Disclaimer! Bbb hanya milik Monsta. Sy pinjem cuma buat disiksa :D
Warning! Kata-kata kasar, adegan pembunuhan, OOC.
Fanfik ini didedikasikan untuk #MonthlyFFA , #DearMyPastSelf
Selamat menikmati.
Malam itu hujan turun cukup deras. Kilat menyambar-nyambar disusul gemuruh yang menyalak seram. Listrik padam. Mungkin saja karena kabel bermasalah gara-gara hujan deras, pohon tumbang ataupun kecelakaan di luar sana.
Anak-anak biasanya akan ketakutan. Kesan horor dramatis yang klise, kolaborasi antara hujan dan mati lampu memang paling membuat bulu kuduk berdiri. Ditambah guntur yang sedang ganas-ganasnya, jantung siapapun pasti bakal berdetak dua kali lebih cepat. Waspada.
Pun Halilintar, meski wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Matanya menatap jendela buram, melihat hujan yang begitu deras.
Atensinya berpaling saat menangkap gerakan gelisah di balik selimut lusuh. Jam sebelas lewat 48. Terbangun, kah? Atau mimpi buruk?
Halilintar berjingkat menghindari menginjak kasur-kasur tipis yang digelar berdempetan. Lantas duduk di sisi kanan kepala Thorn.
"Terbangun?"
Thorn menyingkap selimut tipis, mengintip.
"Takut," katanya pelan.
Halilintar menepuk pundaknya, hangat. "Tidak apa-apa. Petirnya tidak akan menyambar ke sini. Soalnya kalian 'kan anak baik." Senyum tipis mengembang. Sorot matanya sejuk menyenangkan, ditambah suara akrab menenangkan.
Selimutnya disibak sampai leher."Kak Lin sendiri tidak tidur?" Thorn menumpu tubuhnya ke sisi kanan, meringkuk. Mukanya menghadap Halilintar.
"Nanti, kalau Thorn sudah tidur." Halilintar menjawab, melihat ke arah Taufan yang mengigau tidak jelas. Thorn ikut menoleh, tertawa kecil. "Aku akan menjaga kalian, kok. Makanya tidurlah dengan-"
Kilat menyambar. Segera, bocah enam tahun di hadapan Halilintar menutup telinga. Guntur bersuara tiga detik setelahnya.
Tapi ternyata Thorn tersenyum. "Thorn akan tidur sekarang." Katanya.
Halilintar terkejut, melebihi kekagetannya akibat kilat barusan. Pikirnya akan membujuk Thorn lebih lama, tapi pengertian Thorn benar-benar membuatnya senang.
"Kak Lin juga cepatlah tidur, supaya besok bisa bekerja dengan semangat tanpa perlu dimarahi paman." Thorn berkata pelan, tapi penuh ketulusan.
Sang kakak tersenyum, "iya, terima kasih." Menepuk kepala adiknya hangat. "Mimpi indah," pesannya sebelum bangkit, kembali ke pojok ruangan. Tempat lilin diletakkan di atas meja reot. Halilintar duduk bersandar, mengawasi tiga adiknya di ruangan kecil itu.
Mencomot buku catatan. Menulis sesuatu.
Kilat menyambar lagi dengan gemuruh ringan.
Dua puluh menit.
Jam tua di dinding lusuh menunjukkan angka dua belas lewat satu. Halilintar mengambil syal merah tua yang usang di tumpukan baju, mengalungkannya di lehernya yang terasa dingin.
Angin sejuk rupanya tetap bisa menembus dinding tua ini.
Halilintar meletakkan buku catatannya, merobek bagian yang baru ia tulis. Lantas mendatangi tiga adiknya.
"Ice, Taufan, Thorn," ia berbisik halus. "Mulai besok, kalian tidak perlu merasa tersiksa oleh si sialan itu lagi."
Mulai besok, ia tidak perlu bekerja serabutan di pasar. Adik-adiknya tidak akan perlu dipaksa mengemis dan melakukan pekerjaan rumah. Tidak akan ditampar, dipukul dengan botol minuman keras, ataupun disundut rokok panas menyakitkan. Tidak akan tersiksa oleh paman pengangguran mereka itu lagi.
Halilintar mengenal seorang guru baik hati yang memiliki panti asuhan. Dia menawarkan untuk membawa Halilintar dan tiga adiknya ke panti, saat melihatnya bekerja di pasar. Tetapi dengan terduga paman menolak usulan itu mentah-mentah. Bagaimana mungkin dia melepaskan sumber penghasilannya begitu saja?
Tapi sekarang, sebentar lagi, mungkin itu tidak akan jadi masalah.
"Papa Zola akan membawa kalian ke tempat yang lebih baik. Meski tanpaku, kalian pasti akan baik-baik saja." Senyum tipis.
Halilintar akan membunuh Si Sialan itu malam ini. Lalu pergi. Kemana saja. Mengotori tangannya dengan nyawa orang lain itu harga yang mahal untuk kebahagiaan saudaranya. Tapi, selama Halilintar bisa membayarnya, itu tidak masalah.
Nyawanyapun akan ia cabut bila itu merupakan harga dari kebahagiaan tiga adiknya.
"Jadi, pastikan kalian bahagia, ya." Pesannya. Mengelus rambut tiga adik kecilnya.
Rintik hujan menderas. Halilintar mencengkeram syal. Mematikan lilin. Menyambar kain kotor.
Terpaku di daun pintu. Keraguan menyergap, tapi sudah terlambat. Kembali ia membulatkan tekad. Menutup pintu, memejamkan matanya sesaat.
Menahan napas.
Langkahnya ia tujukan ke ruang depan. Ruang tamu bobrok yang dipenuhi bau alkohol. Bajingan yang menyiksa mereka selama tiga tahun setelah kepergian Tok Aba itu, ada di sana. Sedang menikmati tetes-tetes minuman keras terakhir di hidupnya tanpa menyadari kematian sedang mendekat. Mungkin malaikat maut sudah menungguinya di sana, menontoninya minum-minum. Atau menyatu dengan nafsu membunuh Halilintar yang penuh benci. Entahlah.
Begitu bau alkohol tercium pekat, Halilintar mencabut pisau pendek yang ia dapat dari pasar. Bersiap-siap.
"Oi, Bangsat." Menyeru kepada sosok mabuk di kursi bambu yang terlihat samar-samar di antara gelap.
Mata merah berair terbuka kuyu. "Ha?" Berusaha melihat ke depan, asal suara datang.
"Punya kata-kata terakhir sebelum mati?"
"Ha? Kau ini, kenapa?" Setiap kata terseret dalam ayunan berat khas mabuk. Hujan menulikan pendengaran. Ditambah minuman keras murahan yang menumpulkan kesadaran. Belum lagi ruangan gelap akibat mati lampu. "Mau mencuri alkoholku ya?" Tuduhnya dengan nada tak senang.
"Ini menit terakhir hidupmu, Sialan." Halilintar menggertakkan gigi penuh amarah. "Membusuklah di dasar neraka sana, Pemabuk Bajingan."
"Kau mau ap-" Mulutnya dibekap menggunakan kain kotor yang Halilintar ambil tadi. Pisau tajam menebas leher dengan cepat tanpa ragu. Suara jeritnya teredam kain. Teredam oleh hujan deras. Waktu yang sempurna untuk sebuah pembunuhan.
Darah bercipratan, mengalir deras. Pisaunya adak meleset karena orang itu berontak, sehingga satu tebasan belum cukup untuk memutuskan lehernya. Setengah jijik Halilintar menyabetkan pisau sekali lagi. Kepala itu terputus dan menggelinding di lantai kayu.
Tangan remaja lima belas tahun itu basah oleh darah kental yang amis. Halilintar bergidik sesaat, menahan mual. Terpaku menyadari bahwa tubuh yang ia tahan sudah ambruk. Lantas menginjak-injak kepala menyedihkan di lantai penuh emosi.
Dia sudah mati.
Halilintar sudah membunuh satu orang.
Ia menenangkan napas yang memburu. Setengah puas, sedikit rasa bersalah, takut, kalut, kesemuanya berkumpul menjadi satu.
Tapi dengan ini, adik-adiknya akan terbebas dari neraka.
Dan dengan ini pula, pelarian tanpa akhirnya akan dimulai. Sampai waktu yang entah.
Halilintar membawa segala emosi itu ke luar rumah. Menatap langit gelap. Mengudarakan harap semoga adik-adiknya baik-baik saja.
Malam itu hujan turun cukup deras.
Halilintar disambut guyuran air yang menusuk-nusuk setiap inci dari kulitnya yang terbuka. Disapa angin yang memeluk dengan kejam sejuknya. Diamuk oleh kilat. Ditertawai guntur. Seolah-olah mengatakan 'selamat datang di kehidupan kelam.'
Halilintar melindungi kertas yang ia lipat rapi di dalam saku.
'Untuk diriku setahun lalu, yang berpikir untuk membebaskan adik-adik kita dari neraka.
Menurutku, mengotori tanganku membunuh si Sialan itu hanyalah satu-satunya cara yang kubisa untuk mempertemukan mereka dengan bahagia. Mahal, memang. Tapi tidak apa-apa selama aku mampu.
Maaf, aku tidak berhasil menjadi anak yang 'baik.'
Namun, jika itu untuk Ice, Taufan dan Thorn, pasti tidak apa-apa, 'kan?'
FIN
A/N : Monmaap ini gaje banget. Sebenernya udh nyiapin riren buat tema ini, tapi rasanya ga sreg. Mendadak kepikiran HaliThorn bradah ship dan jadilah ini. Pengennya ada HaliGem nya, tp rasanya ganyambung. Jadi yha gini.
Selamat meninggalkan jejak dan jangan lupa bahagia.
Salam Bulol,
Suaminya Koushi /shhh
