirnya berbicara pada keluarga pasien kecilnya.

"Hendery mengalami cedera yang cukup serius karena benturan di kepalanya, aku sangat menyesal mengatakan ini. Tapi…. Hendery koma, kami akan memindahkannya ke ruang ICU sampai ia melewati masa kritisnya, berdoalah yang terbaik untuk Hendery. Kami permisi dulu…." Dokter tersebut menyentuh lembut pundak Johnny sebelum benar-benar pergi dari hadapan keluarga pasiennya.

Tubuh Ten benar-benar lemas, wanita itu luruh ke lantai setelah mendengar apa yang baru saja dokter katakan tentang anaknya. Ia bahkan tak menyangka jika Hendery nya mengalami hal begitu berat hari ini, Ten berulang kali menampar pipinya sendiri berharap apa yang tengah ia alami hanya mimpi dan saat ia terbangun semuanya akan kembali seperti semula, namun tak ada yang berubah semua hal yang terjadi hari ini adalah kenyataan yang bahkan tak bisa ia tolak.

"Eonni…. Hentikan…." Min-ah berjongkok dan menahan tangan Ten yang kembali berniat menampar pipinya sendiri. Min-ah menggenggam erat tangan Ten dan memeluk tubuh wanita itu erat-erat. Ten benar-benar menangis histeris di pelukan Min-ah ia terus bergumam nama sang anak dalam tangisannya.

"Dery…. Hiks…."

Akhirnya Ten jatuh pingsan dalam pelukan Min-ah, Johnny yang sadar jika tubuh mantan istrinya telah terkulai lemas lantas membawa Ten dalam gendongannya untuk segera mendapatkan perawatan. Hari itu terasa amat menyedihkan bagi semua orang, tak hanya bagi Ten tapi juga bagi banyak orang yang menyayangi Hendery nya.

Ten masih terbaring di salah satu ranjang yang berada di rumah sakit, Johnny duduk di sebelahnya dan menumpu kepalanya pada sisi ranjang yang tengah Ten tiduri. Pria itu tengah menangis, ia amat takut akan terjadi hal buruk pada anaknya, bagaimanapun juga Johnny baru saja merasakan saat-saat indah bersama Hendery, apakah tuhan begitu tega untuk mengambil anaknya begitu saja.

Netra indah Ten mulai kembali terbuka, wanita itu kembali menangis setelah tersadar dimana ia berada. Ten kembali mengingat anaknya, ia bahkan mulai berontak dan ingin segera menemui Hendery. Beruntungnya ada Johnny disana, pria itu berhasil menahan tubuh Ten hingga wanita itu kembali tenang sekalipun masih menangis tersedu-sedu di ranjangnya.

Hendery yang belum melewati masa kritisnya masih berada di ruang ICU, sudah seminggu anak kecil itu berbaring di ranjang pesakitan dengan berbagai peralatan medis yang menempel pada tubuhnya. Hampir setiap hari Ten datang mengunjungi anaknya, sekalipun ia hanya bisa memandangi Hendery lewat kaca jendela dalam waktu yang terbatas setidaknya itu bisa menuntaskan sedikit rasa rindunya. Hampir setiap hari wanita itu menangis, bahkan Ten selalu mengecupi pakaian Hendery di apartemen mereka. Ten benar-benar merindukan aroma tubuh pangeran kecilnya. Min-ah yang selalu menyaksikan Ten yang menangis hanya bisa memandang iba pada majikannya, bahkan Hendery yang belum terbangun selama seminggu membuat Ten kehilangan berat badannya. Wanita itu terlihat lebih kurus dan wajahnya benar-benar sendu. Netra indahnya yang dulu selalu terlihat berbinar kini telah pergi entah kemana, yang tersisa hanyalah tatapan sayu buah lelah dari tangisan panjangnya.

Hari ini untuk pertama kalinya Ten dan Johnny diizinkan untuk menjenguk Hendery secara langsung setelah sebelumnya hanya puas memandangi wajah anak mereka dari kaca jendela yang ada disana. Pria dan wanita itu telah siap dengan pakaian hijau khas rumah sakit yang membalut tubuh mereka, Johnny nampak menahan tangan Ten yang ada di hadapannya. Ten memandang Johnny dan menatap pria itu dengan tatapan yang masih sama sendunya seperti hari-hari sebelumnya.

"Jangan menangis Ten, Dery masih bisa mendengar apa yang kita lakukan." Ucap Johnny, sebenarnya perkataan semacam itu amat berat terucap dari mulutnya namun ia harus tetap mengatakannya. Ten mengangguk lemah menanggapi perkataan Johnny. Setelahnya pria dan wanita itu melanjutkan langkah mereka untuk memasuki ruangan Hendery.

Rasanya Ten ingin berteriak, di ruangan berukuran sedang itu hanya dipenuhi dengan suara alat pemantauan medis yang menempel pada tubuh kecil anaknya. Bahkan suara itu terdengar begitu menggema dan amat menyakitkan di telinga Ten hari itu. Ten duduk di salah satu kursi yang ada disana dan menyentuh lembut tangan kecil anaknya. Ia begitu merindukan tangan kecil itu, jemari kecil dan lembut yang biasanya selalu menggenggam erat tangannya kini benar-benar lemas dan tak bertenaga. Mati-matian Ten menahan tangisannya hari itu, ia berkali-kali menghela nafas panjang hanya untuk menghilangkan rasa nyeri di hatinya

"Dery…. Ayo bangun, nanti kita bermain dengan daddy." Ucap Ten dengan suara yang bergetar.

Johnny yang berdiri tepat di sebelah mantan istrinya mengelus lembut pundak Ten dan dihadiahi tatapan berkaca-kaca dari wanita itu. Kondisi Johnny tak jauh berbeda, netra tajamnya mulai berembun dan ia juga tengah berusaha keras menahan tangisnya. Pikiran Johnny kembali mundur ke beberapa hari kebelakang, hari itu dokter kembali memanggil Ten dan Johnny untuk menemuinya. Jadi selain mengalami cedera kepala nyatanya putra kecil mereka juga mengalami patah tulang di tangan kirinya karena tubuhnya yang terpental ke jalan saat kecelakaan. Johnny pikir itu adalah hal buruk terakhir yang akan ia dengar, nyatanya ada satu hal yang lebih menyakitkan dari sekedar patah tulang. Terdapat gumpalan darah di otak Hendery. Ten benar-benar menangis saat itu, bahkan wanita itu seperti belum lelah menumpahkan air matanya. Dokter bilang mereka akan memantau gumpalan darah tersebut sembari memberikan obat-obatan pada Hendery, jika nanti ternyata gumpalan darah tersebut berukuran lebih besar kemungkinan akan dilakukan operasi pada anak kecil itu. Namun tetap saja mereka harus menunggu Hendery tersadar dari komanya untuk melakukan operasi.

Hari itu di tengah kunjungan singkat mereka Ten bercerita tentang banyak hal pada anaknya. Walaupun Hendery tidak bisa merespon apa yang sang mama katakan namun Ten tahu jika anaknya masih bisa mendengarnya dengan jelas. Ten terus menceritakan banyak cerita indah pada anaknya, ia menoleh saat merasa seseorang menyentuh bahunya. Itu Johnny, pria itu mengingatkan pada Ten jika waktu kunjungan mereka hampir selesai. Ten tersenyum sekilas dan memandangi wajah tampan anaknya.

"Dery…. Mama dan daddy harus pulang, kita bertemu lagi besok ya. Mama sangat mencintai Dery, ayo bangun. Setelah ini jahili mama lagi, mama sangat merindukan Dery…."

Dan kata-kata terakhir itu adalah penutup dari kunjungan menyedihkan hari ini. Tepat saat Johnny menutup pintu ruang perawatan Hendery tangis Ten pecah juga, ia terlihat berjongkok dan membenamkan wajahnya pada kedua lututnya. Hatinya benar-benar sakit melihat Hendery hanya bisa terbaring tak berdaya. Ia benar-benar merindukan anaknya, rindu itu benar-benar tak tertahan dan seolah siap untuk meledak.

Johnny membantu Ten bangkit berdiri setelahnya ia membawa wanita itu dalam pelukannya, Ten menangis disana, tangisannya masih terdengar sama seperti hari-hari sebelumnya. Tentang kesedihan seorang ibu yang amat merindukan anaknya.

"Aku rindu anak kita John…."