Bayangan itu tidak berwujud. Dia tidak bisa dipegang namun dapat dilihat. Nampak ketika ada cahaya dan menyatu bersama kegelapan.

Meskipun itu merupakan kekuatannya semenjak masuk dalam kategori awakener, dia masih tidak terbiasa betapa dingin dan sepi kegelapan itu. Bahkan ketika dia mendapat julukan Ghost Shadow karena dikenal hawa keberadaannya yang begitu tipis.

Mungkin dia tidak akan pernah terbiasa dengan kegelapan itu dan akan terus menyangkalnya. Karena...


Embrace The Dark © LiTFa

BoBoiBoy/BoBoiBoy Galaxy © Monsta

Rate : T

Language : Bahasa Indonesia

Genre : Angst, Friendship, Fantasy

Warning(s) : AU, Typo(s), for our proud Narcissist Shadow day, #HappyBirthdayFang you know the genre right?


"Tidak mungkin."

Jawaban begitu cepat ketika teman sekaligus rivalnya selesai menjelaskan strateginya.

"Fang, ini satu-satunya cara—"

"Tidak bisa!"

Teriakan si Pengendali Bayangan membuat temannya itu terdiam. Tentu saja si teman tahu alasan kenapa Fang begitu keras kepala menolak rencananya.

Menghembuskan napas, si Pengendali Elemen yang memiliki julukan Element Holder itu mencoba berbicara dengan kepala dingin.

"Dengar Fang, Shadow Fingers terlalu lemah untuk mengikat Guardian itu dan kita hanya akan membuang-buang tenaga jika memakai skill lain karena tidak mempan terhadap kulitnya yang keras."

Fang mengeluarkan napas berat, "Kau tahu apa yang akan terjadi jika aku memakai skill itu, BoBoiBoy..."

"Aku akan menahannya, kamu tidak perlu khawatir."

Fang menatap BoBoiBoy dari ujung atas sampai bawah. Keadaan tubuh temannya itu tidak berbeda jauh dengannya yang berantakan karena bertarung. Belum lagi rambut yang dulunya hitam legam berubah menjadi putih akibat terlalu banyak menggunakan kekuatan.

"Ada alasan kenapa aku dari tadi mengeluarkan skill dasar, kulit itu tidak tertembus oleh kekuatan elemenku. Namun itu berbeda dengan skill bayanganmu, Fang."

BoBoiBoy kembali berucap dengan mata yang masih fokus mengarah pada Pandora Guardian, makhluk yang selama ini mereka hadapi. Makhluk itu sedang mencari keberadaan mereka berdua yang sedang bersembunyi dalam Ghost Shield milik Fang.

"Ini akan jauh lebih mudah jika Guardian itu memiliki kecerdasan layaknya Guardian lain."

Fang mendengkus pada gerutuan BoBoiBoy. Dia berusaha meredakan tangannya yang dari tadi gemetar. Hatinya sedikit bersyukur bahwa tempat mereka bertarung berada di hutan lebat sehingga sinar bulan tidak mencapai kumpulan pepohonan raksasa tersebut.

"Bayangan itu tidak berwujud, Fang."

"Hah?"

BoBoiBoy menatap Fang yang masih memasang raut ragu bercampur takut. Mulut dengan darah di sudutnya ditarik membentuk senyuman.

"Dia bisa menjadi apapun dan menembus berbagai halangan."

Itu cara kekuatan Fang bekerja. Ini bukan saatnya untuk membahas hal yang tidak berhubungan dengan keadaan saat ini.

"Omong kosong apa yang kau bicarakan sekarang? Aku tahu cara menggunakan kekuatanku tanpa harus kau jelaskan."

"Ya makanya kenapa tidak kau coba untuk menghentikan tanganmu yang gemetar itu? Kau tahu cara penggunaannya sudah menjadi solusi masalahmu saat ini."

Mata Fang melebar, tidak menyangka bahwa BoBoiBoy menyadari hal tersebut dalam keadaan minim cahaya.

"Cahaya masih menjadi elemenku dan angin tidak berhenti memberi kabar. Pada dasarnya aku ini tahu segalanya."

Fang tidak menggubris kesombongan BoBoiBoy dan memikirkan kembali rencana temannya itu.

" Skill itu membuatku tidak mengenal kawan dan lawan, kau tahu kan?"

BoBoiBoy mengangguk. Lega teman narsis satu ini akhirnya setuju dengan strategi yang ia buat meskipun masih terpancar kekhawatiran di matanya.

"Aku juga tidak bisa menjamin keselamatan kita berdua."

"Iya."

Fang terdiam sejenak, mengingat janji yang terbentuk sebelum dia dan keempat temannya berpisah melawan musuh.

"Ada kemungkinan janji yang kita buat bersama teman-teman setelah pertarungan ini tidak bisa terpenuhi."

BoBoiBoy tertawa kecil, "Yah, itu memang mengkhawatirkan tapi kita harus berusaha menepatinya."

"Aku takut dengan skill itu, kau menyadarinya kan?"

"Aku bisa meneranginya kapan pun."

Fang mendengkus. Heran dari mana temannya itu mendapat ketenangan di situasi seperti ini.

Mengambil napas dan mengeluarkannya secara perlahan. Fang menghilangkan ketakutannya sedikit demi sedikit. Tangannya yang gemetar berhasil berhenti.

"Aku butuh waktu dan sinar bulan terlalu sedikit di sini."

"Seperti yang kau tahu, menjadi umpan dan menghancurkan sesuatu telah menjadi spesialisku."

BoBoiBoy keluar dari Ghost Shield dan mengendalikan elemen anginnya untuk menebang pohon agar sinar bulan sepenuhnya menyinari tempat Fang berada. Dia kemudian berhadapan dengan makhluk berbentuk singa berekor ular yang memiliki kulit tidak tertembus apapun. Di belakang makhluk itu terdapat salah satu portal yang mengeluarkan berbagai bencana bagi Bumi.

Fang melihat BoBoiBoy mulai meluncurkan serangan pada Guardian. Dia kemudian memejamkan mata dan fokus mengumpulkan kekuatan yang tersisa. Meskipun tangan berhenti gemetar, ketakutan masih bersemayam di hatinya.


Fang itu awakener pengendali bayangan. Kekuatan itu membuat si pengguna bisa menghapus hawa keberadaan sepenuhnya. Bisa dibilang Fang termasuk dalam kategori assassin awakener. Namun anehnya Fang merupakan maniak populer padahal julukan Ghost Shadow telah disematkan pada dirinya.

Merupakan anggota sekaligus leader sub-group TAPOPS bernama Kokotaim. Pertemuan Fang dan kelima anggota lainnya sangatlah ekstrim hingga nyawa dipertaruhkan. Saat mengingat kejadian itu, rasa bersalah langsung menghampiri Fang meskipun teman-temannya mengaku sudah tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Sebagai assassin yang menguasai bayangan, Fang mengemban banyak rahasia yang tidak diketahui oleh anggota Kokotaim. Kecuali satu orang yang mengaku tahu segalanya berkat "angin yang berbicara" dan "air yang mengamati". Bahkan orang tersebut mengatakan yang tidak Fang mengerti hingga saat ini seperti, "Cahaya menerangi segala kegelapan."

Element Holder, BoBoiBoy mengetahui segala rahasia yang disimpan oleh Fang. Sedikit bersyukur karena teman manusia satu itu memiliki rem di mulutnya.

Namun brankas yang memiliki pengamanan kuat sekali pun dapat dibongkar, begitu pula rahasia milik Fang yang diketahui oleh anggota Kokotaim seiring waktu berjalan. Terkadang mereka mendengar dari mulut orang lain, di lain waktu Fang sendiri yang bercerita karena terbawa perasaan.

Pada saat itu terjadi, Fang akan mengurung diri di ruangannya selama beberapa saat untuk menyalahkan mulut dan hati yang mudah terseret arus suasana kemudian merenungkan diri. Padahal para anggota tidak mempermasalahkan apapun pada ceritanya dan mendengarnya dengan senang hati. Malahan itu menjadi bukti bahwa Fang mulai mempercayai mereka.

"Kau tidak akan mengatakannya pada mereka?"

Pada suatu saat, BoBoiBoy tiba-tiba menanyakan hal yang tidak disangka oleh Fang. Karena meskipun si Pengendali Elemen tahu segalanya, dia tidak pernah menyinggung informasi tersebut kalau orang yang terkait tidak membicarakannya.

"Apanya?"

" Skill itu... Summon Skill, Ultimatum Skill milikmu yang sebenarnya."

Di hadapan kertas laporannya, Fang terdiam. Heran sesaat kenapa temannya itu tidak fokus saja pada laporan miliknya dan malah mencari topik yang tidak seharusnya diangkat.

"Kenapa dengan itu? Tidak biasanya Tuan Yang Tahu Segalanya buka mulut duluan."

Itu adalah kesinisan yang tidak terhindar karena bagi Fang topik itu merupakan topik sensitif.

Seolah tidak terganggu dengan kesinisan temannya itu BoBoiBoy membalas, "Aku tidak membahasnya kalau hal itu tidak terus mengganggumu dan teman-teman mulai penasaran. Skillmu itu juga terkadang muncul kan? Belum lagi kau kesulitan mengontrolnya."

Percakapan saat itu itu berhenti karena Fang memilih untuk fokus pada laporannya. Selain itu, teman-temannya baru saja kembali dari quest terpisah menjadi alasan kuat untuk tidak melanjutkan pembahasan tersebut.

Namun bukan berarti Fang tidak memikirkan percakapan itu sebagai angin lalu. Tidak bereaksi terhadap donat wortel yang ada di hadapannya merupakan bukti nyata bahwa Fang memikirkan apakah dia harus memberitahu anggota Kokotaim tentang Summon Skill miliknya atau tidak.

"Suatu saat."

"Apanya?"

"Aku akan bilang pada mereka tentang skill itu suatu hari nanti."

BoBoiBoy tertawa kecil, "Kenapa kau menjawab pembicaraan yang telah dibahas berhari-hari lalu?"


Kecuali BoBoiBoy, tidak ada yang tahu bahwa Fang memiliki ketakutan terhadap kekuatannya sendiri. Harga diri yang begitu tinggi tidak membiarkan Fang untuk memberitahu hal tersebut pada teman-temannya. BoBoiBoy yang tahu tentang itu menghargai keputusan yang diambil Fang. Lagian dia tidak memiliki hak untuk membicarakan rahasia yang disimpan sangat erat.

Ketakutan itu berasal ketika Fang pertama kali menggunakan skill-nya. Kekuatan bayangan yang awalnya dia pikir keren menjadi sumber utama ketakutannya. Setiap saat dia mengeluarkan kekuatannya, bayangan gelap itu akan melahap dirinya sedikit demi sedikit. Puncaknya, bayangan yang harusnya patuh padanya mengambil kesadaran dan melukai orang-orang sekitar. Hal itu membuat Fang mengambil keputusan untuk menggunakan skill sesedikit mungkin dan mengandalkan daggernya.

Tetap saja ada waktu ketika kekuatan Fang mengambil alih tubuhnya saat nyawanya dalam bahaya maupun saat berlatih untuk mengendalikan skill tersebut. Mengamuknya skill Fang merupakan pertemuan pertama dengan lima anggota Kokotaim dan entah bagaimana dia bergabung dalam kelompok tersebut yang kemudian diangkat menjadi sub-group dari organisasi TAPOPS.

"Sudah kubilang skill ini berbahaya kan?"

Fang yang baru saja mendapat kesadarannya berbicara dengan suara lemah. Hutan tempat ia dan BoBoiBoy bertarung telah rata oleh tanah. Tubuhnya tidak bisa bergerak karena efek samping dari Summon Skill. Ketika Fang batuk, darah mengalir keluar dari mulutnya.

"Hehe, tapi setidaknya kita berhasil mengalahkan Guardian itu. Portalnya juga sudah tertutup sepenuhnya tepat saat Guardian itu mati. Shadow Dragon milikmu itu meledakkan tubuhnya, meskipun merepotkan ketika kau mulai lepas kendali."

Suara tawa BoBoiBoy tidak membuat Fang percaya bahwa temannya itu dalam keadaan baik-baik saja. Tanpa melihat pun Fang tahu kalau keadaan tubuh BoBoiBoy tidak berbeda jauh dengan dirinya.

"Aku tidak akan meminta maaf."

"Aku juga tidak perlu permintaan maafmu itu."

Karena Fang hanya bisa berdiam diri, mau tidak mau mata Fang menatap bulan yang menyinari hutan tersebut. Sebelumnya pepohonan yang lebat dan besar telah menutupi bulan tersebut sehingga Fang tidak mengetahui bahwa bulan itu dalam fase bulan sempurna.

"Bagaimana dengan yang lain?"

Fang kembali membuka mulutnya setelah terjebak dalam keheningan beberapa saat. Mereka sibuk menikmati bulan di langit sambil mengistirahatkan tubuh yang terlalu lama tegang karena pertarungan tadi.

"Tidak ada kabar tapi aku merasa mereka baik-baik saja."

Fang memercayai firasat temannya itu. Entah bagaimana BoBoiBoy memiliki insting yang melebihi insting milik Fang ketika pengalaman yang didapat antara mereka begitu jauh. Insting itu hampir menyamai foresight milik Ying, teman mereka di grup Kokotaim.

Mereka kemudian kembali terdiam. Tidak ada topik yang dibahas. Tingkat kelelahan yang menumpuk selama pertarungan tadi melewati tingkat yang biasa mereka alami. Luka ringan maupun berat menjadi rasa sakit sampai pingsan menjadi pilihan terbaik. Entah mengapa mereka mendapat firasat bahwa menutup mata bukanlah pilihan yang bagus dan lebih baik menahan rasa sakit tersebut.

"Kau tahu BoBoiBoy?"

Fang kembali berbicara agar rasa ngantuk yang mulai menyerangnya menghilang.

"Aku tahu."

"Apanya?"

"Tentang ketakutanmu itu kan?"

Fang menghela napas. Dirinya diliputi keheranan akan batas hal yang diketahui oleh temannya itu. Bahkan rasa bingung dibumbui penasaran itu telah muncul semenjak rivalnya itu mengklaim bahwa dia tahu segalanya. Namun sepertinya sekarang Fang tahu sampai mana BoBoiBoy dapat mengetahui suatu hal.

"Itu memang benar tapi kurang tepat."

"Eh? Aku yakin kau mau membicarakan hal itu."

"Coba kau tebak."

BoBoiBoy berpikir keras namun rasa sakit di sekujur tubuhnya terus mengirim sinyal pada otaknya hingga dia tidak dapat fokus pada pendengarannya.

"Aku hanya bisa mendengar apa yang kau rasakan bukan membaca pikiran. Meskipun aku tahu segalanya tapi itu hanya sebatas keterangan singkat tanpa penjelasan detail."

"Oh? Dan kau mengklaim dirimu tahu segalanya, Element Holder?"

BoBoiBoy tertawa kecil kemudian suara rintihan menyusul karena rasa sakit tiba-tiba bertambah.

"Tapi aku memang tahu segalanya. Buktinya aku tahu semua rahasia yang disimpan oleh semua makhluk hidup di Bumi ini."

"Tapi kau tidak tahu alasan dari rahasia itu kan?"

"Yaah, mungkin itu memang batasanku? Aku tidak punya skill penglihatan seperti milik Ying."

Pembicaraan singkat itu berhenti sejenak. Mereka tidak menyangka berbicara itu membutuhkan begitu banyak energi ketika biasanya perdebatan besar selalu terjadi selama ini.

"Aku benci rasa sepi."

Fang melanjutkan topik awal yang ia bahas.

"Hal yang tidak terduga dari orang anti sosial sepertimu, Fang. Padahal nickname yang kau dapat itu Ghost Shadow."

"Aku suka tempat yang tenang. Kesepian itu tidak sama dengan ketenangan. Kau tahu itu BoBoiBoy."

"Tentu saja, ketenangan itu yang selalu kuharapkan tapi tidak pernah tercapai."

Tanpa melihat wajah temannya, Fang yakin bahwa senyum sinis telah terpapang di mulut BoBoiBoy.

Si Pengendali Elemen itu bertanya, "Lalu? Hubungannya dengan ketakutanmu itu apa?"

"Seperti katamu tadi, bayangan itu tidak terwujud. Dia menyatu dengan kegelapan dan semakin kuat ketika ada cahaya yang sekaligus menjadi kelemahannya jika cahaya terlalu kuat."

BoBoiBoy diam mendengarkan, membiarkan Fang untuk melepas pikirannya yang selama ini tertahan.

"Dari total Shadow Skill yang aku punya, Summon Dragon Shadow merupakan skill yang paling aku takuti."

"Awalnya aku mengira kau takut dengan Shadow Skill karena jarang digunakan dan lebih sering menggerakan daggermu. Tapi saat kau lepas kendali untuk kedua kalinya dulu, aku sadar kau takut dengan Summon Skill-mu."

"Itu karena aku tidak tahu apakah Dragon Shadow semakin kuat atau tidak kalau semakin sering memakai Shadow Skill."

Fang menemukan jawaban tentang itu ketika dia mencoba untuk memanggil bayangan lain. Dia sadar bahwa bayangan di Summon Skill memiliki kepribadian dan tingkat kekuatan yang berbeda-beda. Maka tidak heran kalau naga yang dikenal makhluk terkuat dan tidak ingin tunduk pada makhluk yang lebih lemah darinya berusaha mengambil alih kesadaran Fang. Meskipun telah berlatih untuk memperkuat dirinya, Fang tetap tidak bisa mengendalikan Dragon Shadow. Kalaupun bisa, itu hanya terjadi dalam waktu singkat sebelum kesadarannya direbut kembali.

"Intinya, Dragon Shadow itu tidak mau menurutiku dan berbuat sesuka hati," Fang melanjutkan ceritanya.

BoBoiBoy tertawa kecil, "Persis seperti Summoner-nya."

Mengabaikan ejekan BoBoiBoy, nada lemah Fang terdengar serius.

"Aku berpikir mungkin Dragon Shadow itu dulunya naga kegelapan atau sejenisnya."

"Oh? Berarti bayangan yang kau panggil itu bukan sekedar bayangan hasil imajinasimu?"

"Aku rasa bukan. Mereka bayangan yang memiliki kepribadian layaknya roh makhluk yang sudah mati."

"Sama seperti keinginan yang diwariskan pada orang lain namun ini diturunkan pada bayangan?"

Fang mengangguk, dia yakin BoBoiBoy bisa melihat anggukan itu dari sudut matanya.

"Aku merasakan kesepian dari bayangan gelap milik naga itu dan rasa sepi itu berbeda dengan rasa yang terkadang aku alami. Ketika aku memanggil Dragon Shadow, bayangannya itu melahapku dengan kesepian bersama kegelapan pekat. Aku bahkan bisa merasakan dingin menusuk hingga tulangku dalam kegelapan itu."

"Kesepian ya?"

"Aneh bukan? Aku memiliki begitu banyak orang-orang berharga dalam hidupku tapi masih bisa merasakan kesepian itu. Perasaan negatif itu selalu menggerogoti hatiku sampai-sampai rasa takut memenuhi diriku dalam kegelapan."

Fang menertawakan dirinya, dia merasa telah menunjukkan sisi menyedihkan saat membicarakan hal tersebut.

"Aku yang bahkan tidak takut mati ketika nyawaku di ujung tanduk malah ketakutan dengan hal seperti itu."

"Kurasa itu hal wajar Fang. Itu sama seperti orangtua yang lebih peduli pada nyawa anaknya dari pada nyawanya sendiri. Sama seperti rasa kesepian yang berasal dari kehilangan orang-orang yang kita sayangi."

Fang setuju dalam diam dengan kalimat BoBoiBoy. Ketakutan akan kehilangan orang yang begitu ia sayangi membuat Dragon Shadow dapat mempengaruhinya dengan rasa kesepian milik naga tersebut.

Tanpa mereka sadari, figur yang menunjukkan lima makhluk menghampiri mereka. Fang dan BoBoiBoy masih berbicara dalam keadaan tubuh yang setia menempel di dataran tak beraturan tersebut.

"Tapi aku merasakan ada yang berbeda dengan Dragon Shadow tadi."

"Kau tidak merasa kesepian?"

Fang mengangguk, "Bahkan dinginnya kegelapan itu tidak terasa sama sekali. Malah sebaliknya aku merasa hangat."

"Ah, karena itu aku tidak merasakan ketakutanmu lagi. Kukira kau sudah berhasil mengendalikan Dragon Shadow-mu itu."

"Sayangnya masih tidak bisa. Tapi yang mengendalikan naga itu untuk merasuki tubuh Guardian adalah aku."

"Berarti ada kemajuan dong."

Suara BoBoiBoy terdengar senang akan kabar Fang yang akhirnya dapat mengendalikan skill yang selama ini ditakuti temannya itu.

"Iya, sayang sekali aku tidak memiliki kesempatan untuk menyempurnakan itu."

BoBoiBoy terdiam. Mereka selama ini berbicara agar mata yang terus terasa berat seiring waktu berjalan tidak tertutup. BoBoiBoy dan Fang tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya jika menyambut kegelapan yang terus membayangi mereka. Tidak mempercayai insting yang selalu dilatih pun terasa sulit karena kemungkinan meleset sangatlah jarang.

Senyum dipaksa untuk merekah, BoBoiBoy heran kenapa begitu sulit untuk menarik kedua sudut mulutnya yang tidak pernah lelah tersenyum itu. Saat BoBoiBoy mengalihkan pandangan dari bulan yang dari tadi memenuhi matanya, ia melihat kelima temannya berlari menghampiri mereka meskipun luka berada di sekujur tubuh.

"Benar deh, sayang sekali tidak dapat menyempurnakan skill itu. Kepopuleranmu akan meningkat saat berhasil mengendalikannya."

"Ya... Oh, akhirnya mereka datang. Seperti katamu BoBoiBoy, teman-teman baik-baik saja."

Telinga BoBoiBoy dapat menangkap suara Fang yang semakin melemah, "Jangan tutup matamu Fang, kau tidak mungkin membiarkan mereka mengambil gambar wajah tidurmu itu kan?"

Fang tertawa kecil, "Itu tidak bisa dibiarkan. Tapi rasanya... Aku mengantuk."

Kegelapan setiap Fang mengedipkan mata perlahan menyelimuti dirinya dengan kehangatan. Tidak bisa dipercaya bahwa itu kegelapan sama yang selama ini ia sangkal keberadaannya.

"Kau kira aku tidak? Istirahatlah setelah selesai pesta perayaan nanti. Kita berenam sudah janji kan?"

"Hanya sebentar. Kau bisa bangunkan aku nanti kalau sudah sampai."

Ah, Fang tidak bisa melawan kehangatan yang terus menyambutnya dalam kegelapan ini. Tubuhnya yang begitu lelah karena pertarungan panjang tadi menambah alasan untuk dia segera menutup mata.

BoBoiBoy yang menyadari respon Fang berkurang menahan air yang dari tadi siap mengalir keluar matanya. Kehangatan dari kegelapan yang mereka bicarakan tadi perlahan menyelimuti tubuhnya.

"Fang, kau dengar aku?"

"... Hm... Aku dengar..."

Itu adalah nada lemah yang tidak BoBoiBoy harapkan ia dengar. Batuk temannya yang ia yakin dengan pasti mengeluarkan darah membuat rasa sakit yang sedari tadi menjalar di tubuhnya langsung hilang. Elemen yang BoBoiBoy paksakan keluar untuk menyembuhkan temannya itu tidak kunjung muncul.

Menyerah untuk mengeluarkan kekuatan dari tubuh yang kehabisan mana, BoBoiBoy mengepalkan tangannya erat. Dia menggigit bibir membuat darah yang telah kering kembali mengalir. Dirinya frustasi karena tidak dapat melakukan apapun.

"Fang..."

Gumaman menjadi balasan panggilan BoBoiBoy, air mata yang kini tidak dapat dibendung mengalir deras.

"Sebelum aku lupa mengatakannya. Selamat ulang tahun, Rambut Landak."

Fang disela-sela mengantuknya tertawa, "Sudah lama aku tidak mendengar julukan itu, Topi Jeruk."

BoBoiBoy memaksakan tawa, "Sayang sekali aku sudah tidak memakai topi itu lagi."

Kedua tawa itu tidak bertahan lama. Sayup-sayup mereka mendengar suara teriakan anggota Kokotaim.

"Aku mengantuk BoBoiBoy."

"Iya, tidurlah."

"Kegelapan ini begitu hangat."

"Baguslah, aku jadi tidak perlu repot-repot jadi matahari buatanmu lagi."

"Terima kasih untuk segalanya, BoBoiBoy."

"Harusnya aku yang berterima kasih, Fang. Telah menjadi teman dan keluargaku bersama teman-teman di dunia yang hancur ini, terima kasih. Sungguh."

Mata Fang yang mulai sayu mengeluarkan air mata. Bulan begitu indah namun terasa menyedihkan di hatinya. Bayangan kakaknya muncul tanpa peringatan di benaknya.

"Aku rindu Leader. Tentu saja dia tidak ada waktu kan?"

"Jangan khawatir. Leader akan ada di sampingmu ketika kau membuka matamu nanti."

Mata Fang tidak memiliki kekuatan untuk terbuka lagi. Kegelapan yang masih setia menunggunya menyambut dengan kehangatan yang ia rindukan. Mirip hangatnya pelukan sang ibu atau sup wortel yang ia makan bersama keluarganya saat ia kecil dulu.

"Kuharap... Itu sungguhan."

Mata ruby itu akhirnya tertutup bersamaan dengan hembusan napas yang perlahan menghilang.

"Fang?"

"..."

Tidak ada jawaban dari panggilan BoBoiBoy. Si Pengendali Elemen itu tahu namun terus menyangkalnya. Air mata yang tak kunjung berhenti mengalir mewakili perasaannya. Ketika kelima temannya itu sampai di tempat dirinya dan Fang, semuanya terlambat.

Ghost Shadow.

Master dari semua bayangan yang narsis.

Terobsesi dengan donat wortel sampai mengklaim tidak dapat hidup tanpanya.

Assassin dengan hawa keberadaan nyaris nol dan menjadi pahlawan Bumi yang dipanggil Fang.

Dia telah menjadi teman sekaligus keluarga bagi anggota Kokotaim meskipun awal pertemuan mereka adalah nyawa dengan nyawa.

Kegelapan merupakan kekuatan utama sekaligus menjadi ketakutannya hingga terus menyangkal keberadaan kegelapan itu sendiri.

Namun kegelapan itulah yang menjemputnya dengan kehangatan.

[Embrace The Dark - The End]


N/A:

Hai, hai... seperti yang kujanjikan di post IG-ku err... 3 hari? Tunggu *lihat kalender*

4 hari yang lalu! Ya, post IG 4 hari lalu aku mengatakan akan publish ini cerita. Rencananya mau pas dengan tanggal tapi karena hati ini merasa ada yang kurang ketika kembali membaca isi cerita, ku rombak ulang.

TAPOPS di sini memiliki akronim yang berbeda dengan seriesnya, aku tidak akan memberitahu apa artinya dan biarkan waktu yang menjawab /plak!

Yaa, mari anggap bahwa cerita ini menjadi pembuka dari kisah lain setelah ThTr yang tidak kunjung update tamat.

Terakhir, selamat ulang tahun Fang. Shadow Master yang bercita-cita mengalahkan kepopuleran seorang manusia amoeba. Karena tidak diketahui berapa umurmu maka tidak apa-apa kalau aku menganggap kau jauh lebih tua dari teman-teman Bumi bukan? Seperti umur Ochobot misalnya?

Karena aku tidak mau note ini terlalu panjang... maka aku pamit menghilang dari peradaban untuk sementara. Bye!

[2022.04.17]