27. The Truth

Hari ini terhitung seminggu sudah Hendery tersadar dari komanya, anak kecil itu masih menghabiskan waktu di rumah sakit untuk pemulihan. Setiap hari Ten selalu menemaninya dan wanita itu selalu menyertakan Johnny dalam semua hal yang anak mereka lakukan. Untuk sementara Ten memperkenalkan Johnny sebagai rekan kerjanya pada Hendery, anak kecil itu hanya mengangguk mengerti mendengarkan penjelasan yang Ten berikan dan mereka cukup akrab sampai saat ini.

Hari ini Hendery benar-benar rewel, ia tak mau berpisah dari Ten. Anak kecil itu meminta sang mama untuk duduk di ranjang rawatnya dan memeluknya erat-erat. Entahlah Ten juga tak mengerti apa yang tengah terjadi pada putra kesayangannya itu. Johnny baru datang ke ruang rawat Hendery saat siang hari, pria itu nampak mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam telah menunjukkan pukul dua siang. Itu artinya sejak tadi Hendery masih sibuk memeluk Ten karena wanita itu telah mengeluh pada Johnny melalui ponselnya sejak pukul sepuluh pagi.

"Kau sudah makan?" Tanya Johnny.

"Bagaimana bisa, bahkan Dery tak mengizinkanku bangkit." Ucap Ten dengan bibir yang menekuk ke bawah.

Johnny lantas mendekati Ten dan Hendery, ia mengelus lembut surai hitam anak kecil itu dan berusaha membujuknya untuk melepas pelukannya dari tubuh sang mama. Hendery hanya menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak membiarkan Ten jauh-jauh darinya. Johnny membuka kotak berisi makanan yang sempat ia beli dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, pria tinggi itu lantas berinisiatif menyuapi Ten yang dibalas tatapan aneh dari wanita itu.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ten dengan wajah yang bertanya-tanya.

"Kau harus makan, perutmu itu sudah berbunyi sejak tadi tahu." Johnny menyuapkan sesendok makanan ke mulut Ten sedangkan wanita itu hanya mendengus sebal mendengar perkataan mantan suaminya.

Ten menikmati setiap suapan yang Johnny berikan padanya walaupun sesekali wanita itu mengeluh karena Johnny memberikan suapan yang terlalu besar. Namun tak ada pilihan lain Ten harus menelan semuanya bulat-bulat hari itu. Sesekali mereka berdua terlihat berbincang dan tertawa hingga menimbulkan suara bising di ruang rawat sang anak, namun sepertinya Hendery benar-benar tak terusik, posisinya masih belum berubah sampai Ten pusing sendiri sebenarnya apa yang tengah Hendery pikirkan.

Setelah selesai menyuapi Ten makanan, Johnny lantas menyodorkan sebotol air mineral pada wanita itu. Ten yang merasa perutnya benar-benar telah terisi penuh terlihat bersendawa di hadapan mantan suaminya hingga mereka berdua tertawa keras. Rasanya pemandangan itu terlihat amat indah namun tak ada yang tahu sampai kapan mereka bisa menikmatinya.

"Bisa tolong ke apotek sebentar? Dokter bilang ada obat untuk Dery yang harus ditebus." Ucap Ten pada mantan suaminya.

Johnny yang memang tak memiliki kesibukan apapun nampak mengangguk dan melangkah menuju apotek yang ada di rumah sakit. Pria tinggi itu baru saja menebus obat untuk anaknya, ia menghentikan langkah kakinya saat tiba-tiba saja ada seseorang yang menyentuh pundaknya. Johnny menoleh dan cukup terkejut saat mendapati Sora berada disana.

"Apa yang kau lakukan disini Sora-ssi?" Tanya Johnny.

"Ah keponakanku sedang sakit, dan hari ini giliranku untuk menjaganya." Jelas Sora.

"Kalau kau? Kenapa berada disini?" Tanya Sora.

"Anakku sedang sakit dan ada beberapa obat yang harus ditebus." Sora hanya mengangguk mendengar perkataan Johnny ia memang sudah tahu jika Johnny juga memiliki anak dari wanita lain pasalnya Heejin pernah bercerita jika sebentar lagi Johnny akan menikahinya setelah bercerai dengan istrinya, entahlah Sora benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu.

"Dia sakit apa?" Tanya Sora terlihat penasaran.

"Tertabrak mobil sebulan yang lalu." Balas Johnny. Sora terdiam, rasanya ia mengingat sesuatu, apa mungkin yang Heejin bicarakan beberapa hari lalu adalah anak Johnny. Sora cukup lama terdiam sampai akhirnya ia kembali buka suara.

"Apa anakmu sempat koma?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Sora membuat Johnny membulatkan matanya, bagaimana mungkin Sora bisa tahu tentang keadaan Hendery, bahkan Johnny saja tak pernah bercerita pada Heejin sebelumnya.

"Johnny-ssi…. Bisa kita bicara sebentar." Ucap Sora, Johnny mengangguk ragu dan mengikuti langkah kaki wanita itu.

Disinilah mereka sekarang, di cafetaria rumah sakit yang terlihat cukup ramai di siang hari. Sora dan Johnny memilih tempat duduk yang berada dekat dengan jendela karena itulah satu-satunya sudut yang terlihat sepi siang itu.

"Kurasa kau harus mencurigai Heejin." Ucap Sora tiba-tiba. Johnny hampir saja tersedak minumannya mendengar perkataan wanita mungil yang ada di hadapannya itu.

"Kau bicara apa?" Johnny benar-benar tak tahu harus merespon seperti apa perkataan yang baru saja keluar dari mulut Sora.

"Beberapa hari lalu saat aku menginap di apartemen Heejin untuk menjaga San aku tak sengaja mendengar dia berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Dia membahas soal kecelakaan, anak kecil yang koma, lalu mobil yang telah dilenyapkan." Johnny benar-benar terdiam, ia berusaha sebaik mungkin mencerna perkataan yang keluar dari mulut Sora siang itu.

"Heejin juga bilang ia akan memberikan bayaran yang lebih banyak jika orang itu berhasil membuat seorang anak kecil meninggal di tempat. Dan yang terakhir dia bilang keluarga Seo tengah mencari keberadaan orang yang mencelakai cucu mereka. Bukankah itu semua terlalu jelas?" Johnny mengusap kasar wajahnya, ia benar-benar tak menyangka jika Heejin bisa bertingkah seperti iblis dan berniat mencelakai Hendery.

"Kau benar-benar harus menghentikan Heejin, kurasa ia serius untuk menyingkirkan anakmu dari mantan istrimu itu." Ucap Sora sebagai penutup pembicaraan mereka.

Setelah Sora pamit undur diri, Johnny masih sibuk terduduk di bangku kafetaria. Entahlah rasanya tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut, pria itu bahkan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

Hari ini Hendery diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Anak kecil itu terlihat begitu bersemangat, bahkan Hendery sama sekali tidak rewel saat seorang perawat melepas infus yang menempel di tangan kecilnya sejak lama.

"Ma nanti Dery boleh makan ayam goreng kan?" Tanya Hendery pada Ten yang tengah sibuk berkemas.

"Tentu saja boleh, Dery boleh makan apapun yang Dery suka nanti." Balas Ten tak kalah semangat dari anaknya.

"Hari ini dijemput samchon tampan tidak ma?" Tanya Hendery lagi.

"Iya…. Nanti Johnny samchon yang akan mengantarkan kita pulang." Jelas Ten. Hendery terlihat begitu senang saat tahu Johnny yang akan menjemputnya dan ibunya.

Johnny terlihat keluar dari apartemen Ten, ia baru saja mengantarkan Hendery dan Ten kembali ke apartemen mereka dan menghabiskan waktu bersama Hendery selama berjam-jam lamanya. Saat tengah dalam perjalanan menuju mobilnya tiba-tiba saja Johnny merasakan jika ponselnya bergetar. Pria itu lantas merogoh sakunya dan mulai berbincang dengan seseorang yang menghubunginya.

"Pria itu berhasil ditemukan di Jeju, dia bilang Heejin memberinya sejumlah uang dan memintanya mencelakai tuan muda Hendery."

Johnny mengakhiri panggilannya dan kembali melanjutkan perjalanan ke apartemen Heejin. Mungkin akan sangat menyenangkan jika memberikan wanita itu sedikit kejutan, pikir Johnny. Jadi sejak perbincangannya dengan Sora di cafetaria rumah sakit Johnny mulai melakukan penyelidikan sesuai dengan apa yang Sora katakan padanya. johnny juga telah bekerja sama dengan Sora untuk memantau Heejin secara diam-diam dan merekam apapun yang wanita itu bicarakan. Karena bagaimanapun juga Heejin tak bisa diamankan oleh polisi begitu saja, baik Johnny ataupun Sora harus sama-sama memiliki bukti yang cukup kuat untuk membuat wanita itu jera. Hari ini Johnny telah memerintahkan pada Sora untuk tidak datang ke apartemen Heejin dan Sora menurut saja lagipula ia masih harus menjaga keponakannya.

Johnny berdiri di ambang pintu apartemen Heejin dan wanita itu menyambutnya dengan senyuman cerah seolah tak ada hal aneh apapun yang baru saja terjadi.

"Mau pergi jalan-jalan? Kurasa akan sangat menyenangkan jika kita piknik ke taman kota." Usul Johnny yang dihadiahi anggukan kepala dari Heejin.

Wanita itu lantas segera melesat ke kamarnya untuk bersiap-siap sebelum pergi keluar dengan Johnny dan San anak mereka. Johnny baru saja mendudukkan San di kursinya dan memasangkan sabuk pengaman pada tubuh anak kecil itu. San bahkan masih tertidur saat Johnny membawanya masuk ke mobilnya.

Mobil Johnny mulai melaju membelah jalanan kota Seoul yang terlihat cukup lengang hari itu. Sepanjang perjalanan Heejin nampak tersenyum cerah, jelas saja ia terlihat amat senang karena akan piknik bersama dengan Johnny dan San anak mereka. Netra indah Heejin nampak memandang keheranan karena mobil Johnny malah melaju ke arah yang berlawanan dengan taman kota. Bukankah beberapa menit lalu pria itu berjanji akan membawanya ke taman kota, pikir Heejin.

"Kurasa kau salah jalan, taman kota seharusnya melewati jalan yang sebelumnya." Ucap Heejin. Johnny tersenyum tipis menanggapi perkataan wanita itu, Heejin semakin bertanya-tanya kemana sebenarnya Johnny akan membawanya.

"Kau akan membawaku kemana?" Tanya Heejin.

"Kantor polisi." Ucap Johnny singkat, Heejin terlihat membelalakan matanya mendengar jawaban pria itu. Ia bertingkah seolah tak tahu mengapa Johnny harus membawanya kesana.

"Maksudmu apa? Kenapa kantor polisi?" Tanya Heejin.

"Kau telah membayar orang untuk membunuh anakku kan?" Ucap Johnny.

"Johnny- apa maksudmu? Aku tak mengerti, mana mungkin aku bertingkah sejahat itu." Heejin mulai terlihat gugup dan membalas ucapan Johnny dengan sedikit terbata hari itu.

"Kau mau sembunyikan apa lagi? Aku bahkan telah menemukan buktinya. Kau harus berakhir di penjara Heejin-ssi." Heejin menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tak mau berakhir di penjara, ia hanya ingin hidup bahagia bersama Johnny selamanya.

"Kau salah paham John, aku tidak mungkin mencelakai Hendery. Bagaimanapun juga dia adalah anakmu, mana mungkin aku setega itu." Ucap Heejin berusaha mencari pembelaan.

"Pembelaanmu itu akan lebih berguna di pengadilan."

"Johnny…. kumohon jangan masukan aku ke penjara." Heejin mulai menangis dan memohon pada Johnny yang masih sibuk menyetir.

"Kau pikir aku bisa memaafkanmu begitu saja setelah kau membuat Hendery hampir kehilangan nyawanya." Johnny benar-benar termakan emosi hari itu, ia berteriak keras pada Heejin hingga wanita itu tersentak. Pertikaian diantara mereka berdua mulai pecah, San bahkan terlihat sama sekali tak terganggu dengan keributan kedua orang tuanya, anak kecil itu malah terlihat makin terlelap dalam tidurnya dengan alunan melodi pertikaian kedua orang tuanya.

"Heejin…. Lepas, aku sedang menyetir. Ini bahaya…." Johnny berusaha menyingkirkan tangan Heejin yang terus mengusik aktivitasnya.

"Choi Heejin! Kau mendengarku dengan jelas kan? Kita bisa mati kalau kau terus bermain-main. Sekarang lepaskan kubilang!"

"Mati? Lebih baik kita mati bersama, akan lebih baik jika kita bisa bahagia bersama daripada aku harus berakhir dalam penjara." Johnny membelalakan matanya ia benar-benar tak menyangka Heejin bisa berfikir seperti itu di saat seperti ini.

"Choi Heejin, singkirkan tanganmu…."

"Heejin-ah!"

Brak!