Naruto MK

Longer

Sasuhina

Rate M

Hurt/Comfort

Happy Reading.

"Apa kau yakin?" Seorang wanita bertanya pada teman prianya.

"Hn, iya ..." Si pria terdiam dan menundukkan wajahnya ke arah lantai lift yang sedang naik ke lantai yang dituju, wanita itu menatap iba pada pria tersebut.

"Tidak perlu merasa kasihan atau iba padaku, dan tidak perlu menatapku seperti itu, bukankah saat ini perasaanmu sama denganku?" Pria itu berkata panjang dan bertanya, membuat teman wanitanya terdiam.

"Kita tidak punya bukti." Wanita itu kembali berkata, si pria yang sedang menyandarkan punggungnya hanya menghela napas lelah.

"Kita buktikan sekarang!" Pria itu berkata dengan nada suara yang dingin.

"Ini tengah malam, mungkin mereka sudah pulang dan berada di rumah." Suara wanita itu terdengar begitu pelan. Ada getar kecemasan juga ketakutan dalam suaranya.

"Apa kau takut? Aku hanya ingin mengetahui kebohongan mereka, kita tidak perlu melakukan apapun, hn?" Wanita itu mengangguk tanda dia setuju dengan apa yang diucapkan teman prianya.

Ting...

Suara tanda lift sudah sampai di lantai yang dituju terdengar, angka tujuh-belas terlihat di atas pintu lift dengan lampu berwarna merah.

Tanpa sepatah kata pun pria itu keluar diikuti teman wanitanya yang berjalan dua langkah di belakang.

Angka kosong-satu-kosong terlihat di depan pintu kamar hotel, pria dan wanita itu terdiam untuk beberapa menit, pria itu merogoh ke dalam saku celana di bagian kanan dan mengambil sebuah kunci, tangan pria itu gemetaran saat akan menyentuh kenop pintu.

Cklek ...

Krieett ...

Pintu hotel perlahan terbuka, pria itu tampak ragu untuk melangkahkan kakinya ke dalam kamar hotel.

Wanita itu mengikuti dari belakang, kamar hotel yang hanya diterangi lampu dengan cahaya temaram membuat dadanya bergemuruh dan terasa tidak nyaman.

Beberapa langkah terlewati mereka sampai di ruang utama kamar hotel, sungguh pemandangan di depan membuat mereka sulit untuk bernapas.

Tempat tidur hotel dengan ukuran besar tampak berantakan dengan sprei yang hampir terlepas, ada bekas taburan bunga mawar merah dan ada juga dua gelas, botol anggur yang yang sudah kosong serta pakaian pria dan wanita yang bertebaran di atas permadani kamar hotel.

"T-Tidak ada s-siapapun disini, a-ayo pulang, sebaiknya kita kembali, S-Sasuke!" Wanita itu berucap gugup, rahang pria itu mengeras menahan amarah.

"Tapi, Hinata, aku- ..." Pria itu mengepalkan tangannya.

"Ayo, Sasuke! Semua tidak benar, kita tidak melihat apapun atau siapapun di sini." Hinata mendekat dan menggandeng lengan pria tersebut.

Sasuke melangkah dengan limbung karena mengikuti tarikan di lengannya.

"Kau kelelahan, besok kita harus kembali bekerja, pekerjaan kita sangat banyak, jadi kau harus beristirahat!" Wanita itu berucap lembut.

Longer

'SURPRIZE ...!!!'

Hinata dan Sasuke terlonjak karena mendengar teriakan yang begitu keras dari arah dapur yang bersisian dengan kamar mandi.

Hinata segera melepaskan tangannya yang sedang menggandeng Sasuke, pria dan wanita itu segera berbalik pada sumber suara.

Seorang pria dengan rambut pirang danseorang wanita berambut warna bunga keluar dengan membawa kue tart dengan lilin yang menyala di atasnya.

'Happy birthday to you, Sasuke ...!'

Wanita berambut bunga tersebut menyanyikan sebuah lagu selamat ulang tahun untuk Sasuke.

"Naruto!, Sakura!" Hinata memanggil kedua orang tersebut, sedangkan Sasuke masih terdiam.

"Akhirnya kalian datang juga, ya ampun kami pikir kalian tidak akan datang, kejutan ini hampir saja gagal, benar, 'kan? Naruto?" Wanita berambut merah muda berkata dengan begitu ceria.

"Iya, itu benar."

"Dan kau, Sayang, aku senang kau ikut bersama si Teme." Naruto mendekati Hinata kemudian mengecup singkat bibirnya.

"Semoga selalu bahagia, Teme!" Naruto juga berjabat tangan dengan Sasuke, kemudian mereka berpelukan.

"Aku mencintaimu, Sayang!" Sakura mengecup bibir Sasuke begitu lama tapi pria itu masih saja terdiam.

Pada akhirnya mereka menghabiskan waktu di kamar hotel tersebut, Sakura dan Naruto mendominasi keramaian dengan suara mereka.

"Haha, aku senang, Gaara berhasil menipu kalian, sebenarnya aku dan Naruto yang memintanya untuk membantu kami dalam rencana ini." Sakura tertawa bersama Naruto tapi tidak untuk Sasuke dan Hinata, pria dan wanita itu masih terlihat kebingungan.

"Jadi kau senang karena sudah menipu kami?" tanya Sasuke dengan tatapan dingin, suasana berubah tegang setelah pertanyaan itu terdengar.

Flashback.

Pukul 23:27 tengah malam...

'Oy, Sasuke, Hinata!' Seorang pria berambut merah memanggil Sasuke dan Hinata yang baru saja tiba di gedung redaksi tempat mereka bekerja.

'Hn, ada apa, Gaara?' jawab Sasuke.

'Aku punya berita untuk kalian,' ucap Gaara pada Hinata dan Sasuke, kedua orang tersebut hanya saling menatap.

'Ini ...!' Gaara merogoh ke dalam saku celana hitamnya dan mengambil ponsel miliknya, Sasuke dan Hinata masih menunggu.

Mata Hinata membola melihat layar ponsel Gaara yang menunjukan beberapa gambar, di dalam gambar tersebut terlihat dua orang yang sangat ia kenali, dua orang sepasang laki-laki dan perempuan yang terlihat mesra.

Hinata melihat ke arah Sasuke, pria itu tidak menunjukkan ekspresi apapun, namun mata hitamnya terlihat lebih tajam.

Sasuke adalah rekan kerja Hinata, pria itu adalah seorang kamera man, sedangkan Hinata sendiri adalah seorang reporter, Sasuke dan Hinata rekan kerja yang kompak, mereka selalu profesional dalam melakukan pekerjaan.

'A-Apa ini Gaara??' tanya Hinata pada Gaara yang menyimpan kembali ponselnya.

'Flower hotel, lantai 17, kamar 010!' Ucap Gaara, pria itu kemudian pergi meninggalkan kedua orang tersebut yang masih terdiam.

'Sasuke...??' Hinata berucap pada Sasuke, pria itu mengalihkan perhatiannya.

'Ayo ...!!' jawab singkat Sasuke.

'Kemana??' tanya Hinata saat Sasuke melangkahkan kaki, pria itu tidak menjawab, dan dengan terpaksa dia mengikuti rekan kerjanya.

Flashback end.

Pukul 03:23 dini hari ...

'Hoaaammm'

Hinata menguap karena merasa begitu mengantuk.

"Tidurlah ...!"

"Eh??" Hinata mengalihkan tatapannya.

"Besok kita ada pekerjaan, tidur 3 sampai 4 jam kurasa itu cukup." Suara pria berusia dua-puluh-lima tahun itu terdengar berat.

"Ya, sebaiknya kau juga beristiraha, Sasuke! Lihat Naruto dan Sakura saja sudah tidur nyenyak sejak tadi," ucap Hinata, wanita muda itu sedikit tersenyum melihat Naruto yang tertidur di atas sofa dan juga Sakura yang tidur dipangkuan Sasuke.

"Hn ..." Hanya gumaman yang Hinata dengar dari mulut Sasuke, pria itu terus terdiam dan entah apa yang dipikirkannya.

Longer

Pukul 07:10 pagi

"A-Apa??" Hinata terbangun dari tidur dan terkejut melihat waktu di ponselnya.

"Sasuke cepat bangun, kita sudah terlambat!" Hinata segera membangunkan Sasuke yang masih terlelap dengan posisi duduk dibawah sofa, semalam mereka tertidur setelah mengobrol bersama Sakura dan Naruto.

Sasuke mengerjap, pria itu juga terkejut dan segera bangkit.

"Dimana Naruto dan Sakura?" tanya Hinata, karena dua orang tersebut tidak terlihat.

"Mungkin sudah bangun lebih dulu," jawab Sasuke datar, Hinata menatap Sasuke, apa pria itu masih marah karena sikapnya terlihat begitu dingin.

"Kita tidak ada waktu lagi, cepat bergegas!!" Suara Sasuke menyadarkan Hinata kembali.

Dengan cepat Hinata bersiap, begitupun Sasuke, mereka dengan cepat membersihkan diri dan berangkat ketempat kerja tanpa mengisi perut mereka terlebih dahulu.

Seperti biasa Hinata dan Sasuke menyerahkan semua data hasil liputan mereka kemarin pada tim redaksi, dengan perasaan lega mereka puas dengan hasil kerja yang mereka lakukan.

"Hah, akhirnya kita bisa beristirahat juga." Hinata menghempaskan bokongnya di kursi kantin, Sasuke juga melakukan hal yang sama.

"Untung saja kita bisa tepat waktu, liputan kita menjadi berita utama hari ini," ucap Hinata, dan Sasuke tidak berkata apa-apa.

"Sasuke!!" Hinata memanggil Sasuke yang sedang menyesap teh hangat, sebenarnya teh hangat tidak cocok untuk makan siang, tapi karena perut mereka belum terisi sejak pagi dan minuman hangat adalah pilihan yang tepat untuk permulaan.

"Ada apa? Kau terlihat murung? Apa yang kau pikirkan?" tanya Hinata pada temannya itu.

Sasuke mengalihkan tatapan pada Hinata, pria itu menghela napas.

"Tidak ada," jawabnya singkat.

Hinata menatap sayu pada rekan kerjanya tersebut, wanita itu mengerti jika Sasuke masih kesal pada orang yang sudah memberi kejutan aneh saat ulang tahun, setelah itu mereka pergi begitu saja dan belum memberi kabar sampai sekarang.

"Apa kau percaya pada mereka?" Hinata mengalihkan tatapan karena Sasuke tiba-tiba bersuara.

"Bahkan sampai saat ini mereka belum memberi kabar pada kita berdua," tambah Sasuke.

Sejujurnya ada rasa tidak percaya dalam hati Hinata, tapi dia percaya pada Naruto sepenuhnya, terlepas pria itu berkhianat atau tidak, Hinata tidak bisa menyimpulkan hal itu sendiri.

TBC

Nah lebih bagus lagi kalau yang belum follow segera follow itu kalau kalian suka karyaku

Special for Sasuhina Lovers

C u next chapter i love uu