Nihao... thank you untuk dukungannya hingga hari ini ^-^ Maaf, saya tidak membalas review satu persatu.
Makasih juga untuk readers yang sudah nyempetin baca 'Secret Admirer', beberapa ada yang minta sequel, sayangnya untuk saat ini masih belum ada ilham. Kita lihat nanti yah, dan terima kasih untuk reviewnya. Maaf, lagi-lagi saya tidak balas satu-persatu. (:
Btw, please jangan panggil saya 'Mas, Gan, Brow, atau Dude'. #Garuk-tanah, miris banget. Berasa jadi cewe dengan kumis baplang. Panggil saya 'Fuyu', thank you! ^○^
Ok, selamat membaca!
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 3 : Tears
By : Fuyutsuki Hikari
27 Mei 2014
Gadis itu sama sekali tidak tahu apa dosanya hingga kejadian buruk itu kembali terulang, dan kali ini bukan oleh seorang asing, tapi oleh orang yang dikenalnya, mantan kekasihnya, juga cinta pertamanya. Kedua tangannya yang terikat diatas kepala membuatnya sulit untuk bergerak, sedangkan kedua kakinya dikunci oleh tubuh pria itu.
Sasuke mencium seluruh tubuhnya dengan amarah, nafsu dan kebutuhan mendesak. Mulutnya tinggal lama di sekitar leher Naruto, menghirup rakus, menjilat serta menikmati aroma harum dan rasa asin yang bercampur menjadi satu kenikmatan menyiksa untuknya.
Kedua mata Naruto membulat, memekik saat Sasuke menurunkan kepala hingga belahan gaun v-necknya. "Jangan, Sasuke!" gadis itu akhirnya berteriak begitu keras. Namun pria itu terlihat tidak terusik oleh lolongan kemarahan dan erangan frustasinya. Mata Sasuke semakin gelap, mulutnya semakin turun. Turun. Dan turun. Kedua tangannya terus menyentuh, sangat kurang ajar, membuat gadis yang masih berteriak dan meraung itu memohon untuk dilepaskan, namun Sasuke bergeming, menulikan telinganya.
Dan serta merta Naruto pun menangis.
Ia menangis begitu keras karena takut. Menangis karena marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa memberikan perlawanan berarti. Menangis karena memori hitam itu kembali berputar di otaknya, terus berputar tanpa sanggup ia hentikan.
Suara tangisan kerasnya mengembalikan otak sehat Sasuke, pria itu kini terlihat syok menatapnya. Wajah putih porselennya memucat, melihat tangisan pilu wanita muda di bawahnya. Dengan gerakan cepat, dia membuka simpul yang terikat di pergelangan tangan Naruto.
"Jangan!" wanita itu beringsut mundur saat Sasuke melepaskannya. Ia kembali histeris dan meringkuk ketakutan, tubuhnya gemetar hebat di ujung sofa saat Sasuke bergerak perlahan mendekatinya. Naruto mencoba melindungi dirinya yang terlihat rapuh, memberi jarak aman dari tubuh pria yang kini membeku di tempatnya, menatapnya nanar.
Sasuke ingin sekali mencabik-cabik dirinya sendiri saat ini. Kemarahan, nafsu dan keegoisannya kembali menyakiti wanita itu. Wanita yang menjadi alasan utamanya untuk kembali ke negara ini, kini terlihat seperti hewan kecil yang ketakutan, tak berdaya dan mengenaskan.
"Naruto?" dia memanggil dengan nada aneh, bahkan untuk telinganya sendiri. Dadanya terasa sangat berat. Bukan, bukan ini yang diinginkannya. Tapi sisi gelapnya menertawakannya, terdengar jelas dan mengejek, mengatakan jika pemandangan inilah yang diinginkannya.
'Tidak!' nuraninya berteriak keras melawan tawa sisi gelapnya yang perlahan mulai melemah. Pria itu mengulurkan tangannya yang terasa dingin, ingin sekali ia menyentuh Naruto lembut, mencoba untuk menenangkannya.
"Jangan sentuh aku, kumohon..." Gadis itu kembali bicara, lebih menyerupai cicitan, dengan nada frustasi yang menyedihkan. Tangannya menepis kasar tangan Sasuke yang kini mendadak lemas. Bahu Naruto berguncang begitu hebat, terlihat semakin rapuh. Air matanya terus mengalir, kedua matanya menatap takut, memelas pada pria yang kini berlutut di depannya.
"Tidak," sahut Sasuke serak, bergerak mundur. "Jangan menatapku seperti itu." Katanya pelan, sebelum akhirnya berdiri dan berbalik meninggalkan Naruto seorang diri di sana.
Gadis itu tidak sadar berapa lama dia meringkuk, menangis pilu di atas sofa setelah Sasuke pergi meninggalkannya. Maskaranya luntur karena air mata, rambutnya lepek, wajahnya terlihat kacau, sama kacaunya seperti hatinya saat ini.
Air mata itu menumpahkan amarah, sakit hati, juga rasa kecewanya yang begitu besar pada Sasuke. Gadis itu bahkan bergeming saat telepon genggamnya terus berdengung, berbunyi nyaring sepanjang hari karena panggilan masuk.
Hanya Tuhan yang tahu bagaimana gadis itu bisa kembali pulang dengan selamat ke apartemen kecilnya. Naruto melempar tas tangannya asal dan masuk ke dalam kamar. Air matanya masih mengalir saat kepalanya menyentuh bantal bulu angsanya, dia menangis hingga lelah dan akhirnya jatuh tertidur.
.
.
.
29 Mei 2014
"Kamu yakin sudah sehat?" tanya Ino berkerut cemas. Gadis itu terus membuntuti Naruto sejak pagi.
Naruto memutar kedua bola matanya, berkacak pinggang dan menatap lurus wajah sahabatnya yang berdiri menjulang di depannya. "Aku baik-baik saja," gadis itu menutup jawabannya dengan seulas senyum tipis.
"Sebaiknya kamu tetap tinggal di rumah untuk beberapa hari, Naruto."
"Jangan konyol." Naruto berusaha agar tidak memutar kedua bola matanya lagi. Dia tahu betul jika Ino sangat mengkhawatirkannya saat ini.
"Aku serius," ujar Ino pelan. Gadis itu duduk di kursi kerjanya dengan bersilang kaki. "Wajahmu masih pucat, dan kamu terlihat kurus. Jiraiya-sama pasti mengerti jika kamu mengambil cuti beberapa hari lagi. Setidaknya sampai kamu sembuh."
Naruto tertegun untuk sesaat. Dia memang kehilangan berat badan hingga beberapa kilo. Rok pensil ketat yang dipakainya kini begitu longgar, hingga dia harus mengakalinya dengan sebuah peniti dibagian pinggangnya. "Aku baik-baik saja," Naruto mencoba meyakinkan Ino untuk kesekian kalinya, dan menepuk pelan tangan sahabatnya. "Lagipula, dua hari di rumah membuatku sangat bosan." Tambahnya dengan senyum manis. Dia tidak mungkin mengatakan jika dua hari kemarin dia hanya meringkuk di atas tempat tidur nyamannya, menangis dan mengutuk Sasuke seharian. Ya, dia tidak mungkin mengatakannya.
Ino menarik napas dalam-dalam. Percuma berdebat dengan Naruto, karena sahabatnya itu bisa jadi sangat keras kepala, dan dia tidak mau perdebatan mereka malah membuat Naruto semakin sakit. "Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan." Kata Ino kemudian, ia memilih untuk mengalah saat ini. "Naruto?"
"Hm," jawab Naruto tanpa mengalihkan tatapannya dari layar komputer. Jemari lentiknya menari dengan lincah di atas keyboard.
"Aku belum membuat sebuah pengakuan padamu," tukas Ino. Wanita itu terlihat begitu menyesal.
Jemari lentik Naruto terhenti di udara, ok, nada bersalah dari suara sahabatnya itu membuatnya tertarik. "Tentang?" wanita itu memutar kursi putarnya, menghadap Ino.
"Aku berhasil mewawancarai Uchiha-san," sahut Ino begitu cepat. Matanya menatap intens wajah Naruto, mengamati perubahan ekspresi sahabatnya, namun nihil.
"Kapan?" tanya Naruto dengan nada senormal mungkin.
Ino mendesah lega, dia mengira jika Naruto akan sangat marah karena dia menyembunyikan hal penting ini darinya. "Selasa siang kemarin," sahut Ino. "Kalau boleh jujur, aku tidak menyukainya."
Naruto mengerutkan kedua alisnya, saat mendengar nada ketus dari Ino. "Kenapa?"
Ino berdecak dan memasang wajah masam. Kedua tangannya diletakkan di depan dada. "Sekretarisnya menghubungiku jika bosnya itu memiliki waktu selama tiga puluh menit untuk wawancara setelah makan siang." Dengus Ino. "Pria itu sangat menakutkan, menjawab pendek semua pertanyaanku dan bersikap tidak bersahabat."
"Benarkah?"
"Aku tidak bohong," Ino mengerang kesal mengingat sesi wawancaranya dengan Sasuke yang berlangsung tidak menyenangkan.
"Setidaknya kamu berhasil mewawancarainya," hibur Naruto.
"Itu semua berkatmu," Ino menjawab penuh terima kasih.
"Hah?"
Ino menyipitkan mata, "Uchiha-san sudah mengatakannya padaku. Dia bilang jika kamu memintanya agar mengabulkan permintaan wawancara ini."
"Dia bilang begitu?" tanya Naruto serak.
Ino mengangguk. "Naruto, apa dia selalu menyeramkan?" selidik Ino ingin tahu.
Naruto menghela napas panjang, kejadian buruk Selasa pagi itu kembali berputar di otaknya, membuatnya bergidik ngeri. "Begitulah."
"Sudah kuduga," seru Ino. "Bagaimana bisa dulu aku begitu menyukainya," tukasnya tak percaya.
"Karena dia tampan?" celetuk Naruto. "Atau karena sifat coolnya yang membuat para gadis tergila-gila?"
Ino mengangkat bahu dan kembali menatap Naruto dengan tatapan aneh.
"Apa?" tanya Naruto sedikit gugup mendapat tatapan intimidasi dari Ino.
"Apa kamu tahu alasan sebenarnya Uchiha berhenti dari dunia keartisan dan mengasingkan diri ke Amerika?"
"Mana aku tahu," jawab Naruto cepat. Wanita itu memang benar-benar tidak tahu.
"Aneh," tukas Ino serius masih dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Dia mengatakan jika aku ingin tahu jawaban pertanyaan tadi, aku harus bertanya padamu."
"Hah?" Naruto berdecak keras, memutar jari lentiknya di sisi kening kanannya. "Otaknya pasti tidak beres," ujarnya ketus. Bagaimana bisa dia tahu mengenai alasan sebenarnya kenapa Sasuke pergi, itu sangat tidak mungkin.
"Kamu yakin tidak tahu?" Ino mencondongkan tubuhnya, "mungkin kamu lupa. Coba kamu ingat-ingat lagi!"
"Aku tidak tahu," sembur Naruto agak kesal. "Lagipula, bukan urusanku kenapa dia memilih untuk pergi. Hubungan kami sudah berakhir sebelum itu." Jawab Naruto tanpa sadar akan pernyataan yang baru saja keluar dari bibirnya. Bibirnya terpeleset, matanya membulat sempurna saat menyadari apa yang baru saja dikatakannya.
Mulut Ino terbuka lebar mendengar berita hebat ini. Hubungan? Naruto dan Sasuke berhubungan? Berakhir? Hubungan pria dan wanita berakhir? Otaknya mencerna secara perlahan informasi itu hingga akhirnya dia memekik dan berkata setengah berteriak. "Kalian pacaran?" gadis itu menunjuk tepat pada hidung sahabatnya.
Naruto bergerak dari atas kursinya dan membekap mulut Ino kencang. "Jangan keras-keras!" tegurnya. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, mulutnya memasang senyum palsu pada beberapa pegawai yang penasaran mendengar teriakan Ino.
Ino mengangguk paham, membuat Naruto melepasnya walau sedikit enggan. "Jadi, kalian benar-benar pernah pacaran?"
Oh, Tuhan. Kenapa Ino diberi rasa ingin tahu yang begitu besar? Tidak bisakah wanita itu berpura-pura tidak mendengar pernyataan Naruto dan melupakannya? Tentu saja tidak, desah Naruto dalam hati. "Ya," sahut Naruto dengan berat hati. "Itu dulu. Case closed!" tambahnya cepat menutup sesi tanya jawab itu.
"Pantas saja dia mau mengabulkan permintaanmu," seru Ino memasang pose berpikir. "Lalu, apa dia kembali untukmu?"
"Ino?" tegur Naruto melotot.
"Ok, aku tidak akan bertanya lagi." Kata Ino. "Tapi bagaimana jika dia kembali untukmu?"
"Tidak mungkin, dan berhenti membahas hal itu!"
Ino menyeringai kecil dan membuat tanda peace dengan tangannya. "Uchiha-san akan datang siang ini."
"Untuk?" tanya Naruto pura-pura tidak tertarik. Wanita itu harus bersembunyi agar tidak bertemu dengan Sasuke. Hatinya masih belum siap untuk bertemu lagi dengan pria itu.
"Pemotretan untuk melengkapi wawancara kemarin," jawab Ino.
"Oh," Naruto mengangguk dan menyelipkan rambut ke belakang telinganya.
"Dia akan menggunakan studio lima," ujar Ino. "Aku akan ikut mengawasi jalannya pemotretan nanti. Kau mau ikut?"
Naruto menggeleng pelan. "Tidak."
"Yakin?" goda Ino. "Sabaku akan di sana sebagai photographer."
"Gaara? Benarkah?" seru Naruto memekik senang. "Dia tidak memberitahu hal ini padaku." Naruto menyipitkan mata dan mendengus sebal.
"Mungkin dia ingin memberimu kejutan."
"Tetap saja membuatku sebal," ujar Naruto. "Tapi, tumben kita menggunakan jasa Gaara. Honor Gaara bukankah lumayan tinggi?"
Ino mengangkat bahu. "Entahlah, Jiraiya-sama yang mengatur langsung untuk pemotretan kali ini. Mungkin perusahaan kita mendapat suntikan dana besar."
"Kamu pikir begitu?"
Ino lagi-lagi mengangkat bahu, tidak yakin. "Ah, malam Sabtu nanti perusahaan kita akan mengadakan jamuan formal di Hotel Tokyo. Undangannya sudah disebar lewat email kemarin, kamu sudah baca?"
"Belum," sahut Naruto. "Mendadak sekali. Dalam rangka apa?"
"Pengenalan pemegang saham baru."
"Keren."
"Ya, dan itu artinya kita bisa makan enak-gratis sepuasnya." Kekeh Ino senang. "Kita pergi bersama saja dari kantor, acaranya dimulai jam delapan malam."
"Tentu," sahut Naruto senang.
"Ngomong-ngomong, aku belum mengatakan kabar gembira lain untukmu." Seru Ino tiba-tiba dengan senyum lebar. Matanya berkilat, jelas terlihat sangat senang.
"Apa?" tanya Naruto dengan sebelah alis terangkat. Terlalu banyak hal baik terjadi secara bersamaan entah kenapa malah membuat hati Naruto sedikit terusik-terganggu.
"Dewan mengeluarkan kebijakan baru," sahut Ino. "Jam kerja kita dikurangi, Sabtu dan Minggu-kantor libur. Karyawan tidak boleh lembur di atas jam sepuluh malam. Bukankah itu hebat?" seru Ino.
Naruto terdiam, otaknya mencerna berita yang terdengar mustahil itu. "Kamu yakin?" tanyanya.
"Tentu saja," sahut Ino. "Pemberitahuannya sudah ditempel di papan pengumuman sejak kemarin pagi."
"Wow," ujar Naruto takjub, masih setengah tidak percaya.
"Yeah, wow." Balas Ino dengan seringai lebar. "Kita harus merayakannya, terlalu banyak hal baik terjadi di minggu ini. Bagaimana kalau kita rayakan malam Minggu nanti?"
"Tentu," sahut Naruto antusias. "Jemput aku ke apartemen?"
"Ok," janji Ino. Dan keduanya pun kembali menekuni pekerjaannya.
Naruto sendiri tidak yakin bagaimana bisa dia melalui dua jam pertamanya dengan sangat cepat. Mungkin pekerjaan yang menggunung di atas meja membuatnya lupa waktu. Matanya kembali melirik ke samping meja dimana masih ada beberapa map yang menumpuk disana. 'Satu jam lagi sebelum makan siang,' batinnya menyemangati. Dan tiba-tiba teleponnya berdengung nyaring, membuatnya terlonjak, dan menyadarkannya kembali ke alam nyata.
"Namikaze." Sahut Naruto pelan.
"Naruto, ada seseorang yang ingin bicara denganmu." Naruto mengernyit, mendengar nada genit pada suara resepsionisnya.
"Naruto?" kini suara genit resepsionis itu berganti dengan suara familiar lain yang dikenalnya dengan baik.
"Gaara," sahut Naruto kini tersenyum tipis. "Kamu tidak memberitahuku jika kamu ada di sini." Tegurnya sedikit kesal.
"Kejutan," kata Gaara cuek. "Mau makan siang bersama?" tawarnya.
"Tentu."
"Bagus, pekerjaanku harusnya selesai jam dua belas nanti." Kata Gaara dengan suara dalam khasnya, beberapa wanita banyak yang menyukainya karena hal itu. "Tolong jemput aku di studio lima, ok?"
"Hah?"
"Bye," dan Gaara menutup pembicaraan mereka. Padahal Naruto baru saja akan meminta agar mereka bertemu di lobby, untuk menghindari Sasuke tentu saja.
Naruto mendesah dan meletakkan kepalanya yang mendadak berdenyut sakit di atas meja kerjanya. Tangannya memijat tengkuknya yang terasa sangat pegal. Untung Ino sudah pergi ke studio lima sejak tadi, memastikan jika pemotretan itu berjalan lancar. Jika tidak, dia pasti melontarkan beberapa pertanyaan lain atau memaksa Naruto untuk pulang.
Satu jam kemudian, disinilah Naruto berada, tepat di balik pintu ganda studio lima. Wanita itu menarik pelan pegangan pintu dan mengintip ke dalamnya, hati-hati. "Sial!" umpatnya pelan. Sasuke berdiri begitu dekat dengan Gaara. Pria itu nampak menawan dalam setelan jas rancangan Zegna, berwarna silver dengan warna dasi senada. Rambutnya disisir rapih ke belakang, pria itu sangat menggiurkan. Lihat saja mata wanita yang berada di sana, begitu memuja dan terarah lurus padanya.
Naruto memaki Gaara dalam hati, temannya itu selalu mematikan telepon genggamnya saat bekerja, jadi mau tidak mau Naruto harus menghampirinya saat ini. Tapi, jika dia melakukan itu, otomatis dia akan bertemu muka dengan Sasuke. Arghhhh, ingin rasanya Naruto berbalik pergi dan melarikan diri. Hei, kenapa dia jadi sepengecut itu? Naruto memantapkan hati, menegakkan diri, dan membuka pintu, berjalan dengan kepala tegak, begitu anggun menuju Gaara berdiri, sibuk merapihkan kameranya.
Sasuke mengamati wanita itu dengan ekor matanya. Dia mengacuhkan ocehan penata gaya yang jelas sangat tertarik padanya. Pria itu menyipitkan mata, tidak suka saat Gaara memeluk Naruto mesra. Panda itu bahkan mengecup kening Naruto, dan Naruto membalasnya dengan senyum manis.
"Jadi, kita akan makan dimana?" Sasuke bisa menangkap jelas isi pembicaraan mereka. Kedua tangannya terkepal, berani sekali Naruto mengacuhkannya dan bersikap manja pada pria lain. Pria yang diingatnya sebagai partner Naruto saat pesta reuni enam tahun yang lalu. Wanita itu benar-benar harus dihukum agar mengerti, Sasuke mencatatnya dalam hati.
"Di depan gedung ada restoran western, makanannya cukup enak." Usul Naruto pelan. Wanita itu terlihat begitu tangguh, padahal jatungnya berdebar kencang. Bulu kuduknya meremang, merasakan tatapan tajam pria bermata oniks yang berdiri tidak jauh darinya saat ini.
"Ok," sahut Gaara. Pria itu memasukkan kamera ke dalam tas kerjanya. Menyalami beberapa kru dan berbalik menghadapi Sasuke, mengulurkan tangan, sopan. "Senang bisa bekerja sama dengan anda, Uchiha-san."
Sasuke menjabat uluran tangan Gaara dan menjawab datar. "Senang bisa bertemu dengan teman Naruto yang lain, selain Nona Yamanaka."
Gaara mengernyit dan melirik ke arah Naruto yang memasang wajah masam menatap Sasuke. "Kalian saling kenal?" tanyanya. Kenapa Naruto tidak pernah menceritakan hal ini padanya.
Naruto masih terdiam, terlalu marah untuk bereaksi. Berani benar Sasuke berkata seperti itu. Apa haknya melakukan itu?
"Kami sepasang kekasih." Tukas Sasuke kemudian. Terdengar begitu mutlak. Ruangan itu kini sudah sepi, hanya ada mereka bertiga di dalamnya.
Gaara jelas terkejut mendengar penuturan Sasuke. Uchiha bungsu itu mengulas senyum licik menatap Naruto yang memerah marah. "Bisa anda rahasiakan hal ini, Sabaku-san." Ujar Sasuke dengan nada memerintah. "Anda orang pertama yang mengetahuinya. Kehidupan Naruto bisa terganggu jika hal ini diketahui oleh paparazzi."
"Tentu," sahut Gaara. Pria itu terlihat sedikit kecewa karena Naruto merahasiakan hal penting ini darinya. "Aku hanya tidak mengerti, kenapa Naruto merahasiakan hal ini."
"Gaara, ini-"
"Kami baru saja memulainya kembali," potong Sasuke berjalan memutar dan membawa tubuh kurus Naruto ke dalam dekapannya. Dengan kurang ajar dia mengecup puncak kepala Naruto dan tersenyum hangat.
"Ah, begitu rupanya." Gaara mengangguk. "Matsuri pasti menjerit bahagia mendengar kabar ini. Tapi, apa aku boleh mengatakan rahasia ini pada istriku?"
Sasuke tersenyum penuh kemenangan mendengar kata 'istri' dari mulut Gaara. "Tentu saja, bukankah kalian teman dekat Naruto."
"Kamu benar-benar penuh kejutan, Naruto." Gaara berdecak, lalu tersenyum tulus pada wanita yang kini melihatnya dengan tatapan meminta tolong. "Jangan melihatku seperti itu," ujar Gaara salah mengerti. "Aku tidak marah, setidaknya kalian memberitahuku dulu mengenai hal ini." Andai saja Gaara mengetahui kebenarannya, dia pasti menerjang dan memukul keras Sasuke saat ini juga. "Mau bergabung makan siang dengan kami, Uchiha-san?" tawar Gaara.
"Tentu," jawab Sasuke senang. Pria itu melepaskan dekapannya pada Naruto dan berjalan keluar bersama Gaara. Mereka berbincang ringan, meninggalkan Naruto yang masih membeku di tempatnya untuk beberapa saat.
"Jadi, kamu mau pesan apa?" tanya Gaara pada Naruto. Matanya masih membaca buku menu di tangannya. "Kelihatannya semua enak," tambahnya sambil mengernyit, terlihat bingung.
Naruto melirik sekilas ke arah Sasuke yang masih menatapnya tajam. Namun mata pria itu berbinar geli, apa maksudnya itu? Apa dia menganggap hal ini lucu? Ck, Naruto ingin sekali menyiram otak bebal Sasuke dengan air es, berharap jika hal itu bisa mendinginkan otaknya yang tidak beres.
"Biar aku yang pilihkan," sahut Sasuke mengabaikan tatapan tajam Naruto yang terarah padanya. Sasuke memesan semangkuk chicken soup, sepiring salad bacon dan satu gelas kecil puding panna cotta untuk Naruto.
"Kamu mau memberi makan raksasa?" protes Naruto kesal. Sasuke selalu bertindak semaunya, begitu arogan dan dominan.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, mengusap dagunya yang belum dicukur, balas menatap Naruto tajam. Pria itu benar-benar terlihat sangat berbahaya. "Kamu perlu asupan gizi, kamu terlalu kurus."
"Aku setuju," sahut Gaara cepat membuat Naruto melotot ke arahnya. "Hei, kekasihmu benar, kamu bisa sakit jika terlalu kurus." Tegur Gaara membalas Naruto yang cemberut, masam.
"Jangan membelanya!" desis Naruto.
Gaara mengangkat bahu cuek dan memilih untuk memesan segelas jus jeruk dan sepiring pasta untuknya sendiri. Sedangkan Sasuke, ia memesan sepiring daging kelinci porsi kecil, dimasak ala Prancis dengan lelehan keju dan potongan kecil asparagus yang menggugah selera. Dia juga memesan sepiring salad buah dan sebotol anggur untuk melengkapi menu makan siang mereka.
"Maaf, kami tidak memiliki jenis anggur yang anda minta." Sahut pelayan wanita itu dengan suara manja dibuat-buat.
"Apa yang kalian punya?" tanya Sasuke datar.
"Spain wine tahun 2012," jawabnya. Pelayan wanita muda itu menatap Sasuke dengan penuh minat, ingin sekali Naruto berteriak dan memaki pada pelayan itu. Bisakah mereka bersikap profesional? Oh, kenapa juga Naruto harus marah? Setiap wanita normal pasti tidak bisa menolak pesona gelap Sasuke yang begitu seksi. Pria itu terlalu menggiurkan untuk diabaikan. Lalu, bagaimana dengan dirinya? Kenapa dia merasa tidak rela saat wanita lain menatap mantan kekasihnya dengan tatapan lapar?
"Bawa yang kalian punya," perintah Sasuke tegas membuat Naruto terhenyak dari lamunannya. Pelayan itu membungkuk dan segera kembali lima belas menit kemudian dengan nampan berisi pesanan mereka.
"Makan!" kata Sasuke sedikit keras, kesal karena Naruto hanya menusuk-nusuk malas makanannya dengan garpu. "Makan, baru kamu bisa menyesap anggurmu." Tegur Sasuke menjauhkan gelas anggur milik Naruto.
Naruto menekuk wajahnya dan dengan enggan memasukkan satu sendok penuh sup kental itu ke dalam mulutnya. Matanya berbinar saat rasa enak itu menyentuh indera perasanya, ia lupa betapa laparnya dia. Tatapan intimidasi Sasuke membuatnya lupa akan hal itu. Gaara dan Sasuke tersenyum tipis, melihat Naruto yang akhirnya menyantap semua supnya dengan lahap.
Gaara melirik ke jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Dengan anggun dia membersihkan mulut dengan napkin. "Sayang sekali aku harus pergi," ujarnya kecewa.
"Secepat ini?" kata Naruto protes. "Kenapa cepat sekali?"
"Aku harus mengejar pesawat siang ini. Pekerjaan di Hokkaido menungguku," jelas Gaara.
"Aku akan mengantarmu," tukas Sasuke sopan.
"Tidak perlu," tolak Gaara halus. "Tolong awasi wanita jelek ini saja. Pukul jika dia tidak mau makan," ujar Gaara bercanda, sambil mengacak rambut Naruto penuh sayang. Sasuke menahan napas, mencoba menekan sifat possessive-nya melihat hal itu. "Datanglah berkunjung, Matsuri sangat merindukanmu, begitu juga anak kembarku. Kalian bisa datang bersama, mungkin?" Gaara mengalihkan pandangannya pada Sasuke.
"Tentu," sahut Sasuke tenang menjawab tawaran Gaara. Sedangkan Naruto tersedak, terbatuk hebat dan meminum rakus air mineralnya.
"Sampai jumpa lagi," Gaara berdiri dan mengulurkan tangan pada Sasuke. "Tolong jaga Naruto." Pintanya sungguh-sungguh.
Sasuke berdiri, menyambut uluran tangan itu dan tersenyum kecil. Senyum yang selalu bisa merontokkan pendirian kliennya agar tetap memakai jasa perusahaannya. Senyum yang dipelajarinya selama bertahun-tahun untuk menutupi topeng kehidupannya yang gelap.
Gaara kembali mengecup puncak kepala Naruto yang masih cemberut di kursinya. Wanita itu ingin sekali teriak, mengatakan jika dia tidak mau ditinggalkan seorang diri bersama Sasuke. "Jaga kesehatanmu, ok?" Naruto mengangguk lemah. "Sampai jumpa," ujar Gaara lagi sebelum berbalik pergi keluar restoran yang masih penuh pengunjung siang ini.
"Aku mau kembali ke kantor," ujar Naruto setelah kepergian Gaara.
"Makan," ujar Sasuke pelan. Tangannya sibuk memotong daging di piringnya.
"Aku sudah kenyang," sahut Naruto melotot. Berani sekali Sasuke memerintahnya seperti itu.
"Makan!" bentak Sasuke lebih keras. Beruntung suasana resroran yang ramai meredam bentakannya yang keras. "Silahkan pilih, makan dengan tanganmu, atau aku akan menyuapimu dengan caraku sendiri." Katanya dengan mata berkilat, penuh janji sensual.
Naruto menelan air ludahnya cepat, hati kecilnya mencicit ketakutan hingga akhirnya dia memilih untuk memasukkan potongan salad baconnya ke dalam mulut dan mengunyahnya pelan. "Gadis pintar," puji Sasuke senang, ia mengangkat gelas anggurnya dan menyesapnya nikmat.
Keduanya meninggalkan restoran setelah Sasuke membayar tagihan dengan kartu kredit. Mereka berjalan berdampingan, Naruto memberikan sedikit jarak agar mereka tidak bersentuhan secara tidak sengaja.
Naruto berjalan dengan pikiran kosong, dia bahkan tidak sadar saat sebuah sepedah melaju kencang ke arahnya. Sasuke berteriak dan menarik Naruto ke arahnya. Wanita itu bisa mencium harum sabun cuci pakaian Sasuke yang lembut, bercampur aroma maskulin dari parfum yang dipakai pria itu. Sasuke memeluk tubuh kurusnya erat, mulutnya memaki pengendara sepedah yang melarikan diri karena kaget dan takut.
"Kamu baik-baik saja?" Sasuke menangkup wajah Naruto yang masih belum sadar dari keterkejutannya.
"Maaf," kata Naruto pelan.
"Kenapa kamu harus meminta maaf?" bentak Sasuke marah. "Sepedah sialan itu yang berjalan di luar jalurnya," ujarnya dengan rahang keras.
"Kamu terlalu berlebihan, aku baik-baik saja." Tukas Naruto mencoba melepaskan wajahnya dari kedua tangan Sasuke.
"Berlebihan?" Sasuke tertawa sinis. "Kamu bisa terjatuh ke aspal, terluka atau hal lainnya yang bahkan tidak bisa aku katakan karena terlalu mengerikan."
Naruto menghela napas dan memutar kedua bola matanya. "Jangan memutar kedua bola matamu!" ancam Sasuke berbahaya.
"Memangnya kenapa?" tantang Naruto marah. Tanpa banyak bicara, Sasuke menyeretnya ke sebuah gang kecil, mendorong tubuh Naruto ke tembok dan memerangkapnya di sana layaknya seorang predator pada mangsanya.
"Apa yang kamu lakukan?" bentak Naruto berani, menyembunyikan rasa takutnya.
Dan Sasuke menciumnya di gang itu. Begitu panas, memaksa, menuntut. Naruto menjerit tertahan saat pria itu menggigit keras bibir bawahnya agar terbuka untuknya. Sasuke menciumnya liar, sebelah tangannya mengunci pergerakan tangan Naruto di atas kepala, sedangkan sebelah tangannya yang lain menyelusup ke dalam kemeja putih milik Naruto.
Tangannya membelai perut Naruto ringan lalu beranjak naik. Naruto bergetar, tubuhnya terasa panas. Tidak, kenapa hal ini harus terjadi lagi? Mata Naruto melotot horor saat merasakan tangan Sasuke membelai payudaranya keras dan kasar. Mencubitnya dan meremasnya tanpa ampun, dan pergerakan itu berhenti seketika.
Sasuke menatapnya tajam, "ini yang akan terjadi jika kamu terus melawan perkataanku." Desisnya pelan, mengancam. "Jangan bermain-main dengan emosiku, Sayang." Tambahnya kini dengan nada lembut. Punggung tangannya membelai pipi Naruto sayang.
"Penolakanmu menyakitiku," kata Sasuke dengan ekspresi terluka. "Kamu tidak tahu berapa besar kamu mempengaruhiku. Aku menginginkanmu, sangat menginginkanmu. Tanganku begitu gatal ingin merobek seluruh pakaianmu. Aku ingin bercinta denganmu saat ini juga, di tempat ini. Aku ingin memenuhimu dengan diriku. Apa kamu mengerti?"
Naruto terdiam, mendadak sulit untuk bernapas. Dia bisa merasakan ereksi pria itu menekan keras perut rampingnya. Wanita itu takut salah mengambil langkah, dan membuat Sasuke lebih marah.
"Kamu adalah kekasihku, dan aku tidak menerima penolakan. Mengerti?"
Naruto mengangguk, pasrah. Saat ini posisinya terjepit, dia memilih untuk mengalah di peperangan ini. Dan ke depannya, Naruto akan memikirkan rencana lain agar bisa lepas dari Sasuke.
"Bagus," ujar Sasuke puas dan mendaratkan kecupan ringan di bibir Naruto. "Ayo, aku antar kamu kembali."
.
.
.
30 Mei 2014
Waktu berjalan cepat setelahnya. Setelah kejadian Kamis siang itu, Sasuke tidak pernah menampakkan diri di depan Naruto atau menghubunginya. Hal itu membuat Naruto sedikit lega juga kecewa. Yah, entah kenapa, Naruto merindukan pria itu. Mungkin dia kecewa karena Sasuke tidak meminta maaf padanya. Benarkah hal itu yang diinginkannya dari Sasuke?
Siang pun berganti malam. Malam ini adalah adalah malam jamuan formal yang diselenggarakan perusahaannya untuk pertama kali. Setiap karyawan memakai pakaian terbaiknya, dan terlihat sangat gugup juga antusias secara bersamaan.
Ino mengenakan gaun cocktail berwarna kuning lembut sebatas lutut, rambutnya dibiarkan terurai indah hingga punggung. Wanita itu mengenakan make up tipis untuk melengkapi penampilannya malam ini.
Sementara itu, Naruto mengenakan gaun di atas lutut berwarna hitam dengan potongan leher 'V' rendah. Rambutnya digelung sederhana di atas tengkuk, membuat punggung mulusnya terekspos sempurna. Wanita itu juga mengenakan make up tipis dan sepatu berhak tinggi berwarna merah lembut.
Kedua wanita itu berdiri di depan meja stall, mencicipi setiap menu hingga kenyang. Dan saat itulah, pandangan Naruto bertemu dengannya. Sasuke ada di sini, menatapnya dingin dan marah. Rahangnya mengeras, mulutnya terkatup rapat.
Pria itu terlihat menakutkan tapi juga begitu menawan secara bersamaan, dengan setelan tuksedo hitamnya. "Kenapa dia ada di sini?" pekik Naruto panik. Dia harus melarikan diri, Naruto tidak mau berada di dalam satu ruangan yang sama dengannya lebih lama.
Naruto memutar otak dan tersenyum penuh kemenangan. "Ino, bagaimana jika kita ke klub malam ini?" tanya Naruto penuh harap.
"Sekarang?" tanya Ino dengan mulut penuh. Musik lembut mengalun di belakang mereka. Beberapa pasangan bahkan sudah turun ke lantai dansa.
Naruto mengangguk antusias.
"Ok," sahut Ino cuek. "Lagipula, kita sudah mencicipi semua makanan enak di sini."
"Kalau begitu, ayo kita pergi."
Dan mereka berakhir di lantai dansa sebuah klub, malam ini. Ino menghubungi Sai untuk bergabung bersama mereka, wanita itu sudah setengah mabuk saat kekasihnya itu datang menjemputnya. Sai mendekapnya, melindungi kekasihnya dari setiap pria yang berusaha mengambil keuntungan dari Ino.
"Ino sangat beruntung," ujar Naruto dengan suara 'hik' pelan. Minuman keras itu mulai bereaksi, terlalu keras untuknya yang tidak terbiasa minum. Kepalanya berat dan pusing, perutnya mual. Dia perlu ke kamar kecil. Naruto menyambar tas tangannya, meletakkan beberapa lembar uang di atas meja bar dan berjalan sempoyongan menuju kamar kecil.
Wanita itu semakin mual saat melihat dua pasangan mabuk, bercumbu, setengah telanjang, menghalangi akses masuk ke kamar kecil. Naruto lalu tersenyum culas, merogoh ke dalam tas tangannya dan mengambil telepon genggamnya.
"Hai, Sasuke?" sapa Naruto pelan.
"Naruto?"
"Hm, ini aku." Naruto kembali berjalan menjauhi kamar kecil menuju pintu keluar klub.
"Kamu mabuk?" desis Sasuke marah.
"Aku tidak mabuk!" bentak Naruto marah. "Kamu yang menyebabkan aku seperti ini. Dasar brengsek!" teriak Naruto keras dan akhirnya terhuyung ke pohon terdekat untuk mengeluarkan isi perutnya.
Dia terus memuntahkan isi perutnya hingga tubuhnya lemas. Dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk mengusir seorang pria mabuk yang menggodanya. Hingga suara pukulan keras itu terdengar, pria mabuk itu tersungkur akibatnya. Seseorang menarik tubuh Naruto lalu mengguncangnya keras. Naruto tidak tahu siapa orang itu, karena kesadarannya hilang sebelum dia bisa mengenalinya.
.
.
.
Cahaya matahari membangunkannya dari mimpi. Naruto mengerjapkan mata, kepalanya pusing. Dia meringis dan mencoba untuk duduk. Naruto memfokuskan penglihatannya, 'aku dimana?' pikirnya mulai panik.
"Sudah bangun?" suara dingin itu membuatnya menggigil takut.
"Kenapa aku ada di sini?" Naruto balik bertanya pada Sasuke yang berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya. Sasuke terlihat santai dengan celana jeans belel, kaos polo putih dan tanpa alas kaki. Rambutnya masih setengah basah, pria itu baru selesai mandi, tebak Naruto.
"Kamu menghubungiku tadi malam," cibir Sasuke sinis dengan tangan terlipat di depan dada.
Naruto bergerak gelisah dalam selimutnya, memalingkan muka. "Bagaimana kamu bisa menemukanku?"
"Aku melacakmu dengan GPS," jawab Sasuke santai.
"Kamu menguntitku?"
"Aku tidak akan melakukannya jika kamu tidak mabuk seperti orang bodoh tadi malam!" teriak Sasuke.
Naruto beringsut untuk duduk, matanya membulat sempurna menyadari ketelanjangannya. "Pakaianku?" Naruto menatap Sasuke lurus, meminta penjelasan. "Kenapa aku telanjang?" tanyanya menuntut. "Apa yang terjadi?"
"Menurutmu, apa yang terjadi?" Sasuke balas bertanya dengan nada sinis, menatap dingin Naruto yang mencengkram selimutnya kuat.
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
