Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+ (Mature Content!)
Genre : Romance, Drama
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
I'm Sorry, I Love You
Chapter 15 : Kebohongan Kyuubi
By : Fuyutsuki Hikari
Bahu Kyuubi merosot, dengan gerakan pelan ia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi di belakangnya, sementara Itachi menatapnya dengan sorot ingin tahu. "Naruto baik-baik saja, Bu," ujarnya menekan rasa gugup hebat yang tengah dirasakannya saat ini. Kyuubi tidak pernah berbohong pada kedua orangtua angkatnya selama ini, namun demi Naruto dia memilih untuk melakukannya.
"Miom-nya tidak terlalu besar, Bu. Letaknya di dinding uterus, jadi tidak terlalu berbahaya," jelasnya lagi. Kyuubi menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam saat mendengar suara panik Kushina dari ujung sambungan telepon. Mendengar Naruto menderita miom pun Kushina sudah panik setengah mati, apalagi jika ia mendengar putrinya keguguran dan nyaris meninggal. Tidak. Kyuubi tidak bisa membayangkan hal itu. Ibu angkatnya pasti akan syok berat, mencemaskan kondisi putrinya sekaligus kecewa karena Naruto hamil diluar nikah.
Ia kembali meringis kecil. Merinding takut membayangkan reaksi ayah angkatnya jika mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Minato bisa terkena serangan jantung hebat. Bagaimana jika ayah angkatnya meninggal? Kyuubi menggelengkan kepala pelan. Tidak. Dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Lebih baik dia berbohong dan menutup rapat semuanya hingga liang kuburnya.
"Dokter tidak akan mengangkatnya, Bu. Dokter menyarankan Naruto untuk segera menikah dan segera hamil agar miom di dinding uterusnya bisa diangkat saat dia melahirkan nanti," jelasnya sembari mengurut keningnya yang berkedut sakit.
Hening.
Disisi lain, Itachi mendengarkan percakapan Kyuubi tanpa mengatakan apapun. Uchiha sulung itu sama sekali tidak menyangka jika Kyuubi akan berbohong untuk menutupi apa yang telah terjadi. Wanita berambut merah di depannya ini jelas terlihat merasa sangat bersalah saat mengatakan kebohongan itu. Itachi bahkan bisa menebaknya dengan mudah dari ekspresi serta gerak tubuh Kyuubi.
Tubuh Kyuubi mendadak kaku. Ekspresinya mendadak panik, "Tidak. Kurasa ibu tidak perlu datang ke Tokyo. Kondisi Naruto sudah mulai stabil walau masih lemas. Aku janji, aku akan melaporkan kesehatan Naruto pada ibu setiap harinya."
Kyuubi kembali terdiam untuk beberapa waktu. Wanita itu lagi-lagi menggigit bibir bawahnya, sesekali ia melirik ke arah Itachi yang menatapnya dengan ekspresi serius. "Aku akan tinggal di Tokyo hingga Naruto sembuh, Bu. Ibu jangan khawatir," katanya dengan suara semeyakinkan mungkin. "Kondisi ayah sedang kurang baik, kan, Bu? Aku khawatir kondisinya akan semakin turun jika ibu dan ayah memaksakan diri ke Tokyo. Dan tidak mungkin juga jika ibu meninggalkan ayah seorang diri di rumah, kan? Dapur ibu bisa hancur," tambahnya panjang lebar dan diakhiri kekehan yang sangat meyakinkan. "Aku akan menyampaikan salam ibu pada Naruto. Ibu jangan cemas, jika sudah stabil, aku akan meminta Naruto untuk menghubungimu. Segera."
Hening.
Kyuubi kembali terdiam beberapa saat, mendengarkan ucapan Kushina dengan was-was. Dia benar-benar takut jika ibu angkatnya memaksakan diri untuk datang ke Tokyo. Itu tidak boleh terjadi. Tidak boleh. "Aku mengerti, Bu. Aku akan segera menghubungi ibu jika ada perkembangan terbaru."
Hening.
Kyuubi tertawa hambar. "Ibu serahkan saja semuanya padaku. Aku akan memaksa Sasuke untuk segera melamar Naruto secara resmi pada ayah." Ia melirik kembali ke arah Itachi yang masih berekspresi serius. "Sasuke juga sama, Bu. Dia panik, cemas setengah mati melihat kondisi Naruto, karena itu dia lupa menghubungi kita. Dia bahkan lupa untuk mengisi daya baterai telepon genggamnya. Dia juga belum pulang dan memilih menginap di rumah sakit untuk menjaga Naruto."
Hening.
Kyuubi mengangguk paham, dan kembali bicara, "Aku akan sampaikan salam ibu pada Sasuke juga. Sampai jumpa, Bu!" tukasnya menutup pembicaraan panjang itu.
"Jadi?" tanya Itachi saat Kyuubi meletakkan telepon genggamnya di atas meja.
"Untuk sementara aku bisa meyakinkan ibu dan ayah untuk tidak datang," jawab Kyuubi dengan desahan napas lega.
Itachi merengut, "Apa kau yakin jika kebohonganmu ini keputusan terbaik untuk Naruto, Sasuke dan keluargamu?" tanyanya masih dengan nada serius yang sama. "Bagaimana jika ibumu mengetahui hal yang sebenarnya? Beliau pasti akan sangat kecewa, bukan hanya pada Naruto dan Sasuke, tapi juga padamu. Apa kau sadar mengenai hal itu?"
"Aku tahu," jawab Kyuubi dengan senyum dipaksakan. "Tapi aku harus melakukannya. Lagipula, yang mengetahui tentang kebenarannya hanya beberapa orang saja, bukan? Karena itu, menjadi tugasmu untuk memastikan mereka tetap menutup mulut mereka dengan rapat."
Satu alis Itachi terangkat. "Kau memintaku untuk meyakinkan mereka semua untuk tetap tutup mulut?"
Kyuubi menggigit apel merah miliknya, menggigitnya pelan dan menjawab dengan santai, "Aku memerintahkanmu, bukan meminta."
Itachi mengumpat di dalam hati, namun tidak mengatakan apapun. Tugas yang diberikan Kyuubi memang bukan hal yang mudah. Tapi hal itu untuk kebaikan Naruto juga, bagaimana dia bisa menolaknya? Sial, umpatnya di dalam hati. Ia hanya tidak suka cara Kyuubi mengatakannya. Itachi kembali bicara di dalam hati; dia tidak menyukai wanita berambut merah yang kini menyeringai seksi ke arahnya.
.
.
.
Yamato mendengarkan perinntah atasannya dengan baik. Dengan punggung tegak ia duduk di atas kursi yang terletak di depan meja kerja Sasuke, siang ini. Ia memang seorang supir, namun pengalamannya dibidang intelegen di masa lalu membuat Sasuke mempercayakan tugas penting ini padanya.
"Aku menginginkan Hagane," kata Sasuke. "Secepat mungkin."
Yamato masih terdiam, memberikan kesempatan pada Sasuke untuk menyelesaikan perintahnya.
Sasuke melempar beberapa foto ke atas meja. "Itu beberapa foto Hagane saat dia masih bekerja untukku," ujarnya saat Yamato mengambil beberapa lembar foto itu dan menatapnya lama. "Kurasa penampilannya akan jauh berbeda saat ini," lanjutnya dengan ekspresi mengeras dan tangan terkepal erat. "Akan lebih baik jika kau menemukannya lebih dahulu, Yamato."
Yamato mengangguk.
"Aku akan memberinya pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya."
.
.
.
Sementara itu di tempat lain, Itachi terus mengekori Obito hingga ruangan kerjanya. Putra sulung keluarga Uchiha itu akan terus membuntutinya, memaksanya untuk bekerja lebih cepat. "Kenapa kau tidak juga mengerti?" erang Itachi dengan ekspresi datar saat Obito melempar jaket kulit yang dikenakannya ke punggung kursi kerjanya. "Aku sangat yakin jika Sasuke tengah merencanakan sesuatu saat ini," tambahnya dengan nada dan ekspresi serius saat Obito menaikkan satu alisnya.
Obito melenggang menuju counter untuk membuat dua cangkir kopi hitam. "Kau berpikir terlalu jauh, Itachi," balasnya sembari menyodorkan satu cangkir kopi hitam yang masih mengepul ke tangan Itachi. "Sejauh ini adikmu terlihat sangat tenang, walau sesekali ia menanyakan perkembangan kasus tunangannya," tambahnya setelah duduk nyaman di atas kursi kerjanya.
Itachi mendesah, meletakkan cangkir kopinya di atas meja dan berkata, "Justru sikap tenang Sasuke yang lebih kutakutkan saat ini," katanya membuat satu alis Obito kembali terangkat tinggi. "Dengar," kata Itachi lagi. "Aku takut jika Sasuke mengambil tindakan sendiri untuk menghukum Hagane. Adikku bukan pria yang akan melepaskan seseorang yang berani menyakiti orang yang dicintainya. Terlebih perbuatan Hagane membuat Naruto kehilangan calon bayinya. Sasuke bisa sangat nekat, Obito, dan aku sangat serius mengenai hal ini."
"Apa kau berkata jika Sasuke akan membalaskan dendamnya secara pribadi?" tanya Obito.
Itachi mengangguk. "Benar. Aku yakin jika Sasuke tengah merencanakan sesuatu untuk balas dendam."
"Bagaimana bisa kau berpikir hal jelek mengenai adikmu?" tanya Obito lagi yang sepertinya masih tidak percaya jika Sasuke mampu melakukan apa yang Itachi katakan. Sasuke yang pernah dikenal Obito merupakan pria tenang dan penuh perhitungan. Sasuke tidak mungkin mengorbankan masa depannya hanya untuk membalas dendam. Iya, kan?
"Ya Tuhan," Itachi melempar kedua tangannya ke udara. "Aku mengatakan hal ini padamu karena aku mengenal sifat adikku, dan karena kau masih ada hubungan darah dengan kami karena itu aku meminta bantuanmu untuk segera menemukan Hagane sebelum Sasuke menemukannya."
"Kurasa kau terlalu cepat mengambil kesimpulan, Itachi," kata Obito lagi, masih enggan mempercayai ucapan Itachi.
"Aku tidak mengambil kesimpulan dengan cepat, Obito," balasnya dengan gigi terkatup. Itachi tidak tahu lagi cara apa yang harus diambilnya agar Obito bisa mempercayai ucapannya. "Aku mengatakan semua ini karena firasatku mengatakan demikian. Aku harus mencegah adikku melakukan tindakan kejahatan."
Ruangan itu menjadi hening untuk beberapa waktu.
Kening Obito ditekuk dalam, sementara jari tangan kanannya mulai mengetuk-ngetuk pelan meja kerjanya. "Hagane menghilang tanpa jejak," akunya kemudian. Ia mendesah lalu melipat kedua tangannya di atas meja. "Aku malu mengakui hal ini padamu; menemukan Hagane tidak semudah menemukan penjahat kelas teri pada umumnya. Dari bukti-bukti dilapangan, Hagane merencanakan kejahatannya sejak lama. Semuanya terorganisir, bahkan aku yakin dia sudah memiliki tempat untuk bersembunyi, menunggu hingga kita lengah untuk melarikan diri."
"Apa kau sudah menurunkan tim terbaikmu?"
"Aku sudah menurunkan tim terbaikku namun hingga detik ini masih belum ada kabar baik."
Bahu Itachi merosot. Ia mengurut keningnya yang mulai berdenyut sakit. Mereka harus berpacu dengan waktu. Namun apa yang bisa dilakukannya. Itachi menarik napas dalam, mencoba untuk berpikir dan menebak langkah Sasuke. Siapa kira-kira yang akan mendapat kepercayaan adiknya untuk melakukan tugas ini? Yamato. Itachi tersentak. Benar, jika ada seseorang yang sangat dipercaya oleh Sasuke untuk melaksanakan tugas ini, dia adalah Yamato.
"Ada apa?" tanya Obito saat melihat perubahan pada ekspresi Itachi.
"Kurasa aku menemukan seseorang untuk diajak kerja sama."
Obito mengernyit dalam.
"Aku akan menemuinya, dan memberimu kabar secepatnya jika dugaanku tidak meleset," serunya sambil begerak untuk menggeser kursinya ke belakang lalu berdiri. "Berdoa saja, semoga tebakanku tidak meleset," tambahnya sebelum berbalik pergi, keluar dari ruangan Obito dengan langkah panjang-panjang.
.
.
.
Sasuke tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran tunangannya saat ini. Dua hari ini Naruto lebih banyak diam. Terkadang ia mendapatinya tengah melamun, dengan pandangan menerawang jauh ke luar jendela. Sasuke tidak bisa menanyakan apa yang tengah dipikirkan oleh Naruto. Ia terlalu takut untuk melukai perasaan wanita itu.
Tanpa disadarinya, kedua tangannya terkepal erat. Semuanya akan lebih baik jika ia berhasil menemukan Hagane terlebih dahulu dan melenyapkannya dengan penderitaan yang paling menyakitkan.
"Kenapa kau berdiri di sana?" tanya Naruto, membuyarkan lamunan pendek Sasuke. Wanita itu menepuk-nepuk sisi ranjang kosong, meminta Sasuke untuk duduk disana.
Sasuke mengulum senyum, menatap wajah tunangannya penuh kasih. "Apa kau merasa sakit?" tanyanya sambil membawa telapak tangan Naruto ke dalam genggamannya. "Apa kau memerluka sesuatu?"
Naruto menggelengkan kepala pelan, berusaha menarik sudut mulutnya untuk membentuk segaris senyuman untuk menutupi kesedihannya. Ia tidak boleh terus terlarut dalam kesedihan, dan melupakan semua orang di sekelilingnya. Lingkaran hitam di kedua mata Sasuke membuatnya sadar akan hal itu. Bukan hanya dirinya yang kehilangan, namun Sasuke pun sama. "Seharusnya kau pulang dan istirahat, Sasuke," ujarnya lembut. "Bagaimana keadaan ayahmu?" tanyanya lagi.
"Kondisi ayahku sudah semakin membaik. Terima kasih karena kau masih memikirkanya saat kondisimu-"
"Aku baik-baik saja," ujar Naruto saat Sasuke terdiam tanpa mampu menyelesaikan ucapannya yang tercekat. "Sasuke?!" panggilnya pelan. Ia menarik tangan kanannya, mengangkat dagu Sasuke dengan ibu jarinya, meminta pria itu untuk menatapnya. "Ini bukan salahmu. Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri."
Sasuke terdiam. Bagaimana bisa Naruto bisa menebak apa yang ada di pikirannya saat ini?
"Semuanya sudah ditakdirkan. Dan seperti yang kau katakan; Tuhan sangat menyayanginya karena itu Dia memanggilnya dengan cepat."
"Aku…" Sasuke bersuara dengan nada getir. Kedua tangannya gemetar, matanya terpejam erat. Dialah yang memberi ijin pada dokter untuk mengeluarkan bayi mereka. Dia seorang pembunuh. Karena dirinya juga Hagane menculik Naruto dan berniat membunuh tunangannya dengan kejam. Semua salahnya. Naruto hanya tidak tahu alasan sebenarnya atas apa yang terjadi padanya. Naruto hanya tahu jika pelaku yang menculiknya memiliki kelainan jiwa, dan menjadikannya sebagai target. Itu saja.
Naruto menggenggam kedua tangan Sasuke yang bergetar. "Kau melakukan kewajibanmu dengan baik," katanya memecah keheningan menyiksa di dalam ruangan itu. "Jika kau tidak menemukanku dengan cepat, mungkin aku tidak akan ada di sini dan bicara denganmu." Naruto tersenyum lembut saat merasakan tangannya kini digenggam erat oleh Sasuke.
Tidak perlu ucapan untuk mengetahui perasaan pria itu saat ini. Naruto yakin jika Sasuke tengah membayangkan apa yang bisa saja terjadi jika pria itu telat menemukannya.
"Apa penjahat itu sudah tertangkap?" tanya Naruto lagi, penasaran.
Sasuke mengerjapkan mata, amarahnya kembali menguasai dirinya dengan cepat. Rahangnya mengeras, napasnya sedikit lebih cepat saat dia menjawab, "Belum."
"Polisi pasti segera menemukannya." Naruto tersenyum, berusaha membuat Sasuke tenang. "Ah, ngomong-ngomong, tadi aku sudah bicara dengan Ibu," katanya kemudian, mengganti topik pembicaraan. Wanita itu mendesah lega saat melihat Sasuke kembali rileks, tidak seperti beberapa saat yang lalu saat mereka membicarakan penjahat itu.
Sasuke membetulkan posisi duduknya. "Lalu apa katanya?"
Naruto mengernyit. "Apa kau tahu jika kakakku berbohong pada ibuku?"
Sasuke mengangguk.
Naruto menggigit bagian dalam mulutnya. Terdiam sejenak sebelum kembali bicara dengan nada bersalah, "Kakakku tidak pernah berbohong pada ayah dan ibu sebelumnya. Aku merasa bersalah karena ia melakukannya untukku." Wanita itu menghela napas panjang, menundukkan kepala, menatap jari-jarinya yang saling bertaut. Ia lalu melirik ke arah Sasuke, mengernyit, "ibu menginginkan kita untuk segera menikah."
"Bukankah itu bagus?" Sasuke balik bertanya dengan seringai puas. Ia sangat berterima kasih pada Kyuubi. Ia menghargai dan berhutang budi pada Kyuubi karenanya. Kyuubi rela berbohong demi menjaga nama baik Naruto di mata kedua orangtuanya. Dan alasan yang digunakan oleh Kyuubi pun terdengar masuk akal dan memberi keuntungan tersendiri untuk Sasuke.
Naruto menyipitkan mata. "Kenapa aku merasa kau sangat senang mengenai hal ini?"
Sasuke tersenyum lembut, lalu mengecup punggung Naruto mesra. "Bagaimana jika kita menikah akhir bulan ini?" tanyanya mengabaikan pertanyaan tajam Naruto.
Kedua mata Naruto terbelalak. "Itu hanya tiga minggu lagi? Apa bisa?"
Kedua bahu Sasuke terangkat. "Apa yang tidak bisa? Aku bahkan sanggup menyiapkan semuanya hanya dalam waktu satu minggu saja," katanya dengan penuh percaya diri.
"Entahlah, Sasuke," balas Naruto membuat Sasuke menekuk wajahnya, tidak suka. "Bukan maksudku untuk menolak," ujarnya cepat saat melihat perubahan mood Sasuke yang memburuk. "Tiga minggu terlalu cepat. Saat ini ayahmu masih sakit. Aku ingin beliau sembuh dan bisa menghadiri pernikahan kita," jelasnya membuat Sasuke melepas napas keras. "Beliau ayahmu," tambahnya, mengingatkan. "Kondisiku pun belum pulih sepenuhnya," jelasnya lagi. Ia terdiam sejenak, tersenyum di dalam hati saat melihat kegundahan di kedua mata Sasuke. "Bagaimana jika kita menundanya hingga akhir bulan depan?" usulnya memberi Sasuke kejutan yang tak terduga.
Sasuke mengerjapkan mata. Nyaris tak mempercayai pendengarannya saat ini. "Kau serius?" tanyanya setelah berhasil menemukan suaranya kembali.
Naruto tersenyum lebar dan mengangguk cepat. "Amat sangat serius."
Sasuke langsung memeluknya erat. "Ya Tuhan, akhirnya kau sendiri yang menetapkan waktu pernikahan kita." Ia melepaskan pelukannya, menatap langsung ke dalam bola mata safir kekasihnya. "Katakan jika kau sedang tidak bercanda."
Naruto tertawa dan memutar kedua bola matanya dengan gaya kekanak-kanakkan. "Apa aku harus menjilat ucapanku sendiri?" tanyanya membuat senyum di wajah Sasuke luntur. "Apalagi yang kau tunggu? Bukankah kau harus mengatakan hal ini pada ibu dan ayahku? Kau pasti ingin memberitahu mereka terlebih dahulu, kan?"
Mendengar ucapan Naruto, semangat Sasuke pun kembali dengan cepat. Ia mengangguk penuh semangat. Terlalu antusias dan gembira dalam waktu bersamaan. Dengan cepat ia mendaratkan sebuah ciuman di mulut Naruto. "Aku keluar sebentar untuk menghubungi ibumu," ujarnya sambil lalu, sementara Naruto tersenyum lebar, dan kembali menunduk saat Sasuke sudah keluar dari ruangan itu. Senyuman dan tawanya menghilang, dengan tatapan nanar ia menatap perut ratanya dan mengelusnya dengan kedua telapak tangannya yang bergetar hingga beberapa kali.
.
.
.
Dalam kegelapan pekat Hagane menyembunyikan diri. Ia memasang kedua telinganya dengan baik, menajamkan matanya untuk mengamati keadaan di sekitarnya. Sudah dua hari ini dia bersembunyi di dalam saluran pembuangan air kota. Dan semua itu karena Uchiha Sasuke.
Gigi pria itu gemertuk. Dia cukup beruntung karena saat ini belum memasuki musim dingin, jadi dia masih bisa bertahan hidup di dalam saluran pembuangan air itu. Hagane mengendus bau tubuhnya yang menyengat. Sudah dua hari ini dia tidak mandi, bau busuk di dalam saluran air itu pun sepertinya sudah menempel di tubuhnya saat ini.
Dia hanya perlu bersembunyi hingga situasi sedikit tenang. Dia hanya perlu menunggu polisi lengah, lalu keluar dari tempat persembunyiannya untuk melarikan diri ke kota lain. Hagane menyeringai. Dia sudah merencanakan pelariannya sejak jauh hari. Senyumnya seketika menghilang saat ia teringat jika rencananya tidak berjalan mulus seperti yang sudah direncanakannya; dia gagal membunuh tunangan mantan bosnya itu. Namun setidaknya dia sudah melihat ekspresi panik di wajah Sasuke. Ia terkekeh, merasa sedikit terobati karenanya.
Hagane kembali menunggu hingga suasana di sekitarnya sangat sepi. Beberapa meter di depannya terletak beberapa restoran makanan yang sering membuang makanan sisanya ke tempat sampah. Makanan sisa itulah yang tengah diburunya saat ini. Pria itu mendengus, amarah kembali mengalir di sepanjang pembuluh darahnya, jika bukan karena Uchiha Sasuke, kehidupannya pasti tidak akan semenyedihkan dan sememalukan ini.
Saat ini dia pasti tidur nyaman di dalam apartemen mewahnya di Seattle. Istri dan kedua anaknya tidak akan meninggalkannya dan dia tidak perlu mengorek-ngorek tempat sampah hanya untuk mencari makanan sisa. Kedua tangannya terkepal erat. Mungkin ada baiknya dia membunuh Uchiha Sasuke juga.
Pria itu tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang menghitam akibat nikotin dan obat-obatan terlarang yang pernah dikonsumsinya sejak ia dipecat, dulu.
Benar. Dendamnya baru akan terbalaskan jika ia berhasil membunuh Sasuke.
Hagane tergopoh-gopoh pergi. Saat ini ada yang jauh lebih penting daripada urusan perut. Ia harus mengatur rencana untuk membunuh Sasuke.
.
.
.
Keesokan harinya, Naruto mendapat kunjungan yang sangat tidak terduga. Siang ini Ino datang menjenguk bersama Gaara dengan sebuah keranjang besar buah-buahan serta satu buket besar bunga mawar berwarna kuning. Wanita itu langsung terpekik senang dan menghambur ke pelukan Naruto saat pintu kamar terbuka.
"Syukurlah kau baik-baik saja," tukasnya dengan suara tercekat. "Aku benar-benar ketakutan setengah mati saat mengetahuinya," tambahnya seraya melepaskan pelukannya sementara Gaara meletakkan keranjang buah dan buket besar bunga mawar ditangannya ke atas meja terdekat. Dengan hangat ia memberi Naruto sebuah pelukan dan mendesah lega.
"Bagaimana kalian bisa bersama datang menjengukku?" tanyanya heran.
Gaara menarik sebuah kursi lain untuknya duduk, sementara Ino memutuskan untuk duduk di atas tepian ranjang yang kosong. "Aku sedang ada pekerjaan di Tokyo untuk beberapa hari dan sengaja datang mencarimu ke kantor siang ini untuk memberimu kejutan," kata Gaara mulai menjelaskan. "Tapi mereka bilang kau sakit. Jadi aku bertanya pada Ino."
"Tuan Jiraiya mengatakan kau sakit dan dirawat di luar kota," potong Ino menggebu-gebu. Dia sedikit kesal karena Jiraiya menyembunyikan hal penting ini darinya. Dan Ino bisa menebak jika hak itu pasti atas perintah Sasuke.
"Aku mencoba menghubungimu tapi telepon genggammu tidak bisa dihubungi, jadi aku menghubungi Sasuke dan dia mengatakan jika kau dirawat di sini," lanjut Gaara setelah Ino terdiam dan memberinya kesempatan untuk kembali bicara.
Naruto mengangguk paham. "Maaf, kami memang sengaja menyembunyikan hal ini agar tidak menjadi pemberitaan. Aku takut kedua orangtuaku mengetahui mengenai berita ini dan membuat mereka cemas. Kalian tahu sendiri jika kesehatan ayahku tidak terlalu baik belakangan ini," jelasnya panjang lebar.
Ruangan itu hening untuk sesaat.
"Apa benar kau diculik?" Ino bertanya dengan perasaan campur aduk.
Naruto kembali mengangguk pelan dengan ringisan kecil kali ini.
"Dasar brengsek!" maki Ino kesal. "Dan mereka masih belum bisa menangkap penjahatnya?"
"Begitulah," jawab Naruto dengan helaan napas keras.
"Pantas saja Sasuke menempatkan beberapa orang penjaga di depan pintu kamarmu," desah Ino. "Naruto, apa kau yakin baik-baik saja?" Ino kembali bertanya setelah terdiam beberapa saat, kedua matanya menyelidik tajam. "Apa penjahat itu menyakitimu?"
"Ino…" ujar Gaara mengingatkan.
"Tidak apa-apa, Gaara." Naruto berkata lembut. "Penjahat itu berniat untuk membunuhku," jelasnya membuat Ino terkesiap kaget sementara Gaara memucat. "Polisi mengatakan jika pelaku memiliki kelainan jiwa. Ia suka memutilasi korban-korbannya." Ia menarik napas dalam sebelum melanjtukan. "Aku bersyukur karena Sasuke dan lainnya berhasil menemukanku sebelum pelaku itu kembali untuk membunuhku."
"Oh Tuhan!" pekik Ino keras. Ia kembali memeluk tubuh Naruto, memberinya penghiburan sementara dirinya sendiri mulai menangis. Ino tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Naruto terlambat ditemukan.
"Tidak apa-apa, Ino," hibur Naruto sambil menepuk-nepuk punggung Ino pelan. "Yang penting aku baik-baik saja," tambahnya menenangkan. "Terima kasih sudah datang menjengukku. Sekarang ceritakan apa yang terjadi di kantor selama aku absen," pintanya untuk mengganti topik pembicaraan.
.
.
.
"Jadi kapan aku boleh pulang?"
"Lusa," jawab Sasuke pendek membuat Naruto mendesah keras. "Ada apa?" tanyanya. Pria itu melangkah pelan menuju ranjang tunangannya lalu berdiri di sisi ranjang. Dengan hati-hati ia membetulkan bantal dan selimut yang dikenakan oleh Naruto lalu duduk di kursi di samping tempat tidur. "Jangan menekuk wajahmu seperti itu," bujuknya saat Naruto menekuk wajahnya dalam.
Sudah empat hari Naruto dirawat di tempat ini, itu membuatnya bosan, terlebih tempat ini selalu mengingatkannya jika ia telah kehilangan calon bayinya. "Apa tidak bisa jika aku pulang hari ini?" tanyanya penuh harap. "Aku sudah sehat," tambahnya berusaha meyakinkan Sasuke yang menatapnya tajam. "Bisakah kau bicara dengan dokter dan meminta agar aku diijinkan pulang hari ini?" tanyanya lagi dengan nada memelas. "Aku kasihan pada Kak Kyuubi yang harus bolak-balik untuk menjagaku selama kau bekerja. Belum lagi kau harus tinggal dan tidur tidak nyaman tiap malamnya di atas sofa hanya untuk menjagaku sepanjang malam."
Sasuke tidak menjawab. Ia memilih untuk tetap diam dan menatap wajah tunangannya lekat.
Naruto memandangi tangannya yang terulur begitu lama hingga ia berpikir jika Sasuke begitu marah saat ini hingga tidak mau menyambut uluran tangannya. Namun ternyata dugaannya salah. Sasuke bernapas keras lalu menggenggam kedua tangan wanita itu dengan erat. "Aku tidak bisa meminta dokter untuk mengijinkanmu pulang lebih cepat. Kau tahu jika kau butuh banyak istirahat, kan?"
"Tapi aku sudah bosan berada di tempat ini," sahutnya. Ia menarik napas dalam dan pelan-pelan mengangkat kepalanya. Mata safirnya menatap lekat netra kelam milik tunangannya. "Sekali ini saja, kumohon kabulkan permohonanku."
"Kali ini aku tidak bisa mengabulkannya, Naruto." Sasuke berkata dengan nada satu oktaf lebih lembut, namun Naruto bisa menangkap ketegasan yang tidak bisa dibantah di dalam ucapan Sasuke. "Aku tidak bisa mengabulkannya karena aku sangat menyayangimu."
Naruto tertunduk. Seperti orang hamil, emosinya masih sering naik-turun tanpa bisa dikendalikannya. Ia tertunduk, dan berkata dengan suara bergetar, "Maaf, lagi-lagi aku bersikap egois."
Sasuke berdecak, sama sekali tidak berniat untuk membuat Naruto sedih. Namun hal ini perlu dilakukannya demi kebaikan wanita itu. Ia merangkul bahu Naruto dan berkata dengan nada membujuk, "Tinggal dua hari lagi, dan kau akan terbebas dari tempat ini."
Bujukan itu mau tidak mau membuat Naruto tersenyum kecil. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Sasuke. "Dua hari lagi?" beonya pelan.
"Ya, hanya dua hari lagi," sahut Sasuke.
.
.
.
"Kau yakin akan baik-baik saja?"
Naruto memutar kedua bola matanya, bosan. Pertanyaan itu sudah yang kelima kali ditanyakan Sasuke pagi ini. "Aku akan baik-baik saja," jawab Naruto cepat. "Sebaiknya kau segera pergi. Kau bisa datang terlambat ke kantor, Sasuke. Kak Kyuubi sebentar lagi akan naik, dia hanya keluar sebentar untuk mencari sarapan," jelas Naruto.
"Siapa yang berani menegurku?" tanya Sasuke, menantang. "Aku pemilik perusahaan tempat mereka bekerja, aku bisa datang jam berapapun."
"Sebagai pemimpin yang baik, kau memiliki kewajiban untuk memberikan contoh yang baik untuk anak buahmu. Iya, kan?"
Sasuke terdiam. Mengatupkan mulutnya rapat. Saat ini dia sedang tidak mood untuk berdebat dengan Naruto, namun tunangannya itu selalu saja memiliki bahan pembicaraan untuk mereka perdebatkan.
"Jangan menunda-nunda lagi, cepat pergi!" ujar Naruto dengan senyum lembut yang melelehkan hati. "Sudah beberapa hari ini kau selalu datang terlambat ke kantor. Itu tidak baik."
Sasuke masih terdiam, lalu menghela napas berat. Bagaimana bisa dia meninggalkan Naruto seorang diri? Ditatapnya sayang wajah tunangannya yang masih seputih kapas. "Aku tidak bisa meninggalkanmu seorang diri di sini," katanya setelah terdiam beberapa saat. Sasuke mengecup punggung Naruto ringan, lalu menggenggamnya dan meletakkannya di depan dada. "Bagaimana mungkin aku pergi sementara kau masih terbaring lemah di sini?"
Naruto menghela napas dalam, lalu menarik pergelangan tangannya dari tangan Sasuke. "Kondisiku sudah membaik. Karena itu kau jangan cemas, lagipula aku 'kan tidak sendiri, ada Kak Kyuubi," tukasnya galak. "Sekarang pergi ke kantor dan segera selesaikan pekerjaanmu dengan baik. Aku tidak mau pekerjaanmu terganggu hanya karena diriku. Mengerti?"
"Aku akan pergi setelah Kyuubi datang," kata Sasuke kemudian. Dia balas menatap Naruto dengan ekspresi keras. Dia tidak akan mengalah dan tidak mau dibantah untuk hal sepenting ini. Naruto tidak boleh ditinggalkan sendiri dalam kondisi selemah ini, pikir Sasuke cemas. Dia akan merasa lebih nyaman jika Kyuubi atau Itachi menemani Naruto selama dia tidak ada.
Selama Hagane belum ditemukan, Sasuke tidak bisa mengambil resiko untuk meninggalkan Naruto seorang diri di dalam kamar ini. Ia memang sudah menyewa empat orang bodyguard untuk menjaga Naruto di depan pintu kamar ruang inapnya secara bergantian. Namun Hagane terlalu licik. Pria itu bisa saja mengelabui anak buahnya dan masuk ke dalam ruangan untuk menyakiti Naruto.
Tidak. Sasuke tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Ia sama sekali tidak menyadari jika target Hagane telah berubah saat ini. Saat ini justru Sasuke-lah yang tengah berada dalam bahaya.
.
.
.
TBC
Hai… karena banyak yang tanya kira-kira fic ini sampai berapa chapter? Kemungkinan besar sampai chapter 20. Tapi kita lihat nanti saja yah, mungkin bisa kurang dari itu, atau bahkan lebih. ^-^
Jadi, sampai jumpa dichap selanjutnya yah! ((:
#WeDoCareAboutSFN
