Disclaimer! Boboiboy ialah milik Monsta, bukan milik saya. Saya cuma minjem buat menghalu /ahay/

Warning! OOC, Typo, Boys Love.

Didedikasikan untuk : event #MonthlyFFA, #Midnight_FFA dan ulang tahun Kak Synstropezia. Semoga suka!


Segelas susu hangat. Anime komedi yang terputar di laptop. Obrolan ringan yang menyenangkan berkat Gempa yang insomnia dan Halilintar bersedia menemaninya. Calon pacar yang baik. Harusnya sudah fluff. Sudah manis dan Halilintar akan mimpi indah begitu insomnia Gempa ini hilang.

"Menurut Lin, cinta itu apa?"

Awalnya, harusnya memang begitu. Tapi Gempa dan otak ribetnya yang selalu saja memikirkan hal-hal rumit itu menghancurkan segala suasana santai barusan. Oh, Halilintar berharap obrolan ini tidak akan panjang dan berubah jadi deep talk. Tolong, dia sangat tidak mood untuk melakukan itu, oke? Jadi dia berdoa semoga mata Gempa tetiba mengantuk saja dan tertidur di sana.

Terkutuklah dialog akhir dari episode barusan yang membuat Gempa menanyakannya! Iseng atau tidak, pokoknya terkutuk. Teman sekamar Halilintar itu pastilah tidak akan senang bila didiamkan, atau diberi jawaban umum yang tak dia inginkan. Maka dengan ogah sekali, Halilintar memeras otak.

"Menurutmu sendiri memang bagaimana?"

Hoho. Halilintar bersyukur punya otak encer yang memudahkan dia membalikkan keadaan. Yang awalnya terpojok jadi bisa berpikir.

"Hmmmm," gumaman panjang dari Gempa. Dia bangkit dari telungkup dan menyeruput susu cokelatnya. Berpikir dengan wajah serius, yang samar kelihatan karena lampu dimatikan. "Entah." Ia tertawa. "Menurutku cinta itu lumayan abstrak dan terlalu relatif. Definisi absolutnya nihil, meski sejak ribuan tahun, manusia sudah banyak berpikir tentang cinta."

Uwaaaah. Bahasan yang berat sekali! Kepala Halilintar mau meledak saja rasanya. Kenapa harus membahas yang berat malam-malam begini, sih? Kalaupun memaksa mau bahas cinta, tidak bisakah mereka membahas, ehem, gebetan masing-masing saja? Jangan yang bikin otak terbakar tengah malam begini, deh. Aduh.

Tapi Halilintar menyimpan umpatan dan keluhannya itu dalam hati saja. Terdiam dengan muka kalemnya, yang kata banyak orang, ganteng. "Kenapa bertanya-tanya sekarang? Mau sok filosofis?"

Oke, mulut pedas Halilintar memang akan tetap dan selalu ada walaupun terhadap orang yang disuka. Gempa tidak akan marah atau tersinggung pastinya. Lagian salahnya sendiri mengundang topik berat begini. Halilintar tidak salah. Iya kan?

Gempa tertawa santai. "Iseng saja. Nah, menurut Lin, bagaimana?"

Ujung-ujungnya ke sana juga padahal Halilintar sudah menghindar. "Mungkin menurutku, cinta itu sesuatu yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat sesuatu yang lebih. Tanpa menuntut balas mungkin terlalu muluk, karena aku sendiri maunya dicintai balik."

Sepertinya itu juga yang membuat Halilintar tidak bisa mengelak dari ocehan Gempa yang bermacam-macam. Contohnya sekarang ini.

"Wah, sederhana tapi dalam, ya."

"Iya soalnya aku lagi malas berpikir panjang-panjang, meladeni deep talk mendadak ini."

Gelak. Gempa beringsut, menggulung diri dalam selimut. "Jadi kalau tidak malas berpikir, jawabannya akan berbeda?"

"Entah."

Gempa mengangguk-ngangguk. Mencari episode selanjutnya untuk ditonton. "Hmm, kalau dipikir, bisa dibilang cinta itu perasaan aneh yang paling jujur, ya." Celetuknya mendadak.

Alis Halilintar bertaut. "Maksudmu?" Meneguk susu cokelat bagiannya. Habis. Diletakkannya mug ke nakas, supaya tidak tersenggol dan jatuh.

"Begini," Gempa tersenyum-senyum. "Mulut sering mengatakan benci, hati juga bilang enggan. Tapi tiba-tiba cinta tumbuh dengan suburnya, sebagai perasaan yang sebenar-benarnya." Gelaknya pelan. "Bukan cuma di film-film. Ini banyak terjadi di sekitar kita. Makanya ada istilah enemy to lovers kan." Jelasnya, kembali sibuk dengan laptop.

"Ah," Halilintar manggut-manggut paham.

"Ah! Kuota internetnya habis!" Gempa mengumpat. "Hmm.. Tak apa, lah. Ayo temani aku diskusi saja, Lin!"

Oh tidak. Halilintar tidak bisa kabur.

"Mau diskusi apa kau?" Halilintar bertanya dengan sangat tidak niat. Malam fluffy impiannya hancur lebur berganti deep talk unfaedah. Sial sekali. Untung sayang.

"Ya tentang cinta ini tadi." Gempa membuka album musik yang tersimpan di laptopnya, memutar acak apa yang tertampil pertama.

Uh. Lagu cinta pula. Apa-apaan kesialan Halilintar malam ini?

"Ada angin apa memang, sampai kau mau bahas cinta malam-malam begini?" Sambar Halilintar tidak niat. "Kau jatuh cinta?" Tanyanya yang sebenarnya tidak serius-serius amat.

"Mungkin."

Halilintar nyaris tersedak saliva sendiri.

Hah?

APA?

A-P-A?

"Tapi aku belum yakin, makanya kutanya Lin." Kata Gempa. Meneguk isi mug sampai tandas.

Halilintar masih tertegun.

"Hmm, kalau ikut definisi novel-novel tragedi, cinta itu kutukan. Karena banyak mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Mungkin karena, walaupun cinta itu perasaan paling jujur, kebohongan masih lebih diinginkan daripada kejujuran, kadang-kadang."

Halilintar kembali kepada kenyataan. Ocehan panjang Gempa menguasai telinganya. Bikin pusing, sungguh. "Kau kebanyakan baca novel, Gem."

"Haha. Tapi menarik, lho! Kalau dicari-cari, definisi vinta itu ada banyak, dan berbeda di tiap genre yang aku baca. Semuanya bagus-bagus dan masuk akal. Tapi aku sendiri masih bingung."

Halilintar menguap. "Memang genre hidupmu apaan? Gore? Tragedi?"

Gempa terbahak. "Slice of life."

"Kepalamu." Halilintar melempar bantal. Kena. Tepat sasaran sampai Gempa terhempas, overacting. Tertawa-tawa.

"Kalau definisi di novel romansa ala remaja," Gempa masih tertawa-tawa. Malah berbaring telungkup menggunakan bantal Halilintar tadi. Lanjut mengoceh. "Cinta itu waktu perut seperti digelitik ribuan kupu-kupu,"

"Kau pikir topan?"

"Dengan wajah merah bersemu, dan seterusnya." Interupsi Halilintar diabaikan sepenuhnya oleh Gempa, tetapi dia tersenyum-senyum. "Tapi kupikir yang begitu namanya suka, deh. Bukan cinta. Iya kan?"

Halilintar melirik jam. Pukul dua dini hari dan obrolan mereka sepertinya akan makin panjang. "Memangnya yang kau rasakan itu bagaimana?" Sudah capek mengelak, ladeni saja sampai mampus.

Gempa bergumam lagi seraya berpikir. Duduk, memeluk bantal Halilintar. "Entah. Aku bingung, nih."

"Heh. Kemarikan bantalku."

"Tapi tadi Lin lempar."

"Kemarikan."

Terkekeh-kekeh Gempa mengembalikannya. Halilintar menerima sambil menghela napas.

"Aku sendiri tidak tahu kenapa kau bingung soal perbedaan cinta dengan suka," Halilintar melempar bantalnya ke ranjang. "Suka itu ya perasaan biasa, seperti kau yang menyukai pelajaran sejarah dan geografi. Menyukai obrolan dengan tema berat begini. Menyukai teman-temanmu, dan seterusnya."

Gempa menyimak dengan antusias. Jarang-jarang Halilintar bicara panjang begini.

"Kalau cinta," Halilintar menarik napas, "kupikir berada di tempat yang berbeda dengan suka. Bagiku sendiri cinta itu sesederhana keinginan untuk terus bersama, perasaan yang bisa membuatku menerima semua yang berasal darinya. Yang membuatku bisa berbuat banyak dan memberikan yang terbaik, sambil merasa terbebani." Katanya, melipat tangan di depan dada. Bersandar pada tiang ranjang. "Sederhananya, kau menyukai seseorang dalam artian romantis. Menurutku itu cinta."

Gempa manggut-manggut.

"Lagian," muka Halilintar berubah sebal. "Kenapa kau mencari definisi kalau bisa dirasakan sendiri?" Nadanya tidak suka. "Kata 'masam' saja definisinya tidak akan membuatmu paham sampai dirasakan langsung, padahal masam itu sudah jelas apa. Apalagi sesuatu yang abstrak macam begini? Hadeh." Pemilik manik merah itu mengomel panjang-pendek. "Yang sederhana ya sederhana saja. Tidak perlu dirumitkan segala."

"Ah! Jadi!" Iris emas Gempa berkilat senang. "Tidak perlu mencari tahu itu apa, dan tinggal menjalani sampai paham saja?"

"Iya, lah." Halilintar mendelik. "Kau ini kadang-kadang ada bodohnya juga ya."

Gempa terkikik. "Kalau ikut definisinya Lin, aku sedang jatuh cinta, ya, berarti? Soalnya," ia berpikir sejenak. "Soalnya akhir-akhir ini aku merasa, ingin bersama Lin terus, ingin berbuat sesuatu yang membuat Lin balik melihatku." Katanya.

"Hah?" Halilintar terkejut. Teman sekamarnya ini barusan meracau apa? Telinga Halilintar tidak sedang berhalusinasi kan?

"Oh! Berarti, aku jatuh cinta pada Lin, ya?"

Seringai jahil di wajah manis itu membuat Halilintar sakit kepala seketika. Keinginan menampar tiba-tiba muncul. Sekali saja tidak apa-apa, ya, kayaknya?

"Sialan." Halilintar mengumpat. Bersyukur sudah mematikan lampu sehingga muka merahnya takkan kelihatan. "Jadi ini akal-akalanmu, ya?"

Gelak tawa membahana. "Ayolah, pertanyaanku dijawab. Lin sendiri mencintaiku, tidak?"

Oh, sial. Gempa dan kepala kreatifnya yang kadang 'ada-ada saja' nya itu mengalahkan isengnya Taufan. Halilintar menarik napas panjang. Kesabarannya menipis menghadapi Gempa yang mendadak bersikap tengil.

"Diam atau kubungkam mulut sialanmu itu sekarang."

"Ih, Lin, kita belum jadian jangan main sosor, dong. Nanti kau dikutuk jadi angsa."

"Tidur sana."

"Aku, kan, insomnia."

"Maumu apa, sih?"

Kikik. "Katakan kalau Lin mencintaiku juga, dong. Kau saja maunya dicintai balik, kan?"

Halilintar ingin pembicaraan tak jelas ini berakhir segera. Lebih cepat satu detikpun tak apa. "Gempa," ia datang, menatap manik emas yang menantang dengan sorot senang. Menghela napas yang terasa berat minta ampun. "Aku mencintaimu."

Warna muka Halilintar yang berubah tidak ketahuan, kan? Lampu mati dan cahaya laptop harusnya tidak cukup buat melihatnya. Kan?

Gempa tersenyum lebar. "Okee~ dengan begini kita jadian, ya!" Serunya senang.

"Sudah, kan? Tidur, sana. Tidur." Halilintar buru-buru naik ke ranjang. Memakai selimut sampai menutup muka.

Gempa tertawa-tawa membereskan bekas menonton mereka. "Selamat tidur, Lin Sayang~"

Tapi Halilintar kayaknya malah tertular insomnia.


A/N : Wkwkwk aneh yak. Pengennya deep talk tapi gabisa dalem2 amat. Jadilah ini. Kayaknya aku cocok di humor ya kak /g/ semoga gak aneh. Semoga suka.

Habede Kak Synnnnn. Semoga diberi kebahagiaan, umur yang cukuo dan Susey menjadi nyata /heh/

Lafyu