Sesekali Hinata kehilangan kesadaran karena mengantuk, tetapi otaknya masih memerintahkan tubuhnya untuk tetap terjaga. Hasilnya, Hinata tersentak ketika ia hampir terlelap menuju alam mimpi.

Hinata menepuk pipinya cukup keras untuk menghilangkan rasa kantuk, tapi pertanyaannya siapa yang bisa melawan kantuk? Bahkan raja yang sakti pun akan kalah ... mungkin.

Hinata melirik ke arah dinding washi dan rasa kantuknya hilang seketika karena dia tidak melihat bayangan siapapun di luar sana. Sudah berapa lama dia tertidur atau menahan kantuk?

'Apakah Sasuke tertidur? Atau dia sudah selesai berjaga?'

Hinata melirik pada sebuah benda yang menunjukkan waktu sudah lewat dari dini hari. Dia beranjak perlahan, dia tidak mau tempat tidurnya yang terbuat dari kayu akan mengeluarkan suara.

Hinata melihat ke arah ranjang teman-temannya dan mereka masih terlelap. Gadis itu berjalan perlahan setelah mengambil sesuatu dari kotak penyimpanan miliknya.

'Ya Dewa, bantu aku!'

Gadis itu membuka pintu perlahan, dia menyembulkan kepala dan melihat ke sekeliling, tidak ada siapapun. Senyuman gadis itu mengembang dan ia segera keluar.

Bruk ...

Belum sampai sepuluh langkah, Hinata terkejut karena tubuhnya menabrak sesuatu atau seseorang.

Kepalanya beradu tepat dengan dada bidang yang berbalut pakaian prajurit berwarna hitam.

Hinata menagangkat wajah secara perlahan dan ia jelas melihat wajah Sasuke walaupun cahaya begitu minim di lorong tersebut.

"Aduh, sakit!!" Hinata memegang kepala sedangkan satu tangan yang lain setia memegang gelang giok ungu.

"Kau yang menabrakku," ucap Sasuke dengan tatapan dingin begitupun dengan suaranya yang terdengar datar dan penuh intimidasi.

"Maaf!" ucap Hinata dia berucap dengan sangat pelan.

"Apa ini sudah waktunya kau bekerja? Setahuku masih ada tiga jam waktu untuk tidur," tutur Sasuke membuat Hinata semakin gemetaran karena takut dianggap menyelinap walaupun memang itu yang akan ia lakukan.

"A-A ... Aku perlu ke kamar kecil," jawab Hinata dengan gugup. Ia tidak punya alasan lain yang lebih masuk akal.

"Oh, semua peraturan yang harus dipatuhi para dayang, kurasa kau juga tahu hal itu. Para wanita hanya boleh pergi ke kamar kecil saat pagi dan menjelang malam." Sungguh Hinata merasa sebal pada Sasuke. Itu sangat mengerikan, peraturan macam apa itu?

"Ini mendesak, aku tidak tahan! Lagipula kau juga bertugas mendampingi tim ku, jadi kalau kau mau kau bisa ikut untuk mengantarku ke sana!" gertak Hinata, ia tidak yakin jika Sasuke akan mau mendengarkan permintaannya, terlebih pergi ke tempat yang dianggap kotor.

"Kau merepotkan! Tingkahmu mencurigakan, atau sebenarnya kau ingin menyelinap dan tahu siapa pencuri sebenarnya," jawab Sasuke yang membuat Hinata kehilangan kata.

"Baiklah, kau bisa pergi, tapi ingatlah bukan hanya aku yang berjaga, masih banyak pos penjaga lain yang harus kau lewati!" ucap Sasuke, dia bermaksud pergi untuk membiarkan Hinata pergi.

Gadis itu terdiam memikirkan ucapan Sasuke, kenapa ia tidak ingat hal itu? Hanya karena kasus gelang saja semua prajurit berjaga dengan ketat, bukankah itu menyebalkan.

"Tunggu, Sasuke!!"

Mendengar namanya dipanggil si pria parajurit segera berhenti dan ia berbalik. "Kita tidak saling kenal, jangan bersikap seolah kau akrab denganku," ucapnya kemudian.

Hinata mengepalkan tangan karena sikap Sasuke yang begitu sombong. "Tanganmu terluka," jawabnya dengan malas.

Hinata memang kesal, tetapi tanpa sengaja ia melihat darah yang menetes dari tangan kanan Sasuke. Dia memang sombong tapi Hinata juga tidak tega jika melihat seseorang terluka.

"Bukan urusanmu!" kata Sasuke dengan dingin. Dia segera pergi tanpa menoleh lagi, sementara Hinata hanya bisa mengembuskan nafas lelah.

Sekarang apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia sudah ketahuan oleh Sasuke. Jika ia memaksa pergi, akan ada orang lain yang menemukan dirinya.

Hinata terus berpikir bagaimana Sasuke bisa terluka? Apa di istana terjadi kekacauan? Atau ada penyusup lain yang menyerangnya?

Gadis itu berpikir mungkin hal itu tidak dibesar-besarkan supaya penghuni istana tidak panik dan saling curiga.

Tidak dipungkiri, bahkan rekan tim dan rekan sekamarnya pun terus berdebat tentang siapa pencuri atau penyusup yang sudah meresahkan itu.

Para dayang juga saling curiga dan berprasangka pada satu tim juga tim lainnya. Semua semakin kusut karena Hinata merasa dirinya yang paling bersalah karena menyimpan gelang sang pangeran--prajurit misterius.

Hinata berpikir untuk memberitahu Neji, tapi itu hanya akan membawa sang kakak pada masalah lain yang akan mempengaruhi posisinya di istana.

'Apa aku bicara saja pada Sasuke secara pribadi?'

Di tengah suasana saling curiga, Hinata mendapat kabar bahwa Neji terluka, sebagai adik tentu dia merasa cemas pada keadaan sang kakak.

Setelah tugas dayang selesai, tanpa berpikir lama Hinata segera mendatangi ruang perawatan khusus prajurit, ia memang datang terlambat dari dayang yang lain karena Hitomi memberi tugas lebih padanya.

Entahlah, Hinata berpikir bahwa sang kepala dayang tidak suka pada dirinya. Hitomi selalu mengarahkan dirinya pada pekerjaan yang sedikit sulit.

"Kakak, apa kau baik-baik saja? Tidak ada luka yang serius, 'kan?" Hinata bertanya panik tanpa mempedulikan orang lain yang juga berada di sana.

"Aku sudah merawat lukanya," jawab dayang berambut pirang--Shion sebelum Neji sendiri yang menjawab pertanyaan dari sang adik.

"Tanganku hanya tergores," ucap Neji setelah Shion membantunya memakai atasan. Mereka saling melempar senyum.

"Aku akan merawat Kakak!" ucap Hinata sambil membantu Neji memasang kancing bajunya.

"Tidak perlu, kau bisa bantu seseorang di ujung sana!" sergah Neji sambil menatap ke arah sudut.

Hinata mengikuti arah pandang Neji dan ia melihat seorang pria yang duduk membelakanginya di sebuah ranjang diantara dua ranjang lain yang ditempati para prajurit, mereka juga sedang mendapat perawatan dari dayang lain.

'Dia?'

Tentu Hinata tahu siapa orang yang dimaksud, siapa lagi jika bukan prajurit keras kepala dan juga bersikap dingin--Sasuke.

Tanpa sengaja Sasuke menoleh dan mata mereka bertemu tatap, tapi keduanya segera memalingkan wajah. Hinata menatap Shion seolah bertanya kenapa dirinya yang harus mengobati pria itu.

"Dia tidak mau diobati oleh siapapun," bisik Shion seolah mengerti tatapan protes dari Hinata.

"Hinata, tunggu apa lagi?" Ucapan Neji hanya membuat Hinata pasrah saja, ia tidak ingin Neji berpikir bahwa dirinya pemilih dalam bekerja, tetapi mengobati prajurit yang terluka bukankah itu tugas tabib istana?

Pikiran Hinata kembali tidak sejalan dengan takdir, tabib istana yang jumlahnya terbatas tidak bisa berada di satu tempat secara bersamaan, mereka punya tempat sendiri di setiap bagian istana, lagipula tabib istana barat sudah tua dan ia tidak bisa bekerja dengan cepat.

Jadi para dayang lah yang bertugas membantu tabib supaya semua bisa teratasi dengan cepat.

Hinata berjalan sedikit ragu, entah kenapa dia merasa enggan bahkan takut untuk mendekati pria muda yang masih duduk di tepi ranjang ruang perawatan.

Setelah sampai di hadapan Sasuke Hinata segera meletakan nampan yang berisi semua jenis obat dan herbal di atas meja yang tersedia.

"Apakah ada luka parah di tubuhmu?" tanya Hinata sambil melihat ke arah tangan Sasuke yang kemarin malam meneteskan darah.

Sasuke melirik sekilas, bukannya menjawab ia malah mendengus seolah tidak suka saat mendengar pertanyaan dari Hinata.

"Bisakah kau tunjukkan lukanya?" tanya Hinata dengan senyum yang dipaksakan.

Aura semakin mencekam setelah beberapa orang keluar dari ruang perawatan. Hinata hampir menangis karena melihat Neji yang sudah selesai diobati juga meninggalkan tempat tersebut.

Hinata tidak menyadari jika Sasuke melihat raut wajahnya itu. Entah apa yang dipikirkan pria muda itu.

"Kau boleh pergi!"

"Eh?" Hinata mengalihkan perhatian pada sumber suara.

"Pergilah!!" Hinata menatap Sasuke, bagaimana ia bisa pergi sementara tugasnya belum selesai.

"Kau tahu kenapa mereka tidak mau mengobatiku?" tanya Sasuke yang membuat Hinata tampak berpikir.

"Aku tahu," jawabnya kemudian, dia sedikit menekuk lutut supaya wajahnya sejajar dengan Sasuke yang sedang duduk.

"Itu karena tatapanmu yang menyeramkan," jawab Hinata tanpa menyadari raut kesal di wajah Sasuke. "Mereka takut padamu."

Hinata melanjutkan membersihkan tangan Sasuke, darah kering juga Hinata bersihkan dengan menggunakan kain dan air hangat.

"Lalu, kenapa kau tidak takut padaku?" Hinata kembali menatap Sasuke tanpa menghentikan kegiatannya.

"Aku juga takut, tapi aku hanya menjalankan tugas sebagai dayang," jawab Hinata dengan tetap berfokus pada luka Sasuke.

"Kau sendiri, kenapa selalu menatap benci pada semua orang?" Hinata balik bertanya pada pria dingin tersebut.

"Tidak," jawab Sasuke sambil menunduk, "mereka yang menatapku seperti itu."

Hinata mengalihkan pada pria muda yang masih menunduk, dia bisa melihat bentuk hidung mancung Sasuke dari arah samping. Di saat seperti itu ia masih sempat memikirkan hal itu.

"Semua ada sebabnya," jawab Hinata.

"Menurutmu?" tanya Sasuke dengan perkataan yang dirasa sulit untuk dimengerti.

"Mm, mungkin karena sikapmu, atau bisa saja mereka iri karena kau- ..." Hinata terdiam, ia tidak meneruskan ucapannya.

"Apa?" tanya Sasuke kembali.

Hinata menarik napas dalam, menghembuskannya kemudian berkata, "kau bisa masuk istana karena koneksi dari putra mahkota."

Sasuke terdiam dan Hinata juga demikian, apa ia sudah berkata salah. Hinata menyesali perkataannya karena itu bisa saja membuat Sasuke tersinggung.

"Apa kau juga berpikir begitu?" Gerakan Hinata terhenti sekarang ia duduk di tepi ranjang dengan jarak yang tidak begitu jauh dari Sasuke.

"Sejujurnya, iya. Aku juga berpikir begitu," jawab Hinata dengan ragu dan takut, tapi tidak ada gunanya berbohong.

"Aku tidak suka berbohong karena itu memang yang kupikirkan," ucap Hinata. Dia tidak berani menoleh pada Sasuke jadi dia tidak tahu ekspresi apa yang ditunjukkan wajah Sasuke.

"Tidak seperti itu, alasanku bisa masuk istana adalah karena aku mendapat latihan sepuluh kali lipat lebih berat dari orang lain," jawab Sasuke.

"Aku- ..."

"Ah, apa masih ada luka yang lain?" Hinata memotong ucapan Sasuke, ia tidak punya waktu untuk mendengarkan pria itu, banyak tugas yang menunggu dan ia tidak ingin terkena masalah oleh kepala dayang cantik--Hitomi Fumika.

Sasuke beranjak dan berjalan menuju pintu, tanpa diduga ia menutup pintu ruang perawatan yang sudah kosong menyisakan dirinya bersama dayang kecil--Hinata.

"He-hey, kenapa kau menutup pintunya? Bagaimana jika timbul gosip. Apa kau mau dipenjara?" Hinata tampak panik bahkan dia beranjak dan seperti ingin pergi, tapi Sasuke menahan tangannya.

Tubuh Hinata kembali duduk karena Sasuke menyeretnya. Pria muda itu segera membuka pakaian atas dan itu semakin membuat Hinata membulatkan mata.

"Bantu aku!!" tegas Sasuke, sedangkan Hinata hanya mematung dan takut. Apa yang ingin Sasuke lakukan?

"Ingatlah hanya kau melihat tubuhku ini!" ucap Sasuke dan sudah bertelanjang dada sekarang.

'Ya Dewa, aku mau pingsan.'

TBC

Yuu, chap 3

Dukung ya temen ...

C u and i love u all