Hai...hai... Saya datang lagi ^-^
Sebelumnya, saya mau sapa salah satu Guest dulu. Tapi, itu pun kalau Guest saya yang satu itu masih mau lanjut baca. Hehe...
Amoral, berlebihan dan tidak ada harga diri? Come on, Sweety! Ini Fanfiction, tempat para author bisa bebas berimajinasi liar. Saya membuat cerita rated 'M' pasti dengan suatu alasan. Kalau alur ceritanya sweet dan aman, saya akan kasih rated 'K', bukan 'M'. Tapi saya juga harus mengucapkan terima kasih, karena Anda membuat saya tertawa terpingkal-pingkal saat membawa review Anda, pagi itu ^-^
Untuk fict ini, rencananya mau saya buat panjang, hingga berchapter-chapter. Saya berusaha membuat alurnya pas, tidak terburu-buru. Untuk yang tidak terlalu suka fict dengan banyak chapter, saya sarankan untuk tidak memilih fict ini sebagai bahan bacaan.
Ada yang merasa gaya menulis saya berubah? Sepertinya memang benar. Di fict ini umur Sasuke dan Naruto hampir tiga puluh tahun. Rasanya aneh jika memakai kalimat santai dan tidak baku. Dan gaya menulis saya akhir-akhir ini memang banyak terpengaruh oleh novel terjemahan. Apa itu buruk?
Terima kasih untuk dukungan, masukan dan flamernya. Kalian semua membuat hari saya jadi lebih berwarna.
Ok, selamat membaca!
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 2 : Because I Can
By : Fuyutsuki Hikari
25 Mei 2014
Mungkin keadaan akan lebih baik jika Naruto tidak menghubungi Shikamaru tadi malam. Gadis itu masih berjalan bolak-balik di dalam dapurnya yang sederhana. Suara raungan ceret menghentikan langkahnya, dengan cepat dia mematikan kompor, dan menuang air panas ke dalam cangkir. Dia perlu mengkonsumsi caffein dengan dosis tinggi hari ini. Permintaan Sasuke kemarin malam terdengar begitu gila, dan Naruto benar-benar sinting jika menyetujuinya.
"Argh..." Teriak Naruto frustasi, dia mengabaikan perutnya yang berbunyi minta diisi. Gadis itu mencoba mengingat kapan dia makan, ah, dia terakhir kali makan kemarin siang, hampir dua puluh empat jam yang lalu, dengan menu sebuah waffle kacang dan secangkir kopi pahit. Naruto menunduk menatap perutnya yang berbunyi semakin nyaring. "Ada hal yang lebih penting daripada mengisi perut," ujarnya kacau. Padahal perutnya memerlukan asupan karbohidrat saat ini.
Naruto membawa kopi pahitnya ke ruang tengah. Dia ingin melupakan permasalahannya dengan Sasuke untuk sejenak. Gadis itu menepuk jidat, saat teringat jika kartu teleponnya tertinggal di kantor. "Aku benar-benar sial," ujar Naruto patah semangat. Gadis itu duduk, mencoba santai di depan televisi.
"Membosankan," keluh Naruto sebal setelah berada di depan TV hampir satu jam lamanya. Saluran TV hanya menampilkan opera sabun yang membosankan menurutnya. Naruto baru saja akan meyesap kopi miliknya saat bel pintunya berbunyi. Dia melihat penampilannya yang kacau di depan kaca besar yang tergantung di ruang tamu. Dia belum menyisir rambutnya, tapi setidaknya dia sudah mencuci wajah dan menyikat gigi pagi tadi.
Gadis itu melirik sekilas ke jam dinding, masih jam sebelas siang. Siapa yang datang bertamu di hari libur pada jam ini. Naruto menyeret kakinya menuju pintu. Seorang pria muda pengantar paket berdiri di depan pintu apartemennya. "Nona Namikaze?" tanya pria itu terlihat lega melihat Naruto.
"Ya," jawab Naruto dari celah pintu yang hanya terbuka satu perempat bagian.
"Tolong tandatangani ini," kata pengantar itu, menyodorkan surat tanda terima dan sebuah pulpen hitam padanya.
Alis Naruto terangkat sebelah, "paket untukku?" tanya Naruto terdengar tidak yakin bahkan untuk dirinya sendiri.
Pengantar paket itu membaca surat pengantar dan kembali menatap Naruto dengan senyum profesional. "Benar, ini ditujukan untuk Nona Namikaze."
Naruto menerima surat tanda terima itu, tidak ada nama pengirim. Benar-benar aneh. Gadis itu menandatangani dan menyerahkan kembali surat tanda terima pada pria di depannya. Pria itu mengangguk dan menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang dengan sampul coklat rapi. "Ini paket Anda. Saya permisi." Pria itu berbalik pergi setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Sebenarnya siapa yang mengirim paket untukku?" gumam Naruto penasaran. Wajahnya menekuk dalam saat membolak-balik kotak di tangannya. Ia lalu menghela napas panjang sebelum merobek sampul pembungkus kotak dan membuka isi di dalamnya. "Apa-apaan ini?" Naruto mengangkat telepon genggam yang ada di dalam kotak, sebuah Apple Iphone 6 ukuran 5,5 inci dibalut dengan badan aluminum karbon yang mempesona.
"Bukankah barang ini belum diluncurkan di pasaran?" Naruto berkata dengan mulut terbuka lebar. Belum juga rasa kagetnya hilang, telepon genggam di tangannya berbunyi nyaring. Ternyata telepon genggamnya dalam keadaan aktif. "Uchiha Sasuke?" Naruto membaca nama yang tertera pada layar teleponnya. "Jadi ini ulahmu?" raung Naruto galak setelah menyentuh layar touch screen, menerima panggilan itu.
"Kau suka?" Sasuke malah balik bertanya dengan nada santai.
Andai saja pria itu ada di hadapannya saat ini, dia pasti sudah melempar wajah tampan pria itu dengan benda terdekat. Ok, coret kata 'tampan', batinnya mencoba untuk menyangkal. "Apa maksudmu mengirim benda sialan ini padaku? Mau menyuap, hah?"
"Benda sialan itu sebagai pengganti telepon genggammu yang rusak," Sasuke masih menjawab dengan santai. Naruto bisa membayangkan jika pria itu sedang menyeringai puas saat ini.
"Kenapa kau menggantinya dengan benda mahal seperti ini?" bentak Naruto. "Benda sialan ini pasti sangat mahal, bahkan masih belum diluncurkan di pasaran." Naruto memijit keningnya yang berdenyut sakit. "Kenapa kau melakukan ini?"
"Karena aku bisa," sahut Sasuke datar. Memesan produk yang belum dipasarkan langsung dari pabriknya di Amerika, mengantar pesanannya dengan jet pribadi serta mengancam pada ekspedisi yang ditunjuk untuk mengantar paket itu walau di hari libur dan sampai ditujuan tepat pukul sebelas siang merupakan hal mudah untuknya. Atau mungkin lebih tepat jika dikatakan gila?
Naruto mendesis tidak suka mendengar jawaban angkuh dari mantan kekasihnya itu. "Katakan dimana alamat rumahmu!"
Alis Sasuke terangkat sebelah mendengar nada perintah Naruto. "Kenapa aku harus mengatakan dimana rumahku?" ia membalas dengan nada dingin, tidak suka.
"Jangan membuat hal ini menjadi sulit, Tuan Uchiha." Gemertuk gigi Naruto terdengar keras.
"Mau menyerahkan diri?" goda Sasuke setengah berharap, moodnya berubah begitu cepat.
"Jangan berharap dasar brengsek!" teriak Naruto marah.
"Kalau begitu lupakan!" dan sambungan telepon pun diputus sepihak oleh Sasuke menyebabkan suara teriakan keras kembali terdengar dari dalam apartemen Naruto siang ini.
.
.
.
26 Mei 2014
"Wajahmu jelek sekali," ujar Ino saat melihat wajah suram rekan kerjanya pagi ini. Wajah Naruto benar-benar kusut, lingkaran hitam terlihat jelas di matanya, kulitnya pucat karena kurang tidur. Bagaimana dia bisa tidur jika hari ini merupakan batas akhir untuknya memberi jawaban pada Sasuke. Pria itu mengatakan jika supir akan menjemputnya tepat pukul lima sore. Hah, untuk kali pertama dalam hidupnya, Naruto berdoa untuk memiliki setumpuk pekerjaan agar bisa bekerja lembur hari ini.
"Kenapa wajahmu begitu ceria?" Naruto balik bertanya melihat wajah berseri-seri Ino.
"Aku, bahagia?" Ino tertawa canggung dan mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Bagaimana bisa aku ceria dengan masalahku?" dia pura-pura sedih, dasar drama queen.
"Semuanya gara-gara si Tuan Arogan Brengsek itu!" ujar Naruto dengan wajah keras. Rahangnya mengeras, dengan mata berkilat-kilat marah.
"Ah, dia tidak seburuk itu." Sahut Ino membuat Naruto kembali melirik padanya dengan tatapan tidak percaya.
"Apa?" dengus Naruto keras. "Kemarin kau setuju jika dia itu- brengsek."
Ino berdecak dan menatap Naruto dengan tatapan genit. "Setiap orang bisa berubah." Katanya santai.
"Cih, ternyata dia juga mempengaruhimu, Ino." Ujar Naruto menutup pembicaraan mereka pagi ini.
Ino merasa bersalah pada teman baiknya ini. Dia sudah menyembunyikan sesuatu yang sangat penting dari Naruto. Kemarin pagi dia mendapat telepon dari sekretaris Sasuke, mengatakan jika bosnya berubah pikiran dan bersedia untuk diwawancara.
Otak tajam wanita itu pun langsung waspada, terlalu aneh karena pria itu berubah pikiran. Setelah jeda cukup lama, suara sang sekretaris pun berganti dengan suara dalam milik seorang pria. Suara milik Uchiha Sasuke. "Jadi, apa yang ingin Anda ketahui?" Sasuke langsung bertanya tanpa berbasa-basi.
"Terlalu aneh jika Anda merubah pikiran begitu cepat, Uchiha-san." Sahut Ino mengutarakan isi pikirannya.
"Aku melakukannya karena rekan setimmu merengek-rengek padaku," jawab Sasuke berlebihan.
"Rekan setim?" Ino mengernyit. "Maksud Anda siapa?" tanyanya penasaran.
"Namikaze Naruto."
"Naruto?" Ino terlonjak dari kursinya, beruntung telepon genggamnya tidak jatuh karena gerakan mendadak itu. Ino terlalu kaget dengan berita yang di dengarnya di hari Minggu yang cerah. Benar-benar tidak bagus untuk jantung.
"Saya belum mengatakan apapun tentang ini padanya," sahut Sasuke formal. "Rahasiakan masalah ini darinya! Saya ingin memberi kejutan pada teman lama." Dusta Sasuke lihai. "Dan pastikan dia bisa pulang pukul lima sore besok." Perintahnya tegas.
Bagaimana mungkin Ino bisa menolak permintaan atau perintah seseorang yang menjadi dewa penyelamat karirnya. Kawan lama? Ino mengernyit, tentu saja Naruto dan Sasuke saling kenal. Naruto satu sekolah yang sama dengan Uchiha Sasuke saat SMA. Bagaimana bisa dia lupa akan hal sepenting itu. "Baik, saya mengerti."
"Sekretaris pribadi saya akan segera menghubungi Anda untuk mengatur janji." Dan sambungan telepon pun diputus. Ino bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih. Dan sekarang, di hari berikutnya dia merasa bersalah karena harus menyembunyikan hal ini dari Naruto.
.
.
.
"Ugh…" Naruto bergumam. Ia menggeliat, melenturkan otot-otot punggungnya yang kaku. Naruto menatap meja kerjanya yang sudah bersih dari tumpukan pekerjaan. Ino benar-benar baik hati hari ini, rekannya itu mengambil seperempat pekerjaan milik Naruto.
"Ino, kau yakin tidak ada yang bisa kubantu?" Naruto bertanya penuh harap. Hatinya menggerutu karena waktu berjalan sangat cepat hari ini.
"Tidak ada, Naruto." Sahut Ino tanpa menatap wajah Naruto. "Pekerjaanku juga sudah hampir selesai," tambahnya. Kesepuluh jari tangannya sibuk menari di atas keyboard laptopnya.
Naruto menyeringai, "bagaimana jika kita pergi karaoke pulang kerja nanti?" usulnya cepat. "Kali ini aku yang traktir."
Tarian jemari tangan Ino terhenti, gadis itu berbalik dan memasang wajah bersalah saat menatap Naruto. "Maaf, hari ini tidak bisa." Ujar Ino pelan. "Aku ada janji kencan dengan Sai."
"Begitu?" suara Naruto terdengar kecewa. Ia mendesah pelan dan menepuk pelan tangan Ino. "Ck, kalau begitu mungkin lain kali."
"Tentu, dan biar aku yang membayar tagihannya."
"Kau serius?" tanya Naruto riang. Ino mengangguk dengan memasang senyum terbaiknya. "Ok, kalau begitu lain kali."
Tepat pukul lima sore, Naruto mengambil tas kerjanya, pamit kepada Ino lalu melangkah keluar gedung kantornya. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil Audi SUV, seorang pria berusia awal empat puluh tahun berjalan menghampirinya dan membungkuk hormat sebelum bicara. "Nona Namikaze?"
"Benar," jawab Naruto pendek. Dia mengamati pria di depannya ini dengan intens. 'Apa dia supir yang dimaksud Sasuke?' pikirnya dalam hati.
"Saya Tenzo Yamato, supir dari Tuan Uchiha." Yamato memperkenalkan diri.
"Ah, ternyata dugaanku benar." Alis Naruto berkedut, sedikit kesal. "Katakan padanya, aku tidak mau datang untuk menemuinya." Yamato masih bersikap begitu tenang menanggapi kekasaran Naruto. "Tunggu apa lagi? Pergi!" bentak Naruto.
"Maaf, saya tidak akan pergi tanpa Anda." Sahut Yamato masih dengan sikap tenangnya.
Naruto berkacak pinggang, menatap Yamato sengit. "Yamato-san, kenapa Anda harus begitu keras kepala?" Naruto berdecak sebal, pria di depannya ini bukan musuh yang mudah untuk ditangani. Pria di depannya sama menjengkelkan dan keras kepala seperti Sasuke.
Gadis itu baru saja akan berbalik pergi saat mendengar dering telepon genggamnya berbunyi keras. Ia merogoh ke dalam tas kerjanya, matanya menyipit marah melihat nama yang tertera di layar smartphonenya. "Apa?" bentak Naruto menjawab panggilan itu.
"Kau sudah bertemu Yamato?" tanya Sasuke langsung pada tujuan. Tidak ada sapaan maupun basa-basi keluar dari mulutnya.
"Aku tidak akan datang menemuimu," desis Naruto.
"Yakin?" Naruto bersumpah jika dia mendengar nada geli pada suara Sasuke. "Jika Yamato tidak bisa membawamu, aku akan memecatnya."
"Apa?" teriak Naruto lagi begitu keras. Ujung matanya melirik gugup ke arah Yamato yang masih berdiri di tempatnya. "Kenapa kau melibatkan orang lain dalam masalah kita?" rahangnya kembali mengeras.
"Aku tidak memerlukan pegawai yang gagal dalam pekerjaannya." Sahut Sasuke enteng. "Lagipula, aku bisa mencari penggantinya secepat kilat."
"Dasar licik!" raung Naruto menutup pembicaraan mereka.
"Silahkan," Yamato sudah berdiri di depan pintu belakang mobil, saat ini. Ia mempersilahkan Naruto untuk masuk. 'Sejak kapan dia berada di sana?' pikir Naruto. Setelah pertimbangan yang cukup sulit, gadis itu akhirnya melangkahkan kaki dan masuk ke dalam mobil dengan wajah ditekuk. Dia pasti akan merasa sangat bersalah jika menyebabkan orang lain kehilangan pekerjaan karena ulahnya. Lagipula, dia memang harus menghadapi Sasuke.
Perjalannya terasa begitu singkat bagi Naruto. Padahal sedari tadi dia terus berdoa agar jalanan macet, walau itu sangat tidak mungkin. Atau mungkin mobil mogok, atau apapun dia tidak peduli asalkan hal itu bisa memperpanjang perjalannya.
"Kita sudah sampai, Nona." Yamato kembali bicara, tanpa menengok ke arah belakang. " Tuan Uchiha sudah menunggu Anda di lobby," lapornya. Naruto mengangguk dan berjalan keluar setelah seorang valet membukakan pintu mobil untuknya. Gadis itu berusaha agar tetap terlihat tenang saat ini. Padahal jantungnya berdebar cepat, tangannya basah karena gugup. Bagaimana dia tidak gugup, dia akan masuk ke dalam Hotel bintang enam dengan pakaian kasual. Untung saja dia memakai blazer biru berenda, yang membuat penampilannya terlihat sedikit lebih formal. The Peninsula Tokyo, kenapa Sasuke harus membawanya ke tempat ini? Ah, pria dan uang yang melimpah, gerutuannya terus bernyanyi dalam hati.
"Lama sekali," keluh Sasuke memutar kedua bola matanya bosan. Air liur Naruto hampir saja menetes melihat penampilan pria itu sore ini. Sasuke terlihat sangat maskulin dalam balutan jas abu, celana panjang serta dasi berwarna senada. Rambutnya disisir rapi ke belakang, hah, sangat menggiurkan. Sasuke mencium setiap buku-buku jari Naruto begitu lembut dan intim. Hal itu menyebabkan gelitik aneh di perut Naruto, namun ia tidak menolaknya.
Sasuke tersenyum dan menyelipkan tangannya pada tangan Naruto lalu terkekeh kecil. "Gugup?" ejeknya. "Tanganmu berkeringat dan begitu dingin."
Naruto memalingkan muka, ia menarik tangan yang digenggam Sasuke, mencoba melepaskan diri. Namun pria itu semakin mengeratkan genggamannya dan menarik paksa Naruto untuk berjalan mengikutinya. "Tidak usah gugup," katanya santai. "Aku belum mau memakanmu." Tambahnya serak. Tidak tahu kenapa, hati Naruto sama sekali tidak tenang mendengarnya.
"Kita mau kemana?" tanya Naruto setelah berada di dalam lift. Sasuke mengukir senyum misterius dan melirik ke arah Naruto. "Rahasia."
Naruto mendelik dengan dengusan kasar. "Aku tidak suka rahasia, terutama jika kata itu keluar darimu."
Sasuke tertawa, tawa lepas yang membuat Naruto terbelalak kaget. "Apa?" tanya Sasuke melihat wajah terkejut Naruto.
"Aku tidak tahu jika kau bisa tertawa seperti itu."
"Masih banyak yang tidak kau ketahui tentangku, Naruto." Tawa itu menghilang seketika, digantikan awan hitam yang menggantung di wajah tampan Sasuke.
Naruto meneguk air ludahnya dengan susah payah, memalingkan muka. "Jangan katakan jika kau akan membawaku ke kamar." Gadis itu menggigit bibir bawahnya, menyesal dia sangat menyesal mengatakannya.
"Apa kau mengharapkan itu?" kedua mata Sasuke berbinar jail saat mengatakannya. Dengan gerakan tiba-tiba, dia menarik tubuh Naruto ke arahnya. Lalu mendorong hingga punggung gadis itu membentur dinding lift keras. Sasuke mengunci mulut Naruto dengan mulutnya. Keras, lapar dan sensual. Dengan nafsu yang menggebu, pria itu memaksa bibir Naruto untuk membuka dan takluk pada serangannya.
Tangan Sasuke mengunci pergerakan tangan Naruto di atas kepala, membuat Naruto terkunci dalam kungkungan erat tubuhnya. "Kau membuatku lapar, sangat lapar." Ia menjilat bibir bawah Naruto pelan, oniksnya menatap lurus manik shappire di depannya.
Naruto membeku, matanya melihat binar buas dalam kedua mata Sasuke. Binar itu membuat Naruto merinding, dan ketakutan. Dilain sisi, feromon pria ini juga terlalu kuat,sulit untuk mengabaikannya. Tubuhnya sendiri bahkan mengkhianati otaknya yang terus berteriak untuk menolak keras cumbuan basah, panas sekaligus memabukkan itu.
Secepat ciumannya, secepat itu juga Sasuke melepaskan tubuh Naruto. Dia kembali berdiri tenang dan angkuh. "Tenang saja, hal itu tidak akan terjadi. Tanpa seijinmu tentu saja," ujarnya cepat terlihat serius dan berbahaya. "Aku sudah punya rencana lain," bisik Sasuke pada telinga Naruto.
Pintu lift terbuka saat Naruto hendak membuka mulut untuk membalas. Mulutnya kembali terkatup rapat saat Sasuke menuntunnya ke dalam suatu ruangan. Naruto membelalakan mata, pria itu membawanya ke dalam sebuah Penthouse Bar.
"Kenapa sepi sekali?"
"Aku menyewanya penuh untuk malam ini," jawab Sasuke ringan tanpa beban. Pria itu kembali menyeringai melihat ekspresi terkejut Naruto. "Kenapa?" tanyanya.
"Kau gila?" bentak Naruto. "Menyewanya untuk satu malam? Berapa uang yang kau keluarkan untuk hal tidak berguna ini?"
Mimik wajah Sasuke berubah mendengar ucapan Naruto, rahangnya mengeras. "Ini uangku, kenapa kau harus repot memikirkannya?" dia balas membentak. "Duduk!" perintahnya keras.
Naruto mendudukkan tubuhnya di atas kursi bar, sementara Sasuke mengambil sebotol anggur putih buatan Prancis tahun 2000. Bunyi blub terdengar saat dia berhasil membuka tutup botol tersebut, tanpa menumpahkan isi di dalamnya.
"Kau menyewa tempat ini hanya untuk mengundangku minum?" ejek Naruto.
"Aku bebas melakukan apapun di sini," sahut Sasuke, tangan terampilnya menuangkan anggur ke dalam dua gelas kristal. "Apapun," tambahnya dengan maksud yang mudah sekali dibaca.
Naruto menerima gelas anggur dari tangan Sasuke dan menenggaknya dalam satu tegukan. "Bukan begitu cara menikmati anggur mahal." Tegur Sasuke dari balik gelas kristalnya.
"Kau pikir aku peduli?" desis Naruto. Ia meletakkan gelas begitu keras ke atas meja bar. "Kita duduk di sini untuk membahas masalah wawancara itu. Aku akan memberikan jawabanku."
Sasuke mencibir dan kembali menuangkan anggur ke dalam gelas Naruto. "Kau sudah makan?" tanyanya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" raung Naruto.
"Berhenti berteriak, Namikaze!" Sasuke gemertak, "kau tidak akan suka melihat kemarahanku."
"Kau pikir aku takut?" tantang Naruto. Tanpa basa-basi, Sasuke menyeret pergelangan tangan Naruto, gadis itu berteriak meminta dilepaskan, namun Sasuke bergeming, dengan langkah cepat dia membawa Naruto masuk ke dalam sebuah kamar suite yang masih berada di lantai yang sama.
Sasuke melempar tubuh Naruto ke atas tempat tidur berukuran double. Dengan marah dia melepas dasi dan menggunakannya untuk mengikat kedua tangan Naruto pada kepala tempat tidur. "Lepaskan aku-brengsek!" Naruto berteriak sekuat tenaga.
"Teriak! Teriak, Naruto!" perintah Sasuke. Sorot matanya menggelap karena marah. "Teriak hingga kau puas. Tidak akan ada satu orang pun yang akan datang untuk menolongmu." Seru Sasuke masih dengan nada yang sama. "Aku bukan hanya menyewa bar saja, Sayang. Aku juga menyewa seluruh lantai ini, karena aku yakin jika kau akan bertindak bodoh. Benar-benar bodoh!" Sasuke berkata dengan nada manis, bibirnya mendarat tipis di telinga Naruto, menggigit cupingnya hingga Naruto berteriak karenanya.
Tubuh Naruto bergetar, dia ketakutan, sangat ketakutan. Pria ini bukan Sasuke yang dikenalnya dulu. Dia bahkan berpikir jika Sasuke memiliki kepribadian ganda. "Lepaskan aku," rintih Naruto menatap nanar pria yang berbaring di atasnya.
"Melepaskanmu?" Sasuke mendengus, mencemooh. Jemarinya menelusuri lekuk wajah Naruto dan berakhir pada kancing pertama kemeja gadis itu. "Aku harus menghukummu," Sasuke kembali bicara dengan tatapan dingin. "Aku sudah katakan, aku tidak suka dibantah. Dan mulut pintarmu itu harus belajar untuk mengendalikan ucapannya."
"Tolong, jangan lakukan ini. Kumohon…"
Sasuke sama sekali tidak menjawab. Tatapannya berpindah pada kancing kemeja Naruto. Dengan ahli dia membuka kancing, satu-persatu. "Tidak buruk," dia menyeringai menatap dada Naruto yang terekspos. "Kau akan mengingat ini sebagai hukuman, Naruto." Lidah Sasuke kembali menjilat bibir Naruto yang bergetar. "Kau takut?" tanyanya pelan. "Kau takut?" dia membentak keras karena Naruto lebih memilih untuk memalingkan wajahnya. "Lihat aku!"
Naruto kembali menatap wajah Sasuke yang menggelap. Dia mencoba untuk bersikap sekuat mungkin, namun air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah, mengalir begitu deras.
"Kau takut?" tanya Sasuke lagi dengan nada lembut. Naruto mengangguk lemah. "Bagus," sahut Sasuke puas. Pria itu melepaskan ikatan tangan Naruto dari kepala tempat tidur. Namun dia tetap mengikat kedua tangan gadis itu di depan.
Sasuke kini berbaring di samping Naruto. Hidungnya mengendus aroma rambut gadis itu. "Rambutmu benar-benar wangi, aku menyukainya." Ujarnya pelan. Naruto terdiam, air matanya masih mengalir. Hatinya sangat sakit mendapat perlakuan seperti ini dari Sasuke. "Berbalik, punggungi aku." Perintah Sasuke lagi.
Dengan perlahan, Naruto menggerakan tubuhnya hingga dia membelakangi Sasuke. "Bagus," kata Sasuke lagi. Naruto bisa merasakan pergerakan di belakang tubuhnya. Dan beberapa saat kemudian, dua tangan kekar memeluknya dari belakang.
Sasuke memeluknya, menyerukkan kepalanya pada leher Naruto. Punggung gadis itu kini menempel pada dada bidang Sasuke yang telanjang. "Stttt, jangan menangis." Hibur Sasuke pelan. "Aku hanya ingin mengajarkanmu disiplin." Tangannya beralih, menyibak helai pirang gadis itu. "Ini aku lakukan agar kau ingat untuk tidak menentangku, mengerti?"
Naruto mengangguk pelan. "Gadis pintar," puji Sasuke mengecup puncak kepala Naruto. "Tidurlah, kau membutuhkannya."
.
.
.
27 Mei 2014
Naruto terbangun keesokan harinya oleh cahaya matahari yang menyilaukan mata. Kedua matanya menyipit, salah satu tangannya diangkat untuk melindungi kedua matanya. Perlahan dia menatap tangannya yang bebas, tanda merah di pergelangannya menjadi bukti akan apa yang terjadi padanya tadi malam. "Bukan mimpi," gumamnya sedih.
"Sudah bangun?" Sasuke berdiri di sana, menyeringai angkuh menatap mantan kekasihnya. "Mandi, pakaian gantimu ada di dalam kamar mandi. Kita sarapan bersama," perintahnya tegas sebelum berlalu pergi.
Naruto menghela napas tajam, matanya melirik ke dadanya yang terekspos. Bagaimana bisa dia tertidur sangat lelap tadi malam? Apa karena rasa takutnya? Atau mungkin karena anggur yang diminumnya menghasilkan reaksi pada perutnya yang kosong. Gadis itu menggelengkan kepala, menyibakkan selimut dan mengikat rambutnya tinggi dengan karet rambut yang selalu dia bawa di dalam saku celananya.
Gadis itu pasti akan mengagumi pemandangan kota Tokyo di depannya jika saja saat ini dia berada dalam kondisi normal. Kamar suite yang ditempati mereka memang disuguhkan pemandangan menakjubkan kota Tokyo.
Naruto mandi dengan cepat, lalu mengeringkan tubuhnya dengan handuk besar milik hotel. Ia menemukan sebuah tas kertas belanja yang terlihat mahal di samping wastafel.
Di dalam tas terdapat sebuah dress berwarna karamel lembut selutut tanpa lengan. Matanya sesaat terbelalak saat melihat satu pasang pakaian dalam yang juga berada di dalamnya. Pakaian dalam itu begitu lembut di tangannya, berwarna senada dengan dress di tangannya.
Awalnya Naruto berniat untuk menantang Sasuke, memilih untuk tetap mengenakan pakaian kusutnya. Namun hal itu dia urungkan, ancaman Sasuke bukan hanya gertakan, pria itu bisa berbuat nekat jika Naruto melawan perintahnya. "Kali ini aku harus mengalah," ucapnya lemah.
Naruto mengenakan pakaian itu dengan cepat dan memasukkan pakaian kotornya ke dalam tas itu. Ia menyisir rambut dan mengikatnya tinggi, membiarkan beberapa helai rambut terlepas dari ikatannya dan membingkai wajah cantiknya secara natural.
Gadis itu melangkah keluar dari kamar mandi, berjalan ke ruang tengah dan mendapati Sasuke duduk begitu santai di atas sofa. "Duduk," Sasuke menepuk tempat kosong di sampingnya. Dengan patuh Naruto mematuhi perintahnya.
"Kau terlihat cantik," puji Sasuke mengamati Naruto intens. Dengan satu tarikan dia menarik lepas ikatan rambut Naruto, membuat rambut pirang bergelombang itu tergerai ringan hingga sebatas punggung. "Jangan memperlihatkan leher indahmu pada orang lain," kata Sasuke possessive.
Naruto mengangguk kecil, dan menatap lurus mata Sasuke. "Aku benar-benar suka jika kau bersikap manis seperti ini, Naruto." Sasuke mengecup lembut bibir ranum itu, pelan, manis namun menggoda. "Makan," katanya setelah melepaskan ciumannya.
"Aku tidak lapar," dusta Naruto. Yang diinginkannya saat ini hanya pergi dan menjauh dari Sasuke. Dia harus melarikan diri, sejauh mungkin.
"Makan!" bentak Sasuke. Wajahnya kembali melunak setelah ia menarik napas panjang. "Aku baru saja memujimu, Sayang." Kini suaranya terdengar serak, emosinya naik turun dengan cepat. Matanya kini berkabut penuh gairah melihat Naruto menggigit bibir bawahnya. "Makan, atau aku yang akan memakanmu!" Pria itu mendorong sebuah piring berisi omelet pada Naruto sementara dia menggigit croissant.
Sasuke menuangkan kopi ke dalam dua gelas dan memasukkan susu cair ke dalamnya ditambah satu sendok teh gula. Ia mengaduknya pelan dan kembali menyodorkannya pada Naruto.
Naruto mendorong piring yang masih berisi setengah dari omeletnya, "aku kenyang." Kata Naruto menjawab tatapan sinis Sasuke.
"Makan!"
Naruto akhirnya menyerah dan kembali mengunyah makanan itu dengan pelan hingga akhirnya habis tak bersisa. Wajah gadis itu mengernyit tidak suka saat Sasuke menyodorkan roti panggang yang diolesi selai padanya. "Aku kenyang." Tolak Naruto.
"Sepiring omelet tidak akan membuatmu kenyang," kata Sasuke tajam. "Makan!"
Lagi-lagi Naruto hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan pria itu. "Aku belum memberikan jawabanku," bisik Naruto. Tangannya sibuk menusuk-nusuk roti panggang dengan pisau dan garpu.
"Aku sudah tahu jawabanmu," sahut Sasuke tenang. Dia duduk bertopang kaki, dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak. "Bukankah kau menolak usulanku?" katanya datar.
"Aku tidak bisa melakukannya," sahut Naruto membenarkan. "Itu hal yang sangat penting bagiku."
"Aku tahu," Sasuke menjawab dengan suara serak. "Hari ini, akan jadi hari terakhir kita bertemu, Naruto."
"Apa maksudmu?" tanya Naruto. Mengapa hatinya merasa tidak rela.
"Aku harus menjauhimu," ujar Sasuke tenang. "Jujur, pada awalnya aku ingin memilikimu. Tapi sekarang aku tidak yakin."
"Aku semakin tidak mengerti," Naruto menggeleng pelan.
"Berada di dekatmu bukan hal yang baik untukku," jawab Sasuke sambil meremas rambutnya keras. "Kau membuatku kehilangan kontrol, dan aku tidak menyukainya. Karena itulah, aku harus menjauh darimu."
"Oh," sahut Naruto serak. Dia kembali menggigit bibir bawahnya. Matanya menunduk menatap jemarinya yang saling bertaut.
"Sudah kukatakan, berhenti menggigit bibir bawahmu!"
"Jangan mengaturku!" teriak Naruto. Keberaniannya kembali muncul, mungkin pengaruh perutnya yang kini terisi penuh. "Pergi saja, aku tidak peduli." Seru Naruto. "Kau hanya bajingan gila, aku bisa melaporkanmu ke polisi karena perbuatanmu tadi malam. Kenapa aku harus peduli pada baji-"
Sasuke menarik rambut Naruto keras ke arahnya. Sementara satu tangan lainnya menahan kepala gadis itu. Dengan kasar dia mencium bibir Naruto, menggigitnya keras saat gadis itu menutup rapat mulutnya.
Sasuke mengobrak-abrik pertahanan diri Naruto. Tanpa ampun dia menciumnya, terus hingga dia kehabisan napas. "Sudah kukatakan jangan menentangku! Kenapa kau tidak juga mengerti?"
Naruto menatapnya dengan berani, kepalanya terasa perih karena jambakan kasar Sasuke pada rambutnya. "Berhenti menentangku, Nona Namikaze. Asal kau tahu, aku bukan orang yang sabar."
"Kau berubah," bisik Naruto. "Aku tidak mengenalmu, siapa kau sebenarnya?"
"Kau memang tidak pernah mengenalku, Sayang." Bisik Sasuke lembut. Jemarinya kini membelai bibir Naruto yang merah dan bengkak. Setidaknya gadis itu tidak perlu menggunakan lipstik untuk mewarnai bibirnya hari ini. "Kau tidak pernah tahu." Tambahnya kasar.
Naruto hanya bisa pasrah, Sasuke membaringkannya di atas sofa, menindihnya, dan mengikat kembali kedua tangannya dengan napkin. Pria itu sangat marah, benar-benar marah. Gadis itu menyesali mulut lancangnya yang sama sekali tidak bisa menahan diri.
"Sasuke, hentikan. Kumohon..." pinta Naruto saat Sasuke menciumi tubuhnya yang masih terbalut pakaian.
"Kenapa aku harus berhenti? Kenapa?" bentaknya. Kedua mata mereka bertemu, yang satu memancarkan amarah sementara lainnya memancarkan kesedihan.
"Karena kau membuatku takut," ujar Naruto pelan begitu jujur.
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
