26. One Forgotten Person

Hendery sudah keluar dari ruang ICU sejak seminggu yang lalu, jika diingat kembali anak kecil itu telah tertidur tiga minggu lamanya. Johnny mengambil salah satu kamar rawat VIP untuk Hendery karena Ten terkadang bersikeras untuk menjaga anaknya seharian. Wanita itu benar-benar ingin jadi orang yang dilihat Hendery untuk pertama kalinya saat anak kecil itu terbangun dari komanya.

Hari ini Ten kembali menemani anaknya, hampir setiap hari setelah Ten menyelesaikan semua pekerjaannya ia akan menyambangi Hendery atau bahkan terkadang Ten membawa pekerjaannya bersamanya dan mengerjakannya di ruang rawat sang anak seraya menunggu Hendery terbangun dari tidur panjangnya. Ten telah membaca banyak buku tentang pasien koma, ia berusaha mencari tahu apa yang seharusnya ia lakukan saat menghadapi pasien koma. Dan dari buku-buku itu Ten telah mempelajari banyak hal, ia selalu bercerita hal-hal indah pada Hendery setiap harinya atau bahkan membacakan cerita pengantar tidur seperti yang rutin mereka lakukan setiap malam. Ten juga menaruh beberapa bunga di kamar rawat anaknya dan rutin menggantinya setiap beberapa hari sekali supaya harum bunga itu tetap terjaga, bahkan Ten kerap kali menyemprotkan pengharum ruangan untuk menemani Hendery yang masih tertidur lelap.

Hari ini Ten nampak tengah bercerita pada Hendery, jemari lentiknya juga menggenggam sebuah squishy unicorn yang diletakan di atas telapak tangan sang anak. Ten akan memainkan jemari Hendery supaya menyentuh squishy tersebut saat ia tengah bercerita. Hal itu amat rutin ia lakukan dan berharap Hendery dapat merasakan sensasi sentuhan dari benda yang ia genggam. Ten menoleh saat mendapati pintu ruang rawat Hendery yang terbuka. Itu Johnny, pria itu baru saja datang dengan setelannya yang masih terlihat rapi. Seingat Ten kemarin mantan suaminya itu bercerita jika ada persidangan yang harus ia hadiri. Johnny selalu mendatangi Ten dengan makanan di tangannya, ia begitu hafal jika mantan istrinya itu akan melewatkan banyak hal jika sudah berurusan dengan Hendery anak mereka, bahkan Ten terlihat kehilangan berat badannya, pipinya juga terlihat lebih tirus dari sebelumnya.

"Ah bahkan langitnya sudah gelap…. Aku tidak sadar." Ucap Ten saat menatap ke arah jendela.

"Sejak kapan kau sadar akan sesuatu jika sedang bersama Dery." Ledek Johnny, pria tinggi itu nampak tengah menata makanan di sebuah meja. Setelah selesai ia mengajak Ten untuk menikmati makanan itu bersama.

Ten menyantap semua makanan yang Johnny bawa dengan begitu lahap, wajar saja bahkan wanita itu benar-benar hanya mengisi perutnya dengan sandwich yang ia makan saat sarapan. Johnny yang berada di hadapan Ten terlihat melonggarkan dasinya dan melepas jas yang sejak tadi ia kenakan, jadilah pria itu hanya mengenakan kemeja berwarna putih yang membentuk tubuh kekarnya.

Ten tidak tahu harus bersyukur atau tidak dengan keadaan anaknya yang koma, pasalnya hubungannya dan Johnny benar-benar menjadi lebih baik, bahkan bisa dibilang komunikasi mereka menjadi lebih intens dari sebelumnya. Jangan lupakan juga fakta bahwa Ten dan Johnny kerap kali bermalam bersama di ruang rawat anak mereka. Mereka terlihat seperti teman akrab, bahkan Johnny kembali bisa mengeluh tentang pekerjaannya pada Ten seperti yang dulu rutin ia lakukan, entahlah rasanya hal itu membuat Johnny cukup senang.

"Ah aku jadi merindukan kimbab yang di jual di depan universitas." Ucap Ten tiba-tiba, di sumpitnya terdapat kimbab yang baru saja Johnny beli dan wanita itu nampak menatap penuh harap dengan bibirnya yang menekuk ke bawah.

"Memangnya masih dijual disana?" Tanya Johnny penasaran, pasalnya dulu saat mereka masih berkencan Ten kerapkali menyeret paksa Johnny ke restoran kimbab kesukaan wanita itu.

"Masih…. Bahkan sekarang tempatnya lebih modern. Aku jadi ingin pergi kesana." Ucap Ten.

"Kau bisa pergi kesana saat Dery terbangun nanti." Jawab Johnny.

"Hum…. kau juga boleh ikut kalau kau mau." Sambung Ten. Johnny hanya tersenyum sekilas sore itu, ia kembali menikmati makanannya seraya menatap lekat wajah cantik mantan istrinya.

"Kau mau tahu sesuatu?" Tanya Ten tiba-tiba.

"Apa?"

"Tingkah Dery benar-benar mirip sepertimu." Ucap Ten, Johnny sedikit berbatuk kala mendengar perkataan mantan istrinya itu. Ia tak pernah menyangka jika Ten akan menyinggung hal semacam itu.

"Saat Dery marah dia benar-benar akan melakukan hal yang sering kau lakukan, Dery juga sangat benci makanan pedas. Mirip denganmu bukan? Bahkan tingkahnya saat merajuk benar-benar seperti seorang Johnny Seo." Ucap Ten. Johnny nampak tertawa, ia benar-benar tak tahu lagi harus menanggapi seperti apa tingkah mantan istrinya yang begitu random sore itu.

Pembicaraan mereka terus berlanjut sampai malam menjelang, bahkan Johnny mulai mengeluh tentang tingkah klien-kliennya dan itu berhasil membuat Ten tertawa nyaring malam itu. Dan suara tawa mereka berdua hari ini bisa didengar dengan jelas oleh Hendery yang masih sibuk tertidur, setidaknya anak kecil itu bisa tahu betapa bahagianya kedua orang tuanya saat sedang bersama.

Hari ini Sora berada di apartemen Heejin seperti hari-hari sebelumnya, wanita muda itu sudah mulai kesal dengan tingkah Heejin yang kerap kali pulang larut malam dengan keadaan mabuk berat dan membuat San kehilangan kasih sayang ibunya. Saat tengah malam Sora keluar dari kamar San untuk mengambil segelas air mineral. Saat melewati kamar Heejin wanita muda itu mendapati pintu kamar bercat putih itu belum tertutup rapat, sebenarnya itu hal biasa hanya saja ia mendengar suara kekesalan Heejin dari dalam sana dan berhasil membuat Sora menajamkan telinganya malam itu.

"Sudah kubilang kau sudah aman, bahkan kau sudah menghancurkan mobilmu. Aku juga sudah membayarkan sejumlah uang padamu sesuai perjanjian kita."

"Apa? Kau bilang itu belum cukup? Kau bahkan tak berhasil membunuhnya, anak itu hanya koma dan bisa bangun lagi kapan saja."

"Kau lupa perjanjiannya? Aku hanya akan memberikan tambahan uang jika kau membuat anak kecil itu meninggal saat itu juga."

"Kau harusnya pergunakan uang itu untuk sembunyi, kau tahu keluarga Seo mulai mencari siapa orang yang mencelakai cucu kesayangan mereka."

"Jangan coba-coba membawa namaku bila kau tertangkap. Nikmati uang itu, jangan menggangguku lagi."

Sora mengernyitkan dahinya, ia benar-benar tak mengerti apa yang baru saja di dengarnya. Anak kecil, koma, meninggal, dan keluarga Seo. Jika diingat lagi Seo adalah nama keluarga Johnny, apa ini ada kaitannya dengan pria iru, pikir Sora. Sora ingin menajamkan otaknya malam itu namun rasa dahaganya benar-benar mengganggu, akhirnya ia memilih untuk melesat ke dapur dan mengambil segelas air mineral. Meninggalkan Heejin yang sepertinya kembali melanjutkan perbincangannya dengan seseorang di ponselnya.

Empat minggu sudah Hendery terbaring koma, setiap hari para dokter atau perawat rutin mengunjunginya. Beberapa hari lalu anak kecil itu juga baru saja mendapatkan kunjungan dari kakek dan neneknya. Hari itu nyonya Seo memandang sendu ke arah Ten pasalnya menantu cantiknya itu terlihat lebih kurus dengan kantung mata yang bertengger di bawah netra indahnya. Wanita paruh baya itu jelas mengerti apa yang tengah Ten rasakan, bahkan saat seorang ibu mendapati anaknya demam rasa kekhawatiran mereka pasti akan memuncak, bagaimana dengan yang tengah Ten alami sekarang, pasti jauh lebih menyakitkan.

Que sera sera….

Whatever will be will be….

The future not our to see….

Que sera sera….

Siang itu Ten tengah bersenandung seraya mengelus lembut punggung tangan Hendery. Ten telah berada di kamar rawat anaknya sejak pagi karena kebetulan ia sedang libur bekerja jadi hari ini bisa leluasa menemani Hendery kecilnya. Ten tampak terkejut saat merasakan ada sedikit pergerakan dari jemari kecil anaknya. Ten berulang kali menggelengkan kepalanya, ia takut jika hanya sedang berhalusinasi karena terlalu sering bermimpi jika Hendery telah terbangun dari tidur panjangnya. Namun apa yang Ten lihat siang ini bukanlah sebatas halusinasinya, Hendery benar-benar menggerakan jemari kecilnya. Dan tak lama kemudian Ten mendengar suara lirih yang keluar dari mulut anaknya.

Rasanya Ten ingin melompat saking senangnya. Wanita itu bergegas menekan tombol yang berada di ruang rawat sang anak, tak butuh waktu lama tim dokter mendatangi Hendery dan mulai memeriksa kondisi kesehatan anak kecil itu. Siang itu bagai sebuah keajaiban, Hendery benar-benar telah membuka matanya setelah semua orang di sekitarnya hampir kehilangan harapan. Setelah tim dokter pergi meninggalkan mereka Ten bergegas mendekati Hendery dan menggenggam erat tangan sang anak, air matanya tak bisa dibendung lagi siang itu. Biarkanlah hari ini Ten mengeluarkan air matanya, air mata bahagia yang menggambarkan seberapa senangnya ia bisa kembali bersama putra kecil kesayangannya.

Johnny tengah berlari di sepanjang lorong rumah sakit, ia baru saja mendapat kabar dari mantan istrinya jika Hendery anak mereka telah terbangun dari tidur panjangnya. Pria tinggi itu membuka pintu kamar rawat sang anak dan ia bisa tersenyum lega saat melihat Hendery yang tengah terduduk dan menikmati segelas air mineral melalui sedotan. Ten ikut tersenyum melihat kedatangan Johnny, bagaimanapun juga pria tinggi itu telah menghabiskan banyak waktu untuk membantu menjaga anak mereka selama beberapa minggu terakhir.

Dengan perlahan Johnny melangkahkan kakinya mendekati ranjang rawat Hendery, ia benar-benar ingin memeluk anaknya hari itu. Rasa rindunya benar-benar membuncah dan tak bisa lagi ia tahan lebih lama. Johnny mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Hendery yang masih dihiasi perban namun pria itu malah mendapati reaksi aneh dari sang anak, Hendery beringsut takut dan memeluk Ten erat-erat ia terlihat ketakutan dan bertingkah seperti tak mengenal pria dewasa yang ada di hadapannya.

"Dery kenapa? Jangan takut begitu." Ucap Ten berusaha menenangkan anaknya.

"Samchon siapa?" Kalimat itu terlontar dari mulut Hendery dengan suaranya yang begitu lirih, ia seolah benar-benar tak mengenal Johnny hari itu.

Ten dan Johnny saling pandang satu sama lain, terutama Ten. Pasalnya saat Hendery terbangun anak kecil itu bisa mengingatnya dengan baik dan menyebutnya mama. Beberapa menit lalu juga saat Min-ah datang mengantarkan makanan Hendery mengingat siapa wanita muda itu. Dan hari ini Ten benar-benar bingung kenapa anaknya tak mengingat Johnny yang notabene ayahnya sendiri.

Anak kecil itu kembali diperiksa oleh dokter untuk mengetahui apa penyebab dari Hendery yang melupakan ayahnya sendiri. Pakaian rawat Hendery telah diganti dengan pakaian khusus karena anak kecil itu akan melakukan prosedur MRI untuk mendeteksi kerusakan yang terjadi pada otaknya. Hendery benar-benar rewel siang itu, ia ketakutan dan beralasan tak mau dimasukan ke dalam goa, Ten hampir saja tertawa mendengar perkataan anaknya, setelah membujuknya dengan berbagai macam cara akhirnya hari itu Hendery berhasil ditaklukan dan anak kecil itu melakukan prosedur MRI dengan segera.

Johnny harus menunggu selama seminggu lamanya untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab Hendery melupakannya. Dan selama seminggu itu Johnny harus melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Hendery mengingat semua orang di sekitarnya kecuali dirinya. Bahkan Hendery mengingat dengan baik siapa kakek neneknya, bahkan kakek neneknya yang berada di Thailand pun masih diingat dengan baik oleh anak kecil itu.

"Samchon sedang sakit?" Tanya Hendery tiba-tiba. Saat ini hanya ada Johnny di ruangan anak kecil itu karena Ten harus pergi ke apotek untuk menebus obat sejak beberapa menit lalu.

"Ah ani, samchon baik-baik saja. Dery sudah tidak sabar memakan apelnya ya?" Tanya Johnny, ia jelas melihat jika sejak tadi netra bulat anak kecil itu menatap penuh harap ke arah apel yang tengah ia kupas.

"Samchon selalu datang dengan pakaian yang rapi, memangnya samchon kerja apa?" Tanya Hendery di tengah aktivitasnya menikmati potongan apel.

"Hum…. samchon pengacara." Jawab Johnny.

"Woah…. keren sekali, berarti samchon membela kebenaran. Mama bilang daddy nya Dery juga seorang pengacara yang hebat." Ucap Hendery. Johnny hampir saja tersedak hari itu, jadi Hendery ingat jika ia memiliki seorang ayah tapi tak mengingat wajah ayahnya.

"Dery boleh minta tolong pada samchon tidak?" Tanya anak kecil itu.

"Tentu saja boleh, samchon pasti akan membantu Dery." Balas Johnny.

"Jika samchon bertemu dengan daddy nya Dery bisa tolong sampaikan kalau Dery sangat merindukannya. Daddy selalu lupa dengan janjinya untuk bermain dengan Dery, Dery sebal sekali…." Ucap anak kecil itu dengan bibir yang mengerucut lucu. Johnny benar-benar terdiam, apa selama ini sejahat itukah dirinya pada anaknya sendiri, pikir pria itu.

Ten dan Johnny telah berada di ruangan dokter setelah sebelumnya menitipkan Hendery pada Min-ah yang baru saja datang beberapa menit lalu. Johnny menunggu dengan harap-harap cemas sampai kedua tangannya saling bertaut, berbeda jauh dengan Ten yang terlihat lebih tenang hari itu.

"Hendery mengalami kerusakan pada sistem limbik otaknya, kemungkinan itu terjadi karena benturan keras yang didapatkan saat kecelakaan." Dokter itu menunjukan gambaran hasil pemindaian otak Hendery yang ada di layar monitornya. Ten dan Johnny hanya mengangguk hari itu karena mereka cukup pusing mendengarkan penjelasan yang sang dokter berikan.

"Untuk saat ini kita bisa sebut Hendery mengalami amnesia disosiatif karena faktanya ia hanya melupakan ayahnya, lebih tepatnya sama sekali tak mengingat wajah ayahnya."

"Apa ada cara untuk mengembalikan ingatannya?" Bukan Johnny yang bersuara hari itu melainkan Ten yang buka suara. Johnny hanya diam sejak tadi, entahlah ia hanya bingung harus bersikap seperti apa setelah mendengar semua perkataan dokter yang ada di hadapannya.

"Amnesia disosiatif tak bisa dianggap sebagai kehilangan memori biasa. Biasanya hal yang dilupakan adalah peristiwa traumatis di masa lalu atau yang memberikan stress berlebih pada pasien."

"Jalan satu-satunya untuk Hendery, ia harus melakukan psikoterapi untuk mengembalikan semua ingatan yang ia lupakan." Jelas dokter tersebut.

Ten dan Johnny berjalan beriringan setelah selesai bertemu dokter penanggung jawab anak mereka. Pria dan Wanita itu hanya terdiam dan belum ada yang berniat membuka pembicaraan.

"John…." Ucap Ten pada akhirnya.

"Aku akan memastikan Dery bisa mengingatmu kembali." Sambung Ten, Johnny hanya tersenyum hari itu. Entahlah sepertinya ia tak mau terlalu berharap banyak, lagi pula semua hal yang terjadi bermula dari kesalahan yang diperbuat sendiri.

"Terima kasih Ten." Ucap Johnny.

"Bagaimanapun juga kau adalah ayahnya, dan Dery tak boleh melupakan fakta itu."