naruto © masashi kishimoto.
the writer claims that there is no material profit taken in the making.
sequel to a partner, prequel to a mother.
Sakura lekas-lekas memasukkan laptopnya ke dalam laci, menguncinya, kemudian memasukkan tablet ke tasnya, dan membereskan meja ala kadarnya. Ia pun menuju ke toilet, kemudian dengan terburu-buru kembali ke tasnya lagi karena pouch yang harus ia bawa tertinggal.
Ia memberi touch up pada wajahnya dengan terburu-buru, tidak punya waktu lagi untuk membersihkan riasan dan mengulangnya lagi dari awal agar terlihat lebih segar. Ia hanya memastikan tidak ada tanda bahwa tadi ia sempat ketiduran di mejanya, di atas tumpukan kertas dan blazernya.
Tidak ada orang lagi di koridor juga di lift. Hanya ada dua orang di lobi lantai dasar dan Sakura menyapa mereka selintas lalu. Begitu ia keluar, menjejakkan kaki di depan pintu dan masih mengatur napasnya, mobil Sasuke memasuki halaman depan dan langsung menuju ke hadapannya. Pria itu sedang mengurus sesuatu di Yokohama sejak pagi, Sakura mengira dia akan kembali pada jam makan siang, tahu-tahu urusannya berlanjut hingga sore.
Sakura menghela napas lega. Tepat waktu.
"Ibu baru landing sepuluh menit yang lalu," ucap Sasuke begitu Sakura menutup pintu. Dia mengamati gadisnya sesaat. "Kau baru berlari."
Sakura mengembuskan napas yang panjang dan berat. Ia merasa baru bisa mengumpulkan udara dengan benar sekarang. Jarinya mengatur pendingin di mobil Sasuke seperti miliknya sendiri, mengaturnya ke suhu terendah. "Yeah. Karena kupikir aku tidak mau jadi calon menantu yang terlihat jelek karena terlambat di hadapan calon ibu mertuanya. Kukira kau sudah menjemput ibumu."
"Penerbangannya ditunda."
Bibir Sakura membentuk huruf o tanpa suara. Sasuke memutar mobil, menuju jalan dan melanjutkan perjalanan menuju bandara.
"Itachi tidak ikut pulang?"
"Dia akan menyusul. Entah apa yang harus dikerjakannya."
Sakura mengangguk-angguk. Ia menoleh. "Kau tidak melewatkan makan siang, kan?"
Sasuke mengedikkan dagu ke arah kursi belakang. Di sana ada kotak bento take away dari sebuah restoran cepat saji yang telah kosong, tidak ditutup sempurna karena Sasuke menaruh sumpitnya di dalam. Sakura tertawa kecil. "Dan kau akan menjemput ibumu dengan benda itu di belakang. Kau juga ingin mengatakan pada ibumu bahwa kau makan siang dengan benar, kan?"
Ekspresi Sasuke mengatakan segalanya tentang jawaban yang diinginkan Sakura. Bibirnya menggumam, "Ibu menanyakan hal yang sama beberapa jam yang lalu."
Sakura ingin tersenyum, tetapi ia menahannya demi ego Sasuke. Menjadi anak bungsu berarti menjadi pusat perhatian semua orang, seakan-akan dia tak pernah lolos untuk menjadi dewasa. Lelaki di sekitarnya menganggapnya seperti anak remaja, dan perempuan di sekitarnya akan merawatnya seperti anak-anak. Sasuke sekarang memiliki masing-masing dua sosok seperti itu di sekelilingnya dan Sakura mengerti Sasuke tak akan suka membahasnya.
"Kita langsung makan malam dengan Ibu nanti."
"Hmm. Di mana?"
"Reservasi di tempat biasa saja."
"Oh. Restorannya belum dihubungi, kan? Aku pesan tempat sekarang."
"Mm."
Baru saja Sakura meletakkan ponsel di telinganya, Sasuke buka suara lagi, "Orangtuamu sibuk, tidak?"
Sakura mengakhiri telepon sebelum tersambung. "Eh? Kurasa tidak. Kecuali Ayah. Kadang-kadang Ayah pulang agak malam, tapi Ibu, jika tidak ada acara dengan teman-temannya, biasanya selalu di rumah saat malam."
"Ajak mereka. Pesan menu paket untuk lima orang."
"O ... oke. Aku tanya ibuku dulu."
Yang bisa datang hanya Mebuki, Kizashi sedang menjamu tamunya sendiri. Jadilah makan malam itu sebuah pertemuan ibu-ibu yang punya segudang ceritanya masing-masing. Cerita lebih banyak daripada makanan yang dihidangkan.
Sakura hanya bergabung di pembicaraan sesekali, membiarkan ibunya dan ibu Sasuke mengobrol sesuka hati mereka. Hal itu dilakukannya hanya agar Sasuke tak merasa begitu tersisihkan, ia lebih menikmati makanannya ketimbang menimpali ibunya.
Ia memandang Sasuke sebentar, yang sudah selesai dengan makanannya. Dia adalah orang yang bisa makan dengan sangat cepat—sekali kita mengalihkan pandangan dia bisa melahap separuh isi piringnya dalam diam. "Hei."
"Mm."
Perempuan itu setengah berbisik, "Rasanya ibumu jadi lebih sering ke Tokyo, ya. Bulan ini sudah dua kali, kan?"
Sasuke memiliki jawaban untuk itu, tetapi terbatas pada asumsinya. Dia menatap ibunya sebentar, yang sedang mendengarkan dengan saksama cerita Mebuki tentang salah satu mantan atasannya yang sekarang bertugas di kantor konsulat Jepang di Amerika. Tampaknya orang itu adalah kenalan bersama.
"Ibu kita tampaknya cocok." Dia mengalihkan dirinya dari menyuarakan asumsinya barusan.
"Hmmm." Sakura melirik. "Yeah ... tapi kurasa aku harus minta maaf karena ibuku tampaknya mendominasi pembicaraan."
"Ibu tampak senang-senang saja." Sasuke menyeka mulutnya. "Itu yang selalu dia lakukan dari dulu. Menjadi pendengar setia."
"Tapi ayahmu bukan orang yang suka bicara."
"Di situlah poinnya." Mata Sasuke mencari-cari pelayan, menerka kapan mereka akan mengantarkan menu penutup, meski dia hanya menginginkan potongan buah saja. "Ayah bukan pembicara yang baik. Ibu yang mengambil peran bicara di rumah. Sehingga di luar, dia lebih ingin jadi pendengar."
Sakura mengangkat alis. "Kau menilai orangtuamu dengan nyaris sempurna. Keren sekali."
Sasuke pura-pura mendengkus. Sakura kembali makan, dan Sasuke kembali menunggu potongan buah sebagai penutup makan malamnya. Dia menemukan bahwa satu menu utama memiliki potongan tomat sebagai garnis, dia mengambilnya tanpa ragu-ragu.
"Oh, ya, Mebuki-san, omong-omong," Mikoto melirik pada Sasuke dan Sakura bergantian. "Sepertinya aku harus meminjam anakmu lagi untuk urusan ke luar negeri. Berhubung dia punya pengalaman di organisasi, aku yakin dia yang paling mampu melobi calon partner kami yang baru. Sasuke sudah mengonsultasikan program baru mereka dengan suamiku, dan setelah kami pertimbangkan baik-baik, Sakura adalah orang yang tepat."
"Silakan! aku merasa sangat tersanjung kau sangat mengandalkan skill Sakura—yah, kautahu, dia dulu sangat pemalu, waktu Sakura kecil aku sempat takut dia tidak akan punya teman dan pergaulan yang luas—"
"Ibu, please ..."
Mebuki tertawa kecil, "Silakan, Mikoto-san, aku yakin kau bisa mengandalkannya. Apakah dia akan berangkat sendiri? Kurasa lebih baik jika Sasuke juga pergi untuk menjaganya."
Telinga Sasuke memerah.
"Ya, memang kali ini aku akan mengirim mereka berdua."
Sasuke menaruh kunci mobil di wadah kecil di nakas ruang tengah. Mikoto menutup pintu, dan dari sisi itu Sasuke bisa mengetahui ibunya sedang memandangnya. Dia menghitung sampai tiga,
"Sasuke."
Benar, kan.
"Ya."
Mikoto berlalu, melepaskan blazernya dan menaruhnya bersama tasnya di atas meja. "Mebuki sangat menyenangkan, ya. Terakhir kali aku bicara dengannya adalah saat dia bersama suaminya, dan yang sering dia lakukan hanyalah menimpali selera humor Kizashi yang ... ya, unik." Mikoto mengangkat bahu. "Tapi sekarang, ketika bicara langsung dengannya sebagai sesama wanita, aku merasa dia orang yang menyenangkan."
"Syukurlah kalian cocok," komentar Sasuke. Intuisinya mengatakan bahwa Mikoto ingin mengarahkan pembicaraan ini kepada suatu topik. Dia mencoba memancing. "Ibu jadi lebih sering ke Tokyo sekarang."
"Ah, begitulah." Senyum Mikoto penuh arti.
"Dan aku bukan anak bungsu yang harus selalu Ibu awasi."
"Memang bukan itu." Mikoto tertawa kecil. "Aku mau sering-sering ketemu Sakura."
"Huh."
Mikoto tertawa kecil. "Ibu serius. Kautahu, Ibu menyayangi Sakura seperti anak Ibu sendiri."
Kan, pikir Sasuke.
"Kami masih butuh waktu, Bu."
"Ibu tahu. Dan Ibu tidak ingin kau berpikiran bahwa Ibu mendesak kalian. Ibu ingin kalian mengatur langkah kalian sendiri. Seperti kalian menikmati waktu kalian berdua, Ibu juga ingin menikmati waktu dengan Sakura. Namun Ibu tidak bisa bohong, Ibu ingin kalian memastikan apa yang ingin kalian jalani ke depannya."
"Harus cepat?"
"Tidak juga. Sasuke, seperti yang Ibu bilang, Ibu tidak ingin mendesak."
"Kalau begitu," Sasuke memandang ibunya sebentar sebelum memasuki kamar. "Terima kasih karena sudah mengerti."
Dan di sinilah ujung dari pembicaraan di makan malam itu: Narita, sepasang tiket penerbangan ke London, dan Mikoto yang melambaikan tangan pada mereka berdua di pintu keberangkatan.
Mereka berdua berhadapan dengan keadaan yang—anehnya—canggung. Sasuke tidak mengerti mengapa Sakura tiba-tiba berdiri di hadapannya ketika Mikoto tidak lagi berada di area pandang mereka. Pria itu mengangkat alisnya.
"Ibumu seperti mengantarkan kita untuk bulan madu, dan bukannya perjalanan bisnis."
Sasuke nyaris tersedak ludahnya sendiri. What? Dia menggeleng-geleng. "Ada-ada saja yang di dalam kepalamu itu," ucapnya sambil menyentuh kening Sakura dengan dua jarinya, lalu berbalik dan menyeret kopernya.
"Mmmmh kau ini, Sasuke-kun," Sakura berjalan cepat, mengimbangi langkahnya sambil mengusap keningnya. "By the way—oh, lihat! Shizune-san! Oh my God!"
Pandangan Sasuke mengikuti Sakura yang langsung berlari meninggalkannya, menuju seorang perempuan berambut hitam pendek yang datang dari arah lain, menuju terminal yang sama dengan mereka.
"Lho, Sakura! Hei!"
Sakura menubruknya dengan pelukan, nyaris membuat Shizune terjungkal. Perempuan itu tertawa kecil sambil menepuk-nepuk punggung Sakura.
"Kangen!" Sakura melepaskan pelukannya dan memegang kedua tangan Shizune. "Shizune-san mau ke mana? Sekarang di mana? Sudah benar-benar kembali ke Jepang? Kau kembali bekerja di Senju?"
"Hei, satu-satu, dong." Shizune menepuk pelan kepala Sakura.
Sasuke menghampiri Sakura, dan untuk sesaat, dia beradu pandang dengan Shizune.
"Oh, Shizune-san, perkenalkan. Uchiha Sasuke, pacarku."
Gelar pacar masih membuat telinga Sasuke memerah, meski sudah lebih dari enam bulan berlalu dan mereka sudah terbiasa dengan satu sama lain dengan hubungan spesial itu. Ketika Sakura menyebutnya di depan orang lain, hal itu masih membuat Sasuke belum terbiasa.
"Uchiha?" Shizune melirik Sakura sambil menjabat tangan Sasuke dengan ringan. "Benar-benar dari Uchiha?"
"Kita punya banyak hal untuk diceritakan pada satu sama lain, Shizune-san," ia tersenyum, "aku bekerja di Uchiha sekarang. Dan kau belum menjawab pertanyaan-pertanyaanku."
"Ah, ya." Shizune mulai berjalan, Sakura melangkah di sampingnya. Tinggi mereka hampir sama, tetapi di mata Sasuke, Shizune lebih terlihat seperti sosok kakak yang tidak pernah dimiliki Sakura. "Aku akan ke London—dan, ya, sekarang aku tidak lagi di Senju."
"Kau benar-benar menepati kata-katamu." Nada bicara Sakura terdengar tidak nyaman.
"Yah, begitulah. Seperti yang kita percayai dulu, Senju tidak lagi kondusif sejak Nona Tsunade angkat kaki."
"Kupikir kau mengejarnya dan ikut bepergian dengannya."
"Tidak. Aku tidak bisa mengimbangi langkahnya yang bisa berpindah negara ke negara dalam waktu singkat itu." Shizune tertawa singkat. "Lagipula, aku bukan seperti beliau, uang tidak mengalir sendiri ke rekeningku."
Mereka sama-sama tertawa. "Jadi, sekarang kau di mana, Shizune-san?"
"Aku di laboratorium universitas swasta milik keluarga Hyuuga. Kadang-kadang ke laboratorium rumah sakit swastanya juga ... mereka krisis analis. Yang senior sudah terlalu tua dan staf mudanya butuh bimbingan. Momentum yang pas."
"Hmm. Kudengar mereka memang butuh orang-orang baru. Hyuuga kan terkenal dengan ... yah, kita tahu. Mereka mengandalkan tetua yang sudah berlalu zamannya."
"Dan aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana mereka butuh pembenahan." Wajah Shizune seperti meringis. "Oke, kurasa cukup dariku. Sekarang, kau bagaimana? Di Uchiha, hm?" Ia melirik pada Sasuke sebentar, lalu tersenyum dan mengangguk satu kali. "Kulihat, selain dapat pekerjaan, kau juga dapat pasangan."
Sakura tersipu. "Yeah, momentum yang tepat. Kami adalah partner. Aku dan dia sama-sama di bagian human resources. Ceritanya cukup panjang, kurasa kita harus lebih sering ketemu setelah ini untuk cerita banyak hal. Ke London untuk urusan pekerjaan, ya?"
"Ya. Ada seorang fellow researcher yang harus kutemui untuk riset yang sedang kulakukan di laboratorium universitas."
"Tentang?"
"Sori, Sakura, confidential," Shizune mengangkat bahu. "Baru berjalan, dan Hyuuga setuju untuk memberi kucuran dana tambahan. Awalnya aku hanya ingin bicara jarak jauh, tetapi ternyata butuh pertemuan khusus."
"Wah, good luck!" Sakura menepuk lengan Shizune lembut. "Aku senang mendengarnya—kau masih berada di bidang yang kau senangi."
"Keberuntungan, kurasa—sebentar," Shizune berhenti sebentar untuk mengambil ponselnya yang berdering semakin keras dari sakunya. "Ya, halo. Iya, aku sudah di bandara. Sori, buru-buru, tidak sempat bikin sarapan. Oh, iya, kalau kau tidak sibuk, di depan pintu kamar mandi ada tas. Iya, itu, yang hijau. Isinya cucian kotorku, hehe, sori. Tolong antarkan ke laundry, ya? Thanks. Selamat bekerja, Kakashi."
Sakura tersenyum padanya dan Shizune sudah mengerti.
"Sori, aku menguping. Kau sudah tinggal dengan seseorang?"
"Bukan salahmu. Aku bicara di tempat seperti ini ya pasti kau akan mendengarnya." Shizune tertawa kecil. "Bukan, bukan tinggal bersama. Cuma ... teman. Ya, teman."
"Yeah, I see. Teman hidup, mungkin?"
Shizune mengerutkan hidungnya. "Rumit. Dan kurasa waktu akan menjawabnya. Kami melangkah pelan-pelan—pelan-pelan adalah sesuatu yang kita butuhkan di usia saat semuanya sangat rumit dan memburu, kan?"
Secara naluriah, Sakura melirik pada Sasuke di sampingnya, dan pria itu juga meliriknya.
Pelan-pelan, huh? Sasuke melempar pandangan jauh-jauh. Sejenak, dia memikirkannya dan menganggap bahwa mungkin dia bisa setuju dengan apa yang dikatakan Shizune. Dia dan Sakura memang masih butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain, membiasakan diri, dan mengetahui apa yang mereka inginkan di depan sana. Sasuke khawatir Sakura ingin lebih banyak waktu mengenal dirinya.
Itu membuatnya kembali memikirkan pertanyaan ibunya sebelum mereka berangkat.
Sakura berteman dengan orang yang baik, yang punya pola pikir baik. Dia bersyukur Sakura dikelilingi oleh orang-orang seperti itu, sehingga pola pikirnya juga pasti mengarah ke hal-hal seperti itu.
"Apa kita bisa ketemu di London, Shizune-san?"
"Berapa lama kau di sana? Tujuanku memang ke London, tapi jadwalku cuma setengah hari di sana, setelahnya aku harus ke Glasgow. Malah mungkin, kalau orang yang kutemui di London tidak bisa menyesuaikan jadwalnya, kami harus bertemu di Glasgow saja."
"Tiga hari. Sulit, ya, sepertinya ..."
"Yeah. Tapi kita bisa banyak-banyak ketemu di Tokyo nanti, kok. We must keep up." Shizune menepuk bahu Sakura. "Sepertinya kita satu penerbangan. Kursimu nomor berapa?"
Sakura memperlihatkan boarding pass-nya.
"Wah, sayang sekali, kita jauh."
"Aku bersedia bertukar," Sasuke tiba-tiba masuk ke pembicaraan, membuat kedua wanita itu sontak menatapnya kaget. "Kalau ... kalian ingin bicara di perjalanan. Aku akan bicara pada pramugari."
"Oh, Uchiha-san, aku tidak bermaksud mengganggu kalian berdua. Tidak apa-apa, kami masih punya banyak waktu setelah ini."
Sakura tidak mengatakan apa-apa padanya, cuma melempar senyum, membuat Sasuke akhirnya tidak lagi mendorong idenya lebih jauh.
Sasuke menggosok rambutnya, berjalan pelan keluar dari kamar mandi. Baru saja dia ingin mempersilakan Sakura untuk memakai kamar mandi, tetapi perempuan itu sedang bicara di telepon, duduk di ujung tempat tidur.
"Ya, kami baru sampai di hotel, Mikoto-san."
Ibu.
"Sasuke-kun baru selesai mandi." Ia melirik pada Sasuke. "Setelah ini kami ingin makan di restoran hotel saja. Eh? Benarkah? Enak, ya? Nanti akan kami coba ... masih belum ingin keluar. Hehe, iya. Capek, ingin tidur dulu."
Sasuke duduk di samping Sakura. Sakura meliriknya. "Ingin bicara dengan Sasuke-kun? Oh, baiklah. Ya, sampai nanti, Mikoto-san. Terima kasih. Aku akan meneleponmu nanti."
Sasuke mengangkat alisnya ketika mereka berdua beradu pandang. "Kata ibumu, dia cuma mau tahu kau baik-baik saja."
"It's okay."
"Mikoto-san memberi tahu restoran favoritnya di sini, besok setelah pertemuan kita coba ke sana, yuk."
"Ya. Ibu pernah mengajakku ke sana."
"Oh ya? Tunjukkan padaku menu favoritnya, ya? Siapa tahu aku bisa belajar resepnya dan membuatkan itu sebelum ibumu pulang ke New York."
"Ibu ... kurasa tidak akan ke USA dalam waktu dekat."
"Lho? Karena apa?"
"Ibu betah di Tokyo."
"Oh, begitu ..."
"Kau tahu alasannya?"
"Karena kakakmu lebih sering di luar sekarang? Dan harus ada seseorang yang menjagamu?"
Sasuke menggeleng. Lalu dia mengedikkan dagu ke arah sang pacar. Sakura tidak mengerti, lalu menunjuk pada wajahnya untuk meyakinkan diri. Sasuke mengangguk.
"Aku?"
"Ibu sangat menyukaimu. Kurasa itu jelas sekali bahkan sebelum kita bekerja bersama."
"Ah ..." Sakura tertunduk, lalu ia lekas-lekas berdiri. Sasuke bisa melihat rautnya yang tersipu. "Aku mandi dulu, ya."
Matanya masih mengikuti Sakura yang berjalan menuju kamar mandi.
Seharusnya dia tak lagi terkejut melihat Mikoto dan perhatiannya pada Sakura, tetapi rangkaian pembicaraan dimulainya dari kedatangan ibunya, pertemuan di bandara dengan Shizune, seolah-olah menyusun momentum untuk membangkitkan pertanyaan yang selama ini disingkarkan Sasuke.
Saat ini mereka memang sedang melakukan perjalanan bisnis, tetapi seolah-olah Sakura sekarang lebih menjadi bagian dari keluarganya, dan bukan bagian dari keluarganya sendiri.
Mungkin terlihat seperti bagian dari bisnis keluarga, tetapi sesungguhnya lebih dari itu.
Sasuke tidak suka keramaian, bahkan hal itu sudah tertulis sangat jelas di keningnya. Namun, apa yang tidak akan dia lakukan untuk Sakura? Yang menikah adalah sahabat dekat Sakura, dan tidak mungkin Sasuke akan membiarkan pacarnya datang sendiri dan semua orang akan 1) mempertanyakan status mereka, 2) oh, jadi anak Uchiha itu begitu, ya? (betapa besar nama baik Uchiha yang ditanggungnya), dan tentu saja: 3) Sasuke tidak ingin mata para undangan lelaki akan mengikuti gerak-gerik Sakura.
Walaupun di sepanjang acara, Sakura adalah seksi sibuk dan lebih sering meninggalkan Sasuke sendirian. Sakura membantu tim fotografi untuk mengambil foto-foto yang bagus bagi mempelai dan keluarganya, mengobrol dengan mempelai, menyapa undangan-undangan yang lain.
Dan baru saat inilah ia benar-benar duduk di samping Sasuke sambil menekan-nekan tisu dengan pelan di sekitar keningnya.
"Hei. Sori."
"Perlu minum?"
"Boleh."
Sasuke beranjak ke meja hidangan, lalu kembali dengan minuman buah untuk Sakura.
Baru saja Sakura meminumnya, mempelai perempuan berdiri dan pembawa acara mengumumkan sesuatu yang membuat sebagian besar undangan, terutama yang perempuan, berdiri dan berkumpul,
"Sasuke-kun, ayo!" Sakura hampir tersedak minumannya, menaruh gelasnya dengan terburu-buru dan nyaris menjatuhkannya dari meja, lantas menarik tangan Sasuke.
"Untuk apa—"
"Seru-seruan saja!"
Sasuke masih bisa menoleransi keramaian saat dia tak tenggelam di dalamnya. Namun ketika dia harus berada di dalam sana? Big no.
"Ino memberiku challenge kalau aku berhasil menangkap buketnya, dia akan memberiku hadiah!"
"Kau saja, aku tidak—"
"Supaya seru, Sasuke-kun, ayo!"
Sasuke sudah memasuki kumpulan undangan yang antusias. Di depan sana, Ino, sahabat Sakura, sudah bersiap melempar buketnya bersama suaminya. Ia beberapa kali memainkan buketnya tanpa benar-benar melempar, membuat mereka yang menanti memekik tidak sabar.
"Ke depan lagi, Sasuke-kun!"
"Tidak perlu—"
Sakura tidak lagi bisa menyeretnya karena mereka terjebak di tengah-tengah. Sasuke seperti orang kebingungan, dan Sakura mencari-cari celah.
"Ayo kita ke—Sasuke-kun?!"
Semua terjadi sekelebatan mata, Sasuke ingin menghindar karena instingnya sangat peka ketika dia diapit sesuatu yang sangat tidak disukainya. Dia menjadi tiga kali lipat lebih awas, terlebih ketika sesuatu yang datang secara mendadak ke arahnya datang menyerang. Tangannya secara refleks menangkap sesuatu yang menyerangnya itu—
—yang ternyata adalah sebuah buket bunga.
Sasuke tercengang ketika semua mata tertuju padanya. Samar-samar dia bisa mendengar Ino memekikkan nama Sakura, lalu bertepuk tangan.
Orang-orang di sekelilingnya juga riuh memberinya selamat atau kecewa karena mereka tidak mendapatkannya. Sasuke benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, sehingga dia pun akhirnya menyerahkan buket tersebut kepada Sakura.
Sakura menerimanya dengan senyuman terbaik yang pernah Sasuke lihat. Sejenak, dia tidak lagi peduli dengan keramaian dan orang-orang yang bersiul di sekelilingnya. Dia hanya melihat Sakura.
Batinnya mengetuk logikanya: haruskah segera?
Sasuke seolah bisa melihat gaun seperti yang Ino pakai pada Sakura yang sedang memegang buket itu sambil tersenyum semringah padanya.
Haruskah?
Lamunannya buyar ketika Ino memanggil Sakura lagi, kali ini lebih keras dan Sakura menjawabnya sambil melambaikan buket tersebut ke arah Ino. Ino memberi isyarat agar Sakura mendekat padanya, mungkin untuk mengajak berfoto. Sakura mendekati Ino dan mendekap buket tersebut seakan-akan benda tersebut adalah bagian terpenting dalam hidupnya.
Sasuke menghela napas sebelum Ino juga melambaikan tangan padanya. Di sudut lain, fotografer sudah bersiap.
Jika ini adalah momen yang biasa-biasa saja, Sasuke akan menolak terang-terangan. Namun sekarang, dengan Sakura yang sebahagia itu, dan apa yang barusan mereka dapatkan, Sasuke tak dapat menolak.
Untuk sekali dalam beberapa waktu; Sasuke mengizinkan dirinya untuk menjadi sentimental: dia berjalan menuju lokasi mempelai seolah-olah dirinyalah yang memiliki momen itu di hari ini.
Mikoto baru saja mengusir Sasuke dari dapur ketika microwave berbunyi.
"Apa itu?" Mikoto sedang mencuci tangannya, melihat Sakura mengeluarkan sebuah pai besar dari dalam alat tersebut.
Sakura tersenyum. "Kudengar dari Sasuke, Mikoto-san sangat suka pot pie dari restoran yang Mikoto-san tunjukkan di London." Sakura meletakkan wadah itu ke atas meja. Ia sudah berada di apartemen Sasuke sejak pagi, Mikoto sedang pergi menemui teman-temannya dan ia sengaja menyiapkannya lebih dulu.
"Ah, hebat sekali!" Mikoto meletakkan tangannya di bahu Sakura. "Kau luar biasa, Sakura. Aku akan sangat menyukai ini."
"Jangan bilang begitu sebelum mencicipinya, Mikoto-san." Sakura tersenyum canggung. "Aku belum terlalu bisa memasak, jadi aku terpaku pada resep, pengalamanku masih kurang ..."
"Tidak apa-apa, dari kesungguhanmu aku yakin rasanya pasti enak." Mikoto tersenyum padanya sambil menyeka tangannya dengan tisu. "Sementara menunggu ini dingin, ayo kita bikin sesuatu."
"Siap," Sakura mengangguk. "Kulihat ada banyak ikan di lemari es, Mikoto-san, ayo kita buat sesuatu dari ikan."
"Aku punya ide yang sama. Ayo." Mikoto menuju lemari, dan Sakura ke lemari es untuk menyiapkan bahan-bahan. Sakura juga berinisiatif untuk mencuci sayur-sayuran yang ia ambil bersamaan dengan ikannya, sementara Mikoto tampak sibuk dengan ponselnya untuk mencari-cari resep yang menarik.
"Sakura."
"Ya, Mikoto-san?" Sakura meniriskan sayur-sayuran dan menaruh wadahnya di atas konter, beralih untuk mengambil ikan dan membersihkannya.
"Kita bicara dengan santai saya, ya, jangan ada tekanan atau perasaan yang berat." Senyumnya menenangkan. "Ini soal kau dan Sasuke."
"Oh ... silakan, Mikoto-san. Aku akan mendengarkan."
"Sudah berapa lama kalian pacaran, hm? Setengah tahun?"
"Ya, kurang lebih."
"Aku tidak tahu perspektif anak muda sekarang, bagaimana mereka memandang hubungan jangka panjang ... tapi apakah kalian sudah memikirkan mengenai pernikahan?"
Sakura menutup keran airnya sehingga tersisa keheningan yang cukup canggung di dalam dapur untuk beberapa saat.
"Atau mungkin pertunangan? Mungkin aku terlalu terburu-buru untuk anak muda zaman sekarang." Mikoto tersenyum kecil. "Aku dan ayah mereka berteman dekat satu bulan, kemudian hubungan kami jadi serius setelah tiga bulan, dan dia melamarku tepat di bulan kelima. Relatif cepat, ya?"
Sakura berharap Mikoto tidak mendengarnya menghela napas panjang karena rasa cemasnya. "Aku boleh bertanya, Mikoto-san?"
"Silakan, Sakura. Anggaplah aku ibumu sendiri, kau bisa menanyakan apapun padaku."
Sakura menunduk. "Apa yang bisa membuat Mikoto-san dan Fugaku-san yakin?" Helaan napas. "Aku menyayangi Sasuke-kun, sungguh. Aku tidak meragukannya—tapi aku masih belum berani memikirkan banyak hal dalam jangka panjang karena aku mengerti sifat Sasuke-kun. Dia cukup tertutup dan dingin pada beberapa sisi, jadi mungkin dia butuh waktu untuk membiasakan diri dengan orang baru dalam hidupnya. Aku tidak ingin terburu-buru."
Mikoto menyunggingkan senyum lagi. "Jadi ini lebih tentang anakku, hm?"
Sakura mengangguk pelan. Ia mengangkat pandangannya, menatap Mikoto dan sorot mata penuh perhatiannya. "Aku sendiri bersedia untuk berbagai kemungkinan—aku sangat menyayangi Sasuke-kun dan menemukan bahwa dia adalah orang yang nyaman dan bisa membuatku tenang. Dia perhatian dengan caranya sendiri, dan keluarganya sangat hangat padaku, membuatku merasa memiliki keluarga baru yang menyenangkan." Sakura membalas senyuman Mikoto.
Ia melanjutkan lagi, "Aku sudah mengalami banyak hal, aku sudah bepergian ke berbagai tempat, pengalaman pekerjaanku juga kuanggap sudah ... ya, banyak. Saat ini, apalagi yang ingin kuketahui, kukejar? Partner hidup, Mikoto-san. Aku sudah mengalami masa-masa sebagai perempuan yang mandiri dan itu membuatku puas, sekarang aku ingin tahu bagaimana rasanya membagi hidup dengan seseorang ..."
Kedua tangan Mikoto berada pada bahu Sakura. "Aku terkesan, Sakura. Aku setuju, mungkin Sasuke butuh waktu. Namun, siapa yang tahu, mungkin dia juga butuh dorongan?"
Sakura berkedip lebih cepat. "Ah, soal itu ..."
"Dia hanya mau mendengarkan beberapa orang." Mikoto menepuk pelan pundak Sakura. "Aku ingin mendengarkan pendapatnya setelah ini."
"Ya." Sakura mengangguk, kemudian menggenggam salah satu tangan Mikoto. "Jika Mikoto-san bersedia, bolehkah aku mendengar jawabannya darimu nanti, Mikoto-san?"
"Tentu saja, Sakura." Mikoto menyuguhkan senyum terbaiknya. "Kau akan jadi yang pertama mendengarnya dariku ... atau mungkin dari Sasuke secara langsung."
Sasuke selalu suka melihat cara ibunya menyiapkan teh hijau. Ibunya memang terlalu lama tinggal di Amerika, menjalani cara hidup modern yang serba instan dan selalu cepat, tetapi ketekunan dan gerakan halusnya saat menyiapkan teh hijau khas Jepang masih melekat.
Mikoto selalu suka teh, alasan mengapa Sasuke juga sangat menyukai teh. Teh hijau adalah yang paling disukai Mikoto.
Perempuan itu menyiapkan bubuknya, peralatan tradisionalnya yang tersimpan rapi di dalam kotak di lemari dapur. Ia menuangkan bubuknya di dalam cangkir cokelat, menuangkan air panas ke dalamnya dengan hati-hati. Sasuke mengamati semuanya dengan sepenuh hati. Keanggunan ibunya adalah hal yang kontras dengan ketangkasannya setiap kali bekerja atau menyelesaikan masalah.
"Mungkin sesekali Ibu harus mengajak Sakura menyiapkan teh seperti ini," Mikoto melirik Sasuke.
"Ya ..."
Mikoto tersenyum. "Omong-omong, soal Sakura."
"Kenapa dengannya?"
"Ibu bicara dengannya." Mikoto menyodorkan cangkir pertama untuk Sasuke. "Soal hubungan kalian. Ibu terkesan dengan jawabannya."
"Apa yang dia katakan?"
"Dia senang bersamamu, intinya begitu. Dan semua sekarang tergantung padamu." Mikoto menyeruput tehnya dengan pelan, menikmati rasa tehnya sambil memejamkan mata. "Dia adalah wanita yang mandiri, yang sudah merasakan banyak hal. Kelihatannya dia puas dengan apa yang sudah dia capai dan alami, hanya tinggal satu hal yang ingin dia ketahui."
"Apa itu?" Sasuke membiarkan tehnya mendingin.
"Dia ingin tahu bagaimana rasanya membagi hidup dengan seseorang." Mikoto meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
"Kami sudah berpacaran."
Perempuan itu tertawa kecil. "Bukan seperti itu, Sasuke." Ia meletakkan tangannya di atas tangan Sasuke di atas meja, menepuknya pelan. "Ini tentang ikatan yang lebih serius. Apa kau masih ingin menunggu sesuatu, atau sepemikiran dengannya? Ibu ingin dengar alasanmu."
Sasuke menghindari tatapan ibunya, sedikit menunduk dan mengamati asap yang menipis yang mengepul dari cangkirnya. "Aku ... berpikir bahwa mungkin Sakura butuh waktu untuk mengenalku dan membiasakan diri denganku."
"Tapi dia menginginkanmu. Kau juga, kan?"
Sasuke mengangguk.
"Semua terserah padamu, Sasuke, tapi Ibu sudah yakin kalian tercipta untuk satu sama lain, dan inilah saatnya. Dia tidak meragukanmu, merasa nyaman denganmu, dan ibu yakin ikatan kalian sudah lebih kuat dari yang kalian kira."
Sasuke menatap ibunya, dan menemukan keyakinan yang dia cari-cari tepat di mata ibunya.
Sasuke sulit sekali menemukan suaranya saat hanya ada Sakura dan dirinya di dalam ruangan itu. Biasanya tidak sesulit ini.
"Sasuke-kun?" Sakura melambaikan tangan di depan wajah Sasuke. "Hello?"
"Aku melihatmu." Sasuke mendeham. "Dan mendengarmu."
"Yeah, jadi ... kau mau membahas apa tentang pelatihan staf IT bulan depan?"
Sasuke berkedip. "Kukira kita sudah selesai membahasnya."
"Memang, sih, tapi kukira kau masih punya ide lain?"
"Ini ... soal yang lain." Sasuke menutup tabletnya. "Kapan orangtuamu punya waktu luang? Malam ini?"
"Hmm, kutanya dulu." Sakura mengetikkan pesan di ponselnya, tetapi berhenti di tengah jalan. "Ada apa? Ingin mengajak makan malam dengan ibumu lagi?"
Sasuke menggeleng. "Aku ingin datang ke rumahmu dan bicara dengan ayah-ibumu."
Sakura terdiam lagi. Matanya mengerjap cepat, dan napasnya tertahan sesaat.
Ucapan selanjutnya dari Sasuke membuatnya yakin bahwa ini adalah seperti yang ia pikirkan, "Soal hubungan kita. Aku ingin bicara langsung pada mereka bahwa ... aku serius."
"Sasuke-kun," Sakura menelan ludahnya, ia paham betul Sasuke tidak begitu cerdas membuat kata-kata, dan fakta bahwa dia bisa sampai sejauh ini adalah sebuah pencapaian, "apa ini seperti yang kupikirkan?"
Agak lama mereka bertatapan sebelum Sasuke yakin dan mengangguk. "Ya, seperti yang kaupikirkan."
"Kau serius?" Sakura menahan diri untuk tidak menggenggam tangan Sasuke sekarang juga. Mereka masih di jam kerja, dan berada di lingkungan kerja; mereka telah membuat perjanjian khusus bahwa jika masih dalam suasana bekerja, mereka membatasi diri dari hal-hal yang berkaitan dengan hubungan pribadi mereka. "Maksudku," lanjut Sakura lagi, "apa kau sudah memikirkannya matang-matang? Kau yakin ini tidak terlalu cepat?"
"Aku tidak bisa memikirkan hal lain ... selain bersamamu." Sasuke menatapnya cukup lama. "Dan aku tidak ingin orang lain."
"Kautahu, apa yang dikatakan oleh Si Kepala pada Si Tangan setelah bekerja terlalu keras?"
"Yang kutahu, Kizashi, sekarang adalah giliran Sasuke bicara." Mebuki mengedikkan dagu pada Sasuke yang sedari tadi duduk tegak (dan kaku) di hadapan mereka di ruang tengah keluarga Haruno. "Dia kelihatannya ingin bicara sesuatu sedari tadi. Ayolah, leluconmu bisa menunggu lain kali."
"Oooh, baiklah, baiklah, jadi, Sasuke—apa yang ingin kaukatakan?"
Sakura meraih tangan Sasuke di atas sofa. Ia menggenggamnya lembut, secara sembunyi-sembunyi. Ia tahu mungkin ibunya menyadarinya, tetapi memilih untuk tidak memfokuskan diri pada hal tersebut.
Wajah Sasuke agak pucat, dia menarik napas sebelum membungkuk. "Saya ingin menikahi putri Anda."
Keheningan yang sontak terjadi membuat Sakura merasa seperti dihimpit. Ia tidak bisa membayangkan reaksi seperti apa yang ada di dalam benak Sasuke. Pria itu telah mengumpulkan nyalinya untuk bicara dengan kata-kata tertata dan dengan kalimat krusial tersebut, dan itu pasti adalah salah satu bagian tersulit dalam hidupnya. Dia mungkin bisa memimpin sebuah divisi dengan tegas dan dingin, tetapi dia masih memerlukan kehati-hatian dan ketulusan untuk momen-momen tertentu seperti ini.
"Wah, akhirnya tiba juga saatnya."
Sasuke mengangkat kepalanya. Kizashi sedang tersenyum padanya, dan Mebuki pun mengangguk-angguk seperti sedang bangga akan sesuatu.
Apa maksudnya?
"Aku tahu ini akan terjadi, tapi ternyata lebih cepat dari yang kukira." Kizashi maju dan menepuk pundak Sasuke bangga. "Kami mendukung apa yang disenangi putri kami, dan tentu saja, untukmu, kami tidak meragukannya."
"Jadi, Ayah—"
"Ya, Sakura. Tentukan tanggalnya. Ayah tidak sabar untuk memakai jas khusus untuk orangtua mempelai!"
end.
