Hello, terima kasih untuk semua review yang masuk ke kotak milik Fuyu. Dan untuk salah satu Guest saya tercinta, maaf yah kalau kesannya saya memukul rata sifat pria seperti Sasuke di sini. Tapi yakinlah, sifat brengsek Sasuke tidak lebih brengsek dari sifat saya. Namanya juga author 'brengsek', iyakan Guest tercintah...? #NgokkkkAh

Note : Disini Sasuke memang brengsek, tapi brengsek elegan. Authornya juga brengsek, tapi brengsek menawan. Bwuahahahaha, apaan nih?

Ok, selamat membaca!

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M+ (Mature Content!)

Genre : Romance, Drama

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

I'm Sorry, I Love You

Chapter 4 : Scars

By : Fuyutsuki Hikari

30 Mei 2014

Yamato mengangguk pelan sambil membukakan pintu belakang mobil untuk bosnya. Sasuke sama sekali tidak membalas anggukan hormat itu. Pria muda itu membungkuk masuk ke dalam Mercedes sedan silvernya tanpa bicara.

Bawahan sekaligus supirnya itu tahu jika mood atasannya sedang buruk saat ini. Hal itu terlihat dari rahang Sasuke yang mengeras, mulutnya terkatup rapat, jelas sedang memikirkan sesuatu. Sasuke masih mengatupkan mulut rapat saat Yamato memarkirkan mobil di dalam garasi apartemen Sasuke di parkiran ceruk nomor tujuh. Di sana berjejer mobil milik Sasuke, SUV BMW, dua SUV Mercedes yang lebih kecil, satu buah Maybach Exelero berwarna hitam, sebuah Koenigsegg CCXR Trevita putih dan sebuah Mercedes sedan keluaran mutakhir. Sasuke sepertinya penggila mobil buatan Jerman dan Swedia.

Yamato meloncat turun dari mobil untuk membukakan pintu. "Selamat malam, Sir." Kata Yamato pada Sasuke yang keluar turun dengan anggun.

"Hn," jawab Sasuke dingin. Yamato tidak ambil hati dengan sikap Sasuke karena sikap atasannya memang sudah seperti itu. Kecuali jika pria itu bertemu dengan Nona Namikaze, catatnya dalam hati. Naruto mampu mengeluarkan ekspresi berbeda dari Sasuke. Dengannya, Sasuke bisa bersikap marah, gelisah juga bahagia. Ah, sepertinya Nona itu membawa perubahan bagus pada diri bosnya. Pikir Yamato.

Sementara itu, Sasuke masih menekuk dalam wajahnya. Dia melepas dasi kupu-kupunya saat memasuki lift pribadi, menekan tombol lift menuju lantai lima belas dan memasukan kode akses menuju apartemennya.

Pintu lift terbuka beberapa saat kemudian, Sasuke melangkah masuk ke dalam apartemen, wajahnya semakin ditekuk dalam. Pria itu mengubah arah langkah kakinya menuju meja bar, membuka sebotol anggur merah dingin dan menuangkan untuk dirinya sendiri ke dalam gelas anggur kristal.

Bagaimana bisa Naruto datang ke pesta dengan pakaian terbuka seperti itu? Batin Sasuke kesal. Wanita itu tanpa sadar telah mengijinkan tatapan lapar setiap laki-laki terarah pada punggung mulus dan belahan dadanya yang rendah. "Brengsek!" maki Sasuke menggebrak keras meja bar, marah saat mengingat hal itu.

Sasuke membuka jas tuksedonya dan melemparnya asal ke kursi bar terdekat. Ia kembali mengisi gelasnya yang sudah kosong dengan cepat. Pria itu kembali mendesis saat ingat jika Naruto juga menghilang tepat pukul sembilan malam. "Kamu benar-benar membuatku marah, Naruto." Bisiknya dengan gigi gemertuk.

Pria itu merengut saat merasakan getaran ponsel di saku celananya. Sasuke merogoh dan mengambil ponsel dari dalam saku celana. "Naruto?" pria itu tertegun melihat nama pemanggil pada layar ponsel touch screen-nya.

"Hai, Sasuke?" sapa Naruto dari ujung telepon sesaat setelah Sasuke menerima panggilannya.

"Naruto?" bentak Sasuke. Pria itu mengepalkan tangan kirinya, menghela napas pendek mendengar suara Naruto yang berbeda.

"Hm… ini aku."

"Kamu mabuk?" desis Sasuke marah.

"Aku tidak mabuk!" bentak Naruto. Sasuke bisa menangkap nada marah pada suara wanita itu."Kamu yang menyebabkan aku seperti ini. Dasar brengsek!"

Sasuke mengumpat saat hubungan telepon itu diputus sepihak oleh Naruto. Pria itu mulai melacak keberadaan Naruto lewat GPS telepon genggamnya. "Paradise Club?" kata itu lolos dari bibir Sasuke yang bergetar marah.

Sasuke menyambar salah satu kunci mobilnya di atas nakas dekat pintu masuk. Dengan langkah lebar dia menuju lift untuk turun ke garasi. Sasuke menyalakan SUV Mercedesnya, memanaskannya sebentar sebelum menancap gas, dengan kecepatan tinggi membawa kendaraannya menuju klub malam itu.

Dengan kecepatan di atas 100 km per jam, Sasuke sampai di klub lima belas menit kemudian. Dia menyipitkan mata saat melihat Naruto membungkuk di salah satu pohon di depan klub yang temaram.

Sasuke membanting pintu mobilnya keras, wajahnya kembali mengeras saat melihat seorang pria mabuk berjalan mendekat, menghampiri dan menggoda Naruto dengan perkataan vulgar. Tangan kurang ajar pria itu bahkan meremas pantat Naruto. Sasuke yang melihatnya semakin naik pitam. Dengan gerakan cepat, Sasuke membalik tubuh pria mabuk itu ke arahnya dan memukulnya keras, tepat mengenai rahang pria mabuk itu.

Pria mabuk itu tersungkur, efek alkohol juga rasa sakit pada rahangnya membuatnya pingsan di tempat.

Sasuke mengalihkan tatapan marahnya dari pria mabuk ke Naruto. Wanita itu bersandar tidak berdaya pada batang pohon di belakang tubuhnya. Sasuke menarik tubuh Naruto lalu mengguncangnya kedua bahunya keras. "Naruto?" bentak Sasuke. Wanita itu sepertinya sangat mabuk, ia hanya bergumam tidak jelas saat Sasuke memanggil nama dan mengguncang bahunya kasar.

Pria itu mengangkat tubuh Naruto yang sudah tidak sadarkan diri ke dalam gendongannya. Dengan langkah ringan ia membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan sabuk pengaman terpasang dengan baik pada tubuh Naruto, Sasuke memutar kunci, menyalakan mesin mobil dan mengendarainya kembali ke apartemen mewahnya.

.

.

.

Naruto menggeliat tidak nyaman saat Sasuke meletakkan tubuhnya di atas sofa. Sasuke berjalan menuju dapur, mengeluarkan satu teko air es dari dalam kulkas dan membawanya ke ruang tengah dimana Naruto ditinggalkannya tadi.

Sasuke menuangkan air es ke dalam gelas. Pria itu memaksa Naruto untuk duduk dan menepuk-nepuk pipinya beberapa kali untuk membangungkannya. "Ehmmmm..." Gumam Naruto tidak jelas, masih dengan kedua mata tertutup.

"Bangun!" bentak Sasuke masih menepuk-nepuk pipi wanita muda itu.

Perlahan Naruto membuka matanya. Namun tatapannya tidak fokus. "Si-siapa kau," ia menunjuk ke arah Sasuke. Namun jari lentik itu kembali terkulai di pangkuannya, tidak bertenaga. "Sa-suke?" kata Naruto memiringkan kepalanya ke satu sisi.

Sasuke menyodorkan gelas kepada Naruto. "Minum!" bentaknya.

Naruto menggeleng enggan.

"Minum!" Sasuke kembali bicara dengan nada satu oktaf lebih tinggi. Ia memaksa Naruto untuk menghabiskan air es di dalan gelas itu.

"Puahhhh..." Napas Naruto tersengal, tenggorokannya sakit karena minum terlalu cepat. Matanya kemudian menyipit, mencoba fokus menatap Sasuke yang kembali menuangkan air es ke dalam gelas itu.

"Minum!" perintah Sasuke lagi.

"Tidak!" raung Naruto marah, menutup mulut dengan sebelah tangannya.

Sasuke kembali memaksa wanita itu untuk minum. Dia sama sekali tidak peduli saat air dingin itu tumpah-ruah mengenai kemeja miliknya juga gaun yang dikenakan Naruto.

"Dingin," cicit Naruto merinding, saat gaun yang dikenakannya basah oleh air es.

"Seharusnya kau berpikir saat akan mengenakan gaun keparat ini dan mabuk di tempat itu." Desis Sasuke geram. Pria itu kemudian membopong Naruto masuk ke dalam kamar pribadinya, lalu membaringkannya di atas tempat tidur.

Sasuke kembali berdiri tegak, bergerak dan berbalik menuju lemari, ia mengambil sebuah kaos polos dan sebuah celana training untuk pakaian ganti Naruto.

Kedua mata pria itu membulat tak percaya saat kembali. Pakaian di tangannya jatuh ke lantai, dia terlalu terkejut untuk bergerak. Bagaimana dia tidak terkejut, tidak jauh di tempatnya berdiri, Naruto duduk di sisi tempat tidur dan melucuti pakaiannya sendiri.

Mata Sasuke berkabut oleh gairah saat Naruto melepas gaun seksinya, meloloskannya lewat kepala. Sial, wanita itu tidak mengenakan bra di balik gaun hitamnya.

Sasuke menghela napas dan mengerang saat melihat pemandangan yang terlalu menggairahkan itu. Payudara Naruto terlihat menggiurkan, puncaknya menegang, menantang. Mungkin karena air es yang membasahinya tadi.

Erangan Sasuke semakin keras saat melihat Naruto kembali melakukan hal yang sangat tidak terduga. Gadis itu melirik genit ke arahnya, berdiri dan dengan sempoyongan berjalan menghampiri Sasuke.

"Ehm... kamu terangsang, huh?" bisik Naruto sensual. Alkohol membuatnya tidak sadar akan apa yang dilakukannya saat ini. Naruto menarik paksa Sasuke ke tempat tidur. Dengan kekuatan tersisa dia mendorong tubuh Sasuke ke atas tempat tidur.

Sasuke menatapnya nyalang, gairahnya sudah mencapai puncak. Pria itu mencengkram erat seprai putih di bawahnya. Beruntung dia memiliki pengendalian diri yang sangat kuat, jika tidak, dia pasti sudah memaksakan kehendaknya pada Naruto saat ini.

"Kenapa?" goda Naruto sensual tepat di wajah Sasuke yang mengatup rapat. "Bukankah kamu menginginkanku, Sa...su-ke." Naruto menjilat bibir yang terkatup itu pelan hingga beberapa kali.

Sasuke menyipitkan mata, ingin rasanya ia melilit lidah merah muda itu dengan lidahnya sendiri. Mengecap rasa dalam gua hangat bersaliva milik Naruto.

Tangan Naruto sedikit bergetar, ia mencoba untuk membuka kancing paling atas kemeja milik Sasuke. Tubuh pria itu kini menegang, matanya berkilat panik. Tangannya dengan cepat mengenggam erat pergelangan tangan Naruto, menghentikan aktifitas kurang ajar wanita muda itu atas dirinya.

"Aku tahu kamu menginginkannya," Naruto berbisik di telinga Sasuke dengan sensual. Mulutnya menekuk ke atas, terlihat puas saat melihat mata Sasuke kembali menggelap sekarang. "Kau menginginkanku," Naruto kembali melanjutkan aktifitasnya yang tertunda, membuka kancing kemeja Sasuke dengan sebelah tangannya sementara tangan lainnya sibuk meloloskan celana dalam renda hitam yang masih dikenakanya.

Tubuh Naruto benar-benar polos saat ini. Lidahnya menjilat kedua sisi mulut Sasuke, menggodanya. Tangannya yang lain tidak menganggur lama. Dia mengelus ereksi Sasuke yang mulai berdenyut sakit di balik celana panjang dan boxernya.

Sasuke menutup mata, napasnya memburu saat Naruto menggodanya, menyerangnya dengan berani. Sial, Sasuke tahu jika dia harus menghentikan ini sekarang, saat ini juga. Dia tidak pernah mengijinkan wanita, para subnya mengambil kuasa atas dirinya saat bercinta. Dan hal itu juga seharusnya berlaku untuk Naruto. Tapi, kenapa dia malah menyukai setiap godaan menyiksa dari wanita ini.

Kedua mata Sasuke kembali terbuka, melebar lagi, bukan karena nafsu tapi karena tegang, tubuhnya membeku. Jari mulus Naruto menyusuri dada bidangnya. Dada dengan beberapa bekas luka memanjang yang tidak mungkin hilang.

Tidak, dia harus menghentikan ini sekarang juga. Sasuke tidak pernah mengijinkan para subnya untuk melihat tubuh telanjangnya. Dia selalu mengikat kedua tangan subnya, serta menutup mata mereka saat bercinta.

Mereka bercinta sesuai dengan peraturan yang Sasuke terapkan. Para submissive dilarang untuk menyentuh bagian tubuh tertentu pada diri Sasuke. Mereka terikat kontrak, dan setiap wanita hanya diberikan waktu paling lama tiga bulan untuk menjadi submissive Uchiha Sasuke.

Tangan kanannya kembali menangkap pergelangan tangan Naruto. Namun gerakannya terlambat. Naruto sudah melihatnya, melihat luka yang disembunyikan rapat oleh Sasuke selama ini.

Tatapan wanita itu kini menyendu, menatapnya lurus. "Luka apa ini?" tanya Naruto pelan. Matanya sempat menatap lurus obsidian di depannya, sebelum akhirnya ia jatuh pingsan di atas tubuh pria itu.

.

.

.

31 Mei 2014

"Jawab aku Sasuke, kenapa aku telanjamg?" teriak Naruto marah, mencengkram erat selimut yang membalut tubuh polosnya. "Kamu mengambil kesempatan, iya-kan!" tuduhnya. Sasuke seharusnya mengantar Naruto ke rumahnya jika memang berniat baik. Bukan malah membawa dan menelanjanginya di kamar pria itu, batin Naruto protes. "Kamu pasti melakukan sesuatu," ujar Naruto keras kepala.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, lalu dia tertawa. Tertawa geli, tawanya semakin keras saat melihat ekspresi bingung Naruto. Sasuke berjalan santai menuju tempat tidur, dengan mata berkilat. Terlihat angkuh, dominan dan menggiurkan.

"Seharusnya kamu mengingat kejadian tadi malam, Sayang." Sasuke tersenyum simpul. "Kamu pasti sangat kaget jika mengingatnya." Sasuke menggosok dagunya yang mulai ditumbuhi janggut tipis. Sudah dua hari dia tidak bercukur, tapi janggut tipis itu malah membuatnya terlihat lebih berbahaya juga seksi.

Naruto beringsut mundur saat Sasuke duduk terlalu dekat dengannya. "Aku tidak menyangka jika kamu bisa sangat-liar," ujar Sasuke dengan tatapan menggoda. "Ah, seharusnya aku mendapat ucapan terima kasih karena sudah menolongmu dari pria mabuk itu. Iya, kan?" yeah, pria ini sangat sulit ditebak. Dengan mudah dia berubah mood, mengganti topik pembicaraan sesuai keinginannya.

"Hah?"

Sasuke berdecak, main-main. "Jangan bilang jika kamu juga tidak ingat hal itu."

"Brengsek, katakan saja apa yang terjadi tadi malam!" desis Naruto dengan wajah memerah, marah.

"Kamu coba ingat-ingat saja, aku malas mengatakannya." Sahut Sasuke cuek. "Ah, aku lupa satu hal." Serunya. Dalam gerakan cepat Sasuke menarik kepala Naruto ke arahnya dan mendaratkan sebuah ciuman panas. "Selamat pagi," ujarnya sensual sebelum beranjak pergi.

Naruto hanya bisa berteriak marah pada punggung Sasuke yang berjalan angkuh meninggalkannya seorang diri. Wanita itu mencoba duduk, tidak ada rasa sakit atau ngilu di daerah kewanitaannya. Pasti tidak terjadi apapun tadi malam, pikirnya lega.

Naruto menyapu seluruh ruangan, mencari pakaiannya. Tidak ada, pakaiannya tidak ada. Wanita itu mengerang, menyerah dan memaksa kakinya untuk melangkah ke kamar mandi. Mulutnya terbuka lebar, pintu pertama yang dibukanya ternyata bukan kamar mandi. Tapi ruangan lain yang berfungsi sebagai lemari pakaian Sasuke.

Kemeja, jas, serta celana tergantung sangat rapih, diurutkan sesuai warna. Di sana juga ada satu buah lemari berukuran besar, berisi kaos yang terlipat sama rapihnya di dekat lemari lain. Di sudut lain terdapat lemari sepatu dengan berbagai merk terkenal. Di sisi lain, terdapat meja kaca tempat penyimpanan jam tangan serta kaca mata mahal. "Kenapa pria memiliki pakaian sebanyak ini?" keluh Naruto. Ia memiringkan kepala ke satu sisi, berpikir dengan alis bertaut. "Apa dia sudah pernah memakai semuanya?"

Naruto menelan ludahnya cepat, lalu menutup pintu ruangan itu. Ia kembali berjalan dan membuka pintu lain di ruangan itu, Naruto mendesah lega. Sebuah kamar mandi besar bernuansa elegan, lengkap dengan bathtub berada di balik pintu itu. Wanita itu mandi cepat, menggunakan shampo, sabun bahkan sikat gigi milik Sasuke. Naruto juga menggunakan handuk milik pria itu.

Naruto keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit tubuh dan rambutnya. Ia berjalan ke ruang pakaian Sasuke. Mengambil sebuah kemeja dan sebuah celana boxer lalu memakainya cepat.

Kemeja itu terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Celana boxer yang dikenakannya saja tertutupi oleh panjang kemeja yang menggantung hingga lututnya.

.

.

.

Sasuke sama sekali tidak terusik saat Naruto datang dengan sikap bermusuhan. Pria itu tetap menyantap sarapannya dengan tenang, mengabaikan Naruto yang berdiri di sampingnya sambil berkacak pinggang.

"Mengabaikanku, hah?" bentak Naruto.

Sasuke menoleh ke samping, sebelah alisnya terangkat. Bibirnya hanya mendengus saat melihat Naruto. "Duduk!" katanya sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.

"Aku tidak lapar," desis Naruto.

Pria itu kembali melirik ke arahnya dengan satu alis terangkat saat mendengar nyanyian perut Naruto yang kini menunduk sambil memegangi perutnya. "Perutmu sepertinya memiliki pendapat lain," kata Sasuke dengan binar geli di matanya.

Naruto berdecak, mendudukkan pantatnya dengan keras pada kursi makan. Sasuke mendorong piring berisi sandwich bacon pada Naruto dan menuangkan segelas kopi untuknya. "Gula?" tanya Sasuke. Naruto menggeleng. "Susu?" Naruto mengeleng lagi. Sasuke mengangguk pelan, kembali menyodorkan cangkir kopi pada Naruto.

Wanita itu melahap sarapannya dengan rakus. Dia kelaparan, isi perutnya terkuras habis tadi malam. "Mau lagi?" tawar Sasuke.

Naruto mengangguk malu, membuat Sasuke menyeringai puas karenanya. Sasuke mengambil sebuah sandwich lagi dan memberikanya pada Naruto. Pria itu mengamati Naruto, menopang kepalanya dengan tangan kanannya.

Sasuke mengambil sebuah serbet, dengan intim mengelap lembut sudut bibir Naruto. "Kau makan seperti anak kecil," ujar Sasuke membuat Naruto mendelik ke arahnya. Sasuke tersenyum kecil, menyesap kopinya.

"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi," kata Naruto. Ok, sepertinya perut yang sudah terisi penuh mengembalikan kekuatan Naruto yang meluap-luap untuk kembali bertempur.

Sasuke diam.

"Baik, kita ganti pertanyaannya." Ujar Naruto lelah. "Kenapa kamu bisa berada di pesta tadi malam? Yang aku tahu, pesta itu hanya untuk kalangan di perusahaan saja."

Sasuke terdiam sesaat, "aku berhak berada di sana." Jawabnya kemudian.

Naruto menyempitkan mata. "Maksudnya?"

"Seharusnya kau berada di pesta sialan itu sampai akhir," yeah... Sasuke kembali emosi. "Jika kamu dan gaun sialanmu itu tetap di sana hingga akhir, kamu pasti tahu alasanku kenapa berada di pesta itu tadi malam."

Mulut Naruto terbuka lebar. Apa maksudnya dengan gaun sialan? Naruto menyukai gaun itu, membuat dirinya lebih percaya diri. "Oh, jangan bilang kamu anggota dewan baru." Katanya tak percaya. Naruto menebak dalam hati jika Sasuke mungkin mengenal salah satu dewan baru perusahaan tempatnya bekerja.

Sasuke mengangkat bahu cuek. "Begitulah."

"Jadi kamu bosku!" kata Naruto setengah berteriak. Dia jelas tidak percaya.

"Pada dasarnya aku ini bos dari bos, bos, dan bosmu." Sahut Sasuke datar.

"Brengsek," umpat Naruto. "Kamu membeli perusahaan tempatku bekerja?"

"Hn."

"Kenapa kamu melakukannya?" raung Naruto tidak terima. Akhirnya ia mengerti, peraturan baru, dan pesta itu pasti dibuat oleh Sasuke.

"Karena aku bisa!" bentak Sasuke angkuh. "Perusahaan itu sangat menjanjikan, sayangnya tidak berkembang. Aku membelinya karena perusahaan itu sangat menguntungkan."

"Alasan," dengus Naruto. "Sudahlah lupakan. Aku tidak mau tahu lagi tentang kekayaanmu itu." Katanya dengan pandangan muram.

Sasuke mencebikkan bibir, mengangkat telapak tangannya ke atas. "Terserah, apapun yang membuatmu nyaman."

Naruto tertawa histeris. "Nyaman huh," katanya sinis. "Lalu, dimana kamu tidur tadi malam?"

"Di tempat tidurku," sahut Sasuke datar.

"Ja-jadi kamu tidur bersamaku tadi malam?" Naruto melotot ngeri.

"Hn."

"Dengan kondisiku yang telanjang?" Naruto tidak tahu kenapa dirinya mendadak panas dingin. Keringat dingin meluncur turun di dadanya.

"Hn."

"Lalu apa yang terjadi?" bentak Naruto kesal.

Ini dia, batin Sasuke senang. "Itu untuk kamu cari tahu," ujar Sasuke tenang. Batin pria itu meloncat senang saat melihat wajah Naruto yang mendadak pucat. Naruto tidak akan pernah membuatnya bosan.

"Persetan dengan itu!"

"Jaga bicaramu, Namikaze!" desis Sasuke dingin. "Kamu tahu aku bukan pria sabar," tambahnya berbahaya.

Bukan Naruto namanya jika langsung takut akan tatapan tajam Sasuke saat ini. Wanita itu berdiri menantang, berkacak pinggang. Tidak sadar jika tindakannya itu membuat payudaranya tercetak jelas pada kemeja putih yang dikenakannya.

Sasuke mengulas senyum tipis, menatap wanita di depannya dengan tatapan lapar. "Hati-hati dengan gerakanmu, Namikaze. Aku sudah menahan diri sejak tadi malam."

Naruto melangkah mundur, ucapan dingin Sasuke tadi berhasil membuat tubuhnya merinding ngeri. Wanita itu menyilangkan tangan di depan dadanya.

Sasuke berdiri dari kursinya, dengan gerakan berbahaya berjalan mendekat ke arah Naruto. "Aku tahu jika kamu juga menginginkanku, bukan begitu, Naruto?" tanya Sasuke berbisik sensual.

Naruto memalingkan muka, hatinya gamang. Benarkah dia menginginkan Sasuke? Tapi, bukankah Naruto sudah tidak memiliki hati untuk pria ini? Kenapa dia malah menjadi bingung sekarang. Naruto sama sekali tidak sadar saat Sasuke berdiri begitu dekat dengannya. Menarik handuk yang melilit rambutnya yang masih setengah basah. "Lihat aku!" kata Sasuke. Jemarinya mengangkat dagu Naruto, membuat bola mata sapphire itu terarah lurus pada obsidiannya. "Kamu menginginkanku," ujar Sasuke mutlak.

Hening.

Oh, Naruto tahu jika hati kecilnya sangat mendambakan Sasuke. Rasa sayang dan cinta itu masih bercokol begitu kuat di hatinya. Namun bagaimana Naruto bisa memutuskan jika ia tidak bisa berpikiran jernih. Ia sangat menginginkan Sasuke. Penolakannya terhadap Sasuke adalah caranya untuk melindungi diri agar tidak kembali sakit hati.

Bagaimana jika Sasuke kembali menyakitinya? Batin Naruto bimbang. Apakah Naruto mampu bertahan jika Sasuke kembali menghacurkan kepercayaan dan cintanya?

"Kamu menginginkanku." Bisik Sasuke lagi semakin lembut.

"Ya," sahut Naruto pada akhirnya, terdengar serak. Kedua tangannya terkulai lemas di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Dia tidak mengerti kenapa dia meloloskan kata itu dari bibirnya. Apa mungkin pengaruh dari tatapan mata Sasuke? Naruto pun tidak tahu.

Sasuke tersenyum, senyum tulus. Pria itu mencium lembut bibir Naruto yang sedikit terbuka. Bibirnya beralih pada kening, kelopak mata, pipi, hidung, dan dagu Naruto. "Aku menginginkanmu, ijinkan aku bercinta denganmu." Pinta Sasuke parau.

"Ya," sahut Naruto pelan. "Ya."

Semua setelahnya terasa kabur untuk Naruto. Sasuke mengayun tubuh Naruto, membawanya di atas bahu seperti karung beras. Naruto memekik kaget. Ya ampun, tidak bisakah Sasuke bersikap normal? Kaki Naruto bergerak liar, mulutnya memohon untuk diturunkan.

Wanita itu menjerit saat Sasuke memukul pantatnya keras hingga beberapa kali saat ia membawanya ke dalam kamar tidur pria itu, dan membaringkannya di atas tempat tidur. Sasuke bahkan membuka dengan pelan pakaian yang dikenakan oleh Naruto, perlahan, menikmati perubahan mimik kekasihnya. "Kau mengenakan boxer milikku?" Sasuke tersenyum geli.

Naruto mengerucutkan bibir, mendelik ke arahnya. "Aku tidak bisa menemukan pakaian dalam dan gaunku."

"Anko mencucinya," jawab Sasuke di potongan leher Naruto. Wanita itu melenguh panjang saat lidah ahli Sasuke menjilat cuping telinganya yang ternyata sangat sensitif. Tangannya pun bergerak lincah meloloskan celana boxer itu dari tubuh Naruto. Wanita itu kini telanjang, begitu polos di depan Sasuke.

"A-Anko?"

"Hn," Sasuke membelai tubuh wanita itu intim. Menghirup aroma sabun miliknya pada kulit Naruto. "Dia pengurus rumah tanggaku." Jelas Sasuke membuat Naruto bernapas lega. "Kau menggunakan sabun dan shampo milikku?"

"Hmmm..." jawab Naruto tidak jelas, mengangguk pelan. Dia tidak bisa bicara jelas jika Sasuke terus memberikan servis pada kedua payudaranya yang sangat sensitif.

"Arghhh..." Naruto menjerit saat Sasuke menggigit puting payudaranya. Pria itu melancarkan serangannya. Mencium keras mulut Naruto, mengecap rasa pada mulutnya.

.

.

.

Punggung Naruto melengkung ke atas saat Sasuke membelai perutnya dengan lidah. Terus turun. Turun. Terus turum menuju tempat tersembunyinya. Ini tidak adil, batin Naruto. Tubuh telanjangnya tak berdaya dalam kurungan Sasuke yang masih berpakaian lengkap.

"Tidak!" jerit Naruto saat Sasuke membelai daerah itu tanpa rasa jijik. Mengecup, menciumnya begitu intim. Perut Naruto bergolak, bergelenyar aneh saat mendapat rangsangan itu.

Sasuke kembali menciumnya, mencium bagian dalam pahanya, turun hingga kaki Naruto. Wanita itu terengah, napasmya tidak teratur, yang dilakukan Sasuke terlalu sensual dan ini pengalaman pertama untuk Naruto.

Naruto mencengkram seprai dan menutup mata saat mulut Sasuke kembali naik ke atas. Menggoda daerah intimnya tanpa belas kasihan. Kepala Naruto bergerak gelisah, dan dalam jeritan panjang, wanita itu terpuaskan. Sasuke berhasil membuatnya orgasme. Bagaimana bisa? Pikir Naruto. Teman-teman wanitanya sering mengatakan jika seorang pria jarang mampu membuat wanita orgasme pada pengalaman pertama wanita itu.

"Aku ingin menyentuhmu," pinta Naruto dengan mata berkabut. Bukankah bercinta berarti saling memuaskan satu sama lain?

Sasuke menggeleng, menolak. "Tidak," katanya parau. "Kita akan bercinta sesuai dengan aturanku." Pria itu mengecup leher Naruto sensual.

"Apa maksudmu?" Naruto bertanya nyaris tak percaya. Gairahnya mendadak hilang mendengar penuturan Sasuke.

"Kau tidak bisa meyentuhku tanpa seijinku." Jelas Sasuke lalu mengecup bibir Naruto. Namun wanita itu memalingkan muka, membuat bibir Sasuke hanya mendarat di pipi kanannya.

"Jadi, aku hanya budak seks-mu yang harus mematuhi peraturan konyolmu?" ujar Naruto dingin.

"Ya ampun!" teriak Sasuke frustasi. Pria itu bergerak cepat, berdiri di samping tempat tidur dengan tatapan marah. "Pada saat seperti ini kamu masih mau bertengkar denganku?"

"Aku tidak mau bertengkar," balas Naruto sengit. "Aku hanya tidak suka jika harus terikat peraturan konyolmu itu. Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu?" bentak Naruto. "Apa kamu selalu melarang kekasihmu untuk menyentuhmu?"

"Aku tidak pernah memiliki kekasih selain kau!" teriak Sasuke keras.

"Bohong!" jerit Naruto tak percaya.

"Aku tidak pernah menganggap wanita-wanita itu sebagai kekasih," erang Sasuke. "Mereka hanya submissive, tidak lebih."

"Apa maksudnya itu?" Naruto bertanya lirih.

Sasuke mengacak rambutnya frustasi, beberapa umpatan kasar lolos dari mulutnya. "Kau bisa mencari artinya di internet," sahut Sasuke sinis.

"Oh, aku pasti mencarinya." Kata Naruto terdengar pedas. Dengan cepat dia meraih kemeja yang teronggok di lantai dan memakainya cepat. "Jadi, berapa banyak jumlah partner seksmu itu, Sasuke?"

"Lima belas." Lagi-lagi dia membentak.

"Oh... ya... ampun," bisik Naruto. "Dan mereka semua melayanimu?"

"Ya, mereka bertugas melayani kebutuhanku. Dengar Naruto, mereka bukan kekasihku, ok. Mereka terikat perjanjian dalam hubungan kami. Mereka bertugas melayaniku dan selama itu, aku memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan mereka."

"Apa bedanya mereka denganku?" raung Naruto tidak terima. Perasaan dingin yang tidak bisa dijelaskan menyapu hati Naruto. Betul, ia cemburu. Sangat cemburu dan merasa tidak berharga.

"Kamu tidak sama dengan mereka," bentak Sasuke. "Bisakah kau melupakan hal ini. Lagipula aku melakukannya saat di Seattle."

"Kamu pikir aku bisa menerima alasan bodoh itu? Ya ampun, Sasuke. Bagaimana bisa aku menerima hal ini dengan mudah sementara kau memperlakukanku sama dengan mereka."

"Sudah kukatakan kau tidak sama." Sasuke memegang bahu Naruto dan menguncangnya keras. "Hanya kamu yang aku akui sebagai kekasih, hanya kamu Naruto. Tidak dengan yang lain." Sasuke bergerak gelisah, bolak-balik.

"Kalau begitu, ijinkan aku untuk menyentuhmu."

"Tidak bisa!" bentak Sasuke. Pria itu kembali menutup diri.

"Kenapa?" Naruto bertanya lirih. "Dengar Sasuke, aku hanya ingin kejujuran darimu. Itu syarat dariku jika kamu mau hubungan kita kembali dimulai. Aku ingin tahu alasannya, kenapa aku tidak boleh menyentuhmu. Jika aku juga tidak bisa menyentuhmu, lalu apa bedanya aku dengan mereka?"

Hening.

Ia menghela napas panjang saat Sasuke hanya terdiam sambil menatapnya. "Sudahlah, Sasuke." Naruto menepis kedua tangan Sasuke pada bahunya. "Aku harus memikirkan ulang hal ini. Dimana pakaianku?"

Sasuke terdiam.

"Aku ingin pakaianku." Desak Naruto tidak sabar. "Aku tidak peduli jika pakaianku masih basah, aku akan tetap memakainya." Kata Naruto tegas. Dia tidak mungkin pulang mengenakan kemeja Sasuke.

"Kamu bisa menggunakan pakaian yang ada di kamar tamu," kata Sasuke lirih tanpa menatap Naruto.

Naruto kembali menyipitkan mata, membalas dengan nada dingin. "Kamu bahkan membelikan pakaian untuk budak-budakmu?"

"Aku membelikannya untukmu!" teriak Sasuke tepat di depan wajah Naruto. "Aku tidak mungkin membelikan wanita lain barang sementara saat ini aku menjalin hubungan denganmu."

"Kamu bisa saja melakukan hal itu!" ejek Naruto tajam.

"Kamar tamu ada di lantai dua, dan Yamato akan mengantarmu pulang." Kata Sasuke dengan nada datar sebelum beranjak pergi. Ia memutuskan untuk menghentikan pertengkaran tidak berguna ini.

Naruto terduduk di sisi tempat tidur. Pertengkarannya barusan membuatnya berpikir ulang tentang hubungannya dengan Sasuke. Ia tidak yakin bisa berbagi dengan masa lalu pria itu. Naruto mendesah pasrah. Ia menyeret kakinya, melewati satu per satu anak tangga. Ada dua buah pintu di lantai dua. Wanita itu mengernyit, bingung kamar mana yang dimaksud oleh Sasuke. Pria itu terlalu banyak memiliki rahasia, Naruto tidak tahu kejutan apalagi yang dimiliki oleh Sasuke.

Tangan Naruto memutar pegangan pintu pertama yang ternyata terkunci. Ia berbalik, membuka dengan mudah pintu yang lain. Kamar tamu itu sangat besar, walau tidak sebesar kamar tidur milik Sasuke. Dekorasinya benar-benar sesuai dengan selera Naruto. Sebuah tempat tidur klasik dengan tiang dan kanopi diletakkan di tengah ruangan.

Sebuah meja konsol untuk lampu diletakkan di kanan kiri tempat tidur. Meja credenza antik yang berfungsi sebagai meja rias ada di sudut ruangan. Cermin riasnya tidak kalah besar, berpigura besi dengan design rumit. Kamar itu juga memiliki rak penuh buku, andai saja Naruto dalam mood yang baik, dia pasti betah berlama-lama di kamar ini, dan mencari tahu buku apa saja yang ada di rak itu.

Naruto berjalan menuju lemari bergaya klasik dengan pintu ganda. Matanya membulat sempurna, lemari itu penuh dengan pakaian bermerk. "Dia benar-benar gila," kata Naruto sebal. Wanita itu meraih asal salah satu dress selutut berwarna hijau lembut dari dalam lemari. Bahan pakaian itu terasa dingin dan lembut di tangannya.

Ia memutar bola matanya saat melihat harga pada label yang masih menempel di pakaian itu. Lima ribu dolar, batinnya sinis. Ia juga menemukan beberapa pasang pakaian dalam di dalam laci lemari itu yang juga sama berharga fantastis. Naruto melepas label harga pada tiap pakaian dan dengan cepat mengenakannya.

Naruto tidak menemukan Sasuke saat berjalan menuju pintu keluar. Namun Yamato, supir Sasuke sudah menunggunya di depan lift. "Saya akan mengantar anda pulang, Namikaze-san."

"Tolong, panggil saya Naruto saja."

Yamato tidak menjawab, dia hanya mengangguk sopan dan menekan tombol lift untuk Naruto.

.

.

.

Yamato mengendarai mobilnya dengan cepat namun hati-hati. Pria itu tidak banyak bicara, catat Naruto dalam hati. Itu bagus, Naruto memang perlu menenangkan diri. Dia tidak yakin jika dia bisa menjadi teman ngobrol yang baik saat ini. Yamato menghentikan kendaraannya, memarkirnya dengan mulus di depan gedung apartemen Naruto.

"Terima kasih, Yamato-san." Wanita itu tersenyum kecil saat Yamato membukakan pintu mobil untuknya.

Yamato kembali mengangguk hormat saat Naruto turun. "Tuan Uchiha adalah orang baik," kata Yamato tiba-tiba, pernyataannya itu sukses membuat Naruto kaget. "Anda harus memberinya kesempatan." Tambah Yamato lagi setelahnya.

Naruto sama sekali tidak menjawab, dia terlalu kaget mendengar pernyataan Yamato barusan. Ia menarik napas panjang, berharap jika dua hari waktu liburnya bisa dia gunakan untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Andai saja Naruto ingat apa yang dilihatnya saat dia mabuk tadi malam. Mungkin pikirannya tidak akan sekacau saat ini.

.

.

.

TBC

Sampai jumpa dichap selanjutnya!

#WeDoCareAboutSFN