28. Leave The World

Johnny mengerjapkan matanya perlahan, pria itu membuka mata setelah mendengar seseorang yang baru saja mengetuk jendela mobilnya. Pria tinggi itu memegangi kepalanya yang terasa amat berdenyut hari itu. Johnny menoleh ke samping dan ia amat terkejut saat mendapati Heejin yang tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Mobil yang Johnny kemudikan dihantam sebuah truk dari arah berlawanan, benturan keras itu membuat kaca mobil Johnny yang berada tepat di hadapan Heejin pecah dan serpihannya mengenai wajah wanita itu. Samar-samar Johnny mendengar suara tangisan San yang berada di kursi belakang. Pria itu lantas membulatkan matanya dan berusaha keluar dari mobil tersebut.

Beberapa orang yang berada di sana membantu Johnny serta San keluar dari mobil. Johnny merasa ada yang salah pada tangan kanannya, entahlah rasanya seperti ada rasa nyeri yang menjalar dari sana sejak tadi. Tak butuh waktu lama petugas layanan darurat datang untuk menyelamatkan mereka. San terus menangis dalam pelukan Johnny dan pria itu hanya bisa duduk diam terlebih setelah baru saja mendengar apa yang petugas layanan darurat katakan. Heejin tak bisa diselamatkan, bahkan wanita itu telah meninggal di tempat kecelakaan. Johnny benar-benar merasa seperti tengah berada di alam mimpi, pria itu berkali-kali mencubit tangannya dan berharap saat terbangun tak akan ada apapun yang terjadi. Namun semuanya tak ada artinya, kematian Heejin adalah salah satu kenyataan yang harus Johnny terima.

Ten tengah menemani Hendery menonton kartun kesukaannya hari itu. Wanita itu terus tersenyum kala kembali melihat Hendery yang ceria setelah beberapa minggu terakhir hanya bisa melihat anak kecil itu terbaring di ranjang pesakitan. Ten menoleh ke arah sofa kala mendengar ponselnya berdering, ada panggilan masuk di sana. Ten mengangkat panggilan tersebut dan mulai berbincang dengan seseorang di seberang sana.

"Kau sudah dengar? Johnny kecelakaan dan wanita itu meninggal dunia." Taeyong berucap dalam panggilan telepon mereka. Ten hanya terdiam ia sama sekali tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bahkan Johnny baru saja kembali dari apartemennya beberapa jam lalu setelah bermain dengan Hendery.

"Aku dan Jaehyun akan pergi kesana…. Ya walaupun kami benci wanita itu tapi bukankah tak ada salahnya memuliakan orang yang telah meninggal. Kututup dulu ya Ten, annyeong…."

Panggilan telepon antara dua wanita dewasa itu berakhir begitu saja, Ten masih terdiam. Apakah secepat itu Heejin pergi meninggalkan dunia, bahkan wanita itu belum sempat memberikan maafnya atas semua luka yang ia goreskan di hati Ten. Ten lantas mendekati Hendery dan meminta anak kecil itu berdiri, Ten mengelus lembut kedua pundak anaknya dan mulai mengajak Hendery berbicara.

"Dery…. Hari ini kita akan pergi menghibur hyung yang sedang sedih." Ucap Ten, Henderi mengerjapkan matanya beberapa kali, ia sama sekali tak mengerti apa yang tengah dikatakan sang mama.

"Mark hyung?" Tanya Hendery.

"Bukan, namanya San hyung. Anaknya Johnny samchon. San hyung sedang sedih karena mamanya baru saja pergi meninggalkan dunia ini. Dery mau kan menghibur San hyung saat bertemu nanti?" Ucap Ten.

"Mamanya San hyung jadi bidadari ya, ma?" Hendery berucap polos pada sang mama, karena yang ia tahu saat seseorang pergi dari dunia ini artinya orang itu akan berubah menjadi bidadari yang sangat cantik seperti yang selalu ada di buku cerita yang sering ia baca. Ten mengangguk seraya tersenyum lembut pada anaknya sekalipun ia tak tahu akan jadi seperti apa Heejin di akhirat kelak.

"Hum…. Dery akan hibur San hyung supaya tidak sedih lagi. Dery kan anak baik, Dery mau disayang ibu peri." Ucap anak kecil itu. Ten tersenyum pada anaknya, kemudian ia bangkit dan bergegas pergi ke kamar mereka, Ten mengambil jaket dan beanie untuk Hendery kenakan karena cuaca di luar cukup dingin.

Ten baru saja memarkirkan mobilnya di tempat penghormatan terakhir Heejin, Hendery mulai merengek padanya karena ia merasa kedinginan. Ten jadi sedikit merasa bersalah karena lupa memakaikan Hendery sarung tangan. Bahkan pipi bulat anak berusia empat tahun itu nampak memerah karena terpaan angin yang cukup dingin hari itu. Ten berdiri di ambang pintu dengan Hendery yang menggandeng tangannya. Semua orang yang berada disana menatap ke arah Ten hingga wanita itu merasa seperti tersangka.

"Yak! Apa yang kau lakukan." Taeyong menghampiri Ten dan memukul lengan temannya itu, ia juga mengambil alih Hendery untuk mendekat ke arahnya.

"Eonni bilang Heejin meninggal, tentu saja aku harus datang untuk memberikan penghormatan terakhir." Jelas Ten.

Wanita itu pun melangkah ke tempat penghormatan terakhir Heejin, tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang datang kesana, beberapa diantara mereka adalah teman-teman Heejin atau rekan kerjanya semasa di firma hukum milik Johnny, jadi beberapa diantara mereka mengenal Ten. Bahkan beberapa orang itu cukup terkejut saat tahu Heejin yang menjadi perusak rumah tangga atasan mereka. Disana juga ada tuan dan nyonya Seo, mungkin mereka menganut prinsip yang sama seperti Taeyong, sekalipun amat benci pada seseorang tetap saja kita harus memuliakannya saat telah meninggal.

Disana Ten bertemu dengan Johnny dan San. San yang masih berumur lima tahun hanya bisa menangis saat tahu sang ibu telah meninggal dunia, sedangkan Johnny ia hanya sibuk terdiam, entahlah mungkin terdapat sedikit rasa penyesalan di hatinya karena telah berniat membawa Heejin ke kantor polisi beberapa jam yang lalu. Ten menunduk di hadapan Johnny dan dibalas hal yang sama oleh pria tinggi itu. Setelahnya Ten meletakkan setangkai bunga dan mulai memberikan penghormatan terakhir untuk Heejin.

"Yak! Kau bahkan belum sempat mengucap maaf padaku, bisa-bisanya kau pergi lebih dulu." Banyak orang yang menoleh ke arah Ten saat wanita itu berucap, mungkin itu salah satu bentuk pelapisan yang Ten lakukan atas semua rasa sakit yang diterimanya.

"Pergilah dengan tenang, Johnny pasti akan menjaga San dengan baik. kau jangan khawatir." Ten kembali berdiri di hadapan Johnny yang masih sibuk terdiam. Tangan kanan pria itu terlihat terlilit perban dan terdapat perban kecil di pelipisnya, untuk San ia sepertinya tak mendapatkan luka apapun. Hanya sedikit goresan pada dahinya itupun tak terlalu parah.

"Kau harus kuat…." Ten mengelus bahu mantan suaminya seraya berucap lirih hari itu. Bagaimanapun juga semua orang pasti akan terluka saat ditinggalkan oleh orang yang mereka cintai, dan mungkin saja Johnny merasakan hal yang sama. Setelahnya Ten berjongkok di hadapan San, anak kecil itu masih sibuk menangis seraya menundukan kepalanya. Ten mengelus lembut surai hitam San, jika dilihat secara saksama garis wajah San cukup mirip dengan milik mantan suaminya, mungkin San akan jadi anak yang tampan saat dewasa nanti.

"San-ah…. Jangan menangis…." Ten membawa San dalam dekapannya dan memeluknya erat-erat. San sama sekali tak menolak, ia membalas pelukan wanita yang ada di hadapannya dan makin menangis deras. Ten tahu mungkin San masih diselimuti ketakutan tentang kejadian yang baru saja ia alami beberapa jam lalu. Bagaimanapun juga San pasti terkejut dengan suara benturan keras yang berhasil membangunkan tidurnya saat di mobil.

"Mama…." Hendery berhasil kabur dari jeratan Taeyong dan menyusul sang mama, Ten meminta Hendery mendekatinya. Netra bulat Hendery mengerjap lucu saat melihat seorang anak laki-laki tengah menangis seraya memeluk mamanya.

"Ini San hyung…. Ayo berkenalan." Ucap Ten pada anaknya. Ten melepaskan San dari pelukannya dan membiarkan kedua anak laki-laki itu saling berhadapan.

"Annyeong hyung, aku Dery." Hendery begitu bersemangat dan sedikit membungkuk di hadapan San.

"San hyung jangan sedih, mama Dery bilang mamanya San hyung sudah jadi bidadari. Berarti mamanya San hyung berteman baik dengan ibu peri." Ucap Hendery, San menatap aneh kearah anak kecil berpipi kemerahan yang ada di hadapannya, mungkin yang San pikirkan kenapa anak kecil ini begitu banyak bicara.

"Ini dongsaeng…. Namanya Dery." Ten berucap dan mengelus lembut surai hitam San, si anak laki-laki nampak mengangguk membalas perkataan wanita yang ada di hadapannya.

"San hyung jangan menangis, kan hyung bukan baby lagi." Ucap Hendery begitu polos. Ten hampir saja menjawil bibir anaknya jika tak ingat dia hanyalah anak yang berumur empat tahun.

Dari kejauhan kedua orang tua Johnny memandang apa yang tengah Ten dan dua anak kecil itu lakukan. Pria dan wanita paruh baya itu sama-sama tersenyum melihat pemandangan yang ada dihadapan mereka, apakah mungkin masih ada kesempatan untuk kembali menyatukan Ten dengan anak mereka, pikirnya.

Ten dan Hendery benar-benar menunggu sampai proses pemakaman Heejin selesai. Bahkan San benar-benar menempel pada Ten sampai membuat Hendery kesal karena merasa mamanya diambil orang. Beruntunglah ada Taeyong disana yang bisa menenangkan Hendery dengan berbagai tipu daya yang ia buat.

"Mama…. Ayo ke rumah John samchon, Dery mau main dengan San hyung…." Anak kecil berumur empat tahun itu terus merengek sejak tadi, ia benar-benar bosan hanya diam di apartemen seharian.

Ten hanya pasrah, akhirnya ia membawa Hendery ke rumah lama mereka yang masih Johnny tempati bersama San. Tentu saja dengan tambahan pengasuh yang setiap hari datang. Kebetulan hari ini terhitung dua minggu sudah setelah Heejin meninggal dunia, Ten ingin tahu seperti apa mantan suaminya itu menjalani hidupnya, ia hanya penasaran apakah Johnny sama hancurnya setelah Ten membawa Hendery pergi bersamanya atau malah lebih parah.

Wanita itu tersenyum saat Johnny membukakan pintu untuk mereka berdua, Hendery tersenyum cerah dan bergegas masuk ke dalam rumah. Kebetulan sekali di ruang keluarga ada San yang tengah bermain dengan lego miliknya. San juga sudah mulai akrab dengan Hendery salahkan saja anak Ten dan Johnny yang begitu cerewet dan benar-benar penasaran dengan San sejak pertemuan pertama mereka.

"Kau sedang apa?" Tanya Ten saat melihat Johnny yang terlihat kesulitan dengan sesuatu yang berada di meja makan.

"Bercukur…. Tapi benar-benar sulit saat harus melakukannya dengan tangan kiri." Balas Johnny.

"Kau berdarah…." Ten berucap kala melihat darah yang nampak mengalir dari bagian dagu Johnny, ia lantas bangkit dan membersihkan darah tersebut dengan tisu supaya tidak mengotori meja makan.

"Biar aku yang lakukan, kau bisa melukai hidungmu jika dilanjutkan." Ujar wanita itu.

"Mama…." Hendery sedikit berteriak dan menyusul sang mama, Ten lantas menoleh pada anak kecil itu seolah bertanya apa yang ingin iya katakan.

"Dery main lego dengan San hyung ya? Boleh kan ma?" Tanya Hendery.

"Tentu saja boleh. Tapi setelah main harus apa?"

"Dirapikan dan jangan buat berantakan." Jawab Hendery, Ten mengangguk dan setelahnya anak kecil itu kembali berlari menyusul San yang masih asyik di ruang keluarga.

"Mungkin goresan yang tadi akan terasa sedikit perih saat terkena shaving cream, kau bisa menahannya kan?" Ucap Ten, Johnny hanya mengangguk dan Ten memulai kegiatannya. Dengan lembut wanita itu mulai mengoles shaving cream ke bagian wajah Johnny yang ditumbuhi bulu-bulu halus kemudian mulai menjelajahinya dengan pisau cukur yang ada di tangannya.

"Beraktivitas dengan satu tangan benar-benar membuatmu melambat." Ucap Ten tiba-tiba.

"Begitulah." Balas Johnny.

Setelahnya mereka berdua sama-sama terdiam, tak ada yang berniat bicara. Ten hanya fokus dengan pisau cukur yang ada di tangannya sedangkan Johnny hanya diam dan mendengarkan jantungnya yang berdebar kencang. Kembali melakukan hal ini mengingatkan Johnny akan masa lalu mereka, salahkan dia jika mengharapkan mantan istrinya kembali padanya.

"Selesai…." Ten berucap setelah mengelap wajah Johnny dengan handuk yang ada di atas meja. Setelahnya wanita itu tersenyum cerah saat mendapati wajah mantan suaminya yang kembali terlihat tampan seperti biasanya. Ten melenggang pergi ke dapur dan meninggalkan Johnny yang masih duduk terdiam di tempatnya. Pria itu baru kembali tersadar saat mendengar teriakan Ten yang memanggil namanya.

"Apa yang kau makan dengan San? Bahkan kulkas kalian hampir kosong." Ucap Ten. Johnny hanya menggaruk belakang kepalanya, karena selama ini ia dan San lebih sering memesan makanan dari luar terlebih dengan keadaan Johnny yang masih belum bisa menggunakan tangan kanannya dengan baik.

"Jika aku masak sesuatu disini apa kau tidak keberatan?" Tanya Ten.

"Lakukan saja, lagipula itu memang wilayahmu." Balas Johnny.

"Itu dulu jika kau lupa." Canda Ten. Wanita itu mulai memasak dengan bahan yang ia temukan di kulkas Johnny. Setelah selesai ia menatanya di meja makan dan tak lama kemudian Hendery datang dengan menggandeng tangan San. Sudah pasti anak kecil itu bisa mencium aroma masakan yang Ten buat.

"Mama…. Samchon makannya lambat." Ucap Hendery seraya menunjuk ke arah Johnny yang bergerak begitu lambat karena harus makan dengan tangan kirinya.

"Samchon sedang sakit Dery jadi harus berusaha keras menggunakan satu tangannya." Jelas Ten.

"Mama bisa suapi samchon, mama juga selalu suapi Dery saat Dery sedang sakit." ucap Hendery. Ten hampir saja tersedak makanannya mendengar perkataan sang anak, Johnny menunjukan reaksi yang tak jauh berbeda dengan Ten, ia benar-benar terkejut mendengar kata-kata semacam itu keluar dari mulut Hendery.

"Cepat ma…. Mama bilang kita harus baik pada semua orang supaya disayang ibu peri. Berarti mama harus baik pada John samchon, ayo bantu John samchon makan." Ten benar-benar ingin membungkam mulut anaknya malam itu, Hendery bahkan lebih cerewet daripada saat mereka di rumah. Dengan ragu Ten mulai menyendok makanan Johnny dan menyuapkannya ke mulut pria itu, Hendery yang ada di depan mereka nampak tersenyum kala menikmati pemandangan yang ada.

Menjelang malam Ten dan Hendery kembali ke apartemen mereka. Di sepanjang jalan Hendery terus bercerita tentang permainan apa yang tadi ia mainkan bersama San, mainan apa saja yang San miliki dan masih banyak lagi. Ten sampai pusing sendiri mendengarnya. Beruntunglah saat sampai di apartemen mereka Hendery telah tertidur lelap setidaknya Ten tak perlu lagi menanggapi perkataan random Hendery karena sebenarnya ia sudah cukup lelah hari ini.

Keesokan harinya Ten dan Hendery kembali datang ke kediaman Johnny, kali ini ia datang tidak dengan tangan kosong seperti kemarin. Ten membawa beberapa bahan makanan di tangannya untuk sekedar mengisi kulkas mantan suaminya yang hampir kosong. Ten mulai menata semua bahan makanan di kulkas besar yang dulu merupakan benda kesayangannya, sedangkan Hendery, anak kecil itu melesat ke kamar San begitu mereka tiba disana. Entahlah mungkin Hendery akan kembali memonopoli mainan milik San. Johnny sibuk mengamati setiap gerak-gerik mantan istrinya dari kursi meja makan. Rasanya ingin sekali ia bertanya terbuat dari apa hati mantan istrinya itu sampai ia bisa melakukan hal seperti ini.

"John…. Rambutmu bau…." Entah sejak kapan Ten berada disana, wanita itu bahkan terlihat mengendus rambut mantan suaminya yang terlihat lepek dan berminyak itu.

"Ayo aku bantu bersihkan." Ucap Ten, Johnny mengangguk ragu dan mereka berdua bergegas pergi ke kamar mandi yang ada di rumah tersebut.

Johnny berbaring di bath tub yang tak terisi air sedangkan Ten sibuk membersihkan rambut mantan suaminya itu. Sepertinya Johnny benar-benar harus bersyukur karena patah tulang yang ia alami malah membuatnya mengulang kembali semua hal indah yang dulu selalu ia dan Ten lakukan.

"Kau tak berniat mengganti shampoo mu?" Tanya Ten saat melihat botol shampoo yang berada tak jauh darinya.

"Sulit menemukan yang sama." Jawab Johnny.

"Mana mungkin ada yang sama pasti semua perusahaan mengusung aroma yang berbeda." Ucap Ten, ia masih sibuk memijat lembut kulit kepala Johnny, sedangkan pria itu mulai terlihat memejamkan matanya.

"Jika dengan shampoo kau bisa setia kenapa tidak bisa lakukan hal yang sama dengan wanita." Ucap Ten tanpa sadar. Johnny lantas mengubah posisinya menjadi terduduk dan membuat Ten cukup terkejut.

"Masih adakah kesempatan?" Tanya Johnny, Ten sama sekali tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis dan menarik bahu pria itu. Kembali meminta Johnny berbaring di posisi semula supaya ia bisa melanjutkan aktivitasnya.