Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Selamat membaca!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 6 : Scars
By : Fuyutsuki Hikari
Naruto tidak tahu sudah berapakali dia menghela napas, telinganya panas mendengar celoteh Ino yang terus mengomel siang ini. Memangnya kenapa jika Naruto menolak mengenakan bikini berwarna kuning cerah yang disodorkan Ino padanya tadi. Memangnya kenapa jika Naruto memilih untuk tidak bersolek siang ini? Hell, Naruto hanya ingin bersantai saat ini, menggoda Uchiha bungsu sama sekali tidak tertulis dalam buku agendanya.
"Sementara yang lain ribut berebut perhatian, memoles diri, memakai bikini seksi untuk menggoda Uchiha, kau malah memilih berpakaian seperti ini?" Ino mengomel dengan mata melotot. "Asal kau tahu, beberapa rekan kerja wanita kita bahkan dengan tidak tahu malu pura-pura tersesat ke lantai tiga untuk menggoda Uchiha Sasuke."
Ya, ampun, ini gila, pikirnya. Bisakah Ino berhenti menjadi mak comblang kisah cintanya? Ini sangat menggelikan, pikir Naruto lagi, masam. Dia melanjutkan mengunyah pelan makan siangnya, yang entah kenapa terasa keras dan hambar dimulutnya, oh, mungkin akibat ocehan Ino.
"Kau harusnya berdandan cantik, memakai bikini super seksi untuk menggodanya." Ino terus memberikan ceramah panjang padanya. "Bukan pakaian compang-camping seperti ini."
Wajah Naruto ditekuk, sebal mendengarnya. Compang-camping? Yang benar saja. Naruto mengenakan pakaian yang pantas kok, jauh dari apa yang dikatakan Ino. Dia mengenakan kaos polos putih dipadankan dengan celana super pendek. Yah, dia memang malas mengenakan make up saat ini, tapi siapa yang akan memperhatikannya? Aish, terkadang Ino memang bisa sangat menyebalkan. Batin Naruto kesal. "Jadi, kamar Sasuke ada di lantai tiga?" tanya Naruto datar, sementara garpu ditangannya menusuk-nusuk makan siangnya dengan malas. Hei, kenapa dia ingin tahu kamar pria itu? Benar-benar konyol, pikirnya masam.
Ino mengangguk. "Ini kesempatanmu untuk menggoda dan mendapatkan Tuan Uchiha," Ino kembali megingatkan, layaknya seorang ibu cerewet, dia memberi penekanan pada kata terakhirnya. Ino menarik dan menghela napas panjang, Naruto benar-benar keras kepala. Menjengkelkan! Gerutunya dalam hati. "Kau tidak akan mendapat kesempatan lain yang lebih bagus lagi, Naruto." Suara Ino turun satu oktaf. Oh, sepertinya dia mengganti siasat. "Aku sangat yakin jika Uchiha-san menyukaimu." Ia mengedip genit, membuat Naruto mual.
Naruto melap mulutnya kasar dengan serbet sementara matanya mendelik pada Ino yang duduk disebrang meja. "Kau terlalu banyak berkhayal," sahut Naruto ketus.
Ino menggeleng pelan, jari telunjuknya dikibaskan ke kanan dan ke kiri di sepan wajahnya. "Salah!" serunya mutlak. "Aku tidak berkhayal, dia tertarik padamu, Naruto. Aku bisa lihat dari gerak tubuh dan tatapan matanya saat melihatmu."
"Hah!" dengus Naruto cepat. "Yang benar saja," bantahnya lagi. Ia tidak mau banyak berharap, tapi, benarkah terlihat seperti itu? Batin Naruto, kenapa hatinya merasa hangat mendengar penuturan Ino. Konyol, sungguh konyol! Ujarnya dalam hati. Haruskah Naruto kembali terperosok kedalam pesona Uchiha bungsu? Naruto takut jika dia akan kembali menelan kekecewaan, dia benar-benar takut.
"Aku tahu kau juga menyukainya," seru Ino dengan mata menyipit tajam, sikap Naruto yang mendadak salah tingkah pun tidak luput dari pengamatannya. "Kenapa kau harus begitu keras kepala untuk mengakuinya? Hanya akan ada penyesalan jika kau terus bersikap seperti ini, Naruto." Ino mengingatkan.
Naruto terdiam cukup lama. Egonya kembali sakit saat teringat jika Sasuke tidak mau disentuh olehnya. Lalu apa bedanya Naruto dengan wanita-wanita yang pernah ada di dalam kehidupan pria itu? "Dia tidak mencintaiku, Ino." Jawabnya kemudian begitu cepat. Naruto tersenyum pahit, membuat Ino terkesiap, terkejut. "Dia bersikap seperti itu karena aku menolaknya. Tidak, dia tidak mencintaiku." Tambahnya keras kepala, lagi-lagi egonya berbicara sementara kepalanya menunduk menatap makanan di atas piring yang masih tersisa setengahnya.
"Naruto?" panggil Ino lirih. Ah, akhirnya Ino mengerti kenapa Naruto sering bersikap gugup jika dia menyebut nama Sasuke di depannya.
Naruto mengerjapkan mata, mengambil napas untuk mengatur nada suaranya. "Kami memiliki cerita lama, Ino." Akunya kemudian. Ino terdiam, mengamati mimik wajah sahabatnya yang terlihat sedih. "Maaf, aku tidak menceritakan hal ini padamu. Aku hanya ingin menguburnya dan melupakan semuanya. Hatiku berdenyut sakit jika mengingatnya. Tapi, siapa sangka dia kembali lagi dalam kehidupanku. Menjungkirbalikkan kehidupan yang sudah kutata, menghacurkan tembok tinggi yang sudah kubangun lama." Naruto meremas kaos putihnya, namun mulutnya masih menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Aku memang mencintainya Ino, sangat. Tapi, aku sendiri merasa tidak yakin jika aku bisa kembali menerimanya. Kau tahu, aku sendiri bingung dengan perasaanku saat ini."
"Naruto, kau wanita dewasa yang cerdas." Sahut Ino lembut. "Tanyakan pada hati kecilmu, apa yang kau inginkan sebenarnya. Jika terus seperti ini, kalian hanya akan saling menyakiti satu sama lain."
Naruto kembali terdiam, mencoba mencerna dan meresapi apa yang dikatakan oleh Ino. Keduanya terdiam untuk waktu lama.
"Aku tidak akan memaksamu lagi." Lanjut Ino kemudian, "karena kau sendirilah yang harus berjuang untuk kebahagianmu."
Naruto kembali tersenyum, senyum tulus yang mencapai kedua matanya. "Terima kasih, Ino."
Ino mengangkat kedua bahunya dan tersenyum lebar. "Itu gunanya sahabat, bukan begitu?" Naruto masih tersenyum lembut, mengangguk menjawab ucapan Ino. "Sudahlah, sekarang habiskan makan siangmu, dan pergilah keluar. Cuacanya sangat bagus untuk santai dan berjemur. Kau harus bersenang-senang."
"Aku akan keluar, kau pergi duluan saja."
Ino mengangguk pelan, berdiri dan berbalik pergi keluar menuju pantai.
.
.
.
Ternyata benar kata Ino, cuaca diluar sangat cerah, benar-benar cocok untuk bersantai, menikmati keindahan pantai ini. Naruto mengernyit saat mendapati Jiraiya berjongkok, bersembunyi dibalik pohon kelapa tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Apa yang anda lakukan disini, Bos?" Naruto menepuk pundak Jiraiya keras.
Pria tua itu terlonjak kaget, tangannya diletakkan di depan dada, jantungnya seolah hendak keluar dari dadanya. "Kau mengagetkanku, Naruto!" semburnya marah. Pria tua itu menyipitkan mata, menilai penampilan Naruto dari bawah hingga atas. "Kau tidak memakai bikini?" tanyanya terdengar kecewa.
"Ck, untuk apa aku memakainya?" dengus Naruto tidak sopan. Dia berkacak pinggang, bersikap menantang.
"Semua teman wanitamu mengenakan bikini," sahut Jiraiya santai, beralasan. Pria tua itu kembali berjongkok, mulutnya ditekuk ke atas, ia terkekeh, terlihat begitu gembira.
"Dasar mesum!" cemooh Naruto begitu berani. Kadar kemesuman bosnya ini memag sudah tidak bisa ditolerir lagi.
"Pergilah!" usir Jiraiya merasa terganggu. "Jangan ganggu kesenanganku." Tambahnya lagi tanpa melihat ke arah Naruto. Pria itu kembali terkekeh senang dengan suguhan di depan matanya.
Naruto mendengus lalu melihat ke sekeliling, untuk mencari keberadaan Sasuke. Tidak ada, pria itu tidak ada disini. Apa mungkin dia berada di dalam kamar? Pikir Naruto. Ck, apa peduliku. Tambahnya dalam hati.
"Naruto?" sebuah teriakan keras dari pantai membuyarkan lamunan wanita muda itu. Naruto melambaikan tangan, membalas panggilan itu. "Mau bergabung? Kami kekurangan pemain." Wanita yang memanggil Naruto itu berteriak keras. Tidak jauh dari temannya itu, Yamato berdiri mengenakan celana pantai dan melambai penuh semangat ke arah Naruto.
Naruto balas melambai. "Aku tidak bisa main voli," sahutnya tidak kalah keras. "Maaf!" tambahnya saat melihat raut wajah teman-temannya juga Yamato yang terlihat kecewa. Hei, dia sama sekali tidak bohong. Naruto memang sangat payah dalam bidang olahraga. Ikut bermain hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Dia juga tidak mau berjemur dan terlalu malas untuk berenang di pantai seperti Ino.
Naruto kembali melangkahkan kaki, berjalan-jalan menyusuri pantai sepertinya ide bagus, pikirnya. Lagipula, dia memang butuh menyendiri saat ini. Pasir putih, langit biru, dan debur ombak seolah menjadi obat yang membuat hatinya tenang.
Wanita itu terus berjalan, mengikuti garis pantai, semakin jauh dan jauh dari vila tempatnya menginap. Dia bahkan tidak sadar jika sudah hampir satu jam dia berjalan menyusuri garis pantai. Naruto mendongak, dia baru sadar jika pantai ini berlatar belakang bukit hijau yang sama indahnya. Langkah kakinya pun berubah haluan menjauhi pantai, dia menaiki satu persatu anak tangga menuju jalan setapak yang membelah bukit. Benar-benar tenang, pikirnya senang. Naruto terus berjalan, pikirannya melayang hingga tidak sadar jika ada seseorang yang kini mengikutinya di belakang.
"Apa yang kau pikirkan, Dobe?"
Naruto membeku di tempat, dalam gerakan pelan dia menoleh ke arah sumber suara yang terdengar sangat ketus dan dingin. Di belakangnya, Sasuke mengendarai sepeda berwarna hitam dengan keranjang di bagian depan dan boncengan di belakang joknya, pria itu menatapnya datar.
"Apa yang kau lakukan disini?" Naruto balik bertanya.
Sebelah alis Sasuke terangkat, pria itu mendengus geli. "Menurutmu, apa yang sedang aku lakukan?"
"Menguntitku," jawab Naruto asal.
Sasuke hanya memasang wajah datar menanggapi ucapan Naruto, "minggir!" perintahnya dingin.
Naruto mengernyit, tidak mengerti.
"Kau menghalangi jalanku!" seru Sasuke, menjelaskan maksudnya.
"Jalanan masih lega, Teme!" sembur Naruto marah. "Lagipula, kau berniat meninggalkanku seorang diri disini?" tanyanya tak percaya.
"Kau punya sepasang kaki untuk berjalan kembali ke vila. Apa yang harus aku khawatirkan?" balas Sasuke datar, sama sekali tidak peduli.
Naruto membelalakkan mata, menatap wajah Sasuke tak percaya. "Seorang pria sejati pasti memberikan tumpangan pada wanita yang membutuhkannya."
Sasuke mengernyit, "aku tidak melihat jika kau membutuhkan bantuanku saat ini, Nona Namikaze." Sasuke tersenyum sinis sebelum kembali berkata tajam. "Lagipula, bukankah kau sendiri yang ingin jauh dariku?"
Wanita muda itu sudah siap melancarkan balasan super pedas pada Sasuke, tapi ucapan Ino membuatnya kembali menelan kalimat-kalimat itu. Naruto menghitung hingga sepuluh di dalam hati, dia harus menormalkan nada suaranya. "Tolong ijinkan aku menumpang, Sasuke." Suara Naruto terdengar lirih, sementara kepalanya menunduk dalam, dia harus mengesampingkan egonya untuk memohon seperti ini.
"Maaf, aku tidak dengar." Goda Sasuke kejam.
"Kau jelas mendengar apa yang aku katakan!" sembur Naruto dengan nada satu oktaf lebih tinggi. Wanita muda itu melotot marah pada Sasuke. "Ayolah, ijinkan aku menumpang." Mohon Naruto, ia membuka lebar kedua tangannya untuk menghalangi jalan bagi Sasuke yang hendak meninggalkannya. "Tolong ijinkan aku menumpang, kumohon!" mohonnya lagi. Naruto menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, berharap jika Sasuke luluh karenanya.
Sasuke menghela napas pendek dan membuang muka. Pura-pura berpikir, ck, tentu saja dengan senang hati dia akan memberikan tumpangan pada Naruto. Tapi, Naruto tidak perlu tahu hal ini kan? Sasuke benar-benar tahu cara bermain. "Baiklah," sahutnya kemudian membuat Naruto meloncat-loncat kegirangan. "Tapi kau yang mengayuh." Tambahnya cepat dengan seringai menyebalkan.
Naruto berhenti meloncat, ingin rasanya dia memberikan pukulan keras di wajah tampan Sasuke. Dia gila! Sadis! Kejam! Menyebalkan! Maki Naruto dalam hati. "Tuan Uchiha, kakiku sangat lelah karena berjalan jauh, dan sekarang kau memintaku untuk mengayuh?"
"Jadi?" tanya Sasuke lagi tanpa menjawab pertanyaan Naruto.
Naruto mengangkat kedua tangannya ke udara, menyerah. Berdebat dengan Sasuke hanya akan menguras energinya. Kakinya sudah sangat lelah, dia hanya ingin kembali ke vila secepatnya. "Baiklah, aku akan mengayuh. Tapi nanti. Kakiku sangat lelah, Sasuke. Kumohon, ijinkan aku menumpang."
Sasuke memasang pose berpikir, "ok. Tapi, jika aku memintamu untuk mengayuh, kau harus mengayuh. Mengerti?"
"Hm... aku mengerti," sahut Naruto malas.
"Naik!" seru Sasuke terdengar seperti sebuah perintah. Naruto tersenyum senang, dengan gerakan cepat dia duduk manis di besi boncengan belakang sepeda.
"Ugh!"
"Kenapa?" tanya Naruto dengan kernyitan dalam.
"Kau sangat berat, Dobe!" keluh Sasuke membuat Naruto berdecak sebal. "Kau gemuk!"
"Aku tidak seberat itu!" bantah Naruto cepat. Wanita mana yang tidak tersinggung jika disebut 'gemuk'?
Sasuke tersenyum simpul, lalu menarik dan melingkarkan kedua tangan Naruto diperutnya. "Aku tidak mau kau jatuh!" ujarnya beralasan sebelum Naruto melontarkan pertanyaan. Dan Sasuke pun kembali mengayuh sepedanya dengan cepat.
Keduanya tidak berbicara dalam perjalanan itu, Naruto menarik mulutnya ke atas, memejamkan mata, menikmati sepoi angin yang bertiup lembut. Bolehkah aku berharap menikmati kebersamaan kami ini lebih lama? Doa Naruto dalam hati, sayangnya apa yang diharapkannya tak terjadi. "Ada apa?" tanya Naruto saat Sasuke menghentikan laju sepedanya.
"Lihat itu," sahut Sasuke tanpa menoleh ke belakang.
Naruto mengintip dan menjawab datar. "Wow, tanjakkannya panjang juga."
"Hn."
"Lalu, tunggu apa lagi? Cepat kayuh sepedanya, Teme! Aku ingin cepat sampai di vila."
"Sekarang giliranmu untuk mengayuh sepeda, Dobe!" sahut Sasuke tenang.
Naruto menaikkan kedua alisnya sebelum akhirnya berteriak keras. "Kau pasti bercanda!"
"Tidak," sahut Sasuke. Pria itu segera turun dari sepeda dan menatap Naruto lurus.
"Apa?" bentak Naruto saat Sasuke menujuk sepeda dengan dagunya. "Kau benar-benar tidak bercanda?" tanya Naruto lagi dengan mulut terbuka lebar. Oh, mimik wajah Naruto sungguh terlihat konyol saat ini.
"Tidak!" sahut Sasuke datar. "Dan sebaiknya kau mulai mengayuh agar kita bisa segera sampai di vila."
"Persetan!" bentak Naruto, wajahnya memerah, marah. Dia segera beralih duduk di bangku depan, sementara Sasuke duduk tenang di belakangnya. Dengan wajah ditekuk, dia berusaha mengayuh sepeda. Ya, Tuhan. Jalanan menanjak ditambah beban Sasuke di belakangnya membuat Naruto berkeringat, dia bisa mati kelelahan, batinnya berlebihan.
"Sasuke, kau berat sekali." Keluh Naruto. Sementara Sasuke hanya tersenyum puas di belakangnya dan memeluk perut Naruto erat. "Jangan salahkan aku jika kita terjat- Arghhhhhh!" teriak Naruto keras saat sepeda yang dikendarainya oleng dan terjatuh. "Apa kubilang!" sungut Naruto. Wanita itu berusaha untuk duduk dan menyingkirkan sepeda yang menimpa tubuh mereka.
Sasuke terlentang di atas rumput, ia memejamkan matanya erat hingga akhirnya tawanya pun meledak. Sederet kalimat pedas yang siap dilontarkan Naruto seolah menghilang, dia terlalu takjub saat ini. Sasuke tidak pernah tertawa sekeras ini, setidaknya di depan Naruto.
Tanpa disadarinya, Naruto menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya. Tawa Sasuke berhenti saat tatapan keduanya bertemu. "Kau, tertawa?"
Sasuke terdiam.
"Kau tertawa keras, Sasuke." Kata Naruto lagi begitu lirih, sementara jemarinya menyentuh lembut bibir Sasuke. "Aku tidak pernah mendengar kau tertawa lepas seperti tadi."
"Apa itu buruk?" Sasuke balik bertanya.
Naruto menggeleng keras, "tidak. Itu tidak buruk. Aku menyukainya, sangat menyukainya. Wajahmu terlihat sangat tampan saat tertawa, kau tahu?"
"Tidak," jawab Sasuke. Dia meraih tangan Naruto dan menciumi buku-buku tangan wanita itu dengan mesra. "Kau wanita pertama yang melihatku tertawa lepas seperti tadi. Kau yang pertama."
Naruto tersenyum senang mendengarnya, kepalanya menunduk, semakin dekat dengan wajah Sasuke. "Aku senang mendengarnya," ujarnya tepat di depan mulut Sasuke.
Sasuke menarik kepala Naruto semakin dekat, dan mulut keduanya pun bertemu. Diawali dengan kecupan-kecupan ringan hingga akhirnya menjadi ciuman panas, bergairah namun tak bernafsu. Hanya ada perasaan rindu dan saling membutuhkan pada ciuman keduanya saat ini.
Naruto menatap nanar Sasuke saat ciuman itu berakhir. Ya, dia menginginkan Sasuke. "Aku menginginkamu," akunya jujur.
Tubuh Sasuke menegang, membeku mendengar pernyataan jujur Naruto. "Banyak hal yang tidak kau ketahui tentang diriku, Naruto." Sahutnya setenang mungkin. "Kau tidak pernah tahu betapa besar keinginanku untuk memilikimu seutuhnya."
"Shhhh," kata Naruto seraya menempelkan telunjuknya di bibir Sasuke. "Aku akan menunggu, menunggu hingga kau mau jujur kepadaku."
"Kau yakin?"
Naruto tersenyum kecil dan mengangguk yakin. "Aku sudah memikirkanya. Kita berdua layak mendapat kesempatan kedua. Tapi-"
"Tapi apa?" potong Sasuke. Ia mengangkat tubuh Naruto ke dalam pelukannya.
"Aku tidak suka berbagi, Teme." Tukas Naruto mutlak dengan wajah serius. "Kau tidak boleh menghubungi mantan submissive-mu lagi. Tidak boleh ada wanita lain selain aku. Mengerti?"
Sasuke mendengus dan kembali tertawa keras mendengarnya. "Apa yang kau tertawakan?" Naruto memukul bahu pria itu keras. Sasuke terbatuk, sekuat tenaga mencoba menghentikan tawanya.
"Seharusnya kalimat itu terlontar dari mulutku, Dobe!" ejeknya dengan seringai menyebalkan. "Karena Uchiha Sasuke, tidak suka berbagi." Naruto memutar kedua bola matanya, dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Sasuke. "Mau kemana?" tanya Sasuke, ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Sebaiknya kita kembali pulang ke vila." Kata Naruto. "Kau tahu, rekan kerja wanitaku sengaja memakai bikini untuk menggodamu."
"Ah, begitu?" Sasuke mengangguk kecil. "Kalau begitu, aku tidak boleh mengecewakan mereka."
"Apa maksudmu?" sembur Naruto murka. "Kau tidak boleh melihat mereka! Titik!"
Sasuke tersenyum lembut, menatap lurus wajah kekasihnya. "Kau terlihat cantik saat marah, kau tahu?"
Naruto menyipitkan mata, dan mendengus kasar. "Jangan merayuku, Tuan Uchiha. Aku benar-benar marah saat ini." Dan tawa Sasuke kembali meledak untuk ketiga kalinya sore ini.
.
.
.
Malam pun tiba dengan cepat. Api unggun dinyalakan, gitar dimainkan, bir dan makan malam dihidangkan. Semuanya berpesta, bernyanyi, bersenang-senang. Semua terlihat bahagia, kecuali satu orang, Naruto.
"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" Jiraiya mengambil tempat untuk duduk di samping Naruto.
Naruto meremas kaleng bir ditangannya dan melempar asal ke keranjang sampah tidak jauh dari tempatnya. Jiraiya mengikuti arah tatapan Naruto dan terkekeh puas. "Ternyata begitu," ujarnya tidak jelas.
Jiraiya menyodorkan kaleng bir lain pada Naruto dan menepuk punggung anak buahnya itu pelan. "Wanita mana yang tidak tertarik akan pesona Uchiha Sasuke?"
Naruto membuka kaleng birnya dan mendengus kasar.
"Kau harus terbiasa melihatnya," sambung Jiraiya saat Naruto memilih untuk diam. "Lihatlah, Uchiha sama sekali tidak membalas perilaku genit rekan-rekanmu."
Naruto mencuri pandang lewat bahunya, wanita itu kembali memalingkan wajah saat tatapan keduanya kembali bertemu.
"Awalnya aku sama sekali tidak mengerti, kenapa Uchiha-san mengusulkan untuk mengadakan liburan ini." Jiraiya menyesap birnya nikmat, sementara Naruto menatapnya lurus seolah meminta penjelasan. "Ya, Uchiha-san yang mengusulkan acara ini. Dan sekarang aku tahu alasannya." Ujar Jiraiya balas menatap Naruto lurus.
"Apa alasannya?" tanya Naruto serak. Tidak salah, kan jika dia ingin tahu.
"Kau," tunjuk Jiraiya. "Alasannya adalah kau."
Naruto mendongakkan kepala, langit malam bertabur bintang malam ini. "Mungkin hanya kebetulan." Cicit Naruto setelah melepas napas lelah.
"Awalnya aku juga berpikiran seperti itu," aku Jiraiya. "Tapi, perlakuannya terhadapmu sangat berbeda, Naruto. Aku memang tidak tahu ada hubungan apa antara kalian berdua, yang jelas, Uchiha menyukaimu. Itu pasti."
"Kalau memang benar begitu, kenapa dia malah duduk diam disana bersama sekelompok wanita genit itu?" sembur Naruto.
"Hei, siapa yang tidak mau digoda oleh wanita cantik?" sahut Jiraiya menambah panas suasana hati Naruto.
"Fuck you!" maki Naruto kurang ajar, matanya berkilat marah, kaleng bir ditangannya kembali diremasnya keras.
"Aku bisa memecatmu, Naruto!" ancam Jiraiya, pura-pura tersinggung.
"Terserah kau saja, kakek tua." Balas Naruto semakin kurang ajar dan akhirnya memilih untuk kembali ke dalam kamar, meninggalkan Jiraiya yang tergelak puas di tempatnya. Kapan lagi kakek tua itu bisa menggoda dan mengerjai anak buahnya yang terkenal serius? Ah, Jiraiya benar-benar puas saat ini.
.
.
.
Naruto berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia cemburu, sangat cemburu. Apakah si brengsek itu sama sekali tidak sadar jika Naruto sangat cemburu? "Bastard!"
"Kuharap itu bukan panggilan mesra yang kau tujukan padaku!"
Langkah Naruto berhenti seketika. Wanita itu menoleh, menatap galak Sasuke yang berdiri bersandar dengan santai di depan pintu kamarnya. "Apa yang kau lakukan disini?" bentak Naruto marah.
Sebelah alis Sasuke terangkat mendengar nada marah pada suara Naruto. "Apa yang membuatmu marah, huh?" tanyanya dengan ekspresi datar.
"Kenapa kau tidak menghabiskan waktu dengan wanita-wanita genit itu?" sembur Naruto. "Aku rasa mereka akan dengan senang hati membuka kedua kakinya lebar untukmu malam ini." Napas Naruto terdengar kasar, otaknya kacau, jantungnya berdetak semakin cepat karena marah.
"Cemburu?" tanya Sasuke tenang.
Naruto melotot kearahnya. "Fuck you!" makinya kasar.
Sasuke mengunci pintu di belakangnya lalu berjalan pelan ke arah Naruto, ekspresinya datar seperti biasa, namun entah kenapa hal itu malah membuat bulu kuduk Naruto berdiri. "Hati-hati dengan ucapanmu, Sayang." Kata Sasuke terdengar berbahaya. "Ah, atau kau memang sengaja mengatakannya agar aku menghukummu?"
"A-apa maksudmu?" Naruto balik bertanya, sedikit terbata. Wanita itu berjalan mundur, aura Sasuke membuatnya merinding ngeri.
"Apa yang kau takutkan, Naruto?" goda Sasuke sensual. "Kemana amarahmu yang meluap-luap itu?"
"Jangan bersikap konyol, Sasuke!" bentak Naruto, berusaha untuk terlihat berani. "Kau tidak mungkin berani menyerangku disini!"
Sasuke kembali menaikkan sebelah alisnya, "kau meremehkanku." Ujarnya dingin. Naruto terkesiap saat punggungnya menabrak tembok di belakangnya, dan dalam gerakan cepat, Sasuke mengangkat tubuh wanita itu, meletakkan dan memerangkapnya di atas tempat tidur.
"Jangan bercanda, Sasuke!" seru Naruto mulai panik. "Seseorang bisa datang ke kamarku!"
"Siapa yang berani mengganggu?" tanya Sasuke seraya mengecup leher Naruto, lama.
"Sasuke?!" Naruto meronta, mencoba menghentikan Sasuke.
"Hn," sahut Sasuke, sama sekali tidak peduli. Pria itu kembali mencium perpotongan leher Naruto, lalu menjilatnya dan berakhir dengan menggigit mesra daun telinga Naruto yang sensitif.
Naruto melenguh dibuatnya, matanya terpejam erat. Sebelah tangan Sasuke dengan kurang ajar masuk ke dalam pakaian yang dikenakan Naruto, membelai mesra, mulut pria itu melengkung senang saat tangannya berhasil melepas kaos yang dikenakan oleh Naruto.
"Hentikan, Sasuke!" Naruto semakin kalut dibuatnya. Sasuke terus menyentuh titik-titik sensitifnya. Apa yang harus dilakukannya? Bagaimana jika Ino tiba-tiba datang dan memergoki mereka? Ini buruk!
"Kita akan menikmatinya sama-sama, Naruto." Janji Sasuke sensual, sesaat sebelum ia menyerang bibir Naruto tanpa ampun. Sasuke menciumnya dengan keras, tanpa ampun dia mengobrak-abrik pertahanan diri Naruto. Wanita itu dibuat tidak sadar karenanya, Sasuke terus merayu sementara tangannya yang bebas dengan lincah membuka bra hitam yang dikenakan Naruto.
Napas wanita itu tersengal saat Sasuke mengakhiri ciumannya. Sasuke menyeringai puas menatapnya, Naruto bahkan belum sempat bicara saat Sasuke berkata dengan tenang. "Selamat menikmati!"
Tubuh Naruto menggelenyar, melengkung ke atas saat mulut Sasuke menyiksa payudaranya tanpa ampun. Naruto membekap mulutnya sendiri untuk meredam lenguhan nikmat yang keluar dari tenggorokannya. Brengsek, Sasuke benar-benar menghukumnya karena Naruto berani memakinya dengan kasar.
Namun pada akhirnya, Naruto hanya bisa melotot tak percaya pada Sasuke yang kembali menyeringai puas terhadapnya. "Ini hukuman untukmu," ujarnya. Pria itu bahkan mengedipkan sebelah matanya dengan genit pada Naruto sebelum bangkit dari tempat tidur.
"Kenapa ekspresimu seperti itu?" tanya Sasuke memasang pose berpikir. "Seseorang bisa memergoki kita, Sayang." Tambahnya datar. "Selamat malam!" kata Sasuke lagi, kemudian melenggang pergi tanpa merasa bersalah sedikit pun. Pria itu tersenyum senang, saat mendengar raungan marah Naruto sesaat setelah dia menutup pintu kamar Naruto di belakangnya.
"Dasar brengsek!" Naruto terus memaki sambil mengenakan kembali pakaiannya yang tercecer di lantai. "Dia pikir dia itu siapa?" raungnya, marah. Naruto kembali berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Matanya melirik ke arah jam yang tergantung di dalam kamarnya. "Brengsek, sekarang giliranku untuk menyiksamu, Tuan Sasuke." Mata Naruto berbinar senang, otaknya jelas merencanakan aksi balas dendam untuk Sasuke. Pria itu harus mendapatkan ganjarannya, harus!
Naruto menyambar bikini yang dipinjamkan Ino padanya, memakainya dengan cepat dibalik jubah mandinya. "Kali ini aku yang akan menggodamu hingga kau bertekuk lutut." Naruto tertawa puas, dan perlahan keluar dari dalam kamarnya menuju kamar Sasuke.
Tidak sulit untuk menemukan kamar pria itu, karena Sasuke menempati satu-satunya kamar yang ada di lantai tiga vila itu. Naruto berjalan mengendap-ngendap, ia melepas napas lega saat mendapati pintu kamar Sasuke tidak dikunci. "Cih, sepertinya dia memang sengaja tidak mengunci pintu. Berharap ada wanita genit tersesat dan menggodamu, Uchiha?" sindirnya pelan sebelum mengunci pintu itu.
Naruto kembali berjalan pelan, wanita itu terkekeh puas saat mendengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi. "Woah, ternyata bukan hanya aku yang tersiksa, huh?"
Wanita itu duduk menunggu dengan sabar di atas tempat tidur Sasuke. Kamar ini lebih luas dari kamar yang ditempati oleh Naruto, perabotan di dalamnya juga terlihat lebih berkelas. Tatapan Naruto teralih saat telinganya mendengar pintu kamar mandi dibuka. Naruto hendak mengatakan sesuatu, namun tenggorokannya seolah tercekat saat matanya melihat tubuh Sasuke. Pria itu bertelanjang dada, sebuah handuk melilit di pinganggnya.
Naruto membeku di tempat, matanya mulai terasa panas. Hal yang tidak jauh berbeda pun dialami oleh Sasuke. Pria itu berdiri mematung di tempatnya saat ini.
Hening.
Keduanya hanya saling menatap dalam keheningan panjang. Hingga akhirnya Sasuke bicara, memutus keheningan diantara keduanya. "Apa yang kau lakukan disini?"
Naruto bergeming, suaranya hilang. Perlahan, wanita itu turun dari atas tempat tidur, dia bahkan menyeret kakinya paksa agar mau berjalan. "Sa-Sasuke?" Naruto memanggil nama kekasihnya dengan terbata. Air matanya mengalir dikedua pipinya. Tangannya terulur untuk menyentuh tubuh pria di hadapannya, namun Sasuke menahannya dan berkata dengan dingin. "Pergilah!"
Naruto bergetar hebat, dadanya kembali sesak. Apa karena ini Sasuke tidak mengijinkan orang lain untuk menyentuh dan melihat tubuhnya. Naruto berbalik, tangannya memeluk tubuh Sasuke yang kini berdiri memunggunginya.
"Tubuhku sangat jelek, iya-kan!"
Naruto menggeleng dan mengecup mesra bekas luka memanjang di punggung Sasuke. Luka ini pasti sudah sangat lama. Bagaimana bisa Sasuke memiliki banyak bekas luka ditubuhnya seperti ini? Naruto bertanya dalam hati.
"Kau wanita pertama yang melihat bekas luka ini, Naruto." Bisik Sasuke parau terdengar aneh. "Kau merasa jijik?
"Tidak," sahut Naruto tegas. "Kau tidak membuatku jijik, Sasuke."
"Luka-luka ini membuatku muak, Naruto." Kata Sasuke lagi. "Bekas luka ini mengingatkanku akan ketidakberdayaanku saat aku masih kecil, mengingatkanku pada masa laluku yang tidak menyenangkan. Aku akan menceritakannya padamu."
"Jangan, jangan menceritakannya padaku jika kau belum siap." Sahut Naruto serak. Air matanya terus mengalir dengan deras. "Aku akan menunggumu hingga kau siap menceritakannya padaku."
Sekitar setengah jam kemudian, keduanya berbaring di atas tempat tidur Sasuke. Lampu sudah dimatikan, kamar itu hanya diterangi cahaya bulan yang masuk lewat jendela kamar. Pria itu masih memunggungi Naruto. Naruto berusaha untuk mengerti keadaan Sasuke. Dia hanya ingin meyakinkan Sasuke jika dia tetap mencintainya, luka ditubuh pria itu bukanlah hal yang bisa membuatnya merasa jijik.
Naruto terus memeluknya, dia menangisi kebodohannya selama ini. Ternyata Naruto sama sekali tidak tahu apapun mengenai Sasuke. Siapa yang berani menyakiti Sasuke kecil? Kenapa seseorang begitu tega menyakiti anak kecil? Apa keluarga Sasuke tahu tentang hal ini? Naruto terus berpikir. Tentu saja keluarga pria ini tahu, batin Naruto saat teringat jika Sasuke selalu absen saat pelajaran renang. Sasuke membawa surat dari dokter pribadi keluarganya yang menyatakan jika Sasuke alergi klorin. Mungkinkah keluarganya sendiri yang menyiksa Sasuke? Tapi, bagaimana mungkin? Naruto terus berspekulasi di dalam hati.
"Maafkan aku," bisik Naruto lirih. Wanita itu tidak mampu membayangkan perlakuan apa yang diterima Sasuke saat dia masih kecil. Pria itu terlihat sangat kuat, tapi siapa yang menyangka jika ternyata Sasuke bisa serapuh ini?
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
