Pagi ini Sasuke terlihat mondar-mandir seperti orang kebingungan. Sesekali bibirnya mencebik karena alarm yang dia setel semalam tidak berbunyi sama sekali. Alhasil dia bangun lebih lambat dari biasanya.
Dengan tergesa-gesa dia memasangkan tali sepatunya dengan asal kemudian meraih jas yang disimpan di dalam lemari pakaian dan langsung melesat pergi begitu saja.
Hanya dengan sekali tancap, Sasuke mengendarai mobilnya keluar dari garasi, dengan kecepatan penuh menerobos keramaian jalan raya. Di tengah-tengah perjalanan, dia terpaksa harus menghentikan mobilnya karena terhalang oleh lampu *traffic light* yang menyala merah.
Cukup lama untuk menunggu sampai lampu berganti hijau, Sasuke beberapa kali memukul roda kemudi mobilnya. Dia terlambat, ditambah dia juga belum sarapan dan sekarang harus terjebak di tengah-tengah lampu merah seperti ini? Lengkap sudah. Oh, ayolah! Harusnya saat ini dia sudah duduk manis di bangku Presdir.
Baiklah, anggap saja hari ini dia sedang sial.
Lampu telah berganti hijau. Helaan napasnya terdengar dalam saat melihat seorang gadis yang tengah menyebrang di depan mobilnya, kesabaran habis karena gadis itu berjalan dengan lambat. Tangannya memencet klakson, memberitahu gadis itu agar segera menyingkir.
*Tin!!! Tiiinn!!!*
Gadis itu terkejut dan menatapnya garang. Tidak, lebih tepatnya lucu.
*Tiiiinnnnn!!!!*
Kali ini bunyi klaksonnya terdengar lebih nyaring. Apa gadis itu buta warna? Atau mungkin gadis itu tuli? Tidak tahukah jika lampu sudah berganti hijau? Ayolah... dia benar-benar tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Merasa tidak ada pergerakan dari gadis itu, Sasuke bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri gadis yang masih terus menatapnya. Bukannya meminta maaf, gadis itu justru melontarkan kata-kata kasar yang membuat Sasuke melotot tidak percaya.
"Tuan, kenapa kau berisik sekali? Apa kau tidak lihat aku sedang kesusahan membawa belanjaan sebanyak ini? Bersabarlah sedikit, ini berat."
Sasuke memalingkan wajahnya ke arah lain, bolehkan dia menyumpal mulut gadis kecil ini? Kenapa gadis itu malah mengatainya? Dasar tidak tahu diri!
"Apa maksudmu?"
"Apa? Maksudku yang mana Tuan? Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Jangan bilang kalau kau tidak— Hei, paman! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!"
Protes gadis itu tidak terima ketika Sasuke membopongnya dengan paksa. Berbicara saja tidak cukup, Sasuke terpaksa harus bertindak sendiri agar gadis itu tidak menghalangi jalannya.
"Turunkan aku! Atau aku akan berteriak sekarang juga!"
Sasuke menurunkan gadis itu ke tepi jalan kemudian berkata, "Kau bahkan sudah berteriak sejak tadi."
"Itu karena kau menyebalkan! Kau lancang! Memangnya aku karung beras yang bisa kau angkat seperti tadi?! Lihat saja aku akan melaporkanmu!"
"Mau melapor seperti apapun tetap saja kau yang bersalah gadis kecil, lain kali perhatikan langkahmu," ucap Sasuke sambil menunjuk lampu *traffic light* yang sudah berganti hijau. Gadis itu ikut menoleh dan langsung menundukkan kepalanya karena malu.
Urusannya menyingkirkan gadis itu telah selesai. Sasuke kembali masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi sesegera mungkin.
Setelah kepergian Sasuke, gadis itu perlahan mendongakkan wajahnya yang memerah karena menahan kesal. "Dasar paman tua menyebalkan! Aaaa... Aku kesal padanya!!"
Gadis itu meracau tidak karuan, sambil membawa sekantung belanjaan dia berteriak di pinggir jalan, membuat para pejalan kaki menatapnya dengan aneh.
Sasuke tiba di kantor setelah bergelut dengan waktu yang cukup menyulitkan dan langsung disambut oleh sekretarisnya.
"Tidak biasanya kau terlambat, Pak Presdir."
Teguran Naruto membuat Sasuke menoleh sebentar dan bergegas menuju ke ruang kerjanya. Namun belum sampai dia menaiki tangga, suara Naruto di belakang sana membuatnya tertegun.
"Hei, sejak kapan kancing kemejamu berpindah tempat seperti itu?"
Sasuke yang mendengar itu langsung menundukkan kepalanya untuk memastikan ucapan Naruto. Dan benar saja, kancing kemejanya terpasang dengan sangat tidak rapi, bahkan satu kancing di bagian atas tidak terpasang sesuai pada tempatnya.
"Ah, i-ini model terbaru." Sasuke menjawab asal untuk menutupi rasa malunya.
"Oh, benarkan? Sejak kapan? Lalu apa nama *brand *nya? Siapa tahu aku tertarik untuk membelinya nanti."
Bukannya menjawab, Sasuke malah berlalu pergi begitu saja meninggalkan Naruto yang seperti sedang menahan tawa.
Setelah keberadaan Sasuke menghilang dari pandangannya, tawa Naruto pun akhirnya pecah. Sepertinya Sasuke sedang mengalami dehidrasi ringan, lihat saja penampilannya itu, ah... benar-benar memalukan.
Sakura sibuk menyiapkan kudapan di dapur restoran, dengan lincah tangannya berpindah dari wajan satu ke wajan yang lain tanpa sekalipun ragu. Seolah tidak kalah dengan para karyawan yang bekerja di restoran milik ayahnya, Sakura memang berbakat dalam urusan masak memasak.
"Sakura, apa yang kau masak? Baunya harum sekali. Boleh aku mencobanya?" tanya Ino yang baru saja selesai mengantarkan makanan.
"Aku memasak sup ayam dan tumis daging sapi lada hitam dan aku tidak akan membiarkanmu mencicipinya sedikit pun!" jawab Sarada yang sibuk mengaduk masakannya.
"Sedikiiiit saja, kenapa kau pelit sekali?"
"Biarlah, aku membuatnya khusus untuk ayahku. Kau makan saja apa yang ada, lagipula aku juga sedang kesal, jadi kau jangan memaksaku. Kau tahu? Paman tua itu, dia sangat sangat sangat menyebalkan!"
Kening Ino berkerut, "Paman tua? Siapa?" tanyanya bingung.
Sakura menghela napas dalam, "Iya, paman tua. Aku tidak tahu pasti siapa dia karena aku baru pertama kali bertemu dengannya. Ku rasa wajahnya sangat tidak asing, dimana aku pernah melihatnya? Ah, entahlah. Dan kau tahu? Dia itu orang yang sangat tidak sabaran, dia juga lancang menggendongku seperti menggendong karung beras..."
Ino yang tidak tahan dengan ocehan Sarada langsung melenggang pergi begitu saja.
"Huh! Ino, kau dengar tidak?! Yak!! Kau mau kemana? Aku belum selesai berbicara. Oiy!!!" Sakura mengomel. Hidungnya mendengus saat mencium aroma pahit tetapi juga gurih, "Astaga! Dagingkuuu..." pekiknya.
"Ya ampun, Sakura... Kenapa kau ceroboh sekali? Lihat dagingnya sampai gosong begitu."
"Ahh, Tenten... Ini semua karena Ino! Harusnya dia mendengarkan ceritaku dulu sebelum pergi, dia benar-benar..."
Tenten memotong ucapan Sakura, "Cerita? Lalu apa hubungannya dengan masakanmu itu?"
"Tentu saja ada," jawab Sakura ketus.
Tenten selaku karyawan yang bekerja di restoran milik ayah Sakura hanya menggelengkan kepalanya pelan. Meskipun usia Sakura tidak jauh berbeda dengannya, tetapi kelakuan bos muda itu memang seringkali seperti itu, cerewet dan juga ceroboh.
"Makanan untuk ayah nanti diantarkan pukul 12 saja supaya masih tetap hangat," ucap Sakura sambil mengambil beberapa makanan yang siap untuk diantarkan.
"Oke."
Saat hendak membereskan masakannya, dia menepuk keningnya pelan, hampir saja lupa. "Oh, ya. Tadi aku membuatkan kalian puding susu, nanti setelah makan siang kalian bisa mengambilnya untuk dimakan bersama," ucap Sakura lagi kemudian bergegas pergi.
"Baiklah."
Sakura kembali membereskan kekacauan yang dia ciptakan secara tidak sengaja. Setidaknya dia harus bertanggung jawab atas kecerobohan yang telah dia perbuat.
Saat jam istirahat, Naruto mengajak Sasuke untuk makan siang di restoran langganannya. Sasuke yang kelaparan pun langsung mengiyakannya tanpa berkata apapun lagi.
"Kita makan di restoran langgananku saja bagaimana? Tenang saja, di sana makanannya dijamin enak. Kau tidak perlu khawatir," tawar Naruto.
"Mn, baiklah," Sasuke menjawab singkat.
Setelah lima belas menit menempuh perjalan, akhirnya mereka sampai di restoran yang dimaksud oleh Naruto. Bangunannya cukup besar dan luas, pantas saja jika restoran ini sering ramai dikunjungi. Selain menyajikan menu yang lezat dan enak, pelayanan di sana ramah disana sangat ramah dan tempatnya juga nyaman.
"Kau masuk dulu," ucap Naruto saat baru saja tiba di halaman parkir.
"Mn."
Selesai memarkirkan mobilnya, Naruto bergegas menyusul Sasuke. Pemandangan di dalam restoran ternyata lebih ramai dari perkiraannya, semua meja juga terlihat sudah mulai penuh. Naruto melebarkan pandangannya, di sudut ruangan terdapat dua meja yang belum terisi.
"Di sana," dia menunjuk meja yang terletak di samping jendela.
Mereka segera menuju ke sana, satu meja bundar yang di kelilingi sofa hanya cukup diisi oleh empat orang. Naruto dan Sasuke duduk berhadapan.
Seorang*waiter* datang menghampiri mereka dan meletakkan dua buku menu ke atas meja.
"Kau mau pesan apa?" tanya Naruto.
"Samakan saja denganmu," jawab Sasuke.
"Tenten, aku pesan dua porsi bihun goreng *seafood* untuk minumnya coffee latte dan cappuccino," tutur Naruto.
Tenten langsung menulis menu pesanan Naruto ke dalam buku nota yang dia selipkan ke dalam skau apronnya. "Baiklah Naruto-*san* tunggulah sebentar," ucapnya kemudian melesat pergi menuju dapur untuk menyerahkan nota pesanan.
Sakura yang menerima pesanan itu langsung bertindak dengan cekatan, saat ini restoran sedang ramai, jadi dia harus ikut turun tangan untuk menangani pesananan para pengunjung yang silih berganti berdatangan. Meski harus berhadapan dengan kepulan asap panas yang berasal dari wajan yang telah terisi bihun, dia memasukkan beberapa potongan udang dan cumi lalu mengaduknya perlahan. Tidak lupa pula untuk menambahkan bumbu penyedap serta irisan daun bawang agar tidak mengurangi cita rasa. Bau menyengat dari daun bawang menyeruak hidungnya yang gatal.
Dua porsi bihun goreng*seafood* telah siap untuk di sajikan, Sakura memencet lonceng di atas meja setelah selesai menyiapkan pesanan.
*Tiiinng!!!*
Seseorang datang dan langsung meletakkan dua porsi bihun goreng ke atas nampan. Terdapat secuil kertas bertuliskan 'nomor 8' yang menempel di kedua sisi piring itu.
Setelah mengambil kertas itu dan merematnya, dia langsung menuju ke meja nomor delapan yang terletak di sudut ruangan di dekat jendela.
"Permisi... Silakan Tuan pesanan Anda, dua porsi bihun goreng *seafood."*
"Oh, Ino?" sapa Naruto saat sadar jika pelayanan tersebut adalah seseorang yang dia kenali.
Ino tersenyum setelah meletakkan dua porsi nasi goreng ke atas meja, ekor matanya melirik seorang pria yang duduk di depan Naruto.
"Ah, dia temanku. Kebetulan dia juga sedang ada waktu luang jadi aku mengajaknya untuk makan di sini," jelas Naruto seolah tahu maksud tatapan Ino.
"Oh, baiklah, aku permi—"
"Ino! Maaf, aku lupa menaruh ini."
Ucap Sakura tiba-tiba sambil menunjukkan dua pasang sendok dan garpu di tangannya dan meletakkannya ke atas meja.
"Kau?"
Sebuah interupsi suara berat membuat Sakura menoleh, "Ya... P-Paman tua? Sedang apa kau di sini?" kagetnya saat tahu jika seseorang yang baru saja memanggilnya adalah pria lancang yang dia temui pagi tadi.
Ino dan Naruto melotot, mereka saling melempar tatapan bingung. *'Paman? Sejak kapan Sakura mengenali pria itu?'* batin Ino.
Naruto masih memasang ekspresi bingung, apakah Sasuke terlihat setua itu? Matanya melirik Sakura dan Sasuke secara bergantian. "Kalian berdua saling kenal?"
"Apa? Tentu saja tidak! Ino, sebelumnya aku pernah bercerita padamu kan? Kau ingat?" elak Sakura.
"Benarkan? Kapan?" tanya Ino yang mendadak berlagak lupa.
"Ta— Ah, sudahlah lupakan!"
Kesal Sakura kemudian melenggang pergi begitu saja, meninggalkan mereka yang masih dilanda kebingungan.
"Dia kenapa?" tanya Naruto heran. Ino hanya mengedikkan bahunya, "Entahlah..."
Setelah Ino benar-benar pergi, Naruto berbicara di sela-sela menikmati makanannya. "Kau dan Sakura sepertinya saling kenal," celetuknya.
Sasuke menyesap secangkir cappuccino kemudian menjawab, "Jangan bercanda, aku bahkan tidak tahu siapa dia."
"Gadis manis yang mengantarkan sendok tadi, kau tidak tahu?"
Naruto hanya membalasknya dengan ber-'oh' saja dan kembali melanjutkan acara makan siangnya. "Tunggu dulu, barusan kau memanggilnya apa? Gadis manis?"
"Ya, bukankan Sakura terlihat sangat manis?"
"Uhuk... Uhuk..."
"Pelan-pelan, aku tidak akan merebut makananmu, oke?" ucap Naruto sambil menepuk bahu Sasuke.
"Uhuk! Tidak, bukan begitu."
Dalam hati Sasuke sepenuhnya membenarkan ucapan Naruto. Gadis itu memang terlihat manis, meskipun pipinya agak sedikit *chubby.*
"Kau sering datang ke sini?" tanya Sasuke mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya, aku menyukai rasa masakannya yang khas. Bagaimana denganmu?"
"Lumayan."
"Menyebalkan! Kenapa aku harus bertemu dengan pria itu lagi?" Sakura mengumpat sambil mencincang wortel di atas telenan, membuat Tenten yang baru saja tiba memekik kaget.
"Astaga, Sakura! Aku hanya terlambat lima menit saat mengantarkan makanan untuk ayahmu, tapi kau sudah mau menyincangku, tidak bisakah kau mengampuniku? Aku berjanji padamu lain kali akan mengantarkannya tepat waktu, tolong beri aku kesem—"
"Apa maksudmu? Siapa yang mau menyincangmu? Aku tidak akan menyincangmu tetapi menyincang pria jelek dan menyebalkan itu!" marah Sakura.
"Ha? Siapa?" Tenten bertanya bingung.
"Dia!" Sakura menunjuk seorang pria yang duduk berhadapan dengan Naruto.
Tenten menutup mulutnya tidak percaya, "Sakura, apa matamu sedang bermasalah? Pria itu sangat tampan, kenapa kau mengatainya jelek?" tanyanya tidak habis pikir.
Sakura mencebik, "Tampan apanya? Dia itu pria tua paling jelek dan super menyebalkan yang pernah aku temui di dunia ini," ucapnya berlebihan.
Tenten mengibaskan tangannya, "Terserah kau sajalah." Dia mengamati lekat-lekat seorang pria tampan yang duduk di dekat jendela dari kejauhan." Tapi tunggu, seperti wajahnya tidak begitu asing," katanya kemudian merogoh saku apronnya, mencari ponsel.
Dia mulai mengetikkan sesuatu di layar ponselnya, tidak lama kemudian muncul sebuah gambar dan menunjukkannya kepada Sakura. "Dapat! Lihat ini, astaga..."
Di layar ponsel itu menampilkan data lengkap dari seorang anak pemilik perusahaan terbesar se-Asia, di sana terpampang foto Uchiha Sasuke yang terpampang dengan sangat jelas.
Sakura melongo, "Ja-jadi dia itu..."
