Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 14 : Kepingan Hati
By : Fuyutsuki Hikari
Naruto mengernyit dalam saat mendapati dirinya kini berjalan tanpa alas kaki, menyusuri jalan setapak dengan hamparan rumput hijau sejauh mata memandang. Wanita itu mengenakan sebuah gaun berwarna putih berenda dibawah lutut yang melekat pas ditubuhnya. Rambut pirangnya terurai indah sebatas punggung. Dimana aku? Batinnya bingung.
"Ibu?!"
Suara merdu itu terdengar manis ditelinganya. Membuatnya berpaling ke semua penjuru angin untuk mencari sumber suara. Nihil. Selain hamparan padang rumput tak ada hal lain yang bisa ditemukannya di tempat ini.
"Ibu?!"
Panggilan itu kembali terdengar, membuat napas Naruto memburu dan tanpa disadarinya ia berlari kencang tak tentu arah untuk mencari sumber suara.
Apa ini? Kenapa air matanya mengalir tanpa sebab? Tanyanya di dalam hati saat air matanya turun, lalu menghilang bersama tiupan angin yang menyapu wajah cantiknya. Naruto berhenti berlari saat tiba-tiba pemandangan di depannya berubah seketika. Kini ia berada disebuah taman yang dipagari oleh pagar emas berukiran rumit. Bunga-bunga yang bermekaran ditaman ini terlalu indah untuk disebut nyata. Berwarna-warni, mengundang kumbang serta kupu-kupu untuk menghisap sarinya. Wanginya begitu harum, membuat Naruto untuk sesaat terhipnotis dan lupa akan tujuan awalnya.
Kedua matanya mengerjap saat ia mendengar suara tawa gadis kecil dari kejauhan. Seolah disadarkan, ia pun kembali berjalan, semakin cepat dan cepat hingga akhirnya ia berlari kencang untuk mencari sumber suara itu.
Naruto meremat gaunnya, dadanya bergemuruh, ada perasaan aneh saat kedua iris safir matanya menangkap sosok gadis kecil berambut pirang yang tengah berlari riang diantara hamparan bunga tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. "Kau, siapa?" pertanyaan itu meluncur dari tenggorokannya yang terasa kering. Gadis kecil berusia empat tahun itu berhenti berlari, namun wajahnya masih berekspresi riang. Rambut ikal gadis kecil itu seolah menari oleh tiupan angin, kedua iris matanya yang gelap terlihat bersinar saat menatap sosok Naruto yang berdiri mematung tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Ibu tidak mengenalku?" gadis cilik itu balik bertanya sembari memiringkan kepalanya ke satu sisi. Kaki gemuknya bergerak lincah, dengan ekspresi lucu ia berlari ke arah Naruto lalu memeluk kedua kaki Naruto dengan lembut. "Aku putrimu," tambahnya sembari mendongakkan kepala. Mulutnya tersenyum, begitu cantik, begitu murni.
Tubuh Naruto bergetar seketika. Dengan gerakan pelan ia berlutut, mensejajarkan tubuhnya dengan gadis cilik yang mengaku putrinya. "Pu-triku?" tanyanya tercekat. Ditatapnya penuh cinta sosok gadis kecil itu yang tengah asyik memainkan rambut milik Naruto. Suara tawa menyenangkan itu kembali terdengar, membuat hati Naruto mencelos. "Kau putriku?" tanyanya lagi, memastikan. Bagaimana bisa seorang malaikat kecil dihadapannya ini menjadi putrinya? "Kau tidak boleh berbohong, Sayang." Ucap Naruto dengan mulut bergetar. Ia mengecup kedua pipi tembam milik gadis itu, lalu merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukannya.
"Aku memang putrimu," jawab gadis kecil itu riang. "Tapi Ibu harus pulang," tambahnya membuat kening Naruto mengernyit dalam. "Ayah akan sedih jika Ibu terus disini," ujarnya membuat degup jantung Naruto bertalu hebat. "Aku akan menunggu Ibu dan Ayah disini. Jika sudah tiba saatnya kita akan kembali bertemu," tukasnya yang terdengar seperti sebuah janji. "Pulanglah, Bu. Aku akan mengantar Ibu untuk kembali."
.
.
.
Sasuke hanya bisa berdiri mematung di depan pintu ruang unit gawat darurat. Ia hampir saja menyerah pada desakan menerobos masuk ke dalam ruangan terkutuk itu untuk menemani Naruto. Demi Tuhan, ia berjanji akan memastikan penjahat itu membusuk di dalam penjara.
Pria itu kemudian mundur beberapa langkah ke belakang, sementara kedua bola matanya masih terpaku ke arah pintu ruang unit gawat darurat yang kini tertutup rapat. Perut pria itu terasa mulas, sementara udara seolah ditarik paksa dari paru-parunya. Untuk kali pertama dalam hidupnya ia tidak tahu harus berbuat apa. Sial. Makinya di dalam hati.
Dengan gerakan perlahan pria membalikkan tubuhnya. Ia harus duduk saat dirasanya kedua kakinya terasa lemah untuk menopang beban berat tubuhnya saat ini. Langkahnya sedikit goyah, setengah terhuyung ia menyeret kakinya menuju kursi terdekat. Sasuke mendaratkan pantatnya dengan keras ke atas kursi yang terasa dingin itu. Tubuh pria itu menggigil, bukan karena terpaan angin dari pendingin ruangan. Bukan. Ia menggigil untuk alasan lain yang ia sendiri pun belum tahu apa.
Sasuke memejamkan mata. Waktu terasa berhenti untuknya saat ini. Mengekangnya. Membuatnya nyaris menjerit karena putus asa. Semua yang terjadi pada Naruto merupakan kesalahannya. Salahnya yang tidak bisa melindungi wanita yang dicintainya itu. Salahnya karena dengan mudahnya ia mengabulkan permintaan Naruto yang memohon agar ia tidak dijaga oleh dua orang bodyguard yang membuat wanita itu merasa risih dan diawasi.
Tuhan... seharusnya aku lebih menggunakan otak daripada perasaan saat itu. Batinnya menyesal.
"Kau baik-baik saja?"
Sasuke bergeming sama sekali enggan menjawab pertanyaan Itachi yang datang dengan tergopoh-gopoh. Kepalanya masih menunduk dalam saat Itachi mendudukkan diri dikursi kosong disampingnya. Pasti berat. Pikir Itachi muram. "Naruto akan baik-baik saja." Hiburnya sembari menepuk punggung Sasuke pelan. Putra tertua keluarga Uchiha itu menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya sedari tadi-noda darah pada celana Naruto. Ia mengernyit dalam, lalu menggeleng pelan. Naruto tidak mungkin hamil, kan? Itachi memejamkan mata. Pikiran itu seolah menghantam dadanya keras. Napasnya terasa semakin berat. Dengan sedih ia melirik ke arah Sasuke yang masih tertunduk dalam. Semoga apa yang kutakutkan tidak terjadi, doanya didalam hati.
"Si keparat itu," ujar Sasuke tiba-tiba, memecah kesunyian diantara mereka. "Apa Obito sudah berhasil menangkapnya?" tambahnya dengan nada dingin penuh kebencian.
Itachi kembali menoleh kearah Sasuke, "Mereka belum berhasil menemukannya." Jawabnya penuh sesal.
Ekspresi Sasuke serta-merta berubah, amarah berlomba-lomba menyerbu pembuluh darahnya. Kedua telapak tangannya terkepal erat diatas pangkuannya. "Sebaiknya mereka segera menemukannya," gumamnya pelan, membuat Itachi menahan napas, ngeri membayangkan apa yang bisa dilakukan Sasuke pada penjahat itu.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain, Hagane sama sekali tidak percaya jika kejahatannya bisa diketahui dalam waktu singkat. Kedua bola mata pria itu berkilat marah saat melihat sebuah sedan mewah serta dua buah mobil polisi terparkir di depan gedung apartemennya yang kumuh. Giginya gemertuk. Ia kesal. Amat sangat kesal karena hadiah yang sudah dipersiapkannya untuk mantan bosnya gagal terkirim. Namun ada satu hal yang membuatnya merasa jika kerja kerasnya tidak gagal sepenuhnya-ekspresi Sasuke saat membawa wanita itu naik ke dalam mobil. Ekspresi khawatir yang secara jelas tercetak di wajahnya.
Pria itu tertawa saat bayangan ekspresi wajah mantan bosnya melintas dipikirannya. Tawa kerasnya yang mengganggu membuat beberapa pejalan kaki mengernyit aneh ke arahnya. Menyadari kebodohannya, ia menarik topinya untuk menyembunyikan sebagian wajahnya. Saat ini dia tidak boleh menarik perhatian orang lain. Hagane terus berjalan menjauhi keramaian kota. Ia harus bersembunyi. Bersembunyi dari kejaran polisi yang saat ini pasti sudah disebar untuk menangkapnya.
.
.
.
Lima belas menit dan dokter-dokter sialan itu masih belum keluar untuk memberi kabar? Brengsek. Maki Sasuke di dalam hati. Kaki kanannya bergetar, ia mulai resah, detik demi detik yang berlalu membuat kecemasannya berlipat ganda. Apa kondisi Naruto sangat parah? Sasuke menelan air liurnya dengan susah payah. Tenggorokannya tercekat, rasanya seperti menelan gumpalan karet.
Berapa lama lagi? Tanyanya di dalam hati, sementara Itachi mendongakkan kepala, menatap lurus langit-langit rumah sakit yang mendadak terasa sangat menarik. Yah, apapun asalkan pikirannya teralihkan.
"Tuan Uchiha?!" panggil seorang suster muda dengan sebuah map ditangan. Oh, baik Sasuke dan Itachi sama sekali tidak tahu sejak kapan suster berwajah tanpa ekspresi itu berdiri di sana.
"Saya," Sasuke dan Itachi menjawab serta melirik secara bersamaan. Keduanya berdiri lalu berjalan nyaris dalam satu gerakan yang sama menuju suster wanita yang kini berdiri di depan pintu ruang unit gawat darurat yang tertutup rapat.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Sasuke dengan ekspresi panik, sementara suster itu sekilas membaca catatan yang tertulis dimapnya.
"Dokter ingin berbicara empat mata dengan Tuan Uchiha Sasuke yang merupakan wali dari Nyonya Naruto." Suster itu menjelaskan. Pandangannya beralih dari Itachi, lalu ke Sasuke secara bergantian. Dari kerutan di keningnya ia terlihat bingung mana diantara kedua pria tampan di hadapannya yang bernama Uchiha Sasuke.
"Saya Sasuke," jawab Sasuke cepat.
Suster itu mengangguk pelan, sementara tangannya mendekap map di dadanya. "Silahkan ikuti saya!" ujarnya mempersilahkan dengan nada sopan dan profesional.
Di dalam ruangan yang ditujunya, seorang dokter wanita berusia paruh baya sudah menunggunya. Sasuke berusaha untuk tetap bersikap tenang, sementara kedua matanya menjelajahi setiap sudut ruangan, mencari keberadaan tunangannya, sayangnya sosok yang dicarinya tidak berada di dalam ruangan itu. "Anda memanggil saya, dokter?" tanyanya dengan nada tenang yang mengagumkan. "Dimana istri saya?" tanyanya lagi.
Dokter wanita itu menyodorkan sebuah dokumen yang diterima Sasuke dengan ekspresi ingin tahu. "Apa ini?" tanya Sasuke lagi.
"Maaf, Tuan Sasuke, dengan sangat menyesal kami tidak bisa menyelamatkan janin di dalam rahim Nyonya Naruto."
Kedua pupil Sasuke membesar. Otaknya mendadak kosong. Dunianya berguncang. Tidak. Dia pasti salah mendengar. Dokter di hadapannya tidak mungkin mengatakan jika Naruto hamil. Iya, kan? "A-apa maksud Anda?" tanyanya sedikit terbata. Untuk kali pertama jemarinya bergetar oleh kesedihan yang tiba-tiba menghantamnya dengan dasyat. Semua ini terlalu berlebihan. Tuhan tidak mungkin menghukum kenakalannya dengan cara seperti ini, kan? "Maksud Anda, istri saya tengah mengandung?" tanya Sasuke lagi dengan nada ketidakpercayaan. "Dan calon bayi kami tidak selamat?"
Dokter itu mengangguk pelan, "Kami harus mendapatkan persetujuan Anda untuk mengeluarkan janin di dalam rahim istri Anda." Terangnya tenang. "Pendarahannya sudah berhasil kami hentikan, namun akan sangat berbahaya bagi sang ibu jika janin yang sudah tidak bernyawa berada terlalu lama di dalam rahimnya."
Tanpa menunggu penjelasan lainnya, Sasuke segera membubuhkan tandatangannya di atas dokumen lalu menyerahkan map dokumen itu kepada suster yang memanggilnya tadi. "Berapa minggu?" tanyanya kemudian dengan suara bergetar saat dokter wanita itu berbalik untuk melakukan tugasnya. "Berapa minggu usia calon bayi kami?"
Dokter itu menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan menjawab dengan penuh penyesalan, "menginjak empat minggu."
.
.
.
Untuk yang ketiga kalinya Kyuubi tersandung tali sepatunya sendiri. Wanita itu mengernyit, sementara kedua tangannya diletakkan di depan dada, merasakan debaran jantungnya yang semakin cepat. "Firasat apa ini?" gumamnya cemas. Satu jam yang lalu dia berhasil mengemasi pakaiannya. Ia sudah bertekad untuk menemui Naruto malam ini juga. Sasuke yang mendadak sulit dihubungi membuatnya semakin terganggu. Kyuubi yakin, amat sangat yakin jika ada yang tidak beres.
Dari lantai dua Kyuubi bisa mendengar suara dari televisi yang diyakininya tengah ditonton oleh ayah angkatnya di lantai satu.
"Kau yakin mau pergi?" tanya Minato saat Kyuubi menuruni tangga dengan sebuah koper berukuran sedang. Pria itu mengambil remote untuk mematikan televisi yang tengah menyiarkan berita malam. "Kita bisa pergi bersama besok." Tambah Minato dengan ekspresi cemas. Walau Kyuubi sudah sangat dewasa tetap saja tidak mampu menghilangkan kekhawatirannya saat membayangkan Kyuubi berpergian seorang diri.
Kyuubi tersenyum, mencoba untuk merayu sang ayah yang terkadang sangat over protective. "Ini masih sore, Yah." Tukasnya lembut.
Minato melirik ke sebuah jam yang tergantung di dinding ruang keluarganya. "Sudah jam tujuh malam." Balasnya dengan ekspresi serius. "Kau akan tiba di Tokyo larut malam. Sebaiknya kau menunggu hingga besok pagi, dan kita pergi bersama besok siang."
"Aku sudah membeli tiket pesawat, Yah." Terang Kyuubi. "Lagipula aku tidak bisa menunggu hingga besok untuk memukul kepala Naruto," ujarnya main-main. "Dia harus diberi pelajaran karena sudah membuat kita semua cemas disini." Tambahnya serius.
"Mungkin sebaiknya aku ikut," timpal Kushina dari dapur. Ia membuka celemek bermotif rubah yang dikenakannya di atas meja makan. Malam ini ia terlihat sedikit pucat. Raut khawatir terlihat jelas di wajahnya.
Kyuubi berjalan tenang, lalu memeluk ibu angkatnya itu dengan sayang. "Lalu siapa yang akan menjaga ayah disini?" bisik Kyuubi lembut. "Salah satu dari kita harus menjauhkannya dari dapur. Ingat, Ayah bisa menghancurkan dapur jika dibiarkan memasak sendiri. Ibu mau dapur ibu hancur?"
Kushina tersenyum dipaksakan. Ia tahu jika Kyuubi mengatakan hal itu untuk menghiburnya. "Kalau begitu, berjanjilah untuk segera menghubungi kami dan katakan apa yang terjadi pada adikmu."
"Siap!" sahut Kyuubi dengan sikap berlebihan. Dengan lembut ia mengecup kedua pipi Kushina, lalu memeluk Minato erat sebelum melangkah keluar rumah, meninggalkan kedua orangtua angkatnya di belakang dengan perasaan campur aduk.
.
.
.
Kegelisahan Itachi semakin memuncak sesaat setelah Sasuke masuk ke dalam ruang unit gawat darurat itu. Ia berjalan mondar-mandir, mengabaikan tatapan beberapa suster yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Ada yang tidak beres, pikirnya yakin. Dokter tidak mungkin memanggil wali masuk apabila tidak terjadi hal serius.
Kernyitan di wajah Itachi terlihat menumpuk setiap detiknya. Kedua tangannya sudah basah oleh keringat dingin. Sial, disaat seperti ini kemana sifat tenang yang diturunkan secara turun temurun oleh keluarga Uchiha?
Langkah kakinya seketika berhenti saat ia melihat sosok adiknya keluar dari dalam ruangan itu. Itachi membeku, sementara ekor matanya mengikuti pergerakan adiknya yang terduduk lesu di atas kursi tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. "Apa yang terjadi?" tanya Itachi setelah terdiam cukup lama. Kedua bola matanya mengerjap saat mendengar suara kekehan getir dari mulut Sasuke.
Dipaksakannya kedua kakinya melangkah, mendekat ke arah Sasuke yang masih terkekeh dengan kepala menunduk dalam. Itachi tidak tahu, tapi dia melihat sosok adik yang duduk di hadapannya ini sangat menyedihkan. "Sasuke?"
Sasuke bergeming. Kekehannya menghilang seketika. Bahunya bergetar, dengan suara nyaris tak terdengar ia menjawab pahit, "Calon bayi kami meninggal, Kak."
Tubuh Itachi kembali membeku. Pasti ada yang salah dengan indra pendengarannya. Calon bayi? Calon bayi apa? Tidak mungkin Naruto tengah hamil. Ini tidak mungkin. Jika pun mungkin, calon bayi itu pasti berhasil diselamatkan. Ia akan menjadi paman. Calon keponakannya tidak mungkin meninggal. "Jangan bercanda, Sasuke!" ujarnya dengan tepukan keras pada tangan Sasuke. "Kebohonganmu terlalu berlebihan," tambahnya dengan nada berat.
"Tuhan menghukumku, Kak." Bisik Sasuke. "Dia memberiku hukuman yang amat berat, Kak. Kenapa Tuhan mengambil kembali calon bayi kami, Kak? Kenapa?" Sasuke menengadah, menatap kakaknya dengan pandangan penuh tanya. Sedih, marah, putus asa, berbaur menjadi satu. Membuat Itachi nyaris tidak mengenali sosok adik yang biasanya terlihat arogan dan sangat percaya diri itu. "Apa yang harus kukatakan pada Naruto?" bisiknya lagi, parau. "Aku menandatangani berkas sialan itu. Aku mengijinkan dokter untuk mengeluarkan calon bayi kami dari rahim Naruto. Aku pembunuh."
Itachi terdiam.
"Apa yang harus kukatakan padanya?" tanya Sasuke lagi. Air matanya mengalir, dadanya terasa teramat sesak saat ini. Sasuke tidak tahu kapan terakhir kali ia menangis? Kapan terakhir kali dia begitu putus asa seperti ini? Kapan terakhir kali ia mengingat Tuhan? Sasuke menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia terlalu pongah. Pongah akan kekayaan serta pengaruh yang dimilikinya. Namun ia lupa, jika semua itu milik Tuhan. Lihat saja sekarang, ketika Tuhan mengambil kembali calon bayinya, apa yang bisa dilakukannya? Tidak ada.
Itachi yang berlutut di depan Sasuke terlihat sama kacaunya. Dia nyaris tidak bisa berpikir. Apa yang harus dikatakannya untuk menghibur Sasuke? Pria itu menghela napas berat dan berkata parau, "Tuhan pasti memiliki rencana lain, Sasuke. Dia tidak melakukan ini untuk menghukummu. Dia hanya terlalu menyayangi bidadari kecil kalian. Kau harus kuat. Jika kau terus terpuruk seperti ini, siapa yang akan menguatkan Naruto?"
Bahu Sasuke bergetar semakin hebat mendengarnya. Air matanya kembali mengalir. Dia menangis dalam pelukan penghiburan Itachi. Sasuke tidak merasa malu untuk menangis, karena Tuhan pun memberi air mata pada setiap pria.
.
.
.
Malam semakin merangkak naik. Pesawat yang ditumpangi oleh Kyuubi akhirnya mendarat mulus pukul sebelas malam waktu Tokyo. Wanita itu bergegas, mengeluarkan koper berukuran sedangnya dari dalam kabin pesawat. Sebuah helaan napas lega meluncur mulus dari mulutnya saat ia menginjakkan kaki di atas tanah Tokyo. Kyuubi merogoh saku jaket berbahan denim yang dikenakannya untuk mengambil telepon genggam layar sentuhnya.
Tergesa ia menyalakan kembali telepon genggamnya, dengan tidak sabar ia menghubungi nomor telepon genggam Naruto. Ia kembali mendesah, risau saat telepon genggam adiknya kini dalam mode tidak aktif.
Kyuubi menggelengkan kepala pelan. Ia harus tetap tenang. Dengan cepat ia menulis sebuah email, mengirimnya pada Kushina untuk memberitahu jika ia sudah sampai di Tokyo dengan selamat. Tanpa menunggu lama balasan pun diterimanya, Kushina serta Minato memintanya untuk hati-hati dan menghubungi mereka jika sudah bertemu dengan Naruto.
Hal selanjutnya yang dilakukannya adalah menghubungi Sasuke. Kyuubi berharap jika kali ini Sasuke mengangkat teleponnya. Wanita itu hampir saja putus asa karena Sasuke pun tak kunjung menjawab teleponnya. Namun sepertinya ia masih bernasib baik, pada akhirnya ada seseorang yang menjawab dari ujung sambungan telepon itu. Kyuubi mengernyit saat mendapati jika suara yang menjawab teleponnya bukan suara milik Sasuke.
.
.
.
Itachi memijat keningnya yang berkedut sakit. Dia baru saja bernapas lega saat berhasil membuat Sasuke tertidur karena pengaruh obat tidur yang dimasukkannya ke dalam air teh milik Sasuke. Satu jam yang lalu Naruto sudah dipindahkan ke ruang inap VVIP dan dengan keras kepala Sasuke mengatakan akan menunggu tunangannya itu hingga siuman.
Karena tidak tega, akhirnya Itachi mengambil tindakan yang pasti akan disesalinya besok pagi. Yah, dia sudah bisa membayangkan jika adiknya yang temperamen itu akan melayangkan pukulan padanya. Ok. Ia akan memikirkan cara menghindarinya sepanjang malam ini. Yang terpenting saat ini adalah memastikan Sasuke tidur lelap. Demi apapun, adiknya itu butuh tidur. Sasuke terus memaksa dirinya untuk terjaga karena rasa bersalah serta kesedihan yang menggerogotinya. Itachi sudah tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya untuk menghibur Sasuke dan meyakinkan jika bukan salah Sasuke hingga calon keponakannya itu meninggal dunia.
Itachi tengah menyelimuti Sasuke yang tertidur di samping ranjang Naruto dengan jasnya saat telepon genggam Sasuke yang diletakkan di atas meja terus bergetar menandakan panggilan masuk. Kedua alisnya menyatu saat membaca nama dari pemilik nomor yang menghubungi Sasuke. "Namikaze Kyuubi?" gumamnya pelan.
Ia melirik ke arah Naruto yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Orang yang menghubungi Sasuke pasti masih kerabat Naruto mengingat marga keluarga mereka yang sama. Dengan menarik napas dalam Itachi memutuskan untuk menerima panggilan itu dan menyapa dengan suara serak, "Hallo?!"
.
.
.
Hampir satu jam lamanya Kyuubi berdiri menunggu di bandara. Seringkali dia melirik ke depan pintu kedatangan, berharap pria yang mengenalkan diri sebagai kakak dari Sasuke itu cepat menjemputnya dan membawanya pada Naruto. Kyuubi semakin gelisah saat mendengar nada risau dalam suara pria itu. Sesuatu telah terjadi, pikirnya yakin.
"Kau-Namikaze Kyuubi?"
Suara baritone seorang pria menyadarkan Kyuubi dari lamunanya. Ia melirik ke arah samping dimana seorang pria bertubuh tinggi dengan rahang tegas serta mata tajam mirip milik Sasuke menatapnya penuh penilaian. "Apa kau-Nakikaze Kyuubi?" pria itu kembali bertanya, terdengar tidak sabar yang entah kenapa membuat Kyuubi merasa jengkel.
"Ya." Jawab Kyuubi pendek. Ia menarik kopernya lalu berjalan mendekat ke arah Itachi yang memasang ekspresi datar. "Namikaze Kyuubi," ujarnya sembari mengulurkan tangan kanannya. Dengan gerakan cepat Itachi membalas uluran tangan itu dan meminta Kyuubi untuk mengikutinya masuk ke dalam mobilnya diparkir di tempat parkir bandara.
Dasar tidak peka, omel Kyuubi di dalam hati yang jengkel karena Itachi sama sekali tidak ada niat untuk membawakan kopernya. Bukankah seharusnya dia sedikit berbasa-basi dan bersikap ramah mengingat jika mereka akan menjadi keluarga jika Sasuke dan Naruto menikah nanti? Oh, ingatkan dirinya untuk menjambak rambut pria di depannya setelah urusannya dengan Naruto selesai. Batinnya tertawa jahat.
"Bisakah Anda berjalan lebih cepat?" tanya Itachi yang disambut pelototan tidak bersahabat dari Kyuubi. Ah, mungkin pria itu buta hingga tidak melihat jika Kyuubi sedikit repot menarik kopernya. Itachi mendesah, menggelengkan kepala pelan hingga akhirnya berinisiatif mengambil koper Kyuubi lalu menentengnya tanpa suara, lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
Kyuubi lagi-lagi menggigit bibir bawahnya saat Itachi sama sekali tidak berinisiatif untuk membukakannya pintu penumpang. Dan hei, kenapa juga aku harus mengharapkan pria menyebalkan itu untuk membukakan pintu? Pikirnya panik. Kyuubi menjengit, udara malam serta kecemasan pasti mempengaruhi hormonnya saat ini. Fokus, Kyuubi! Yang harus kau pikirkan saat ini hanya Naruto, tegasnya di dalam hati mengingatkan.
Itachi segera memanaskan mesin kendaraannya setelah Kyuubi masuk dan memasang sabuk pengaman. Dengan lihai ia mengendarai mobilnya, membelah kegelapan malam menuju rumah sakit.
"Jadi, kau akan membawaku kemana?" tanya Kyuubi, memecah kebisuan diantara keduanya. Dia berusaha mejaga nada suaranya tetap tenang. Dia tidak boleh emosi dan menghancurkan mobil sialan ini. Satu alis Kyuubi terangkat saat melihat rahang Itachi mengeras, pria itu bahkan menggenggam setir mobilnya semakin erat. "Kau benar kakak Sasuke, kan?" tanya Kyuubi lagi dengan mata menyipit terdengar curiga.
Itachi tersenyum tipis. "Bukankah sudah sangat terlambat untuk menanyakan hal itu?" tanyanya yang sekilas melirik ke arah Kyuubi yang menatapnya penuh ancaman. Itachi berdeham, sedikit merasa terganggu oleh aura berbahaya yang dikeluarkan oleh wanita asing yang duduk di sampingnya ini. "Aku kakak sulung Sasuke. Dan sebelum kau menghancurkan kendaraanku, sebaiknya kau mendengarkan penjelasanku hingga selesai." Ujarnya membuat Kyuubi menutup mulutnya yang sudah bersiap untuk menyela.
Dalam perjalanan itu Itachi menjelaskan garis besar kejadian yang terjadi pada Naruto. Namun ia sama sekali tidak menerangkan jika Naruto keguguran. Bukan haknya untuk menjelaskan hal itu, pikir Itachi. "Jadi sekarang aku akan membawamu ke rumah sakit," tukasnya menutup penuturan panjangnya.
Kyuubi menghela napas dalam. "Adikku baik-baik saja, kan?" tanyanya cemas.
"Sekarang dia sudah stabil, hanya saja belum sadarkan diri." Jawab Itachi seadanya.
"Dan Sasuke?"
"Dia juga di rumah sakit. Aku memberinya obat tidur agar dia bisa tidur malam ini," jawabnya sedikit meringis saat ingat akan apa yang mungkin terjadi besok.
"Kau memberinya obat tidur?" tanya Kyuubi tak percaya.
Itachi berdecak, sejenak memalingkan wajah ke arah jendela mobil di sampingnya. "Apalagi yang bisa kulakukan? Aku tidak mungkin membiarkan adikku terjaga seperti zombie."
"Ah, kau kakak yang baik rupanya." Seru Kyuubi yang entah kenapa membuat Itachi mampu melupakan akibat yang mungkin terjadi atas ide gilanya pada Sasuke.
.
.
.
Perasaan hampa dan kosong memenuhi dada Naruto saat ia terbangun pagi ini. Samar ia bisa mendengar suara jeritan tertahan seorang wanita yang amat dikenalnya. Kyuubi. Kenapa kakaknya bisa ada di sini? Pertanyaan itu berputar di dalam kepalanya yang masih berdenyut sakit. Naruto mengerjapkan mata, mencoba membiasakan diri dengan sinar terang yang terasa menusuk indra penglihatannya.
Bau obat-obatan menyapa indra penciumannya saat ia terbangun sepenuhnya. Wajah kakak yang disayanginya terlihat panik saat ia menoleh ke arah samping. Kyuubi berdiri di sana dengan rambut merah acak-acakan, kantung mata serta wajah pucat pasi. Ah, aku sudah membuat semua orang cemas, pikirnya menyesal.
Naruto mencoba untuk meggerakkan tangannya. Ia mengernyit saat jemarinya tanpa sengaja menyentuh rambut milik Sasuke yang tertidur di samping ranjangnya. Pria itu tertidur pulas. Bahkan suara Kyuubi serta pergerakan dokter dan suster yang datang menyerbu ke dalam ruangan itu tak mampu membangunkan pria itu dari alam mimpi.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja." Ujar Naruto setelah mampu mendapatkan suaranya kembali. Dokter mengatakan jika kondisinya sudah lebih baik dan tinggal menunggu proses penyembuhannya saja. Naruto bahkan berhasil meyakinkan Kyuubi untuk keluar mencari sarapan dengan Itachi. Dia tidak mau melihat kakaknya itu terlampau cemas akan kesehatannya. Naruto sudah merasa sangat bersalah saat tahu jika Kyuubi sengaja terbang ke Tokyo malam hari karena mengkhawatirkannya.
Naruto berusaha untuk duduk bersandar di atas ranjangnya. Tatapannya menerawang jauh keluar jendela sementara tangan kanannya membelai rambut Sasuke penuh kasih. Belaiannya terhenti saat dirasanya Sasuke mulai bergerak, hingga akhirnya pria itu terjaga sepenuhnya. "Kau sudah bangun?" Naruto tersenyum saat mengatakannya, berharap jika senyumannya itu mampu menutupi kesedihannya dari mata Sasuke yang menyelidik.
"Aku akan memanggil dokter," ujar Sasuke yang berusaha untuk bangkit berdiri, namun dengan gerakan lemah Naruto mencegahnya.
"Dokter sudah datang memeriksaku. Aku baik-baik saja," terang Naruto tenang.
Keduanya terdiam cukup lama, terjatuh ke dalam lamunan mereka masing-masing. Saat ini Sasuke terlampau bimbang. Bingung harus memulai dari mana. Bagaimana ia menjelaskan perihal bayi mereka pada Naruto?
"Sasuke?!" panggil Naruto parau. Tatapannya masih menerawang jauh keluar jendela. Menatap satu titik nun jauh disana.
Sasuke mendongak. Dengan lembut dikecupnya punggung tangan tunangannya itu. "Hn..."
"Aku kehilangan calon bayi kita." Kata Naruto, membuat Sasuke membeku di tempat. Naruto menarik tangannya ke arah perutnya yang rata. Ia menunduk, tersenyum tipis saat membayangkan jika calon bayinya pernah berada di dalam rahimnya. "Aku hanya tahu jika aku kehilangannya tanpa tahu jika dia tumbuh di dalam rahimku," ujarnya sembari memeluk perutnya.
Wanita itu menunduk, tersenyum getir, sementara kedua matanya mulai terasa panas oleh air mata. Ia melirik ke arah Sasuke yang sama kacaunya. "Aku tidak tahu jika aku tengah mengandung. Tamu bulananku tidak pernah datang teratur jadi aku bersikap biasa saat tidak mendapatkannya bulan ini. Siapa yang menyangka jika aku hamil?"
"Bukan salahmu-"
"Tidak!" teriak Naruto histeris. Wajahnya kini basah oleh air mata. "Kau tidak mengerti. Seharusnya aku bisa melindunginya. Sebagai seorang ibu sudah seharusnya aku melindunginya."
"Tapi kau tidak tahu," ujar Sasuke lembut. Hatinya teriris melihat Naruto seperti ini.
"Seharusnya aku peka," jerit Naruto. Wanita itu meronta, mengabaikan rasa sakit yang mulai kembali menyerang tubuhnya yang belum sembuh sepenuhnya. "Bayi kita sangat cantik," rintih Naruto saat Sasuke melepaskan pekukannya. Naruto menyeka air matanya dengan kasar, tersenyum getir ia menatap Sasuke dan kembali bicara, "Dia berambut pirang sepertiku, bermata gelap sepertimu. Kulitnya putih, bibirnya merah seperti cherry. Dia sangat menggemaskan. Begitu cantik dan rapuh secara bersamaan. Dia seperti malaikat."
"Naruto-"
"Aku tidak berbohong," jerit Naruto.
"Aku tidak mengatakan jika kau berbohong," balas Sasuke tenang. Dengan hati-hati ia kembali memeluk Naruto. Merengkuhnya, berusaha untuk memberi penghiburan pada wanita itu. "Aku mempercayaimu."
"Dia datang dalam mimpiku," lanjut Naruto dengan tangan gemetar. "Kenapa Tuhan mengambilnya dari kita, Sasuke?" tanyanya tertahan.
"Karena Tuhan sangat menyayanginya, Sayang." Jawab Sasuke dengan air mata yang tak lagi mampu ditahannya.
.
.
.
TBC
Hai...! Saya kembali datang dengan chap baru untuk fic ini. Maaf untuk keterlambatan updatenya. Seperti biasa-kesibukkan di dunia nyata membuat waktu untuk menulis sedikit terganggu. #alasan XD
Maaf kalau banyak typo (s), nggak sempet ngedit soalnya, keburu ngantuk. #AlasanLagi
Btw, selamat libur panjang untuk yang dapat jatah libur. Selamat bekerja untuk yang nggak kebagian libur. Kasian banget untuk yang nggak bisa libur, nggak bisa bobo seharian di rumah dong yah? #Eh... #ItuMahSaya #Libur=Bobo
Untuk para pembaca baru, selamat bergabung! ^-^ semoga bisa tahan menunggu update chap baru yang bisa dibilang memakan waktu lama XD
Untuk pembaca yang menanyakan bagaimana pertemuan ItaFemKyuu sudah saya ceritakan dichap ini yah. (:
Semoga chap ini tidak mengecewakan pembaca yang sudah menunggu lama. Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
