Hello… maaf lama update (:
Saya akan jawab pertanyaan yang banyak ditanyakan :
1. Update cepat : maaf tidak bisa.
2. Jadwal update? : tidak tentu.
3. Berapa chapter? : belum tahu.
4. Bekas luka Sasuke : akan dibahas di chapter yang akan datang.
5. Kenapa SasuFemNaru bertengkar terus? : tuntutan cerita, kawan (:
Segitu dulu yah. Beberapa sudah saya jawab lewat 'PM'. ^^
Terima kasih untuk semua yang masih berkenan membaca. Terima kasih juga untuk readers yang terus memberi saya semangat, masukan dan juga kritik. Semoga kedepannya saya bisa lebih baik lagi.
Selamat membaca!
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 5 : Why?
By : Fuyutsuki Hikari
06 Juni 2014
Matahari masih bersinar cerah di langit Tokyo. Awan putih berarak, seperti kapas raksasa yang melayang di udara. Hah, mungkin ini adalah minggu paling panas di kota Tokyo. Namun sepertinya suasana di luar berbanding terbalik dengan suasana di meja kerja Naruto siang ini.
Hampir satu minggu lamanya Naruto tidak bertemu dengan Sasuke setelah kejadian di apartemen pria itu. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit, waktunya makan siang. Namun sepertinya ia masih betah duduk di kursi kerjanya.
Naruto mengerang, wajahnya ditekuk dalam dengan mata menyipit tajam saat membaca sebuah artikel majalah yang menulis tentang Sasuke.
'Sasuke Uchiha, putra bungsu keluarga Uchiha terlihat sangat memesona dalam balutan tuksedo hitam saat menghadiri jamuan makan malam mewah yang diselenggarakan oleh keluarga Haruno di salah satu Hotel bintang lima tadi malam.'
"Memesona?" dengusnya mencibir sebal. Terlalu berlebihan, pikirnya kesal. Tanpa disadarinya, ia meremas halaman majalah itu hingga lusuh bahkan akhirnya sobek. "Haruno?" Naruto menggumamkan nama itu. Sebuah nama yang mengingatkannya pada wanita berambut pink.
Apa mereka kembali bersama? Batin Naruto. Ia menggigit bagian dalam bibirnya, tapi kenapa dia harus merasa terganggu? Ini bukan urusannya. Dia sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Sasuke. Iya, kan?
"Hah." Naruto melepas napas keras. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Naruto? Dia sendiri pun tidak yakin apa yang diinginkannya. Dasar plin-plan! Ejeknya pada dirinya sendiri.
Setelah melamun cukup lama, ia pun melempar majalah ditangannya ke dalam tempat sampah di samping meja kerjanya. Ck, untuk apa dia membeli majalah gosip ini pagi tadi? Membuang uang dengan percuma, padahal harga majalah ini sama dengan satu porsi ramen langgananya.
Naruto kembali terdiam cukup lama setelahnya. Pikirannya kalut, tubuhnya mendadak lesu, seperti agar-agar, tidak bertenaga. Ia menempelkan pipinya pada meja kerjanya. Matanya terasa berat, dan beberapa saat kemudian, ia pun jatuh tertidur di atas meja kerjanya.
.
.
.
"Naruto!"
Gadis yang dipanggil namanya itu tersentak bangun. Matanya tertuju ke segala arah, bingung. Kenapa pandangannya sedikit buram? Kenapa pipinya basah? Naruto mengernyit tidak mengerti.
"Kau baik-baik saja?" Ino bertanya lirih. Wajahnya terlihat cemas. "Kau menangis dalam tidurmu." Tambahnya lagi, ia menyodorkan sebuah kotak tisu pada Naruto.
Naruto mengerjap, masih tidak bicara. Ia meraih beberapa lembar tisu dan menghapus jejak air mata dikedua pipinya. "Aku baik-baik saja," kata Naruto setelah berhasil mengumpulkan tenaga untuk menjawab. Gadis itu tersenyum kecil, senyum yang jelas dipaksakan.
Ino menghela napas panjang, tidak mau memaksa teman baiknya untuk bercerita lebih jauh. "Aku akan buatkan kopi untukmu, kau mau sandwich?"
"Kopi saja, terima kasih."
"Tapi, kau belum makan siang, Naruto." Tegur Ino lagi. "Kau bisa sakit."
"Aku tidak lapar, sungguh." Sahut Naruto tenang. Dia menepuk pelan tangan Ino untuk meyakinkannya.
Ino memicingkan mata, menghela napas panjang sebelum akhirnya menyerah dan bergegas menuju pantry untuk membuat secangkir kopi untuk Naruto.
Naruto kembali memejamkan mata setelah kepergian Ino. Mimpi yang dialaminya barusan adalah kepingan masa lalunya bersama Sasuke. Masa saat Sasuke memintanya menjadi kekasihnya. Lalu adegan berganti cepat. Tiba-tiba mereka sudah mahasiswa. Ingatan itu membuat sebutir air mata kembali jatuh dari sudut mata Naruto.
Gadis itu mengingat dengan jelas saat Sasuke mengabaikannya. Pria itu tidak pernah bersikap romantis, dia bahkan tidak pernah mengucapkan 'terima kasih' untuk setiap makanan yang dimasak Naruto untuknya.
Jantung gadis itu berdetak semakin cepat, bergema di telinganya saat mengingat malam ketika ia pergi dari kehidupan Sasuke. Naruto membekap mulutnya, menahan isakan yang lolos dari tenggorokannya.
Naruto bangkit dengan gerakan cepat, setengah berlari ia menuju toilet wanita. Mengapa bayang-bayang masa lalu itu kembali menghantuinya? Kenapa dia harus mengingatnya saat ia berusaha untuk melupakan masa lalunya? Kenapa Sasuke harus kembali ke dalam kehidupannya? Kenapa?
"Tidak, Naruto! Kau tidak boleh kalah!" seru Naruto pada refleksi dirinya sendiri di cermin. "Kau bukan lagi gadis remaja, kau sudah dewasa. Jangan biarkan dia mengontrol kehidupanmu. Kau harus kuat! Harus!" tegasnya mutlak pada dirinya sendiri.
.
.
.
15 Juni 2014
Cahaya matahari mulai menyelinap di sela-sela tirai jendela. Naruto mengerjapkan mata, diliriknya jam yang berada di meja di samping tempat tidurnya. Sudah pukul sembilan pagi. Dia menghela napas, dan memejamkan mata untuk sesaat. Lagi-lagi bayangan masa lalu kembali datang menghantuinya lewat mimpi. Ia menggelengkan pelan, sudah enam hari dia terus bermimpi hal yang sama. Menyebalkan, decihnya sebal.
Naruto menggosok giginya dengan cepat, membersihkan wajah dan beranjak menuju dapur. Hah, dia terlalu malas untuk mandi saat ini. Lagipula, ini hari libur. Jadi sah-sah saja jika dia bermalas-malasan, iya-kan?
Dia sedang menikmati sarapannya saat telepon genggamnya berdering nyaring. Naruto mengernyit, menatap nama yang tertera pada layar telepon genggamnya. Tidak biasanya Jiraiya menghubunginya di hari libur. Aneh, pikir Naruto.
"Halo?" Naruto menyahut sopan.
"Naruto, aku perlu batuanmu." Kata Jiraiya langsung pada pokok permasalahan tanpa basa-basi.
Naruto menusuk-nusuk salad buah miliknya dengan garpu. "Bantuan apa?" tanya Naruto tidak antusias.
"Tolong wakili aku untuk menghadiri pesta malam ini. Aku mendadak harus keluar kota. Rasanya tidak sopan jika perusahaan kita tidak mengirimkan perwakilan."
"Apa?!" teriak Naruto, garpu di tangannya jatuh seketika. Dua kini duduk gelisah di tempatnya. "Tapi, Bos-"
"Tolonglah, Naruto." Kata Jiraiya terdengar memelas. "Aku hanya bisa berharap padamu saat ini. Aku sudah meminta Ino, sayangnya dia ada acara malam ini. Jangan khawatir, supir kantor akan menjemputmu pukul tujuh malam. Dia akan membawa serta undangan untuk kau bawa."
"Bos, apa tidak ada orang lain lagi?" tanya Naruto penuh harap. Ya ampun, dia tidak ada mood untuk berpesta malam ini. Dia hanya ingin menonton drama favoritenya, makan cemilan dan tidur awal malam ini.
"Aku rasa untuk saat ini kau paling cocok untuk menggantikanku, ini hanya pesta biasa. Lagipula, Ino dan kau sudah sering menggantikanku untuk acara seperti ini, kan. Sedangkan sekretarisku saat ini sedang sakit, dia tidak bisa menggantikanku."
Bukan paling cocok, tapi terpaksa. Batin Naruto menggerutu. "Baiklah, saya mengerti." Tukas Naruto pada akhirnya. Rasanya kurang ajar juga jika dia menolak perintah bosnya.
"Bagus," seru Jiraiya senang. "Kau memang bisa diandalkan. Sampai jumpa hari Senin, Naruto."
"Sampai jumpa, Bos." Balas Naruto lemah. Dan sambungan telepon pun berhenti sampai disitu. Naruto melempar asal telepon genggamnya ke atas karpet. Dia benar-benar malas bergerak saat ini dan memutuskan untuk kembali tidur di atas sofa.
Cukup lama dia tertidur, tepat pukul empat sore akhirnya Naruto bangun dan kembali mengganjal perutnya dengan makanan ringan. "Malassssss..." Ia menggeliat dan berteriak kesal. Namun bagaimana lagi, dia sudah berjanji untuk mewakili Jiraiya, kan.
Dengan langkah lunglai, Naruto kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia membuka lemari pakaian, persedian gaun miliknya tergatung rapih di dalam lemari. Naruto mengambil asal sebuah gaun cocktail pendek berwarna aprikot, dan meletakkannya di atas tempat tidur. "Hah, sebaiknya aku keramas dan menyisir rambutku hingga mengkilat." Lagi-lagi dia berjalan malas, kali ini menuju kamar mandi.
.
.
.
Naruto berdandan cepat setelahnya. Mobil yang menjemputnya datang tepat pukul tujuh malam. Hingga ia tidak perlu menunggu lama setelah turun ke lobby. Supir segera membukakan pintu penumpang dan menyerahkan undangan untuk Naruto perlihatkan pada petugas penerima tamu nanti. Naruto tersenyum kecil, mengucapkan terima kasih dan memasukkan undangan itu ke dalam tas tangannya tanpa berniat membacanya sama sekali.
Dan disinilah Naruto berada, di sebuah lobby hotel mewah. Bolehkah dia mencungkil kutil yang bertengger manis di hidung Jiraiya? Sial, pesta biasa apanya? Jelas-jelas ini pesta perusahaan lain yang mewah. Demi Tuhan, kenapa Jiraiya mengirimnya kesini? Batin Naruto mulai kalut.
Naruto mencoba untuk melangkah penuh percaya diri, ya, setidaknya penampilannya malam ini tidak memalukan. Anggap saja begitu, batin Naruto miris. Ok, yang perlu dilakukannya hanya makan dan berdiri di sudut ruangan, jangan menarik perhatian secara berlebihan, dan dia bisa pulang dengan aman.
Dia menyerahkan undangan pada petugas penerima tamu, mencoba bersikap tenang saat wanita muda di depannya menatapnya penuh selidik. "Saya mewakili Jiraiya-sama," kata Naruto tenang, menjelaskan.
Resepsionis itu tersenyum profesional, "silahkan masuk." Katanya begitu ramah, tangannya kembali menyerahkan undangan itu pada Naruto.
Naruto mengangguk kecil, menerima kembali undangan miliknya lalu berjalan anggun menuju tempat pesta. Dua orang pria penjaga pintu membukakan pintu Ballroom untuknya. Dan wow, apa yang harus Naruto katakan? Dalam satu kali lirikan saja wanita muda itu bisa dengan mudah mengenali pengusaha-pengusaha muda yang seringkali menghiasi layar televisi maupun sampul depan majalah. Mereka, sekelompok kaum jetset berlimpah uang. Oh Tuhan, dia merasa seperti kutu saat ini. Penampilannya malam ini terlalu simple walau terkesan elegan.
"Terkutuklah, Jiraiya." Umpat Naruto pelan. Seandainya dia tahu jika acara ini sangat berkelas, dia pasti memilih gaunnya yang terbaik, memakai perhiasan yang menarik dan berdandan lebih cantik. Atau mungkin dia akan mencari seribu alasan untuk menolaknya.
Naruto mengernyit, apa yang sempat melintas dipikirkannya? Berdandan lebih cantik? Hei, dia tidak bermaksud mencari jodoh di tempat ini, kan?
Ia menggeleng pelan, misi utamanya saat ini adalah menyelinap di antara kerumunan, mencicipi makanan dan bersikap seperti hantu. Dia bisa melakukan hal bodoh saat gugup, karena itu ia harus bersikap hati-hati.
Naruto berjalan anggun, sedapat mungkin tidak bersikap ceroboh. Tubuhnya seketika membeku saat matanya menatap sosok yang hampir dua minggu ini tidak dilihatnya. Di sana, di tengah Ballroom, pria itu berdiri begitu angkuh. Mungkin sudah menjadi takdir pria itu untuk selalu menjadi pusat perhatian.
Cih, lihat saja lalat-lalat bermake-up tebal yang mengelilingi pria itu. "Sang Caesar dan haremnya." Sindir Naruto pelan sebelum berbalik, mengganti haluan.
Naruto mendengus, dan melahap makanan di atas piring porselinnya dengan cepat. Dia tidak mengerti, kenapa dia harus terganggu mendapati Sasuke dikelilingi wanita-wanita cantik juga seksi malam ini. "Hah, dia sudah biasa dikelilingi wanita. Ingat, Naruto. Mantan partner seksnya saja ada lima belas. Itu yang bisa dia hitung, mungkin pada kenyataannya lebih dari itu." Gerutu Naruto pelan dengan wajah kesal.
"Naruto?"
Naruto menyipitkan mata, melihat lewat bahunya ke arah Sasuke yang masih dikelilingi wanita. Naruto mendengus kasar dan dengan suapan besar dia kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Sama sekali mengabaikan panggilan itu.
"Naruto?"
Naruto berdesis dan membalikkan tubuhnya dalam gerakan cepat. Kenapa harus ada yang mengganggunya saat ini.
"Ternyata benar kau," pria yang memanggilnya itu berseru senang. "Berapa lama kita tidak bertemu?" Neji mencoba menghitung dengan jari-jari tangannya.
Mulut Naruto terbuka lebar, kenapa dia harus bertemu dengan Neji sekarang?
"Neji?" kata Naruto berupa bisikan pelan.
"Woah, coba lihat dirimu. Siapa sangka itik buruk rupa bisa berubah menjadi angsa cantik setelah dewasa."
Gigi Naruto gemertuk keras, wajahnya berubah masam saat Neji tersenyum. Dimatanya, Neji seperti sedang mengoloknya. "Apa maksudmu?" tanya Naruto mendesis dengan nada berbahaya.
Neji tertawa, tawa lepas yang membuat beberapa kepala menoleh padanya, tertarik. "Kau masih saja menggemaskan, huh." Ujarnya, ia menepuk-nepuk kepala Naruto pelan, memperlakukannya seperti gadis kecil, yang tentu saja membuat Naruto terbelalak horor. Sial, Neji membuatnya jadi pusat perhatian saat ini. "Aku hanya menggodamu saja. Tapi, kau memang terlihat menakjubkan malam ini." Tambahnya dengan siulan panjang, matanya menilai Naruto dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Katakan itu pada kekasihmu, Hyuuga." Desis Naruto sebal. Wanita muda itu memilih untuk kembali menikmati hidangan yang ditawarkan di meja stall.
Neji terkikik pelan, lalu berdeham sebelum kembali bicara dengan nada berat yang melelehkan hati wanita, sayangnya hal itu tidak bisa mempengaruhi Naruto. "Shikamaru dan Sasuke juga ada disini, ayo, aku akan membawamu pada mereka."
Apa? Pikir Naruto panik saat Neji menarik paksa pergelangan tangan kanannya menuju ke tengah Ballroom. Aku tidak mau bertemu Uchiha Sasuke, jerit Naruto dalam hati. Naruto tidak tahu apa yang dikatakan oleh Neji selama perjalanan itu. Pikiran Naruto seolah terbang entah kemana. Siapapun, tolong selamatkan aku! Ratap Naruto miris.
"Lihat siapa yang aku bawa," lapor Neji dengan seringaian lebar. Para wanita yang mengelilingi Sasuke kini saling berbisik, tertarik akan sosok cantik yang dibawa oleh Tuan Muda keluarga Hyuuga.
"Pergilah," perintah Sasuke dingin pada wanita-wanita kaya itu. Mereka kini mendelik, memperlihatkan secara nyata ketidaksukaannya pada Naruto.
Sasuke memasang wajah datar andalannya saat kedua matanya bersitatap dengan mata sapphire milik Naruto.
"Naruto, kau disini juga?" Shikamaru berjalan ke arah Naruto dan memeluknya untuk sesaat. Hubungan keduanya memang sudah seperti keluarga, terlebih setelah Shikamaru menikahi Temari, kakak perempuan Gaara, sahabat Naruto. "Bagaimana kabarmu? Kau terlihat lebih kurus dan pucat. Kau sakit?"
Naruto menggeleng, dan memasang senyum yang dipaksakan. "Aku baik-baik saja." Ya ampun, dia harus pergi dari sini. Kakinya terasa lemas, jantungnya berdetak lebih cepat di bawah tatapan tajam Sasuke. Naruto hanya berharap jika pipinya tidak merona saat ini. Oh, itu sangat memalukan jika terjadi.
"Kau perlu liburan, Naruto. Jangan terlalu memaksakan diri." Kata Shikamaru lagi, khawatir.
Naruto kembali tersenyum. "Bagaimana kabar istrimu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Dia baik-baik saja." Jawab Shikamaru. "Jika ada waktu, mainlah ke rumah. Temari pasti senang jika kau datang berkunjung."
"Ah, tentu. Aku akan datang nanti." Janji Naruto. "Malam ini Temari-san tidak ikut?" tanya Naruto lagi. Kepalanya melihat ke sekeliling, mencari.
Shikamaru menggeleng pelan. "Dia di Suna saat ini, kau tahu kan, Gaara ada pekerjaan di luar kota untuk beberapa pekan ke depan."
"Ah," Naruto berseru dan mengangguk mengerti. "Gaara mengatakan padaku tempo hari mengenai ini."
"Ehem," potong Neji tidak senang. "Naruto, disini ada dua orang pria tampan dan juga single untuk kau ajak bicara, tapi kau lebih memilih bercakap-cakap dengan Shikamaru?" cibir Neji tidak suka. "Kalau tahu begini, lebih baik aku kembali pada para penggemarku." Katanya penuh penekanan sebelum berbalik pergi.
"Apa dia selalu seperti itu?" tanya Naruto pada Shikamaru. Wanita muda itu menggigit pipi bagian dalamnya agar tidak tertawa keras.
"Dia tidak suka diabaikan wanita cantik," jawab Shikamaru tenang. Dengan gerakan anggun dia menyesap wine miliknya.
Sasuke mengamati interaksi keduanya dengan dingin. Dia sama sekali tidak bereaksi untuk menanggapi umpan Shikamaru. Jika boleh jujur, ingin sekali Sasuke mengamit tangan Naruto dan membawanya pergi, menjauh dari pria-pria yang jelas tertarik akan pesona Naruto.
Wanita muda itu terbelalak. "Maksudmu, aku?" ujar Naruto mendelik dan menyipitkan matanya, pura-pura kesal.
Shikamaru mengangkat bahu, "itu kenyataannya." Katanya datar. "Aku harus menghubungi Temari, kau tunggu disini."
Naruto menegakkan bahu, mengangkat dagu, menatap lurus Sasuke yang menatap dingin ke arahnya. "Halo, Sasuke," sapa Naruto tenang setelah kepergian Shikamaru.
Sasuke berdiri dengan bahu yang tampak kokoh dan lebar. Tuksedo abu yang dikenakannya membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Pria itu mengerjapkan mata, lalu memalingkan muka dan berlalu pergi, meninggalkan Naruto yang menatap punggungnya tidak percaya. Apa-apaan itu? Dia bahkan tidak membalas sapaanku? Sombong sekali. Batin Naruto jengkel. Seharusnya aku yang bersikap dingin kepadanya, bukan sebaliknya. Pikir Naruto sakit hati.
"Maaf Nona, mau berdansa denganku?" seorang pria muda tampan berusia dua puluh lima tahun datang, mengulurkan tangan, dan tersenyum sangat menawan selepas kepergian Sasuke.
Naruto menarik napas panjang, mengatur napas, lalu tersenyum manis dan menjawab lembut. "Maaf, saya tidak pandai berdansa." Jawabnya beralasan. Wanita muda itu lalu melangkah pergi, meninggalkan pria muda yang terlihat kecewa di belakangnya.
Di sudut ruangan, Sasuke masih mengamati Naruto. Para wanita muda yang mengelilinginya saling berebut untuk mencuri perhatianya. Namun usaha mereka nampaknya sia-sia. Tatapan Sasuke hanya tertuju pada satu wanita yang sekarang mendelik marah kepadanya.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, tidak menyangka jika Naruto bisa bersikap seperti saat ini. Jangan-jangan, Naruto cemburu? Sasuke mengeluarkan kartu terakhirnya, dia ingin memastikan tebakannya. Dia menyunggingkan senyum kecil yang disambut histeris oleh para wanita yang mengelilinginya.
Naruto melotot ke arah Sasuke, mengepalkan kedua tangan dan memaki pelan, "brengsek!" Naruto mencoba mengambil napas panjang, melepasnya pelan kemudian bergegas keluar ruangan. Naruto tidak memiliki alasan untuk tetap bertahan di ruangan itu. Suara musik dansa yang mengalun merdu tidak menenangkannya, hal itu malah terdengar bising di telinganya.
Wanita muda itu juga tidak menyukai tatapan menyelidik beberapa tamu undangan yang tertuju kepadanya. Well, dia menjadi pusat perhatian malam ini. Bagaimana tidak, Naruto nampak akrab dengan bujangan yang juga diincar di kota ini, Hyuuga Neji. Dia juga akrab dengan Nara Shikamaru, salah satu pengusaha sukses Jepang.
Naruto masuk ke dalam toilet wanita. Ia perlu meredam amarah yang tertuju pada Sasuke. "Dasar brengsek! Sekarang dia pura-pura tidak mengenalku? Dia tidak mengatakan apapun, juga tidak meminta maaf. Dia bahkan tersenyum pada wanita-wanita gatal itu?" Naruto menggigit bibir bawahnya keras, napasnya menggebu. Dia benar-benar cemburu rupanya.
Dia kembali menarik napas panjang, memutuskan untuk pulang, ia pun membuka pintu toilet, berjalan menuju lorong dan menabrak tubuh kokoh Sasuke yang berjalan ke arahnya.
Naruto terhuyung, sial bagaimana bisa dia menabrak Sasuke. Apa tidak ada hal yang lebih memalukan lagi selain ini?
Sasuke menangkap tangan atas Naruto agar tak terjatuh, Naruto membelalakkan mata, sementara Sasuke hanya balas menatapnya dingin. "Terima kasih," kata Naruto acuh dan dingin. Tangannya yang bebas berusaha melepaskan tangan Sasuke yang masih enggan melepaskan lengan atasnya. "Lepas!" seru Naruto dingin.
Sasuke diam.
Naruto mendelik dan mendengus kasar. "Setelah tadi kau pura-pura tidak mengenalku, sekarang kau tidak mau melepaskan tanganku? Benar-benar lucu, Tuan Uchiha." Ujar Naruto dengan suara lembut namun tidak bersahabat.
Sasuke melepaskan pegangan tangannya dengan kasar, membuat Naruto sedikit terhuyung dan mengernyit ke arahnya. "Seingatku, kau yang ingin jauh dariku, Nona Namikaze. Kenapa kau harus terganggu dengan sikapku tadi?"
Sindiran Sasuke sedingin angin musim dingin. Naruto mundur satu langkah, tubuhnya menggigil. Dia tidak menyukai tekanan pada suara Sasuke saat ini. Naruto harus lari, dia harus menjaga jarak aman dari Sasuke.
"Kenapa diam?" cibir Sasuke lagi-lagi penuh penekanan. "Mau melarikan diri, huh?" ejek Sasuke. "Ah, benar. Kau hanya bisa melarikan diri layaknya pengecut." Tambahnya saat Naruto tidak membalas ucapannya. "Kau tahu Naruto, sikapmu seperti seorang istri yang sedang cemburu."
Kedua mata Naruto membulat sempurna mendengar pernyataan Sasuke. Cemburu katanya? Hell, no! "Aku tidak cemburu!" sembur Naruto dengan mata nyalang, marah.
Sasuke mengangkat sebelah bahunya, menyeringai kecil, ia menyentil dahi Naruto keras sebelum berbalik, meninggalkan Naruto yang membeku di tempat. Tangan wanita muda itu terulur, ke tempat dimana Sasuke menyentilnya tadi. Dahinya terasa panas. Amarahnya seolah menguap entah kemana. Kenapa hatinya merasa hangat? Kenapa semudah itu hatinya bisa luluh? Benar-benar aneh, pikir Naruto. Seolah berusaha untuk bangun dari mimpi, Naruto menggeleng, memutuskan untuk melupakan apa yang baru saja terjadi dan kembali pulang ke rumah.
.
.
.
"Anda terlihat bahagia, Tuan Sasuke." Tukas Yamato melirik Sasuke lewat kaca spion mobil. Ah, salahkan saja keingintahuannya yang besar karena melihat ekspresi Sasuke yang terlihat bahagia saat ini. "Apa anda bertemu dengan Nona Naruto?"
Sasuke hanya tersenyum kecil menjawab pertanyaan orang kepercayaannya itu. Yamato bernapas lega, dirinya ikut senang melihat suasana hati Sasuke saat ini. Suasana hati Sasuke begitu buruk selama dua minggu ini. Yamato bahkan tidak berani mengungkit nama Naruto di depan Sasuke.
Ternyata benar, hanya Nona Naruto yang bisa menjungkirbalikkan emosi Tuan Sasuke, pikir Yamato. Ah, itu tidak buruk. Tuan Sasuke terlihat seperti manusia normal karenanya. Ini benar-benar baik. Batinnya lagi ikut senang.
.
.
.
Naruto melirik jam kecil di ujung meja. Sudah jam dua pagi, dan dia masih belum bisa tidur. Hah, dia menghela napas berat. Pertemuannya dengan Sasuke benar-benar menawan pikirannya saat ini.
"Ayolah, Naruto. Bukankah kau mau melupakannya?" ucapnya pada dirinya sendiri. Ia kembali menyentuh dahinya yang disentil oleh Sasuke. "Ck, hanya karena hal sepele itu amarahmu menguap begitu saja?" Naruto berguling dan duduk bersila di atas tempat tidurnya. Mulutnya mengerucut lucu, "ayolah, setelah mimpi buruk yang dia berikan? Setelah apa yang dilakukannya selama ini? Dan kamu masih mau memaafkannya?" gerutunya lagi panjang. "Yang benar saja!"
"Dia bahkan mengambil keuntungan saat kau mabuk, Naruto!" dia kembali membentak dirinya sendiri. "Kemana otakmu? Kemana?" ah, wanita muda itu kini terlihat frustasi dan akhirnya ia melewatkan malam di atas tempat tidur, gelisah, tanpa bisa memejamkan mata.
.
.
.
Dan malam pun berganti pagi. Naruto tidak tahu sudah berapa kali dia menghela napas berat pagi ini. Ino bisa sangat cerewet jika ada sesuatu hal yang mengganggunya. Dan kali ini, lingkaran hitam pada kantung mata Naruto-lah yang mengganggunya. Ino terus mengomel sepanjang pagi. Naruto tidak habis pikir, bagaimana Ino bisa tetap konsentrasi mengerjakan pekerjaannya sementara mulutnya terus bicara.
"Kau harus ke dokter!" perintah Ino mutlak.
"Ya." Sahut Naruto seperlunya.
"Kelihatannya kau stres, Naruto. Apa yang mengganggu pikiranmu? Kau bisa berbagi denganku." Kata Ino lagi dengan nada cemas yang terdengar jelas.
Naruto tersenyum kecil sementara tangannya menyelipkan rambut ke belakang telinga. Ia menghela napas panjang. Apa yang dipikirkannya? Sasuke. Dia memejamkan mata, benar, pria itulah yang mengganggu pikirannya. Naruto tidak perlu ke dokter, dia hanya perlu obat untuk melupakan Uchiha Sasuke.
"Hei, kau dengar apa yang aku katakan?" tegur Ino tegas. Dia membalikkan kursi kerja Naruto. "Kau harus memperhatikan kesehatanmu, mengerti?"
Naruto mengangguk, sekilas memberikan pelukan hangat pada Ino. "Terima kasih, Ino. Yang aku butuhkan saat ini adalah liburan."
"Apa aku mendengar kata 'liburan'?" Jiraiya menyambar pembicaraan keduanya dengan senyum mesumnya yang sangat terkenal. "Halo, Nona-nona." Sapanya lagi setelah sampai di meja kerja Naruto.
Naruto mendelik, memalingkan muka, Jiraiya membuatnya dongkol setengah mati.
"Naruto, terima kasih untuk bantuanmu tadi malam."
"Hm, sama-sama." Sahut Naruto datar tanpa ekspresi.
Seolah ingat pada tujuan awalnya, Jiraiya menepuk dahinya pelan. "Ah, hampir saja lupa. Aku punya berita bagus untuk kalian. Minggu ini, departemen kita akan berlibur ke luar kota."
Ino bertepuk tangan, riang. "Benarkah? Anda tidak bercanda?" Jiraiya menggeleng, memasang senyum lebar. "Keren, Bos." Tambah Ino lagi, senang. "Naruto, doamu terkabul. Kita akan mendapat liburan gratis." Seru Ino sambil sambi memukul bahu Naruto pelan.
"Kapan kita pergi?" tanya Naruto sedikit antusias.
"Sabtu pagi, pengumumannya sudah ditempel di kotak informasi. Kita beruntung, departemen kita mendapat giliran pertama untuk pergi liburan. Baiklah, Nona-nona. Selamat bekerja kembali." Jiraiya melayangkan ciuman ke udara dan mengedip genit ke arah keduanya. Cih, ingin sekali Naruto melempar meja kerjanya ke bos tuanya itu. Mungkin memang sudah nasibnya bekerja di bawah pria mesum itu.
"Ah, aku akan lihat pengumuman dulu. Kau mau ikut?" tanya Ino antusias. Naruto menggeleng pelan. Ino menatap Naruto dengan sorot mengerti. Wanita itu bangkit dari kursi kerjanya, dan berjalan cepat menuju kotak informasi yang tergantung di lorong ruang kerja mereka.
.
.
.
Rencana liburan ini disambut gembira oleh semua karyawan. Departemen lain bahkan merasa iri karena departemen tempat Naruto bekerja mendapat kesempatan pertama untuk pergi liburan. Jam makan siang pun selalu diwarnai oleh percakapan mengenai liburan ini.
Dan yang paling antusias dari semua, adalah Ino. Dia menyeret Naruto untuk belanja keperluan liburan nanti bersamanya. "Pantai, kita akan ke pantai. Kita harus membeli bikini baru," seru Ino serius, seolah hal itu merupakan suatu hal yang penting. Naruto hanya bisa mengelus dada, benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Ino. Mereka hanya pergi selama dua hari, untuk apa Ino belanja pakaian hingga sebanyak itu? Enam kantung belanja rasanya sangat berlebihan, ya, setidaknya menurut Naruto.
Dan waktu pun berjalan cepat setelahnya.
.
.
.
20 Juni 2014
"Naruto, pulang kerja kita ke salon." Seru Ino tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop miliknya.
Naruto mengernyit, sementara tangannya sibuk merapihkan kertas-kertas arsip di atas meja kerjanya. "Untuk apa?" tanyanya polos.
Ino memutar kedua bola matanya. "Besok kita pergi liburan, Naruto. Kita harus tampil menarik dan cantik." Jelasnya.
"Apa itu perlu?" kata Naruto lagi, sungguh dia tidak mengerti, mereka hanya liburan ke pantai, bukan mau ke acara dansa.
"Aku tidak mau tahu, sore nanti, kau dan aku ke salon. Kita akan tampil memesona besok."
"Terserah," balas Naruto santai.
Dan terjebak besama Ino di salon bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh Naruto. Ya, Tuhan. Mereka akan pergi piknik, iya-kan? Entah kenapa, Naruto malah berpikir jika besok adalah hari pernikahan Ino. Teman baiknya itu terlalu berlebihan, lagipula siapa yang akan menilai penampilanmu di sana? Benar-benar menggelikan.
Naruto menghela napas panjang, menatap keluar jendela. Ia melirik lewat bahunya, Ino nampak puas dengan potongan rambut barunya, lihat saja senyuman lebarnya itu. "Jadi sekarang kita pulang?" tanya Naruto saat Ino berdiri di sampingnya.
"Tidak," jawab Ino cepat. "Temani aku belanja yah, aku masih memerlukan beberapa pasang pakaian lagi."
Tubuh Naruto membeku karena terkejut, belanja lagi? Apa-apaan itu?
"Apa?" teriak Naruto. "La-lagi?" katanya terbata.
Ino mengangguk, tersenyum manis dan akhirnya menyeret paksa Naruto menuju mall terdekat.
.
.
.
Naruto akhirnya pulang saat larut malam, ia menghela napas lelah, namun ia tetap memaksakan diri untuk tetap terjaga. Dia sama sekali belum menyiapkan segala sesuatu untuk piknik besok. Hah, salahkan saja Ino dan untuk hal itu.
Ia memasukkan beberapa pasang pakaian santai ke dalam koper. Diurungkannya niat untuk membawa pakaian renang. "Lebih baik aku berjemur di pinggir pantai saja," katanya pelan. Dia terus mengepak keperluannya, dan akhirnya ia pun jatuh tertidur pada pukul dua dini hari.
.
.
.
Naruto mengerutkan kening, matanya masih terpejam, tidurnya terganggu oleh dering telepon genggamnya yang tak kunjung berhenti. Dia mengulurkan tangan, mencari telepon genggamnya. "Ino?" ujarnya saat membaca nama di layar telepon genggamnya. "Ada apa?" tanya Naruto dengan suara mengantuk.
"Kau dimana?!" teriak Ino kencang. Naruto mendengus dan menjauhkan telepon genggamnya dari telinga.
!"Di rumah," jawab Naruto santai. Dia bangkit dan duduk di sisi tempat tidur.
"Apa?!" Ino kembali berteriak.
"Jangan berteriak, Ino. Suaramu menyakiti telingaku." Sembur Naruto. "Ada apa kau menghubungiku? Ini masih pagi."
"Pagi? Ini masih pagi, tapi seharusnya kita sudah pergi untuk liburan, ingat?"
"Eh?" rasa ngantuk itu tiba-tiba hilang pada diri Naruto. Dia melirik jam kecil di meja dan, "Arghhhhh!" teriaknya keras. Naruto melempar telepon genggamnya ke atas tempat tidur, dan melesat cepat ke kamar mandi.
Naruto mandi dengan sangat cepat, mengeringkan tubuh dan memakai pakaian yang dipilih asal dari dalam lemari. Dia menyisir rambut dan mengikatnya ekor kuda. Gila, kenapa dia malah kesiangan di hari penting ini? Naruto sudah membayangkan omelan panjang dari rekan-rekan kerjanya nanti. Tuhan, tolong selamatkan aku. Batinnya memelas.
.
.
.
Naruto hanya bisa menunduk dalam saat tahu jika bis yang membawa rombongannya telah pergi hampir satu jam yang lalu. Dengan langkah lunglai dia pun berbalik, menyeret kopernya untuk kembali pulang.
"Nona Naruto?"
Naruto menegakkan kepala dan menoleh ke belakang. "Paman Yamato?" gumamnya pelan, sedikit kaget.
Yamato setengah berlari dan membungkuk kecil pada Naruto. "Kami menunggu anda dari tadi?" katanya.
Naruto mengerjap, memiringkan kepala ke sebelah kanan. "Eh, maksudnya apa?" tanyanya tidak mengerti.
"Tuan Sasuke dan Tuan Jiraiya sudah menunggu anda di dalam mobil," jelas Yamato. "Kita berangkat bersama, bis karyawan sudah pergi sedari tadi."
Naruto mengernyit dalam, kenapa ada Sasuke pikirnya. "Paman, mungkin anda salah."
Yamato menggeleng cepat.
"Dia tidak salah," suara berat milik Sasuke menginterupsi pembicaraan keduanya. "Cepat masuk, kau membuat kita terlambat. Dan jangan melarikan diri!" tambahnya dingin.
Kedua tangan wanita muda itu terkepal erat, berani sekali Sasuke memerintahnya seperti itu.
"Nona, sebaiknya kita segera masuk ke dalam mobil." Pinta Yamato serak. Dia tahu jika Naruto sangat marah saat ini, dia bisa mendengar dari napas wanita itu yang terdengar keras dan cepat. "Saya mohon, untuk kali ini saja."
"Baiklah, Paman." Sahut Naruto datar. "Untuk kali ini saja."
.
.
.
Naruto lebih memilih duduk dengan tumpukan berkas-berkas menjemukan dalam waktu yang lama daripada harus duduk di samping Sasuke seperti saat ini. Tiga jam dia harus bersabar. Ck, kenapa Jiraiya malah duduk di kursi depan? Sial! Rutuknya dalam hati. Naruto hanya mendengar samar apa yang dikatakan Jiraiya, untungnya bosnya itu lebih tertarik untuk berbincang bersama Yamato, sementara Sasuke sudah memejamkan mata. Jujur saja, Naruto terlalu malas untuk berbasa-basi saat ini.
Perjalanan ini membuat Naruto mengantuk. Jiraiya pun sepertinya sudah terlelap. Naruto melirik ke arah Sasuke, pria itu juga tertidur lelap. Dan akhirnya ia pun menyerah pada rasa kantuk yang menyerangnya, Naruto tertidur, tanpa sadar jika kepalanya bersandar nyaman pada bahu kokoh milik Sasuke.
Perlahan, Sasuke membuka mata saat merasakan beban di bahu kanannya. Pria itu tersenyum kecil, mengecup mesra puncak kepala wanita muda itu, dan kembali memejamkan mata.
.
.
.
Matahari sudah berada di puncak kepala saat Naruto terbangun dari tidurnya. Dia mengerjap beberapakali, "aku dimana?" tanyanya sedikit linglung. Matanya menatap ke sekeliling ruangan. Hingga sebuah ketukan pada pintu kamar menyadarkannya. "Siapa?" teriak Naruto dari dalam kamar.
Tanpa menjawab, Ino membuka pintu kamar dan menghambur masuk. Wajahnya terlihat berseri-seri. Aish, Naruto tidak menyukai ekspresi wajah Ino saat ini. Pasti ada sesuatu pikir Naruto.
"Kyaaa, Naruto kamu sangat beruntung." Teriak Ino sambil memeluk erat Naruto.
Naruto yang dipeluk secara tiba-tiba itu menggeliat tidak nyaman, Ino membuatnya sulit bernapas. "Maksudmu apa?"
Ino menyenggol bahu Naruto dan mengedip genit. "Sasuke-san membopongmu layaknya pengantin ke dalam kamar. Kyaaaa!" teriak Ino lagi, matanya berbinar senang. "Aku dan pegawai wanita lainnya benar-benar iri."
"Jadi, Sasuke yang membawaku kesini?" tanya Naruto sedikit tidak percaya. Ino mengangguk cepat. "Hah," desah Naruto. "Dia melakukannya karena kami pernah satu sekolah." Ujarnya beralasan.
Ino menekuk wajahnya dalam dan mengamati wajah Naruto dari dekat. "Benarkah?" katanya tidak percaya. Naruto mengangguk, tidak terlalu cepat. Dia berusaha bersikap senormal dan setenang mungkin. "Tidak seru!" sembur Ino tidak puas. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan menyipitkan mata. "Kau membawa bikini?"
Naruto menggeleng cepat.
"Aku sudah bilang kau harus membawanya, kan?" sembur Ino lagi. Wanita itu menarik napas panjang dan mendelik ke arah Naruto. "Kita tidak pernah tahu kapan hal seperti datang. Ini bisa menjadi kesempatan bagimu untuk menggoda Tuan Uchiha Sasuke yang terhormat. Lagipula, kalian sudah saling mengenal. Seharusnya menggodanya tidaklah sulit." Kata Ino panjang lebar. "Tapi kau tenang saja," tambahnya dengan nada lembut. Oh, lagi-lagi Naruto tidak suka nada suara Ino saat ini, membuat bulu kuduknya berdiri. "Aku akan pinjamkan bikini milikku." Katanya riang. "Sekarang bangun! Bersihkan dirimu, ada bujangan kaya yang harus kau goda, Nona Namikaze."
"Cekik saja aku!" bisik Naruto pasrah, memalingkan muka.
"Apa?" tanya Ino dengan suara ditahan yang terdengar berbahaya.
Naruto mengerjapkan mata dan tersenyum hambar, "tidak apa-apa. Bisakah kau keluar? Aku akan bersiap-siap."
"Ok, sampai nanti." Balas Ino sambil memberikan ciuman ke udara.
"Hah... kenapa nasibku sesial ini?" desah Naruto selepas kepergian Ino.
"Sasuke?" entah apa yang merasuki Naruto hingga nama itu lolos dari bibirnya. Ia menggigit bibir bawahnya, saat tubuhnya tiba-tiba terasa panas. Tangannya menyentuh bibir berwarna plum miliknya, mungkin hanya perasaannya saja, tapi dia merasakan jejak Sasuke pada mulutnya. Mungkinkah pria itu menciumnya saat Naruto tidur? Naruto menggeleng keras, rasanya tidak mungkin. Wanita muda itu menutup mata, dan yang terlintas saat ini malah ciuman panasnya dengan Sasuke.
Ya, Tuhan. Kenapa tubuhnya semakin terasa panas? Perutnya bergelenyar aneh, payudaranya terasa ngilu. Tatapan wanita itu menyayu. Ingatan akan apa yang dilakukan Sasuke pada dirinya kembali datang. Naruto menggeliat, tubuhnya terasa aneh. Kakinya bahkan bergetar, tidak mampu untuk menopang berat tubuhnya yang mencoba untuk berdiri.
Tubuhnya mengingat jelas sentuhan yang pernah diberikan oleh Sasuke. Telinganya bahkan bisa mendengar jelas suara detak jantungnya yang berdetak semakin cepat. Pipi Naruto memanas, apa yang merasukinya saat ini. "Tidak!" bentak Naruto pada dirinya sendiri. "Jangan bermimpi di siang hari, Naruto! Jangan!" dan hal itu pun menghilangkan semua gambaran akan jejak Sasuke di pikirannya.
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
