Sasuke adalah pria yang sulit jatuh cinta. Sayangnya, ia jatuh cinta pada perempuan yang sudah memiliki anak
.
.
.
NARUTO by Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst
Rate : T
Pair : Sasuke x Sakura
!! Mention Sexual Harassment !!
Uchiha Sasuke adalah dosen fakultas ekonomi manajemen. Katanya, dia adalah dosen yang ditakuti. Bagaimana tidak, wajah dingin, raut muka datar, serta suara berat yang tidak bersahabat sama sekali. Siapa coba yang mau berurusan dengan Sasuke?
Tapi sebenarnya ia adalah dosen yang paling pengertian. Ia selalu memberikan mahasiswanya tugas yang tidak terlalu berat. Bila siswanya ada halangan, ia tak masalah memberikan tambahan waktu secara cuma-cuma. Bimbingan dengannya pun mudah karena ia selalu meluangkan waktunya. Apa yang ia katakan jelas dan tidak bertele-tele. Orangnya ramah, hanya tertutup wajah dinginnya saja.
Uchiha Sasukeadalah dosen idaman. Semua mahasiswa menyukainya. Bahkan, tak sedikit dari mereka bersikap kurang ajar seperti memberi surat cinta, atau bersikap genit pada dosen berumur 27 tahun itu. Sasuke jelas tidak peduli pada semua afeksi aneh yang mahasiswanya berikan, yang penting ia sudah melaksanakan kewajibannya untuk mengajar.
"Di umur segini lu beneran belum mau nikah, Sas?"
Itu Naruto, teman Sasuke sejak SMA. Ia adalah manajer di hotel bintang lima yang berada tepat di depan kampus.
"Nggak, ah. Lu tau sendiri kan kalau gue malas banget nikah?"
"Masa sih lu nggak mau nikah? Enak tau, Sas!"
Sasuke berdecak, "Lu bilang gini karena pengen gue cepat-cepat nikah apa gimana? Lu sendiri sering curhat ke gue kalau adalah masalah sama istri lu. Lu kira gue nggak ingat?"
Naruto cemberut. "Apa-apaan. Heh, rumah tangga itu nggak selalu mulus, Bro! Pasti ada cekcoknya sedikit. Namanya juga hidup dengan orang lain yang wataknya beda sama kita. Sepasang suami istri harus bisa saling memahami dan menerima satu sama lain. Kalau nggak,siap-siap aja rumah tangga berantakan."
Sasuke memutar matanya. "Iya gue tau. Makanya gue malas nikahsekarang."
"Bohong, bilang aja belum move on."
Sasuke menatap sahabatnya tajam.
Naruto tersenyum puas kala melihat reaksi lelaki itu. "Sas, kejadian itu udah lama banget tau, dari lu SMA! Masa mau berhenti di situ aja, sih? Sekarang mantan pacar lu aja udah nikah. Yaa... meski bukan sama selingkuhannya waktu itu."
Yang Naruto bilang ada benarnya. Tapi salah kalau Sasuke belum move on. Ia sudah lama membuang nama perempuan sial itu jauh-jauh. Saat mendengar berita pernikahannya pun Sasuke merasa biasa saja, bahkan cenderung tak peduli.
Sasuke hanya belum merasakan jatuh cinta lagi.
Lagipula, perempuan di sekitarnya tak ada yang menarik.
"Bodo amat, Nar. Kalau udah waktunya juga jodoh gue datang."
"Yang jelas lu harus nikah. Itu aja."
"Lihat nanti."
Setelah itu Naruto sibuk berceloteh, hal yang biasa mereka lakukan saat makan siang. Keduanya terbiasa menghabiskan waktu berdua seperti ini sejak awal mereka bekerja. Mulanya disebabkan oleh kerinduan karena lama tak bertemu setelah kelulusan SMA. Tapi lama-kelamaan, mereka merasa ada yang kurang bila tidak menghabiskan waktu makan siang bersama.
"Sas, lu nggak mau makan siang bareng dosen-dosen lain gitu?"
"Nggak. Malas."
"Masih banyak yang genit, ya?"
Sasuke memalingkan wajah. Naruto memang tau segalanya.
Sasuke tak mengerti mengapa banyak sekali yang suka menggodanya. Bahkan pernah kejadian ia tak jadi makan gara-gara tiga wanita yang bertengkar karena ingin duduk dengannya.
Wanita zaman sekarang memang merepotkan. Untuk apa sih mereka bersikap begitu? Takut nggak laku?
Naruto jadi orang pertama yang terbahak kala mendengar cerita Sasuke. Seharian itu ia meledek Sasuke, bahkan sebelum tidur pun ia mengirim pesan pada pria itu. Sasuke jadi agak menyesal bercerita padanya, tapi ia tak bisa tak cerita pada Naruto. Rasanya ada yang kurang kalau ia tidak cerita pada anak itu meski mulutnya ember.
"Sas, gue kangen Shikamaru sama Gaara. Kira-kira mereka udah nikah belum, ya?"
Sasuke menghela nafas kesal, "Lu ngomongin nikah mulu hari ini. Kalau lu lagi kepengen mending pulang sekarang, temuin istri lo!"
"Oh, yaudah gue gas nanti malam."
"Anjir, mulut lu memang kurang ajar dari dulu, ya!"
Shikamaru dan Kiba adalah sahabat mereka juga. Waktu SMA mereka sering kumpul berempat, lengket seperti lem.
Shikamaru pergi ke China setelah lulus SMA, sedangkan Kiba sekarang menjadi produser musik terkenal. Tak mereka sangka Kiba sesukses ini. Padahal anak itu selalu diremehkan guru karena nilainya selalu dibawah KKM, bahkan dikatai tidak punya masa depan yang bagus oleh guru BK.
"Kemarin gue telponan sama Shikamaru, katanya sih dia udah tunangan," kata Sasuke.
"Kalau Kiba?"
"Nggak tau tuh. Paling ada pacar tapi diam-diam."
Naruto melengos. "Mereka jarang banget ngasih kabar."
"Setiap orang punya kehidupan masing-masing, dan nggak mungkin ada circle yang samaselamanya," jelas Sasuke. "Yang penting kita tau kalau mereka berdua sukses di jalan masing-masing."
Naruto mengangguk setuju. Waktu istirahat sebentar lagi habis. Mereka pun berpamitan untuk kembali bekerja.
"Oh ya, Sas,"
Sasuke berbalik.
"Lu harus nyoba makan bareng dosen lagi, oke? Udah cukup lu menutup diri. Sekarang waktunya udah tiba buat nerima orang yang masuk ke hidup lu. Ikutin kata gue, ya?" pesan Naruto.
"Males."
"HEH!"
Sasuke memang bilang begitu pada Naruto, tapi ia tetap menuruti perkataan sahabatnya.
Hari itu Naruto tidak makan bersama Sasuke. Biasanya Sasuke akan pergi ke restoran lain, namun kali ini ia memaksakan diri bergabung dengan para dosen. Tau hasilnya? Sasuke tidak nyaman.
"Pak Sasuke udah makan? Mau saya ambilkan?"
"Nggak usah, Bu. Makasih."
"Pak Sasuke duduk sama saya, ya?"
"Ah maaf, saya sendiri aja."
"Pak Sasuke, saya nggak suka kentang. Anda mau kentang saya?"
"Pak Sasuke..."
"Pak Sasuke..."
AAARRGHH
Sasuke mau pergi dari sini!
Bukannya Sasuke menutup hati. Ia hanya sulit untuk jatuh cinta.
Di saat orang lain merasakan cinta monyet, Sasuke hanya terdiam tidak mengerti.
Mengapa mereka berbincang tentang jantung yang berdebar? Jantungnya berdebar kok setiap olahraga. Mengapa mereka bilang rasanya seperti melayang? Aneh. Manusia kan tidak bisa melayang. Bagaimana mungkin? Sungguh tidak masuk akal.
Hingga ketika SMA, Sasuke menaruh perhatian pada seorang gadis. Entah mengapa matanya tak berhenti melirik. Tatapannya pun begitu memuja. Apa yang dilakukan sang gadis semuanya indah. Siapa sangka hal-hal tak masuk akal yang dibicarakan temannya dulu menjadi kenyataan. Jantung Sasuke berdebar kala bersamanya. Sasuke merasa senang sekali ketika berbincang bersamanya. Sebelum tidur pun memikirkan dia. Suasana hati di pagi hari pun bahagia kala melihat wajah dia di sekolah. Jatuh cinta memang seindah itu rupanya.
Perasaan itu makin berbunga ketika perempuan itu menyatakan perasaannya pada Sasuke.
Hubungan mereka manis. Tak jarang teman-temannya di kelas meledek dengan kata 'bucin'. Sasuke benar-benar menjadi seorang budak cinta. Ia melakukan apa saja untuk sang pacar. Mengantarnya sekolah, mentraktirnya sarapan, atau membantunya mengerjakan PR. Jalan-jalan tiap minggu pun sering mereka berdua lakukan.
Tapi ternyata, kebaikan dan cinta Sasuke tak berbalas dengan semestinya. Perempuan itu mulai menuntut macam-macam. Sasuke harus melakukan apapun yang ia minta bahkan menjauhi orang-orang yang berinteraksi dengannya. Perlakuan buruk itu ditutup dengan perselingkuhan dan kenyataan bahwa perempuan itu hanya ingin menjadikan Sasuke mainan saja.
Sejak saat itu Sasuke tidak lagi merasakan apa yang namanya cinta. Ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk move on dan memulai lembar baru. Sasuke menunggu seseorang yang ditakdirkan untuknya.
Lembar baru itu sepertinya mulai terisi. Sebab, ada satu hari dimana mata Sasuke tak lepas dari eksistensi seseorang.
Di kelas tempat ia mengajar, ada satu mahasiswi yang terlambat kuliah. Jarak umurnya hanya dua tahun dari umur Sasuke, namun ia masih berada di semester akhir. Gadis itu berada di bawah bimbingannya.
Namanya Haruno Sakura. Orangnya ramah dan murah senyum, sehingga ia memiliki banyak teman meski usia mereka terpaut agak jauh. Cara berpikirnya dewasa dan cepat tanggap. Sasuke suka murid yang aktif bertanya, dan Sakura termasuk dalam kategori itu.
Tak tau mengapa, di satu sesi bimbingan Sasuke bertanya tentang kehidupannya. Kata Sakura, selain kuliah ia juga bekerja paruh waktu di salah satu restoran hingga malam hari. Sesi curhat tak sengaja itu membuat Sasuke menaruh simpati, sehingga ia memberikan Sakura tenggat waktu yang lumayan lama untuk tugas-tugas sulit.
Bukan berarti pilih kasih, Sasuke memperlakukan mahasiswa lainnya hal yang sama, kok.
Akibat bimbingan skripsi, mereka jadi lumayan akrab. Sifat Sakura yang ceria membuat Sasuke merasa nyaman untuk membuka dirinya. Di saat orang lain sibuk menggodanya, Sakura malah lebih suka membuka sesi mengobrol panjang dan berdiskusi mengenai masa depan. Mereka selalu berbincang seperti teman lama. Tapi pembicaraan itu hanya terjadi ketika ada bimbingan saja, selebihnya mereka bersikap seperti orang asing. Apalagi status Sasuke yang dosen dan Sakura yang mahasiswa memberi jarak yang cukup lebar.
Tanpa sadar Sasuke selalu memperhatikan Sakura. Saat di kelas, ia spontan mencari keberadaan sanggadis. Ia akan merasa kecewa bila tidak menemukan sosok perempuan ceria itu. Seperti ada yang kurang, entah mengapa.
Sebentar lagi skripsi gadis itu selesai. Sasuke tiba-tiba merasa rindu berbincang dengannya. Pemikiran Sakura begitu memukau, dan isi skripsinya sangat berbobot. Sasuke tak segan-segan menanyakan hal sulit karena ia tau Sakura bisa menjawabnya dengan sangat baik.
"Kalau saya boleh tanya, mengapa kamu terlambat masuk kuliah? Kamu sangat pintar, harusnya kamu sudah di S3," ujar Sasuke kala itu.
Pria itu tidak menyadari raut wajah aneh Sakura. Gadis itu tak bicara apapun. Ia hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Karena Sasuke mengerti privasi, ia pun tak membahasnya lagi. Pria itu juga merasa bersalah mempertanyakan hal tidak enak pada Sakura.
Tapi serius, kalau Sasuke memiliki otak seperti Sakura, ia akan langsung loncat ke S3.
Semakin hari semakin sedikit waktu mereka bertemu. Pernah sekali itu Sasuke mengajak sang gadis untuk makan siang, namun ditolak secara halus.
"Saya minta maaf, Pak. Saya punya banyak agenda bulan ini, jadi... saya sama sekali tak bisa."
Perkataan itu sukses membuat Sasuke galau dan mempermalukan dirinya di depan Naruto.
"Akhirnya lu jatuh cinta lagi. Selamat, ya," kata Naruto disertai dengan dengusan malas. Tapi Sasuke tau temannya ikut bahagia.
Sasuke tidak bisa mendeskripsikan perasaannya. Ia hanya pernah jatuh cinta satukali. Namun, Sasuke selalu membayangkan senyuman Sakura menemani hari-harinya. Suara lembut dengan nada ceria menyambutnya kala pagi hari. Jangan lupakan wajah terkejutnya saat melakukan kesalahan. Mengingat hal itu membuat Sasuke senyam-senyum seperti orang gila.
"Jadi lu mau beli bingkisan, Sas?"
Minggu ini Sasuke jalan bersama Itachi, kakak kandungnya, berserta sang istri, Izumi.
"Iya, buat perempuan. Tolong bantuannya ya."
"Tenang Sasuke, kita jelajahi satu-satu. Kira-kira kamu mau ngasih buat siapa nih?" kata Izumi. Perempuan yang tengah digandeng Itachi itu berpenampilan sangat elegan.
"Buat mahasiswi. Hadiah karena udah lunasin skripsi."
"Wow, jarang banget lu kayak gini," Itachi menatap Sasuke heran. "Nggak sakit lu, Sas?"
"Gue sehat. Cepetan kasih gue saran!"
Izumi membawa kedua lelaki itu ke toko baju dan accessories, lalu menyuruh Sasuke untuk memilih danberakhirdengan kebingunganpriaitu. Mau beli baju, ia tak tau ukuran tubuh Sakura. Mau beli tas, rasanya Sakura tidak butuh itu. Sepatu apa lagi. Gadis itu hobi gonta-ganti tiap hari.
"Kalau gitu gimana kalau kalung?" Izumi menunjuk ke sebuah tempat perhiasan.
Sasuke menggeleng, menolak. "Nggak ah. Dia bukan orang yang suka kemewahan."
Izumi memutar otak. Ia juga kebingungan ingin menyarankan apa.
"Gelang aja deh gimana?" tanya Izumi. "Perhiasan memang, tapi aku rasa semua perempuan bakal suka."
Sasuke melirik gelang yang ditunjuk Izumi. Simpel, namun elegan. Ia langsung membayangkan bagaimana gelang itu bertengger cantik di lengan Sakura.
"Aku rasa yang itu bagus."
Semoga Sakura suka.
Selesai dari situ mereka berpisah. Itachi dan Izumi punya urusan lain sehingga Sasuke harus pulang sendirian. Sebelum itu ia memutuskan untuk mampir dahulu ke kafe yang ada di sekitar. Namun, niatnya itu terhenti ketika sosok bocah laki-laki terlihat kebingungan di depannya.
Sasuke memperhatikannya sangat lama. Awalnya anak itu masih bersenang-senang seperti biasa, tapi lama-lama ia terlihat panik. Berulang kali ia berjalan tak tentu arah dan celingukan ke sana kemari.
Karena merasa kasihan, Sasuke pun menghampiri anak itu.
"Kamu nyari siapa?"
Anak itu menoleh, kemudian memperhatikan sekitarnya lagi.
"Butuh bantuan?"
Anak itu mengangguk. "Om lihat bundaku?"
Ternyata dia terpisah dari ibunya.
"Ciri-cirinya bagaimana?"
"Bunda pakai dress hitam bunga-bunga. Rambutnya diikat satu, Om."
"Maaf, Om nggak lihat bundamu," kata Sasuke.
Anak itu tertunduk, lalu memanyunkanbibirnyasedih.
"Kalau gitu, Om bisa bantu antar aku ke pusat informasi?"
Sasuke tak menyangka anak ini cukup pintar. Biasanya seusia mereka pasti akan menangis kencang bila terpisah dari keluarganya.
"Om juga mau ngantar kamu ke sana. Ayo ikut Om!"
Sesampainya di pusat informasi, mereka segera mengumumkan kalau anak lelaki bernama Ritsuki sedang mencari ibunya.
"Namanya Ritsuki, ya?" Sasuke berbasa-basi.
"Iya, Om."
"Umur kamu berapa?"
"Enam tahun, Om. Aku baru masuk SD loh!"
Sasuke tersenyum melihat keantusiasan anak itu. Lucu sekali.
"Kalau Om namanya siapa?"
"Saya Sasuke."
"Om CEO, ya?"
Sasuke terbahak, "Heh, kamu tau sebutan itu darimana?"
"Dari buku bunda."
"Hahaha ...," Sasuke memandang anak itu takjub, "Kok kamu bisa mikir Om itu CEO?"
"Soalnya mukanya emang muka CEO sih, Om."
Sasuke menggelengkan kepalanya. Anak ini punya daya pikir yang cukup keren menurutnya.
"Sambil nunggu bunda kamu, kamu mau Om traktir es krim yang di sana?" tawar Sasuke. Seketika mata anak itu berbinar. Ia mengangguk cepat. "Kalau gitu tunggu di sini, ya? Kalau kamu ikut takutnya bunda kamu malah datang."
"Siap kapten!"
Segeralah Sasuke melesat untuk membeli satu cup es krim rasa coklat. Begitu selesai dengan pesanannya, ia pun kembali dan melihat Ritsuki sudah bertemu dengan ibunya.
"Ya ampun, Nak... kamu kemana aja?"
"Bunda jangan nangis... Ritsuki nggak apa-apa."
Sasuke sedikit tersentuh melihatnya. Syukurlah Ritsuki bertemu lagi dengan bundanya.
"Ritsuki!" Panggil Sasuke. Anak itu segera menoleh dan bersorak ketika tau es krimnya sudah jadi.
"Horeee... Makasih, Om Sasuke!"
"Sama-sama!" Sasuke mengelus puncak kepala anak itu.
Ketika Sasuke sibuk dengan Ritsuki dan es krimnya, seseorang menatap mereka dengan pandangan terkejut. Ia mematung ketika melihat interaksi kedua orang itu.
"Pak Sasuke?"
Mata Sasuke segera melirik ke asal suara, kemudian menyapa orang itu dengan akrab.
"Oh, Sakura?" sapa Sasuke. "Lama nggak jumpa ya?"
Ritsuki melihat mereka bergantian. Lalu, dengan antusias ia tarik tangan Sakura.
"Bunda, ini Om yang tadi nolong aku. Namanya Om Sasuke. Dia baik banget, Bun!" seru Ritsuki semangat. "Dia CEO loh, Bun. Kayak buku yang Bunda baca."
Baik Sakura maupun Sasuke terdiam di tempat. Sasuke mengernyit tak paham.
Apa maksudnya?
"Om Sasuke, makasih banyak ya udah nolong Ritsuki!" Anak itu berkata lagi. "Oh ya, kenalin ini Bundanya Ritsuki. Bunda, ucapin terima kasih dong sama Om Sasuke."
Jantung Sasuke terasa berhenti berdetak. Ia menatap Sakura dengan pandangan tak percaya, sementara perempuan di depannya menunduk dalam-dalam.
"Sakura... itu...," suara Sasuke tercekat. "Anak kamu?"
Sakura meringis. Tak berselang lama, anggukan Sasuke terima.
"Iya. Dia anak kandung saya."
Anak kandung.
Sasuke memberikan anggukan sebagai tanggapan, lalu tersenyum getir. Ia mati kutu. Semuanya sangat tiba-tiba.
Bagaimana bisa?
"Anak kamu pintar. Kayak kamu."
Sebuah pujian dilontarkan dengan rasa pahit di lidah.
"Terima kasih, Pak. Saya undur diri dulu. Lain kali saya bayar es krimnya," pamit Sakura.
"Jangan. Saya ikhlas. Saya nggak mau nerima ganti apapun," tolak Sasuke cepat.
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih, Pak." Gadis itu pun segera menggandeng anaknya pergi.
Meninggalkan Sasuke dengan perih di hati.
Baru saja pria itu merasakan perasaan berbunga setelah sekian lama, namun ternyata takdir seolah meledeknya karena jatuh cinta pada orang yang salah.
Haruno Sakura sudah punya anak, berarti ia sudah menikah.
Sasuke meremat bingkisan yang ia beli tadi. Gelang sederhana itu kini tak berarti apapun. Tatapannya menyendu. Merasa kecewa akan hal yang baru ia ketahui hari ini.
Semua tidak ada artinya lagi.
"Gue nggak bisa ngomong apa-apa lagi, Sas."
Naruto selalu menjadi tempat favoritnya untuk bercerita. Meski hiperaktif, pria satu anak itu sangat mengerti bagaimana menenangkan seseorang.
"Padahal... gue baru aja jatuh cintalagi, Nar."
Naruto menghela nafas, turut prihatin akan nasib sahabatnya. "Sabar Sasuke. Masih ada orang lain, kok. Masih banyak waktu buat nyari perempuan." ucap pria itu sambil menepuk-nepuk pundak Sasuke. "Belum niat nikah, kan?"
Sasuke ragu atas statement yang ia katakan waktu. Sejak bertemu Sakura, ia selalu membayangkan kehidupan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Hanya wanita itu yang berhasil membuatnya betah. Tak sedikit pun ia merasa terganggu dengan sifat cerianya itu.
Hanya Sakura. Hanya Sakura yang ia mau.
Ia ingin Sakura yang menjadi istrinya, tapi takdir begitu kejam.
"Mau gimanalagi, Sas? Sejauh apapun lu berusaha, kalau dia udah nikah nggak bakal bisa. Jangan gara-gara satu wanita, lu jadi orang ketiga di rumah tangganya. Nggak baik, Sasuke," kata Naruto.
Sahabatnya itu benar. Tidak seharusnya ia berpikir pendek seperti itu. Sakura pasti telah bahagia dengan keluarganya.
Memangnya Sasuke siapanya Sakura? Ia hanya dosen pembimbing yang kebetulan mencintainya saja.
"Lu mungkin bakal nunggu lama buat lihat gue nikah, Nar," ucap Sasuke. "Butuh waktu bertahun-tahun lagi buat gue jatuh cinta ke orang lain. Lu tau itu."
"Nggak apa-apa. Yang penting lu bahagia, Sas."
Setelah pembicaraan itu, Sasuke mencoba melupakan bayang-bayang Sakura. Akhir-akhir ini ia bersikap tidak profesional. Emosinya yang tidak stabil kerap kali membingungkan mahasiswanya. Bila ada tugas yang tidak lengkap, ia akan bersikap dingin dan menambah tugas mereka.
Pak Sasuke jadi lebih seram daripada gosipnya.
Maka dari itu ia kembali menyibukkan diri, berusaha mengabaikan perasaannya kala melihat Sakura di kelas. Sidang sudah dekat. Sasuke batal memberikan Sakura gelang itu. Sebagai gantinya, ia membeli satu lusin kaos untuk semua murid bimbingannya.
Beberapa hari kemudian, sidang skripsi diadakan. Sasuke sebagai dosen pembimbing segera menghampiri mahasiswanya untuk memberikan selamat karena sudah bekerja keras. Tak lupa pula ia memberikan kaos yang ia beli itu.
"Pak Sasuke serius beliin kita baju?"
"Iya, kenang-kenangan karena udah mau dibimbing sama saya."
Mereka semua bersorak senang. Hampir tidak ada dosen yang memberi perlakuan seperti ini.
"Pak Sasuke memang dosen idaman!"
Sasuke masih berada di sana untuk membagikan seluruh hadiahnya. Namun ketika sidang telah selesai, masih ada satu kaos tersisa di tas itu.
"Sakura mana?"
Semua yang masih ada di sana terdiam, saling pandang satu sama lain. Sasuke menatap mereka heran, sebelum salah satu mahasiswanya berceletuk,
"Itu, Pak... mohon jangan marah ya, Pak. Sakura hari ini batal sidang. Tadi izin ke saya."
"Hah?" Sasuke kaget. "Kenapa dia nggak sidang hari ini?"
"Saya nggak tau, Pak. Dia cuma bilang ada yang lebih urgent daripada sidang ini."
Kening Sasuke mengerut heran. Hal penting apa yang membuat Sakura meninggalkan sidangnya?
Dalam sekejap perasaan Sasuke menjadi tak karuan. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya.
Kalau begitu, untuk apa Sasuke susah-susah membimbing Sakura jikalau pada akhirnya gadis itu tak mengikuti sidang hari ini?
Sasuke sungguh kecewa. Ia pun segera berpamitan pada para mahasiswanya. Tujuannya kini hanya ke satu tempat, rumah Sakura. Ia akan meminta penjelasan pada gadis itu.
Bukan hal sulit untuk mengetahui alamat Sakura. Alamatnya tertulis jelas di biodatanya. Selama perjalanan, pikiran Sasuke sama sekali tidak jernih. Ia marah sekaligus khawatir terjadi sesuatu pada gadis yang berhasil merenggut perhatiannya.
Begitu sampai, Sakura terlihat keluar rumah dengan terburu-buru. Ia memegang sebuah tas besar, entah untuk apa. Melihatnya, Sasuke segera turun dari mobil.
"Sakura."
Perempuan itu terperanjat. Raut wajahnya takut sekaligus panik kala melihat sosok dosen pembimbingnya.
"Pak Sasuke ...?"
"Kamu mau kemana?"
Pikiran Sakura kacau. Dengan buru-buru ia keluar rumah, tanpa menghiraukan keberadaan Sasuke.
Kesal diperlakukan seperti itu, Sasuke meraih pergelangan tangan Sakura.
"Hei, apa kamu tidak punya sopan santun?"
Badan Sakura gemetar. Dengan kasar ia lepaskan genggaman Sasuke. "Jangan sentuh saya!"
"Saya tanya kamu, Sakura. Kamu mau kemana?"
"Saya sedang buru-buru, Pak."
"Kamu buru-buru kemana? Kalau jawaban kamu tak jelas begini saya nggak tau apa yang kamu butuhkan, Sakura!"
"Saya harus ngejar bus..."
"Lalu?"
"I-itu ke... ke rumah sakit."
Sasuke mengernyit. "Kamu mau ke rumah sakit?"
"Iya, Pak..."
Helaan nafas kasar mengudara. Sasuke menarik tangan Sakura lagi.
"Kalau gitu ayo ikut saya."
Sakura terlonjak. Lagi, ia lepaskan genggaman Sasuke.
"Tolong jangan sentuh saya..."
Sasuke menatapnya lama. Reaksi Sakura benar-benaraneh. Namun karena Sasuke tidak ingin ambil pusing, ia biarkan saja Sakura memasuki mobilnya sendiri.
Setelah memberitahu nama rumah sakit, mobil itu diliputi keheningan. Aura Sasuke yang tak enak bercampur dengan kepanikan Sakura. Berulang kali Sasuke melirik sang gadis yang termenung menatap jalanan. Entah apa yang ia pikirkan.
"Kamu ngapain ke rumah sakit?"
Sakura mengerjap, lalu menunduk. Tak berani menatap Sasuke. "Anak saya DBD, Pak. Kondisinya lagi kritis," lirihnya pelan.
"Lho, sejak kapan?"
"Tadi malam, Pak," jawab Sakura. "Maaf Pak, saya jadi batal sidang hari ini."
Ternyata karena itu.
"Kenapa kamu nggak ngabarin saya? Kok malah ngasih tau orang lain?" tanya Sasuke. "Saya kira kamu kenapa-napa."
"Maaf, Pak. Saya panik jadi nggak kepikiran buat ngabarin Bapak."
Entah mengapa mendengarnya membuat hati Sasuke terasa kosong.
Ah, memangnya apa yang ia harapkan? Ia bukan siapa-siapa.
"Memangnya kamu ngurus anak kamu sendirian sampai nggak sempat sidang begini?" tanya Sasuke sambil melirik penampilan kacau Sakura. "Suami kamu mana? Apa dia nggak bisa gantiin kamu buat jaga anak?"
Suasana semakin suram. Sasuke yang dikuasai amarah dengan Sakura yang semakin merasa ketakutan.
"...mi, Pak."
"Hah? Kamu ngomong apa saya nggak dengar."
"Saya...," suara Sakura tercekat. "Saya tidak punya suami ..."
CKIIT
Mobil berhenti tepat di lampu merah.
"Maksud kamu?"
Sakura semakin menunduk. "Saya single parent, Pak."
Jantung Sasuke serasa lepas. Terkejut hingga tak tau ingin berkata apa lagi. Berbagai spekulasi pun bermunculan dalam benaknya.
Meski begitu, di sisi lain ia merasa lega.
Sasuke memperhatikan Sakura lamat-lamat. Perasaan tidak nyaman itu muncul saat melihat keadaan wanita itu sekarang. Terpikir beratnya menjadi single parent di usia yang masih sangat muda.
Pantas saja Sakura selalu bilang ia punya urusan penting. Ia bekerja siang-malam, lalu sesampainya di rumah pasti ia membereskan rumah dan mengurus anaknya. Belum lagi mengerjakan bertumpuk-tumpuk tugas kuliah.
Sasuke salut dengan perjuangan wanita itu.
"Saya tidak ingin tanya apapun. Tapi saya rasa, kita harus bicara lain kali, Sakura," ucap Sasuke. Lampu berubah hijau. Sebentar lagi mereka sampai ke tujuan.
Hening melanda hingga mobil memasuki kawasan rumah sakit. Sasuke memutuskan untuk berhenti tepat di depan pintu masuk karena permintaan Sakura.
"Terima kasih tumpangannya, Pak!"
"Iya sama-sama. Semoga Ritsuki cepat sehat, ya!"
"Iya, sekali lagi terima kasih, Pak."
Sakura pun segera bersiap-siap turun, namun Sasuke menahannya karena teringat sesuatu.
"Ini buat kamu."
Itu baju yang Sasuke beli untuk mahasiswa bimbingannya.
"Ini apa, Pak?"
"Hadiah karena udah nyelesain skripsimu."
"Tapi saya belum sidang, Pak. Mending nggak usah..."
"Jangan gitu. Ini kenang-kenangan." Sasuke menaruhnya di tangan Sakura. "Saya nggak terima penolakan."
Meski awalnya ragu, Sakura akhirnya menerima baju itu.
"Salam buat Ritsuki. Lain kali saya mau ketemu sama dia."
Sakura mengangguk, kemudian tersenyum manis seperti biasa. "Baik, Pak."
Setelah itu Sakura menghilang dari pandangan Sasuke.
Berbulan-bulan berlalu. Sejak saat itu Sakura hampir tidak pernah muncul di kampus. Perempuan itu hanya akan terlihat bila ada urusan kecil. Sasuke juga melakukan aktivitasnya seperti biasa. Lelaki itu tetap menjadi salah satu dosen idaman para mahasiswa. Jumlah yang genit padanya pun tidak berkurang, malah semakin menjadi.
"Pak Sasuke kayaknya terkenal banget, ya ..."
Seorang dosen bahasa jepang meledeknya saat mengambil teh di dapur khusus para dosen.
"Kayak Pak Sai nggakaja."
Lelaki itu tertawa. "Saya jadi kurang laku karena udah beristri. Padahal saya ganteng banget, kan?"
Ah... mulai deh narsisnya.
"Jadi Pak Sai mau ceraikan istri Bapak?"
"Heh, sembarangan kamu!" Ekspresi Sai berubah panik. "Mampus saya kalau istri saya tau."
"Lho, jadi betulan niat?"
"Oalah kutu kupret!" umpat lelaki itu. Sasuke tertawa puas. Jarang-jarang bisa menggoda Pak Sai.
Selepas dari sana Sasuke menuju ke salah satu tempat favoritnya, yaitu atap kampus. Atap kampus dimodifikasi seperti taman agar para penghuni kampus dapat memanfaatkannya sebagai tempat istirahat atau mengerjakan tugas.
Biasanya Sasuke menemukan bangku kebanggaannya dalam keadaan kosong. Namun kali ini, ada seseorang yang mendudukinya. Seorang perempuan tengah sibuk dengan bahan bacaannya.
"Sakura?"
Perempuan itu menoleh. Seketika menyapa sang dosen yang selama ini membimbingnya.
"Lama tak jumpa, Pak."
"Tumben ngampus. Ada urusan apa?"
"Oh, saya mau pinjam buku dari perpus. Sebentar lagi sidang, jadi saya harus mulai ngulang-ngulang materi," jawah Sakura.
"Saya lupa sebentar lagi sidang," timpal Sasuke. "Oh ya, saya boleh duduk di sini, kan? Soalnya ini tempat favorit saya."
"Boleh, Pak. Maaf merebut tempat Bapak."
"Nggak masalah, Sakura. Santai saja."
Begitu duduk, mereka pun sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sasuke fokus pada laptopnya, sedangkan Sakura memusatkan perhatiannya pada buku.
"Kamu ada niatan lanjut S2?"
Sasuke membuka pembicaraan dengan mata yang tetap fokus pada laptopnya.
"Sepertinya nggak, Pak."
"Mengapa?"
"Saya mau fokus bekerja. Untuk Ritsuki," jawab Sakura. Ia melirik sang dosen sekilas. "Selama ini gaji saya masih kurang untuk dia. Saya nggak bisa belikan dia mainan atau buku yang dia mau. Ritsuki selalu diam saja kalau saya bilang sedang tidak ada uang. Tapi saya tau dia sebenarnya sedih dan iri sama teman-temannya."
Sasuke agak menyayangkan keputusan Sakura. "Kamu pintar, Sakura. Sayang kalau nggak dilanjut, lho..."
"Mau bagaimana lagi, Pak. Kebutuhan memaksa."
Dosen itu mendesah kecewa. Tapi ia tidak punya kuasa atas keputusan sang wanita.
"Minggu depan kamu udah sidang. Kalau bisa, singkirkan semua halangan. Kalau Ritsuki sakit, kamu bisa titipkan ke saya, kok," titah Sasuke.
Sakura tertawa. "Iya, saya udah siapin semuanya kok. Pak Sasuke tinggal terima bersih. Bapak bilang saya pintar, kan?"
Sasuke tersenyum dan mengangguk. "Saya percaya sama kamu."
"Makasih banyak, Pak."
"Kamu butuh bantuan?"
"Masih boleh?"
"Saya masih dosen di sini, masa nggak boleh."
Sakura nyengir, malu. "Mohon bantuannya, Pak."
Suasana yang Sasuke rindukan kembali. Ia dan Sakura saling bertukar pikiran. Sesekali mereka mendebatkan hal-hal krusial yang pernah Sakura bahas di skripsi waktu itu. Sasuke tidak berhenti kagum dengan cara gadis itu bicara. Cerdas sekali.
"Saya nggak heran Ritsuki pintar. Cara kamu bicara aja udah bisa buat saya kicep."
"Aduh, Pak Sasuke ini hiperbola sekali."
"Bagaimana ya, saya takjub sekali soalnya. Saya belum pernah ketemu murid sekritis kamu," puji Sasuke. Meski terdengar berlebihan, pria itu tulus.
"Ada kali, Pak. Cuma bukan murid Bapak aja."
"Makanya, kamu murid pertama saya. Saya senang bisa jadi dosen kamu," ujar Sasuke dengan senyuman tulus. "Suami kamu dulu beruntung sekali sempat punya kamu."
Sakura mematung. Ekspresinya berubah drastis. Suasana yang semula bagus hancur seketika karena satu kalimat Sasuke.
Sasuke menyadarinya. Ia telah berbuat kesalahan.
"Maaf, Sakura," lirihnya.
Setelah itu Sakura memeluk dirinya, menjauh beberapa senti dari Sasuke. Pria itu merasa sangat bersalah, jadi ia memutuskan untuk diam dalam kecanggungan ini.
Angin sepoi-sepoi menghembuskan rambut mereka hingga berantakan. Dingin menyapa sebagai pertanda hati keduanya tengah bergejolak.
"Saya ...," Sakura meneguk ludah. Tangannya gemetar, menunduk dalam-dalam. "Saya sejak awal memang tidak memiliki suami."
Pria itu meletakkan seluruh fokusnya pada Sakura.
"Saya tidak pernah menikah."
Tak pernah terpikir di benak Sasuke kalau Sakura akan mengatakan ini. Begitupun Sakura. Kata-kata itu keluar langsung dari hatinya.
"Kenapa kamu bilang ini ke saya?" tanya Sasuke heran. Hatinya teriris saat mendengar pernyataan Sakura tadi. "Saya ini cuma orang asing. Bukankah ini sebuah aib?"
Sakura mengangkat kepalanya, menatap mata kelam Sasuke dengan penuh arti. "Soalnya tadi Bapak menyinggung tentang suami," katanya. "Lagipula Bapak sudah tau kalau saya memang tidak bersuami."
Sasuke menunduk. "Saya cuma mengira kamu janda."
"Orang-orang yang nggak tau juga bilang begitu. Janda yang terlalu muda." Wanita itu tersenyum sedih. Ia menarik nafas berat. "Dan kalau mereka tau, mereka akan memandang saya seakan saya adalah kotoran. Saya selalu berpindah-pindah karena itu. Saya nggak mau Ritsuki tau sebelum waktunya."
Sakura kembali memandang sang dosen, menampakkan wajah teduhnya yang selama ini memendam banyak luka.
"Kalau Bapak jijik sama saya nggak apa-apa. Saya sudah biasa bertahan."
Sasuke sontak menggeleng. "Nggak. Saya nggak jijik sama kamu, Sakura."
"Terima kasih."
"Jangan bilang begitu," Sasuke berdeham pelan, khawatirpadasangwanita. "Semua baik-baik saja?"
"Nggak," Sakura menggeleng. "Saya belum sembuh."
"Kamu... maaf, kecelakaan atau...?"
"Saya diperkosa."
Seharusnya Sasuke tidak usah bertanya lebih lanjut.
"Saya nggak tau apa saya pantas punya kebahagiaan seperti yang Bapak bilang. Saya pikir... tidak akan ada laki-laki yang mau menghabiskan hidupnya dengan saya. Kalaupun ada, mereka pasti bukan lelaki beruntung. Tapi lelaki sial."
Sakura tersenyum getir. Menarik nafas, mencoba fokus kembali pada buku yang masih terbuka.
Sasuke masih menatapnya. Mencoba mengartikan seluruh ekspresi tertahan wanita itu. Sasuke tau, Sakura tidak bisa fokus sama sekali. Suasana hati mereka kacau setelah pernyataan tidak sengaja itu.
"Sakura,"
"Tolong jangan sentuh saya!" Sakura menepis tangan Sasuke yang hendak menyentuh punggungnya. "Tolong... jangan..."
Seketika itu pula sebulir air mata jatuh di pipi sang wanita. Sasuke lantas terdiam, tak dapat berbuat apapun.
Sasuke sadar Sakura sering mengucapkan kata-kata itu setiap mereka bersentuhan, baik secara sengaja maupun tidak. Wanita itu juga segera menjauhkan dirinya setelahbersentuhan. Setelah itu, Sakura menunduk dan memegangi tempat dimana ia disentuh.
Sakura mengalami trauma.
"Saya minta maaf...," Sasuke berkata lagi.
Wanita di depannya tidak berhenti menangis. Malah isakannya semakin kuat. Pria itu dibuat bingung sekaligus khawatir akan keadaannya. Ingin rasanya memeluk, namun tak bisa ia lakukan.
"Sakura, saya nggak tau harus berbuat apa sama kamu," lirih Sasuke. Ia mendekat, mempersempit jarak diantara mereka. "Nggak apa-apa Sakura. Kalau menangis bisa bikin kamu lega, nangis aja. Saya tau itu berat buat kamu. Kamu hebat sudah bertahan sampai sini."
Sasuke bukanlah pria yang menyenangkan. Ia sama sekali tidak tau bagaimana cara menghibur orang.Seumur hidup, orang-orang hanya mengatakan kalau ia adalah seseorang yang kaku. Namun ia mengerti apa yang Sakura rasakan meskipun tidak mengalaminya.
Itu pasti masa yang sulit.
"Saya punya dua bahu," ucap Sasuke setengah berbisik. "Kamu boleh pinjam satu buat kamu bersandar, Sakura."
Seketika itu pula Sakura mengangkat wajahnya yang memerah. Ia menatap mata Sasuke sejenak, lalu segera bersandar di bahu pria itu.
"Maafin saya, Pak... hiks, maafin saya..."
Sasuke bungkam. Hatinya ikut sakit melihat Sakura seperti ini. Ia tidak pernah sanggup melihat perempuan menangis. Apalagi seseorang yang ia cintai.
Perasaan itu tetap ada, tidak hilang sama sekali. Pria yang sulit jatuh cinta itu masih menaruh hatinya. Maka ketika mengetahui masa lalu sang pemilik hati, dirinya pun ikut terluka, merasa bersalah karena tak bertemu dengan sang pemilik hati pada waktu itu meski hal tersebut bukanlah kuasanya.
"Saya nggak punya siapa-siapa...," lirih wanita itu dengan isakan yang masih mengudara. "Saya cuma punya Ritsuki di hidup saya. Dia... dia sangat berharga. Satu-satunya mutiara di hidup saya, Pak...,
"Saya nggak tau siapa pria itu. Saya hanyalah mahasiswa baru. Saya cuma dengar dia bekerja di halaman belakang kampus. Waktu itu... waktu itu saya cuma mau mengambil barang yang ketinggalan, tapi... tapi dia malah mengunci saya dan melakukan...," Sakura terisak, "... melakukanitu..."
Tak sanggup, Sasuke memejamkan matanya ketika tangis sang wanita semakin keras. Ia hanya diam membiarkan tubuh sang kekasih hati bersandar di bahunya yang lebar, berharap itu cukup untuk menguatkannya kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Saya jijik sama diri saya sendiri. Hari itu dia membawa dua orang temannya yang lain, lalu menyentuh saya bersamaan. Seluruh sentuhannya masih bisa saya rasakan sampai sekarang. Saya trauma..., saya takut gelap, saya nggak mau disentuh orang lain. Saya takut disentuh seperti itu lagi. Saya nggak sanggup... saya nggak mau."
Sakura tersedu. Wanita itu meremas lengan sang pria semakin erat. Ketakutan dan gemetar. Reaksi alamiah dari seseorang yang mengalami trauma.
"Saya nggak pantas dihormati. Saya bukan orang pintar. Saya nggak bisa menjaga kehormatan saya sebagai seorang wanita. Saya... saya gagal total...," Sakura berucap dengan tersendat. "Ritsuki adalah anak dari salah satu pria itu. Saya nggak tau dia anak siapa. Saya membesarkannya seorang diri. Demi Ritsuki, saya rela diusir oleh orang tua saya. Demi Ritsuki, saya memutuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja keras untuk menghidupinya. Demi Ritsuki, saya merelakan hidup saya. Demi Ritsuki, anak pria brengsek itu...
... saya merelakan seluruh hati dan cinta saya untuk dia seorang. Saya sangat mencintai anak itu... hiks... dia anakku..."
Angin berhembus semakin kencang. Sang pria pun kini menahan air mata. Seseorang yang katanya tidak punya banyak ekspresi itu kini ikut mencurahkan seluruh perasaannya bersama dengan orang yang ia cintai.
Seseorang yang selama ini berjuang sendirian membesarkan anaknya.
"Saya berdosa... sangat berdosa. Dosa saya yang paling besar bukan karena tidak berhasil menjaga diri saya," ucapan Sakura terhenti oleh tangisan, "Saya... saya sempat membenci anak itu. Sayalah orang yang hampir membunuhnya. Siapa dia seenaknya tumbuh di rahim saya? Gara-gara dia orang tua saya membuang saya!"
Nada bicaranya menuntut tanda marah. Sasuke bergumam pelan, menanggapi dengan tenang meski hatinya terasa dicabik saat mendengarnya.
"Tapi... waktu dia lahir saya merasa sangat berdosa. Wajahnya polos, cantik sekali. Saya nggak tega buang dia ke panti. Setelah apa yang saya alami... saya sadar saya salah, dan saya... masih memegang penyesalan itu hingga sekarang."
Berangsur-angsur Sakura mulai tenang meski tubuhnya masih bergetar. Sasuke masih setia menopang Sakura di bahunya. Meski sudah mulai pegal, ia tak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
"Saya nggak tau apa jadinya hidup saya tanpa Ritsuki. Nggak peduli dia anak siapa. Saya bersyukur nggak ngebuang dia. Seandainya saya melakukan itu...," terhenti sejenak, "Saya mungkin sudah kehilangan hasrat untuk hidup."
Sakura akhirnya berhenti bicara. Hanya ada napasnya yang tersendat akibat menangis. Sasuke melirik wanita yang masih bersandar di bahunya itu dengan tatapan sendu. Kisah itu begitu pilu. Sakura pasti sudah lama menahan perasaannya.
"You did well,Sakura," Sasuke berbisik kala suasana mulai membaik. "Saya bangga sama kamu... anak murid saya yang pintar..."
Diperlakukan bak anak kecil, Sakura kembali tersedu.
Bagi Sasuke, Sakura adalah seseorang yang sangat rapuh, orang yang perlu ia lindungi dengan segenap kekuatannya. Wanita itu orang yang sangat kuat karena bisa bertahan hingga detik ini.
Sakura mengangkat kepalanya dari bahu Sasuke. Mata mereka bertemu, dan keduanya menyelami arti tatapan masing-masing. Dengan melihat Sasuke, wanita itu merasa dilindungi, pun dengan Sasuke yang merasa jika sang kekasih hati membutuhkan seseorang untuk menopangnya.
Tersadar dengan keadaan mereka, Sakura segera memberi jarak. Ia menunduk, berusaha menatap ke arah lain dengan canggung.
"Maaf saya..."
Sasuke pun tak tau harus berkata apa.
Sakura malu. Mereka tidak sedekat itu. Hubungan mereka hanya sebatas dosen dan mahasiswa saja. Namun hari ini, ia dengan seenak hatinya bersandar pada bahu sang dosen dan bercerita yang tidak-tidak.
Lantas Sakura segera memeluk dirinya. Wajahnya memerah. Bahu Sasuke entah mengapa terasa hangat dan tidak membuatnya ketakutan. Ia melirik malu. Terlihat noda air mata di kemeja sang dosen.
Sasuke menatap muridnya yang tengah asyik mencuri pandang ke arahnya. Pria itu tersenyum tipis. Sakura lucu jika sedang salah tingkah.
"Pak Sasuke nangis?"
Sakura menyeletuk ketika melihat Sasuke mengusap matanya.
"Enggak." Bohong. Sakura tau.
"Maaf, saya lancang nangis di bahu Bapak." Sakura kembali memalingkan wajah malu.
"Nggak apa-apa. Saya nggak masalah kok," kata Sasuke dengan senyuman lembut.
"Makasih, Pak. Bahu Bapak hangat. Bikin tenang."
Keduanya terdiam dalam suasana memalukan.
"Makasih ya, Pak."
"Untuk?"
"Nggak jijik sama saya," Sakura melempar senyum tipis. "Dan juga mau dengerin saya curhat kayak gini. Aduh... saya nggak enak, Pak, malah lancang begini."
"Nggak, jangan gitu, Sakura. Justru saya yang minta maaf karena saya yang pertama ngungkit," kata Sasuke. "Sekali lagi maafkan saya."
Sakura mengangguk.
"Sakura,"
"Iya, Pak?"
Ditatapnya wajah polos Sakura. Ah... mata kekasih hatinya sembab. "Kamu bisa panggil saya kalau butuh. Saya rela kok jadi tempat sandaran kamu kayak tadi."
Wanita itu tersenyum, lalu menggeleng. "Nggak enak, Pak. Cukup sekali ini aja saya nyender ke Bapak. Saya berterima kasih sekali sama Bapak hari ini," kata Sakura. Kemudian wanita itu berbisik, "Lagipula, kita nggak ada hubungan apapun. Bapak cuma dosen saya, begitupun saya cuma mahasiswi yang Bapak bimbing."
"Justru itu, Sakura."
"Huh?"
"Saya mau punya hubungan sama kamu." Sasuke menatapnya serius. "Saya mau hubungan kita lebih dari sekedar dosen dan mahasiswa. Saya... saya mau terus berada disamping kamu."
Hening. Gadis itu terpaku. Matanya melirik ke sana kemari dengan gelisah, menghindari tatapan dalam sang dosen.
"M-maksud Bapak?"
"Saya mau terus berhubungan sama kamu, Sakura. Bukan hanya hari ini," jelas Sasuke. "Saya mau disamping kamu seterusnya, mendengarkan cerita kamu, dan jadi orang yang menghibur kamu. Saya pikir hubungan antara dosen dan mahasiswa tidak cukup untuk itu."
Sasuke berdeham pelan. Diliriknya Sakura yang masih terpaku.
"Jadi... bolehkah saya...?"
Seketika wanita itu menggeleng. "Tunggu... tunggu sebentar, Pak Sasuke!" Sakura terlihat panik. Gestur tubuhnya pun kebingungan. "Maksud Bapak ini apa?"
"Saya... nggak tau?"
"Hah?"
Melihat wajah bingung sang wanita, Sasuke pun menggaruk tengkuknya gugup. "Saya merasa mau dekat kamu terus. Saya suka bicara sama kamu. Saya nyaman sama kamu. Saya mau kita lebih akrab. Saya mau temanan sama kamu," jawab sang pria sambil menunduk. "Nggak, teman aja nggak cukup."
Sakura masih terdiam dengan ekspresi tak mengertinya.
"Saya mau lebih dari itu. Saya mau lihat kamu tiap hari. Saya mau ngobrol sama kamu lebih banyak. Saya mau kita berjalan beriringan di sore hari, menikmati teh hangat dan tawa canda diantara kita," suara Sasuke semakin lama semakin pelan layaknya desahan. Langit tak lagi cerah, dingin mulai terasa. "Saya... saya mau jadi teman hidup kamu."
Sasuke mengikuti kata hatinya. Tak pernah terbesit keinginan untuk mengatakan hal seperti ini. Semua terasa tiba-tiba bagi mereka berdua.
Keduanya terdiam dalam keterkejutan. Sasuke tak mengerti. Hampir setahun lalu ia tak berniat untuk menikah dan menaruh hati pada seorang perempuan. Namun hari ini, hatinya telah luluh oleh seorang wanita satu anak bernama Sakura.
Wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk kedua kalinya. Wanita yang kini ia lamar tanpa rencana apa-apa.
Naruto waktu itu bertanya saat Sasuke memberitahu tentang apa yang ia rasa,
"Sasuke, lu yakin mau sama dia? Bukan apa-apa sih, tapi dia wanita yang udah punya anak," kata Naruto dengan serius. "Lu nggak tau seluk beluk kehidupannya sama suaminya dulu. Dan lagi, belum tentu dia mau nerima lu sebagai pengisi kekosongan hatinya. Bisa jadi dia masih cinta suaminya, kan?"
Tapi hari ini semua terungkap begitu saja tanpa rencana apa-apa. Hanya tinggal satu permasalahan yang tersisa.
Sakura… apakah wanita itu mau membuka hatinya?
"Bapak serius?"
Sasuke menjawab dengan anggukan tegas.
"Kenapa?" Mata Sakura berkaca-kaca. "Kenapa Bapak ngomongkayakgitu? Bapak bercanda, kan?"
Sasuke menggeleng pelan. Perlahan, ia sentuh tangan Sakura yang berefek dengan menegangnya tubuh perempuan itu. Tapi Sakura tidak menolak sentuhannya.
"Kenapa saya harus bercanda? Perasaan saya bukan hal yang bisa dipermainkan."
"Ta-tapi, Pak... saya sudah kehilangan segalanya. Saya nggak punya orang tua maupun sanak saudara. Saya sudah kehilangan kehormatan saya. Saya juga... sudah punya anak dengan seseorang yang saya nggak siapaayahnya," lirih Sakura dengan suara bergetar. "Saya nggak pantas buat Bapak."
"Kenapa kamu berasumsi seperti itu?" tanya Sasuke lembut.
"Karena memang seperti itu kenyataannya," ujar Sakura pilu. "Saya nggak ada apa-apanya. Hidup saya penuh tragedi. Seumur hidup saya hanya akan mendedikasikan diri untuk Ritsuki. Sedangkan Bapak orang yang istimewa. Bapak disukai banyak orang karena wibawanya, termasuk saya. Bapak juga mendedikasikan diri untuk banyak hal," Sakura menghela nafas. "Pokoknya saya nggak sebanding sama Bapak."
"Sakura, ayo lihat saya," panggil Sasuke. Wanita itu menurut. "Saya jatuh cinta baru dua kali seumur hidup. Yang pertama mantan saya, yang kedua kamu. Saya nggak tau sejak kapan saya menatap kamu berbeda. Kamu orang yang berhasil membuat saya nyaman. Saya merasa menemukan partner yang selama ini saya cari."
Sasuke memperbaiki letak kacamatanya.
"Sebanding atau enggak, bukan kamu yang menilai. Karena nyatanya akan ada seseorang yang datang untuk melengkapimu, dan saya... saya ingin menjadi orang itu," ucap Sasuke tulus dengannadabicarayanghalusnanlembut. "Saya bersedia menerima segala kekurangan kamu. Apa yang terjadi di masa lalu itu bukan salahmu. Kamu nggak berhak menghakimi diri sendiri atas kesalahan yang nggak kamu lakukan. Bukan maumu untuk diperlakukan seperti itu. Bukan maumu juga Ritsuki ada di dunia ini. Bukan maumu pula kamu hidup seperti ini, Sakura. Untuk bertahan hingga sampai sini, saya merasa bangga sama kamu. Kamu orang yang kuat."
Mata Sakura berkilau. Air mata di pelupuknya akan jatuh bila tidak ditahan.
"Karena itu saya ingin menjadi bagian hidup kamu. Saya mau lihat kamu bahagia dan bisa bebas berekspresi. Kamu juga punya seseorang yang akan selalu ada jika kamu butuh. Dan juga...," Sasuke menarik nafasnya. "... kamu bisa memberi sosok ayah untuk Ritsuki."
Sosok ayah.
Selama ini Ritsuki selalu bertanya siapa ayahnya. Sakura yang mendengarnya hanya bisa tersenyum dan mengatakan kalau anak itu tidak punya ayah. Sang ibu muda juga sering berpesan untuk tidak sedih bila tidak punya ayah karena Ritsuki sangat berharga untuk bundanya.
"Maaf karena mendadak. Saya juga nggak punya niat buat ngelamar kamu kayak gini. Tapi saya sungguh-sungguh, Sakura."
Sasuke menatap Sakura dengan sangat dalam dan penuh arti.
"Saya sungguh-sungguh cinta sama kamu."
Sontak Sakura menutup wajahnya dan menunduk. Tak menyangka dapat perkataan seperti itu dari dosennya.
"Saya nggak peduli kamu mau nerima saya atau nggak. Saya tau, mungkin kamu masih belum membuka hati, apalagi memikirkan keadaan Ritsuki. Saya juga awalnya cuma orang asing di hidup kamu. Saya nggak akan berharap apa-apa kok dari kamu. Cuma mau menyampaikan perasaan dan keinginan saja," jelas Sasuke. Dadanya terasa lebih lapang dari sebelumnya.
Selesai sudah apa yang selama ini ia tahan. Ia tidak perlu lagi memikirkan wanita itu lagisetiapmalam. Semua telah tersampaikan.
"Saya juga manusia yang punya banyak kekurangan, Sakura. Saya bukan pria yang menyenangkan. Semua orang bilang saya orang yang kaku dan nggak punya empati. Mereka juga bilang saya menyeramkan dan nggak ramah sama sekali. Saya nggak tau cara berekspresi yang benar. Saya pikir, selagi saya baik dengan orang lain, orang itu akan menyukai saya,"
Sasuke menengadah. Langit mulai gelap. Udara yang berhembus pun semakin dingin.
"Jujur saya nggak tau bisa menuhin ekspektasi kamu atau enggak. Tapi kamu harus tau, kekurangan itu bukan cuma kamu yang punya. Kamu menyembunyikannya dengan baik, begitupun saya. Jadi, tolong… berhenti menyalahkan dirimu sendiri, ya?"
Tak lama kemudian, Sakura mengangkat wajahnya. Di sana mata Sasuke masih memandangnya dengan penuh kasih sayang. Senyuman tipis yang pria itu berikan membuat hati Sakura terasa hangat.
"Pak Sasuke tau nggak, dosa lain yang saya perbuat?" Sakura berkatadenganpelan,hampir menyerupai bisikan.
Di tengah angin dingin nan kencang, Sakura terlihat sangat cantik dengan senyumannya,
"Sebuah dosa bagi saya yang penuh kekurangan ini untuk mencintai seorang Uchiha Sasuke."
Jantung Sasuke terasa berhenti berdetak. Matanya membelalak kaget, juga terpesona dengan kecantikan wanita yang rambutnya terhembus hingga menampakkan dahi.
"Saya pikir perasaan ini salah. Sejak awal mengenal Pak Sasuke, saya merasakan perasaan yang nggak saya rasakan sejak lama. Saya kehilangan harapan sejak tragedi itu. Saya nggak percaya sama laki-laki. Tapi entah mengapa saya merasa bisa percaya sama Bapak," kata Sakura pelan.
"Salah satu alasan saya bilang tragedi itu ke Bapak juga karena saya mencintai Bapak. Memang konyol karena saya cuma mau tau apakah Bapak jijik dengan saya atau tidak. Lagipula, setelah sidang berakhir saya akan berhenti berharap pada Bapak dan fokus untuk menghidupi Ritsuki," katanya lagi dengan suara bergetar. "Tapi... Bapak tiba-tiba bilang kalau Bapak berniat melamar saya. Saya... saya nggak tau harus bagaimana."
Sasuke kembali menggengggam tangan Sakura. Kali ini wanita itu tidak bereaksi apa-apa.
"Saya selalu bertanya-tanya… adakah seseorang yang mau mencintai saya? Seumur hidup saya nggak pernah mendapat cinta dari keluarga. Saya juga nggak tau rasanya dicintai oleh laki-laki. Setiap saya mencinta, mereka semua menepisnya. Jadi ketika tragedi itu terjadi, saya sudah nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Mungkin… takdir saya memang hanya untuk mencintai Ritsuki," ujar Sakura.
"Pak, terima kasih sudah mau mencintai saya. Saya… saya sangat bahagia bisa dicintai oleh orang seperti Bapak. Tapi saya minta maaf, saya belum siap menjalin hubungan. Saya butuh waktu."
Mendengarnya, Sasuke merasa lega. Ia sangat bahagia saat tau sang kekasih hati juga mencintainya. Segala hal yang wanita itu ceritakan membuatnya semakin ingin melindunginya. Ia tak masalah dengan semua masa lalunya. Sebab, ia sangat mencintai ibu satu anak ini.
"Saya nggak apa-apa nunggu kamu, Sakura. Kamu punya hak atas hidup kamu. Kalau kamu tolak saya juga nggak apa-apa. Terserah kamu, kok," ucap Sasuke lembut. Tak lama kemudian, genggaman tangannya dibalas.
"Pak, saya masih belum sembuh. Saya masih nggak biasa disentuh sama orang kecuali Ritsuki," Sakura mengeratkan genggamannya. "Apa Bapak benar-benar mau nungguin saya?"
Sasuke mengangguk dan memberikan pandangan penuh kasih. "Saya rela menunggu kamu."
"Bahkan selama 20 tahun ke depan?"
"Kalau itu saya nggak tau, karena Tuhan bisa berkehendak lain," jawab Sasuke. "Tapi sebisa mungkin saya akan menunggu kamu."
Dengan jari yang saling bertaut, Sakura menunduk dan tersenyum.
"Mohon tunggu saya, Pak."
"Saya akan membantumu sembuh, Sakura. Saya punya teman asal China, dia psikiater yang cukup handal di usianya. Nanti saya akan panggil dia untuk kamu."
"Terima kasih banyak, Pak."
"Iya, sama-sama," Sasuke tersenyum manis. "Oh ya, setelah ini jangan panggil saya Bapak lagi. Kita cuma beda dua tahun."
"Oke, jadi mau saya panggil apa?"
"Kakak? Atau Mas?"
Sakura terkekeh. "Kalau saya panggil Mas lucu nggak?"
"Lucu," Sasuke terkikik. "Tapi saya suka."
"Oke, Mas Sasuke. Jangan nyebut diri dengan saya lagi ya, Dosenku. Pakaiaku."
"Baiklah.Aku."
"Bagus."
"Oh iya, saya-maaf, maksudnya aku punya sesuatu." Sasuke segera merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi gelang sederhana yang sempat ia beli bersama Itachi. "Buat kamu."
"Aku?" Sakura memegang gelang itu. "Tapi untuk apa?"
"Awalnya mau aku kasih setelah kamu sidang. Tapi karena sayadengar kamusudah punyaanak,sayamerasa nggak enak. Saya nggak mau suami kamu jadi curiga," jelas Sasuke. Kemudian lelaki itu terkekeh. "Dan kemarin kamu juga batal sidang, makanya nggak jadi."
"Kamu cuma ngasih ke aku?"
"Iya, sebagai kenang-kenangan buat kamu. Spesial karena kamu murid favorit aku diluar dari perasaanku. Jadi normal kan kalau aku ngasih ke kamu?"
Sakura mengangguk, tersenyum singkat. "Tapi aku nggak butuh ini, Mas."
"Itu hadiah dari aku," ujar Sasuke. "Anggap aja itu tanda kalau aku benar-benar mau nunggu kamu."
Sasuke segera memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Sakura. Pas sekali.
"Mas Sasuke..."
Sasuke tertawa kecil, kemudian mengelus kepala Sakura.
"Cepat sembuh ya, Haruno Sakura."
Cuaca mendung tak selamanya berarti sendu. Hari ini di cuaca mendung dengan angin sejuk yang berhembus di atap kampus, Sasuke dan Sakura menemukan kepingan hati yang mereka cari selama ini.
Lelaki yang sulit jatuh cinta itu hanya akan menjatuhkan hatinya pada Haruno Sakura, dan wanita yang dalam hidupnya tak bisa percaya lagi pada lelaki itu hanya akan percaya pada Uchiha Sasuke.
Semesta telah menyatukan mereka. Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura akan membuka lembaran baruyangpenuhdengan kebahagiaan.
END
