Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M (Mature Content!)

Genre : Romance, Drama

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Selamat membaca!

I'm Sorry, I Love You

Chapter 8 : Semua Karena Itachi

By : Fuyutsuki Hikari

Naruto tidak pernah menyangka jika Itachi akan datang untuk menemuinya. Siang ini keduanya duduk di dalam sebuah cafe- dekat kantor Naruto. Wanita muda itu menyeruput es tehnya tenang, sejenak dia mengintip ke arah Itachi lewat bulu matanya yang lentik. Ah, sepertinya Itachi pun sama tidak nyamannya seperti dirinya. Kenapa rasanya begitu canggung? Pikir Naruto.

Gelas es teh di tangannya diletakkan pelan di atas meja. "Bagaimana anda bisa menemukan saya dengan cepat, Uchiha-san?" tanyanya tanpa basa-basi.

Itachi tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu. Dia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi sementara jemari tangannya terus bergerak mengitari mulut cangkir ice cappuccino miliknya. Di luar, matahari bersinar terik hingga minuman dingin menjadi pilihan utama untuk mereka. "Aku tidak menyangka jika kau sangat blak-blakkan, Nona Namikaze."

"Tolong panggil saya Naruto saja." Potong Naruto cepat.

"Dengan syarat kau memanggil nama kecilku," sahut Itachi dengan senyum ramah.

"Bagaimana jika saya memanggil anda- Itachi-san?" balas Naruto sedikit lebih santai.

"Itu terdengar lebih baik." Sahut Itachi senang.

Naruto menekuk bibirnya ke atas. "Anda belum menjawab pertanyaan saya, Itachi-san." Naruto kembali bicara dengan nada tenang.

"Ah." Seru Itachi. Pria itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe yang ramai siang ini. "Cafe ini terlalu ramai," ujarnya dengan kernyitan dalam. "Seharusnya aku membawamu ke restoran dan memesan ruang VIp." Sambungnya, kembali mengganti topik pembicaraan.

"Anda belum menjawab pertanyaan saya." Naruto menyempitkan mata dan mengetukkan jari-jarinya di atas meja, jelas tidak sabar.

"Kukira kau bakal lupa," sahut Itachi dengan senyum lebar. Benar-benar tidak mirip dengan Sasuke, pikir Naruto mulai membandingkan kedua kakak beradik itu.

"Jadi?" tanya Naruto mulai mendesak.

Itachi menghela napas panjang. Kedua tangannya saling bertaut dan diletakkan di atas meja. Matanya menatap lurus, tajam ke arah Naruto. Sial, pikir Naruto. Sasuke dan Itachi memang kakak beradik. Ekspresi tajam seperti itu mungkin memang sudah diturunkan di dalam keluarga Uchiha dari generasi ke generasi. Batinnya lagi.

"Mengorek informasi tentangmu bukan hal yang sulit untukku," kata Itachi dengan ekspresi serius.

Apa?! Teriak Naruto di dalam hati. Apa semua keluarga Uchiha memiliki kecenderungan untuk mengorek informasi dengan cara ilegal? Dasar brengsek! Makinya lagi di dalam hati. Namun sepertinya Naruto sudah sangat ahli mengendalikan ekspresinya, lihat saja, wajahnya masih terlihat santai, seolah tidak terusik akan pengakuan Itachi yang cukup mengejutkan.

"Kau tidak terkejut?" tanya Itachi dengan sebelah alis terangkat. Sedikit heran karena Naruto masih bersikap tenang setelah pengakuan jujurnya.

Sekarang giliran alis wanita muda itu yang terangkat, dengan anggun dia menjawab pendek. "Haruskah aku terkejut?" tantangnya begitu santai.

Itachi menyeringai kecil. Pantas saja Sasuke berusaha setengah mati mengejar wanita di hadapannya saat ini. Naruto jelas sangat spesial. Bagaimana bisa dia tidak takut saat mendapati tatapan intimidasi khas keluarga Uchiha. Mungkin hanya wanita ini yang bisa menaklukkan dan meluluhkan hati Sasuke, pikir Itachi lagi.

"Jadi?" tukas Naruto lagi saat Itachi terdiam cukup lama, hanyut dalam pikirannya sendiri.

Itachi menumpangkan sebelah kakinya di atas lutut dan tetap menjaga ekspresi seriusnya. "Aku harus mencari tahu asal usul kekasih adikku," tukas Itachi tanpa ragu. Sepertinya pria itu tidak takut jika Naruto tersinggung akan ucapannya.

"Dan anda sudah mendapatkan apa yang anda inginkan?" balas Naruto tenang. "Atau ada hal lain yang ingin anda ketahui tentang saya?" tantangnya penuh percaya diri.

Itachi tersenyum simpul, dia menyukai sikap pemberani wanita muda di depannya saat ini. Pantas Sasuke tergila-gila padanya, pikir Itachi lagi. "Aku bisa mencari tahu sendiri," sahut Itachi menjawab tantangan Naruto.

Naruto tertawa anggun sedangkan matanya indahnya mendelik tajam ke arah Itachi. "Anda bisa menyimpan uang anda jika bertanya langsung padaku. Gratis." Sindir Naruto sinis.

Itachi mengangkat sebelah bahunya, angkuh. "Uang tidak pernah menjadi masalah untukku. Kau pasti tahu hal itu."

Brengsek! Sialan! Maki Naruto dalam hati, walau mulutnya masih tersenyum begitu manis saat ini. "Apa anda pernah merasakan pukulan seorang wanita, Itachi-san?" tanyanya dengan nada manis dibuat-buat.

Itachi terlihat berpikir, menghitung dengan jarinya hingga akhirnya dia menggelengkan kepala sebagai tanda menyerah. "Aku lebih sering ditampar oleh wanita." Akunya jujur. "Aku bahkan sudah tidak bisa menghitung berapakali pipiku kena tamparan wanita-wanita garang itu."

Pantas saja mereka menamparmu. Kau lebih menyebalkan dari Sasuke. Pikir Naruto kesal. Apa sifat menyebalkan juga diturunkan secara turun-temurun di keluarga Uchiha? Batinnya lagi, mulai melantur.

Itachi mencondongkan tubuhnya ke depan, dan menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Naruto yang sedang melamun. "Kau melamun!" katanya.

Naruto mengerjapkan mata beberapakali dan kembali memfokuskan diri pada pria di depannya.

"Apa yang kau pikirkan?" selidik Itachi dengan suara berat.

Naruto menjawab santai, sebuah senyuman kembali terukir di wajah cantiknya. "Bukan hal yang penting." Ucapnya begitu manis. "Aku hanya berpikir untuk menghajarmu," tambahnya begitu ringan. Dengan gerakan anggun dia kembali menyeruput minuman dinginnya.

Itachi terdiam untuk beberapa saat, mencerna ucapan Naruto hingga akhirnya tawa kerasnya meledak. Pria itu sama sekali tidak ingat kapan terakhir kali dia tertawa seperti saat ini. "Kau serius?" tanyanya setelah tawanya sedikit reda. Itachi bahkan tidak peduli saat dirinya mendadak jadi pusat perhatian pengunjung cafe siang ini. Ah, sepertinya dia tidak terlalu ambil pusing.

"Apa aku terlihat tidak serius?" Naruto masih menjawab dengan nada tenang yang patut diacungi jempol.

Itachi kembali tertawa lepas, terpingkal-pingkal hingga perutnya terasa sakit karena kram.

Apa dia gila? Pikir Naruto aneh. Naruto menekuk wajahnya, tidak suka.

"Kau menarik." Seru Itachi tiba-tiba. "Pantas saja Sasuke begitu mencintaimu." Tambahnya kini dengan ekspresi serius. "Kau berbeda."

"Apa itu sebuah pujian?"

Itachi mengangkat bahunya ringan. "Anggap saja begitu."

Naruto memutar kedua bola matanya. Belum satu jam mereka duduk bersama dan wanita itu sudah menemukan persamaan demi persamaan antara Itachi dan Sasuke. Yang jelas, keduanya sama-sama angkuh, putusnya dongkol. "Apa anda datang hanya untuk ini, Itachi-san?"

Itachi menggelengkan kepala pelan dan kembali bicara. "Bisakah kau membantuku?" tanyanya yang terdengar seperti sebuah permohonan.

Apa lagi ini? Batin Naruto tidak mengerti. Apa telinganya tidak salah dengar? Kenapa dia mendengar nada getir di dalam nada suara Itachi? "Jangan membuatku bingung!" balas Naruto setelah terdiam cukup lama. Wanita muda itu menatap lekat-lekat Itachi, meminta penjelasan.

"Maaf jika aku sudah membuatmu bingung," ujarnya cepat. "Aku hanya ingin tahu seperti apa sifat sesungguhnya dari wanita yang dipilih oleh Sasuke." Jelasnya begitu jujur. "Dan sekarang aku semakin yakin jika hanya kau saja yang bisa membujuk Sasuke agar datang di pesta, malam Minggu nanti."

Naruto melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa pertengkaran kalian tempo hari belum membuat anda puas? Lebam di wajah anda bahkan belum hilang sepenuhnya." Wanita itu menunjuk ke wajah Itachi yang masih sedikit lebam pada pipi dan luka sobek kecil di mulut bagian kanan atasnya. "Bukankah Sasuke jelas mengatakan jika dia tidak mau datang." Naruto kembali mengingatkan. Masih diingatnya dengan jelas saat Itachi dan Sasuke saling membalas pukulan. Beruntung Yamato datang tepat waktu dan berhasil menghentikan perkelahian konyol itu.

"Karena itulah aku datang untuk memohon batuanmu."

"Jadi anda serius ingin saya membujuk Sasuke?" tanya Naruto lagi memastikan.

Itachi mengangguk pelan.

"Kenapa anda berpikir jika saya mampu membujuknya? Sedangkan pada anda yang jelas kakaknya saja dia tidak mau mendengar."

Lagi-lagi Itachi tersenyum kecil dan menjawab parau. "Sudah kukatakan sejak awal. Sasuke sangat mencintaimu. Sorot matanya terlihat berbeda saat menatapmu. Karena itu aku yakin jika kau sangat penting untuk adikku."

Naruto mengernyit, tidak mengerti. "Berbeda?"

"Lupakan!" seru Itachi ringan. "Tolong bujuk dia untuk pulang dan menghadiri pesta. Sudah lama Tou-san sakit. Walau beliau tidak pernah mengatakannya, tapi aku yakin jika dia sangat merindukan Sasuke. Jadi, aku mohon bantuanmu."

"Saya tidak bisa menjanjikan apapun," jawab Naruto. "Keputusannya ada di tangan Sasuke."

"Aku tahu," kata Itachi. "Tapi, bisakah kau membujuknya terlebih dahulu?" mohonnya lagi penuh harap.

"Baiklah, aku akan membujuknya. Tapi tolong, jangan berharap terlalu banyak."

"Aku mengerti," kata Itachi dengan senyum lebar. "Semoga kau diberkati, calon adik iparku. Sampai jumpa di pesta nanti!" seru Itachi sebelum bergerak dari kursinya dan berlalu pergi meninggalkan Naruto yang hanya bisa menatap punggung Itachi dengan mulut terbuka lebar.

Sampai jumpa di pesta katanya? Bukankah aku sudah bilang jangan berharap banyak? Batin Naruto kesal.

.

.

.

Naruto tidak tahu sudah berapa kali dia menghela napas keras malam ini. Dia memutuskan mengabulkan permintaan Itachi untuk membujuk Sasuke. Tapi kenapa mulutnya seolah terkunci rapat? Kenapa mendadak sulit sekali untuk memulai pembicaraan.

Sasuke melepas kacamata bacanya, menutup dokumen yang dibacanya lalu mengalihkan pandangannya pada Naruto yang sejak tadi duduk manis di atas tempat tidurnya tanpa mengatakan apapun. "Helaan napasmu mengganggu konsentrasiku!" tegur Sasuke. "Masih banyak dokumen yang harus kuperiksa dan kuselesaikan malam ini," tambahnya. "Kenapa kau tidak mengganti pakaianmu dan segera tidur?" Naruto memang masih mengenakan pakaian kerjanya saat ini.

Naruto mengangkat sebelah bahunya dengan cuek. "Aku belum ngantuk," jawabnya "Apa kau tidak bisa menyelesaikan pekerjaanmu di kantor? Kenapa kau masih harus bekerja hingga larut malam di rumah?" tanya Naruto basa-basi. Pikirannya mendadak buntu saat ini.

"Jadi kau menginap di rumahku hanya untuk menggangguku?" Sasuke bertanya dengan nada datar.

Naruto terdiam. Sasuke menatapnya lurus, Naruto memutar kedua bola matanya. Wanita muda itu terlihat sudah kebal akan tatapan intimidasi Sasuke.

Sasuke bergerak dari kursi kerjanya, lalu berjalan dengan langkah lebar menuju pintu kamarnya. "Aku akan meminta Yamato untuk mengantarmu pulang," ujarnya.

"Apa aku tidak boleh menginap di sini?" tanya Naruto agak keras hingga Sasuke menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap Naruto yang kini menatapnya lurus.

"Apa sikap anehmu ini berkaitan dengan pertemuanmu dengan Itachi siang tadi?" tanya Sasuke dingin.

Kedua mata Naruto membulat sempurna. Sial, dia tahu. Makinya dalam hati. Naruto terus menggerutu di dalam hati untuk beberapa waktu. "Kau memata-mataiku?" desis Naruto marah saat tersadar ada sesuatu yang janggal. Tidak mungkin Sasuke tahu mengenai pertemuan Naruto dengan Itachi jika tidak ada yang melaporkannya. "Sampai kapan kau akan memata-mataiku, Sasuke?" raungnya tidak terima. Naruto bergerak turun dari tempat tidur, menyambar tas kerja serta mantelnya yang diletakkan di atas kursi dekat jendela dan berniat keluar dari dalam kamar sebelum tangan Sasuke menahan gerakannya.

"Mau kemana?"

"Pulang!" jawab Naruto masih dengan nada marah.

"Kau tidak akan kemana-mana!" putus Sasuke mutlak.

Naruto mencoba melepaskan genggaman tangan Sasuke pada pergelangan tangan kananya, namun gagal. "Bukankah kau menginginkan aku pergi?"

"Kau tidak akan kemana-mana." Ulang Sasuke. "Kita akan menyelesaikan pertengkaran kita di sini, saat ini juga." Tukasnya dengan nada tegas. Sasuke tidak mau pertengkaran mereka berlanjut lama.

"Aku tidak mau bicara denganmu!" tolak Naruto keras. Wanita itu benar-benar tersinggung karena Sasuke memata-matainya. Apa Sasuke sangat tidak mempercayainya hingga dia melakukan semua itu?

"Tetap tinggal atau aku akan mencari Itachi dan menghajarnya."

"Untuk apa kau menghajarnya?" raung Naruto tidak mengerti. "Apa hubungan kakakmu dengan pertengkaran kita ini?"

"Dia penyebab pertengkaran kita," desis Sasuke dingin. "Aku pasti menghajarnya jika kau pergi malam ini." Ancamnya lagi, sungguh-sungguh.

"Apa kau tidak sadar jika sifat over protective-mu yang menyebabkan pertengkaran kita?" tanya Naruto dengan suara bergetar menahan tangis yang siap meledak. "Kenapa kau harus memata-mataiku? Apa kau begitu tidak percaya padaku?" tambahnya lagi, terdengar kecewa.

Sasuke menghela napas dan merengkuh Naruto ke dalam pelukannya. "Aku mengkhawatirkanmu. Karena itu aku memerintahkan beberapa penjaga untuk menjagamu secara diam-diam."

"Memangnya apa yang bisa terjadi padaku?" tanya Naruto lirih. "Aku bukan artis, bukan juga bangsawan kaya yang bisa menjadi target penculikan. Kau bersikap berlebihan, Sasuke. Kau tahu jika aku tidak suka dibatasi dan diawasi."

"Kau kekasihku," jawab Sasuke dengan nada berat yang terdengar seksi. Oh, kenapa Naruto harus memikirkan suara seksi pria yang memeluknya? "Aku takut jika pesaingku menggunakanmu untuk mengambil keuntungan dariku. Kau bisa dalam bahaya."

Naruto mulai membalas pelukan itu lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Sasuke. "Mereka tidak akan tahu. Kau tidak perlu cemas."

"Tapi aku ingin dunia tahu jika kau kekasihku, segera menjadi tunanganku dan calon istriku," tukasnya tanpa keraguan sedikit pun. "Aku ingin mereka tahu jika kau milikku. Hanya milikku! Secepatnya aku akan mengumumkan hal ini." Ujarnya mutlak sebelum mencium Naruto. Ciuman yang diawali kecupan-kecupan ringan itu entah kenapa berubah menjadi sebuah ciuman basah, menuntut, panas, begitu dalam, dan lama pada akhirnya.

"Jadi, apa yang diinginkan Itachi?" tanya Sasuke saat ciuman itu berakhir. Ibu jarinya mengelus lembut bibir Naruto yang sedikit terbuka, merah dan sedikit bengkak akibat ciumannya tadi. "Kakakku pasti datang dengan maksud tertentu," sambungnya lagi dengan tenang.

Naruto bergeming.

Sasuke membopong tubuh Naruto tanpa kesulitan berarti dan menidurkannya di atas tempat tidur.

"Bisakah kita bicara di sofa?" tanya Naruto pelan.

Sasuke menggeleng pelan, mengangkat tangan Naruto ke mulutnya dan menciumi buku-buku jari tangan wanita itu dengan mesra. "Kita bicara di sini," sahutnya kemudian dengan nada serak.

"Jangan memberiku pengawal lagi, Sasuke." Sahut Naruto, keluar dari topik pembicaraan.

"Bukan itu yang sedang kita bahas," ujar Sasuke mengingatkan.

"Tapi hal itu juga penting," tuntut Naruto. "Aku tidak mau gerak-gerikku diawasi."

"Itu demi keamananmu." Jawab Sasuke tenang. "Tolong mengertilah. Hanya dengan ini aku bisa merasa yakin keselamatanmu terjaga. Mengertilah."

Naruto memasang pose berpikir. Menimang-nimang. Diliriknya wajah Sasuke yang terlihat sangat serius. "Mereka tidak boleh menggangguku."

"Mereka tidak akan mengganggumu," janji Sasuke dengan sebuah senyum tipis yang membuat wajahnya terlihat semakin tampan. Naruto mengangguk setuju pada akhirnya, hal itu membuat Sasuke senang hingga senyumannya semakin lebar.

"Kau tampan saat tersenyum," puji Naruto.

"Dan kau sangat cantik saat menurut."

"Kau mengejekku?" desis Naruto sebal. Wanita itu meraih sebuah bantal dan melemparnya ke arah Sasuke

Sasuke hanya tersenyum mendapat perlakuan seperti itu. Dia terlalu bahagia saat ini, dia senang karena Naruto mau mengabulkan permintaannya. "Jadi, apa yang diinginkan kakakku?" tanyanya lagi, kembali ke topik utama.

Wanita itu berdeham, berusaha mengembalikan suaranya yang mendadak hilang. Suaranya seolah tersangkut di tenggorokannya. Kenapa sulit sekali? Keluhnya dalam hati. "Kakakmu memohon padaku untuk membujukmu datang ke pesta," jawab Naruto pada akhirnya dengan jujur. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana keberanian itu akhirnya datang pada dirinya.

Wajah Sasuke mengeras mendengarnya. Giginya gemertuk, letupan amarahnya kembali tersulut mendengarnya. "Jangan marah!" bujuk Naruto lembut. Dia mengelus tangan Sasuke yang mengepal menahan marah.

Berani sekali Itachi meminta bantuan Naruto untuk kepentingannya. Bagaimana bisa Itachi tahu jika Naruto merupakan kelemahan Sasuke sekarang. Brengsek! Umpat Sasuke di dalam hati.

Naruto menggigit bibir bawahnya, menundukkan kepala dan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia mendongak untuk menatap lurus wajah Sasuke yang masih terlihat tegang.

"Dia bilang ayah kalian sakit. Beliau sudah sakit lama. Karena itu kakakmu sangat berharap kau datang kali ini." Jelas Naruto panjang lebar. "Apa kau marah padaku juga?" tanya Naruto setengah berbisik saat Sasuke hanya diam dan menatapnya datar. "Aku tahu jika aku tidak memiliki hak untuk memintamu datang, tapi a-"

"Temani aku kesana." Potong Sasuke cepat. Bagaimanapun juga, cepat atau lambat dia harus memghadapinya. Dia tidak bisa terus menghindar dari kedua orang itu. Setidaknya itu pikiran Sasuke saat ini. Otak jeniusnya menyangkal jika dia melakukan hal ini untuk Naruto. Tidak, dia tidak akan tunduk sepenuhnya pada kekasih pirangnya ini. Benar-benar keras kepala.

"Eh?" Naruto memiringkan kepalanya. Apa dia tidak salah dengar? Sasuke bersedia pergi?

"Aku hanya akan pergi jika kau menemaniku," kata Sasuke lagi dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Bolehkah aku mendapat satu ciuman karena sudah bersedia pergi?" tanya Sasuke dengan nada seduktif. "Dan aku bersedia datang karena sudah lama aku tidak pulang." Tambahnya penuh penekanan. "Aku melakukan ini bukan atas dasar permintaanmu, apalagi mengabulkan permintaan Itachi."

Naruto tersenyum hangat, dia mengerti, sangat mengerti jika ego Sasuke terlalu besar untuk mengakuinya. Sasuke bersedia datang saja sudah membuat wanita muda itu bahagia. "Aku tahu," sahut Naruto. "Aku tahu." Ulangnya. Dibelainya penuh sayang wajah kekasihnya itu. Dikecupnya kening, hidung, pipi, dan dagu Sasuke secara perlahan hingga akhirnya mulutnya mendarat di mulut milik pria itu.

Naruto menciumnya dengan berani, sensual dan bergairah. Dia sendiri tidak tahu darimana keberanian itu muncul. Kenapa dia bisa senakal ini? Urat malunya seolah putus. Benarkah dia melakukannya untuk menyenangkan kekasihnya? Atau justru untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Ah... Naruto tidak tahu.

Sasuke menyeringai senang karenanya, ini lebih dari yang diharapkannya, dan malam panas keduanya pun berlangsung hingga menjelang dini hari.

.

.

.

"Kau masih belum tidur?" tanya Naruto setengah mengantuk. Tubuhnya benar-benar lelah saat ini. Wanita itu haya bisa menyalahkan libido Sasuke. Jam di atas meja di samping tempat tidur sudah menunjukkan pukul dua dini hari saat ini.

Sasuke terdiam.

Hening.

"Naruto, kenapa kau tidak bertanya apa alasanku hingga tidak mau pulang?"

Naruto bergerak untuk mengecup bibir Sasuke, lalu berkata. "Apa kau mau menceritakannya?" Sasuke menggelengkan kepala. Hati Naruto berdenyut sakit saat melihat kesedihan di kedua bola mata milik kekasihnya. "Kalau begitu aku tidak akan bertanya apapun kecuali kau menceritakannya dengan sukarela." Tambahnya penuh pengertian. "Tidurlah! Bukankah besok kau ada rapat pagi? Kau perlu energi," tambahnya sebelum menguap lebar setelahnya.

"Kau sama sekali tidak anggun," cibir Sasuke. "Bagaimana bisa kau menguap lebar di depan kekasihmu? Seharusnya kau bisa menjaga image!"

Kenapa mood Sasuke bisa berubah begitu cepat? Lihat saja sekarang, kesedihan itu hilang dan berganti dengan binar geli, hangat, bahagia.

Naruto menyempitkan mata, pura-pura tersinggung dan membalas dengan nada ketus. "Apa kau akan memutuskanku setelah tahu aku tidak anggun? Setelah kau mengambil keuntungan dariku hingga berkali-kali sekarang kau mau membuangku? Apa kau benar-benar sebrengsek itu?"

"Jangan banyak bergerak, Dobe!" balas Sasuke dengan seringai aneh. "Kau bisa membangunkannya lagi. Ya, tentu saja aku sama sekali tidak keberatan."

Naruto merinding ngeri mendengarnya. Dengan gerakan cepat dia membalikkan badan, memunggungi Sasuke lalu menarik selimut hingga kepalanya. "Aku capek. Selamat tidur!"

"Hn," jawab Sasuke pelan. Pria itu lalu mencium punggung telanjang Naruto sebelum bergerak menuju kamar mandi tanpa peduli jika dia telanjang bulat saat ini. Dia harus meredakan libidonya. Dia harus terjaga untuk memeriksa dokumen yang ditinggalkannya tadi.

"Aku perlu mandi air dingin," gumam Sasuke pelan.

"Mmm," desah Sasuke, air dingin turun mengguyur tubuhnya. Perlahan rasa kantuk mulai pergi meninggalkannya. Sasuke mendongak, matanya tertutup rapat saat air dingin itu menerpa wajahnya.

Berbagai pikiran itu datang, saling tumpah-tindih. Kenapa dia langsung menyetujui permintaan Naruto untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahan ayahnya? Sasuke bahkan benci setengah mati pada ibu tirinya. Wanita itu hanya lintah yang menghisap rakus harta ayahnya. Sasuke tahu dengan baik jika istri baru ayahnya itu masih tergila-gila pada Itachi. "Bodoh," gumamnya pelan nyaris tak terdengar.

Pria itu meringis saat tangannya menyentuh bekas luka memanjang di bagian dadanya. Kilatan memori buruk itu kembali datang. Napasnya terasa berat, rasa sakit itu terasa menusuk hingga jantungnya. Semuanya berputar di kepalanya. Sasuke bahkan merasa mual saat mengingat pukulan demi pukulan yang diterimanya dulu.

Sasuke mengepalkan tangan dan meninju tembok di depannya. "Sial!" umpatnya marah. Mungkin dia memang belum siap untuk kembali dan menghadapi mimpi buruknya.

Kenapa Naruto selalu mampu membuatnya lupa diri. Wanita itu selalu berhasil membuatnya keluar dari zona amannya. Dan sekarang dia menyetujui permintaan wanita itu dengan alasan untuk menghadapi masa lalunya. Hah, yang benar saja! Batin Sasuke lelah. "Semuanya karena Itachi. Jika dia tidak memohon pada Naruto untul membantunya, aku pasti tidak akan sudi untuk datang." Sasuke terus menggerutu. "Aku pasti memberikan pelajaran pada Itachi. Aku pasti akan menghajarmu lagi." Gumamnya sungguh-sungguh.

Setengah jam kemudian, Sasuke keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu terlihat lebih segar dengan rambut setengah kering. Dengan gerakan perlahan dia berjalan ke meja kerjanya yang terletak di sudut kanan kamar tidurnya. Sasuke membuka sebuah dokumen yang belum diselesaikannya. Dengan mimik wajah serius dia mencoba konsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.

Tapi, bagaimana dia bisa berkonsentrasi jika tubuh molek Naruto terpampang jelas di depan matanya. Sebuah helaan napas panjang terdengar di dalam ruangan itu. Naruto benar-benar menggoda imannya saat ini.

Sasuke merapihkan dokumen-dokumen di atas meja, menumpuknya untuk kemudian dibawanya keluar dari kamar tidurnya. Pria itu melangkah dengan suara seminim mungkin, takut jika gerakannya membangunkan kekasihnya.

"Anda belum tidur?"

Suara itu berhasil mengagetkannya. Sasuke berbalik dan mendapati Yamato berdiri tidak jauh di depannya masih dengan pakaian kerjanya. Pria itu terlihat kusut, kemeja putihnya digulung hingga siku. Wajahnya terlihat kotor dan berminyak.

"Kau juga masih belum tidur." Sahut Sasuke sambil berjalan menuju ke ruang santai. Pria itu memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya di sana.

"Saya baru selesai mengecek mesin-mesin mobil," jawab Yamato. "Anda mau kopi?" tawarnya.

"Boleh."

Yamato kemudian membuatkan secangkir kopi hitam tanpa gula, untuk atasannya tersebut. Diletakkannya cangkir itu di atas meja di depan Sasuke. "Ada lagi yang anda perlukan, Sir?" tanyanya yang kini berdiri tegap di samping sofa hitam yang diduduki oleh Sasuke.

"Tidak ada. Sebaiknya kau pergi tidur. Dan terima kasih untuk kopinya." Sahut Sasuke tanpa menatap wajah supirnya itu.

Yamato sedikit terkejut saat mendapat ucapan terima kasih dari Sasuke. Atasannya itu banyak berubah, pikirnya senang. "Kalau begitu saya permisi, Sir. Selamat malam!"

"Selamat malam!"

.

.

.

Hari berlalu dengan cepat setelahnya. Sudah tiga hari Sasuke pergi keluar kota untuk urusan bisnis. Naruto tidak tahu kenapa hatinya terasa kosong tanpa keberadaan pria itu di sisinya. Aku berlebihan. Keluhnya dalam hati.

Wanita itu terlarut dalam lamunannya. Aku akan bertemu dengan keluarga Sasuke, malam Minggu ini. Renunggnya. Oh, kenapa aku begitu gelisah? Kenapa aku seperti mempelai wanita yang takut ditinggalkan pasangannya di altar? Apa yang harus kutakutkan? Pikirnya lagi. Aku sudah berhasil menghadapi Itachi, aku hanya perlu menghadapi ayah dan ibunya saja.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ino saat Naruto mengerang frustasi.

Naruto memutar kursi kerjanya, dan menariknya untuk duduk tepat di samping Ino. "Aku berada dalam masalah besar, Ino." Ujarnya dengan ekspresi mengkhawatirkan.

Ino berjengit, tangan lincahnya seketika berhenti mengetik, lalu mengubah posisi duduknya hingga berhadapan dengan Naruto. "Apa maksudmu?"

Naruto menghela napas panjang sebelum menjawab dengan nada suara resah. "Aku akan bertemu dengan keluarga Sasuke, malam Minggu ini."

Ino menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan telapak tangannya. Ekspresi wajahnya jelas mengatakan jika dia sangat terkejut saat ini.

"Katakan sesuatu!" pinta Naruto lemah.

Ino menutup mulutnya, mencoba mengatur napas dan mengipasi wajahnya dengan telapak tangannya. Kenapa dia mendadak kepanasan? Apa AC di ruangan ini mati? Pikirnya.

"Ayolah Ino, tolong katakan sesuatu." Rengek Naruto. "Semakin hari, aku semakin gugup. Kurasa aku tidak terlalu percaya diri untuk bertemu dengan mereka."

"Kau serius?" tanya Ino.

Naruto mengangguk.

"Sejak kapan hubungan kalian menjadi begitu serius?" Ino menyempitkan mata lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Apa ada yang kau sembunyikan dariku?"

"Apa yang kusembunyikan?" sahut Naruto setenang mungkin.

Ino mencondongkan tubuh, membuat jarak wajah keduanya semakin dekat.

"Aku tidak berbohong," ujar Naruto sambil menepuk paha Ino.

Ino jelas masih tidak percaya akan ucapan Naruto. Namun hal itu dienyahkannya jauh-jauh. "Jadi, bagaimana bisa Sasuke mengajakmu untuk bertemu keluarganya?"

Naruto menundukkan kepala, kedua tangannya terasa lengket karena keringat. Wanita itu mengusapkan kedua telapak tangannya ke atas rok sutra miliknya. Ino mengambil beberapa lembar tisu dan menyodorkannya kepada Naruto. "Terima kasih," kata Naruto sambil tersenyum.

"Jadi?"

Naruto meremas tisu yang sudah lecek di tangannya. Wanita itu menghela napas keras sebelum akhirnya bicara untuk menjawab pertanyaan sahabatnya. "Sebenarnya, kakak Sasuke mendatangiku beberapa hari yang lalu. Dia memintaku untuk membujuk Sasuke pulang saat pesta pernikahan orangtua mereka, malam Minggu nanti."

Ino kembali terkejut. Kedua alisnya menyatu, heran. "Kakak Sasuke menemuimu? Kalian saling mengenal?"

Naruto menggeleng pelan.

"Lalu?"

Naruto mengangkat bahu, dan tersenyum tipis. "Dia menyelidiki latar belakangku. Dia tahu kalau aku dekat dengan Sasuke."

"Ya, Tuhan!" seru Ino sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. "Dia melakukan itu?"

Naruto kembali mengangkat bahunya ringan.

"Sudahlah, kita lupakan itu." Seru Ino lagi. "Dan akhirnya Sasuke bersedia pulang?"

Naruto mengangguk. "Ya. Dengan syarat, aku menemaninya."

"Kalau begitu kita harus mencari pakaian yang sesuai untukmu. Pakaian berkelas. Kau harus membuat keluarga Sasuke terpukau." Usul Ino dengan mata berbinar, penuh semangat.

"Itu masalahnya," keluh Naruto. "Aku ingin menjadi diriku sendiri, Ino."

"Kau hanya mengganti cara berpakaianmu, Naruto. Itu tidak berarti kau berubah menjadi orang lain," kata Ino.

"Kau pikir begitu?"

"Tentu saja," jawab Ino lagi dengan sungguh-sungguh. "Bagaimana kalau sore ini kita pergi belanja?" usul Ino. "Tapi sepertinya kau harus mengorek tabunganmu cukup dalam untuk kali ini, Naruto."

"Sebenarnya Sasuke memberikan salah satu kartu kreditnya untukku," sahut Naruto datar.

"Bagus!" seru Ino riang. "Aku berjanji, kita akan menggunakannya sebaik mungkin." Tambahnya dengan ekspresi aneh.

"Bisakah kita membelanjakan seperlunya?" tanya Naruto.

"Kenapa?"

"Karena aku berjanji akan mengembalikan uang yang kugunakan dengan cara dicicil," jawabnya polos.

"Naif! Kau benar-benar naif!" keluh Ino yang pada akhirnya memilih untuk kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.

"Apa salahnya dengan itu?" balas Naruto cemberut.

Dan benar saja. Sesuai dengan janjinya, Ino membawa Naruto kesebuah butik pakaian merk ternama. Naruto hanya bisa membulatkan mata dengan mulut terbuka lebar saat Ino menariknya paksa masuk ke dalam butik, sore itu.

Senyum ramah pelayan toko merekah saat Ino mengacungkan kartu kredit emas dengan limit tak terbatas ke udara. Wanita itu bersikap bossy, dan dengan gaya berkelas dia meminta beberapa pelayan wanita untuk melayani Naruto, sementara dia duduk nyaman di sebuah sofa mahal dengan sebuah majalah fashion di tangannya. "Keluarkan rancangan terbaru kalian, dan tentu saja yang paling mahal."

Tiga orang pelayan wanita itu tersenyum semakin lebar, membungkuk dan bergegas pergi untuk mengambil apa yang diperintahkan Ino. Bagaimana dengan Naruto? Wanita itu hanya bisa melotot pada sahabatnya yang menyeringai penuh kemenangan.

Dua jam kemudian keduanya menjinjing empat kantung kertas belanja. Mereka memberi dua buah gaun pesta, empat pasang pakaian untuk ke kantor serta lima pasang pakaian dalam yang elegan namun juga seksi. Diiringi dengan lambaian tangan pegawai butik, mereka pergi dengan dagu terangkat. Naruto memutuskan untuk bersenang-senang dan melupakan jika dia harus mencicil tagihannya pada Sasuke. Biar aku memikirkannya nanti, putusnya.

Selepas dari butik pakaian, Ino membawa Naruto ke toko sepatu terkenal. Mereka kembali bersenang-senang di sana. Keduanya keluar dengan dua buah kantung belanja dari toko itu. Ino juga menyeret Naruto untuk membeli aksesoris berkelas untuk melengkapi penampilannya. Sepertinya aku harus mengikat kencang ikat pinggang untuk melunasi hutangku pada Sasuke, pikir Naruto sedih.

"Bukankah kau akan memikirkannya nanti?" Ino menyikut pelan tangan Naruto yang terlihat gelisah.

"Memang benar," ujar Naruto. "Tapi tetap saja aku ingin menangis saat melihat dan menjumlahkan total harga barang belanjaanku."

Ino tertawa keras dan merangkul pundak Naruto. "Jangan memikirkannya terlalu dalam. Kau bisa stres dan jatuh sakit sebelum pesta." Guraunya. "Sebaiknya kita mencari makanan enak untuk mengisi perut. Bagaimana?"

Naruto mengangguk setuju.

"Kau yang traktir?"

"Ok." Jawab Naruto kembali semangat. Benar kata Ino, dia tidak harus memikirkannya sekarang. Dia akan memikirkannya setelah pesta keluarga Uchiha selesai.

.

.

.

Hari Sabtu pun datang dengan cepat. Naruto sudah bersiap dan berdandan sejak pukul empat sore. Sasuke berjanji untuk menjemputnya pukul lima sore hari ini. Pesta akan dimulai pukul delapan, malam nanti. Perjalanan darat dari Tokyo ke Otto memakan waktu dua jam. Sasuke memutuskan untuk sampai satu jam sebelum acara dimulai. Karena itulah mereka harus pergi tepat pukul lima sore agar tidak terlambat. Naruto melirik ke jam dinding yang tergantung di kamarnya. Dia masih memiliki waktu lima belas menit lagi.

Naruto mengamati penampilannya untuk terakhir kali. Warna gaun backlessnya yang berwarna champagne terlihat menawan di tubuhnya. Rambutnya digelung rapih di tengkuk agar punggungnya terekspos sempurna. Sepasang anting berlian bertengger cantik di tepinganya, sementara kakinya terbalut sepatu cantik berhak tinggi berwarna merah, senada dengan tas tangannya.

Tepat pukul lima sore, Sasuke dengan setelan tuksedo berwarna silver berdiri di depan pintu apartemen Naruto. Ah, pria itu terlihat sangat tampan, juga berkelas saat bersamaan. Naruto sangat bersyukur karena dia meminta bantuan Ino untuk memilihkan gaun yang cocok dikenakannya malam ini. Setidaknya penampilannya saat ini tidak akan membuat Sasuke merasa malu.

Ekspresi Sasuke sulit ditebak, pria itu nyaris tidak berkedip saat melihat penampilan Naruto yang begitu berkelas, dia bahkan hampir tidak mengenali kekasihnya.

"Apa penampilanku begitu aneh?" tanya Naruto yang kini terlihat tidak percaya diri karena Sasuke hanya menatapnya datar tanpa mengatakan apapun.

"Riasan wajahmu," kata Sasuke kemudian, masih dengan nada datar.

Naruto menggigit bibir bawahnya, sementara tangan kanannya diletakkan dipipinya. "Terlalu tebal?"

"Hn," jawab Sasuke tidak jelas. Naruto memang mengenakan riasan wajah tebal untuk menunjang penampilannya. Riasan wajahnya membuatnya terlihat lebih berkelas, jauh dari kata norak. Sasuke menyukai riasan mata yang semakin menonjolkan warna bola mata kekasihnya. Dia juga menyukai warna lipstik yang begitu mengundang untuk dicicipinya. Menantang, pikir Sasuke mulai frustasi.

"Kau tidak menyukainya? Apa aku terlihat jelek?" tanya Naruto mulai panik. Naruto hanya berharap Sasuke memberinya waktu untuk memperbaiki riasan wajahnya.

Dalam gerakan cepat Sasuke memerangkap tubuh Naruto di antara pintu dan tubuhnya. "Aku tidak suka pria lain melihat penampilanmu," tukasnya dengan nada cemburu yang terdengar jelas. "Gaunmu juga terlalu seksi. Gaun sialanmu ini mengekspos punggung indahmu. Aku tidak suka." Desisnya tajam.

"Kau tidak suka?" beo Naruto. Ayolah, kenapa Sasuke harus bersikap menyebalkan disaat penting seperti saat ini.

"Oh, aku sangat suka." Bisik Sasuke terdengar seksi, tepat di depan bibir Naruto. Jantung wanita muda itu berdebar semakin kencang saat hembusan napas Sasuke menerpa wajahnya. "Tapi aku tidak suka mereka melihat punggungmu. Aku tidak suka mereka terpukau kecantikanmu. Kau milikku!" ujarnya mutlak. "Bibirmu pun sangat mengundang. Siapa yang ingin kau goda, Naruto?"

"Apa maksudmu?" tanya Naruto tersinggung. "Aku berdandan seperti ini agar kau tidak malu berjalan bersamaku. Aku ingin terlihat berkelas dan pantas bersanding denganmu."

"Jangan menggigit bibir bawahmu!" Sasuke mengingatkan dengan suara tajam. Matanya berkilat, tertuju lurus pada bibir merah Naruto yang menggiurkan, begitu mengundang untuk diciumnya. "Jangan menggigitnya, atau kita tidak akan pergi kemanapun malam ini."

Naruto menelan air liurnya dengan susah payah. Wanita itu memutar otak, dia harus mencari jalan untuk keluar dari kungkungan Sasuke. Apa yang harus kulakukan? Batin Naruto mulai putus asa. "Sasuke, Yamato-san pasti sudah menunggu kita."

"Aku tidak peduli," sahut Sasuke dengan gigi gemertuk.

"Kita bisa terlambat," bujuk Naruto lagi dengan suara lembut dipaksakan.

"Aku tidak peduli," jawab Sasuke lagi, bergeming.

"Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu jika kau melepaskanku dan kita segera pergi ke Otto. Kau juga harus bersikap baik selama di pesta." Naruto mengatupkan mulutnya rapat setelah selesai mengatakannya. Bodoh! Sesalnya dalam hati.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, senyum kemenangan terukir di wajah tampannya. Naruto benar-benar tidak menyukai ekspresi wajah Sasuke saat ini. Tidak. Dia tidak menyukainya. "Kau yakin dengan ucapanmu itu, Naruto? Kau tahu, permintaanmu itu sangat banyak, dan aku akan pastikan mendapat imbalan sesuai atas permintaanmu itu."

"Aku ya-yakin," jawabnya terbata. Hal itu malah membuat senyum di wajah Sasuke semakin mengembang.

"Kalau begitu, ayo kita pergi." Sasuke melepaskan kungkungannya dan menggenggam tangan Naruto yang sudah berkeringat dingin. "Kau gugup?" ejek Sasuke.

Tentu saja aku gugup! Gerutu Naruto di dalam hati. Dia gugup akan apa yang akan diminta Sasuke sebagai imbalan. Seharusnya aku tidak mengatakan apapun, runtuk Naruto, menyesal.

.

.

.

TBC

Hai... Updatenya lama bener yah. Sampai ada yang lumutan. Saya kan sudah peringatkan, saya tidak punya jadwal tetap untuk publish. ^-^

Terima kasih untuk yang masih bersedia menunggu update-an fic ini, juga untuk kalian yang bersedia membaca dan meninggalkan jejak di kotak review. Makasih untuk semua masukannya, dan salam kenal untuk semua pembaca baru. Mengenai asal luka Sasuke, akan saya jelaskan dichap depan. Begitupun dengan siapa istri Fugaku yang juga mantan kekasih Itachi, akan saya jelaskan juga dichap depan. Dan mengenai berapa chapter fic ini, hmmm... RAHASIA!

Sampai jumpa dichap selanjutnya!

#WeDoCareAboutSFN