Hinata berjalan dengan terus menunduk, ia seperti tidak semangat atau mungkin dia banyak memikirkan banyak hal.
Bruk ...
Lagi dan lagi ia ceroboh dan menabrak seseorang di hadapannya. "Ah, maafkan saya, Tuan!" sesal Hinata ketika mengetahui ia sudah menabrak seorang pria.
"Tidak apa, kau kurang berhati-hati, Nona!!" Sebuah senyum terpatri di wajah sang pria, membuat Hinata berkedip beberapa kali.
"Apa keperluan mu datang kemari?" tanya pria itu lagi. Hinata berpikir sejenak dan ia baru ingat bahwa ia sedang menjalankan tugas dari Hitomi.
"Aa, maaf saya dayang baru di istana ini," ucap Hinata sambil membungkuk, ia meringis karena malu.
Ia tidak bisa berhenti memikirkan tentang kejadian di ruang perawatan bersama Sasuke, hingga ia terus melamun dan memikirkan si pria prajurit.
"Saya mengantar alat dan bahan untuk Anda melukis, Tuan Simura!" Hinata menyerahkan nampan yang berisi barang-barang yang ia sebut tadi.
Hitomi kembali memberi tugas padanya untuk mengunjungi ruang seni karena pelukis istana yang berasal dari keluarga bangsawan Simura sudah kehabisan alat yang ia butuhkan.
"Oh, jadi semua sudah ada, terima kasih, Nona! Aku ingin minta bantuan mu, apa boleh?!" pinta sang pelukis pada dayang muda itu.
Hinata hanya tersenyum kemudian membungkuk. Pria itu sangat ramah dan murah senyum membuat Hinata juga merasakan sebuah kesenangan.
Pria bernama Sai sangat pandai melukis membuat Hinata kagum pada keterampilan pria itu. Hinata melihat tatapan Sai yang seolah menikmati kegiatannya dalam melukis.
"Apa kau bisa menjadi model dalam lukisanku?" tanya Sai.
"Ap-apa? Ah, tentu saja tidak," jawab Hinata sambil mengibaskan tangan dan juga tersenyum canggung.
"Kenapa?" tanya Sai penasaran.
"Aku hanya pelayan istana, mungkin sebaiknya anda mencari model gadis dari kalangan bangsawan atau kerajaan," jawab Hinata panjang lebar.
"Aku yang melukis jadi aku yang memutuskan, lagipula tugasku adalah melukis semua kegiatan atau sesuatu yang bernilai seni di istana ini," jelas Sai, pria itu tersenyum ramah.
"Kalau begitu, aku bisa rekomendasikan temanku yang berasal dari keluarga terpandang," tawar Hinata.
"Datanglah nanti sore aku akan menunggu, katakan pada kepala dayang bahwa ini adalah permintaanku!" perintah Sai tanpa menjawab tawaran dari Hinata.
"Baik, Tuan!" Hinata hanya bisa mengangguk, dia tidak bisa menolak keinginan para petinggi istana karena statusnya hanyalah seorang dayang.
Hinata membungkuk kemudian mundur untuk pamit. Sebisa mungkin dia tidak membuat para bangsawan itu kecewa jika pelayanannya kurang baik.
Setelah meninggalkan ruangan Sai ia kembali ke dapur istana untuk menemui Hitomi, sampai saat ini ia masih belum lupa pada kejadian di ruang perawatan.
Flashback
Hinata menatap Sasuke yang sudah bertelanjang dada, gadis itu hanya berkedip beberapa kali sambil menahan napas.
Bukan karena ia merasa sesak melihat pria menawan di hadapannya, tetapi justru karena melihat tubuh pria itu yang membuatnya meringis.
Tangan Hinata gemetar saat menyentuh punggung--lebih tepatnya luka di punggung Sasuke, ada banyak luka dalam di sana. Bagaimana Sasuke bisa tahan pada semua itu?
Pasti begitu sakit dan perih, Hinata bahkan bisa merasakan bahwa Sasuke sedang demam tinggi saat ini, mungkin itu karena luka tersebut.
"Kau terkena infeksi, lukamu bernanah dan bengkak," ucap Hinata, suaranya terdengar gemetar.
"Kapan kau mendapat luka ini?" tanya Hinata sambil membersihkan semua luka di punggung Sasuke.
"Tiga hari yang lalu," jawab Sasuke dengan suara yang parau, mungkin ia sedang menahan rasa sakit saat Hinata menambahkan herbal pada air yang ia gunakan.
"Tahan sebentar ini akan perih!" ucap Hinata.
"Dari mana kau dapatkan semua ini?" Hinata kembali bertanya, jika itu hanya bekas pertarungan semalam mungkin lukanya tidak akan separah saat ini. Neji pun hanya mendapat luka goresan di tangannya.
"Sudah kukatakan aku mendapat latihan sepuluh kali lipat dari yang lainnya," jawab Sasuke.
Hinata merasa iba, kenapa bisa seperti itu? Bukankah Sasuke adalah prajurit pilihan yang sudah pasti punya keterampilan di atas yang lainnya.
"Istirahatlah, dan minum pil ini untuk mengurangi demam!" Hinata memberikan beberapa pil obat untuk diminum Sasuke tidak lupa ia membantu pria muda itu mengenakan pakaian bersih yang sudah tersedia di sebuah lemari pakaian.
Hinata hanya duduk sambil menatap Sasuke yang tertidur, ia tidak tega untuk membiarkan pria itu sendirian dalam keadaan sakit.
Sesekali Sasuke merintih juga mengigau walaupun suaranya tidak begitu jelas. Hinata membantu mengusap keringat Sasuke yang membasahi seluruh wajahnya.
Suhu tubuh Sasuke kembali turun menjelang malam, dan hasilnya Hinata mendapat hukuman dari Hitomi karena terlambat memberi laporan.
Hinata dihukum untuk mengurus keperluan para bangsawan yang bekerja di istana, salah satunya adalah pelukis istana--Sai Simura dan pelajar dari kerajaan Suna--Gaara Sabaku dan saudaranya Sasori Akasuna.
Hinata juga disalahkan oleh rekan timnya karena mereka pikir dia lebih mendahulukan perawatan Sasuke yang dianggap tidak penting.
Semua semakin rumit saat Sasuke juga memintanya untuk merahasiakan kejadian saat di ruang perawatan.
'Anggaplah ini tidak pernah terjadi!'
Flashback end
"Kurasa yang bodoh di sini adalah aku, dia tidak akan pernah mengucapkan terima kasih," gumam Hinata saat melewati kembali tanah lapang tempat para prajurit berlatih.
Dia melihat Sasuke juga berada di sana, pria itu tampak sehat padahal Hinata tahu lukanya belum pulih sama sekali.
"Hey, ayo cepat, Tuan Gaara sedang menunggu kita!" Amaru menyadarkan Hinata saat tatapannya masih tertuju pada seseorang.
Hinata dan timnya segera menuju ruang pendidikan bagi para bangsawan yang mengikuti pertukaran pelajar antar kerajaan.
Saat sampai Hinata hanya bisa tersenyum menahan tawa karena ternyata ia dikelilingi para manusia berambut merah kecuali dirinya dan juga Shion.
Hinata dan rekan timnya cukup takjub pada ilmu pengetahuan yang semakin berkembang, sepertinya para pelajar itu sedang mempelajari alat-alat modern yang didatangkan dari luar negara.
"Wah, apa ini?" seru Hinata. Ia melihat benda bulat dengan rantai kecil seperti kalung dan liontin.
Seorang pria muda menghampiri Hinata bahkan merangkul pundaknya. "Namanya armwacth," jawab pria muda dengan iris mata hijau.
Pria muda itu membuka liontin kalung tersebut dan di dalamnya ada sesuatu yang lain seperti dua buah jarum yang berlawanan arah.
"Ar-arm apa?" Hinata bermaksud mengulang tapi ia tidak bisa menirukan pengucapan kata asing tersebut.
Pria muda itu tertawa dia juga menurunkan rangkulan di pundak Hinata. "Bisa dikatakan ini adalah alat untuk menunjukan waktu," jawabnya kemudian.
Hinata hanya mengangguk ragu karena ia belum sepenuhnya memahami ucapan si pelajar muda tersebut. Biasanya ia hanya punya jam pasir yang biasa menunjukkan waktu.
"Oh, iya. Aku ingin bertanya?" Seorang pria muda lain juga bertanya pada salah satu dayang rekan Hinata.
"Silahkan, Tuan!" jawab Saara, gadis yang bertugas menata buku ilmu pengetahuan segera menghampiri pria itu.
"Katanya pekan depan ada festival lilin untuk para ibu, apa itu benar?" tanya pria tersebut.
Hinata sangat terkejut mendengar hal itu karena ia tidak pernah tahu bahwa ada acara semacam itu.
"Benar, Tuan! Acara itu diperuntukkan untuk para permiasuri di seluruh negara," jawab Saara.
Hinata yang mendengar percakapan itu hanya mengangguk serta mulut yang berbentuk huruf o, mungkin dia memang tidak tahu tentang festival tersebut.
Hinata mengingat kembali gelang giok ungu milik pangeran misterius, apakah kali ini ia punya kesempatan untuk mengembalikannya?
"Wah, itu pasti seru sekali!" Pria bernama Sasori terlihat antusias padahal dia sudah mendengar bahwa acara itu khusus untuk para ibu.
Hinata yang merasa penasaran mulai bertanya pada Karin. "Bisa kau jelaskan padaku, bagaimana acara itu berlangsung?"
"Para permaisuri akan turun langsung membuat lilin-lilin khusus sebanyak mungkin dan sudah menjadi tugas para dayang seperti kita untuk membantu," jelas Karin panjang lebar.
"Dan acara membuat lilin akan dimulai besok, jangan katakan kau tidak tahu!" ujar Karin yang dijawab gelengan kepala oleh Hinata.
Tentu dia tidak tahu karena kemarin saat pengumuman ia justru terjebak di ruangan perawatan bersama Sasuke. Pantas saja Hitomi marah kepadanya karena sudah melewatkan hal penting.
"Apa itu seperti berdoa untuk para pangeran?" Hinata kembali bertanya.
"Iya, dan harus kau tahu bahwa acara ini sudah pasti dinantikan para gadis warga sipil di luar istana," lanjut Karin.
"Eh? Kenapa bisa begitu?" Hinata bertanya penasaran.
"Kau memang payah, begitu saja tidak tahu," gerutu Karin sedangkan Hinata hanya tersenyum kaku karena ia memang tidak tahu apapun.
"Ini saat yang langka karena semua pangeran akan muncul dan berkumpul untuk menyaksikan ibu mereka membuat doa," tambah Karin.
"Semua pangeran?" tanya Hinata memastikan bahwa itu benar.
"Semua pangeran," jawab Karin dengan mengulang perkataan Hinata.
"Hey, tugas kalian melayani kami, bukan mengobrol!" Pria bernama Gaara membuat Hinata dan Karin segera berhenti dari kegiatan mereka.
"Maaf, Tuan!" Ucap keduanya bersamaan.
Hinata terus memikirkan festival lilin yang sedang hangat dibicarakan, acara itu satu-satunya kesempatan untuk ia mengembalikan barang orang lain.
Masalahnya apakah pangeran berbaju prajurit itu juga akan muncul atau setidaknya ia tahu identitasnya itu sudah cukup bagi Hinata.
Kenapa permaisuri tidak bisa menerimanya sebagai seorang putra? Apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding istana yang kokoh dan megah tersebut.
Hinata juga baru mengetahui bahwa Raja Istana Barat Madara Uchiha bukan suami dari permaisuri tersebut, jadi pria itu bukan ayah dari pangeran misterius dan juga Putra Mahkota.
Madara adalah salah satu raja yang masih lajang selain Haru Athariu dan juga Hatake Kakashi. Para raja muda yang konon kemampuan mereka dalam memimpin kerajaan masing-masing tidak perlu diragukan.
Permaisuri istana barat adalah kakak kandung dari Madara, dan raja terdahulu mengangkat Madara sebagai raja karena beliau sakit dan akhirnya meninggal.
Terlalu rumit, otak Hinata tidak mampu mencerna semua hal tersebut. Dia semakin tidak menyukai kehidupan istana, terlalu banyak rasa sakit dan penderitaan di sana--itu menurut Hinata.
Di tengah lamunan, ia mendengar sebuah keributan dari arah gerbang dapur, dengan segera ia berlari untuk mengetahui masalah yang terjadi.
Hinata terkejut saat melihat Sasuke dan beberapa pengawal sedang menyeret paksa seorang dayang muda. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa dayang itu diperlakukan demikian.
Saat berpapasan tatapan Hinata dan Sasuke terkunci, wajah pria itu terlihat dingin kemudian ia berpaling. Hinata ingin bertanya tetapi ia urungkan niatnya karena tidak ingin mengganggu tugas Sasuke dan para pengawal.
Hitomi berdiri di depan gerbang dapur, wanita itu melihat ke arah Hinata yang membawa keranjang berisi piring-piring kotor yang berat.
"Nyonya, apa yang terjadi?" tanya Hinata pada sang kepala dayang.
"Tuan Sasuke menemukan dayang pencuri tempo hari," jawab Hitomi.
"Ap-apa?" Hinata terkejut mendengar hal itu, jadi selama ini bukan dirinya yang dicari.
"Sebaiknya kau waspada, gadis itu dibayar seseorang untuk membuat kekacauan," jawab Hitomi dengan nada suara yang dingin.
Hinata tidak mengerti apa maksud perkataan Hitomi, siapa yang berniat jahat bahkan kepada penghuni istana dengan jabatan paling rendah--dayang seperti mereka.
"Tuan Sasuke sudah menjelaskan alasan kenapa kau terlambat kemarin, sebagai pengganti hukuman, kau boleh istirahat pekan depan dan kau boleh pergi ke festival!" Hitomi kembali berkata.
Hinata menatap wanita itu dan sebuah senyuman terpatri di bibirnya. "Ah, terima kasih, Nyonya!!" serunya sambil meletakkan keranjang berat kemudian menghambur untuk memeluk sang kepala dayang.
Hitomi sangat terkejut mendapat perlakuan itu, dia hanya diam dan tidak membalas pelukan Hinata, tetapi ada seyum tipis yang terlukis di bibirnya.
"Kalau begitu apa boleh aku merias diri saat pergi ke festival?" tanya Hinata setelah melepas pelukan.
Wajah Hitomi kembali datar. "Tentu, aku akan membantumu," jawabnya kemudian.
Hinata merasa bahagia, ia bisa menilai bahwa wanita tegas itu sebenarnya sangat baik dan perhatian. Tidak buruk, Hitomi seperti ibu baginya sekarang.
TBC
Hayoo, festivalnya seperti apa dan gimana scene sasuhina di chap depan.
Keep waiting ya
See u on the next chap
I lobe uuuuuu all
