Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 12 : Lamaran Sasuke
By : Fuyutsuki Hikari
Sasuke sama sekali tidak menyangka jika ia akan duduk di kamar rumah sakit yang sunyi, memandang ranjang rumah sakit, tempat ayahnya terbaring lemah. Beberapa minggu yang lalu keduanya bertengkar hebat. Ayahnya masih begitu bertenaga hingga mampu melempar benda ke arahnya. Sasuke meringis, sementara tangannya memijit pangkal hidungnya. Entahlah. Jika melihat kondisi ayahnya yang seperti ini, mungkin dia lebih suka menghadapi lemparan benda-benda yang dilempar oleh Fugaku.
Dokter yang menangani ayahnya mengatakan jika ayahnya akan pulih sepenuhnya. Keadaannya akan membaik secara pelan-pelan. Namun entah kenapa jaminan dari dokter-dokter itu sama sekali tidak membuatnya tenang. Mungkin dia akan tenang setelah ayahnya mampu melempar sebuah barang ke arahnya?
Sasuke tertawa getir. Kepalanya menunduk dalam. Dulu dia sangat membenci akan sikap kasar ayahnya, tapi sekarang dia mengharapkan hal sebaliknya? Brengsek! Umpatnya di dalam hati. Sungguh dia tidak pernah mengira jika dia bisa sekacau ini karena ayahnya.
"Kau masih disini?" Itachi masuk ke dalam kamar dengan kening ditekuk. Ia tidak menyangka jika adiknya itu bersedia menjaga ayah mereka dijam sibuk seperti ini. "Bukankah kau ada rapat penting siang ini?" tanya Itachi lagi.
"Sekretarisku sudah menjadwal ulang semua rapat dan kegiatanku untuk minggu ini."
Mulut Itachi membentuk huruf 'O'. "Apa sudah ada perkembangan mengenai kesehatan Ayah?" tanyanya lagi sembari membuka jaket dan menggantungnya di punggung kursi.
"Menurut dokter, perkembangan kesehatan Ayah membaik secara perlahan."
Itachi mengangguk lalu mendudukkan diri di samping Sasuke. "Naruto tahu kau disini?"
Pertanyaan apa itu? Pikir Sasuke sinis. Tentu saja Naruto tahu dia berada di rumah sakit saat ini. "Apa dia harus tahu?" Sasuke balik bertanya dengan nada tajam yang membuat Itachi terkejut.
Itachi mengangkat bahunya dan menjawab. "Dia kekasihmu," katanya tenang. "Lalu? Apa dia tahu Ayah sakit dan dirawat disini?" tanya Itachi lagi.
Tentu saja dia tahu, batin Sasuke. Wanita itu bahkan menjaganya semalaman untuk menenangkannya. Well, Itachi tidak perlu tahu hingga sejauh itu, kan? "Hn." Ia menjawab tidak jelas.
Tadi malam, ia membuka sisi lain dirinya pada Naruto. Untuk kesekian kalinya, Naruto mengetahui sisi rapuhnya. Sasuke menghela napas berat, membuat Itachi melirik ke arahnya namun tidak mengatakan apapun.
"Ayah mungkin tidak mengakuinya, tapi perceraiannya dengan Mei sangat mempengaruhinya," ujar Itachi membuyarkan lamunan Sasuke. "Mungkin kira harus membujuk wanita itu untuk kembali pada Ayah." Usul Itachi membuat Sasuke mendengus keras kearahnya. Melihat reaksi adiknya, Itachi hanya bisa menghela napas berat. Tatapannya tertuju pada ayahnya saat dia kembali bicara. "Ayah bersikap pura-pura kuat, namun di dalam dirinya aku tahu jika dia sangat rapuh." Sejenak Itachi terdiam. "Terkadang aku berpikir jika kalian berdua memiliki sifat yang sama." Akunya dengan senyum miring. "Hei, itu benar." Tambahnya saat Sasuke memberikan delikan tajam padanya. "Darah Ayah mengalir di dalam tubuh kita berdua, mau tidak mau kita harus mengakui jika sedikit sifatnya pasti ada di dalam diri kita. Tapi aku bersyukur karena aku mewarisi lebih banyak sifat Ibu." Itachi mengatupkan mulutnya rapat. Ia membuang muka sembari berdeham saat Sasuke kembali melayangkan tatapan mematikan kearahnya. Terkadang Itachi bertanya-tanya, kemana perginya Sasuke kecil yang menggemaskan? Sasuke dewasa sama sekali tidak bisa diajak bercanda. Menyebalkan, pikirnya kecut.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain, apa yang terjadi tadi malam membuat Naruto tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Pikirannya terbagi antara Sasuke, Tuan Fugaku, hubungannya dengan Sasuke ditambah setumpuk pekerjaan yang menunggu untuk dikerjakannya.
Dari belakang mejanya, Ino yang sedari tadi mengamati sikap aneh sahabatnya itu akhirnya membuka suara. "Apa kau bertengkar dengan Sasuke?" tebaknya sok tahu.
Naruto menoleh. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" wanita itu cemberut, lalu menatap lurus Ino dengan ekspresi serius. "Memangnya terlihat seperti itu?" Ia lalu mendesah, mendongakkan kepala menatap langit-langit ruang kerjanya saat Ino mengangguk kecil sebagai jawaban pertanyaannya. "Yah, kami memang sempat bertengkar," akunya. "Tapi sekarang hubungan kami baik-baik saja," tambahnya cepat. Naruto membetulkan posisi tubuhnya, dengan punggung tegak ia duduk sementara tangannya menari kaku di atas keyboard laptopnya.
"Lalu apa yang mengganggumu?"
Jari-jari Naruto terhenti seketika. Ia melirik ke arah Ino yang menatapnya penuh rasa ingin tahu. Seolah mencari sesuatu untuk mengurangi ketegangannya, Naruto mengambil sebuah pulpen lalu mengetuk-ngetukkannya ke atas meja. Ia tidak langsung menjawab, namun akhirnya dia memilih untuk berbagi salah satu penyebab kecemasannya pada Ino. "Kemarin Ayah Sasuke terkena serangan jantung hebat, dan dilarikan ke rumah sakit."
Ino terkesiap, lalu menarik tangan Naruto untuk digenggamnya. "Aku menyesal mendengarnya." Katanya penuh simpati.
Naruto tersenyum sedih.
"Lalu bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Ino lagi. Beberapa waktu yang lalu Naruto mendapat kabar jika ayahnya terkena serangan jantung, lalu sekarang ayah Sasuke. Naruto sangat malang. Pikir Ino yang hingga saat ini belum mengetahui jika sakitnya Minato hanya sebuah rekayasa untuk memaksa Naruto pulang.
"Menurut Sasuke kondisinya sedikit demi sedikit mulai membaik," jawab Naruto terdengar sedikit lega.
Ino menepuk punggung tangan Naruto mencoba untuk memberi semangat dan memberi penghiburan. "Lalu apa yang mengganggumu? Tuan Uchiha Senior pasti kembali sembuh." Ujarnya dengan nada yakin. "Kau jangan cemas. Semua akan baik-baik saja," tambahnya menyakinkan.
"Aku berharap dan terus berdoa untuk kesembuhannya Ino," balas Naruto setengah berbisik. Ekspresinya menyendu saat teringat kondisi Sasuke tadi malam. "Sasuke, dia tergoncang hebat saat tahu ayahnya terkena serangan jantung."
"Hubungan mereka pasti sangat dekat."
Naruto memaksa mulutnya untuk tersenyum. Dia tidak bisa mengatakan rahasia tergelap keluarga Sasuke pada Ino. Tidak. Seburuk apapun keluarga kita, tentu kita tidak akan mengatakan kejelekannya pada orang lain, kan? Sasuke pun pasti berpendapat sama, pikir Naruto.
"Lalu dimana beliau dirawat?" tanya Ino lagi.
"Rumah sakit pusat Tokyo."
"Beliau dirawat di Tokyo, yah." Ino mengangguk pelan. Kedua tangannya masih menggenggam kedua tangan Naruto. "Siapa yang menjaganya sekarang? Apa istrinya?"
"Aku tidak tahu," dusta Naruto dengan nada suara senormal mungkin. Sekali lagi rasa bersalah karena sudah membohongi sahabatnya kembali berdenyut di dada wanita itu. Masalah perceraian ayah Sasuke merupakan masalah keluarga Uchiha, dia tidak mungkin mengumbarnya sembarangan. "Aku belum menghubungi Sasuke lagi, tapi Sasuke ada disana." Tambahnya tanpa bisa menatap kedua mata Ino.
"Begitu." Sahut Ino menelan begitu saja jawaban Naruto. "Kapan kau akan menjenguknya?"
"Sepulang kerja nanti," jawab Naruto pendek menyudahi percakapan panjang mereka.
.
.
.
Sisa sore itu digunakan Naruto untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Konsentrasinya yang terpecah sama sekali tidak membantunya. Beruntung Ino berbaik hati dan bersedia mengerjakan sebagian pekerjaan milik Naruto. "Aku akan mentraktirmu makan malam jika keadaan sudah kembali normal," janjinya membuat Ino mengangguk senang dan bersiul saat mengerjakan pekerjaan milik Naruto.
.
.
.
Setelah jam kerja selesai tepat pukul lima sore, Naruto segera mengambil tas tangannya, dan bergegas pulang setelah mengucapkan terima kasih pada Ino yang dengan sangat baik hati bersedia membantunya. Di meja kerjanya, Ino melambaikan tangan dan mengatakan pada Naruto agar hati-hati di jalan. Manis sekali, pikir Naruto.
Wanita itu berdiri di sebuah halte terdekat. Lima menit kemudian bus pun datang. Ia memutuskan untuk menghubungi Sasuke saat sudah berada di dalam bus. Benar dugaannya, Sasuke dengan tegas memerintahkan Naruto untuk menunggu di depan gedung kantornya hingga Yamato datang menjemputnya. Apa Sasuke berpikir dia masih anak kecil?
"Ayolah, jarak kantorku ke rumah sakit hanya beberapa blok saja, Sasuke." Kata Naruto gemas. Ia menolak dengan keras perintah Sasuke. "Lagi pula aku sudah duduk di dalam bus. Apa kau akan memerintahkan Tuan Yamato untuk mengejar bus-ku?" ujarnya dengan nada bercanda, namun yang didapatnya hanya geraman kasar Sasuke dan pembicaraan mereka pun diputus sepihak oleh Sasuke.
"Dasar pemarah!" desis Naruto pada telepon genggamnya, bersikap seolah benda itu adalah Sasuke. Ia menghela napas panjang, menatap jauh keluar jendela bus. Sasuke pasti marah besar. Tapi bukan salahnya jika ia menolak dijemput. Iya, kan?
Sepuluh menit kemudian Naruto turun di sebuah halte, lalu meneruskan perjalannya menuju rumah sakit dengan berjalan kaki. Ia berbelok menuju sebuah kedai kopi yang berada di lantai satu gedung rumah sakit.
"Tiga gelas Americano panas," pesan Naruto, mengabaikan tatapan genit dari pria yang melayani pesanannya. Pria itu berlama-lama mengelap konter untuk memandang Naruto. "Bisakah kau segera membuatkannya? Aku terburu-buru," ujar Naruto tidak sabar.
Menyadari jika usahanya untuk merayu Naruto gagal, pria muda berusia dua puluh lima tahun itu pun berdeham, lalu dengan segera ia membuatkan pesanan milik Naruto.
Hah, bagaimana bisa Naruto tertarik pada laki-laki manis yang berdiri di belakang konter jika saat ini ia sudah berhasil menawan seorang pria yang jauh lebih memikat?
Lima menit kemudian dia kembali berjalan menuju lift. Ayah Sasuke dirawat di lantai sepuluh gedung rumah sakit ini. Dengan sabar ia menunggu di depan pintu lift hingga akhirnya pintu lift itu terbuka untuknya. Naruto bergegas masuk, menekan tombol bertuliskan angka sepuluh lalu menundukkan kepala menatap barang bawaannya. Pintu lift itu hampir saja tertutup sepenuhnya saat sebuah tangan terulur dan memaksa pintu untuk kembali terbuka.
Naruto tentu saja kaget bukan kepalang. Andai saja dia tidak menunduk, dia pasti menahan pintu lift agar tetap terbuka untuk pria asing itu. "Maaf, saya tidak melihat Anda tadi," ucap Naruto merasa bersalah.
Pria muda berkacamata tebal itu tersenyum hangat dan mengatakan jika itu bukan masalah besar untuknya. Keduanya berada di dalam satu lift hingga pintu kembali terbuka di lantai sepuluh. Naruto berjalan keluar, sama sekai tidak mempermasalahkan kenapa pria asing tadi tidak menekan tombol yang akan ditujunya. Jika lantai yang dituju itu sama dengannya, lalu kenapa dia tidak turun? Pikir Naruto.
Naruto mengangkat bahunya ringan, dan memutuskan jika itu bukan urusannya.
.
.
.
Sebuah ketukan pelan di pintu membuat Itachi berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju pintu untuk membukanya. Di depan pintu, Naruto berdiri dengan senyum terkembang sembari mengangkat tinggi gelas kopi yang dibawanya. "Apa kau suka Americano?" tanyanya pada Itachi dengan senyum hangat.
"Minuman ini yang kubutuhkan," ujar Itachi sembari mengambil gelas kopi itu dari tangan Naruto. "Walau sebenarnya aku akan lebih berterima kasih jika kau membawa sebotol brendi." Itachi terkekeh kecil saat mengatakannya, membuat senyum Naruto semakin lebar karenanya.
Naruto berjalan menuju kursi Sasuke. Kekasihnya itu tersenyum tipis ke arahnya. Naruto berdiri di belakang kursi Sasuke lalu menyentuh bahu pria itu lembut untuk menenangkannya.
"Woah... kenapa ruangan ini mendadak begitu panas?" sungut Itachi saat melihat Sasuke meremas tangan Naruto yang berada di bahunya. "Mungkin aku harus mencari pacar agar aku memiliki seseorang yang bisa menghibur dan menenangkanku disaat seperti ini," tambahnya sembari mengipasi wajahnya sendiri dengan telapak tangannya. "Oh, baiklah, baiklah. Jadi kau mau aku meninggalkannu dan Naruto?" ujarnya sembari memutar kedua bola matanya saat Sasuke menatapnya tajam. "Kebetulan aku sudah lapar. Silahkan lakukan apa yang kalian mau sementara aku turun mencari makan malam dalam kesendirian," katanya lagi dengan nada sedih yang berlebihan.
"Kenapa kau menyuruh kakakmu pergi?" tanya Naruto setelah Itachi pergi, sementara Sasuke menariknya untuk duduk di sampingnya. Sasuke tidak banyak bicara, yang dilakukannya hanya meletakkan kepalanya di bahu Naruto. "Kau lelah?"
Tidak ada jawaban.
"Apa kau sudah makan?" tanya Naruto lagi, namun masih tidak ada jawaban. Naruto menangkup wajah Sasuke dengan kedua telapak tangannya, dengan nada cemas dia kembali bertanya. "Jawab pertanyaanku, jangan membuatku khawatir." Naruto menghela napas saat Sasuke membuka mata dan menatap lurus kedua bola mata safirnya. "Apa kau marah karena aku menolak untuk dijemput?"
Alih-alih menjawab, Sasuke malah mengecup ringan bibir Naruto lalu memeluknya dengan erat. Pria itu masih tidak mengatakan apapun saat ia menenggelamkan kepalanya di leher Naruto. "Sasuke, apa kau sakit?" Naruto sungguh khawatir melihat sikap Sasuke yang seperti ini. Wanita itu mencoba melepaskan pelukan Sasuke, namun Sasuke malah memeluknya semakin erat.
"Dokter mengatakan jika ayahku akan sembuh total," bisik Sasuke tanpa mengangkat wajahnya dari leher Naruto. Wanita itu bisa mendengar kelegaan dibalik suara dalam kekasihnya.
"Aku ikut senang mendengarnya."
"Ayahku akan benar-benar sembuh, Naruto."
Naruto menghela napas lega. Lalu membalas pelukan itu dengan lembut. Ia menepuk-nepuk punggung Sasuke, berharap jika apa yang dilakukannya saat ini bisa membuat Sasuke merasa lebih baik. "Tuhan mengabulkan doamu. Bukankah itu bagus?" kata Naruto masih dengan nada lembut yang menenangkan. Sasuke mengangguk pelan di lehernya. Lalu pria itu melepas pelukannya dan tersenyum hangat ke arah Naruto.
Sasuke membawa kedua tangan Naruto ke mulutnya, diciuminya buku-buku jari kekasihnya itu dengan mesra. "Sebenarnya aku masih marah karena kau menolak untuk dijemput."
Aish... mulai lagi, pikir Naruto sembari memutar kedua bola matanya. Sasuke kini menatapnya sinis, ujung mulutnya berkedut saat ia bicara. "Apa susahnya menunggu beberapa menit hingga Yamato menjemputmu? Kenapa kau baru menghubungiku ketika di bus? Kenapa kau selalu membuatku cemas."
Naruto cemberut, tidak berniat untuk menjawab.
"Aku harus menghukummu," kata Sasuke mengirim getaran panas ke seluruh tubuh Naruto. "Oh, yah, aku akan menghukummu dengan kasar, Nona Namikaze," janjinya sensual membuat Naruto salah tingkah dan gugup secara bersamaan. Sasuke mencondongkan kepala, menarik paksa tubuh Naruto untuk mendekat ke arahnya. "Malam ini kau akan menginap di tempatku, dan kupastikan kau tidak akan mendapatkan tidur nyenyak malam ini, Nona Namikaze!"
.
.
.
Sasuke benar-benar melakukan apa yang dijanjikannya pada Naruto malam tadi. Naruto tidur terlentang di atas tempat tidur milik Sasuke. Tubuh telanjangnya ditutupi oleh selimut tipis milik pria itu. Kamar milik kekasihnya kini terang oleh sinar matahari yang masuk lewat jendela-jendela kaca besar.
Naruto mengerang, menggeliat pelan dan meringis saat rasa sakit itu berdenyut di area sekitar kewanitaannya. Sasuke sialan! Makinya di dalam hati. Tubuhnya serasa remuk karena ulah kekasihnya itu. Naruto mulai menimang-nimang untuk tidak menentang keinginan pria itu di masa yang akan datang.
Susah payah ia mendudukkan diri di tepian tempat tidur. Mulutnya kembali mengumpat saat melihat jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Sasuke di sekitar payudara dan bagian dalam pahanya. Jejak keunguan itu pasti tidak akan hilang hingga beberapa hari ke depan.
"Sudah bangun, Tuan Putri?" kata Sasuke dengan senyum miring di depan pintu kamar. Sasuke berdiri dengan angkuh, matanya berbinar jail saat Naruto mendelik ke arahnya. "Apa? Kau mengundangku kembali ke tempat tidur?" godanya seksi. "Sayangnya ini sudah siang. Perutku lapar, walau aku sama sekali tidak akan keberatan jika mendapat menu yang lebih menggiurkan."
"Berhenti bermain-main, Sasuke!" desis Naruto memperingatkan.
"Kau tahu, hanya memandangimu saja sudah membuatku bergairah."
Naruto mendelik saat melihat kilatan gairah dikedua mata Sasuke.
"Ngomong-ngomong, payudaramu sekarang lebih besar, yah?"
"Sasuke?!" desis Naruto dengan aura mengancam. "Jaga mulutmu. Bagaimana bisa payudaraku membesar? Aku tidak menggunakan obat-obatan untuk membesarkan payudara!"
Sasuke tersenyum menggoda, ia mengangkat tangannya dan kembali bicara dengan napas keras dan berat. "Tadi malam tanganku tidak bisa menangkup payudaramu dengan penuh-"
"Cukup!" potong Naruto keras. Dia tidak bisa melanjutkan pembicaraan yang membahayakan ini. "Sampai kapan kau akan berdiri di sana? Pergi! Aku mau mandi dan berganti pakaian."
"Lalu apa masalahnya?" balas Sasuke datar. "Kau mau kubantu ke kamar mandi?" godanya menggiurkan. Sasuke menyandarkan punggungnya ke daun pintu, menyilangkan kaki dengan santai untuk memperlihatkan bukti gairahnya yang kembali tersulut.
"Tidak!" tolak Naruto keras. Tubuhnya masih linu. Persetan dengan Sasuke dan keseksiannya. Saat ini dia membutuhkan berendam air hangat yang lama. "Sekarang keluar, dan tolong beri aku waktu untuk mandi dan berpakaian. Jam berapa sekarang? Sial, aku terlambat kerja," pekiknya panik saat melihat jam yang tergantung di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
"Sekarang hari Sabtu," kata Sasuke mengingatkan. Pria itu tertawa keras. Tawa yang menyentuh hingga kedua bola matanya. Rasanya sangat menyenangkan bisa membuat Naruto salah tingkah dan gugup seperti ini. Merasa perbuatannya sudah melewati batas, Sasuke akhirnya berjalan keluar ruangan meninggalkan Naruto yang berteriak marah ke arahnya.
Napas Naruto memburu saat Sasuke keluar dari ruangan itu. Kesusahan dia memunguti pakaiannya yang tercecer di atas lantai. Naruto menyeret kakinya, berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh yang berbalut selimut. Dia tidak bisa berjalan telanjang ke kamar mandi, bisa saja Sasuke menunggu di balik pintu dan kembali masuk untuk menyerangnya, kan? Ia tidak bisa mengambil resiko untuk itu, oleh karenanya dia memilih untuk mengenakan jubah perang, bersiap untuk segala kemungkinan.
Di dalam kamar mandi, Naruto merendam tubuhnya lama di dalam bathub berisi air hangat. Air hangat itu sedikit membantu menghilangkan pegal di sekujur tubuhnya. Tubuh wanita itu merosot hingga air mencapai sebatas dagu. Naruto melamun, kemana Sasuke akan membawa hubungan mereka?
Apa Sasuke datang ke rumahnya untuk melamarnya kepada orangtuanya? Ia menggelengkan kepala, lalu membasuh wajahnya dengan air. Seharusnya dia membahas masalah ini tadi malam dengan Sasuke, bukan malah bercinta habis-habisan. "Bodoh!" katanya sembari memukul kepalanya sendiri. Mudah sekali dia luluh oleh rayuan Sasuke. Terkadang hal itu membuat ia sangat kesal pada dirinya sendiri.
Naruto menyelesaikan acara berendamnya dan beranjak dari dalam bathub lima belas menit kemudian. Dengan lembut dia mengeringkan seluruh tubuhnya dengan handuk milik Sasuke yang ada di kamar mandi. Selesai mengeringkan tubuh, ia membuka pintu kamar dengan perlahan. Naruto tidak langsung keluar dari dalam kamar mandi. Wanita itu menjulurkan kepalanya keluar untuk memeriksa keadaan kamar. Ia harus memastikan jika Sasuke tidak ada di dalam kamar saat ini.
Melepas napas lega ia pun membuka lebar pintu kamar mandi dan dengan cepat ia berjalan menuju sebuah pintu yang merupakan ruangan pakaian milik Sasuke. Naruto tidak tahu sejak kapan Sasuke memindahkan pakaian milik Naruto ke dalam ruangan ini, namun jujur saja, Naruto merasa lega, setidaknya dia tidak perlu keluar kamar dalam kondis setengah telanjang untuk berganti pakaian di lantai dua dimana kamarnya berada.
Naruto memilih celana pensil berwarna kuning lemon serta kaos tanpa lengan berwarna putih yang nyaman untuk dikenakannya siang ini. Ia menyikat rambut lalu mengikatnya menyerupai ekor kuda. Ia tidak repot memulaskan riasan wajah, untuk apa juga dia melakukannya. Dia tidak berniat untuk menggoda Sasuke, kan? Yah, kalau hanya memakai tipis lipstik berwarna peach tidak terlalu berlebihan menurutnya, itu akan membantu agar wajahnya tidak terlihat terlalu pucat.
Sasuke tidak mengatakan apapun saat Naruto mendudukkan diri di sampingnya. Dengan tenang ia mengunyah dan menelan telur orak-arik, serta irisan bacon miliknya. Naruto memasang muka masam, masih merasa kesal ia merebut piring serta garpu milik Sasuke.
Dengan cepat ia memasukkan menu sarapannya yang amat sangat terlambat ke dalam mulutnya, sementara Sasuke mengamatinya dengan bertopang dagu. "Kau tahu, ekspresimu saat ini membuatku kembali bergairah." Goda Sasuke dengan santainya. Ia mengangkat tangan kirinya yang bebas untuk membelai pipi Naruto yang terasa halus.
Tangan pria itu seolah menyalurkan aliran listrik yang membuat Naruto terkejut. Menekan gairahnya ia berkata ketus. "Kau benar-benar brengsek, Sasuke!" balasnya dalam kondisi mulut penuh makanan. Wanita itu tersedak, dengan keras ia memukul-mukul dadanya. Sasuke tersenyum aneh melihatnya, dengan gerakan pelan dia menyodorkan gelas berisi air putih kepada Naruto. "Aku tidak akan memaafkanmu hanya karena kau memberikanku minum," sungutnya memberengut kesal setelah selesai minum.
"Kita menikah saja."
Naruto mengerjapkan mata. Mulutnya membuka dan menutup seperti ikan yang kehabisan udara. Bagaimana bisa Sasuke mengatakannya dengan begitu santai? Kekasihnya ini memang tidak bisa bersikap romantis. "Apa katamu?"
"Kita menikah saja," ulang Sasuke masih dengan gaya santainya.
Naruto membuang muka, kembali menyibukkan mulutnya untuk menguyah dan menelan makanannya. "Aku tidak mau." Tolaknya tegas.
Sasuke mendengus, satu alisnya terangkat saat Naruto selesai mengatakannya. "Setelah semua yang terjadi diantara kita, sekarang kau berani menolak untuk menikahiku?"
Naruto cemberut, dengan kesal ia menusuk-nusuk makanan dengan garpunya. Kenapa Sasuke tidak mengerti? Bukan lamaran seperti ini yang diinginkannya.
"Apa kau lupa jika aku yang merebut kesucianmu?"
Naruto mendelik.
Sasuke memasang pose berpikir. Menggoda Naruto memang selalu menyenangkan. "Kita bahkan sudah sering bercinta," katanya tenang, membuat Naruto semakin terbakar oleh emosinya sendiri. "Apa kau yakin bisa bercinta dengan pria lain setelah kau putus denganku? Apa aku harus berlutut di hadapanmu dan memohon agar kau mau menikah denganku?"
Cukup. Teriak Naruto di dalam hati. Dia sudah tidak tahan lagi. Sasuke sudah sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia menganggap lamaran sebagai lelucon? Ini tidak lucu. Sangat tidak lucu. Naruto melempar garpu di tangannya ke atas meja, lalu bergerak dari kursinya untuk pergi. Ia baru saja berjalan beberapa langkah saat Sasuke memeluknya dari belakang.
"Aku keterlaluan, ya?" Bisik Sasuke lembut di lehernya. Tubuh Naruto mendadak kaku, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Dadanya kembang-kempis menahan marah. "Aku sudah melamarmu secara resmi pada orangtuamu." Sasuke berkata parau. Tidak ada lagi nada gurauan di dalam suara baritonenya. "Ayah dan ibumu mengatakan jila keputusannya ada padamu. Mereka tidak bisa memaksakan kehendakmu." Tambahnya dengan helaan napas pendek. "Semua tergantung pada keputusanmu. Apa kau benar-benar menolakku? Kau tidak mau menikah denganku? Aku bisa mati jika kau tidak mau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku. Kumohon, menikahlah denganku."
Naruto menggeliat, melepaskan diri dengan kasar dari pelukan Sasuke. Kedua matanya menatap sengit. Sebentar Sasuke bersikap menyebalkan, sebentar kemudian pria itu bersikap lemah lembut. Kesal. Naruto sangat kesal pada dirinya sendiri yang selalu saja luluh saat berhadapan dengan sikap lembut Sasuke. "Kau tahu, aku masih sangat kesal atas apa yang kau lakukan padaku tadi malam. Daerah kewanitaanku masih terasa linu, payudaraku sakit karena kau menggigitinya kasar, badanku terasa remuk. Dan sekarang kau melamarku dengan cara seperti ini?" Naruto menggelengkan kepala, sementara tangannya memijat tengkuknya yang mendadak pegal. "Kau bahkan tidak meminta maaf atas perlakuanmu tadi malam," cecarnya sengit.
Sasuke tersenyum pongah, berjalan dengan dagu terangkat, membuat Naruto merasa terancam oleh kemaskulinannya. Wanita itu berjalan mundur, berusaha untuk tetap menjaga jarak dari kekasihnya. "Kukira kau menyukainya," bisik Sasuke dengan desahan menggoda di telinga Naruto. Lidahnya yang lihai mulai beraksi. Dia menjilat leher serta cuping telinga Naruto dengan perlahan dan menyiksa.
Wanita itu sudah tidak bisa melarikan diri. Ia terperangkap diantara tembok dapur dan tubuh tegap kekasihnya. "Atau mungkin pendengaranku yang mulai terganggu?" kata Sasuke lagi dengan kilatan gairah dikedua bola matanya. Sasuke menundukkan kepalanya, mulutnya menggigit kecil bibir bawah Naruto yang sedikit terbuka. "Tadi malam kau mengerang dibawahku, Naruto. Tubuhmu tidak mungkin berbohong. Kau menyukai percintaan kita tadi malam, dan sekarang kau merengek, mengeluh karena kewanitaanmu linu, payudaramu sakit, badanmu terasa remuk?" tanyanya sensual.
Oh, bolehkah Naruto menampar pria di depannya ini?
"Ah, jangan katakan jika kau melakukan ini hanya untuk memancingku," lanjut Sasuke. Mulutnya tersenyum tipis, penuh janji panas yang membuat jantung Naruto berdetak semakin kencang.
Naruto tergoda untuk mengatakan jika dia memang melakukannya untuk menggoda Sasuke. Percintaan panas dan menggebu tadi malam kembali terbayang dipelupuk matanya, membuat perutnya bergelenyar aneh. Brengsek! Kenapa dia berpikiran seks disaat yang tidak tepat?
Wajah wanita itu semakin memanas saat Sasuke menatapnya dengan lapar. Tatapan pria itu seolah menelanjanginya. Naruto menggigil, merasa malu oleh responnya sendiri.
"Katakan jika kau bersedia menikah denganku," pinta Sasuke manis. Ia kembali mengendus di leher kekasihnya, menghirup rakus aroma khas milik Naruto. "Katakan Naruto!" tambahnya yang lebih terdengar seperti sebuah perintah. Di dalam hatinya, Sasuke tahu jika apa yang dilakukannya ini sangat salah. Dia sudah merencanakan sebuah lamaran romantis untuk Naruto, namun karena kondisi kesehatan ayahnya, semua rencananya itu berantakan. Jujur saja, hal itu membuatnya sedikit frustasi. "Kenapa kau tidak menjawabnya?" tanya Sasuke menuntut, bibirnya mengecupi leher Naruto dengan sensual.
Naruto mengatupkan bibirnya rapat. Matanya balas menatap Sasuke dengan sikap menantang. "Aku tidak mau menikah denganmu!" tolak Naruto lagi dengan ekspresi serius. Namun hatinya jelas berkata sebaliknya. Wanita itu hanya terlalu keras kepala untuk mengakui jika dia senang Sasuke melamarnya secara resmi.
Mendengar hal itu, Sasuke malah terkekeh aneh. Sejenak kepalanya menunduk sebelum kemudian ia kembali mendongak untuk memerangkap kedua mata Naruto. "Kalau begitu aku akan menggunakan cara lain untuk memaksamu menerimaku."
Sungguh, Naruto tidak menyukai ekspresi Sasuke saat ini. Apapun rencana pria itu, pasti akan merugikannya.
Tanpa banyak bicara lagi, Sasuke menggendong tubuh Naruto di bahu kokohnya. Dengan langkah panjang-panjang dia berjalan menuju kamarnya. Pria itu mengabaikan jeritam serta pukulan Naruto pada punggungnya. Dengan santainya Sasuke mengunci pintu kamarnya, lalu membaringkan Naruto yang marah besar di atas ranjangnya. "Kau tidak akan menolakku lagi, Sayang." Bisiknya parau sebelum memulai rencananya.
.
.
.
Keesokan sorenya, Naruto duduk santai di sofa di dalam apartemen miliknya. Ia terus tersenyum, kadang terkekeh kecil, menghela napas panjang atau mencubit pipinya sendiri saat ia menatap simbol cinta yang disematkan oleh Sasuke di jari manisnya.
Sebuah cincin berlian bertengger di jari manisnya. Sasuke telah mengikatnya. Dengan cerdik Sasuke memaksanya untuk menerima lamarannya. Naruto menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya saat rona merah mulai menjalar hingga telinganya. Sekarang dia sudah resmi menjadi tunangan Sasuke. Sesuatu yang dulu pernah disimpannya dalam tanpa berani untuk berharap lebih tinggi.
"Aku tidak bisa berjanji jika aku akan menjadi suami yang sempurna. Namun aku menjanjikan kesetiaan dan cintaku hanya untukmu. Jadi, maukah kau menikah denganku?"
Naruto menjerit kecil, saat mengingatnya. Bagaimana dia bisa menolaknya? Ditengah percintaan panas mereka, Sasuke menatapnya penuh cinta, menciumi wajahnya penuh kasih dan berbicara penuh kelembutan yang membuat hati Naruto menjadi penuh.
Lima menit yang lalu dia sudah memberitahu keluarganya mengenai kabar berita ini. Ayah dan ibunya menyambutnya dengan gembira, terlebih ibunya yang menurut Naruto bersikap lebih antusias daripada Naruto sendiri.
Naruto baru saja akan menghubungi Sasuke saat bel pintunya berbunyi. Dengan malas ia berjalan menuju pintu, sementara tangannya memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku depan celananya. "Siapa?" tanyanya melalui interkom.
"Saya mengantar barang untuk Nona Namikaze dari Tuan Uchiha." Sahut sebuah suara dari ujung sambungan.
Naruto mengernyit. Kebiasan. Gerutunya di dalam hati. Sasuke selalu saja menggunakan uang dan kekuasaannya untuk melakukan sesuatu yang tidak masuk diakal. Untuk kedua kalinya pria itu memerintahkan jasa pengiriman barang untuk mengirim paket di hari Minggu.
Ia membuka pintunya sedikit. Di depannya berdiri seorang pria yang tengah memegang kotak berukuran super besar yang menutupi bagian dada hingga wajah pengantar itu.
Naruto membuka pintunya lebar, dan memerintahkan pengantar itu untuk meletakkan kotak itu dilantai. Apa isinya? Pikir Naruto mulai penasaran.
Pengantar paket itu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Naruto. Ia lalu merogoh tas kerjanya yang dipasang menyerupai sabuk di pingganggnya. "Maaf, karena terburu-buru saya tidak membawa pulpen. Boleh saya meminjam pulpen Anda?" tanyanya sopan.
Sebelah alis Naruto terangkat mendengarnya. Namun ia tidak banyak bicara. Disuruh mengantar paket saat hari libur pasti menyebalkan, pikir wanita itu. Naruto mengangguk pelan, sejenak dia mengamati wajah pria di depannya. Pria itu mengenakan topi, yang ditarik terlalu dalam. Namun Naruto yakin jika ia pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Tapi dimana? Naruto menggelengkan kepala pelan. Pasti hanya perasaan saja, batinnya sembari menghela napas pendek.
Ia baru saja berjalan beberapa langkah saat sebuah kain basah membekap mulut dan hidungnya. Naruto menjerit tertahan, mencoba untuk melawan. Perampokan? Batinnya mulai panik. Kedua tangan wanita itu bergerak liar, kakinya menendang kesana kemari untuk membela diri.
Sebelum kegelapan menguasainya, Naruto melakukan perlawanan terakhir. Ia menjambak rambut penyerangnya dengan kekuatan yang tersisa. Samar dia bisa mendengar pria yang menyerangnya itu berteriak tertahan, dan beberapa detik kemudian tubuh Naruto didorong dengan kasar.
Naruto terpekik kecil sebelum tubuhnya menabrak tembok rumahnya. Wanita itu menggeliat kesakitan saat rasa sakit menyerangnya dengan hebat. Mulutnya ingin menjerit keras saat ia merasakan cairan hangat keluar dari daerah kewanitaannya.
Ia terbaring tak berdaya di atas lantai rumahnya. Kaki dan tangannya diikat kencang menggunakan lakban begitu pun dengan mulutnya. Saat ini dia hanya bisa pasrah. Memasrahkan keselamatannya pada Tuhan.
Si pengantar barang berjalan membelakanginya. Lalu kembali dengan kotak besar di tangannya. Naruto bahkan tidak sanggup berontak saat penyerangnya itu mengangkat tubuhnya lalu memasukkannya ke dalam kotak besar.
Naruto masih setengah sadar saat kotak itu mulai bergerak. Penyerangnya tidak berniat merampok. Penculikan? Apa penyerang itu berniat untuk menculiknya? Apa pria jahat itu memiliki kelainan jiwa, seorang pesakitan yang suka menyiksa secara perlahan dan memotong-motong tubuh korbannya? Rasa takut mencengkram dadanya semakin hebat.
Wanita itu kembali mengerang tertahan saat rasa sakit semakin hebat menyerang perutnya. Air matanya mengalir dengan deras, sementara cairan hangat terus keluar dari daerah kewanitaannya, membuat basah celana pensil hitam yang dikenakannya.
Tuhan, apakah ini rasanya sakit menjelang kematian? tanyanya di dalam hati sebelum jatuh ke dalam kegelapan total.
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^-^
#WeDoCareAboutSFN
#FuyuTebarCinta
#Merayakan3TahunMenulisDiFFN
