Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 13 : Firasat
By : Fuyutsuki Hikari
Dari balik kacamata tebalnya, pria itu mengawasi setiap gerak-gerik Naruto yang berjalan cepat di trotoar. Sudah hampir tiga jam dia menunggu tidak jauh dari gedung perkantoran Naruto, menanti dengan sabar hingga targetnya keluar dari dalam gedung, sore ini.
Ekspresi targetnya terlihat sangat serius hingga tidak menyadari keadaan di sekitarnya. Pria itu ikut naik ke dalam bus yang ditumpangi Naruto, lalu mendudukkan diri di atas sebuah kursi kosong, tidak jauh dari tempat duduk Naruto, cukup dekat untuk mencuri dengar isi pembicaraan wanita itu di telepon.
Pria itu memasang telinganya dengan baik. Buruannya mau ke rumah sakit. Ah, tentu saja, pikirnya. Calon ayah mertuanya dirawat di rumah sakit, targetnya pasti pergi ke sana untuk menunjukkan simpati.
Sebuah senyum puas terpatri di wajah pria itu, saat ini pikiran Sasuke pasti terbelah; antara perusahaan, ayah kandungnya yang tengah sakit serta tunangannya yang cantik. Ia pasti akan lebih fokus pada ayahnya, secara otomatis waktu yang dihabiskan dengan tunangannya pasti berkurang.
Pria itu tersenyum semakin lebar, membuat wanita paruh baya yang duduk di sampingnya mengernyit dan memutuskan untuk pindah tempat duduk. Ia harus memanfaatkan hal ini dengan baik. Rencananya pasti bisa terlaksana dalam waktu dekat.
Ia segera berdiri saat Naruto berjalan ke depan bus untuk turun di sebuah halte. Dengan langkah tergesa pria itu mendesak ke depan untuk turun. Targetnya sepertinya masih tidak sadar jika tengah dibuntuti saat ini. Ia semakin memperlambat langkahnya saat melihat Naruto membelokkan kakinya menuju kedai kopi di lantai satu gedung rumah sakit itu.
Pria itu berdiri bersandar ke tembok rumah sakit, kembali menunggu dengan sabar hingga targetnya keluar dari kedai kopi dan berjalan menuju sebuah lift. Pintu lift itu sudah hampir menutup andai saja ia terlambat beberapa detik. Ia menjulurkan tangan agar pintu lift kembali terbuka dan memasang ekspresi maklum saat buruannya tersentak kaget, terlihat merasa bersalah saat berkata, "Maaf, saya tidak melihat Anda tadi."
Pria muda berkacamata tebal itu tersenyum hangat dan mengatakan jika itu bukan masalah besar untuknya. Keduanya berada di dalam satu lift hingga pintu kembali terbuka di lantai sepuluh. Ia terus menatap punggung wanita itu sebelum menekan tombol lift untuk turun kembali ke lantai satu. "Jika kau bukan tunangan Uchiha Sasuke, tentu kau tidak akan mati, Nona Namikaze. Tapi tenang saja, karena aku akan membuat kematianmu tidak terlalu menyakitkan."
Saat itu Naruto tidak menyadari jika pria asing yang bertemu dengannya itu akan menjadi penyebab mimpi buruknya.
.
.
.
Dua hari kemudian.
Kushina tidak tahu mengapa perasaannya mendadak tak menentu saat ini. Tiba-tiba saja dia merasa gelisah tanpa alasan. Spatula yang digenggamnya jatuh berkali-kali, membuat Kyuubi yang duduk di atas kursi makan di dapur itu mengangkat satu alisnya- menatap Kushina.
"Ada apa, Bu?" tanya Kyuubi membuat Kushina tersentak kaget lalu menoleh ke arahnya dengan ekspresi terkejut. Satu alis Kyuubi semakin naik karenanya, wanita itu merasa aneh karena ibu angkatnya terlihat tidak fokus sepanjang sore ini. "Tidak biasanya ibu melamun saat masak," ujar Kyuubi, membuat Kushina menghela napas berat lalu mendudukkan diri di sebrang Kyuubi setelah mematikan kompor listrik.
"Perasaan ibu tidak enak, Kyuu." Kata Kushina dengan ekspresi was-was. Wanita itu meletakkan tangan kanannya tepat di dada kirinya. Jantungnya berdebar sangat cepat saat ini. Nalurinya seperti berteriak jika ada sesuatu yang salah sedang terjadi. "Coba kau hubungi Naruto," perintahnya. "Jangan-jangan terjadi hal buruk pada adikmu," tambahnya dengan ekspresi cemas. Kushina meremas apron yang masih dikenakannya. Tangannya berkeringat dingin. Dadanya terasa semakin sesak, seolah ada sebuah gumpalan besar di sana. Padahal baru beberapa jam lalu dia begitu senang mendapat kabar dari Naruto jika putrinya itu menerima lamaran Sasuke. Kenapa sekarang dia malah merasakan firasat buruk?
Kyuubi segera mengambil telepon genggamnya yang tergeletak di atas meja makan, untuk kemudian menghubungi Naruto. Mata Kushina terus tertuju ke arah putri angkatnya saat Kyuubi membawa telepon genggamnya ke telinga, menunggu dengan tidak sabar saat Naruto tidak juga menjawab setelah dering ketiga. "Ayo angkat, Naruto!" gumamnya tidak jelas. Kyuubi, menekan tombol redial, lalu kembali menunggu dengan tidak sabar. "Naruto tidak menjawab," ujarnya pada Kushina, setelah gagal menghubungi Naruto untuk yang kelima kalinya. "Jangan khawatir, Bu. Naruto pasti menyetel telepon genggamnya ke mode senyap. Dia pasti segera menghubungi kita setelah melihat beberapa panggilan tak terjawab dariku." Tambahnya, menenangkan, walau hati kecilnya berkata lain. Sesuatu yang salah sedang terjadi, namun dia harus bersikap tenang agar ibunya tidak semakin panik. Kyuubi memutuskan untuk menghubungi Sasuke tanpa sepengetahuan Kushina, berharap jika Naruto tengah bersamanya.
Sementara itu, Kushina hanya bisa melepas napas pendek. Sudah menjadi kebiasaan Naruto menyetel telepon genggamnya dalam mode senyap. Seringkali Kushina mengomelinya karena Naruto kerap kali sulit dihubungi dan berkilah jika ia tidak mendengar panggilan masuk itu. Namun kali ini berbeda. Kushina merasa ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Dia berdoa, berharap firasatnya kali ini meleset.
.
.
.
Sasuke menatap datar layar telepon genggamnya. Sudah ada tiga panggilan tak terjawab dari nomor pribadi milik Kyuubi. Ada apa? Pikirnya. Dengan kalem dia menghubungi balik calon kakak iparnya itu. Hanya dalam satu nada dering, Kyuubi bicara dari ujung sambungan telepon. "Maaf jika aku mengganggumu." Sasuke mengernyit saat mendengar nada khawatir pada suara Kyuubi. Calon kakak iparnya itu bicara setengah berbisik, membuat Sasuke merasakan sesuatu yang janggal. Apa terjadi sesuatu?
"Apa yang bisa kubantu?" tanya Sasuke ramah. Dia mengambil pesanan dua cangkir kopinya dari counter lalu berbalik pergi dengan langkah panjang-panjang menuju lift untuk naik ke lantai sepuluh dimana ayahnya dirawat. "Ah, dan tidak. Kau sama sekali tidak mengganggu." Tambahnya cepat.
Sasuke tidak mengerti, kenapa jeda itu mulai mengganggunya sekarang. Dia berharap jika Kyuubi segera mengatakan hal penting apa hingga calon kakak iparnya itu menghubunginya saat ini. "Apa sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Sasuke saat pintu lift yang dinaikinya tertutup.
"Maaf, aku harus bicara di teras rumah agar ibu tidak mendengar pembicaraan kita." Jelas Kyuubi menjelaskan secara tidak langsung atas jeda singkat tadi.
Dahi Sasuke semakin ditekuk dalam. Pasti terjadi sesuatu yang buruk. Pikirnya semakin yakin.
"Sasuke, apa Naruto bersamamu sekarang?" tanya Kyuubi. "Tolong katakan jika dia ada bersama denganmu." Tambahnya dengan nada memohon.
Jantung Sasuke seolah berhenti berdetak saat Kyuubi mengatakannya. Apa maksudnya? Kenapa Kyuubi bertanya seperti itu? "Naruto tidak bersamaku, Kak. Aku yakin dia ada di rumah." Jawab Sasuke setenang mungkin.
Kyuubi kembali diam untuk sejenak. "Sasuke, bisakah kau mencari Naruto ke apartemennya? Aku sudah menghubunginya beberapakali, tapi tidak ada jawaban. Dia juga tidak meneleponku balik. Ibuku memiliki firasat buruk, dan aku harap firasat itu tidak berhubungan dengan Naruto." Jelasnya panjang lebar dengan cicit ketakutan.
Pintu lift terbuka, Sasuke bahkan tidak menyadari keberadaan tiga orang wanita muda yang masuk ke dalam lift, mengerling genit ke arahnya, menggoda. "Permisi," ujar Sasuke saat sadar jika dia sudah sampai di lantai yang ditujunya, membuat ketiga wanita muda itu mendesah kecewa. "Mungkin Naruto tertidur," kata Sasuke, masih dengan nada tenang yang mengagumkan saat Kyuubi tak kunjung bicara. "Aku akan segera mencarinya. Kakak tidak perlu cemas, dia pasti baik-baik saja." Ujarnya di depan pintu lift yang tertutup.
"Tolong hubungi aku jika kau berhasil menemukannya. Suruh dia menghubungiku."
"Aku akan segera menghubungimu jika sudah menemukannya," janji Sasuke. "Tenanglah. Naruto pasti baik-baik saja." Tambahnya sebelum mengakhiri percakapan mereka.
.
.
.
Itachi menoleh lewat bahunya saat Sasuke membuka pintu. Sebelah alisnya terangkat saat melihat ekspresi adiknya yang menggelap. Sasuke bahkan tidak mengatakan apapun, dia meletakkan dua cangkir kopi di atas meja lalu merogoh telepon genggamnya dari dalam saku jasnya. Itachi beranjak dari tempat duduknya, mengambil secangkir kopi dari atas meja lalu mendudukkan diri di samping Sasuke. Sejenak matanya melayang ke arah ayah mereka yang tertidur pulas. Kondisinya semakin membaik, sesuatu yang sangat disyukurinya saat ini.
"Ayo angkat, Naruto!"
Itachi berkespresi datar saat mendengar gumaman tidak sabar dari mulut adiknya. Dengan pelan dia menyesap kopinya. "Ada apa?" tanyanya kemudian, matanya masih mengamati adiknya dengan intens.
Sasuke menoleh, lalu melepas napas keras. "Naruto tidak mengangkat teleponnya."
Itachi nyaris terbahak saat ini. Jika tidak salah perhitungan, baru tiga jam lalu adik kesayangannya ini bicara dengan Naruto lewat telepon, dan sekarang adiknya nyaris putus asa karena tunangan cantiknya itu tidak mengangkat telepon? Yang benar saja! "Kalian baru bicara tiga jam yang lalu," ujar Itachi, menekan nada geli dalam suaranya.
"Naruto juga tidak menjawab panggilan telepon dari ibu serta kakaknya," jelas Sasuke membuat binar geli di kedua mata Itachi lenyap dengan cepat. "Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi?" gumam Sasuke tidak jelas, tanpa mengalihkan tatapannya dari layar telepon genggamnya. Sasuke mengumpat saat usahanya untuk kesekian kali bernasib sama. Naruto masih tidak menjawab panggilannya.
Itachi menepuk bahu Sasuke, bermaksud menenangkan. "Kau sudah menghubungi telepon apartemennya?" tanyanya, membuat Sasuke memaki dirinya sendiri. Kenapa dia tidak berpikir kesana? Dengan cepat dia menekan nomor telepon apartemen Naruto, namun hasilnya masih sama. Ia mencoba untuk kedua kali, ketiga hingga sepuluh kali, dan hasilnya tetap sama. "Kenapa kau tidak meminta Yamato untuk mencari Naruto ke apartemennya?"
"Aku sudah melakukannya," jawab Sasuke. Dengan gusar dia menekan beberapa tombol di telepon genggamnya.
Kedua bola mata Itachi nyaris keluar saat menyadari apa yang tengah dilakukan oleh adiknya. "Kau memasang alat pelacak di telepon genggam Naruto?" katanya dengan nada tak percaya. Namun Sasuke bergeming, mencari keberadaan Naruto jauh lebih penting saat ini.
Sasuke mengerjapkan mata saat berhasil menemukan keberadaan telepon genggam milik tunangannya itu. "Kenapa telepon genggam Naruto berada di daerah ini?" tanyanya dengan gigi gemertuk.
Itachi menjulurkan kepala, mencuri lihat pada layar telepon genggam Sasuke. "Mungkin telepon genggam Naruto dicuri," kata Itachi.
Sasuke sama sekali tidak menjawab. Dengan cepat dia menghubungi anak buahnya. "Aku menginginkan daftar lengkap penghuni apartemen Y di perfektur X," katanya dengan ekspresi dingin. "Aku tidak peduli jika apartemen itu dihuni oleh seratus atau seribu kepala keluarga!" bentaknya tertahan. Sasuke berdiri, berjalan keluar ruangan diikuti oleh Itachi yang khawatir jika adiknya melakukan hal yang nekat. "Kirim datanya secepat mungkin padaku. Mengerti?!" tambahnya sebelum menutup pembicaraan.
.
.
.
Lelaki itu berjalan sembari bersiul senang di dalam apartemen sempit dan suram yang sudah disewanya selama hampir satu tahun terakhir. Ia berhenti sejenak, menyalakan lampu untuk menatap refleksi dirinya pada sebuah cermin besar setinggi tubuhnya. Wajahnya berseri, mulutnya menyunggingkan sebuah senyum lebar, kedua bola matanya berkilat, terlihat puas dan bangga atas kemampuan dirinya yang berhasil merebut sesuatu dari tangan seorang Uchiha Sasuke.
Sejenak ia melirik ke arah dus besar yang kini tergeletak di ruang tamunya yang sempit. Nanti malam, ia akan memastikan Uchiha Sasuke menemukan tunangan cantiknya dalam kondisi tak bernyawa. Mantan bosnya itu harus merasakan sakitnya kehilangan seseorang yang sangat dicintainya, sebagaimana ia kehilangan istri dan kedua anaknya. Dan semua itu karena ulah Uchiha Sasuke.
Rahang pria itu seketika mengeras saat ingatan-ingatan masa lalu menyerbunya, mengobarkan api dendam di dalam dadanya. Api itu terus membesar hingga membuatnya nyaris gila.
Dua tahun yang lalu dia kembali pulang ke Jepang membawa aib. Di Jepang ia tidak diterima bekerja karena catatan merah yang dimilikinya. Bosnya terdahulu; Uchiha Sasuke sepertinya memastikan jika noda itu akan terus membekas padanya, membuatnya sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan mana pun di negara ini.
Kondisi keuangan keluarganya memburuk tiap harinya. Istrinya terus mengeluh karena pria itu tidak memiliki pekerjaan tetap yang mampu membiayai kehidupan keluarga mereka secara layak. Stres pun memicunya untuk lari pada minuman keras, seolah tidak cukup, ia menjadi gemar berjudi, berharap keberuntungan memihaknya dan ia bisa kembali kaya raya secara mendadak.
Merasa tidak tahan, istrinya pun menggugat cerai, lalu membawa kedua putra mereka yang masih balita pergi tanpa jejak- satu tahun yang lalu. Alih-alih menyesali dan memperbaiki diri, pria itu malah menyalahkan orang lain untuk semua hal buruk yang terjadi padanya.
Niatnya bersambut saat ia membaca berita jika Uchiha Sasuke kembali ke Jepang, dua bulan yang lalu. Selama dua bulan ini ia mengawasi gerak-gerik Sasuke, mempelajari kebiasaannya, menyelidiki orang-orang terdekatnya untuk menghancurkannya. Sungguh, ia begitu terkejut. Amat sangat terkejut saat membaca sebuah artikel mengenai Sasuke dan Naruto di salah satu majalah gosip ternama, satu bulan yang lalu. Selama mengenal pria itu, ia sama sekali tidak menyangka jika mantan bosnya itu bisa berekspresi lembut, terlebih pada seorang wanita. Jepretan kamera itu tidak mungkin berbohong, pikirnya. Saat itulah targetnya menjadi semakin jelas; Namikaze Naruto.
Mantan bosnya itu pasti akan hancur jika melihat tunangannya mati dengan cara mengenaskan.
Pria itu kembali berjalan menuju kamarnya, lalu berjongkok untuk menarik seebuah dus berukuran sedang dari bawah ranjangnya. Di dalam kotak itu tersimpan beberapa jenis pisau, sebuah gergaji mesin portabel, serta lakban hitam. Sebuah umpatan terdengar dari mulutnya. Bagaimana bisa dia lupa membeli sebuah pisau daging? Sial! Makinya di dalam hati. Ia membawa kardus itu ke dalam kamar mandi sempit di samping kamar tidurnya. Ia menyumbat bak mandi sebelum membuka pancuran untuk mengisinya dengan air dingin.
Setelah memastikan bak mandi itu terisi hingga sepertiganya, pria itu berjalan keluar dari dalan kamar mandi menuju ruang tamu. Dia membuka kardus besar itu, ekspresi wajahnya terlihat tenang saat melihat targetnya tak sadarkan diri di dalam kardus berukuran besar itu. Tanpa kesulitan berarti dia membopong tubuh Naruto, lalu memasukkannya ke dalam bak mandi yang berisi air dingin. Dia berharap Naruto mati tenggelam saat tidak sadarkan diri. Kematian seperti itu tidak akan menyakitkan bukan? Karena wanita itu tidak akan merasakan sakit saat tidak sadarkan diri.
Pria itu mengernyit saat air di dalam bak terpolusi oleh cairan berwarna merah. Darah? Apa targetnya sedang dalam siklus bulanan? Pikirnya tak ambil pusing. Setelah memastikan kaki dan tangan Naruto terikat sempurna ia pun berbalik pergi untuk membeli pisau daging dan pita cantik untuk hiasan kado yang akan diberikannya khusus untuk mantan bosnya; Uchiha Sasuke.
.
.
.
Rasa dingin, nyeri serta mulas menikam hebat saat Naruto mulai sadarkan diri. Dimana dia sekarang? Tatapannya nanar, kepalanya berdenyut sakit, ia ingin menggerakkan badan, nyaris tenggelam, namun mengangkat kepalanya pun dia tidak mampu.
Naruto menangis dalam ketidakberdayaannya. Rasa panik menyerangnya saat melihat dimana dia sekarang. Dia terbaring di dalam bak mandi asing. Dan kenapa air di dalam bak ini berwarna aneh? Tidak sebening air pada umumnya. Naruto kembali terisak saat rasa sakit menyerang perutnya dengan hebat, disusul mulas yang tak kunjung reda.
Air matanya turun dengan deras. Tubuhnya mati rasa, ia bahkan tidak bisa merasakan ujung kakinya yang kebas. Sebuah perasaan aneh bergelayut di hatinya. Kenapa dia merasa jika ia kehilangan sesuatu yang berharga. Susah payah dia mendongakkan kepalanya, berusaha agar ia tidak tenggelam di dalam bak mandi.
Rasa takut yang lain kini menyerangnya. Dengan kesusahan dia menatap bagian kewanitaannya yang masih ditutupi oleh kain celananya, dan terendam oleh air. Dia bisa merasakan benda cair hangat terus keluar dari area kewanitaannya.
Tidak! Teriaknya di dalam hati.
Tidak mungkin jika saat ini ia tengah hamil, kan? Tidak mungkin. Selama ini siklus bulanannya memang tidak pernah stabil. Naruto sudah biasa jika siklusnya datang terlambat, kadang dua minggu bahkan hingga satu bulan. Naruto kembali menangis dalam diam, namun batinnya tertawa miris, saat ini dia pasti mengalami siklus bulanan. Rasa mulas yang dialaminya saat ini pasti akibat dari benturan yang dialaminya tadi.
Andai saja dia bisa berteriak. Pikirnya, setengah sadar. Di dalam hati dia terus memanggil Tuhan, memohon agar Penguasa atas dirinya dan seluruh alam ini menyelamatkannya. Ia tahu dengan pasti, pria pengantar itu menculiknya untuk membunuhnya. Naruto tidak tahu alasan pria itu melakukannya, ia sungguh tidak ingin tahu, karena yang diinginkannya saat ini hanya terbangun dari mimpi buruk dan saat terbangun semua masih sama seperti saat-saat sebelum mimpi buruk ini terjadi.
.
.
.
Itachi bersikeras untuk menghubungi Obito- sepupu jauh mereka yang berprofesi sebagai polisi kepala di distrik Kota Tokyo. Itachi bahkan menulikan telinganya saat Sasuke memprotes keras keputusan sepihaknya itu. Itachi tahu jika Sasuke tengah tidak bisa berpikir jernih saat ini, terlebih saat Sasuke mendapat laporan dari Yamato jika Naruto tidak ada di apartemennya.
Sasuke bahkan semakin kalut saat mendapat laporan mengenai penghuni apartemen tempat telepon genggam Naruto terdeteksi. Hagane Kotetsu- mantan anak buahnya yang dipecat secara tidak hormat karena menggelapkan uang perusahaan. Sial! Sasuke tidak pernah menyangka jika mantan pegawainya itu begitu dendam terhadapnya.
"Belum tentu dia yang melakukannya," ujar Itachi yang bisa membaca isi pikiran adiknya. Dia mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan mencengangkan, di belakangnya kendaraan milik Obito mengikuti tidak kalah cepat. "Mungkin telepon genggam Naruto dicuri, sementara Naruto-"
"Naruto ada disana," potong Sasuke cepat dari balik giginya yang terkatup rapat. "Si brengsek itu menculik Naruto untuk membalas dendam." Tambahnya cepat. "Aku pasti membunuhnya jika sesuatu yang buruk terjadi pada Naruto."
"Sikapmu itu sama sekali tidak akan memperbaiki keadaan," kata Itachi tenang. Ia menghela napas panjang saat Sasuke mengumpat karena kendaraan mereka dipaksa berhenti karena lampu merah. "Jangan memintaku untuk menerobosnya," ujar Itachi sembari memutar kedua bola matanya. "Akan merepotkan jika perjalanan kita terganggu hanya karena ketidaksabaranmu."
"Tutup mulutmu dan kendarai saja mobil sialan ini!" bentak Sasuke tidak sabar karena Itachi tak kunjung melajukan kendaraannya sesaat setelah lampu kembali berwarna hijau.
Perjalanan itu terasa seabad bagi Sasuke. Dia keluar dari dalam mobil milik Itachi dengan tergesa, lalu membanting pintu mobil itu dengan keras. Di belakangnya, Obito berlari, menyusul langkahnya untuk menghentikan Sasuke.
Obito berdiri di depan Sasuke dengan ekspresi serius, sementara dua orang anak buahnya berdiri di belakang Sasuke dengan sikap siaga. "Sasuke, aku memperingatkanmu untuk terakhir kali." Ujarnya penuh wibawa. "Jika kecurigaanmu tidak terbukti, kau bisa dituntut atas perbuatan tidak menyenangkan, serta tuntutan-tuntutan lainnya yang bisa menyulitkan-"
"Aku tidak peduli!" balas Sasuke tidak gentar. "Aku bisa merasakan jika tunanganku berada di salah satu kamar di tempat terkutuk ini. Dia dalam bahaya."
Obito menghela napas panjang. Kesungguhan Sasuke meluluhkannya. "Baiklah. Kalau begitu tunggu apalagi? Kau sudah tahu nomor apartemennya, kan?"
Sasuke mengangguk pelan, dan tanpa banyak bicara dia berlari masuk ke dalam gedung apartemen kumuh itu untuk mencari keberadaan Naruto.
.
.
.
Perasaan mual mulai menyerang Sasuke saat langkahnya membawa semakin dekat ke tempat yang ditujunya. Suasana suram apartemen kumuh ini seolah mengoloknya, mengatakan dengan sinis jika dia sudah terlambat. Sasuke tidak menunggu waktu lama. Dia mengabaikan sopan santun. Dengan keras dia menendang pintu apartemen itu hingga terbuka lebar.
Dengan napas putus-putus dia masuk ke dalam apartemen yang minim cahaya. Jatungnya bertalu saat melihat sebuah kardus berukuran besar tergeletak di tengah ruang tamu.
Di belakangnya, Obito memerintahkan kedua anak buahnya untuk memeriksa ke seluruh penjuru. Nalurinya sebagai anggota polisi mengatakan ada sesuatu tidak beres di dalam ruangan sempit ini.
Sasuke melangkah cepat menuju sebuah ruangan yang ternyata sebuah kamar. Tanpa suara dia melangkahkan kaki menuju sebuah kamar lain yang ternyata kamar mandi.
Pria itu nyaris pingsan saat menemukan apa yang dicarinya dalam kondisi mengenaskan di dalam bak mandi. Naruto nyaris tenggelam di dalam bak mandi itu. Perlahan, Sasuke membuka lakban yang menutupi mulut tunangannya yang membiru. Masih dengan hati-hati, dia membuka lakban di pergelangan tangan dan kaki Naruto.
Jantung pria itu terasa berhenti berdetak saat melihat tubuh Naruto tak bergerak. Denyut jantung tunangannya sangat lemah, begitu pun dengan napasnya.
Dengan perasaan takut dan was-was dia mengangkat tubuh Naruto ke dalam pelukannya. Sasuke tidak bisa berpikir jernih, yang ada di dalam otaknya saat ini- membawa Naruto ke rumah sakit secepatnya. Tunangannya harus segera mendapat pertolongan.
"Kau tidak boleh pergi!" bisik Sasuke lirih, penuh permohonan. "Jangan tinggalkan kami. Jangan tinggalkan aku." Tambahnya tercekat.
Itachi membeku di tempat. Otaknya sama kosongnya seperti Sasuke saat ini. Melihat wajah Naruto yang sangat pucat membuatnya ketakutan setengah mati. Naluri Sasuke ternyata benar. Lalu, bagaimana jika Naruto meninggal? Sasuke pasti menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini. Dalam hal ini dia merasa jika dirinya juga salah. Seharusnya dia mempercayai naluri Sasuke sejak awal. Jika terjadi sesuatu pada Naruto, itu menjadi kesalahannya.
"Apa yang kaulakukan Itachi?" bentak Obito tidak sabar. Sepupunya itu sudah menghubungi markas untuk menyelidiki kasus penculikan ini. Itachi mengerjapkan mata, tatapannya kembali kosong saat secara tidak sengaja dia melihat sebuah kardus lain di dalam kamar pengap ini. Tubuhnya merinding ngeri saat melihat isi kardus itu. "Itachi?!" bentak Obito lagi. "Cepat bantu Sasuke. Naruto harus dibawa ke rumah sakit secepatnya."
Tanpa banyak bicara, Itachi segera berlari keluar ruangan, meninggalkan Obito disana untuk mengerjakan pekerjaannya.
Tangannya gemetar saat dia menyalakan mesin mobilnya. Di kursi penumpang di jok belakang, Sasuke memeluk tubuh Naruto erat, seolah enggan untuk melepasnya. Itachi menggelengkan kepalanya pelan. Dia harus fokus. Yang harus dilakukannya saat ini; membawa Naruto ke rumah sakit secepatnya.
.
.
.
TBC
Hai... Saya kembali. Pembaca sudah bisa menebak jika Naruto hamil dan berharap supaya Naruto nggak keguguran. Maaf yah, tidak bisa saya kabulkan karena jika saya mengikuti keinginan pembaca, plot yang sudah saya susun akan berantakan. (:
Scene crime ini terinspirasi dari beberapa novel thriller dan suspense yang saya baca ; The Maestro, Close Enough to Kill, Don't Cry, The Philadelphia Preyer dan The Missing. Walau kadang bikin mual waktu baca, namun apa daya, novelnya terlalu bagus untuk diletakkan.
Btw, selamat bergabung untuk pembaca baru. Semoga nggak dibikin bosen sama jalan ceritanya. ^-^
Oh, iyah. Saya ada kabar gembira; karena kecerobohan saya, saya nggak sengaja menghapus folder berisi semua document fanfic milik saya. Baik yang sudah selesai maupun yang sedang saya kerjakan hilang tanpa ada backup. Karena itu, untuk yg nungguin fic ; Secret, ISILY, BHAL, UC, TBWY, LMOMT, harus ekstra sabar yah. 6 fic itu sebenarnya sudah saya kerjakan hampir setengahnya tapi sekarang terpaksa saya kerjakan dari awal lagi. Dan yang bikin tambah kesel, beberapa data documents fic2 lama saya juga ikut terhapus. Hahaha! #NangisDarah Ya, wes. Itu aja tambahan beritanya. #Nyengir #AkuRaPopo
Satu hal lagi, untuk yang suka promo2 nggak jelas, please jangan di kotak review fic2 saya. Nggak akan ada yang baca juga selain saya. Atau ini ulah beberapa oknum yang nggak suka? Atuhlah... bikin ide yang lebih WOW daripada sekedar ngespam nggak penting. :D
Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^-^
#WeDoCareAboutSFN
