Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M+ (Mature Content!)

Genre : Romance, Drama

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

I'm Sorry, I Love You

Chapter 16 : Rencana Sasuke

By : Fuyutsuki Hikari

Sasuke tahu jika tidak seharusnya dia menyembunyikan semua kebenaran itu dari Naruto. Kekasihnya itu memiliki hak untuk tahu hal sebenarnya terjadi. Namun, Sasuke terlalu takut untuk mengungkapkan semua itu kepada Naruto. Karena mau tidak mau ia berpendapat jika kejadian yang menimpa Naruto dan cikal anak mereka merupakan kesalahan Sasuke juga.

Dendam yang dimiliki oleh Hagane terhadapnya membuat orang yang disayangi oleh Sasuke menderita karenanya.

Hagane menyakiti Naruto untuk menyakitinya. Sasuke bahkan nyaris gila saat mengetahui dari laporan Obito jika Hagane berniat untuk memutilasi tubuh Naruto, dan seolah hal itu tidak cukup ia berencana menghadiahkan potongan tubuh Naruto pada Sasuke. Hagane gila, dia kehilangan akal sehatnya, bagaimana tidak jika dia menuliskan semua rencananya itu pada sebuah buku catatan dengan detail dan terperinci.

Pria itu bahkan mencatat setiap detail bagaimana dia mencari tahu mengenai Naruto, dan membuntuti wanita itu nyaris setiap harinya saat Naruto pulang kerja.

Perut Sasuke mendadak mual saat bayangan potongan-potongan tubuh Naruto melintas di dalam pikirannya. Dorongan di dalam perutnya membuatnya ingin muntah dan tanpa menunggu lebih lama lagi dia bangkit dari tempat tidurnya, berlari masuk ke dalam kamar mandi, lalu mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya ke wastafel.

Napas Sasuke terengah-engah, tubuhnya terasa sangat lemas. Dia tidak pernah merasa selemah ini, tidak pernah. Sepertinya dia harus segera menemui Naruto untuk mengisi kembali semangat hidupnya.

.

.

.

Peristiwa menakutkan itu sudah dua minggu berlalu. Sudah dua minggu pula dia kehilangan janinnya. Namun sepertinya waktu masih belum bisa mengobati rasa kehilangannya. Wanita itu kini terbaring di atas ranjang nyamannya di kamar tamu apartemen Sasuke. Setelah keluar dari rumah sakit Naruto tinggal bersama Sasuke dan Kyuubi yang ikut tinggal untuk menemaninya.

Pikiran Naruto terus berkelana—membayangkan bagaimana jika kejadian tragis itu tidak menimpanya? Berandai jika janin di dalam kandungannya masih ada, terus tumbuh dan sehat setiap detiknya.

Ia menundukkan kepala, menatap perutnya yang rata—perut yang sama namun kini terasa berbeda.

Naruto pun memejamkan kedua matanya erat sementara kedua tangannya menggenggam erat pinggiran wastafel. "Jika kau masih ada di dalam perutku, kau pasti lahir dan tumbuh secantik gadis kecil di dalam mimpiku. Iya, kan?" tanyanya pelan dengan nada rindu yang menyesakkan. Ia mengelus perut ratanya. "Kau sangat cantik, Nak."

Hening.

Naruto mengerjapkan mata, tertawa getir, seolah menertawakan kebodohannya saat ini. "Tidak boleh!" Katanya pada dirinya sendiri, mengingatkan. Dia harus meninggalkan masa lalu di tempatnya, dan belajar untuk mengikhlaskan apa yang telah terjadi.

Ia tidak boleh membiarkan pikirannya terus berkelana. Dia harus berhenti sekarang juga—namun keinginannya kembali luluh lantak saat ia menatap refleksi wajahnya pada cermin besar di dalam kamar mandinya. Air matanya kembali tumpah dengan deras. Wanita itu bahkan harus membekap mulutnya sendiri untuk meredam suara tangisnya.

Demi Tuhan. Kenapa dia masih belum bisa mengikhlaskan kepergian calon anaknya? Kenapa?

Wanita itu pun terus menangis, menangis hingga sebuah ketukan di pintu kamar mandi membuatnya tersentak dan dengan segera ia menyalakan air keran untuk mencuci wajahnya—berharap jika hal itu bisa menyembunyikan mata sembabnya.

"Ada apa?" tanyanya saat keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati Sasuke berdiri di sana dengan ekspresi menyelidik.

Kenapa Sasuke datang ke kamarnya? Tanyanya di dalam hati.

"Ada apa?" tanyanya lagi saat Sasuke tidak menjawab pertanyaannya. Naruto memasang senyum manis, walau dadanya kini berdebar tidak karuan, kekasihnya itu pasti masih bisa melihat jejak tangis di wajahnya saat ini. Sialan! Maki Naruto di dalam hati.

Hal pertama yang tidak diinginkannya saat ini adalah membuat Sasuke khawatir. Pria itu sudah memiliki banyak masalah yang harus ditanggungnya seorang diri, dan sekarang sebagai seorang kekasih dia malah menambah beban yang sudah berat itu.

"Ini terakhir kalinya aku menangisinya," bisik Naruto lembut, seolah ingin menangkan hati kekasihnya. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja," tambahnya dengan seulas senyum getir.

Dan Sasuke pun masih membisu. Pria itu tidak mengatakan sepatah kata pun. Alih-alih bicara, ia malah merengkuh tubuh kekasihnya yang beberapa hari ini kehilangan bobot berat badannya dengan cepat. Tubuh Naruto terlihat terlalu ramping, dan hal itu jelas mengkhawatirkan di mata Sasuke.

"Sasuke?!" panggil Naruto dalam dekapan kekasihnya. "Aku tidak apa-apa," bisiknya berusaha untuk menenangkan namun Sasuke bergeming. Pria itu terus memeluk tubuh kekasihnya,dia perlu melakukannya, bukan sekedar untuk memberikan penghiburan serta perlindungan pada kekasihnya, namun hal itu juga dilakukannya demi ketenangan batinnya sendiri—tubuh hangat Naruto yang kini tengah dipeluknya mengingatkannya jika kekasihnya itu benar-benar hidup, selamat, juga mengingatkannya pada satu kenyataan getir jika ia nyaris kehilangan wanita yang paling dicintainya.

.

.

.

"Sasuke, apa tidak sebaiknya jika kau mulai bekerja seperti biasanya?" Naruto berdeham, berusaha untuk menormalkan nada bicaranya saat Sasuke menatapnya dengan satu alis terangkat. Keduanya tidak membahas lebih jauh apa yang terjadi sebelumnya, bersikap seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi, dan sekarang mereka duduk santai di ruang keluarga apartemen Sasuke yang nyaman. "Maksudku, sudah dua minggu kau tidak datang ke kantor. Apa pekerjaanmu tidak terganggu?" tanyanya lagi.

Sasuke mengalihkan pandangannya pada dokumen yang kini berada di tangannya, membacanya tanpa ekspresi. "Semua baik-baik saja. Aku bisa menjalankan perusahaanku tanpa harus datang ke kantor," jawabnya datar.

"Bagaimana dengan rapat-rapat penting?" Naruto kembali bertanya, berusaha meyakinkan kekasihnya untuk kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Sudah satu minggu Naruto keluar dari rumah sakit dan kini tinggal bersama Sasuke karena pria itu dengan tegas mengatakan jika Naruto tidak boleh kembali ke apartemennya sendiri. Sasuke bahkan mempersilahkan Kyuubi ikut tinggal bersamanya, untuk menemani Naruto ujarnya.

Sasuke membalik halaman pada dokumen yang tengah dibacanya, tanpa menoleh ke arah Naruto ia menjawab tenang, "Teknologi sudah sangat canggih, rapat masih bisa berlangsung walau aku tidak hadir secara langsung."

"Tapi—"

"Tidak ada tapi," potong Sasuke cepat. Pria itu menutup dokumen yang tengah dibacanya dan menatap lurus Naruto yang terlihat mengecil di sebrangnya. "Baik, sekarang jelaskan kenapa ka uterus memaksaku untuk pergi ke kantor?" Sasuke balik bertanya dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Sudah satu minggu ini Naruto terus mencerewetinya, mengatakan jika sudah menjadi kewajiban Sasuke untuk datang ke kantor, bukannya malah mengerjakan pekerjaan di rumah sembari menemani Naruto sepanjang hari.

Naruto mengangkat bahu kanannya. "Aku hanya berusaha mengingatkan kewajibanmu," jawabnya santai.

Ah, itu lagi, pikir Sasuke yang merasa yakin jika ada maksud tersembunyi dari kekasihnya.

"Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu?"

Saat Naruto diam, Sasuke menatapnya penuh selidik. "Ya, kan?" tanyanya lagi.

"Ya. Benar," jawab Naruto dengan helaan napas keras. Dia sudah tidak bisa menutupinya lagi, setidaknya dia harus mengatakan keinginannya terlepas Sasuke akan mengijinkannya atau tidak. "Aku ingin kembali bekerja dan kembali ke apartemenku," katanya dengan nada memohon. Wanita itu menekuk wajahnya saat Sasuke menatapnya tajam, lalu beringsut turun dari sofa nyamannya, berjalan memutari meja lalu duduk di pangkuan Sasuke, berharap kekasihnya itu akan luluh dengan rayuan yang akan dilancarkannya.

"Aku bosan di rumah." Naruto mulai bicara dengan nada merajuk sementara tangannya terulur untuk menyentuh rambut halus milik Sasuke. "Seperti yang bisa kau lihat, kondisiku juga sudah membaik," tambahnya tanpa bisa menatap mata Sasuke. "Aku juga sangat berterima kasih karena kau mengijinkan Kak Kyuubi tinggal di sini, hanya saja—"

"Apa?"

Naruto mengernyit. "Aku merasa tidak seharusnya kami tinggal lama di apartemenmu. Kak Kyuubi pasti merasa canggung dan aku… aku…"

"Kau ingin terbebas dariku?" tebak Sasuke parau.

Naruto terbelalak. "Kenapa kau berkata seperti itu?" bentaknya marah. "Kenapa kau berpikir jika aku ingin terbebas darimu?" lanjutnya dalam satu tarikan napas. "Kau harus tahu, aku tidak akan melepaskanmu, tidak setelah apa yang telah terjadi. Atau jangan-jangan kau yang ingin bebas dariku?" Naruto terus menyerang sembari menyempitkan mata.

"Karena belakangan ini kau terlihat alergi setiap kali aku mendekatimu," balas Sasuke serak. Naruto tercengang, melihat kesedihan di kedua bola mata kekasihnya itu membuatnya merasakan kesedihan yang sama.

Apa terlihat seperti itu? Naruto bertanya di dalam hati. Apa tanpa ia sadari ia telah menolak Sasuke karena terlalu tenggelam di dalam kesedihannya sendiri?

"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Sungguh," balasnya lembut. Naruto menggigit bibir bawahnya, lalu menggosok lengannya, kikuk. "Apa aku terlihat seperti itu?"

Sasuke mengangguk kecil.

"Maaf," ulangnya dengan kedua bahu merosot. "Hei, aku sungguh-sungguh," katanya saat Sasuke mengendikkan bahu. "Kenapa kau tidak percaya ucapanku? Aku sungguh-sungguh tidak bermaksud untuk menolakmu."

Sasuke kembali memasang ekspresi datar. "Lalu kenapa kau tidak mau tidur di kamar kita dan malah memilih tidur bersama Kyuubi?" tanyanya membuat Naruto memutar kedua bola matanya.

"Karena memang seharusnya seperti itu," balas Naruto kesal. "Bagaimana bisa aku tidur di kamarmu saat Kak Kyuubi tinggal bersama kita di sini. Apa yang akan dipikirkan oleh kakakku?"

"Aku tidak peduli," jawab Sasuke cuek.

"Tapi aku peduli," sahut Naruto kesal. "Kita tidak akan lagi tidur dalam kamar yang sama hingga kita sah menjadi suami-istri. Mengerti?"

Sasuke mengerang.

"Mengerti, Tuan Sasuke?"

Dan yang didapatkan oleh Naruto siang itu hanyalah sebuah ciuman panjang penuh rindu sebagai jawaban dari pertanyaannya.

.

.

.

"Jadi, kau memutuskan untuk kembali bekerja di kantor?"

Sasuke mengangkat wajahnya dari layar laptop-nya, lalu mendengus keras, saat melihat Itachi melenggang masuk ke dalam ruang kantornya dengan begitu santainya. "Apa Naruto yang memaksamu untuk kembali bekerja?"

Demi Tuhan, jika tidak mendengar nada serius dalam nada suara Itachi, Sasuke bersumpah dia akan menerjang dan menghadiahi Itachi dengan pukulan keras di wajahnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya datar walau ekspresinya dengan jelas mengatakan jika ia merasa terganggu oleh kedatangan Itachi siang ini.

"Kenapa kau meninggalkan Naruto sendiri?" Itachi kembali melempatkan pertanyaan dengan nada dan ekspresi serius yang sama. "Belakangan ini kau semakin sering muncul di area publik, bahkan kau pergi ke pesta-pesta kelas atas seorang diri. Katakan, bagaimana bisa kau meninggalkan Naruto di rumah seorang diri?"

Satu alis Sasuke terangkat. "Aku meninggalkannya bersama Kyuubi dan empat orang bodyguard, aku juga meninggalkan Yamato untuk berjaga-jaga," jawabnya membuat Itachi menyempitkan mata, menatapnya penuh selidik. "Kenapa?"

"Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui?"

"Tidak ada," jawab Sasuke pendek.

Itachi mengerang, mengusap wajahnya yang mulai tegang. "Kau boleh menyembunyikan sesuatu dari semua orang, tapi aku kakakmu, seharusnya kau memberitahuku jika memang ada yang kau sembunyikan."

Hening.

"Apa ini menyangkut Hagane?" tebak Itachi tepat sasaran. Putra sulung keluarga Uchiha itu melepas napas keras, lalu mencondongkan tubuhnya ke meja kerja Sasuke untuk menarik perhatian adiknya. "Apa yang sedang kau rencanakan?" tanyanya tanpa basa-basi.

Sasuke masih diam, membuat ruangan kerja nyaman itu hening untuk beberapa waktu.

"Kau pasti memiliki rencana hingga kau rela meninggalkan Naruto di rumah," ujar Itachi berusaha untuk memancing Sasuke. Namun apa yang diharapkannya sama sekali tidak berhasil, Sasuke tetap mempertahankan ekspresi datarnya, seolah-olah ucapan Itachi hanyalah angin lalu. "Sialan, Sasuke, jangan membuatku khawatir!" bentak Itachi marah. "Katakan, apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya!" Otot di rahang Itachi berkedut karena kesal. Itachi sangat kesal karena Sasuke selalu menyimpan apa yang ada di dalam pikirannya seorang diri. Adiknya tidak pernah mau berbagi kesulitan dengannya, dan hal itu membuat Itachi marah, bukan pada Sasuke namun pada dirinya sendiri yang dirasanya gagal sebagai seorang kakak. "Beri aku kesempatan untuk membantumu."

Sasuke terdiam, mengamati lurus wajah Itachi yang berekspresi memohon. Tidak ada salahnya untuk mengatakan rencananya pada Itachi, pikir Sasuke setelah menimbang-nimbang dengan baik. "Baiklah," katanya membuat Itachi menunggu dengan antusias. "Aku berencana untuk memaksa Hagane keluar dari persembunyiaannya."

Itachi memijit keningnya yang mendadak terasa sakit. Sekarang ia mengerti kenapa Sasuke selalu menghadiri pesta-pesta kalangan atas belakangan ini. Pria itu sengaja melakukannya agar wajahnya semakin masuk majalah-majalah gosip, atau tersorot kamera televisi, alasannya sudah bisa ditebak oleh Itachi—agar Hagane mengetahui rutinitas hariannya.

Brengsek. Itachi mengumpat di dalam hati. Apa yang direncanakan Sasuke saat ini bukan hanya nekat tapi juga tergolong tindakan gila. Hagane bukan penjahat biasa, pria itu jelas sinting, dia tidak akan segan-segan menguliti Sasuke jika keduanya bertemu.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan saat bertemu dengannya?" Itachi kembali bertanya, lagi-lagi mengumpat di dalam hati saat melihat senyum sinis di wajah adiknya. Dia tahu jika dia tidak akan menyukai jawaban dari Sasuke atas pertanyaannya ini.

"Aku akan membunuhnya," jawab Sasuke membuat kepala Itachi kembali berdenyut sakit.

.

.

.

"Bisakah kau cepat katakan apa tujuanmu memintaku untuk bertemu denganmu di sini?" Kyuubi bertanya dengan sinis, sama sekali tidak menyukai saat Itachi memaksanya untuk bertemu sore ini di sebuah café di sebrang apartemen Sasuke. "Aku tidak bisa meninggalkan Naruto lebih lama," tambahnya sembari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Itachi mendengus, lalu menyeruput kopi hitamnya pelan sebelum menyahut dengan nada sinis yang sama, "Kau pikir aku suka duduk berlama-lama denganmu?"

"Dan kau pikir aku juga suka?" serang Kyuubi sembari menggertakan gigi. Dia tidak menyukai Itachi yang dengan mudahnya mengumbar senyum manis pada setiap wanita yang dengan terang-terangan menggodanya. Well, Kyuubi tidak cemburu. Tidak. Itu tidak mungkin karena mereka baru saja saling mengenal, dan pertemuan mereka selalu diakhiri dengan pertengkaran konyol yang dilatarbbelakangi oleh alasan-alasan konyol lainnya.

Itachi menghela napas keras dan menyandarkan punggungnya pada punggung kursinya, sementara kedua matanya menatap Kyuubi penuh penilaian. "Jika boleh memilih, aku akan lebih suka duduk ditemani wanita cantik yang anggun, bukan wanita kasar sepertimu."

Ah, dia mulai lagi, pikir Kyuubi gemas.

"Bagaimana bisa seorang wanita memiliki tenaga seekor kuda?" tanyanya dengan senyum mengejek.

Kyuubi tertawa. "Jangan bilang jika itu kali pertama kau dipukul seorang wanita."

Itachi mengendikkan bahu. "Aku memang sering ditampar wanita, tapi dari semuanya hanya kau yang bertenaga kuda," jawabnya penuh penekanan paka dua kata terakhirnya.

"Aku tidak akan menghajarmu jika kau tidak kurang ajar!" desisnya mengancam.

"Kejadian itu bukan kesalahanku, kenapa kau tidak mengunci pintu toilet-nya?" Saat Kyuubi melotot, Itachi menambahkan. "Kukira tidak ada orang di dalam toilet, jadi aku langsung masuk saja," terangnya santai. "Lagipula tidak ada yang bisa kulihat darimu, area terlarangmu tidak kulihat dengan jelas, kau bahkan sudah mengenakan celana dal—"

"Cukup!" bentak Kyuubi sembari menggebrak meja menyebabkan beberapa kepala menoleh ke arah meja mereka, penasaran. Wajah wanita itu mulai memerah karena marah, dadanya kembang-kempis. "Jika bukan mengingat hubunganmu dengan Sasuke, aku pasti sudah membuatmu babak belur dan menginap di rumah sakit," ujarnya sungguh-sungguh.

Kejadian memalukan di rumah sakit saat Naruto dirawat masih membekas di dalam kepalanya hingga detik ini. Kyuubi tahu jika dalam kejadian itu dia juga bersalah karena tidak mengunci pintu kamar mandi saat menggunakannya, namun dia juga mengatakan jika saat itu di dalam kamar inap Naruto hanya ada Naruto dan dirinya saja, untuk apa dia repot-repot mengunci pintu? Mana tahu jika Itachi akan tiba-tiba datang menyerbu ke dalam kamar mandi saat dia tengah buang air kecil.

Sialan! Maki Kyuubi di dalam hati. Kenapa Itachi harus mendapat panggilan alam saat itu?

"Baiklah, bisa kita lupakan masalah kita sejenak?" Tanya Itachi kemudian.

Kyubi mendengus, membuang muka walau akhirnya ia mengangguk kecil.

"Trims," gumam Itachi. "Aku memanggilmu ke sini untuk meminta tolong."

Kyuubi kembali menatap Itachi, satu alisnya terangkat penuh tanya.

"Aku minta tolong agar kau mau mengawasi Sasuke."

Ok. Pasti ada yang salah, pikir Kyuubi. Jika Itachi sampai rela meminta bantuannya pasti ada hal yang tidak beres yang tengah terjadi dan kali ini mengenai Sasuke. Kyuubi sudah tahu alasan sebenarnya dibalik penyerangan Naruto, walau tahu jika alasan yang sebenarnya disembunyikan untuk menangkan Naruto tetap saja membuat Kyuubi merasa bersalah. Dia sudah mengelabui kedua orangtua angkatnya mengenai Naruto, dan sekarang dia harus menyembunyikan sesuatu dari adik angkatnya itu. Berat. Kyuubi merasa bebannya semakin berat jika Itachi memintanya untuk memata-matai Sasuke.

"Aku harus tahu kegiatan Sasuke," ujar Itachi dengan nada dan ekspresi serius. Ia kembali bicara saat Kyuubi mengernyit dalam. "Sasuke berniat memancing Hagane keluar dan—kau tahu," ujarnya sembari mengangkat sebelah bahunya.

Kyuubi melotot, lalu menghela napas lelah. "Adikmu tidak akan setolol itu, kan?" tanyanya penuh harap.

Lagi-lagi Itachi mengangkat bahunya ringan, "Sayangnya dia bisa melakukannya demi orang-orang yang dicintainya."

"Seharusnya kau mengatakan ini pada polisi," ujarnya cemas. Kedua bola mata Kyuubi terlihat resah saat ini, dia bukan hanya mengkhawatirkan keselamatan Sasuke tapi juga nasib pria itu jika Sasuke benar-benar membunuh Hagane. Bagaimana dengan Naruto? Adik angkatnya itu pasti akan semakin hancur karenanya.

"Aku sudah melakukannya terlebih dahulu," jawab Itachi sama tegangnya. "Dan mereka membutuhkan seseorang untuk mengawasi Sasuke, dan kupikir kau cocok untuk tugas ini," jelasnya membuat bahu Kyuubi merosot.

.

.

.

Sambil mengumpat Hagane terus mengawasi sosok Sasuke dari kejauhan. Pria itu terus mengumpat saat menyadari jika Sasuke tidak sendirian saat ini, ada beberapa pria yang ditebaknya sebagai rekan bisnisnya berjalan di sisi kiri dan kanan pria itu masuk ke dalam sebuah restoran Prancis.

Ah, Sasuke bisa jadi sasaran empuk malam ini andai saja dia pergi seorang diri ke restoran mewah itu. Hagane berdecak, tentu saja Sasuke tidak akan datang seorang diri karena ia menghadiri pesta amal untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang diselenggarakan di restoran mewah itu.

Andai saja dia memiliki uang, tentu ia akan memilih membeli senjata api dan menembak Sasuke hingga mati, setelah itu dia akan menghabisi dirinya sendiri.

Hagane tertawa, mengabaikan tatapan aneh serta jijik dari beberapa orang yang melaluinya. Dia tidak peduli jika wajahnya kini sulit dikenali karena kotor sementara tubuh dan pakaiannya mengeluarkan bau tidak sedap yang menyengat.

Apa yang bisa kau harapkan jika sepanjang hari kau harus berada di dalam saluran pembuangan air dan hanya bisa keluar di malam hari untuk mencari makan dan mencari berita mengenai musuh besarnya. Musuh yang ingin segera dilenyapkannya.

Dunia ini akan lebih indah tanpa keberadaan manusia tidak berhati seperti Sasuke, ujarnya di dalam hati. Hagane kembali terkikik kecil, hatinya selalu bahagia tiap kali membayangkan jika ia akan melenyapkan Sasuke dengan kedua tangannya sendiri.

"Aku harus bisa mendapatkan senjata api," bisiknya dengan seringai jahat. Pria itu mengernyit dalam, berpikir. "Dasar tolol, kenapa aku tidak memikirkan ini dari awal?" tanyanya kesal pada dirinya sendiri sebelum berbalik pergi. Dia bisa mencuri senjata api dari salah satu tetangganya yang dikenalnya sebagai pencuri ulung.

Hagane tahu jika tetangganya itu memiliki senjata api karena dia pernah menodongkan senjata api keparat itu tepat ke tenggorokannya.

Sialan! Jika ada kesempatan aku akan menghabisinya terlebih dahulu, janjinya di dalam hati merasa muak karena ia pernah direndahkan dan diancam akan dibunuh hanya karena tetangganya itu tidak menyukai penampilan Hagane saat itu.

Hagane menggelengkan kepala pelan. Berusaha untuk kembali fokus pada tujuan awalnya untuk mencuri senjata api yang diyakininya di simpan di dalam rumah tetangganya itu. Yang harus dipikirkannya saat ini adalah; bagaimana caranya menyelinap masuk ke dalam gedung apartemennya itu, karena ia sangat yakin jika polisi pasti masih mengawasi apartemennya dengan sangat ketat.

.

.

.

TBC

Maafkan untuk typo(s) yang merajalela. Nggak sempet ngedit lagi. #Plak #Alesan

Huwoo… apa rencana Hagane berhasil? Atau dia bakal diciduk duluan sama polisi? Tunggu chap depan yah.

Jadi, sampai jumpa dichap selanjutnya? ((:

#WeDoCareAboutSFN