29. Our Last Meet

Johnny dan Ten sama-sama sudah terbiasa satu sama lain, berterima kasihlah pada Hendery dan San yang sering sekali meminta untuk bermain bersama hingga dua orang dewasa itu menjadi lebih sering dipertemukan.

Siang itu Ten tengah berada di apartemennya, ia tengah berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Wanita itu tengah berbincang dengan sang ayah karena mungkin Ten dan Hendery hanya memiliki kesempatan beberapa bulan lagi berada di Korea, atau mungkin kurang dari itu. Ten telah memutuskan untuk kembali lagi ke negara asalnya, entahlah ia hanya ingin pulang. Rasanya di Korea membuatnya begitu penat sekalipun negeri ginseng itu tak lagi semenyebalkan dulu.

"Ma…. Dery akan bertemu dengan taa dan yaay kan?" Hendery berujar polos dan naik ke pangkuan sang mama yang baru saja mengakhiri panggilan teleponnya.

"Hum…. sebentar lagi Dery akan bertemu dengan taa dan yaay. Dery sudah tidak sabar?" Tanya Ten pada anaknya.

"Hum…. Taa bilang akan ajak Dery ke pantai saat sudah di Thailand. Bibi juga sudah janji mau berikan kucingnya pada Dery nanti." Ucap anak kecil itu semangat. Ten hanya terkekeh hari itu. Bagaimanapun juga Hendery hanyalah anak kecil berumur empat setengah tahun yang mudah dikelabui oleh orang dewasa.

Hari ini Ten datang ke rumah kedua orang tua Johnny. Tujuannya hanya satu, mungkin menyerahkan surat kepemilikan apartemen dan berpamitan sebelum ia dan Hendery benar-benar pergi meninggalkan Korea.

"Jadi kapan kalian akan pergi?" Tanya nyonya Seo, ia duduk di sofa dengan secangkir teh di tangannya, netra tuanya menatap lekat ke arah Hendery yang sibuk bermain dengan apa saja yang bisa ia temukan di rumah besar kakek dan neneknya.

" Mungkin sekitar bulan depan, aku juga sudah mengundurkan diri dari pekerjaanku eomma." Balas Ten. Nyonya Seo mengangguk dan kembali menikmati teh yang berada di tangannya.

"Eomma jangan khawatir aku akan selalu mengirim kabar soal Dery." Sambung Ten.

Ten menyodorkan map yang sejak tadi ia simpan di tasnya, nyonya Seo menatap keheranan kearah map berwarna biru tersebut, ia meraihnya dan mulai melihat apa yang ada di dalamnya.

"Tak perlu dikembalikan, eomma memberikan ini untuk Dery. Sepenuhnya apartemen itu menjadi hak kalian berdua. Kau bisa menjualnya sebelum kau pergi atau mungkin mempertahankannya untuk Dery saat ia tumbuh besar nanti." Jelas nyonya Seo.

Ten benar-benar tak tahu lagi harus bersikap seperti apa pada wanita paruh baya itu, dia benar-benar memberikan pelayanan terbaik pada Ten yang bahkan bukan lagi menantunya.

"Di dunia ini ada sebutan mantan istri dan mantan suami tapi tak pernah ada sebutan mantan menantu ataupun mantan mertua. Kau tetap anakku sampai kapanpun, jangan sungkan dengan apapun yang eomma berikan." Jelas nyonya Seo seolah bisa membaca pikiran Ten. Wanita itu hanya menunduk dalam seraya bergumam terima kasih berkali-kali, ia juga tengah bersusah payah untuk menahan tangisnya agar tidak tumpah.

Hari ini Ten dan Johnny telah berjanji untuk bertemu di taman kota karena Hendery dan San ingin bermain bersama. Saat ini dua orang dewasa itu tengah duduk di salah satu kursi panjang seraya menatap anak-anak mereka yang tengah sibuk bermain kejar-kejaran. Ten nampak menghela nafas sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk memecah keheningan antara mereka berdua.

"Aku dan Dery akan kembali ke Thailand…." Ucapan Ten berhasil membuat Johnny menoleh ke arahnya, entahlah rasanya pria itu hanya tidak percaya jika anak dan mantan istrinya benar-benar akan meninggalkannya.

"Kapan?" Tanya Johnny singkat.

"Setelah ulang tahun Dery yang kelima. Seminggu setelahnya kami akan meninggalkan Korea." Jelas Ten. Johnny menganggukan kepalanya seraya tersenyum teduh hari itu, bukankah itu sebentar lagi. Dan mungkin ia harus melepas Hendery nya pergi dan hanya puas dengan anak itu yang mengingatnya sebagai paman kesayangannya bukan ayahnya.

"Kau bisa menghabiskan waktumu dengan Dery kalau kau mau." Sambung Ten. Setelahnya tak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua, kedua orang dewasa itu hanya terdiam dan kembali sibuk memantau kegiatan anak-anak mereka dari kejauhan.

Hari ini Hendery terlihat amat bahagia, anak kecil itu baru saja memasuki usia yang kelima. Sejak tadi Hendery heboh dan mengatakan pada Ten jika ia sudah jadi dewasa dan sudah bisa pergi bermain sendiri tanpa ditemani sang mama. Ten gemas sendiri mendengar perkataan anaknya itu dan berakhirlah ia yang menciumi pipi bulat Hendery sampai pipi itu memerah.

Ten dan Hendery tengah menunggu kedatangan Johnny ke apartemen mereka. Semalam Johnny telah berjanji pada Hendery untuk mengajak anak kecil itu jalan-jalan dan pergi ke toko mainan. Tentu saja Hendery amat senang apalagi selama ini Ten jarang sekali memperbolehkan anak laki-laki itu menyambangi toko mainan.

Saat ini Ten, Johnny, dan Hendery telah berada di salah satu mall yang cukup besar. Hendery yang terlahir dengan mata bulat berbinar semakin membulatkan matanya kala melihat berapa banyak mainan yang bisa ia jumpai disana. Anak kecil itu menarik tangan Johnny hingga membuat Ten yang berada di belakang mereka terkekeh di buatnya. Johnny mengajak Hendery memasuki sebuah toko mainan, mulut anak kecil itu membulat lucu mirip sekali seperti tokoh yang ada di buku komik.

"Karena Dery sudah lima tahun, Dery boleh beli apapun yang Dery mau. Samchon yang bayar." Johnny berjongkok di hadapan Hendery dan berucap pada anak kecil itu seraya mengelus lembut surai hitamnya.

"Ma…. Apa boleh begitu?" Bukannya menjawab perkataan Johnny, Hendery malah balik bertanya pada sang mama. Ten nampak menganggukan kepalanya seraya terkekeh karena terlalu gemas dengan tingkah anaknya hari itu.

"Terima kasih samchon, Dery sayang samchon." Hendery memeluk Johnny erat-erat dan dibalas senyuman teduh dari pria dewasa itu.

Hendery mulai melangkah untuk menjelajahi toko mainan, ia pergi ke sudut lego dan tengah berfikir untuk membeli lego yang seperti apa. Anak kecil itu benar-benar tertarik pada lego setelah sering bermain dengan San. Saat sebelum tidur Hendery selalu bercerita pada sang mama jika San memiliki banyak mainan tidak seperti dirinya yang hanya punya satu lego yang bahkan sering kali ia bongkar pasang.

"Dery mau itu…." Ucap Hendery, telunjuk kecilnya menunjuk ke arah lego super Mario yang berukuran cukup besar. Johnny menjangkau kotak lego tersebut dan menaruhnya di hadapan Hendery, netra bulat anak kecil itu benar-benar berbinar ia benar-benar mirip sekali dengan seekor kucing yang menemukan makanan kaleng.

"Sudah samchon Dery mau ini saja." Hendery kembali menarik tangan Johnny dan mengajaknya untuk segera membayar lego miliknya.

"Dery yakin? Tidak ada yang lain lagi?" Tanya Johnny.

"Sudah, ini saja. Mama bilang Dery tidak boleh jadi anak yang serakah nanti ibu peri akan membenci Dery." Anak kecil itu berujar polos dan sukses membuat netra tajam Johnny berkaca-kaca. Bahkan selama ini ia sering sekali memanjakan San dengan mainan tanpa tahu apa yang Hendery mainkan.

"Dery…. Dengarkan samchon, karena ini ulang tahun Dery, Dery boleh pilih dua mainan hari ini. Berapapun yang Dery mau akan samchon berikan." Jelas Johnny, tangan besarnya menyentuh lembut pundak Hendery yang hanya memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya hari itu.

"Hum…. kalau begitu Dery mau dua ya." Johnny mengangguk menanggapi ucapan anak kecil yang ada di hadapannya itu.

"Nanti akan Dery berikan pada San hyung satu, mama bilang barang bawaan Dery sudah terlalu banyak. Kalau Dery bawa dua mainan ke Thailand nanti mama akan kesusahan, Dery tidak mau buat mama susah." Jelas Hendery, setelahnya ia kembali berlari ke tempat lego dan mencari lego jenis apa yang akan ia berikan untuk San. Johnny hanya bisa terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, entahlah rasanya semua ucapan polos yang Hendery lontarkan berhasil membuat nya emosional hari itu.

Hendery berjalan diantara Ten dan Johnny, mereka baru saja kembali dari toko mainan dan Hendery mengajak dua orang dewasa itu untuk menepi sejenak ke toko es krim favoritnya. Saat tengah sibuk menyantap es krim tiba-tiba saja Ten merasakan ingin buang air kecil, wanita itu lantas meninggalkan Hendery berdua dengan Johnny selagi ia pergi ke kamar mandi.

"Samchon…. Apa Dery masih boleh meminta hadiah?" Ucap Hendery tiba-tiba.

"Tentu saja boleh. Dery mau apa?" Tanya Johnny.

"Dery mau belikan coklat untuk mama. Mama suka sekali coklat, tapi Dery hanya punya ini…." Hendery mengeluarkan dua keping koin dari saku celananya dan menaruhnya di telapak tangan Johnny. Pria itu lantas tersenyum dan mengelus lembut surai hitam Hendery, Ten benar-benar berhasil mendidik anak mereka. Bahkan Hendery tumbuh menjadi anak yang baik dengan segala tingkahnya yang amat menggemaskan.

Johnny tak tahu apa yang Ten lakukan di kamar mandi hingga wanita itu tak kunjung kembali, akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Hendery pergi terlebih dahulu setelah sebelumnya mengirimkan pesan pada Ten yang masih belum menampakkan batang hidungnya.

Hendery berlari ke arah Johnny dengan sekotak coklat di tangan kecilnya, anak laki-laki itu memberikannya pada Johnny dan meminta pria dewasa itu segera membayarnya sebelum ia berikan coklat itu pada sang mama. Johnny menatap lekat ke arah coklat yang saat ini telah berpindah ke tangannya, coklat itu masih coklat yang sama seperti beberapa tahun silam. Ten masih menyukai hal yang sama, Johnny benar-benar ingat bagaimana coklat itu selalu berhasil menyelamatkannya dari amukan Ten saat ia datang terlambat si setiap pertemuan mereka. Dan hari ini coklat itu kembali ia berikan pada mantan istrinya hanya saja dengan perantara tangan kecil anak mereka.

Ten baru saja mengirimkan Johnny pesan, ia bilang akan pergi sebentar untuk melihat make up. Jadilah Hendery dan Johnny berakhir di salah satu tempat makan yang ada di dalam mall dengan kentang goreng yang tengah mereka nikmati.

"Samchon sudah bertemu dengan daddy nya Dery?" Tanya anak kecil itu, Johnny hampir saja tersedak. Setelahnya ia hanya menggeleng menanggapi perkataan anak kecil itu.

"Belum ya? Padahal Dery sudah sangat merindukan daddy." Lirih Hendery.

"Dery bisa panggil samchon dengan sebutan daddy kalau Dery mau." Ucap Johnny, Hendery hanya menggeleng dan cukup membuat Johnny terkejut hari itu.

"Samchon kan daddy nya San hyung."

"Memangnya kenapa?" Tanya Johnny ragu-ragu.

"San hyung pasti akan sedih kalau tahu ada anak kecil lain yang memanggil ayahnya dengan sebutan daddy."

"Dery kan sudah punya daddy sendiri. Lalu mama bilang kita tidak boleh merebut milik orang lain, itu perbuatan tidak baik. Nanti Dery dibenci ibu peri." Jelas Hendery, Johnny hanya tersenyum teduh dan kembali mengelus pucuk kepala Hendery.

"Apa samchon boleh peluk Dery?" Tanya Johnny, Hendery mengangguk kecil dan setelahnya pria dewasa itu membawa tubuh kecil Hendery dalam pelukannya. Johnny menangis hari itu tak dipungkiri hati Johnny terasa begitu gundah, mungkin hari ini benar-benar jadi pertemuan terakhirnya dengan Hendery. Bahkan Johnny tak berani menebak kapan mereka akan bertemu kembali.

Ten melihat dari kejauhan, sejak tadi ia hanya memperlambat langkahnya tanpa pergi kemanapun. Ten benar-benar memberikan waktu untuk Johnny agar pria itu bisa berlama-lama bersama anak mereka sebelum perpisahan yang akan mereka lakukan minggu depan.

"Mama…." Hendery berteriak dalam pelukan Johnny kala melihat sang mama hampir mendekati mereka. Johnny buru-buru menyeka air matanya, ia tak ingin Ten meledeknya hanya karena ia menangis hari ini.

"Ini untuk mama…."

"Dery sayang mama." Dery melepaskan pelukannya pada tubuh besar Johnny dan berlari ke arah sang mama dengan sekotak coklat di tangannya, anak itu memeluk kaki Ten erat-erat seolah tak membiarkan sang mama untuk bergerak.

Ten berjongkok di depan Hendery dan menatap lekat wajah anak kecil itu. Hendery nya yang dulu mungkin hampir saja ia ajak pergi bersama untuk meninggalkan dunia sekarang sudah tumbuh besar dan sangat pandai berkata manis pada orang-orang di sekitarnya. Hendery adalah sumber kekuatannya, anak kecil itu membuat Ten berhasil terbebas dari segala belenggu menyakitkan masa lalunya.

"Dery dapat dari mana? Memangnya Dery punya uang?" Tanya Ten dengan senyuman jahilnya.

"Punya…. Dery pakai uang samchon, ini hadiah ulang tahun Dery lalu Dery berikan pada mama karena Dery sayang mama." Ujar Hendery polos. Ten lantas memeluk erat anaknya itu dan bergumama terima kasih padanya, bukan terima kasih untuk coklatnya tapi dalam hati Ten berucap terima kasih pada Hendery karena telah terlahir ke dunia.

Malam mulai menjelang dan perjalanan mereka ditutup dengan berfoto di salah satu photobox yang ada di mall. Hari itu mereka bertiga benar-benar terlihat seperti keluarga yang bahagia, berbagai macam gaya foto telah mereka coba hingga akhirnya mereka terkekeh hanya untuk sekedar menertawakan kekonyolan mereka bertiga. Foto itu dicetak sebanyak dua lembar. Satu untuk Ten dan satu untuk Johnny simpan dan malam itu adalah hari indah untuk semuanya, untuk Johnny, Ten, dan juga Hendery putra kecil mereka.

Sepanjang perjalanan pulang tak ada yang bicara, di mobil yang tengah Johnny kemudikan hanya terdengar suara dengkuran Hendery karena anak kecil itu telah tertidur lelap.

"Aku akan menjawab pertanyaanmu beberapa bulan silam." Ucap Ten tiba-tiba. Johnny sedikit menoleh dan nampak menganggukkan kepalanya malam itu.

"Kita telah selesai sejak lama, dan tak ada alasan untuk kita kembali mengulang semua kenangan lama."

"Hiduplah dengan baik John, sekalipun tanpaku dan Dery kau harus tetap bahagia." Jelas Ten dengan senyuman indahnya, Johnny ikut tersenyum malam itu. Jawaban yang Ten berikan telah menjelaskan semuanya, bahwa tak ada lagi kesempatan untuk mengulang hal indah kedua kalinya.

Ten dan Hendery telah bersiap untuk pergi ke bandara dengan koper-koper besar mereka. Hari ini Johnny yang akan mengantarkan mereka berdua. Hendery melonjak kegirangan saat tahu Johnny membawa San ikut bersamanya. Di sepanjang perjalanan menuju bandara dua anak kecil itu terus berceloteh riang hanya untuk sekedar mengucap kata perpisahan.

"Dery harus jadi anak baik ya, jangan menyusahkan mama." Johnny berjongkok dan berucap pada Hendery yang sibuk menganggukkan kepalanya. Setelahnya pria itu memeluk Hendery erat-erat layaknya sebuah pelukan perpisahan yang biasa dilakukan oleh banyak orang.

Johnny bangkit berdiri dan menatap Ten lekat-lekat. Pria tinggi itu lantas menerjang tubuh mantan istrinya dan memeluknya erat-erat seraya terus berpesan untuk hidup dengan baik disana.

"Kau juga harus hidup dengan baik, temukanlah wanita yang lebih baik dariku. Kau harus ingat ada San yang harus kau jaga, mau bagaimanapun juga kau telah berkontribusi dalam pembuatannya. Sampai jumpa lagi jika Tuhan memang memberikan kita kesempatan." Ucap Ten sebagai penutup perpisahan mereka, dan siang itu mereka benar-benar berpisah. Hendery nampak berjalan seraya melambaikan tangan kecilnya dan Ten sibuk dengan kopernya dibantu oleh seorang petugas bandara.

"Selain sulit melupakanmu, aku juga sulit menemukan seseorang sepertimu." Johnny membatin hari itu seraya sibuk melambaikan tangannya, melepas kepergian Ten dan Hendery yang benar-benar amat dicintainya.

Hari itu Ten diberikan kesempatan untuk menetap atau melepaskan, dan wanita itu memilih untuk tak mengulang kesalahan yang sama kedua kalinya. Ten memilih untuk pergi dan membawa Hendery bersamanya. Jika dulu Johnny meninggalkannya saat rasa cinta Ten pada pria itu tengah berada di puncaknya maka hari ini biarkanlah Ten melakukan hal yang sama, meninggalkan Johnny saat pria itu mulai berharap padanya dan membuat Johnny merasakan sakitnya kehilangan serta pedihnya setiap upaya yang dilakukan hanya untuk sekedar melupakan. Bagaimanapun juga Ten hanya ingin bahagia dengan setiap pilihannya, dan ia berharap Johnny juga dapat menemukan sendiri kebahagiaannya.

Sepanjang perjalanan pulang Johnny terus memikirkan Hendery dan Ten, pria itu bahkan tak fokus mengendarai mobilnya hari itu. Entahlah rasanya ia hanya sedikit tak rela saat harus melepas kepergian dua orang yang dicintainya, terlebih Hendery harus berpamitan padanya saat anak kecil itu belum kembali mengingatnya.

Brakk!

Bip….

"Sebuah kecelakaan yang melibatkan truk dan minibus terjadi di persimpangan menuju bandara. Pengemudi truk telah diamankan dan korban telah dibawa ke rumah sakit terdekat. Kecelakaan itu menimbulkan satu korban tewas dan satu korban mengalami luka berat-"

Bip….

Three years later

Hari ini Thailand terlihat begitu cerah, seorang anak kecil terlihat tengah berlarian di sebuah taman dengan gelembung sabun yang ada di tangannya. Tak jauh dari sana ada seorang wanita yang tengah menggendong bayi kecilnya seraya terus memantau kegiatan putra sulungnya yang benar-benar kelebihan energi hari itu. Si anak kecil dengan gelembung sabun lantas berlari saat mendapati seorang pria dengan seragam pilot mendekat ke arah mereka.

"Papa…." Anak kecil itu merentangkan tangannya dan mendarat mulus dalam pelukan seorang pria yang disebutnya papa. Setelahnya ia mendekat ke arah sang wanita dan duduk di sebelahnya.

"Jadi apa hari ini Dery jadi anak baik?" Tanya sang papa.

"Hum…. Dery bantu mama jaga Chenle, Dery tidak nakal." Ucap anak kecil itu penuh semangat. Pria dewasa yang diketahui bernama Kun itu lantas mengecup pucuk kepala sang anak dengan sayang. Setelahnya keluarga kecil itu kembali menikmati waktu bersama hanya untuk sekedar tertawa dan bercanda, seolah membiarkan dunia tahu betapa bahagianya keluarga kecil mereka.

Dari kejauhan tampak duduk seorang pria tinggi dengan kacamata hitamnya, di sebelahnya nampak berdiri seorang pria muda yang sejak tadi memantau kegiatan keluarga bahagia yang berada cukup jauh dari mereka.

"Nyonya Ten sepertinya telah menikah dan memiliki seorang anak dari pria itu Tuan." Ucap si pria muda pada atasannya. Sejak tadi ia memberikan setiap detail yang ia lihat pada tuannya itu. Si pria muda terlihat menyingkir sejenak untuk menerima panggilan yang masuk ke ponselnya, tak lama kemudian ia nampak menghela nafas dan kembali mendekat kearah tuannya.

"Tuan…. Ada panggilan dari rumah sakit, korneanya tidak cocok untuk mata anda, tuan." Ucap pria muda itu seraya menundukkan kepalanya sekalipun majikannya tak dapat melihat apa yang ia lakukan.

"Ayo kita kembali ke penginapan."

"Baik tuan Johnny…." Si pria muda membantu majikannya berdiri dan mereka bergegas meninggalkan taman itu, melewatkan segala keceriaan yang masih tersaji dari keluarga kecil yang berada disana.

Setelah kejadian tiga tahun yang lalu Johnny mengalami kebutaan dan San benar-benar pergi untuk selamanya, anak kecil itu lebih memilih menyusul ibunya meninggalkan Sang ayah yang hanya bisa terdiam dalam kesendiriannya, melewati segala hingar bingar dunia dalam kegelapan yang ia rasakan. Johnny yang dulunya menyia-nyiakan sebuah berlian hanya untuk seonggok beling di jalanan benar-benar mendapatkan karmanya, ia yang dulu meninggalkan berakhir menjadi yang ditinggalkan dengan segala luka yang saat ini ia rasakan.