Naruto Mr MK
Sasu~Hina
In
一つの愛
(Hitotsu No Ai)
Setting
Konoha Kingdom terdiri dari lima istana yang dipimpin oleh lima raja.
Istana Utara:
Hashirama Senju
Istana Selatan:
Tobirama Senju
Istana Tengah:
Kakashi Hatake
Istana Timur:
Minato Namikaze
Istana Barat:
Madara Uchiha
Cast tambahan:
Haru Athariu
...
Seorang gadis duduk termangu di bawah pohon momiji yang sudah semakin memerah di bagian belakang rumahnya, dia mengambil satu daun yang terjatuh kemudian mengusap dari pangkal sampai ujung daun tersebut.
Sepertinya dia sedang dilanda kebingungan, itu terlihat dari raut wajah serta helaan nafas lelah yang terus berulang keluar dari mulutnya.
Saat ini ia sedang memikirkan banyak hal, terutama tentang keinginan ayah dan ibu. Dia tidak ingin meninggalkan kedua orangtuanya untuk sebuah peraturan yang harus ia taati.
Bagaimana tidak, usianya yang sudah lebih dari angka sembilan belas menunjukkan bahwa ia sudah layak untuk mengemban tugas dari para petinggi kerajaan yang menjadi titik pusat pemerintahan.
Sebuah peraturan dimana para gadis terpilih penduduk desa Konoha harus menjadi kandidat calon pendamping beberapa penguasa kerajaan.
Ada beberapa raja, pangeran, dan banyak pejabat istana lainnya. Para pria yang tentunya punya kuasa penuh atas pemerintahan, atau kata lainnya mereka adalah orang-orang penting dalam pemerintahan, dan sayangnya mereka memerlukan lebih dari satu wanita untuk menjadi pendamping.
Seandainya menjadi selir istana semudah membalikkan telapak tangan sudah pasti para gadis akan menerima peraturan tanpa berpikir lama.
Namun, tidak mudah untuk mencapai gelar atau jabatan tersebut, karena semua gadis diharuskan memulai segalanya dari titik nol.
Mulai dari kandidat, jika terpilih maka akan menjadi pelayan tentu itu sesuai dengan prestasi yang didapat. Sekali lagi kehidupan bawah istana tidaklah seindah yang dibayangkan, akan ada banyak pesaing lain yang tentunya merupakan gadis-gadis terpilih dari penjuru negri.
"Masih berpikir?" Si gadis yang masih duduk di atas semak-semak hanya melirik pada sumber suara.
"Kenapa harus ada peraturan seperti ini?" keluh si gadis pada lawan bicaranya.
"Ini sudah menjadi tradisi turun temurun sejak ratusan tahun lalu," jawab sang lawan bicara.
"Apa Kakak rela jika aku menjadi tawanan di istana?" Gadis itu kembali bertanya pada pria muda dengan pakaian khas seorang prajurit.
Sang kakak terkekeh mendengar ucapan gadis itu. "Jika kau laki-laki maka kau akan menjadi pengabdi seperti diriku," jawabnya.
"Setidaknya itu bisa menjadi kebanggaan daripada harus menjadi simpanan baginda atau pangeran, atau siapapun itu," ketus si gadis, kali ini dia menarik ujung daun yang sedang ia pegang sampai daun itu sobek dan terkoyak.
"Sstt, jangan bicara terlalu keras! Kau tahu bahkan benteng rumah kita ini punya telinga," sergah sang kakak sambil menyentuhkan jari telunjuk ke bibirnya.
"Dengarlah, Hinata! Banyak gadis yang berada di harem istana, setahuku mereka semua terlihat bahagia," hibur sang kakak lagi.
"Iya, dan sebagai pria Kakak juga pasti senang melihat gadis-gadis cantik," rajuk gadis itu.
"Kakak tidak sendiri, Sasuke juga baru masuk akademi prajurit beberapa minggu lalu," ucap sang kakak.
"Sasuke? Pemuda dingin dari desa sebelah?" tanya Hinata sambil menyandarkan punggung di pohon. Sang kakak mengangguk mendengar ucapan adik perempuannya itu.
"Entahlah, aku bahkan lupa wajahnya. Aku hanya ingat dulu saat sekolah dia itu sangat pendiam dan dingin sekali," ungkap Hinata sambil mengedikkan bahu.
"Ibunya seorang gundik istana untuk raja terdahulu jadi dia punya koneksi untuk masuk akademi," jawab sang kakak.
"Jadi apa dia juga anak dari baginda raja?" tanya si gadis penasaran.
"Entahlah, karena saat ibu Sasuke hamil dulu, beliau sudah keluar dari harem," jawab sang kakak.
Hinata hanya terdiam, itulah sebabnya dia tidak ingin bersaing menjadi selir dengan gadis manapun, hal yang diceritakan sang kakak bisa saja terjadi padanya.
Konflik harem istana seringkali ia dengar. Perselingkuhan, cinta terlarang, sampai hubungan gelap yang menghasilkan aib bagi para selir.
Hinata tidak ingin hal itu terjadi jika ia benar-benar pergi ke kerajaan pusat. Ada begitu banyak pria dan wanita di sana, bercampur dalam satu tempat dan mungkin saja ada banyak hal buruk terjadi.
"Hinata, apa kau sudah memikirkannya? Kakak akan selalu menjagamu," hibur sang kakak karena melihat adiknya yang murung.
"Apa ini keputusan yang benar? Neji Hyuga dan Hinata Hyuga bisa bekerja sama di istana?" tanya Hinata sambil meraih tangan sang kakak.
"Kita sudah bicarakan ini sejak lama, apa kau masih meragukan ku?" Neji berkata dengan kecewa, tetapi sang adik menggelengkan kepalanya.
"Kau hanya perlu menjaga sikap, tidak mencari masalah dengan kandidat lain dan patuhi segala peraturan!" pinta Neji sambil mengusap puncak kepala sang adik.
Gadis itu mengangguk. "Aku akan melakukan ini hanya demi Ayah dan Ibu juga Kakak yang selalu menyayangiku," jawabnya kemudian.
Sekuat apapun Hinata menolak, peraturan tetaplah peraturan. Jika tidak dipatuhi ia akan mendapat sangsi, jika dipatuhi maka hal berat akan membebani, seandainya ia tidak hidup di negri tersebut dan tidak termasuk dari para gadis yang terpilih--itulah yang ada dalam pikiran Hinata selama ini.
Hampir satu hari perjalanan yang melelahkan, Hinata dijemput para pengawal istana beserta beberapa gadis dari desa lain.
Ia menyesal karena tidak memiliki teman di desa selama ini. Ia iri pada gadis lain yang terlihat akrab bersama teman-teman lainnya.
Hinata hanya duduk menghadap jendela tanpa bercengkrama dengan lima gadis lain yang duduk di kereta kuda yang sama dengan dirinya.
Suara tawa mereka membuat Hinata merasa tidak suka, bagaimana bisa mereka terlihat senang setelah meninggalkan orang tua dan saudara di desa tempat tinggal mereka.
Hinata hanya punya hiburan berupa pemandangan sang kakak yang berjalan bersama para pengawal lain. Sebenarnya itu tidak bisa disebut hiburan, sebaliknya ia merasa semakin terbebani karena merasa kasihan pada sang kakak.
Saat dirinya hanya duduk dan menunggu untuk sampai di kerajaan pusat, sang kakak dan pengawal lain harus berjalan seharian hanya untuk mengawal gadis-gadis yang sepertinya tidak peduli apakah para pengawal akan kelelahan.
"Hey, kau dari desa mana?" Hinata terkejut saat salah seorang gadis bertanya padanya.
"Eh, a-aku dari Desa Konoha delapan," jawab Hinata dengan gugup.
"Namaku, Sakura Haruno dari Desa Konoha tujuh," jawab gadis cantik berambut merah muda.
"Aku, Ino Yamanaka dari Desa Konoha dua belas," ucap gadis lainnya dengan rambut kuning terang juga dengan wajahnya yang begitu cantik.
Hinata hanya tersenyum, dua gadis itu terlihat begitu percaya diri, tentu saja dia tahu reputasi desa tujuh dan dua belas yang penduduknya punya perekonomian tingkat menengah ke atas.
Sudah pasti gadis bernama Sakura dan Ino adalah putri dari para bangsawan kaya di desa mereka hingga membuat keduanya tidak perlu merasa malu atau rendah diri.
Itulah kegunaan kekayaan yang dimiliki, bisa meningkatkan rasa percaya diri yang tinggi dan bebas bersosialisasi.
Setelah perkenalan singkat yang canggung bagi Hinata, akhirnya mereka semua sampai di pintu gerbang kerajaan pusat.
Seperti tontonan saat festival, semua penduduk kota melihat beberapa kereta kuda yang lewat sekedar ingin melihat gadis-gadis calon selir yang akan berkompetisi.
Hinata menatap takjub pada struktur bangunan istana, seluruhnya dibangun dengan gaya tradisional tetapi terlihat kokoh dan kuat.
Kayu-kayu besar sebagai pilar penyangga diwarnai merah yang memberi kesan gagah. Taman-taman kecil juga mengelilingi semua bangunan istana.
"Wah, indah sekali!" seru Hinata di dalam hati, rupanya bukan hanya dirinya yang terpesona, para gadis lain juga merasakan hal yang sama.
Hinata melihat ke arah Neji, dia ingin sekali menggandeng lengan sang kakak yang setia mengawal bersama rekan lain, setidaknya dia masih memiliki sosok keluarga di tempat asing tersebut.
"Peraturan pertama, setiap lima gadis akan dipandu oleh satu orang kepala dayang di bidang keahlian masing-masing!"
"Siasat, sosialisasi, penampilan, keterampilan, dan keahlian memasak akan diajarkan dalam waktu yang singkat, tidak ada alasan tidak mengikuti semua kegiatan kandidat, kalian paham!!!"
Seorang kepala dayang istana tertinggi berteriak di depan ratusan gadis kandidat, di sebuah ruangan luas yang bisa menampung banyak orang.
Hinata hanya ikut berteriak sekedar menjawab perintah dari kepala dayang dengan penampilan tegas dan berwibawa walaupun dia hanyalah wanita berusia sekitar tiga-puluh-tahunan.
Hinata melihat ke sekeliling, rasanya dia tidak akan sanggup bersaing ketika melihat kumpulan semua gadis.
Dia memikirkan banyak hal, diantara ratusan gadis hanya tujuh orang saja yang akan terpilih menjadi selir. Sisanya hanya akan dijadikan pelayan atau gundik simpanan para raja.
Hinata tersenyum dalam hati, dia ingat sesuatu jika prestasinya tidak bagus maka dia akan dipulangkan dan kembali menjadi gadis biasa, bukankah itu yang ia inginkan?
'Baiklah, Hinata! Kau hanya perlu bermalas-malasan.'
Hinata membatin dengan sebuah pemikiran yang menurutnya begitu baik dari pada harus berpisah dengan ayah dan ibunya.
'Aku akan segera pulang. Ayah, Ibu!'
Sementara itu di bagian istana lain, tempat berkumpulnya para raja dari lima istana bagian Konoha, para petinggi sedang mengadakan pertemuan untuk membahas tahun perekrutan semua komponen kerajaan.
Lima raja dan para petinggi lainnya mengadakan musyawarah untuk membahas semua aspek yang mengembangkan kerajaan.
Prajurit baru, seniman, pelajar dari kerajaan lain dan juga pemilihan selir baru yang selalu diadakan satu kali dalam lima tahun.
"Apa semua berjalan dengan lancar? Tahun ini akan ada tambahan acara yaitu kompetisi selir baru," tanya seorang raja yang memimpin bagian utara Konoha--Hashirama Senju.
"Menurut informasi mereka ditempatkan di istana khusus harem, Yang Mulia," jawab raja istana timur--Minato Namikaze.
"Aku akan lebih fokus pada perekrutan prajurit baru, para pemuda terpilih yang akan memperkuat benteng pertahanan Konoha Kingdom," ujar raja istana barat--Madara Uchiha.
Keempat raja lain hanya menatap pada sumber suara, siapa lagi jika bukan Madara Uchiha yang merupakan raja di bagian paling barat.
Istana paling dingin dan kaku diantara empat istana lainnya. Madara punya ambisi membuat pasukan tentara yang sangat terlatih.
"Madara!" ucap Hashirama, ia sangat memahami rekan rajanya tersebut. Madara selalu ingin menjadi yang terkuat.
"Tentu saja, kita selalu memilih yang terbaik selama ini," ujar Hashirama kembali.
"Masih belum cukup, kejahatan di luar sana masih begitu tinggi, dan penegak hukum kerajaan sekelas Konoha masih belum bisa menangani semuanya," jawab Madara yang membuat Hashirama terdiam.
"Tidak semua tindak kejahatan bisa terdeteksi, Yang Mulia! Ingatlah, ada aturan untuk itu!" Seorang raja paling muda menimpali ucapan Madara dengan tenang.
"Kau masih terlalu muda untuk memahami ini, Yang Mulia Raja Kakashi! Istana tengah hanya berfokus pada urusan wanita saja, jadi saya rasa hanya Anda yang tidak terlalu banyak berkontribusi dalam peningkatan kekuatan kerajaan," timpal Madara dengan nada mengejek.
Bukan rahasia jika raja istana barat selalu menganggap para penghuni istana tengahhanya kumpulan orang-orang tidak berguna, bahkan mereka adalah pencari kesenangan terutama dengan para kaum hawa.
"Bukankah raja terdahulu yang memiliki ide untuk mengadakan kompetisi selir berasal dari kerajaan tengah?" Madara terus memojokan Kakashi.
Pria muda Kakashi hanya tersenyum. "Anda benar, tetapi setidaknya kami tidak memiliki permaisuri yang penuh dengan skandal percintaan, seperti salah satu permaisuri di istana barat yang memiliki putra haram," jawabnya kemudian.
Semua orang bahkan para penasehat raja yang setia hadir menjadi terdiam, wajah Madara terlihat mengeras. Bahkan para raja lainnya tidak bisa membuat ucapan Kakashi menguap begitu saja.
"Kudengar anak itu sudah dewasa dan sekarang dia sudah masuk ke akademi dengan koneksi penuh dari putra mahkota Itachi Uchiha."
Madara tidak bisa berkutik mendengar ucapan Kakashi, sepertinya dia sudah salah memilih waktu untuk menyerang raja muda yang sangat bertalenta tersebut.
"Sudahlah, kita bahas hal lain saja!" Kali ini suara pria berwajah ramah kembali terdengar, raja istana timur--Minato melerai perang dingin antara Kakashi dan Madara.
Sementara itu Hinata harus merasa sebal karena harus berbagi kamar dengan lima gadis lainnya yang merupakan para kompetitor alias saingannya.
Ternyata ia tidak berbagi kamar bersama teman satu tim yang sudah ditentukan para pengurus istana. Mereka ditempatkan secara acak dan diberi jadwal masing-masing. Dia bahkan tidak tahu siapa saja rekan satu timnya di kompetisi tersebut.
Karin, Shion, Amaru, dan Sara. Hanya itu yang Hinata tau tentang rekan satu tim yang wajahnya saja tidak ia ketahui.
Namun, Hinata cukup senang karena teman sekamarnya adalah gadis-gadis yang ia temui sebelumnya.
Sakura, Ino, Tenten, dan satu lagi gadis yang terlihat dewasa bernama Koyuki. Ah tidak, maksudnya Koyuki memang lebih dewasa beberapa tahun dari dirinya.
Kali ini Neji berada jauh dari kawasan harem dan itu membuat Hinata sedikit sedih karena tidak bisa selalu melihat keadaan sang kakak.
"Hey, kau mau kemana?" tanya seorang gadis berambut coklat saat Hinata beranjak dari tempat tidur.
"A-aaku ingin keluar sebentar," jawab Hinata saat hampir menyentuh pegangan pintu kayu.
"Tidak boleh!!"
Hinata terkejut saat dua gadis lain--Sakura dan Ino berkata bersamaan. "Ini sudah malam, apa kau tidak ingat peraturan?!" ucap salah satunya.
Hinata bukannya tidak ingat, hukum cambuk adalah hukuman bagi yang melanggar peraturan. Jika dia ketahuan maka itu yang akan ia dapatkan. Keluar kamar di malam hari tanpa ada perintah adalah salah satu pelanggaran.
"Aku hanya ingin mencari udara segar," jawab Hinata tanpa menunggu respon dari rekan sekamarnya.
Gadis muda itu tentu berbohong karena nyatanya ia terus berjalan menyusuri lorong kamar semua gadis, mungkin tempat itu lebih mirip dengan asrama saat ia menuntut ilmu saat muda dulu.
Keadaan begitu sepi hingga gadis itu tidak perlu mengendap-endap dan takut jika bertemu dengan pengawal kerajaan. Kemana mereka semua, apakah semuanya sudah tertidur?
Hinata tidak menyadari ia sudah berjalan jauh meninggalkan bangunan tersebut. Entah apa yang ia pikirkan, dan ia tidak kecewa karena tujuan menghibur diri membuahkan hasil ketika ia menemukan sebuah kolam dengan air hangat.
Sedikit lama Hinata berada di sana setelah tidak ada niat untuk beranjak dan hanya menikmati cahaya bulan lewat pantulan air kolam. Ia duduk di tepi kolam melepas sepatu dan merendam kaki.
"Aku ingin pulang," gumamnya sambil menggoyangkan kaki di dalam air.
Hinata begitu menikmati kesendirian sampai lupa waktu, memikirkan banyak hal juga tentang masa depannya.
Srak ...
"Eh?" Hinata sangat terkejut saat mendengar suara. Ia segera beranjak dan bersembunyi di balik bebatuan yang berada di pinggir kolam tidak lupa menyambar alas kaki yang ia lepas tadi.
"Ada prajurit yang berjaga," bisik Hinata pada dirinya sendiri, "dimana aku?" ucapnya sambil melihat ke sekeliling.
Sampai sebuah gerbang luas dengan nama yang tertera di atasnya membuat ia sadar bahwa kali ini ia akan celaka.
"Ge-gerbang istana barat?!" Hinata bertanya pada dirinya sendiri. Ia tidak menyangka bisa pergi begitu jauh.
Gadis itu hanya melihat seorang pria dengan pakaian prajurit, tidak ada siapapun lagi. Ia juga tidak bisa melihat dengan jelas karena keadaan begitu gelap.
Dari balik batu Hinata hanya mengawasi pria tersebut yang hampir melewati tempat ia berada saat ini.
Seorang prajurit berjalan dengan langkah yang penuh percaya diri dan berwibawa. Hinata mungkin tidak bisa melihat begitu jelas, tetapi ia tahu pria itu punya tubuh tinggi dan sempurna untuk ukuran seorang pria.
Pria itu berhenti berjalan kemudian melihat ke sekeliling seperti seorang pencuri saja. Hal itu membuat naluri kepahlawanan Hinata tiba-tiba muncul, ia curiga bahwa pria itu hanya seorang penyusup.
"Ah, dia penjahat. Aku harus mengikutinya!"
Dengan pikirannya saat ini, Hinata benar-benar mengikuti langkah pria yang menurutnya sangat mencurigakan.
Sampai pada akhirnya ia semakin terkejut karena pria itu pergi ke sebuah kamar seorang petinggi istana. Kenapa Hinata bisa tahu, karena dengan begitu jelas ada sebuah papan nama saat ia melewati taman kecil di luar kamar tersebut.
'Kediaman Permaisuri Istana barat.'
Hinata hanya bisa menutup mulut karena tidak percaya, seorang prajurit masuk begitu saja tanpa meminta izin pada para kasim.
"Perselingkuhan? Ya, tidak salah lagi, menyebalkan! Manusia kotor!" maki Hinata dengan suara bisikan.
"Apa yang harus kulakukan? Apakah aku bongkar saja kelakuan mereka?!"
Hinata mencari sesuatu dan menemukan sebuah batu seukuran kepalan tangan. Ia segera mengambil benda tersebut dan mulai mendekati pintu kamar permaisuri.
"Rasakan ini kalian akan menyesal!!" Hinata mengangkat batu bermaksud untuk melemparkan dan memberi pelajaran pasangan tidak tahu malu yang sedang berselingkuh-- itu menurutnya.
'Keluar kau dari sini!!'
Hinata hampir saja memekik saat mendengar suara teriakan seorang wanita dari dalam kamar.
'Aku merindukan Ibu.'
'Kau bukan anakku!'
'Sudah tiga tahun aku tidak bertemu Ibu.'
'Jangan panggil aku ibu dan jangan pernah berani untuk menemui ku lagi!!'
Hinata terdiam, ia mengintip dari celah pintu dapat ia lihat tiga orang sedang berada di sana. Satu wanita yang tentunya adalah permaisuri istana barat dan seorang pria muda duduk di sampingnya. Sementara pria dengan pakaian prajurit hanya duduk bersimpuh di hadapan dua orang tersebut.
"Ibu, adikku sudah besar, 'kan?" Pria yang sedang duduk di samping permaisuri terlihat tersenyum pada seseorang yang berada di hadapan mereka.
Wanita yang dipanggil ibu bergeming, ia seperti menatap benci pada pria muda atau mungkin putranya yang masih menunduk.
Hinata tidak bisa melihat dengan pasti wajah si pria yang tadi ia anggap seorang penyusup. Satu hal yang ia tahu, mereka punya punya konflik keluarga yang cukup rumit.
"Kalau begitu aku undur diri sekarang, aku akan mengunjungi ibu lagi nanti." Hinata kembali mendengar suara pria itu.
"Tidak perlu!" Hinata hanya menatap kesal pada sang permaisuri, apakah begitu sikap seorang bangsawan terlebih ia adalah seorang ibu.
Hinata bersembunyi setelah si pria prajurit keluar kamar. Gadis itu kembali mengikuti secara diam-diam. Dia tahu si pria prajurit sedang terluka karena sikap sang ibu.
Ternyata benar, kehidupan di istana tidak seindah yang dibayangkan. Terlalu banyak skandal dan masalah yang begitu rumit.
Pluk ...
Hinata melihat sesuatu yang terjatuh saat pria itu merogoh ke dalam saku pakaiannya. Pria itu terus berjalan sedangkan Hinata hanya bisa menatap benda itu saja.
Hinata tidak bisa menghentikan pria itu, dia takut ketahuan kalau sudah menyelinap. Dia hanya bisa mengambil benda yang terjatuh tadi.
Sebuah gelang giok berwarna ungu muda dengan sebuah ukiran di bagian dalamnya. Terasa dingin saat tangannya bersentuhan dengan benda cantik tersebut.
Mungkin pria itu ingin memberikan hadiah pada seseorang. "Aishh ... Bagaimana ini? Aku harus mengembalikannya," gumamnya.
"Ini salahku, aku sudah melihat yang tidak seharusnya kulihat," lanjutnya.
"Hinata kau memang bodoh!"
TBC
Hallo Blue world?? Still remember and miss me??
Cerita baru yang aku buat ...
Teruntuk Sasuhinalover ...
Semoga kalian suka ...
C u and i love u all ...
