Happy reading

'Free ...'

'Apa sebutan bagi mereka yang menganut prinsip kebebasan?'

'Tanpa batas, tanpa halangan.'

'Seolah tidak akan ada neraka setelah kematian.'

'Bebas tanpa aturan, bebas tanpa etika.'

'Apakah gaya hidup atau jati dirinya seperti itu?'

'Harta dan tahta bisakah menolongmu di hadapan Tuhan kelak?'

Longer

Sakura dan Naruto adalah pria dan wanita yang mengutamakan tentang kebebasan, independent mungkin kata yang lebih tepat untuk mereka.

Kekayaan, ketenaran, kecantikan atau ketampanan sudah mereka milikki sejak lahir, orang tua yang kaya dan populer menjadi perisai tersendiri bagi mereka, tidak akan ada orang yang berani memandang rendah.

Jalan hidup mereka seperti dimudahkan, tidak ada kendala dalam segala urusan, bahkan termasuk dengan cinta.

Seringkali kekayaan membuat orang lebih dihargai, penjilat adalah julukan bagi mereka yang selalu memanfaatkan situasi.

"Sexy, free and single, itu adalah statusmu sekarang, Sayang," ucap Naruto sambil mencium perpotongan leher Sakura.

"Ahh, ayolah Naruto aku sedang malas bermain!" jawab Sakura, wanita itu melepaskan pelukan Naruto di pinggangnya.

"Kenapa? Kau memikirkan Sasuke?" tanya Naruto dengan malas.

"Tentu saja, orang tuaku akan bertanya kenapa dia memutuskan pertunangan?"

"Dan kupikir hubunganmu dengan Hinata juga terancam," ucap Sakura.

"Sasuke dan Hinata berasal dari tempat yang sama, didikan dari orang yang sama," ucap Naruto tatapannya menerawang seolah memikirkan sesuatu.

"Ya, sebab itulah pemikiran mereka juga pasti sama," tambah Sakura.

"Dan mereka sudah bersama-sama sejak kecil, nyonya Tsunade pasti mendidik mereka dengan cara yang sama." Naruto duduk di kursi kebesarannya, saat ini mereka berada di kantor milik Naruto.

"Banyak sekali persamaan diantara mereka," ucap Sakura.

"Ah, kau cemburu, ya?" tanya Naruto setengah bercanda.

"Ch, kau juga merasa seperti itu, 'kan?" jawab Sakura dengan menyilang tangan di dada.

"Sejujurnya ... iya! Terkadang aku cemburu, tapi mereka berdua itu pendiam, dan aku percaya pada Hinataku," ucap Naruto.

"Ch, Hinataku? Menggelikan, kau memang bajingan, Naruto! Kau bersenang-senang denganku dan hatimu ada pada tunanganmu itu." Sakura mencibir ucapan Naruto.

"Ayolah, Sakura! Jangan bicara seperti itu, kau juga bermain denganku tapi tidak mau melepas Sasuke, bukankah itu sangat serakah?" Naruto membalas ucapan Sakura, membuat wanita itu juga terdiam.

"Kalau saja pemikiran mereka tidak kolot seperti itu, mungkin semua akan baik-baik saja."

"Tapi sudahlah kita bicarakan lagi nanti, oke?" ucap Naruto, pria itu kemudian melanjutkan pekerjaanya dan Sakura juga pergi ke butik miliknya yang berlokasi tidak terlalu jauh dari kantor Naruto.

Longer

Seorang wanita berwajah manis dan pria berwajah tampan, berjalan bersisian di taman kecil sebuah panti asuhan, mereka berdua tersenyum sambil menikmati indahnya taman kecil tersebut.

Bebatuan kecil yang dibuat seperti jalan setapak menjadi pijakan mereka saat ini, bunga dan dedaunan tumbuh subur, udara yang segar memanjakan tubuh mereka dengan rasa sejuk.

"Hmm, sudah lama kita tidak kesini." Sasuke tersenyum mendengar ucapan Hinata.

"Benarkan, Sasuke?" tanya Hinata dan Sasuke mengangguk untuk memberi jawaban.

"Tapi rasanya tempat ini menjadi sempit sekali," ucap Sasuke sambil mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru taman tersebut.

"Kau ini, bukan tamannya yang menjadi sempit, tapi tubuhmu itu yang semakin tumbuh menjadi pria dewasa." Hinata tertawa tapi tidak terlalu keras karena jarang sekali wanita itu bersikap demikian.

"Benar juga." Sasuke kembali tersenyum.

"Tapi aku benar, semakin banyak penyempitan lahan karena populasi penduduk meningkat sedangkan lahan yang tersedia tidak bertambah," ucap Sasuke panjang lebar.

"Wah, kau mau pindah profesi menjadi pegawai sensus negara?" Hinata tertawa lagi.

"Kau ini." Sasuke juga tersenyum.

"Profesi jurnalis membuat pengetahuan kita selalu bertambah," jawab Sasuke.

Memang benar setiap waktu Sasuke dan Hinata mendapat pengetahuan baru karena pekerjaan mereka adalah meliput dan menggali informasi dalam segala hal. Mulai dari religi, kehidupan, politik, kebudayaan, makanan, tempat wisata, kedokteran, bahkah hal-hal aneh yang tidak masuk akal atau hal gaib dan misteri lainnya.

"Apa kau baik-baik saja, Sasuke?" Hinata bertanya dengan menatap Sasuke.

"Hm?" Sasuke yang sedang tersenyum juga membalas tatapan Hinata setelah sebelumnya melihat kesekeliling.

"M-Maksudku kau baru saja- ..." Hinata berkata ragu.

"Aku mengerti," jawab Sasuke.

"Entahlah, mungkin untuk awalnya terasa ada yang hilang, tapi percaya atau tidak aku merasa lega." Tentu Sasuke mengerti, Hinata bertanya tentang perasaannya setelah memutuskan pertunangan dengan Sakura.

"Tapi kenapa?" Hinata kembali bertanya.

"Akan kujelaskan sedikit," jawab Sasuke.

"Saat kau menyayangi seseorang, rasa khawatir, cemas, rindu, dan cemburu akan bercampur aduk saat orang itu jauh darimu, hasilnya itu sangat menganggu pikiranmu, dan tidak membawa ketenangan."

"Berbeda halnya jika kau berada dekat dengan orang itu. Bahagia, haru juga menyatu membawa perasaan senang, tapi hal itu membuatmu seperti orang bodoh, terkadang kau menjadi orang lain karena ingin terlihat baik di mata orang itu."

"Dan jika kau melepas itu semua, kau akan merasa lebih tenang, paling tidak beban pikiranmu akan banyak berkurang." Sasuke berkata panjang lebar, Hinata mendengarkan saja, sepertinya itu adalah kalimat terpanjang yang Sasuke ucapkan selama hidupnya.

"Dan setelah itu kau hanya perlu mencintai dirimu sendiri sebelum menemukan cinta yang baru," tambah Sasuke.

Longer

Meja dan kursi tempat anak-anak makan terisi penuh, ada sebagian balita di antara mereka, sedikitnya ada sekitar dua-puluh orang anak yang menikmati atau lebih tepatnya menatap makanan yang tersaji di atas meja.

"Anak-anak hari ini kita punya banyak makanan, kalian harus berterima kasih pada kak Hinata dan Kak Sasuke yang sudah membawa makanan ini!" ucap seorang wanita paruh baya yang mengelola panti asuhan tersebut.

"Terima kasih, Kak Hinata!!"

"Terima kasih, Kak Sasuke!!"

Semua anak serempak mengucapkan terima kasih terkecuali anak-anak yang masih balita, mereka hanya melihat heran dan bahkan ada yang terkejut karena suara anak lainnya yang berteriak.

"Nyonya Tsunade, sepertinya kami terlalu tua untuk dipanggil kakak!" ucap Hinata setengah berbisik pada wanita paruh baya yang duduk di kursi utama, Sasuke menahan tawa mendengar ucapan Hinata.

"Apanya yang tua? Kalian baru berusia 25 tahun," jawab wanita bernama Tsunade.

"Sebelum makan ayo semua kita berdoa terlebih dahulu supaya makanan ini menjadi berkah dan membuat kalian sehat!" Hinata berkata pada semua anak, wanita itu memimpin doa untuk anak-anak panti tersebut.

Sasuke dan Hinata berada di ruang tamu panti asuhan untuk berbincang dengan nyonya Tsunade tentang perkembangan panti asuhan yang pernah menjadi tempat tinggal mereka dulu.

"Semua berjalan dengan baik, terima kasih karena kalian selalu membantu kami di sini!" ucap Tsunade dengan senyum tulus.

"Kuharap kalian cepat menikah dan membawa pasangan kalian yang selalu sibuk itu!" Tsunade berkata dengan sedikit tawa, Hinata melirik ke arah Sasuke.

"Nyonya memangnya kapan Kak Hinata dan Kak Sasuke akan menikah?" Dua orang anak kembar berusia delapan tahun tiba-tiba masuk ke ruangan tersebut.

"Hey, kalian menguping? Itu tidak baik, aku tidak mengajari kalian seperti itu!" Tsunade terlihat mengajari kedua anak tersebut.

"Tidak nyonya, kami hanya kebetulan lewat saja." Salah satu di antara anak itu menjawab.

"Kaori, Kaoru, sebaiknya kalian keluar dulu, ya!" Sasuke berucap pada anak kembar tersebut, Sasuke menyentuh bahu kedua anak perempuan tersebut.

"Iya, tapi katakan dulu kalau benar kalian menikah nanti, jangan lupakan kami, agar kami bisa makan enak lagi," ucap Kaori.

"Hey, Kaori, bukan seperti itu! Semoga kakak cepat menikah, kami semua di sini akan senang sekali karena kalian sangat serasi," ucap Kaoru, Hinata merasakan wajahnya memanas karena ucapan anak itu.

"Benarkah??" tanya Sasuke, Hinata mengalihkan tatapan pada pria itu, sedangkan anak bernama Kaoru hanya mengangguk.

"Tentu saja, semua orang bilang begitu!!" Sasuke tertawa mendengar ucapan anak itu.

"Kalau begitu doakan kami, ya?" pinta Sasuke sambil mengusap rambut panjang anak tersebut.

"Hey, Sasuke!!" ucap Hinata setengah merajuk dengan suara yang berbisik.

"Tidak apa mereka hanya anak-anak, dan mereka hanya mengatakan apa yang mereka lihat," jawab Sasuke tanpa beban.

Longer

'Love ...'

'Apa itu cinta?'

'Hanya sebuah perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.'

'Bisakah kita hidup dengan mengandalkan kata tersebut?'

'Seringkali cinta hanya memberi begitu banyak kepahitan dan sedikit kebahagiaan.'

'Cemburu, marah, kecewa, sedih, gelisah, semua karena cinta.'

'Satu kata penyebab semua timbulnya perasaan di dunia.'

'Satu kata yang bahkan Tuhan bisa memaafkan hamba yang berdosa.'

'CINTA'

Tbc

Chapter 4 ...

Aihh alurnya bener-bener lelet, tapi mungkin ada kejutan di chapter depan ...

Yang sudah vote dan komen terima kasih banyak, tetep tunggu kelanjutannya ya ..

See you next chapter...

I Love u