Reigen Arataka bukanlah jenis manusia yang mudah—katakanlah, mati kutu. Bahkan bila ia terpojok oleh semesta, disudutkan dalam kemungkinan gila, atau hadapi situasi yang menguras jiwa—ia akan selalu tahu caranya menuntut balas, atau setidaknya gunakan kata-kata sarat culas untuk mengelak tanpa harus memelas.
Namun untuk yang ini saja, keadaan memaksanya untuk membeku. Terpaku dalam ekspresi tolol tak terkira.
Arataka bisa merasakan napas Kageyama Shigeo yang menyapu rahangnya. Nyaris kehilangan seluruh kewarasan, lelaki bersurai emas itu melirih, "Kalau kau sempat belajar melakukan teleportasi, Mob—ini adalah saat yang tepat untuk mempraktikkannya."
Shigeo mendengkus. Tidak menghina, lebih-lebih mencibir nihil kata-kata. Hanya rasa terhibur yang jelas, oleh sarkasme yang sama sekali tak dibalut kemanisan. Shigeo membalas, "Dan melewatkan segala hal tentang moralitas yang kaukatakan? Aku rasa tidak, Shishou."
Arataka mendesah lelah dengan sangat, amat, perlahan dan tenang. Apalagi kala ia melihat senyum tipis Shigeo, dan tubuh lelaki yang kini telah beranjak dewasa itu, mengkungkung tubuhnya sendiri.
Jadi, bagaimana keadaan bisa sampai begini?
Mob Psycho 100 © ONE
Warnings! MobRei, same age differences, age up! Mob, romance, drama, humour, sexual tension, possibly OOC, typo(s), canon, semoga seluruhnya sesuai PUEBI, dan sebagainya.
Moral by Saaraa
Meski waktu berlalu dan musim melangkah repetitif, satu hal yang tak pernah berubah ialah Shigeo yang bekerja di Kantor Konsultasi Arwah Dan Sebagainya. Hanya saja, belakangan ini—kantornya itu sedikit ramai oleh para insan tak ada kerjaan.
Kurata Tome resmi magang di sana sejak awal SMA dan berhenti sementara di tahun ketiga untuk fokus akan ujian masuk kuliah. Serizawa Katsuya kini lebih percaya diri dalam menghadapi pelanggan dan dirinya sendiri—itu membuat Arataka tenang dan tak ragu menyerahkan urusan kantor padanya kalau ia sedang tak bisa.
Hanazawa Teruki dan Kageyama Ritsu—bahkan, Suzuki Sho juga muncul minimal tiga bulan sekali. Dasar—ia tak paham, dan tentu Arataka banyak mengoceh soal mengapa berbagai bocah ini segitu senggangnya. Namun, ia melihat senyum Shigeo dan kebahagiaan anak didiknya itu, maka Arataka hanya bisa pasrah.
Toh, tak buruk-buruk amat, nikmati hari-hari sederhana di dalam distorsi buana.
Satu hal yang barangkali membuatnya bingung belakangan ini—ialah tak lain; Shigeo itu sendiri. Remaja yang kini beranjak menjadi lelaki, berumur 17 tahun di pertengahan SMA-nya, acap kali, terlampau sering, melihat ke arah Arataka tanpa sebab dan tedeng aling-aling.
Ya—seperti ini. Tome sedang berkunjung, dan ia mengobrol seru dengan Katsuya juga Shigeo. Namun Shigeo sedikit menoleh ke belakang, menemukan Arataka terduduk di meja. Arataka mengangkat sebelah alis dan ia malah mendapat senyum tulus.
Oh, ya—Shigeo jadi lebih mudah tersenyum.
Lalu, Shigeo mengalihkan pandang dan kembali bertukar konversasi dengan kakak kelasnya itu. Arataka bingung.
"Bahkan, Kageyama-kun tak repot untuk menyembunyikannya, ya," Teru berkomentar.
Atas pernyataan itu, Arataka sedikit menengadah. Juga melihat remaja lelaki yang kini bertumbuh lebih dewasa. Lebih tinggi—lebih elegan. Suaranya jauh lebih berat dan gerak-geriknya halus. "Maksudmu apa?"
Teru mengerjap. Apa guru besar dari Shigeo ini se—polos itu? Tak mungkin, bukan. Namun, Teru hanya menaruh kepalan tangan di atas bibir dan berpikir.
Oh. Sepertinya dia paham.
Teru menggeleng. Senyum cerah dan bernuansa bisnis, juga sedikit palsu di saat yang sama ia umbar tak pusing. "Tidak."
Lalu, sekon berikutnya, Arataka kembali menyadari Shigeo melihat ke arahnya. Bola mata sewarna batu bata terarah, telak lurus menemui wajahnya. Iris yang terlalu gelap untuk dikatakan sewarna tetesan darah, tapi terlalu cerah untuk dibilang cokelat kayu.
Namun, tetap, bagaimana pun—indah apa adanya. Atraktif.
Tunggu. Bukan itu poinnya. Arataka kini menautkan alis. Makanya, ada apa, sih—
KRIIING!
Sang lelaki dewasa terkesiap. Arataka meraih telepon dengan tangan kanan, dan tangan kiri menumpu dagunya. Ia dekatkan mesin komunikasi itu pada telinganya, menyapa siapa pun makhluk di seberang sambungan itu, "Halo?"
Secara sontak pula, manusia yang menghuni ruangan itu memperkecil suara obrolan—agar sang pendiri kantor konsultasi ini dapat berbicara dengan klien.
Arataka mengangguk. Ia kini menggunakan bahu kiri untuk menjepit telepon dan telinganya, lalu tangan kanannya meraih pulpen serta secarik kertas.
"Ah—ya. Bisa, kok," Arataka merespon. "Kota Basil, kan? Ya, sudah kucatat alamatnya."
Shigeo memerhatikan. Terlalu jeli. Melihat pada tangan berurat menonjol yang menggoret pulpen di atas kertas dengan lancar. Pada tirai bulu mata emas yang tampak jelas sebab bola mata itu tengah bergulir ke bawah, memberikan atensi penuh pada kertas.
Teru tidak tahan untuk tak bersikap jahil. Lelaki itu tersenyum tipis, sedikit menggerakkan telunjuk di balik punggung, dan menarik dasi seragam sekolah Shigeo kecil dengan kekuatannya. Shigeo menoleh pada Teru dan yang ia dapati hanya senyum sederhana.
Pemilik panggilan Mob tersenyum tipis membalas gestur simpel itu pula.
"Baiklah." Arataka menutup telepon. Berikutnya ia bangkit dari kursinya, lalu berujar santai, "Kita dapat kerjaan di Kota Basil! Harus berangkat sore ini kata klien. Ada yang bisa ikut?"
Yang lain saling bertukar tatapan. Teru menyahut cepat, "Kageyama-kun saja!"
"Tentu," Katsuya mengangguk. Senyumnya begitu cerah, tulus—dan membuat Arataka bingung harus berkata apa. "Aku akan berjaga di sini, Reigen-san."
Arataka tersenyum kaku. "Bukannya Mob besok sekolah? Aku tidak ingin menghalangi edukasi anak didikku!"
"Besok hari Minggu?" Tome menjawab, kali ini malah ia yang dipenuhi tanda tanya. Tingkah Arataka ialah sesuatu yang pantas disandingkan dengan kata anomali. Tapi hari ini, rasa-rasanya, kelakuannya hari ini jauh lebih luar biasa bikin lelah hati. Kenapa, sih? Padahal biasanya juga ia berpergian bareng Kageyama.
Arataka terbatuk—secara palsu—lalu berujar sedewasa mungkin, "Tapi, tidak baik kan anak remaja pulang malam-malam? Bagaimana kalau kau ikut denganku, Serizawa?"
Katsuya mengerjap. Sebelum ia mampu berkata-kata ataupun kirimkan balasan, Shigeo kali ini membuka suara, dengan kepala sedikit dimiringkan, ekspresi masih sedatar papan tulisan, namun entah bagaimana—bola mata bersinar inosen dan menawan, "Shishou tidak mau pergi denganku?"
Teru membungkam bibir—menahan tawa kecil.
"Tidak … bukan begitu, kok."
Shigeo semakin menatapnya. Oh. Bagus. Kini seluruh perhatian orang tertuju pada Arataka, membuat lelaki itu membuka rahang untuk dua detik, menutupnya pelan, lalu berujar, "Baiklah, ayo, Mob."
Senyum cerah Shigeo tampil. Ia tampak langsung bersemangat, seolah-olah ada telinga dan ekor anjing imajiner menyertainya.
Maka, berangkatlah mereka pada Kota Basil.
.
"Ah! Terima kasih banyak. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu, Reigen-kun."
"Tidak, tidak," Arataka membalas rendah hati dan kibaskan tangannya. "Ini adalah pekerjaan mudah bagiku. Bagaimana pun, aku yang terhebat."
Arataka tersenyum ketika wanita di hadapannya masih ucapkan rasa syukur. Sang wanita paruh baya pemilik vila bernuansa tradisional telah berkali-kali mendapatkan respon negatif dari pelanggan sebab mereka kerap kali merasakan kejadian aneh serta mengerikan. Maka itu, sang wanita akhirnya mencari seseorang untuk melakukan pemberkatan, pembersihan, sekaligus—yah, meruwat gedungnya.
"Apakah lelaki di sana partner-mu?"
"Eh?" Arataka mengedip beberapa kali. Ia melirik melalui bahu dan melihat Shigeo masih fokus pada langit-langit ruangan. Sepertinya ia membersihkan sisa-sisa energi buruk atau sesuatu semacam itu. "Ah … ya, begitulah."
Si wanita lemah lembut tersenyum. "Pemuda yang tampan. Kalian adalah pasangan yang serasi."
Kali ini, pemilik marga Reigen terbatuk—tersedak oleh udara. "Bukan, maksudku, dia adalah rekan ker—"
"Shishou, aku sudah selesai."
Jantung Arataka meloncat satu kali lagi. Sheesh, serius—bisakah orang lain berhenti mengagetkan hatinya? Kasihan sekali kesehatan organ terpenting dalam tubuh manusia yang butuh berdetak itu! Berhentilah mengupayakan agar jantungnya berhenti berdentum.
"Oh ya, bagaimana kalau kalian menginap di sini? Hari sudah malam, aku juga akan menyiapkan hidangan yang enak."
Arataka berdeham. Gelengan sopan ia berikan, penolakan penuh sudah pasti disodorkan, "Ah, tidak … kami bisa pulang. Masih keburu kereta terakhir, kok."
"Eh? Tidak apa-apa, aku ingin menjamu kalian, ya?"
Arataka kembali memberikan gestur penolakan. Ia merogoh kantung celananya, untuk memastikan dompetnya ada di sana, dan dengan percaya diri melontarkan argumen lagi, "Tenang saja, aku tidak mau merepotkan. Aku juga masih punya uang untuk membeli tiket—"
Eh?
Membeli apa? Arataka terpaku. Ia kini dengan kedua tangannya betul-betul merasai kantung celana jas—dan, kosong melompong. Tak ada apa pun di sana. Hanya angin yang berembus seiring kedua tangannya menepuk sisi-sisi pinggulnya.
Hah.
Arataka menoleh keterlaluan pelan, horror, sekaligus penuh harap di saat yang sama kepada Shigeo. Sang remaja dengan kekuatan nirbatas—secara harafiah—masih berwajah bagai gir tanpa minyak pelumas; datar, diam, kaku.
"Shishou, aku tidak bawa uang berlebih. Tadi yang dipakai untuk beli tiket ke sini sudah habis."
Sang wanita terkekeh lembut. Selayaknya orang tua pada anaknya yang ceroboh. Ada senyum tulus sebelum wanita itu menggenggam sayang tangan Arataka dan berkata menenangkan, "Tinggal lah di sini, hanya semalam. Mandi air hangat dan makan enak, serta tidur nyaman. Okay?"
Dan, bagaimana bisa menolak?
Seriusan—bagaimana bisa menolak, kalau begini keadaannya?
.
"Hei, Mob, mandilah."
Arataka mengusap surai yang bertempias air dengan handuk selembut bulu domba. Pandangannya terarah pada Shigeo yang kini telah melucuti jas dan dasi seragam sekolah, menyisakan kemeja putih metah yang melekat sempurna pada lekuk tubuh yang lebih bidang dan terpahat sempurna—dibandingkan ia dulu saat masih siswa sekolah menengah pertama.
Shigeo tersenyum, bangkit dari duduk bersilanya di atas tatami dan menjawab patuh, "Baik, Shishou."
Arataka mengusap tengkuk. Kala Shigeo sudah berjalan keluar, menutup pintu geser, barulah Arataka juga melabuhkan pantatnya di atas tatami, dekat jendela, dan melipat kedua tungkainya. Nuansa tradisional tempat ini memang serasa teduh. Arataka, bersandar pada tangan yang ia tumpu di bingkai, pandangnya lurus melihat ke arah luar pembatas transparan itu. Cahaya bulan menyusup dari sana dan penerangan dalam ruangan didukung oleh lampu remang jingga, menjanjikan suasana hangat.
Pemandangan desa sederhana, dengan kemeriahan malam yang tak keterlaluan, tapi tetap membuat hati bahagia tanpa beban. Arataka tanpa sadar menarik sebelah sudut bibirnya timpang. Visual yang tak buruk. Kota Basil sedikit lebih sepi dibandingkan Kota Bumbu tempat di mana kantornya berada.
Sekali-kali sepi begini juga tak masalah.
Tapi, justru—itu pula yang membikin hatinya resah. Arataka sontak mengacak-acak juntaian emasnya sendiri ketika mengingat tingkah anehnya sore ini; memaksa agar Shigeo tidak ikut dengannya.
Yah—jujur, bukan maksudnya menjadi seperti seorang imbisil. Arataka hanya merasa—ya, memang tidak baik anak remaja berkeliaran hingga malam, dan sekarang malah menginap di kota yang berbeda. Ia telah menghubungi keluarga Kageyama—dan mereka bersikap santai, serta memahami seperti biasa. Hanya saja, Kageyama Ritsu terdengar seperti ingin mencekik habis seluruh sukmanya, namun itu kisah untuk lain kali.
Alasan kedua—mungkin, Arataka merasa sedikit risih. Sedikit saja. Oleh perhatian mendadak, oleh sepasang iris yang ringan tapi penuh arti, yang terarah padanya belakangan ini. Arataka sadar, kok. Ia juga tahu bahwa Shigeo tahu itu.
Soalnya, entah mengapa—Arataka tidak bisa mengetahui arti pandangan itu sama sekali. Bahkan meski ia percaya diri dengan kemampuan observasi, hipotesa, atau apa pun kemampuan yang ia miliki dan asah. Ia tak menemui konklusi, buntu oleh permasalahan tanpa solusi.
Shigeo sudah bertambah dewasa. Nyaris delapanbelas, sebentar lagi resmi mahasiswa. Karena niat, dedikasi, dan kebaikan kakak kelasnya, ia sampai kini masih rutin berolahraga. Membentuk tubuh, mengukir otot, dan perlahan berusaha yang terbaik. Tubuhnya bahkan sedikit lebih tinggi dari Arataka kini.
Wajah yang dulu tembam dengan senyum kekanakan, kini jauh lebih tirus. Tulang rahang terlihat jelas dan tajam. Bahkan, potongan mangkuk surai hitam yang tadinya terlihat konyol—kini sama sekali tidak. Terlihat sempurna membingkai wajahnya.
Ya—sama sekali tak ada yang salah dengan itu.
Yang salah hanyalah, Arataka diempas oleh realitas, disadarkan oleh kenyataan bahwa Shigeo, kini—beranjak dewasa.
Dan, mungkin aku melarikan diri, ya, pikirnya—lebih pada diri sendiri. Arataka sadar. Ia mendengus. "Padahal, waktu masih kecil dia lebih manis."
"Aku yang sekarang tidak manis?"
DEGH.
Lagi, jantung Arataka melewati satu interval. Arataka menoleh, mendapati Shigeo yang baru saja usai membasuh tubuh, dibalut oleh yukata sederhana, dan sang guru tak bisa menahan diri untuk mengoceh, "Kau mengagetkanku, Mob!"
"Maaf, Shishou," Shigeo membalas sederhana. Arataka merasa permintaan maaf itu tak mengandung kesungguhan sama sekali, tapi, oh—sudahlah. Ia tetap membiarkan anak didiknya duduk di hadapannya.
Arataka melempar iris matanya ke sudut mata, melihat Shigeo yang kini sibuk mengusap-usap juntaian sepekat jelaga yang sengkarut dengan handuk. Si surai emas mengempas napas pendek. Ia sedikit merangkak maju, dan meraih handuk, menepuk-nepuk halus rambut Shigeo.
"Jangan dikucek begitu," ujar Arataka. "Bisa rusak rambutmu."
Shigeo mengerjap. Dalam jarak sedekat ini, ia dapat menghidu aroma yang khas dari gurunya. Anggukan dia berikan, sembari Arataka kini berurusan dengan kepalanya. Saat momen berjalan dengan keheningan menenangkan, Shigeo akhirnya membuka suara pelan, bertanya, "Jadi?"
"Jadi—apa?" Arataka menarik handuk ketika dirasanya surai itu sudah cukup kering. Ia bangkit, membawa kain itu, bersamaan dengan handuk miliknya tadi, untuk disampirkan di atas gantungan baju pada pojok ruangan.
"Aku yang dulu lebih manis?"
Arataka merotasi bola mata. Seusai menggantung handuk, ia kembali untuk duduk di dekat Shigeo dan menjawab, "Kenapa kau keras kepala soal itu, sih? Tidak, tunggu—kau memang selalu keras kepala, tapi ini bodoh, Mob!"
Shigeo terkekeh tipis. Astaga. Entah mengapa—itu terdengar manis di telinga Arataka. Ia mungkin sudah gila. Atau, menuju sinting. Entahlah!
"Aku hanya penasaran, Shishou. Apa itu ada hubungannya mengapa kau menghindariku akhir-akhir ini?"
Tubuh Arataka menegang untuk beberapa saat. Matanya melebar—sebelum ia berusaha untuk rileks, menjatuhkan bahu pelan-pelan. Melihat iris Shigeo yang telak tabrak dengan miliknya.
Nah, ini dia—konversasi yang harus mereka hadapi, bagaimana pun juga.
Arataka tentu saja akan membalas ucapan yang dibalut bumbu sarkasme itu. Ingat—ia bukan orang yang sudi untuk menunduk kalah. Atau, lesu dan berpasrah pada musibah. Apa pun definisi dari musibah itu—ia pernah membuktikannya dulu, dan ia bisa membuktikan itu sekarang.
Yah, meski—ini tak bisa juga disebut bencana. Namun serasa seperti itu. Maka, Arataka berujar, "Mengapa kau tidak menjelaskan dulu kenapa akhir-akhir ini bersikap begitu?"
Shigeo berpura bodoh. Ia sedikit memiringkan kepala, membentuk gestur berpikir dengan menaruh kepalan tangan di dekat dagu. "Bersikap bagaimana?"
Arataka mulai gemas—dan geram. "Melihatku."
"Aku tidak boleh melihat Shishou?"
"Mob."
Shigeo menahan senyum. Jelas sekali! Semakin bertambah umur bocah ini, semakin berani ia dan usil! Arataka tidak percaya ini.
Berikutnya, remaja itu mendekat pada Arataka, mengeliminasi sisa jarak yang ada. Arataka sedikit was-was di tempatnya duduk—tapi, toh, tak menghindar. Tak bisa juga kala sang esper mengulurkan tangan, meraih pergelangan tangan Arataka.
"Kau membuatku gila!" Arataka menyergah—begitu mendadak. Membuat Shigeo sendiri terlonjak di tempatnya. "Kau membuatku gila, kau tahu itu?!"
Shigeo membuka belah bibirnya sedikit, lalu mengangguk ragu.
Arataka nyaris menepuk dahinya komikal.
Ini bodoh. Ini tak wajar. Ini mengikis seluruh pertahanan diri, yang ia bangun begitu hati-hati, begitu mandiri, begitu sendiri—dan kini akan hancur bersepih-sepih, oleh pemudi yang hatinya penuh afeksi.
Dia berumur tigapuluh, Shigeo masih tujuhbelas. Ini salah, kan?
"Oke, Mob, dengarlah." Arataka serius. Ia selalu—serius. Tentang perkara nilai dan norma, tentang hal yang seharusnya, tentang apa yang benar dan yang salah. "Kita bicara moral. Aku akan gamblang; aku, kau—tidak akan berhasil sekarang. Umurmu masih 17 dan aku 30—demi Tuhan—dan, sejak kapan kau melihatku begitu?"
Tunggu—pertanyaannya salah fokus. Tapi, sepertinya tak salah juga dipertanyakan. Arataka ada dugaan. Dia memiliki premis dan yang bisa membuktikan asumsi itu hanyalah Shigeo itu sendiri. Tatapan yang seolah hendak menerkam; atau memiliki—atau keduanya. Sarat akan kasih, tapi juga hasrat paling manusiawi.
Shigeo mengangkat bahu polos—terlihat jujur dan mengesalkan di saat yang sama, sungguh. "Aku tidak tahu," jelasnya. "Aku hanya paham … aku selalu ingin bersama Shishou. Apakah mengapa dan sejak kapan itu—penting?"
Sesungguhnya? Tidak. Yang penting adalah—apakah Arataka membiarkan ini berlanjut, mengulur dan hindari masalah, atau memutus seluruh harap dan angan di sini, sekarang juga.
"Dan, mengapa harus soal moral? Apakah aku, dan Shishou—sebegitu salahnya?"
Arataka melenguh tak percaya. "Itulah mengapa kita manusia!" Arataka menatap bola mata Shigeo. Ia melembutkan nada suara di kalimat berikutnya yang tak mengalir selancar harapannya, "Kita bergerak oleh moral, menjalani hidup sesuai nilai dan norma. Itu bukan sekadar peraturan—itu apa yang menjadikan kita manusia, manusia. Kalau itu semua dihilangkan—tak ada bedanya dengan makhluk tanpa akal budi. Itu pelajaran paling dasar dalam kehidupan, kau tahu, kan?"
Shigeo mengangguk. Ia menyandarkan sisi pelipisnya pada jendela kaca, sembari kedua tangannya kini menggenggam erat tangan Arataka. "Aku tahu," sahut sang anak lelaki. "Tapi, aku juga tahu perasaanku dan apa yang kuinginkan. Aku juga tahu seharusnya ada pengecualian—untuk sesuatu yang benar-benar tulus."
Sial. Arataka mengerutkan alis dalam-dalam. Sejak kapan Shigeo begitu petah lidah? Pasti belajar dari ahlinya (dia, tentu saja).
Gawat. Ini betulan—parah. Inti sari masalahnya juga terletak pada diri Arataka. Ia akan bohong, penuh bualan, kalau ia berkata seratus persen—tak melihat Shigeo sebagai seseorang yang penting. Yang terkasih.
Maksudnya, itu tak berubah—sejak kali pertama Shigeo melangkahkan kaki di kantornya sebagai anak SD tak tahu apa-apa. Arataka bahkan berhenti merokok demi itu. Sampai kapan pun, Shigeo adalah seseorang yang berharga, patut dijaga, rengkuh dan biarkan ia bertumbuh tanpa harus dipaksa.
Namun, untuk melihat Shigeo sebagai pasangan romantis—itu lain cerita sepenuhnya. Arataka bahkan tak pernah terpikir sebelumnya bahwa ia akan terlena oleh asmara, kisah romansa, dan embel-embelnya. Hanya saja, Shigeo yang perlahan dewasa, yang sikapnya kini lebih membuai, yang paham dirinya dan bersedia ada di sisinya untuk baik dan buruknya—bohong kalau Arataka tidak luluh.
Arataka menarik napas, menghelanya panjang. Baiklah. Taruhan terakhir.
"Tidak," ujar sang guru. "Kau masih muda. Masa depanmu panjang—kau bahkan belum kuliah. SMA hanyalah miniatur kecil masyarakat. Kau akan menemui banyak orang, melihat banyak potensial, jadi—tidak."
Shigeo mengerucutkan bibirnya sedikit. Tidak tampak kalau tidak diperhatikan baik-baik.
"Shishou memangnya sebegitu membenciku?"
Arataka menyahut defensif, "Jangan memutar kata-kataku! Aku tidak pernah berkata begitu."
"Jadi, di mana masalahnya? Apakah Shishou memikirkan pandangan orang lain?" tanya Shigeo, kini tampak khawatir lebih dari biasanya.
"Tidak! Kau yang harusnya memikirkan pandangan—tunggu, bukan di situ masalahnya. Kenapa kau ini sangat batu?"
"Apakah kalau kita diam-diam, akan lebih baik?"
"Sudah kukatakan," Arataka kali ini menggeram. Astaga. Ia tak pernah religius, tapi kali ini ia mohon pada dewa mana pun yang menghuni tanah Jepang, bantulah ia! Juga, bantulah kebiasaan buruknya untuk berceloteh tak tahu waktu, untuk selalu ingin membalas ucapan orang lain dari sanubari paling dalam, hingga tanpa sadar Arataka berujar dengan nada tinggi, "—bukan itu masalahnya! Tak peduli seberapa sayangnya aku padamu; situasinya tidak sesederhana itu! Dengarkanlah aku untuk sesekali!"
Hening merambat hingga tulang.
Shigeo mengerjap. "Kau sayang padaku?"
Tuhan.
Arataka baru saja ingin mengelak kala Shigeo semakin mendekat ke arahnya. Dan mungkin, remaja itu tidak sadar bahwa tenaganya kini melebihi lelaki rata-rata, dan dorongan sederhana dari Shigeo membuat Arataka limbung, punggung menemui tatami. Arataka mengaduh singkat kala itu terjadi dan melihat Shigeo berada di atasnya.
Baiklah. Terkutuk hidupnya, terkutuk pekerjaan kali ini, terkutuk dompetnya yang tertinggal di kantor, terkutuk!
Harus apa dia sekarang? Ia sudah tak paham lagi, serta lelah raga dan batin. Sebagai upaya kabur terakhir, yang sangat tak jelas, Arataka berujar pelan, "Kalau kau sempat belajar melakukan teleportasi, Mob—ini adalah saat yang tepat untuk mempraktikkannya."
"Dan melewatkan segala hal tentang moralitas yang kaukatakan? Aku rasa tidak, Shishou."
Arataka menghela napas lamat-lamat. Ia menarik pelan lengan yukata sang anak didik, lalu menggunakan telapak tangannya yang terbuka untuk menepuk-nepuk tatami di sebelahnya. Shigeo menurut. Ia akhirnya melepaskan tumpuan sikunya dan berbaring di sebelah Arataka. Bahu mereka bersentuhan.
Kini, mata keduanya membiarkan langit-langit ruangan menjadi sumber utama visual mereka.
"Dengarlah, Mob," Arataka kembali memulai. "Kau masih muda—masih anak-anak, bahkan." Arataka dapat merasakan Shigeo berniat membantah. Namun sebelum itu, si surai emas langsung melanjutkan, "Dan itu bukan dosa. Jadi anak-anak, tumbuh perlahan. Aku sebagai yang dewasa punya tanggung jawab untuk mengarahkan—sesederhana itu saja."
Shigeo terdiam. Ya, ya—tentu saja ia tahu, kan? Yang sejak awal membuatnya mampu menjalani hidup, tak berserah pada kekuatan tak masuk akal itu—Reigen Arataka, bukan? Dari awal, gurunya meniti langkah, tak lain dan tak bukan hanya untuk membimbing seorang Kageyama—Mob—Shigeo.
Arataka mendengkus. "Aku tidak pernah bilang kita tidak akan pernah bisa menjalani ini. Aku bilang; tidak sekarang."
Oh. Benar—not now. It's not never.
Kini Arataka terdiam. Masih ada ambivalensi. Tentu saja, kan? Ia tak pernah mau merusak relasi ini. Karena, seperti yang sudah ia ketahui dengan pasti soal dirinya dan dari inti jiwanya—Mob itu penting baginya, apa pun status mereka.
"Tapi, bila kau benar-benar ingin mencoba ini," Arataka perlahan berkata. Baiklah—sudah tercebur, berenang saja sekalian. "Kita ikuti peraturanku. Ada batas-batas yang tidak boleh dilangkahi untuk sekarang. Kau paham?"
Shigeo bangkit dari posisi tidurnya, mendadak. Wajahnya cerah dan berseri. Hanya seperti bagaimana kali pertama Arataka melihat ekspresi bersemangat bocah itu kala ia masih SD. Sama—anak lelaki yang sama, yang selalu membikin hidup Arataka berwarna sejak itu.
Arataka merasakan rematan tak pegari pada jantungnya. Gawat. Ia sayang—sangat, sayang. Apa pun definisinya, apa pun kebenarannya.
Shigeo tak bisa menahan cengiran. "Shishou," panggilnya. Arataka mengangkat sebelah alis sebagai respon. "Boleh aku cium?"
Arataka tersedak lagi akibat ia ingin menjerit sembari bangkit duduk di saat yang sama. Seusai terbatuk singkat, ia berujar, "Kau keterlaluan, tahu?!"
Shigeo sedikit menunduk lesu, masih menatap Arataka. Sial. Serupa anjing lasak yang tak diizinkan berguling pada lumpur.
Arataka mengusap tengkuk. Ia mengulurkan tangan. Jemarinya menyentuh rahang Shigeo. Dalam tarikan napas, dan nada tenang—nyaris berbisik, Arataka berkata, "Kemarilah."
Shigeo menurut. Ia memajukan kepala. Bibir itu bertemu singkat. Sangat canggung—sangat, pertama. Namun dari kecupan sederhana, tak sampai lima detik—Arataka dapat merasakan lembab dan kelembutan yang asing di sana. Tak terbiasa, tapi bukan berarti buruk.
Napas Shigeo kembali terasa di sisi wajah Arataka. Shigeo menggunakan sebelah tangan untuk menangkup tengkuk Arataka. Ia kembali mengecup bibir sang surai emas. Menjilatnya sedikit, memberi tekanan lebih. Suara kecup terdengar, satu kali—dua kali.
Arataka menggeliat. Ia membuka mulut, menarik dan menghela napas, sebelum Shigeo kembali mengunci bibirnya. Ia bisa gila—sudah, gila. Ada rasa menggelitik turun hingga ke bagian bawah perutnya.
Shigeo melepas kecup. Menatap bola mata Arataka. Refleksi dirinya terpantul di sana—sejernih air di atas danau tenang.
Otak Arataka mulai berkabut. Ia harus hentikan ini. "Mob—"
"Shishou," Shigeo mendahuluinya. Tanpa sadar mencengkram leher lelaki yang lebih tua darinya. "Maaf, aku …," dia menggantungkan verbalnya. Menunduk lesu. "… harus ke kamar mandi."
Oh.
Oh.
Hormon remaja. Wajar.
Arataka mengangguk cepat. Ia lebih dari setuju—lebih baik begitu daripada bablas di sini. Mengibaskan tangan, Shigeo akhirnya bangkit. Ia berjalan menjauh, membuka pintu geser, lalu lesap dari ruangan.
Arataka meremas yukata-nya, tepat di dekat jantungnya. Bagaimana jantung seorang manusia dapat berdetak sebegini keras? Hingga suaranya menggebu-gebu bahkan di telinganya sendiri. Hingga rasanya seluruh tubuhnya memanas. Hingga rasanya—tak ada yang bisa dia lakukan selain menegangkan setiap ototnya dan berharap ini segera berlalu.
Arataka memijit pelipisnya. Konyol.
Konyol. Ia sudah tua, tahu—bukan bocah baru dewasa.
END
Epilog
"Ahh! Akhirnya sampai di Kota Bumbu. Memang rumah adalah tempat terbaik," Arataka berkomentar, mengangkat tinggi-tinggi lengannya.
Shigeo tersenyum tipis. "Shishou," panggilnya, dengan nada suara polos.
"Hmnn?"
"Sebetulnya—aku bisa melakukannya."
"Apa?"
"Teleportasi."
Arataka menoleh cepat, menjatuhkan rahang, menyatukan kedua alis.
"Dan, aku juga bisa membawa satu atau dua orang bersamaku ketika berteleportasi."
Arataka bersumpah—bila ia memiliki kekuatan, sudah dari lama ia menceburkan anak didiknya di sungai terdekat. Tapi, mana bisa?
Apalagi kala melihat Shigeo tergelak puas. Tawanya lembut, pecah bersetai-setai dan bersatu dengan udara.
Oh—ya sudahlah. Semua berakhir baik.
