Hinata melihat pergelangan tangannya yang berhias gelang giok ungu muda yang senada dengan warna pakaian yang ia kenakan.
"Cantik sekali!" gumam gadis itu sambil tersenyum, "tapi sayang ini bukan milikku," lanjutnya.
Hinata melepas kembali gelang yang pas ditangannya itu dengan tidak rela, kemudian ia menyimpan benda tersebut ke dalam sebuah kotak yang biasa digunakan untuk menyimpan barang-barang penting bagi dirinya.
Seandainya saja ia tidak pergi beberapa malam yang lalu, maka ia tidak perlu melihat kejadian yang membuatnya semakin tidak menyukai kehidupan di istana.
"Oh, aku sudah terlibat terlalu jauh," gumamnya lagi. Hinata terus terpikirkan tentang pria pemilik gelang. Rasanya tidak nyaman jika harus menyimpan barang orang lain.
Bagaimana jika gelang tersebut berharga untuk si pria? Bisa saja itu adalah barang penting, mungkin akan diberikan pada seseorang yang dicintainya.
Lama berpikir akhirnya Hinata memutuskan untuk diam sementara, mungkin suatu hari nanti ia akan bertemu lagi dengan si pria prajurit.
"Hanya ada satu petunjuk, dia adalah putra permaisuri istana barat, aku harus mencari tahu siapa dia."
Hiruk-pikuk biro pengurus istana sedang disibukkan oleh acara kompetisi selir, hari ini helaran besar tersebut akan dimulai.
Semua gadis terpilih dikumpulkan kembali untuk pemberitahuan ketentuan kompetisi.
"Hari ini kalian semua akan mulai menjadi dayang istana. Setiap gadis punya area sendiri untuk melaksanakan tugas, serta ada pendamping ketika kalian melaksanakan tugas!"
Semua gadis hanya bisa berkata 'iya' untuk memulai kompetisi resmi tersebut. Pada akhirnya Hinata juga bertemu dengan rekan satu tim yang ternyata terdiri dari gadis-gadis berwajah cantik.
"Kudengar ada lima kelompok yang dibagi untuk menjadi dayang di lima istana bagian," ucap seorang gadis dengan perangai galak dan terlihat tegas--Karin Uzumaki.
"Lima? Tapi kita ada di kelompok enam?" sahut gadis lainnya dengan warna rambut pirang--Shion.
"Apakah kita ada di kelompok cadangan?" Kali ini Hinata juga mengeluarkan suara.
Para gadis yang terpilih akan dibagi ke dalam enam kelompok, dan setiap kelompok terdiri dari sepuluh tim.
"Hey, apa kau tidak tahu? Masih ada istana pusat di luar lima kerajaan Konoha ini?" Seorang gadis lainnya--Saara menimpali. Hinata dan teman satu timnya hanya saling melirik.
"Apakah rumor itu benar? Kerajaan pusat dipimpin oleh raja kejam dan menakutkan? Haru Athariu?" Kali ini Amaru berbisik karena takut ucapannya didengar kandidat lain.
Hinata terdiam, rupanya dia salah mengambil keputusan dengan pergi ke istana. Lebih baik jika ia menjadi gadis petani daripada harus mengikuti kompetisi selir yang terdengar seperti menggali kuburan sendiri.
Bukan tanpa alasan, cerita-cerita seperti itu membuat nyalinya menciut. Hinata bahkan bisa merasakan suhu dingin di tubuh seperti ada bongkahan es di pundaknya.
"Itu cuma gosip dan cerita saja," jawab Karin, gadis itu seperti menghibur teman-temannya yang lain.
"Ada tiga raja yang masih lajang termasuk raja istana pusat, katanya selir terpilih yang dikirim ke pusat tidak pernah keluar dan tidak terdengar lagi kabarnya," ucap Saara sambil mengusap bahunya sendiri seolah merasa dingin, "bagaimana ini?"
"Bahkan katanya ada yang bunuh diri karena tidak tahan ingin keluar dari sana!" Saara terus berucap sambil menepuk pipi nya yang berpoles riasan.
"Hentikan, Saara! Kau hanya membuat panik saja, semua terdengar hanya 'katanya' jadi mungkin semua itu tidak benar," sergah Amaru pada gadis bangsawan tersebut.
Hinata merasa ingin menemui Neji, ia ingin mengadu dan mungkin bisa mengajak Neji melarikan diri. Ia tidak sanggup membayangkan hal buruk akan terjadi.
Apa yang sebenarnya sedang ia hadapi saat ini? Di luar sana kompetisi besar selir menjadi berita yang paling ditunggu-tunggu, tetapi kenyataannya kenapa bisa begitu menyeramkan?
Hinata berlari di lorong istana karena terlambat di hari pertama menjadi dayang, salahkan matanya yang semalaman tidak bisa terpejam ke alam mimpi. Dia terus mengingat obrolan di siang hari bersama rekan satu tim nya.
Kemarin dia juga sibuk mencari Neji sekadar ingin bicara dengan kakaknya, tapi semua sia-sia karena dia tidak menemukan pria muda itu di kawasan harem.
"Hinata kau terlambat!" Sakura segera memanggil Hinata yang sudah memasuki aula, gadis itu segera masuk barisan para gadis yang sudah bersiap dengan seragam dayang mereka.
"Aku tidak bisa tidur semalam," jawab Hinata sambil merapikan pakaian yang sudah kusut karena berlari tadi. Sepanjang lorong dia mengangkat gaun bawahnya untuk mempermudah ia berlari dan hasilnya sangat kacau.
"Mata panda mu adalah buktinya," ucap Sakura disertai tawa, "ya sudah, setelah pembagian tugas kau bisa istirahat dulu!" lanjut gadis tersebut.
Hinata hanya bisa menerima lagi dan lagi jalan hidup yang sudah ditentukan--mungkin dia terlalu takut untuk mengubah nasib alias pasrah pada sebuah kenyataan yang ia hadapi saat ini.
Apakah takdir atau kebetulan, Hinata menatap kembali gerbang istana barat setelah beberapa malam lalu ia mendatangi tempat tersebut.
Hal baiknya ternyata Neji juga bertugas di sana, begitu pun dirinya yang mendapat tugas untuk melayani para klan bangsawan di area istana barat.
Satu hal lagi, Hinata ingat bahwa ia punya misi untuk mengembalikan gelang milik seseorang. Dia berharap bahwa orang itu juga ada di area yang sama, terlebih karena orang yang ia cari merupakan salah satu putra permaisuri ... mungkin.
"Hey kau, cepat minggir!!" Entah itu suara siapa, yang jelas itu adalah suara orang yang berteriak.
Hinata yang sibuk berjalan dan berusaha menghapal jalan di area istana barat tidak menyadari bahwa teriakkan itu tertuju pada dirinya.
Set ...
Cleb ...
Mata Hinata membola saat tubuhnya tiba-tiba melayang. Sebelumnya ia tidak menyadari bahwa dia sudah disambar seseorang dengan cara merangkul pinggangnya.
Perlu waktu beberapa detik bagi Hinata untuk sadar bahwa dia tengah menatap wajah seseorang dengan jarak yang begitu dekat.
Rupanya ia memang butuh waktu cukup lama untuk kembali ke alam sadar karena terjebak pada sepasang mata yang begitu hitam dan juga tajam.
"Hei, kau baik-baik saja?" Pria itu mengguncang bahu Hinata setelah melepas rangkulan.
Hinata yang tidak menyadari tangannya melingkar di bahu pria tersebut masih mematung bahkan tidak berkedip sama sekali.
"Hei??" Pria itu menjauhkan tubuh Hinata secara paksa dan sedikit menyentaknya, membuat kesadaran Hinata kembali secara spontan.
"Hinata, kau tidak apa-apa?" Kali ini si gadis mengalihkan perhatian pada sumber suara yang begitu dikenalnya.
"Kakak? Apa yang terjadi?" tanya Hinata pada Neji yang masih terengah setelah berlari menghampirinya. Jangan lupakan sebuah busur panah di tangan kirinya.
"Kau ceroboh! Apa kau tidak lihat tempat apa ini?" Bukan suara Neji yang Hinata dengar, tetapi pria yang berada di hadapannya.
"Eh?" Hinata merasa terintimidasi oleh tatapan dingin pria itu.
"Ini area latihan, apa kau tersesat?" tanya Neji yang dijawab dengan senyuman gugup dari sang adik.
"Terima kasih sudah menolong adikku, Sasuke! Dia baru pertama kali datang ke sini, pastinya dia belum tahu situasi," ucap Neji pada pria dengan sikap dingin tersebut.
Tanpa menjawab, pria bernama Sasuke segera pergi meninggalkan Hinata dan Neji serta beberapa rekan dayang lainnya.
Entah apa yang terjadi karena para gadis dayang pun tidak ada yang berani bersuara, bahkan mereka seperti saling melirik satu sama lain.
"Kakak, maaf. Aku sedang melamun tadi," sesal Hinata sambil menatap sebal pada para gadis yang menurutnya tidak membantu saat ia berhadapan dengan pria yang menakutkan tadi.
"Ya sudah, lain kali berhati-hatilah!" ucap Neji sambil menepuk bahu adiknya.
"Kami sedang berlatih memanah, jadi anak panah bisa melesat kapan saja," jelas Neji sambil mengalihkan perhatian ke arah lapangan yang cukup luas. Ada banyak pria berpakaian serba hitam dengan busur panah pada masing-masing tangannya.
Hinata hanya bisa membatin dan menyalahkan tata letak tempat latihan yang berada di area yang cukup ramai. Anak panah bisa melayang kapan saja dan melukai siapapun.
Bahkan bisa saja membunuh seseorang seperti dirinya tadi. Hinata ingin sekali protes pada raja istana barat yang menurutnya kurang teliti.
'Payah!'
...
"Hei, kenapa kalian diam saja tadi? Pria itu membuatku takut," gerutu Hinata pada tiga gadis berambut merah.
"Maaf ... maaf, prajurit tadi juga membuatku takut. Dia tidak ramah dan tatapannya seperti ingin membunuhku," jawab Amaru sambil bergidik sedangkan Saara hanya mengangguk.
"Jelas seperti itu, dia adalah prajurit yang mendapat koneksi penuh dari Putra Mahkota Itachi Uchiha, mungkin itu yang membuat dia besar kepala," timpal Karin.
"Oh begitu, ya? Hanya karena dia terpilih dia bersikap arogan? Bukan kah kita juga gadis terpilih?" ketus Hinata, dia kesal mengingat pria itu yang memperlakukan dirinya begitu kasar.
"Sasuke? Apa dia Sasuke yang itu?" gumam Hinata, "haish ... aku benar-benar lupa pada orang itu."
Hinata memukul kepalanya yang dirasa semakin bodoh hanya untuk mengingat seseorang yang tidak begitu dia kenal.
Sejak dulu sejauh yang dia ingat, sikap Sasuke memang dingin dan acuh, tetapi tidak separah seperti kejadian tadi.
Namun, jika diingat lagi dia memang tidak pernah benar-benar berteman dengan pria muda itu, hanya satu sekolah dan mereka hanya sesekali berpapasan.
Mengingat itu Hinata menjadi kesal sendiri karena ternyata selain dingin Sasuke juga sangat menyebalkan, membuat Hinata ingin sekali memaki pria muda itu.
'Dia itu hanya putra gundik yang terusir dari istana, tapi sikapnya seperti putra permaisuri saja, menyebalkan!!'
"Sudahlah, lupakan itu! Kita punya tugas penting!" Hinata kembali sadar saat Saara menyentuh bahunya.
"Kita harus membawa jamuan ke ruang rekreasi para pangeran atas perintah Putri Sarada!" ucap Saara kembali.
Hinata hanya bisa mengikuti rekan satu timnya untuk melaksanakan tugas melayani para klan bangsawan kerajaan Konoha.
Sungguh ia tidak punya pilihan lagi, Hinata hanya berharap waktu bisa terlewat dengan cepat. Setidaknya ia tidak mau menjadi perawan tua jika terus berada di istana, itu jika prestasinya tidak meningkat.
"Jamuan sudah tiba, Tuan Putri!" teriak Karin saat mereka sudah sampai di depan pintu ruang rekreasi.
"Bawalah kemari!" jawab suara perempuan dari dalam ruangan.
Hinata dan rekannya segera masuk setelah mendapat perintah. Dapat ia lihat beberapa pria muda dan beberapa orang gadis cantik.
Hinata hanya bisa merutuk karena melihat kumpulan pria tampan yang menurutnya isi kepala mereka kosong tanpa isi.
Hanya mengandalkan wajah rupawan dan jabatan mereka di istana dan seolah dunia milik mereka semua.
"Hey, kau melamun? Bawa sini makanannya!" Hinata terkejut luar biasa saat seorang pria muda berambut pirang menepuk bahunya.
Pria muda bermata biru dengan senyuman yang begitu manis, Hinata tidak kuasa menatap mata sebening air laut dan ia segera memalingkan wajah.
"Kakak jangan gangu para dayang, itu kebiasaan buruk!" Seorang remaja laki-laki mengingatkan pria muda tadi.
"Ish, Kau cerewet, Boruto!" jawab pangeran muda yang diketahui adalah putra dari raja istana timur--Minato Namikaze.
Hinata juga melihat putra seorang panglima besar yang terkenal dengan kejeniusannya--Shikamaru Nara. Strategi pria bernama Sikaku Nara, atau ayah sang pemuda selalu membawa Konoha pada kemenangan pada zaman perang beberapa tahun silam.
Hinata segera menaruh nampan di meja besar. Tatapannya kembali tertuju pada pria muda lain dengan pakaian serba hitam yang duduk di kursi paling ujung.
Shisui Uchiha, semua orang tahu dia adalah pangeran yang baik hati dan menyayangi semua saudara termasuk para pangeran seluruh istana Konoha.
"Semoga kalian tidak kesulitan bekerja di istana," ucap seorang pria lain yang tidak tahu kapan duduk di kursi utama ruang rekreasi.
Hinata terkesiap, pria itu adalah pria muda yang ia lihat bersama permaisuri malam itu. Berarti dia adalah kakak dari pria prajurit yang sedang ia cari.
Mulut Hinata terasa gatal ingin bertanya tapi tugas melayani sudah selesai dan ia bersama rekan tim nya segera pamit.
Hinata harus mengurungkan niat karena posisinya hanyalah dayang alias pelayan yang tidak diperbolehkan berbicara pada petinggi istana bahkan dengan para pengeran kecil seperti adik dari pangeran muda Naruto.
Itulah yang Hinata tahu, hanya beberapa pangeran saja yang ia kenal, sedangkan yang lainnya dia tidak atau belum mengetahuinya.
Di tengah kesibukan acara tersebut dan para dayang akan pergi, tiba-tiba seorang prajurit masuk bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Hinata menatap heran karena pria itu bisa dikatakan cukup berani untuk menerobos masuk tanpa permisi.
"Sasuke, ada apa?" tanya pria yang terlihat dewasa alias pria si anak sulung permaisuri.
"Maaf, Yang Mulia! Ada berita bahwa salah satu kandidat dayang ada yang mencuri barang rekan hamba," jawab Sasuke yang membuat para dayang termasuk Hinata sangat terkejut.
"Benarkah? Ini bukan wewenangmu, Prajurit! Silahkan kau pergi dan masalah ini biar menjadi tugas penegak hukum!" ucap satu orang lagi yang tidak luput dari pandangan semua orang.
Izuna Uchiha berkata dengan tatapan sinis pada Sasuke. "Kurasa kau tidak ada kepentingan di sini," lanjutnya.
"Maafkan hamba, Yang Mulia!" ucap Sasuke sambil membungkuk.
"Barang apa yang sudah hilang dari rekanmu itu?" putra sulung permaisuri kembali berkata.
"Sebuah gelang giok- ..."
"Untuk barang seperti itu kau harus membuat keributan seperti ini? Kalau kau bukan prajurit pilihan Itachi maka kupastikan kau yang akan masuk penjara!" Izuna memotong ucapan Sasuke.
"Izuna!!" Kali ini Itachi bersuara pada sepupunya itu.
"Sasuke hanya berusaha menegakkan hukum. Sudahlah, aku akan mengatakan pada Yang Mulia raja dan dayang yang mencuri akan segera ditemukan."
"Kalian semua silahkan pergi dan rahasiakan masalah ini! Jika ada yang berani membuka suara maka kalian juga akan dihukum!" tegas Itachi pada para dayang.
Dada Hinata bergemuruh dan berdegup kencang, dia tidak merasa mencuri, apakah dia dicurigai sekarang?
Dia melihat kembali ke arah Sasuke, apa yang harus ia lakukan? Dengan jelas disebutkan benda yang hilang adalah gelang giok, apakah itu gelang yang sama dengan gelang milik si adik putra mahkota?
'Ya, Dewa! Tolong aku!'
...
Seorang wanita muda tengah berhadapan dengan Hinata. Dia adalah kepala dayang yang kebetulan memimpin langsung tim Hinata.
Seorang wanita cantik dan lajang walaupun usianya sudah lebih dari tiga-puluh tahun. Bukan tanpa alasan, sang kepala dayang hanya mengintrogasi para dayang yang berada di bawah pengawasannya.
Mereka ditanya satu per satu untuk memberi keterangan, dan sekarang adalah giliran Hinata untuk mendapat pertanyaan yang mengintimidasi.
Hinata hanya bisa menunduk dan ingin sekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa terintimidasi oleh tatapan wanita bernama Hitomi, selain itu fokus Hinata semakin kacau karena Sasuke yang berdiri tepat di belakang kepala dayang.
"Apa kau pergi keluar kemarin malam?" tanya Hitomi.
Hinata menggeleng. "Tidak," jawabnya jujur karena kemarin malam dia hanya bisa berbaring saja walaupun tidak bisa tidur.
"Kau yakin?" tanya Hitomi untuk kedua kalinya.
Hinata mengangguk, dia takut bagaimana jika ia ditanya tentang malam ia menyelinap dan memang menemukan sebuah gelang milik seseorang.
"Apa ada seseorang yang kau lihat mencurigakan?" Hinata kembali menggeleng.
Gadis itu hanya bisa meremat gaun bagian samping tubuhnya, ia gugup dan takut, bagaimana jika ia ketahuan menyimpan barang orang lain? Bukankah itu juga seperti pencuri.
Hinata ingin mengembalikannya, tapi dia tidak tahu siapa pemiliknya dan dia tidak mungkin mengatakan bahwa ia adalah pangeran lain yang berpakaian prajurit.
"Dia adalah dayang terakhir di tim ini, Nyonya! Jika semua memang tidak bersalah, lebih waspada jika ada penyusup atau seseorang yang menyelinap," ucap Sasuke.
Hinata melirik pria muda itu, degup jantungnya berpacu sangat cepat. Ia menganggap Sasuke cukup berbahaya, karena dia bisa menyeret dirinya ke penjara.
"Aku akan berjaga nanti malam di area ini!" ucap Sasuke dengan tegas. Kepala pelayan Hitomi hanya membungkuk pada Sasuke untuk menghormati keputusan sang prajurit.
'Mati aku!!' Sudah pasti itu adalah suara batin Hinata.
Hinata kembali tidak bisa tertidur, ia hanya bisa berbaring. Dia melihat ke arah kotak dimana sebuah gelang dan barang lainnya tersimpan. Dia ingin mengembalikan tapi bagaimana caranya?
Di luar sana Sasuke sedang berjaga, bahkan ia bisa melihat bayangan pria itu melalui dinding washi. Dia bahkan bisa melihat si pria dingin berjalan dari satu sisi ke sisi lain.
Kenapa dia berjaga tepat di luar kamarnya. Maksudnya kamar yang ia gunakan bersama lima gadis lainnya.
"Aku akan menunggu sampai dia lengah dan tertidur, sekuat apapun dirimu, kau pasti kalah oleh rasa kantuk," gumam Hinata sambil melihat ke arah bayangan Sasuke.
"Apa sebaiknya aku berterus terang saja padanya?" ucap Hinata dengan lirih.
"Ah, tidak bisa! Dia terlihat bersemangat ingin menangkap penjahat, bisa-bisa dia membunuhku sebelum masuk penjara."
"Oh, bagaimana ini?" Hinata mengacak rambutnya yang panjang sampai kusut.
Hinata memikirkan banyak cara untuk bisa keluar kamar, ia merasa harus mengembalikan benda merepotkan itu secepat mungkin sebelum kamarnya di geledah.
'Ya Dewa, buatlah pria itu tertidur!'
TBC
Karakter Hitomi akan sedikit berperan di cerita ini jadi aku sertakan gambarannya. Tambahan di sini untuk komen chap kemarin jadi Mikoto bukan istri Madara dan yang permaisuri karakternya bukan Mikoto juga. Akan diceritkan nanti.
Chapter 2 ready ...
Hope u like it yesss??
C u next chap and i love u all
Jangan lupa komen dan tinggalkan bintang sebanyak-banyaknya, oke?!!
