Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 11 : Maaf!
By : Fuyutsuki Hikari
Sasuke melangkah mantap, menaiki satu demi satu anak tangga menuju ruangan yang ditunjukkan oleh Minato. Setiap langkah yang diambil membuat jantungnya berdetak semakin cepat. Ayolah. Kenapa dia harus merasa seperti melangkah menuju tiang gantungan saat ini?
Mengambil napas panjang, ia pun mengetuk daun pintu kamar Naruto hingga beberapa kali. Sejenak ia memejamkan mata, lalu memijit tengkuknya yang tidak pegal. Tidak menyerah, ia pun kembali mengetuk pintu. Namun hanya keheninganlah yang menjawab ketukannya itu.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Sasuke akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar walau tanpa sepertujuan pemiliknya.
Tidak jauh dari tempatnya saat ini, Naruto berdiri membelakanginya, menatap keluar jendela dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
Perlahan, Sasuke menutup pintu, lalu berjalan dengan sikap tenang mengagumkan, siap menghadapi kemarahan Naruto.
"Aku tidak mau mendengar alasanmu!" kata Naruto tiba-tiba. Suara wanita itu terdengar serak, ada nada kecewa dan sedih yang membaur di dalamnya.
Sasuke menarik kembali tangan kanannya yang terulur, lalu memasukkannya ke dalam saku celana jeansnya.
"Aku tidak mau mendengar penjelasanmu. Atau penjelasan siapa pun," tambah wanita itu, dengan bahu bergetar.
Tubuh Sasuke membeku, saat Naruto berbalik, menatapnya dengan wajah basah oleh air mata. Wanita itu dengan keras kepala melap air matanya dengan punggung tangannya yang bergetar. Sebuah isakan kecil lolos dari mulutnya, membuat Sasuke semakin merasa bersalah saat kedua bola mata berwarna safir itu menatapnya dengan sorot terluka.
"Keluar dari kamarku. Aku ingin sendiri." Ujar Naruto lagi, memalingkan muka.
Sejenak ruangan itu sunyi, membuat udara di dalam ruangan itu terasa berat dan mencekik. "Jangan bersikap seperti remaja labil, Naruto!" tegur Sasuke, mengejutkan.
Kedua mata Naruto membola, dia sama sekali tidak percaya akan pendengarannya saat ini. Bagaimana bisa Sasuke menegurnya? Padahal jelas Sasuke-lah yang bersalah bukan dirinya.
"Kau boleh melampiaskan kemarahanmu kepadaku," sambung Sasuke dengan sikap tenang. "Tapi jangan membuat orangtuamu khawatir. Sikap kekanakkamu ini akan membuat keluargamu cemas. Mereka akan merasa bersalah, padahal dalam hal ini, akulah yang bersalah."
Buku-buku jari Naruto semakin memutih, dan Sasuke tahu jika wanita itu meremasnya begitu keras untuk menahan tangan itu agar tidak bergetar.
"Kekanakkan katamu?" Naruto mendengus keras, tersenyum tipis, mencemooh. "Kau menyebutku kekanakkan? Apa kau sadar siapa yang harus bertanggung jawab atas sikapku ini?" ia mendesis, menatap tajam Sasuke dengan kedua matanya yang menyempit.
Sasuke membuka mulut hendak bicara, namun Naruto dengan cepat menyelanya dengan berapi-api. "Jangan berusaha untuk membela diri. Sudah aku bilang, aku tidak mau mendengar penjelasan apapun darimu."
Desakan untuk membungkam mulut Naruto datang dengan sangat cepat. Memutuskan untuk mendinginkan kepala, Sasuke berjalan memutari tubuh wanita itu lalu berdiri di depan jendela, menatap langit yang dihiasi oleh semburat berwarna jingga.
"Sungguh mengagumkan," ejek Naruto dengan melempar kedua tangannya ke udara. "Kau benar-benar membuatku seperti remaja labil saat ini. Amarahku begitu menggebu-gebu, sementara kau menanggapinya dengan sikap yang... yang..."
"Jadi apa yang kau inginkan?" Sasuke berputar dengan mata berkilat marah. "Apa kau ingin aku meraung, membalas ucapan sinismu dengan perkataan yang lebih menyakitkan?" tambahnya, membuat Naruto mundur beberapa langkah ke belakang, merasa terintimidasi. Sasuke melepas napas lelah, lalu menyurukkan jemari tangannya yang panjang ke dalam rambutnya. "Aku tidak mau bertengkar denganmu. Banyak hal yang jauh lebih penting daripada pertengkaran konyol ini. Kita sudah menyia-nyiakan terlalu banyak waktu. Karena itu, aku ingin mengisi kebersamaan kita dengan sesuatu yang lebih bermakna."
"Tapi kau selalu mendapatkan alasan bagus untuk memulai pertengkaran," dengus Naruto dengan dagu terangkat. Emosinya yang tersulut membuat keberaniannya kembali dengan cepat. "Sekarang apa maumu?" tantangnya dengan rahang mengeras dan gigi gemertuk keras.
"Kita tunda pertengkaran kita," sahut Sasuke tenang, membuat Naruto semakin merasa dipojokkan. "Turun. Jangan membuat keluargamu cemas," tambahnya masih dengan ekpresi datar. "Kau mau turun sendiri, atau kau perlu bantuanku untuk membantumu turun?" tanyanya dengan satu alis terangkat.
"Aku tidak perlu bantuanmu," jawab Naruto ketus.
Sasuke menyeringai. "Silahkan turun dan sapa keluargamu, kalau begitu," katanya tenang. "Ah. Jangan lupa. Jangan lupa untuk tersenyum. Asal kau tahu, wajahmu sangat jelek saat menangis."
Naruto menahan napasnya. Ia menahan emosinya agar tidak meledak. Tubuhnya kaku saat Sasuke dengan seringai menyebalkannya berjalan melewatinya dan keluar dari ruangan. Naruto hanya bisa menghentakkan kaki, menjerit tertahan, memaksa dirinya untuk mematuhi perintah Sasuke untuk kali ini.
.
.
.
Naruto memperbaiki riasan wajanya sebelum turun. Wanita itu berusaha menyembunyikan jejak tangis di wajahnya yang masih terlihat sembab. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, lalu tersenyum, begitu lebar hingga mulutnya terasa kaku. Aku pasti bisa. Katanya di dalam hati. Dan dengan langkah tergesa, dia pun turun menuju dapur di lantai satu.
Kedatangannya disambut oleh pekikan senang Kushina. Wajah wanita berusia paruh baya itu terlihat bersinar saat melihat putri semata wayangnya melangkah masuk ke dalam dapur. "Maafkan kami!" Kushina menghambur untuk memeluk tubuh putrinya yang kini meringis karena ia memeluknya sangat erat. "Maaf, kami sudah membohongimu." Tambahnya dengan ekspresi bersalah.
Di belakang Kushina, Kyuubi menyenderkan tubuhnya pada meja dapur, sementara matanya menatap lurus ke arah sepupunya dengan kilatan aneh. Memang terasa sangat aneh. Kyuubi tidak tahu bagaimana cara Sasuke membujuk Naruto hingga sepupunya itu bersedia turun dan bergabung bersama mereka. Apapun yang dilakukan Sasuke, Kyuubi harus memberinya acungan jempol.
"Kau tidak akan memelukku?" ujar Naruto dengan wajah ditekuk. Kyuubi tersenyum kecil, kemudian menghambur, bergabung bersama Kushina untuk memeluk Naruto.
"Ayah juga ingin memelukmu." Timpal Minato tiba-tiba. Pria paruh baya itu ikut bergabung, memeluk Naruto yang semakin sulit bergerak karena pelukan erat keluarganya yang berlebihan.
"Aku, su-lit bernapas." Erang Naruto yang menggeliat dalam pelukan yang menyesakkan itu. "Kalian ingin membunuhku?" tanyanya terengah.
Menyadari sikap konyol mereka, Minato menjadi yang pertama melepaskan diri dari pelukan masal itu. Disusul Kyuubi, lalu Kushina yang sepertinya setengah hati untuk melepasnya.
Kushina akhirnya bisa tertawa. "Mau membantu kami untuk menyiapkan makan malam?" tanyanya dengan ekspresi penuh harap.
Naruto mengangguk, berusaha untuk terlihat antusias. "Tentu. Jadi, apa yang akan kita masak untuk makan malam?" tanyanya dengan senyum dipaksakan.
"Bagaimana caramu membujuknya?" bisik Minato pada Sasuke yang berdiri di sampingnya, sementara pandangannya tetap terarah lurus pada Naruto yang kini tertawa renyah karena gurauan Kyuubi.
"Saya hanya sedang beruntung," jawab Sasuke dengan senyum tipis.
Minato menyempitkan mata, jelas tidak percaya. Namun pikiran-pikiran itu segera dienyahkannya. "Kau bisa bermain catur?" tanyanya tiba-tiba.
"Sedikit," jawab Sasuke lagi.
"Bagaimana kalau kita bermain catur, sementara para Lady memasak untuk makan malam?" tawarnya sembari menepuk-nepuk punggung Sasuke akrab.
"Tentu," jawab Sasuke lagi. Yang untuk terakhir kali melirik ke arah Naruto yang kini terlihat semangat membantu Kushina dan Kyuubi untuk memasak makan malam.
.
.
.
Makan malam itu dimulai tepat pukul tujuh malam. Mereka duduk mengelilingi meja makan, dengan pendar cahaya lilin yang sengaja Kushina nyalakan untuk memberi nuansa romantis serta kehangatan malam ini. Minato memimpin doa. Mengucapkan terima kasih pada Tuhan untuk makanan yang terhidang di atas meja.
Di tempat duduknya, Sasuke menahan sejuta emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Kehangatan keluarga seperti ini terasa asing untuknya. Kasih sayang yang ditunjukkan anggota keluarga ini membuatnya merasa rendah diri. Dia menjadi tidak yakin, apa nantinya dia mampu menjadi ayah yang baik seperti Minato? Ataukah dia akan berakhir seperti ayahnya yang berhati besi? Sungguh, perasaan itu membuatnya ketakutan dan ingin melarikan diri detik ini juga.
"Maaf, hanya ini yang bisa kami hidangkan untuk menyambutmu." Minato tersenyum kikuk pada Sasuke. Pria itu sedikit mengetahui tentang keluarga Uchiha, dan sangat yakin jika menu yang dihidangkan keluarganya saat ini pastilah sangat sederhana bagi Sasuke.
Sasuke tersenyum. Sebuah senyum tulus yang membuat wajahnya terlihat lebih hidup dan berekspresi. "Saya menyukai hidangan yang istri Anda masak, Tuan Namikaze."
"Paman Minato!" ralat Minato cepat dengan sumpit teracung di depan wajahnya. "Bukankah kau kekasih Naruto? Kenapa kau harus memanggilku dengan begitu formal?" tanyanya dengan gelengan kepala pelan.
"Benar," sambung Kushina setelah menelan makanannya. "Jangan terlalu formal, Sasuke. Anggap kami seperti keluargamu sendiri."
"Dan jangan memanggilku Nona Uzumaki," sembur Kyuubi dengan delikan tidak suka. "Panggil aku- Kak Kyuubi. Itu terdengar lebih nyaman ditelingaku."
"Wah, sepertinya kalian sudah sangat akrab tanpa sepengetahuanku, yah?" ujar Naruto, menekan nada bicaranya agar terdengar biasa. Wanita itu tersenyum, namun jika dilihat lebih jelas, dia jelas terlihat marah saat ini. Lihat saja bagaimana caranya memegang sumpitnya dengan erat, seolah berusaha untuk mematahkannya.
Minato tersenyum hambar, kemudian menjawab pertanyaan putrinya itu dengan cepat. "Bukan salah kami jika kami langsung menyukai Sasuke. Kekasihmu ini sangat pintar mencuri perhatian."
"Benar. Benar." Sambung Kushina dengan semangat. "Ibu-ibu di lingkungan ini terlihat iri saat aku mengenalkan Sasuke sebagai calon menantuku-"
"Bu?!" potong Naruto dengan erangan sebal. "Kenapa Ibu mengatakan hal itu pada tetangga kita?" tanyanya dengan tatapan merajuk. Naruto lalu melirik ke arah Sasuke yang menatapnya dengan seringai menyebalkan. "Kami bahkan belum-"
"Sasuke serius denganmu," tegur Kyuubi dengan suara tak terbantahkan.
Naruto melotot. Tangannya mendadak gatal ingin mencekik leher sepupu tersayangnya itu. Apa yang Sasuke berikan pada keluarganya hingga keluarganya itu bersengkokol untuk mendukungnya?
"Sasuke menyempatkan diri untuk datang ke rumah kita di tengah kesibukannya," lanjut Kyuubi serius, membuat Naruto mual dan kehilangan selera makannya. "Dia memperkenalkan diri dengan sangat sopan kepada kami. Meminta maaf karena dengan lancang datang tanpa pemberitahuan dan tanpa membawamu serta. Dia meminta maaf kepada kami karena pernah menyakitimu dan meminta persetujuan kami untuk meminangmu."
"Apa?!" Naruto terkesiap. Matanya melotot menatap Sasuke yang kini bertopang dagu, menatapnya dengan ekspresi teduh.
"Ayah bahkan menghajar Sasuke karena telah berani melukai hati putri kesayangannya," lanjut Kyuubi.
"Ayah tidak mungkin melakukan itu," erang Naruto dengan tatapan menuntut pada Minato yang hanya bisa menjawabnya dengan bahu terangkat. "Tidak. Ayah tidak mungkin melakukannya."
"Ayahmu melakukannya," timpal Kushina tenang. "Dia melakukannya. Apa kau tidak lihat memar di sudut kanan mulut Sasuke?" tanya Kushina. "Walau sudah tua, ayahmu masih mampu melayangkan tinju dengan kekuatan pria muda." Lanjutnya penuh kebanggaan.
Naruto menghela napas panjang, terlalu lelah untuk berpikir dan mencerna semua informasi yang mengejutkan ini. "Aku tidak mau membahas hal ini sekarang. Bisakah kita melanjutkan makan malam?" tanyanya sembari menyuapkan sup miso buatan Kushina ke dalam mulutnya.
Keheningan kembali menyeruak di dalam ruangan itu. Mengambil inisiatif, Minato membuka mulutnya, mencari topik pembicaraan untuk mencairkan suasana tegang di dalam ruang makan itu. "Sasuke, besok kau mau menemaniku memancing lagi?" tanya Minato dengan ekspresi penuh harap. Sudah lama dia mendambakan menantu yang bisa mengerti akan hobinya. Ia sangat bersyukur karena sepertinya Sasuke memiliki hobi yang sama dengannya.
"Sasuke akan kembali ke Tokyo malam ini, Ayah." Jawab Naruto tenang, membuat Sasuke mengatupkan mulutnya rapat, menahan emosi dan bicara dengan nada yang terdengar biasa.
"Benar." Jawabnya, sama sekali tidak menyanggah ucapan Naruto. "Sayangnya malam ini saya harus kembali ke Tokyo. Mungkin lain kali saya akan kembali berkunjung lalu menemani Anda memancing."
"Kenapa kau harus kembali ke Tokyo dengan cepat?" ujar Minato terdengar tidak rela. Baru saja dia mendapat teman untuk memancing, dan mendapat lawan seimbang untuk bermain catur, kenapa kesenangannya harus berakhir sangat cepat?
"Jangan merajuk seperti anak kecil, Ayah." Tegur Naruto. "Sasuke amat sangat sibuk. Kita tidak bisa mengganggu waktu berharganya untuk hal-hal yang tidak penting." Sindirnya tajam.
Sasuke mengangkat bahu dan menjawab ringan. "Saya tidak keberatan. Dilain kesempatan, dengan senang hati saya akan menemani Anda memancing, Paman Minato. Dengan senang hati saya akan menemani Anda lagi untuk belanja ke supermarket, Bibi Kushina. Dan dengan senang hati saya akan membantumu memperbaiki Jeep, Kak Kyuubi."
Dasar penjilat, cibir Naruto di dalam hati saat melihat keluarganya menatap Sasuke dengan terpesona. Dan kenapa Kak Kyuubi yang dari lahir sudah terkenal judes itu harus ikut terpengaruh juga? Sialan! Makinya di dalam hati.
Sasuke melap sudut mulutnya dengan serbet lalu melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Sayang sekali, saya harus kembali ke hotel untuk bersiap pulang." Tukasnya dengan senyum meminta maaf.
"Apa kepulanganmu tidak bisa diundur?"
"Bu?!" erang Naruto sembari memutar kedua bola matanya.
"Sayangnya tidak bisa, Bibi Kushina." Jawab Sasuke tenang. Pria itu meletakkan serbet miliknya di atas meja, lalu mendorong kursi makannya untuk berdiri. Gerakannya disusul oleh Minato, Kushina serta Kyuubi. "Makanan yang Anda hidangkan sangat lezat, Bibi Kushina. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya menyantap hidangan selezat itu."
"Kau benar-benar pandai bicara." Kushina terkekeh pelan sembari memukul pelan punggung Sasuke yang tersenyum ramah ke arahnya. "Berkunjunglah kemari kapan pun kau mau. Tidak perlu persetujuan Naruto untuk datang." Tukasnya membuat Sasuke tersenyum puas sementara Naruto menggeliat gerah di kursinya.
"Benar," sambung Minato dengan anggukan keras. "Ini rumahku. Kau boleh datang kapan saja tanpa harus meminta ijin Naruto."
"Ayah?!"
"Apa?" balas Minato dengan mata melotot ke arah Naruto yang kini mendadak ciut. "Kau harus ekstra sabar dalam menghadapi Naruto. Maaf aku sudah memukulmu. Aku harap kau tidak sakit hati karenanya."
"Saya pantas mendapatkannya, Paman." Sasuke menundukkan kepala. Merasa malu saat menatap Minato. Rasa bersalahnya pada Naruto membuatnya kembali merasa rendah diri di hadapan keluarga Naruto. "Saya tidak keberatan jika Anda memukul saya hingga mati. Saya pantas mendapatkannya."
Drama. Cibir Naruto di dalam hati. Kenapa dia merasa menonton opera sabun saat ini? Ah, Sasuke memang sangat pantas menjadi aktor. Aktingnya benar-benar mengagumkan.
"Naruto, apalagi yang kau tunggu?" Minato bersidekap menatap putrinya yang mengerucut sebal.
"Apa?" desah Naruto.
"Antar Sasuke ke hotel, lalu antar ke bandara," ujar Minato dengan ketegasan yang membuat Naruto terbelalak lebar karenanya.
"Aku?" Naruto menunjuk dirinya sendiri. "Yah, aku baru saja pulang dan Ayah memintaku untuk mengantarnya ke hotel dan bandara? Sasuke bisa menggunakan taksi." Protesnya keras.
Kyuubi berjalan memutari meja, menepuk bahu Naruto, membantunya untuk berdiri. "Jangan banyak bicara. Pakai Jeep-ku dan antar kekasihmu itu hingga ke tujuan."
"Kak?!"
"Kau berani membantahku?" tanya Kyuubi mengeluarkan tatapan mautnya yang selalu mampu menaklukkan Naruto yang keras kepala.
Cemberut, Naruto meraih kunci mobil dari tangan Kyuubi. "Kau yakin anak kesayanganmu ini tidak akan mogok dijalan?" tanyanya ketus saat mengingat jika Jeep milik Kyuubi itu seringkali mogok.
"Sasuke membantuku memperbaikinya kemarin. Dia tidak akan mogok. Kalau mogok pun, kau tinggal mendorongnya, kan?" katanya dengan seringai jahil.
Naruto memutar kedua bola matanya. Percuma dia berdebat. Jika sudah bersengkongkol, keluarganya akan sulit untuk ditaklukkan. "Baiklah. Apa perpisahannya sudah selesai?" tanyanya ketus. "Aku harus megembalikan Tuan Sasuke dengan segera atau dia akan ketinggalan pesawat untuk pulang."
Sasuke tersenyum maklum saat Kushina mengutarakan permohonan maafnya atas ketidaksopanan Naruto. Dengan sikap berlebihan, layaknya seorang ibu yang melepas putra kesayangannya pergi, seperti itulah Kushina mengantar kepergian Sasuke, malam ini.
Naruto yang sudah menunggu di dalan Jeep milik Kyuubi hanya bisa menguap lebar, lalu memutar kedua bola matanya saat mendengar ayahnya dengan sikap ramah berlebihan kembali mengingatkan Sasuke untuk datang kapan pun dia mau.
"Sungguh keluarga yang ramah," gumam Naruto pelan.
.
.
.
"Aku saja yang mengemudi," tawar Sasuke yang kini berdiri di sisi Naruto.
"Kak Kyuubi tidak akan mengijinkanmu untuk mengendarai Jeep kesayangannya," balas Naruto ketus tanpa menatap wajah Sasuke. "Bisakah kau segera naik agar aku bisa mengantarmu dengan cepat?" kata Naruto yang semakin kehilangan kesabarannya.
"Dia memberiku ijin untuk mengemudi," sahut Sasuke tenang. Naruto menoleh ke arahnya, jelas tidak percaya, namun teriakan Kyuubi dari depan pintu rumah membenarkan pernyataan Sasuke.
"Biarkan Sasuke yang mengemudi, Naruto!" teriak Kyuubi membuat Naruto dongkol.
Tanpa banyak bicara, Naruto bergerak untuk duduk di kursi penumpang. Sasuke menoleh ke belakang, melambaikan tangannya ke keluarga Namikaze, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil, memasang sabuk pengaman milik Naruto, lalu sabuk pengaman untuknya sendiri. Sasuke tersenyum penuh arti saat jemarinya dengan terampil menyalakan mesin mobil, memanaskanya sebentar sebelum mengendarainya menuju jalan raya.
"Jadi, kau akan benar-benar pulang ke Tokyo, malam ini?" tanya Naruto setelah terdiam cukup lama. Wanita itu memalingkan wajah, masih kesal untuk menatap Sasuke langsung.
Sasuke mengangkat bahunya acuh dan menjawab datar. "Tentu saja tidak."
"Kau berani membohongi keluargaku?" desis Naruto tajam.
Sasuke menekan pedal gas, membawa kendaraan yang dikendarainya bergerak lebih cepat. "Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin mengatakan jika kau berbohong pada ayahmu. Bukankah kau yang mengatakan jika aku akan pulang ke Tokyo malam ini?" katanya tenang. Sasuke melirik sekilas ke arah Naruto, tersenyum simpul lalu kembali bicara saat Naruto hanya meliriknya dengan tatapan sinis. "Aku harus melindungi wanita yang kucintai, bukan?"
"Jangan menggunakan hal itu untuk membenarkan ucapanmu!"
Lagi-lagi Sasuke mengangkat bahunya acuh. Dengan cekatan dia membelokkan Jeep yang dikendarainya menuju gedung hotel tempatnya menginap. "Ayo turun!" ujar Sasuke setelah memarkir Jeep milik Kyuubi di tempat parkir. Nada yang digunakannya terdengar seperti sebuah perintah saat ini. "Kau perlu bantuan untuk turun dari mobil?" Sasuke bertanya sembari memiringkam kepalanya ke satu sisi. "Aku tidak keberatan jika harus menggendongmu masuk ke dalam kamar," tambahnya dengan seringai sensual. "Kemari, Sayang. Ijinkan aku untuk membantumu!" katanya dengan tangan terulur dan suara menggoda.
Naruto mendengus, lalu melepas sabuk pengamannya dengan cepat. Dia pun segera turun, lalu membanting pintu mobil dengan keras. "Tunggu apa lagi?" bentak Naruto pada Sasuke yang tersenyum penuh kemenangan di balik setir mobil. "Apa perlu aku menyeret rambutmu?" oloknya dibalik giginya yang terkatup rapat.
"Kenapa jadi kau yang tidak sabaran?" Sasuke balas mengolok. Dengan santai dia turun dari Jeep, berjalan mendekati Naruto untuk kemudian menautkan jemari tangan mereka, menuntun Naruto masuk ke dalam lobby hotel, mengabaikan sikap Naruto yang semakin tidak bersahabat.
Perjalanan keduanya menuju kamar yang disewa Sasuke terasa berlangsung seabad bagi Naruto. Wanita itu menggigit bibir bawahnya, menekuk wajah, sementara tangannya mencoba melepaskan genggaman tangan Sasuke. Namun usahanya gagal.
Lift pun berhenti di lantai lima. Sasuke mendorong pelan punggung Naruto untuk keluar dari dalam lift. Lalu membimbingnya menuju kamar yang disewanya. Dengan santai Sasuke membuka pintu kamarnya, yang bernomor 502. Lampu serta Ac kamar itu secara otomatis menyala saat pintu kamar terbuka. Ia lalu mempersilahkan Naruto untuk masuk terlebih dahulu, sementara dia mengekorinya dari belakang dengan senyum penuh arti.
"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni sikap konyolmu ini," desis Naruto saat Sasuke memeluknya dari belakang lalu menciumi leher jenjang Naruto dengan mesra. Pria itu menopangkan dagunya di bahu kanan Naruto, matanya terpejam, menghirup aroma khas kekasihnya. "Berhenti main-main, Sasuke. Aku harus segera pulang!" Naruto menyentak tangan Sasuke yang melingkar diperutnya. Dengan napas memburu dia menatap Sasuke yang kini berdiri dengan sikap menantang.
"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Sasuke, keluar dari topik yang tengah mereka bahas. "Karena aku sangat merindukanmu," tambahnya sembari berjalan semakin dekat ke arah Naruto.
"Berhenti disitu!" bentak Naruto, marah. "Aku tidak suka caramu mempengaruhi keluargaku. Kau membuat mereka berkomplot untuk membelamu. Kau bahkan berani meminangku tanpa meminta persetujuanku? Kau pikir kau siapa?" raung Naruto dalam satu tarikan napas.
Naruto menutup mulutnya rapat saat melihat ekspresi terluka yang sejenak mampir di kedua bola mata milik Sasuke. Namun secepat kedatangannya, ekspresi itu pun menghilang dengan cepat. Naruto menggelengkan kepala, mengatakan pada dirinya sendiri jika apa yang dilihatnya tadi hanya halusinasinya saja.
Sasuke melepas jaket kulit yang dikenakannya, melemparnya asal ke salah satu sofa yang ada di dekatnya. Pria itu lalu membuka kaos yang dikenakannya, dengan santai dia duduk di sisi tempat tidur untuk membuka sepatu dan kaos kakinya. "Aku tidak mau keluargamu mengetahui hubungan kita dari majalah gosip," tukasnya membuat Naruto mengernyit bingung. Sasuke kembali berdiri, berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil handuk. "Uangku tidak akan bisa membungkam mulut wartawan untuk selamanya. Seorang tamu di pesta ayahku tempo hari sangat berbaik hati, mengirimkan foto kita ke salah satu majalah gosip. Menurutmu apa yang akan terjadi jika berita mengenai hubungan kita tersebar, sementara keluargamu belum tahu mengenai hal ini?" tanyanya parau.
Sasuke membuka lemari, mengeluarkan sebuah handuk serta jubah mandi berwarna putih dari dalamnya. Dengan santai dia membuka celana jeans yang dikenakannya, seolah ketelanjangannya sama sekali tidak berpengaruh terhadap Naruto
Naruto membalikkan badan, lalu kembali menatap Sasuke setelah pria itu mengenakan jubah mandi. Ia merasa sedikit terganggu karena Sasuke tidak merasa risih. Ucapan Sasuke membuatnya berpikir, namun tetap saja perbuatan pria itu tidak bisa dibenarkan.
"Awalnya aku tidak mau membebanimu dengan hal ini, karena itulah aku berinisiatif untuk menemui keluargamu dan memperkenalkan diri," lanjut Sasuke tenang. "Aku mengakui semua perbuatan burukku terhadapmu dulu," ia terkekeh kecil saat mengingat pukulan keras yang diterimanya dari Minato. "Perlu usaha keras untuk membujuk ayahmu agar mau memaafkanku. Aku beruntung karena ayahmu mau mengerti, walau dia dengan tegas memperingatkanku untuk tidak menyakitimu lagi, atau aku tidak akan pernah diijinkan untuk menemuimu."
Naruto kembali terenyuh. Sorot luka itu kembali mampir di kedua bola mata Sasuke saat mengatakannya. Apa Sasuke benar-benar terluka jika mereka berpisah.
"Aku tahu kau memerlukan waktu untuk memaafkanku," sambung Sasuke dengan senyum tipis dipaksakan. "Sekarang pulanglah, ini sudah malam. Hati-hati di jalan. Katakan pada keluargamu jika aku sudah pulang." Setelah mengatakannya, ia kemudian berjalan, masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu di belakangnya pelan, meninggalkan Naruto yang mendadak merasa lemas hingga butuh usaha keras untuk dia menyeret paksa kakinya agar bisa keluar dari ruangan itu.
.
.
.
Hari pun berganti dengan cepat setelahnya. Naruto memutuskan untuk tetap tinggal di rumah orangtuanya hingga waktu cutinya habis. Selama berada di sana, Sasuke terus mengirimnya pesan. Isinya sederhana: Pria itu menanyakan kabarnya hari ini. Menanyakan apa Naruto sudah makan? Menanyakan kabar ayah dan ibu Naruto. Menanyakan kapan Naruto akan kembali ke Tokyo? Dan hal-hal kecil lainnya. Namun karena masih merasa kesal, Naruto memutuskan untuk tidak membalas pesan-pesan itu, bahkan menolak panggilan telepon dari Sasuke.
"Kau masih bertengkar dengan Sasuke?" tanya Kyuubi sembari melenggang masuk ke dalam kamar Naruto. Sore ini Naruto tengah mengemasi barang-barangnya untuk bersiap pulang ke Tokyo. "Naruto, Sayang. Kau tidak akan terus merajuk karena masalah kecil ini, kan?" tambah Kyuubi lagi. Dia tersenyum lembut, setelah mendengar penuturan dari mulut Naruto, dia sangat yakin jika Sasuke melakukan hal ini untuk menjaga perasaan keluarga Namikaze. Orangtua Naruto pasti merasa sedih jika mengetahui hubungan percintaan putrinya dari majalah, bukan dari yang bersangkutan secara langsung.
"Dia selalu saja bertindak seenaknya, Kak." Sahut Naruto yang akhirnya memilih untuk mengeluarkan kekesalannya. "Dia sangat arogan, memaksa dan terkadang membuatku takut untuk menentang keinginannya." Tambahnya dengan helaan napas panjang.
"Kalau dia tidak membuatmu bahagia, lalu untuk apa kau tetap mempertahankan hubungan kalian?"
Naruto memejamkan mata, lalu menatap wajah kakaknya dengan ekspresi serius. "Karena aku mencintainya. Dia mampu membuatku melayang tinggi, merasa dicintai dan dia akan hancur jika aku meninggalkannya, Kak."
Kening Kyuubi ditekuk dalam saat mendengarnya. "Apa maksudmu?"
"Sasuke tidak sekuat yang terlihat. Dia sangat rapuh. Benar-benar rapuh," jawab Naruto dengan tatapan menerawang. "Dan lihat sekarang," ujarnya dengan nada satu oktaf lebih tinggi, untuk mengganti topik pembicaraan. "Hari ini dia tidak mengirim pesan untukku. Dia bahkan tidak menghubungiku. Aku rasa dia sedang melakukan balas dendam karena aku mengabaikan pesan-pesannya beberapa hari belakangan itu."
"Dan salah siapa itu?" Kyuubi bersidekap. Menatap Naruto melalui ujung matanya.
"Baiklah. Baiklah. Aku memang kekanakkan," seru Naruto sembari menarik kopernya keluar dari kamar. "Tenang saja. Aku pasti segera menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut."
Naruto merinding ngeri, saat memikirkan hukuman apa yang akan diberikan Sasuke untuk sikapnya kali ini. Sasuke bisa sangat mengerikan, menakutkan serta menggairahkan? Naruto menggelengkan kepalanya pelan. Mencoba menghapus kata terakhir yang muncul di otaknya mengenai Sasuke. Aku pasti sudah gila. Pikirnya sebal.
Tepat pukul delapan malam, Naruto akhirnya kembali ke Tokyo. Dia memutuskan untuk pulang ke apartemen Sasuke, malam ini. Malam ini juga pertengkaran mereka harus diakhiri, tegasnya di dalam hati. Memantapkan hati, Naruto menarik koper miliknya, lalu masuk ke dalam lift khusus untuk membawanya langsung ke apartemen yang ditinggali oleh Sasuke.
Suasana gelap menyambut kedatangannya saat ini. Naruto menyalakan lampu, lalu menyimpan kopernya di dekat sofa tamu. Naruto merogoh telepon genggamnya yang disimpan di dalam tas jinjingnya. Dengan perasaan was-was dia mencari nomor telepon genggam Yamato di kontak teleponnya. Naruto melepas napas pendek saat telepon genggam milik Yamato masih tidak bisa dihubunginya saat ini.
"Apa Sasuke masih ada di kantor?" gumamnya pelan. Dengan langkah pelan dia berjalan menuju kamar Sasuke. Dengan gerakan pelan juga dia membuka pintu kamar milik pria itu.
Naruto terkesiap kaget saat melihat kondisi kamar Sasuke yang berantakkan. Kamar itu minim cahaya, hingga sedikit menyulitkannya untuk melihat. "Sasuke?!" pekik Naruto yang tidak kalah kaget saat mendapati Sasuke terpekur di atas lantai dingin dengan pakaian berantakan dan rambut yang sama berantakannya.
"Pergi!" usir Sasuke pelan, namun dengan keras kepala Naruto melangkahkan kakinya untuk mendekati pria itu. "PERGI!" teriak Sasuke lagi dengan sorot mata dingin.
Naruto membekap mulut dengan kedua tangannya, untuk menahan isakan serta air mata yang mulai memanas di pelupuk matanya. Menyeret kakinya dengan susah payah, Naruto pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamar dan menunggu Sasuke di sana. Menunggu pria itu untuk mau membuka diri terhadapnya.
.
.
.
Menjelang tengah malam, Sasuke akhirnya mampu untuk berdiri dan berjalan susah payah untuk keluar dari dalam kamarnya. Sekarang dia sangat menyesal karena sudah membentak Naruto untuk pergi. Pria itu berdoa di dalam hati, berharap jika Naruto tetap tinggal dan tidak memiliki niat untuk mengakhiri hubungan mereka.
Sasuke mencelos saat melihat Naruto meringkuk di depan pintu kamarnya. Dengan gerakan pelan di berlutut lalu menggoyangkan bahu Naruto lembut. Wanita itu ternyata belum tidur. Naruto meringkuk di sana, dengan mata terpejam, ia menangis dalam diam. "Maaf! Maafkan aku!" Sasuke merengkuh tubuh Naruto ke dalam pelukannya. Naruto memeluk Sasuke erat. Seolah takut jika Sasuke akan mengusirnya lagi.
Dengan hati-hati Sasuke menggendong tubuh Naruto, membawanya masuk ke dalam kamarnya yang temaram lalu membaringkannya di atas tempat tidur.
Keduanya berbaring dalam diam. Saling menatap tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu Sasuke pun bergerak. Dia meletakkan kepalanya di dada Naruto. Memeluk pinggang wanita itu dengan posesif. Naruto kemudian mengulurkan tangannya, membelai lembut rambut Sasuke yang terasa halus di jemarinya.
Mereka kembali terbaring dalam keheningan yang menyiksa. Naruto tidak akan memaksa Sasuke untuk bicara. Dia memutuskan untuk memberi kekasihnya itu waktu..
"Ayahku jatuh pingsan pagi ini," ujar Sasuke, setengah berbisik. Dia semakin meringkuk. Memperpendek jarak diantara keduanya yang sudah sangat minim. Mendengarkan suara jantung Naruto memberi ketenangan tersendiri untuknya.
Naruto masih diam, mendengarkan dengan baik sementara tangannya masih membelai lembut rambut Sasuke.
"Beliau terkena serangan jatung. Kukira dia meninggal dunia." Sasuke mengatakannya dengan nada datar, namun Naruto tahu jika sangat sulit bagi kekasihnya itu untuk mengatakannya.
"Aku kira, aku akan kehilangan dia untuk selamanya." Kata Sasuke lagi. Naruto bisa menangkap getaran kecil pada suara Sasuke saat mengatakannya. "Sebenarnya, kami kehilangan dia untuk beberapa saat," lanjutnya. Sasuke memejamkan mata, tangannya memeluk Naruto semakin erat. "Aku tidak pernah menyangka jika aku bisa setakut itu saat menyadari jika bisa saja ayahku pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Aku tidak pernah menyadari jika sebenarnya aku menyayanginya. Bagaimana pun dia ayahku, bukan?"
Naruto meneteskan air mata. Merasakan kemeja yang dikenakan olehnya mulai basah oleh air mata Sasuke membuatnya semakin merasa sesak. Dia sama sekali tidak bisa mengatakan kalimat untuk menghibur Sasuke. Perasaan Sasuke saat ini pasti lebih menderita daripada perasaannya saat mendapat kabar jika ayahnya terkena serangan jantung ringan.
Sasuke mencintai keluarganya. Namun luka yang dialaminya di masa lalu membuatnya membangun benteng dan menutup diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan kehangatan keluarga.
"Tidurlah, Sasuke." Bisik Naruto lembut. Suaranya membuai, mengantarkan Sasuke ke alam mimpi dengan perasaan damai.
.
.
.
TBC
Saya jawab beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan dulu. Well, sebenarnya satu pertanyaan dan satu permintaan di bawah ini, sudah sering saya jawab juga sih. ^^
1. Jadwal update : Tidak ada
2. Update kilat : Maaf, tidak bisa
3. Pasangan Itachi : Kyuubi dong, siapa lagi? Pertemuan mereka akan dibahas dichap depan. Mohon tunggu dengan sabar yah. (:
Ok, dichap ini sudah dijelaskan alasan Sasuke datang ke rumah keluarga Naruto, yah. Kalau ada pertanyaan lain, selain pertanyaan di atas, silahkan disampaikan. Jika ada hal yang harus dikoreksi, juga silahkan disampaikan. Saya terbuka untuk masukan dan koreksi yang membangun.
Btw, selamat bergabung untuk readers baru. Salam kenal semuanya! Maaf yah, reviewnya tidak saya balas satu per satu. ^^ Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
