Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Selamat membaca!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 9 : Rahasia Masa Lalu
By : Fuyutsuki Hikari
Langit sudah gelap saat Sasuke tiba di kediaman ayahnya di Kota Otto. Naruto melirik sekilas ke arah Sasuke yang berjalan dengan dagu terangkat di sampingnya, pria itu berekspresi datar namun terlihat angkuh secara bersamaan.
Naruto menyamakan langkahnya dengan Sasuke saat keduanya mulai menaiki anak-anak tangga menuju teras depan. Dua orang pria berpakaian sempurna, bertubuh pendek dan agak gempal menyambut kedatangan keduanya dengan penuh hormat.
Wanita muda itu mencoba menekan perasaannya saat dia merasa jika dia terlalu bersemangat saat ini. Naruto memang sudah lama ingin menghadiri pesta-pesta kalangan atas seperti ini, namun bukan untuk menikmati malam penuh kemewahan, tapi untuk bahan artikel majalahnya nanti.
Samar suara musik orkesta terdengar mengalun merdu saat kedua pria penjaga pintu membukakan pintu ganda berukir rumit untuk Sasuke dan Naruto. Tanpa ragu Sasuke masuk ke dalam rumah yang kini disulap menjadi ruang pesta yang berkesan begitu mewah, klasik dan romantis secara bersamaan.
Cahaya dari lampu gantung kristal di langit-langit rumah berpendar kekuningan, sedikit redup untuk menimbulkan kesan romantis. Perabotan kayu di dalam ruangan ini terlihat mengilat, pilar-pilar penopang rumah berukir rumit. Sangat berkelas, pikir Naruto takjub.
Vas-vas kristal berleher tinggi yang berisikan rangkaian bunga mawar merah diletakkan di setiap meja serta sudut-sudut ruangan untuk memberi kesan mewah. Pesta keluarga Uchiha memang selalu berhasil membuat para tamu undangannya berdecak kagum.
Bisik-bisik menjalar dengan cepat, mulai dari pintu masuk hingga ke seluruh ruangan saat keduanya memasuki ruang pesta. Naruto membusungkan dada, mengangkat dagu, berusaha untuk tetap bersikap tenang di bawah tatapan penuh rasa ingin tahu para tamu undangan yang diarahkan kepadanya.
Itachi yang melihat kedatangan keduanya segera berjalan dengan cepat, membelah ruangan. "Kalian datang!" pekiknya tak percaya sekaligus gembira. Ia memberikan pelukan singkat pada Sasuke yang hanya menatapnya dingin, namun Itachi membalasnya dengan senyum maklum.
Perhatian Itachi segera teralih kepada Naruto yang berdiri penuh percaya diri di samping Sasuke. Itachi mengangkat tangan kanan wanita muda itu lalu mengecup punggung tangan Naruto dan tersenyum begitu manis kearahnya. "Kau terlihat sangat cantik, adik ipar." Pujinya sedikit keras pada bagian akhir. Bisik-bisik kembali terdengar dari mulut tamu undangan yang jelas menyukai gosip panas seperti ini.
Naruto ingin sekali melotot dan menjambak rambut panjang Itachi yang diikat rapih di tengkuknya. Namun alih-alih melakukannya, Naruto malah tersenyum kecil dan menyahut dengan suara merdu. "Anda sangat pandai memuji, Itachi-san. Pantas saja banyak wanita muda yang tergila-gila dan nyaris putus asa untuk mengejar cinta anda," ujar Naruto santai membuat Sasuke menyeringai kecil saat melihat ekspresi kaget Itachi.
Itachi mengerjapkan mata, ekspresi terkejutnya hilang dalam sekejap mata. Ia lalu mengangkat bahu dan menjawab dengan nada sama santainya. "Pada kenyataannya aku sering dicampakkan wanita-wanita itu-"
"Dan segera mendapat gantinya," potong Naruto masih dengan senyum kecilnya yang memikat. Itachi mengutuk di dalam hati dan sekilas mendelik ke arah Sasuke yang dengan jelas ikut mengejeknya. Itachi tahu jika Naruto sangat pemberani, tapi dia tidak tahu jika kekasih adiknya itu juga memiliki mulut pedas yang menyakitkan telinga.
"Apa aku membuatmu tersinggung?" tanya Naruto memasang ekspresi bersalah. Namun dari sinar matanya, Itachi tahu jika Naruto tengah menertawakannnya saat ini. "Maaf... aku hanya bercanda," tambah Naruto lirih.
Itachi berdeham, mencoba mengontrol emosinya. Ya, Tuhan. Siapa yang akan mengira jika dia bisa diserang balik dengan telak oleh seorang wanita muda yang terlihat polos dan naif? Sepertinya dia sudah salah menilai Naruto. Wanita itu lancang, sangat lancang. Pasangan sempurna untuk adiknya yang pemberontak, bukan?
"Ayo, sebentar lagi acara akan segera dimulai. Kalian harus bertemu dengan ayah dan ibu," seru Itachi mengakhiri pembicaraan mereka dan segera membawa keduanya ke tengah aula dimana Fugaku dan istrinya berada. Rahang Sasuke mengeras saat Itachi mengatakannya, namun dia tetap mengikuti langkah Itachi dengan Naruto di sampingnya untuk menemui Fugaku dan Ny. Uchiha yang baru.
Naruto mengamati pertemuan keluarga itu dalam diam. Tidak ada ekspresi senang, tidak ada pelukan hangat, tidak ada juga ucapan basa-basi dari mulut Uchiha Fugaku untuk menyambut kedatangan Sasuke. Begitu pun dengan Sasuke, dia hanya membungkuk kecil lalu mengulurkan tangan kanannya untuk mengucapkan selamat. Layaknya dua orang asing, itu yang ada di pikiran Naruto saat ini.
"Aku senang akhirnya kau pulang, Sasuke." Suara bahagia seorang wanita membuyarkan lamunan Naruto. Wanita itu berambut merah, disanggul rapih ditengkuk. Berpenampilan tanpa cela, anggun dengan gaun hitam semata kaki. Gaun hitamnya tanpa lengan, dengan potongan dada sedikit rendah membuatnya terlihat sangat muda dan memesona. Kalung dan anting-anting berlian yang dipakainya berpendar indah terkena cahaya lampu. Siapa? Pikir Naruto mulai bertanya-tanya.
Naruto mencoba untuk berekspresi biasa saat melihat wanita itu mulai menggandeng tangan Fugaku dengan mesra. Namun dari pengamatannya yang tajam, dia bisa tahu jika kedua mata wanita itu selalu berbinar saat menatap ke arah Itachi. Apa-apaan ini? Tanyanya lagi di dalam hati, bingung. Tidak mungkin, kan?! Pekiknya masih di dalam hati. Wanita berambut merah ini tidak mungkin ibu tiri Itachi dan Sasuke. Iya, kan?
"Siapa wanita cantik ini?" tanya wanita berambut merah itu penuh rasa ingin tahu membuat Naruto kembali tersadar dari lamunannya. Tatapan Fugaku yang pada awalnya terarah lurus pada putra bungsunya kini beralih pada Naruto. Kedua alisnya sedikit ditekuk saat menyadari keberadaan wanita itu di samping putra bungsunya.
"Dia: Namikaze Naruto, tunanganku." Jawab Sasuke dengan suara dalam dan tegas. Baik Fugaku maupun wanita di sampingnya jelas terkejut mendengar penuturan Sasuke yang blak-blakkan itu.
"Tu-tunangan?" beo Mei terkejut.
"Kita akan membahasnya nanti," sahut Fugaku masih menatap Naruto lurus. Pria itu jelas tengah mengamati tunangan putranya dengan seksama.
"Maaf saya terlambat memperkenalkan diri," kata Naruto membungkuk sopan. "Saya- Namikaze Naruto. Saya kekasih putra bungsu anda."
"Tunangan!" ralat Sasuke cepat. Dengan tatapan tajam dia mendelik ke arah Naruto yang balas menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Menantang.
"Kau belum meminangku secara resmi," balas Naruto tegas dengan senyuman manis.
"Bukankah dia sangat menggemaskan?" ujar Itachi terkekeh kecil, mencoba untuk mencairkan suasana tegang diantara Sasuke dan Naruto. Sasuke mendengus dan memalingkan muka, jelas sangat kesal karena ucapan Naruto.
Untuk sesaat rasa terkejut bersinar dikedua mata Fugaku hingga akhirnya tawanya menggema, begitu keras hingga mengundang perhatian para tamu undangan yang hadir. "Mulut gadis ini begitu pedas dan tajam," ujarnya terdengar seperti sebuah pujian yang bahkan Sasuke, Itachi dan Mei sama sekali tidak bisa mempercayainya. "Dia pasti sangat pintar hingga bisa membuatmu pulang. Aku lega karena kau bisa memilih gadis yang cocok dengan sifatmu," tambahnya masih dengan tawa yang segera menjalar ke seluruh ruangan.
"Sepertinya dalam waktu dekat rumah ini akan kembali mengadakan pesta," kata Terumi Mei yang kini menyandang status sebagai Ny. Uchiha. Senyumnya terkembang penuh arti kearah Naruto yang kini terlihat bingung lalu kikuk setelah mengerti apa yang sedang mereka bahas saat ini.
.
.
.
Malam sudah semakin larut saat Naruto berjalan untuk mencari kamar kecil. Ya, Tuhan. Kenapa rumah ini begitu luas dan besar? Keluh Naruto di dalam hati. Dia tidak tahu bagaimana caranya dia bisa tetap tersenyum sepanjang pesta. Bersikap ramah pada setiap tamu yang lebih tertarik mengenai latar belakang keluarganya daripada dirinya sendiri.
Naruto sudah mulai pusing mendengar semua obrolan para tamu yang hanya berputar di satu topik yang sama: bisnis. Oh, ayolah. Apa mereka tidak tahu topik pembicaraan lain yang lebih menyenangkan daripada hanya membahas bisnis dan kekayaan?
Dia sangat bersyukur karena Sasuke terus menemaninya sepanjang pesta tadi, namun kini pria itu menghilang di tengah lautan tamu undangan yang mulai mengobrol berkelompok di aula yang semakin ramai, sesak dan panas. Naruto berani bertaruh jika setengah tamu undangan sudah mabuk saat ini. Ah, mengesalkan, pikirnya semakin keruh.
Naruto terus melangkah, ia mendongakkan kepala, mengagumi cahaya lampu gantung kristal yang berpendar menerangi langit-langit tinggi rumah bergaya gothic itu. Naruto kemudian menundukkan kepala saat sepatunya menyentuh hamparan karpet Persia yang terlihat sangat mahal. "Berapa biaya yang dikeluarkan untuk merawat perabotan mahal ini?" ujarnya dengan decak kagum.
Sebuah foto berukuran besar tergantung tinggi di atas perapian menarik perhatiannya. Kening Naruto mengernyit, di dalam lukisan itu hanya ada Fugaku, Mei dan Itachi. Foto itu pasti diambil saat Sasuke berada di Amerika, pikirnya sedih.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Itachi tanpa melepaskan tatapannya dari foto yang tergantung itu. "Apa kau mencari Sasuke?" tanyanya lagi.
Naruto terkesiap, dan segera berbalik cepat untuk menatap galak pria yang kini berdiri tegak di belakangnya. "Kau membuatku kaget!" nada suara wanita muda itu terdengar tajam dan kesal namun Itachi hanya menyeringai kecil, tidak merasa bersalah.
Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya Itachi kembali membuka suara. "Menggelikan bukan? Ayahku menikahi wanita yang lebih cocok menjadi menantu atau anaknya." Ucapannya terdengar begitu merendahkan. Naruto kembali terkejut melihat ekspresi terluka di wajah Itachi. Namun secepat kedatangannya, ekspresi itu pun juga hilang dengan cepat berganti dengan ekspresi jail. "Ayahku memiliki selera yang bagus jika menyangkut wanita. Begitu pun denganku, kecuali Sasuke tentu saja," ujarnya begitu ringan dengan seringai mengejek. "Apa kau tahu jika ibu tiriku juga mantan kekasihku?" tanya Itachi dengan binar mata geli. "Menurutmu apa ayahku akan terkena serangan jantung jika mengetahui kebenaran ini?" Itachi menekuk wajahnya, memasang pose berpikir. "Ingat, kau harus merahasiakan hal ini dari ayahku!"
Hening.
"Selain Sasuke, ternyata kau juga sangat pandai menyembunyikan luka hatimu, yah, Itachi-san," Naruto berkata parau setelah melepas napas lelah. "Menangislah jika kau ingin menangis. Tertawalah jika kau ingin tertawa. Dan berteriaklah jika itu bisa membuat beban di hatimu sedikit berkurang."
"Aku memang bersikap baik padamu, tapi kau jangan menggunakan hal itu untuk melewati batas!" desis Itachi dengan nada mengancam. "Lidahmu terlalu tajam untuk ukuran seorang wanita muda!"
"Lalu apa salahnya jika lidahku setajam pedang?" sebelah alis Naruto terangkat saat mengatakannya. Dia sama sekali tidak gentar mendapat tatapan intimidasi dari Itachi. Sebaliknya dia mengangkat bahunya dan memasang sikap menantang. "Aku tidak bertanya apapun padamu. Kau yang mengatakan semua itu padaku. Ingat?" balasnya pedas. "Tatapanmu mungkin berhasil menciutkan nyali wanita-wanita lain, anak buah atau musuhmu, tapi hal itu tidak akan berhasil padaku!"
"Kau menantangku?" Itachi bertambah geram.
"Kau bisa menganggapnya seperti itu," balas Naruto santai.
"Jangan coba-coba untuk mengasihaniku!" ujar Itachi dengan telunjuk tangan teracung. Pria itu jelas terganggu karena ucapan Naruto tadi. Dia juga tidak suka mendapat simpati dari keadaannya.
"Aku tidak mengasihanimu," seru Naruto masih dengan sikap tenangnya yang mengagumkan. "Kaulah yang mengasihani dirimu sendiri!" tambahnya yang berhasil membuat rahang Itachi mengeras. Naruto bahkan bisa mendengar suara gemertuk gigi Itachi yang terlihat sangat marah saat ini. "Bagaimana kau bisa melangkah maju jika kau tidak juga mulai melangkah?" tanya Naruto dengan nada satu oktaf lebih rendah. "Sebelum mencintai orang lain, kau harus mencintai dirimu sendiri!" ujarnya tegas.
Itachi mengerjapkan mata, terlihat bingung. Kenapa dadanya terasa sesak mendengar penuturan Naruto? Kenapa dia harus merasa terganggu karenanya?
"Apa kau pernah mendengar satu peribahasa?" tanya Naruto membuat Itachi kembali menatapnya lurus. "Tuhan seringkali mempertemukan kita dengan orang yang salah sebelum akhirnya kita bisa menemukan orang yang tepat."
Itachi masih terdiam, meresapi ucapan Naruto.
"Jika kau tidak bisa mengatakan keluh kesahmu pada Sasuke, bukankah kau masih memiliki Tuhan untuk mengadu?" kata Naruto lagi membuat lidah Itachi semakin kelu. "Maaf jika aku bersikap kurang ajar," ujarnya lagi dengan helaan napas panjang. "Aku hanya kesal. Kau maupun Sasuke, kalian berdua jelas sama-sama terluka, saling membutuhkan. Tapi alih-alih saling menghibur dan memahami, kalian malah memasang tembok untuk bersembunyi. Kenapa kalian harus begitu keras kepala? Kenapa ego kalian begitu besar?" Naruto memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut sakit. "Dasar bodoh!" jeritnya tertahan.
Itachi berdeham. "Aku tidak bodoh!" tukasnya tidak terima. Kemarahan pria itu menguap hilang secepat embun di pagi hari.
"Tentu saja tidak," sahut Naruto sambil memutar kedua bola matanya. "Ngomong-ngomong dari tadi aku mencari kamar kecil," ujar Naruto saat kembali teringat akan maksud utamanya keluar dari aula.
Kedua alis Itachi naik saat mendengarnya. "Kurasa saat ini kamar kecil di lantai satu penuh oleh tamu wanita yang sibuk meretouch makeup. Sebaiknya kau menggunakan kamar kecil di sebelah perpustakaan saja," jawab Itachi. "Letaknya di lantai dua sebelah kanan, pintu ketiga," tambahnya cepat.
"Terima kasih," ujar Naruto sebelum berbalik pergi meninggalkan Itachi yang terus berdiri memandangi foto keluarga yang tergantung itu lama.
Sementara itu, dengan langkah panjang Naruto berjalan menuju lantai dua. Setelah berbelok sesuai dengan petunjuk Itachi dia kemudian melewati lorong berpenerangan temaram. Hanya ada cahaya lampu tempel di dinding yang menerangi lorong itu. Pintu ketiga, rapalnya di dalam hati. Naruto harus berjalan hingga ke ujung lorong saat akhirnya dia menemukan pintu yang dicarinya.
Kedua matanya membulat sempurna saat melihat interior kamar mandi. Ukuran kamar mandi itu bahkan lebih besar dari ruang tidur di apartemennya. Lantainya marmernya putih sempurna, beberapa lampu gantung menambah kemewahan kamar mandi ini. Sebuah lukisan Dewa Neptunus tergantung memenuhi sisi tembok bagian kiri ruangan. Handuk-handuk berwarna putih terlipat rapih di dalam lemari kaca besar di dekat bak cuci tangan. Sebuah bak mandi yang juga besar- berbentuk oval di ujung yang lain terlihat nyaman dan mengundang untuk digunakan.
Naruto menghirup napas panjang, menikmati aroma mawar yang tercium harum dari pewangi kamar mandi yang tergantung di sisi toilet duduk yang sedang digunakannya. Tangannya terulur untuk mengambil beberapa tisu. Ck, bahkan tempat tisu saja berpolet emas. Wanita itu menggeleng pelan. Setelah selesai, dia kembali berdiri untuk merapihkan gaunnya dan berjalan menuju tempat cuci tangan yang juga berpolet emas. Menakjubkan! Pikir Naruto terpana.
.
.
.
"Jadi, kenapa Anda memintaku untuk datang?" suara Sasuke terdengar tenang dan datar. Pria itu duduk di salah satu kursi nyaman di ruang kerja milik Fugaku. "Aku yakin kau berpura-pura sakit agar Itachi menemui dan memintaku untuk datang," tambahnya dengan tatapan menuduh.
Fugaku menuangkan brendi ke dalam dua buah gelas kristal. "Es?" tanyanya. Sasuke mengangguk pelan sebagai jawaban dan mengatakan terima kasih saat ayahnya menyodorkan salah satu gelas berisi brendi itu ke tangannya.
Fugaku mendudukkan diri di depan kursi Sasuke. Sedikit kepayahan mengingat kondisi kaki kirinya yang tidak berfungsi normal setelah kecelakaan fatal yang juga merengut nyawa istrinya pertamanya. Sejak saat itu dia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. "Lidahmu lebih tajam sekarang," kata Fugaku dingin.
Sasuke mendengus, ia menggenggam gelas brendinya begitu kuat untuk melampiaskan amarahnya yang mulai meletup. "Tolong. Katakan saja apa yang Anda inginkan dariku," katanya begitu formal.
"Mundurlah dari proyek starlight!"
"Apa?!" bentak Sasuke tidak mengerti. "Kenapa anda memintaku untuk mundur?" tanyanya tidak mengerti. "Apa anda takut kalah bersaing dengan perusahaanku?" tanyanya lagi dengan nada mengejek.
Fugaku melotot dan mengacungkan tongkatnya ke depan hidung Sasuke. "Berani sekali kau berbicara dengan nada seperti itu!"
"Kenapa?" tantang Sasuke tajam. "Apa anda akan memukuliku? Apa anda akan melempar semua benda di tangan anda ke arahku?" Sasuke tertawa keras lalu menyesap brendinya pelan dan santai. "Aku bukan lagi anak kecil atau remaja tanggung yang tidak bisa membalas perbuatanmu, Ayah!" tambahnya penuh penekanan. "Jika aku mau, aku bisa melempar tubuhmu keluar jendela saat ini juga. Jadi, tolong, jangan main-main dengan emosiku!"
"Kau?!" gigi Fugaku gemertuk karena kesal. Fugaku melepas napas keras dan mengetukkan tongkatnya ke atas lantai. "Jika aku tidak mendidikmu dengan keras, kau hanya akan jadi bocah cengeng yang terus meratapi kematian ibunya!"
"Demi, Tuhan, Yah!" seru Sasuke mengangkat kedua tangannya. "Saat itu aku masih berusia delapan tahun saat ibu meninggal. Apa aku tidak boleh menangisi kematian ibuku? Apa kau tidak bisa meminta maaf kepadaku setelah perlakuan kasarmu selama hampir sepuluh tahun? Pernahkah kau berpikir kenapa aku memutuskan untuk keluar dari rumah ini?"
"Tidak ada yang perlu aku sesali dari perbuatanku," sahut Fugaku dingin. "Kau pikir kau akan sesukses ini jika aku tidak mengajarmu dengan keras?"
"Lalu kenapa kau tidak melakukan hal yang sama pada Itachi?" Sasuke meletakkan gelas brendinya ke atas meja. "Kenapa? Kenapa kau tidak bisa menjawab pertanyaanku?" tanya Sasuke membuat sebuah gelas brendi kristal melayang ke arahnya.
Dengan gerakan cepat Sasuke menundukkan kepala hingga gelas kristal itu menabrak dinding di belakangnya dan pecah berantakan. Dia menyeringai kecil, menantang. Masa kecilnya dihabiskannya dengan menghadapi kemarahan ayahnya, menghindari lemparan benda-benda yang melayang ke arahnya dan menerima pukulan demi pukulan tongkat milik ayahnya. Sasuke sempat berpikir, mungkinkah ayahnya melampiaskan rasa frustasi karena kematian ibunya kepada dirinya? Tapi kenapa? Kenapa harus dirinya? Apa salahnya? Itu yang tidak dimengerti Sasuke hingga saat ini.
"Kau harus mundur dari proyek satu ini!" putus Fugaku mutlak tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh putra bungsunya. "Kondisi keuangan perusahaan Uchiha sedang tidak bagus saat ini," aku Fugaku jujur. "Proyek pembangunan waduk besar milik pemerintah ini akan mampu menstabilkan keuangan perusahaan kita lagi. Karena itu aku ingin kau mundur!"
"Kita?" dengus Sasuke masih dengan nada mengejek. "Apa aku tidak salah dengar?!"
"Kau pikir untuk siapa aku mempertahankan perusahaan keluarga ini jika bukan untukmu dan Itachi?!" raung Fugaku marah. Berani sekali putra bungsunya menyangsikan ucapannya.
"Baik hati sekali," Sasuke berdiri dan berjalan menuju jendela patri, mengamati keindahan design sepasang malaikat kecil yang tergambar pada kaca berwarna-warni itu. "Aku tidak memerlukan warisan darimu. Aku sudah memiliki harta milikku sendiri."
"Sombong!" desis Fugaku dengan mulut terkatup.
Sasuke mengangkat bahunya cuek dan menjawab dengan nada sombong. "Kenyataannya memang seperti itu."
Keduanya kembali terdiam untuk waktu yang cukup lama. Keduanya terlalu sibuk bertengkar hingga tidak sadar jika sedari tadi Itachi mencuri dengar pembicaraan keduanya dari celah pintu ruang kerja yang sedikit terbuka. Itachi menutup pintu itu tanpa suara. Sudah terlalu banyak yang didengarnya malam ini. Akhirnya dia tahu rahasia tergelap dari adiknya. Kemana saja dia selama ini hingga tidak tahu jika adik kandungnya menjadi korban kekerasan dari ayah kandung mereka sendiri. Pantas saja Sasuke begitu membencinya, membenci ayahnya, membenci rumah ini, membenci semua hal tentang keluarga Uchiha. Pantas saja adiknya itu tidak mau pulang. Untuk apa dia pulang jika kenangan-kenangan buruk selalu datang menghantuinya di rumah ini. Oh, Tuhan... Batin Itachi perih.
Dari anak tangga kedua Naruto memperhatikan Itachi yang berjalan lesu dengan tatapan kosong. "Kenapa dengannya?" Naruto berbisik lirih pada dirinya sendiri. Wanita muda itu baru saja akan memanggil nama Itachi saat Mei muncul tiba-tiba dari belakang Itachi dan menarik tangan Uchiha bungsu itu untuk masuk ke salah satu ruangan di dekat tangga.
Naruto mengernyit dalam. Rasa ingin tahunya yang menggebu-gebu mengalahkan batin kecilnya yang terus berteriak jika apa yang akan dilakukannya merupakan hal yang salah. Sangat tidak sopan mencuri dengar pembicaraan orang lain. Tapi, bagaimana bisa dia berdiam diri saat melihat hal yang sangat tidak pantas yang terjadi di depan matanya. Persetan! Umpat Naruto dalam hati. Dia menuruni anak tangga dengan cepat dan membuka pelan pintu ruangan yang dimasuki Itachi dan Mei untuk mencuri dengar.
Salahkan saja jiwa wartawanku ini, ujar Naruto di dalam hati. Jantungnya berdebar sangat kencang saat ini. Bagaimana jika ada tamu yang memergokinya? Ah, koridor ini sepertinya cukup gelap untuknya bersembunyi. Tapi, bagaimana jika Itachi atau Mei memergokinya? Alis Naruto menyatu saat memikirkannya. Oh, ayolah. Sesekali menguji nyali tidak ada salahnya juga, kan?
"Kenapa kau menyeretku ke sini?"
Alis Naruto terangkat saat mendengar nada kasar pada suara Itachi. Dia bisa menangkap dengan jelas jika Itachi sangat marah karena Mei menyeretnya masuk ke dalam ruangan itu. Andai saja ruangan itu cukup terang, mereka pasti bisa melihat warna muka Itachi yang memerah karena marah.
"Aku merindukanmu," sahut Mei tanpa malu. Dengan gerakan menggoda dia menempelkan tubuhnya pada tubuh Itachi. Wanita itu menangkup wajah Itachi, berusaha untuk mencuri sebuah ciuman dari pria yang dicintainya.
Di depan pintu, Naruto menyempitkan mata untuk membiasakan diri melihat ke dalam kegelapan. Ia pun melotot dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ini gila! Teriaknya di dalam hati. Itachi memiliki hubungan gelap dengan ibu tirinya sendiri? Kenapa yang ditakutkannya malah terjadi? Keluarga macam apa ini?! Teriak Naruto di dalam hati, frustasi.
"Lepaskan aku, Brengsek!" seru Itachi kasar dan dengan kasar pula dia mendorong tubuh Mei hingga terdorong ke belakang hingga punggung wanita itu menubruk meja di belakangnya. "Sudah berapa kali aku katakan agar kau bisa menjaga sikap!" desis Itachi lagi dengan nada mengancam. "Sudah berapa kali aku peringatkan agar kau menjaga jarak dariku!"
"Kau tahu jika aku masih sangat mencintaimu," Mei menjawab lirih dengan mata berkaca-kaca. Kedua tangannya saling bertaut, berkeringat karena gugup. "Dan aku pun tahu dengan jelas jika kau pun masih mencintaiku."
"Aku tekankan sekali lagi padamu, Ny. Uchiha," desis Itachi. "Rasa benciku begitu besar hingga melenyapkan perasaan cinta yang aku miliki padamu. Semuanya sudah berakhir sejak kau berdiri di depan altar bersama ayahku. Kau- ibu tiriku. Bagian mana yang tidak kau mengerti?"
"Kau tahu alasan kenapa aku menikahi ayahmu!" jerit Mei terlihat terluka. "Keluargaku memerlukan biaya yang sangat besar untuk pengobatan ibuku. Aku berhutang budi pada ayahmu. Dan saat ayahmu meminangku, kau pikir keluargaku bisa menolaknya?" tangis Mei meledak setelahnya. "Kenapa kau tidak bisa mengerti penderitaanku selama ini?" wanita itu memukul-mukul dadanya sendiri, sakit hati.
"Hubungan kita sudah berakhir, Mei!" putus Itachi tegas. "Lupakan apa yang pernah terjadi diantara kita. Antara kau dan aku, hanya ada ikatan ibu dan anak sekarang. Tidak lebih."
"Tapi aku mencintamu!" raung Mei dengan air mata berderai. "Kenapa kita tidak bisa mempertahankan hubungan kita? Kita bisa merahasiakannya dari dunia, dari semua orang." Mei meratap pilu.
"Aku tidak mungkin mengkhianati ayahku," balas Itachi menatap jijik Mei yang menatapnya dengan pandangan memohon. "Aku sudah menekankannya berulang kali, dan jangan menatapku seperti itu, Mei. Kau hanya akan membuatku bertambah jijik!"
Naruto menutup pintu itu tanpa suara dan bergegas pergi dari tempatnya setelah mendengar suara langkah kaki Itachi yang semakin dekat ke arah pintu. Wanita itu sangat beruntung karena hamparan karpet tebal meredam suara sepatu hak tingginya hingga dia bebas berlari sepanjang lorong.
Setelah merasa aman, dia melambatkan langkahnya, ia mengulum senyum manis saat beberapa tamu menyapanya dengan sikap hangat berlebihan. Ah, ruangan ini terasa semakin panas dan penat untuknya. Dia harus menghirup udara segar untuk menenangkan diri.
Dalam perjalanannya menuju teras belakang rumah ia terus berpikir. Naruto menghela napas panjang. Di dalam keluarga Uchiha bukan hanya Sasuke yang menderita, tapi juga Itachi, Mei bahkan mungkin Fugaku sendiri. Yah, siapa yang tahu hati seseorang. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana cara Itachi menjalani hari-harinya selama ini. Bagaimana bisa dia tinggal di bawah atap yang sama dengan mantan kekasihnya? Bagaimana cara dia menghadapi kemesraan ayah dan ibu tirinya? Itachi pun pasti sangat menderita, bukan?
Dan Mei. Naruto tidak bisa membayangkan sebesar apa pengorbanan wanita itu demi keluarganya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mei saat menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Bagaimana wanita itu bertahan saat dia bertemu dengan Itachi setiap hari. Oh, Tuhan... batinnya sedih.
.
.
.
.
"Kau darimana?" suara Sasuke terdengar berat di telinga Naruto. Pria itu melangkah cepat menuju ke arah Naruto yang hanya berdiri tegak di tempatnya.
"Sasuke sangat panik saat mengetahui kau tidak ada," seru Itachi dengan nada jail. Sasuke melirik lewat bahunya dan menatap tajam ke arah Itachi yang kini melipat tangan di depan dada dan tersenyum penuh kemenangan. "Sasuke seperti anak kehilangan induknya," ujar Itachi lagi membuat Sasuke mendesis marah.
Naruto tersenyum dan memeluk pinggang Sasuke dengan mesra. "Aku keluar untuk mencari udara segar," jawabnya cepat.
"Hei. Apa kalian tidak risih berpelukan seperti itu di depanku?" Itachi cemberut sebagai tanda protes. "Mungkin aku harus kembali mencari seorang wanita untuk dijadikan pacar," tambahnya dengan ekspresi serius.
"Kau bisa mendapatkannya di aula," sahut Naruto ringan. "Kuperhatikan banyak sekali wanita-wanita muda yang dengan sukarela memperlihatkan belahan dada dan menempelkannya padamu."
Ekspresi wajah Itachi langsung berubah saat mendengarnya. Memikirkannya saja sudah membuatnya mual. Dia lebih memilih mengencani model atau artis cantik daripada anak dari kolega ayahnya. Terlalu berbahaya, pikirnya. Sekali saja ayahnya tahu jika dia mengencani putri koleganya, maka lonceng pernikahan pasti akan bergema dengan dasyat. "Aku meminta Sasuke untuk menginap disini malam ini," katanya mengalihkan pembicaraan.
Naruto melirik ke arah Sasuke, "benarkah?"
"Hn."
"Dia menolaknya," timpal Itachi dengan raut kecewa. "Malam sudah sangat larut, apa kalian tetap akan memaksakan diri untuk pulang?"
"Kenapa kita tidak menginap saja?" tanya Naruto lagi pada Sasuke.
"Kita tidak membawa pakaian ganti," jawab Sasuke terdengar masuk akal. "Lagipula bukankah aku sudah bilang sejak awal jika kita tidak akan menginap!"
"Tapi aku sangat lelah dan ingin tidur," jawab Naruto yang kini pura-pura menguap lebar. Dia mengerjapkan mata dan memasang ekpresi lelah.
"Aku akan memesan kamar di hotel terdekat agar kau bisa istirahat," seru Sasuke.
"Untuk apa memesan kamar di hotel jika kalian bisa menggunakan kamar manapun di rumah ini," Itachi berkata dengan nada keras, jelas tersinggung oleh ucapan adiknya. "Setidaknya hargai aku, Sasuke. Aku akan meminta pelayan menyiapkan kamar untuk kalian berdua dan untuk supir pribadimu. Kalian akan menginap di sini. Titik!" ujarnya sebelum berbalik pergi.
"Aku tidak suka menginap di sini," ujar Sasuke setelah Itachi pergi. "Aku bertahan lebih lama di sini karenamu. Karena janjiku padamu. Dan sekarang kau memintaku untuk menginap?"
"Ayolah, Sasuke. Menginap satu malam saja tidak akan membuatmu terluka, kan?" jawab Naruto manis. Sebenarnya Naruto hanya ingin kembali mendekatkan Sasuke dengan Itachi dan Fugaku. Keluarga ini sudah terlalu lama terpecah, dan Naruto hanya berharap agar keluarga ini bisa kembali bersatu.
Sasuke hanya bisa mendengus karenanya. Setengah hati dia menyetujui permintaan Naruto. Pria itu mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam saku tuksedonya untuk menghubungi Yamato, mengabarkan jika mereka bertiga akan menginap di rumah ini dan pulang pukul sepuluh, besok pagi.
Naruto tersenyum puas mendengarnya. Dia menggandeng tangan Sasuke dan kemudian keduanya berjalan beriringan masuk kembali ke dalam aula. Sebagian tamu terlihat berpamitan pulang pada Fugaku dan Mei, sementara sisanya terlihat masih betah untuk bertahan hingga pesta usai tepat pukul dua belas malam.
Sasuke membawa Naruto ke lantai dua dimana kamarnya berada saat Itachi memberitahu keduanya jika kamar mereka sudah siap. Sasuke bersikeras jika Naruto akan tidur di kamarnya malam ini, bukan di kamar tamu. "Kau tidur di kamarku, atau kita pulang ke Tokyo malam ini juga!" ancamnya saat Naruto memilih untuk tidur di ruang tamu.
Dengan berat hati akhirnya wanita itu mematuhi perintah Sasuke. Dia harus menahan rasa malu saat Itachi dengan jelas menatap mereka dengan seringai penuh arti. "Aku bisa mengerti akan kebutuhanmu, Sasuke." Ujarnya kurang ajar sebelum berbalik pergi.
"Kau membuat kakakmu berpikir yang tidak-tidak mengenai kita," kata Naruto kesal. Keduanya sudah berada di dalam kamar Sasuke saat ini. Sasuke sama sekali tidak menjawab. "Apa kau tidak merasa risih berganti pakaian di hadapanku?" tanya Naruto lagi saat Sasuke tanpa merasa risih mulai membuka jas dan kemeja yang dikenakannya.
Sasuke menatap Naruto lewat kaca cermin dan menyeringai puas. "Kau sudah melihat tubuhku dalam keadaan telanjang, dan sekarang kau bersikap malu-malu?"
"Brengsek!" maki Naruto kasar seraya melempar sebuah bantal ke arah punggung Sasuke.
"Pelayan sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu," ujar Sasuke. "Di dalam kamar mandi ada handuk, dan gantungan pakaian di dalam lemari handuk. Kau mau mandi lebih dulu atau kau mau menggunakan kamar mandi bersama-sama?" tanyanya lagi dengan nada sensual.
Naruto melotot ke arahnya, berjalan cepat dan mendesis tajam, "jangan bermimpi!" ucapnya sebelum membanting pintu kamar mandi dengan keras. Sayangnya dia lupa untuk menguncinya dari dalam.
Di dalam kamar mandi, Naruto terus menggerutu. Bisa-bisanya Sasuke menggodanya disaat seperti ini. Naruto mengambil sebuah gantungan dari laci lemari sebelum melepas gaun malam dan pakaian dalamnya, lalu mengantungnya di dalam kamar mandi.
Dia membuka keran air panas dan berdiri lama di bawah guyuran air untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Naruto menempelkan keningnya pada dinding dan memejamkan mata.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" suara menggoda Sasuke membuat Naruto membuka kedua matanya dan secara otomatis kedua tangannya disilangkan di depan dadanya untuk melindungi diri. "Kenapa kau masuk ke sini?" raungnya marah saat Sasuke menatapnya dengan kurang ajar.
Naruto meraba-raba, mencoba meraih handuk namun Sasuke bergerak cepat dan tertawa senang saat Naruto mendelik dan melotot ke arahnya. "Aku sudah pernah melihatnya, kenapa kau harus malu?" ujarnya begitu santai. "Kukira kau pingsan, jadi aku masuk ke dalam tanpa permisi," tambahnya beralasan. Naruto menyipitkan mata, jelas tidak percaya akan alasan yang diutarakan oleh Sasuke.
Sasuke berjalan pelan ke arah Naruto. Mematikan keran lalu membungkus tubuh wanita itu dengan handuk besar berwarna putih di tangannya. Dihiraukannya tatapan tajam Naruto, dengan seringai kecil dia menggendong Naruto keluar dari dalam kamar mandi dan mulai mengeringkan tubuh wanita itu dengan perlahan. "Aku hanya membantu mengeringkan tubuhmu," ujarnya dengan kilat jail di matanya.
Naruto mendengus dan menjawab ketus. "Aku bisa melakukannya sendiri."
"Aku tahu," jawab Sasuke tanpa menghentikan pekerjaannya. Setelah selesai mengeringkan tubuh Naruto, Sasuke membantu wanita itu untuk memakai pakaian tidur selutut yang sudah disiapkan oleh pelayan. Sasuke tahu betul pakaian siapa yang dikenakan Naruto saat ini. Pakaian malam sederhana berwarna putih itu milik mendiang ibunya.
"Pakaian ini sangat pas di tubuhku. Pakaian siapa ini?" tanya Naruto seraya menyentuh pakaian berbahan sutra yang terasa dingin di kulitnya itu.
"Milik ibuku," jawab Sasuke mempertahankan nada suara normalnya. Pria itu mengambil sikat rambut, lalu membalikkan tubuh Naruto untuk menyikat rambut kekasihnya hingga tergerai indah di bawah bahunya.
"Kau tidak keberatan aku memakainya?" tanya Naruto dengan nada aneh. Dia menunduk dalam menekuri lantai kayu berwarna gelap di bawahnya.
"Kau terlihat cantik saat memakainya," puji Sasuke. "Kenapa aku harus keberatan?"
"Sasuke?"
"Sudah selesai," potong Sasuke cepat. Dia kembali membalikkan tubuh Naruto hingga keduanya berdiri berhadapan. "Tidurlah. Bukankah kau sangat lelah? Aku akan menyusul setelah selesai mandi." Sasuke pun mendorong halus tubuh Naruto keluar dari kamar mandi dan tanpa mengatakan apapun dia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Naruto sudah bergelung di dalam selimut saat Sasuke selesai mandi dan berganti pakaian. Pria itu tersenyum bahagia melihat wajah kekasihnya yang tertidur pulas. Sepertinya Naruto memang sangat lelah malam ini. Dengan hati-hati dia naik ke atas tempat tidur, takut jika Naruto terbangun karenanya.
Sasuke mengamati wajah kekasihnya yang terlelap. Bulu mata wanita itu terlihat lentik. Ingin sekali dia menelusuri wajah Naruto dengan jemarinya, namun hal itu diurungkannya saat ingat jika Naruto terlihat sangat lelah tadi. "Selamat malam," bisiknya parau. "Mimpi indah," tambahnya lembut sebelum memejamkan mata.
.
.
.
Pagi datang dengan cepat. Naruto terbangun seorang diri pagi ini. Dia mengambil telepon genggamnya, keningnya mengernyit dalam saat jam di layar telepon genggamnya menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Sasuke pasti sudah terbangun lama, pikirnya sambil menendang selimut yang dikenakannya.
Naruto terkesiap kaget saat mendapati dua orang pelayan wanita berusia paruh baya berdiri tegak di kaki tempat tidurnya. "Selamat pagi, Nona," sapa keduanya kompak dengan senyum ramah. "Kami berdua ditugaskan untuk melayani anda," kata salah seorang pelayan yang bertubuh lebih tinggi dan kurus dibandingkan pelayan yang satunya lagi.
"Melayaniku?" beo Naruto tidak percaya.
"Benar," sahut pelayan yang lain. Dia meraih selimut tebal yang teronggok di lantai karena ditendang oleh Naruto dan melipatnya di depan dada. "Kami akan menyiapkan air hangat untuk anda berendam. Mungkin anda ingin agar punggung anda digosok? Kami dapat melakukannya untuk anda."
Mulut Naruto terbuka lebar saat mendengarnya. Dia tidak tersesat di abad pertengahan, kan? Dia masih berada di rumah keluarga Uchiha, kan?
"Siapa yang memerintahkan kalian untuk melayaniku?" dia bertanya dengan nada setenang mungkin.
"Tuan Uchiha Fugaku yang memerintahkan kami," jawab kedua pelayan itu kompak. "Beliau meminta pelayan melayani kebutuhan anda saat tahu jika anda menginap tadi malam," tambah salah satu pelayan yang bertubuh tinggi.
Naruto mengernyit heran dibuatnya. Benarkah kepala keluarga ini memerintahkan pelayan untuk melayaninya? Oh, kenapa dia mencium bau tidak sedap dari perlakuan istimewa yang diberikan oleh Fugaku terhadapnya saat ini. Naruto yakin jika Fugaku tengah merencanakan sesuatu, dan itu berkaitan dengan Sasuke.
"Kalian berdua tidak perlu melayaniku, aku bisa mengerjakannya sendiri," tolak Naruto halus. Kedua pelayan itu saling bertukar pandang. "Tenang saja, Tuan Uchiha tidak akan marah karena hal ini. Bagaimana jika kalian membantuku membereskan tempat tidur saja?"
"Apa anda tidak perlu bantuan untuk menata rambut?" pelayan itu masih berusaha untuk mengubah pendirian Naruto.
Naruto menggeleng pelan dan menjawab sopan, "aku bisa mengerjakannya sendiri."
"Baiklah kalau begitu," jawab pelayan yang lebih pendek. "Ini pakaian ganti untuk anda. Sarapan sudah disiapkan di ruang makan di lantai pertama."
"Begitu?" Naruto menerima pakaian itu dengan senyuman penuh terima kasih. Wanita itu membungkuk kecil sebelum berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
.
.
.
Pagi ini aula yang dipakai sebagai ruang pesta sudah kembali berfungsi sebagai ruang tamu. Kursi-kursi berpunggung tinggi ditata apik di tengah ruangan untuk menerima tamu. Perabotan-perabotan antik dan kuno sudah diletakkan ke tempatnya semula. Naruto sangat menyukai lemari berpola rumit yang diletakkan di sudut ruangan ini. Di dalam lemari kaca itu terdapat aksesoris-aksesoris antik yang diyakininya memiliki harga yang cukup fantastis.
Dia tidak mau memikirkan berapa banyak pelayan yang dikerahkan untuk membersikan dan mengembalikan fungsi ruangan ini dalam waktu yang singkat. Naruto sangat yakin jika Fugaku memperkerjakan begitu banyak pelayan di rumah ini, namun hal yang membuat Naruto kagum adalah: keberadaan pelayan-pelayan itu tidak terdeteksi. Mereka datang hanya jika diperlukan, bukankah itu sesuatu yang menakjubkan?
Ruang makan begitu sepi saat Naruto turun untuk sarapan. Para pelayan yang melayaninya memberitahu jika Tuan dan Nyonya Uchiha masih tidur begitu juga dengan Itachi, karena pesta baru selesai melebihi dari jam yang ditetapkan. "Beberapa tamu undangan enggan untuk pulang, mereka baru pulang menjelang pukul dua dini hari," terang pelayan wanita yang tengah menuangkan air kopi ke dalam cangkir keramik untuk Naruto.
"Apa selalu seperti itu?"
"Selalu seperti itu, Nona," jawab sang pelayan dengan helaan napas lelah. "Mereka sama sekali tidak memikirkan keadaan Tuan Besar yang saat ini sudah tidak muda lagi. Mungkin anda tidak tahu, Tuan Besar sering sakit belakangan ini. Para tamu undangan itu sangat gemar berpesta." Pelayan itu menggelengkan kepala pelan saat mengatakannya.
Kalangan atas yang menyebalkan, pikir Naruto kesal. Naruto tersenyum sebagai tanda terima kasih saat pelayan wanita lain menyodorkan satu mangkuk sup ayam yang terlihat menggiurkan. Ia mengambil sendok perak dan menyuapkan satu sendok penuh sup ke dalam mulutnya. Benar-benar enak, pujinya di dalam hati. Mungkin dia harus meminta resep dari juru masak agar bisa memasak sup seperti ini untuk Sasuke.
Naruto kembali menyuapkan sup ke dalam mulutnya, lalu pikirannya kembali melayang. Rasanya sangat sepi. Duduk seorang diri di meja makan besar ini sangat tidak menyenangkan. Apa Sasuke selalu merasakan hal yang sama saat dia tingal di rumah ini? Perasaan bersalah itu menghantamnya. Sasuke pasti memiliki alasan yang sangat kuat hingga menyebabkan keengganannya untuk pulang. Pasti ada penyebab hebat yang membuatnya membenci ayahnya.
Naruto meraih serbet untuk mengelap mulutnya. "Apa diantara kalian ada yang melihat Sasuke?" tanyanya.
"Tuan Muda sepertinya ada di taman belakang," jawab pelayan wanita yang tadi menyodorkan sup pada Naruto.
"Terima kasih," ujar Naruto sebelum melangkah pergi untuk mencari keberadaan Sasuke.
.
.
.
Sangat sedikit yang berubah sejak Sasuke meninggalkan kediaman keluarga Uchiha. Namun yang paling mencolok adalah perubahan di bagian taman belakang kediaman rumah itu. Pria itu berjalan perlahan di sepanjang taman belakang menuju gazebo tua yang masih berdiri kokoh di sudut taman.
Ia menghela napas panjang saat matanya menyapu sisi lain gazebo. Tempat itu kini kosong. Sasuke sejenak memejamkan mata, kenangan-kenangan masa lalu kembali menyergapnya dengan hebat. Suara tawa mendiang ibunya terdengar sangat jelas di telinganya. Tempat yang kini kosong itu dulu merupakan sudut kesukaan ibunya. Dulu, tempat kosong itu dipenuhi oleh bunga mawar putih yang ditanam dan dirawat oleh Mikoto sendiri.
"Apa yang kau lakukan di sini? Aku mencarimu sejak tadi!" suara Naruto membuat Sasuke kembali membuka matanya. Dia berbalik dan berjalan cepat menuju wanita muda itu lalu memeluknya erat. Naruto tidak banyak bertanya, ia memberikan waktu pada kekasihnya untuk menenangkan diri.
Sasuke menyurukkan kepalanya ke leher Naruto, menghirup aroma khas kekasihnya dengan rakus. "Aku ingin pulang," ujarnya lirih.
"Tapi kau sudah pulang," kata Naruto lembut. "Ini rumahmu," tambahnya membuat Sasuke terdiam. "Apa kau sama sekali tidak memiliki kenangan indah di tempat ini? Apa kau tidak pernah bahagia saat kau berada di sini?"
Sasuke hanya menghela napas panjang menjawabnya dan melepaskan pelukannya.
Keduanya sama sekali tidak bergerak saat berdiri berhadapan. Mereka saling menatap ke dalam bola mata pasangan mereka. Menangkap isyarat dari kata yang terucap dari binar mata mereka. Diantara keduanya, Naruto-lah yang pertama kali bergerak untuk memeluk pria yang dicintainya itu. Sebuah pelukan hangat yang terasa sebagai obat untuk hati Sasuke yang terluka. "Aku mencintaimu..." Bisik Naruto lembut. Wanita itu tersenyum kecil saat telinganya mendengar suara degup jantung Sasuke yang berdebar semakin cepat dan keras. "Aku mencintaimu..." Ucapnya lagi untuk kedua kalinya.
Sasuke membalas pelukan Naruto dengan erat. Dikecupnya puncak kepala kekasihnya itu dan dia pun berkata dengan nada sedikit bergetar. "Aku pun sangat mencintaimu. Sangat..."
Untuk waktu cukup lama mereka berpelukan, sebelum akhirnya Naruto melepaskan diri untuk menatap lurus wajah kekasihnya. "Kau terkejut mendengarku mengatakannya. Iya, kan?!" ujarnya dengan suara lembut yang membius. Dia menyusuri wajah Sasuke dengan punggung jari-jari tangannya yang halus. "Jantungmu berdebar lebih cepat saat aku mengatakannya," tambah Naruto tanpa bermaksud mengejek.
Sasuke menangkap tangan Naruto, lalu dibawa ke mulutnya untuk dikecupnya mesra. Pria itu kemudian meletakkan kedua tangan Naruto di depan dadanya. "Aku hanya tidak menyangka kau akan mengatakannya," ucapnya jujur. Naruto bisa melihat binar gembira pada bola mata Sasuke saat ini. Lihatlah, bagaimana satu ucapan bisa begitu berpengaruh dalam suatu hubungan.
"Aku hanya tidak ingin menyesal," jawab Naruto membuat Sasuke menekuk wajahnya, tidak mengerti. "Aku ingin mengatakan kalimat itu sepanjang hidupku. Aku tidak ingin menyesal, Sasuke. Aku ingin mengatakan betapa aku mencintaimu selama kau masih ada dan selama aku masih bernapas."
Sasuke begitu tersentuh dan serta merta menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukannya. Hatinya terasa hangat karena untuk pertama kali setelah kematian ibunya dia merasa dicintai. Lidahnya kini mendadak kelu. Dia tidak tahu kalimat apa yang cocok sebagai ungkapan rasa bahagianya ini.
.
.
.
Kelemahan terbesar dari kebanyakan manusia adalah keseganan untuk menyatakan pada orang lain betapa mereka menyayangi orang-orang itu sewaktu mereka masih hidup.
(O.A. Battista)
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
