Kulihat jingga di atas langit
Berubah senja dan terbiasa
Semua renta kenangan
Harapan yang asa
Di sana ku merindu
meniti hari bersulam sepi
...
Kesetiaan adalah hal penting dalam sebuah hubungan, tapi yang paling utama adalah rasa percaya terhadap orang yang kita sayangi.
Kepercayaan sepenuhnya kepada orang yang kita cintai bisa mengurangi kemungkinan mereka mengkhianati kita, paling tidak mereka akan berpikir dua kali untuk melakukannya, tapi bukan berarti kita bebas dari penghianatan seseorang.
Drtt...
Ponsel Hinata bergetar, wanita muda itu melihat ke layar ponsel, kemudian melihat ke arah Sasuke yang duduk dihadapannya, dan segera mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo!! " Hinata membuka percakapan.
"Baik, aku baik-baik saja."
"Tidak apa-apa, aku mengerti." Hinata kembali melihat Sasuke.
"Dia baik-baik saja, baiklah akan kusampaikan padanya." Hinata menutup panggilan setelah percakapannya selesai.
Hinata melanjutkan makan siang bersama Sasuke, perasaannya bercampur aduk sehingga makanan yang sedang di kunyah pun terasa hambar.
"Tadi, Naruto yang menghubungiku," ucap Hinata, dan Sasuke hanya mengalihkan tatapannya.
"Dia bertanya tentang keadaan kita, dia juga meminta maaf, karena meninggalkan kita di hotel," jelasnya pada Sasuke.
"Naruto dan Sakura ada rapat dadakan, mereka sibuk," ucap Hinata panjang lebar, wanita itu tidak tahu harus berkata apa karena lawan bicaranya tidak memberi respon sama sekali.
Longer
Berpikir positif, dan selalu percaya adalah hal yang selalu dipegang teguh oleh Hinata, hanya sedikit waktu intensitas bersama tunangannya, Hinata ataupun Naruto sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Hari ini kita pergi ke alun-alun kota, ada pameran seni, dan kita punya sesi wawancara bersama Sai," ucap Hinata antusias.
"Hei, Sasuke!" panggil Hinata.
"Kau tahu, dia itu pelukis favoritku! Lukisan yang dibuatnya selalu membuatku terpesona, semua lukisannya terlihat bagus!!" Hinata menangkupkan kedua tangan, rekan kerjanya hanya mendengarkan sambil membersihkan kameranya.
"Hh, bagus apanya? Menurutku dia itu hambar." Hinata kecewa mendengar jawaban Sasuke.
"Hambar? maksudmu?" protes Hinata.
"Semua lukisan milik Sai hanya mempunyai dua warna, hitam dan putih, tidak ada warna yang lain." Hinata menautkan alisnya seolah tidak mengerti ucapan Sasuke.
"Kau itu bukan seniman, mana kau tahu tentang seni yang berkelas." Hinata berkata sedikit kesal.
"Hidup itu penuh warna, jika kau hanya menyukai warna itu saja, maka hidupmu- ..." Sasuke tidak meneruskan kalimatnya.
"Apa?" tanya Hinata penasaran.
"Tapi itu lebih baik, dari pada kau yang hanya menyukai warna gelap, apakah warna bisa mencerminkan hidup seseorang? Kalau begitu berarti kau juga- ... " Hinata juga tiba-tiba terdiam.
"Kenapa?" tanya Sasuke datar.
"A- Aaa sudahlah! Kenapa kita jadi membahas masalah ini, cepat bersihkan kameramu, kita harus cepat berada disana!!" kilah Hinata menghindari percakapan tadi.
"Dan kau tahu, Naruto dan Sakura juga akan datang, mereka mendapat undangan eksklusif dari Sai," lanjut Hinata.
"Kalau saja Gaara tidak menyuruh kita menggantikan wawancara ini, aku tidak akan mau datang ke sini," ucap Sasuke dan membuat Hinata terkejut.
"Sasuke?!" Hinata berucap dengan nada yang memohon, ya memohon agar Sasuke mengubah sikapnya.
"Aku profesional, Hinata! Jadi jangan khawatir!" ucap Sasuke, ada seulas senyum dibibir pria tersebut.
"Mm, tidak buruk," ucap Hinata setelah rekan kerjanya tersenyum.
"Apanya?" tanya Sasuke.
"Senyumanmu itu, Tuan! Kau harus sering melakukannya!" Pada akhirnya mereka berdua tersenyum bersama.
"Mm, dan aku tahu sebenarnya kau sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Sakura. Iya, 'kan?!" Hinata menggoda rekan kerjanya itu, Sasuke hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Longer
Hinata dan Sasuke tiba satu jam lebih awal, penyebabnya karena mereka harus mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan. Tidak hanya mereka yang ada di sana, masih banyak wartawan lain dari semua jenis media.
Hinata dan Sasuke bergabung dengan wartawan lain yang juga bertugas meliput acara tersebut. Setelah semua terasa lengkap, mereka hanya tinggal menunggu acaranya dimulai.
Semua kebutuhan sudah Hinata pastikan mulai dari nametag yang menggantung manis di lehernya, benda itu wajib ada sebagai tanda bahwa dia wartawan profesional dan bukan amatiran, seragam biru tua stasiun televisi yang terpasang rapi, microfon, dan yang paling utama adalah kamera lapangan.
Sasuke sudah selesai memasang tripod untuk kameranya, pria itu hanya tinggal merekam semua yang sudah menjadi tugasnya.
"Hey, Sasuke?!"
"Lihat siapa yang datang?" ucap Hinata dengan senyum manisnya, Sasuke mengikuti arah pandang Hinata dan melihat tunangannya yang begitu cantik dan berkelas itu datang bersama seorang pria muda yang juga berstatus tunangan Hinata.
'Hey, lihat itu kan Haruno Sakura dan Uzumaki Naruto!!"
"Wah cantik sekali, mereka berdua sangat cocok ya?!"
"Sakura yang designer dan Naruto pengusaha muda yang sukses, ditambah dia putra walikota."
Wartawan lain mulai berbisik dan membicarakan dua tamu istimewa di pameran seni tersebut. Hinata melihat Sakura yang melambaikan tangan padanya dan juga Sasuke, wanita itu tersenyum karena Naruto juga menatapnya dengan senyum tampan miliknya.
Sasuke melihat kearah Hinata, tapi wanita itu tidak menyadarinya, dapat Sasuke lihat semburat merah di kedua pipinya yang sedikit tembam.
Sasuke berusaha menahan tawa melihat rekannya yang bertingkah seperti gadis remaja.
"Khh, apa-apaan itu, sebaiknya lihat wajahmu di cermin!" ucap Sasuke, pria itu tetap berusaha untuk tidak tertawa.
"Ada apa?" tanya Hinata sambil menyentuh wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Pipimu merona hanya karena kau melihat tunanganmu, kau bukan gadis SMP lagi," ucap Sasuke sambil menunduk untuk menyembunyikan tawanya.
"Hssh!!" Hinata mendesis melihat tawa Sasuke yang mengejeknya.
"Aah, kau ini, kau mengejekku padahal kau juga terlihat senang saat melihat Sakura." Hinata menjulurkan sedikit lidahnya pada Sasuke.
Tanpa mereka sadari, orang yang mereka ributkan juga menatap keakraban yang mereka perlihatkan.
Longer
Pameran seni yang dihadiri banyak orang, berbagai kalangan datang berkunjung atau melihat-lihat, tapi tidak jarang para kolektor memborong benda seni yang mereka sukai.
Sepertinya Sai memang pelukis favorit Hinata, hal itu ditunjukan saat sesi wawancara, wanita muda itu sangat antusias bertanya semua hal tentang seni pada pria itu.
Dan Hinata begitu senang saat mendapat tanda tangan khusus dari Sai, sebuah kaos berwarna putih dengan terdapat gambar hati didepannya, kaos yang merupakan merchandise ditempat tersebut.
"Hey, Sayang, mau sampai kau menatap baju murahan itu?" Naruto mulai bertanya pada Hinata, karena Hinata masih saja memegang kaos putih yang terdapat tanda tangan Sai.
"Apa? Murahan? Ini sudah jadi barang mahal karena ada tanda tangan asli dari Sai," ucap ketus Hinata, saat ini mereka tengah duduk dikursi tamu tempat jamuan makan untuk para undangan, Sasuke dan Sakura pun bergabung bersama.
"Kalau kau mau aku bisa 'MENYURUH' Sai menanda tangani semua baju yang kau beli," ucap Naruto dengan candaan.
"Aku tidak mau, itu berarti bukan hasil jerih payahku," jawab Hinata, Sakura yang melihatnya hanya terkikik.
"Kau tahu, Hinata? Sai itu sahabat Naruto, jadi itu mudah saja untuk Naruto." Sakura ikut berbicara.
"Dan kau, Sayangku? Dari tadi kau diam saja, ada apa?" Sakura mulai bertanya pada Sasuke, tangan lentiknya menyentuh pipi pria tersebut.
"Tidak ada." Sasuke menepis pelan tangan Sakura dan menurunkannya.
"Apa kau masih marah tentang kemarin? Baiklah aku minta maaf, aku lupa ada rapat dadakan di kantor, jadi aku dan Naruto segera pergi tanpa memberi tahu kalian," sesal Sakura, dia juga melihat ke arah Hinata.
Lagi-lagi Sasuke seperti itu, suasana sedikit tegang karena Sasuke tidak memberikan respon yang baik.
'Ada apa dengan Sasuke?'
Hinata menatap Sasuke, wanita itu tahu, bahwa rekan kerjanya menyimpan sesuatu, tapi apa yang disembunyikan pria itu?
TBC
Chapter 2
Alur sedikit lambat, dan aku cuma bikin kurang lebih 1k word biar cepet update...
See you next chapter...
